Pentas Produksi Teater Buih 2025: Penampilan Dengan Makna Mendalam

(Semarang, 25/09) Teater Buih FEB Undip kembali menggelar Pentas Produksi 2025 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang. Pada tahun ini Pentas Produksi menampilkan mahakarya dari Heru Kesawa Murti berjudul “Dhemit”, diwarnai dengan interpretasi baru khas Teater Buih. Pentas Produksi kali ini didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, Dinas Pariwisata Kota Semarang, OPPO, Super Skin, Pop Mie, Horison Inn, Orlin, ID Food, dan Undip Maju. 

Bapak Samsul Bahri Siregar, SH, MM., perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, dalam sambutannya menyatakan bahwa dukungan dari Disbudpar dalam pementasan ini adalah salah satu bukti mereka dalam melestarikan seni pertunjukkan. Beliau juga berharap bahwa seni dan budaya kita akan terus dilestarikan, “acara ini merupakan bukti bahwa budaya tidak pernah berhenti atau mati tapi bertransformasi, mudah-mudahan tahun depan akan berlanjut lagi.”

Bukan Sekadar Pentas Biasa

Pentas Produksi tahun ini lebih spesial dari tahun-tahun sebelumnya karena melalui penampilan ini penonton diajak untuk melihat “Dhemit” dengan nuansa yang berbeda, bukan sebatas hantu atau setan namun bermakna manusia yg bersifat rakus. Penampilan ini mengkritik manusia yang mengeksploitasi alam tanpa memikirkan dampaknya. Muthia Ayu Sheillawati, Koor Make-up dan Kostum, mengatakan bahwa sebelum pementasan panitia terlebih dahulu mempelajari isu-isu yang sedang ramai belakangan, mencari apa saja yang sedang naik daun, kemudian memadukannya dengan seni. Akhirnya terpilihlah isu lingkungan yang belakangan rasanya semakin parah, seperti penebangan liar, yang kemudian diangkat menjadi alur cerita “Dhemit”.

Mempersembahkan penampilan yang sangat memukau tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Nurul Izzah Salsabila, Pimpinan Produksi, mengaku bahwa keputusan yang paling sulit mereka ambil adalah keputusan untuk membuat semuanya sendiri, tidak menggunakan produk atau jasa orang lain. Dalam perjalanannya banyak dijumpai trial and error yang membuat frustasi namun memberikan banyak sekali pelajaran. “Naskah kolosal yang kami gunakan mengharuskan untuk memiliki banyak properti seperti pohon yang tingginya 4 meter yang harus kami kerjakan siang dan malam bekerja sama. Walau lelah tapi dari situ kami mendapatkan pengalaman, relasi, bahkan belajar saling berbagi,” ungkapnya.

Selain pementasan teater, Pentas Produksi tahun ini juga menampilkan stand up comedy, musikalisasi puisi, dan persembahan tari dari Kesenian Jawa Undip. Jessica Sihite, Staff Make-up dan Kostum, menyatakan bahwa tema stand up comedy dan musikalisasi disesuaikan dengan tema pementasan utama. “Dengan begitu, hiburan stand up comedy dan musikalisasi tidak berdiri sendiri dan menjadi gabungan keseluruhan dari pementasan utama. Hal ini juga bertujuan untuk menjaga suasana emosional penonton sehingga pementasan utama lebih berkesan,” ungkapnya.

Cerita Aktor Di Balik Peran Mereka

Core atau inti dari seni teater tentunya adalah para aktor dan cara mereka memerankan karakter di atas panggung. Nur Adila, berperan sebagai Madam (Jin Pohon Beringin), melatih karakternya dengan mencari sudut pandang yang sesuai, mendalami apa yang dialami karakter, melihat bagaimana sifat karakter, membuang semua pribadi dan menggantikan sesuai peran karakter, serta selalu membaca naskah yang tersedia. Pada saat latihan, Adila mengaku sempat berbeda interpretasi dengan sutradara, “saya berperan sebagai Jin Pohon Beringin yang digambarkan sebagai nenek yang memiliki postur bungkuk dan membawa tongkat. Namun karena ketika membungkuk suara saya tidak terlepas, maka sutradara mengganti postur tubuh saya dengan tegak menantang dan suara yang berwibawa,” ujarnya.

Selain itu Adila juga menceritakan hal yang paling menantang dalam memerankan tokoh Madam adalah ketika adegan meluapkan kemarahan di ending cerita, di mana ia harus berteriak lancang sebagai tanda kekalahan dan kefrustasian. Hal tersebut sangat menguras tenaga karena harus memahami apa yang dialami karakter dan harus menunjukkan kekuatan lebih daripada adegan yang lain. Selain itu ia juga merasa kesulitan saat menghafal banyak dialog sehingga sering terbolak-balik dan salah kalimat.

Melalui perannya sebagai Jin Pohon Beringin, Adila ingin menyampaikan pesan bahwa sebagai manusia kita tidak boleh serakah dengan kehidupan dan harus mengingat batasan-batasan yang ada. “Cerita ‘Dhemit’ ini sebenarnya ditujukan untuk mengkritik manusia yang selalu merusak alam, menebang pohon seenaknya tapi dengan dalih dunia dhemit,” ungkapnya.

Kesan Mendalam Bagi Audiece

Judul “Dhemit” sekilas memberikan kesan horror bagi audience, namun ternyata judul tersebut menyimpan makna. Hal ini dirasakan oleh Sekar, Mahasiswi jurusan Akuntansi, dari judul ia mengira akan ada banyak adegan horror, “ternyata meskipun dibalut dengan nuansa komedi, tapi justru unsur horror nya implisit di dalam makna ceritanya. Pementasan ini nunjukin bahwa keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam itu horror banget! Lebih “dhemit” daripada “dhemit” itu sendiri,” ujarnya.

Sekar juga membagikan adegan paling memorable menurutnya yaitu ketika si mandor proyek tidak memenuhi janjinya kepada Madam untuk menjaga alam. Menurutnya hal ini sangat relate dengan manusia yang suka lupa dengan janji setelah keinginannya terpenuhi, “jujur ini ngena banget baik di kehidupan sehari-hari kita maupun dengan isu politik akhir-akhir ini.”

Sejalan dengan pernyataan Sekar, Valiza, Mahasiswi jurusan Akuntansi, mengatakan bahwa representasi karakter para dhemit yang muncul sebagai ‘suara’ alam ketika alam menderita akibat ulah manusia, mudah dipahami, lucu, dan memberi pesan mendalam. Ia juga mengungkapkan dipadukannya teater dengan stand up comedy, musikalisasi puisi, dan kesenian jawa membuat suasana menjadi lebih santai. “Meskipun topik yang dibawa cukup serius, jadi tidak terlalu tegang. Musikalisasi puisinya sangat indah dan bikin merinding,” ungkapnya.

Baik Sekar dan Valiza, keduanya sepakat bahwa Pentas Produksi Teater Buih 2025 telah memberikan kesempatan bagi penonton untuk mengenal seni dan budaya sekaligus isu-isu yang dekat dengan kehidupan sekarang. Sekar menambahkan bahwa hal ini merupakan cara yang fresh untuk mengajak anak-anak muda berdiskusi soal isu sosial dan lingkungan, tidak hanya melalui diskusi formal saja.

Reporter: Sabrina, Cantika

Penulis: Cantika

Menkeu Bicara Soal Kebijakan, BI Atur Suku Bunga. Tapi Siapa Sebenarnya yang Sedang Diuntungkan?

Semarang, (18/09) – Gelar Wicara Ekonomi Vol. 3 adalah sebuah forum diskusi politik dengan intervensinya dalam ranah ekonomi. Bertempat di Dome FEB Undip, Sospol BEM FEB Undip, memberi wadah untuk edukasi dan menyadarkan mahasiswa FEB mengenai berbagai situasi ekonomi saat ini yang menjadi ukuran pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Forum kali ini mengundang pemantik serta pemateri Syahrul Fajri Mahasiswa Ekonomi FEB Universitas Diponegoro. Isi dalam forum ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang tepat untuk mahasiswa memahami kondisi aktual di Indonesia.

Syahrul Fajri menjelaskan dalam forum mengenai pengaruh geopolitik pada ekonomi dunia, bahwa Indonesia telah masuk ke dalam BRICS dan membeberkan fakta dan data mengenai pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang menjadi isu hangat serta kebijakan – kebijakan politik yang kontroversi.  “Kita lihat jika memang BI rate kita nanti turun berarti ada campur tangan politik pada Bank Indonesia yang notabenenya institusi yang independen,” ungkap Syahrul Fajri dalam Forum Gelar Wicara Vol. 3.

Pernyataan tersebut diangkat ketika Syahrul Fajri diberikan pertanyaan mengenai bagaimana dampak dari kebijakan – kebijakan politik mampu mempengaruhi perekonomian. Kebutuhan masyarakat luas yang nanti akan menjadi ukuran pertumbuhan di Indonesia dihantam dengan kebijakan – kebijakan kontroversial yang dikeluarkan pemerintah. Hal ini dipertanyakan oleh Arkan, seorang mahasiswa FEB.

“Perkembangan ekonomi dunia juga merupakan andil dari organisasi BRICS yang sebanyak 29% PDB berputar di organisasi ini dan 20% perdagangan internasional berputar pula di BRICS dengan negara yang memiliki andil besar pada perdagangan Internasional, Iran dan Mesir,” ucap Syahrul 

Kebanyakan perputaran ekonomi dunia juga dipengaruhi oleh adanya organisasi BRICS menjadi tonggak perekonomian dunia, masalah utama yang timbul ketika Purchasing Power Parity Index (PPPI) meningkat, seperti pada perang yang timbul antara Iran dan Israel, ketika sekarang PPPI berada di kisaran 20% dapat meningkat 49,6% menyebabkan kemampuan membeli barang dan jasa di luar negeri pada suatu negara akan menurun karena kenaikan index perdagangan. Hal inilah yang menjadi pokok utama bagaimana geopolitik perlu dibahas secara serius karena sangat berpengaruh atas perekonomian dunia, serta masalah yang ada di Indonesia.

Di Indonesia kebanyakan masih membicarakan arah kebijakan yang diatur sebagaimana tidak konsisten dan se-linear dengan pemenuhan pertumbuhan Indonesia. Hal ini dicetus oleh Syahrul, bahwa Indonesia belum menemukan karakter bangsa dan seharusnya ukurannya sudah ditentukan oleh terwujudnya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang realisasinya masih minim di masyarakat luas. “Pertumbuhan Indonesia juga nantinya akan dipengaruhi oleh kebijakan BI menentukan suku bunga atau BI rate yang nantinya akan naik atau menurun seiring hasil rapat yang dijalankan pada hari Senin tanggal 22 September 2025,” tambah Syahrul.

Pada pernyataan Syahrul mendapati bahwa jika nantinya BI rate turun maka kemungkinan besar akan menjadi alat untuk melanggengkan kekuasaan dengan menaikkan tingkat kepercayaan masyarakat dengan adanya penurunan BI rate. Dari wawancara dengan Syahrul pula dijelaskan bahwa BI rate yang turun ini harus dijelaskan dengan alasan yang jelas sehingga tidak menjadi rancu dan dapat dijadikan sebagai alat politik, juga menjadi pertanyaan untuk status independensi dari Bank Indonesia sendiri.

Dari diskusi hangat di atas bisa menggambarkan Forum Gelar Wicara ini merupakan wadah penting untuk mahasiswa FEB tentunya memahami masalah yang fokus utamanya di ekonomi, mengenai stabilitas ekonomi di Indonesia dan intervensinya yang dapat menjadi masalah umum di Indonesia.

Rafi Ridho Tockary, Ketua BEM FEB Undip, Memberikan pendapatnya bahwa dari forum yang digelar diharap mampu menjadi wadah untuk pencerdasan mahasiswa. “Kita dari BEM pastinya akan terus konsisten mengadakan, menyuarakan, dan memberikan sebuah wadah-wadah diskusi supaya pencerdasan dan iklim dari mahasiswa yang mungkin kurang paham, kurang peduli menjadi peduli, tahu, dan mau bertindak,” ujarnya dalam wawancara eksklusif.

Forum ini tidak hanya memberikan edukasi formal namun kemudian dibumbui dengan konser yang mampu mencairkan suasana. Hal ini diperkuat dengan harapan dari beberapa panitia serta salah satu audiens dalam wawancara. Alfa, mahasiswa jurusan Ekonomi FEB Undip, menyatakan, “harapannya mungkin lebih ke mahasiswa FEB, sih, buat lebih bisa meramaikan acara seperti ini, karena disini juga kita sharing, terus juga belajar juga, gitu.” 

Diperkuat dengan pernyataan oleh Tiara dan Arkan masing – masing selaku Project Officer (PO) dan Vice Project Officer (VPO), menyatakan bahwa dengan diadakannya forum ini besar harapannya mampu mengedukasi mahasiswa FEB dan mampu menyalurkan pengetahuannya pada masyarakat luas nantinya.

Sospol BEM FEB Undip tahun ini akan menggelar forum gerakan 4 yang akan membahas dengan topik yang berbeda dengan harapan mampu memberikan edukasi yang sesuai dengan kondisi di negara dan menyadarkan sebagian masyarakatnya. “Keberlanjutan Gerakan 4 akan membahas tema yang berbeda. Di sini, saya bertujuan untuk membangun kesadaran mahasiswa FEB nantinya,” ujar Arkan Toto pada wawancara eksklusif.

Reporter: Aldo, Haqi

Penulis: Aldo

Capital Market Fair 2025: Puncak Literasi Pasar Modal di Undip

(Semarang, 13/09) – Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) FEB Undip menggelar Capital Market Fair 2025 di Gedung Prof Sudarto. Capital Market Fair atau CMF adalah acara yang bertujuan untuk mengedukasi dan menginspirasi mahasiswa serta masyarakat mengenai peran pasar modal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan mengangkat tema “Exploring Promising Sectors: Strategic Drivers of Economic Growth”, KSPM bertujuan menghadirkan pemahaman mendalam mengenai sektor-sektor potensial yang mampu menjadi penggerak ekonomi Indonesia di masa depan, sekaligus menumbuhkan minat generasi muda untuk berinvestasi secara cerdas. Acara terbesar KSPM ini didukung oleh OJK, SIM Invest, Sinarmas Sekuritas, Sidomuncul, Bursa Efek Indonesia, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia, dan masih banyak lagi.

Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Prof. Faisal, memberikan sambutan dengan menekankan arti penting CMF di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian. “Acara ini menjadi penting bagi kita semua ditengah krisis global dan krisis geo politik, diharapkan dari kegiatan ini kita dapat optimis sebagai mahasiswa, investor, dan akademisi di tengah kondisi yang tidak menentu”. Selanjutnya terdapat keynote speech dari Rudi Utomo selaku CEO PT Sinarmas Sekuritas yang menyebut bahwa literasi keuangan menjadi sarana penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang tangguh menghadapi tantangan di era saat ini. Ia menggambarkan journey investment sebagai proses panjang, “Investasi tidak terbentuk dengan cepat, melainkan dimulai dari modal yang sedikit lama-lama menjadi bukit” ujarnya. Sementara itu, Sandiaga Uno juga memberikan keynote speech dengan menekankan bahwa pasar modal memiliki peran vital sebagai alternatif pembiayaan pembangunan, khususnya infrastruktur. Menurutnya, peningkatan investasi di pasar modal dapat mencetak generasi investor yang cerdas, berkelanjutan, memiliki karir, sekaligus berkontribusi dalam transformasi ekonomi Indonesia. 

Agenda dilanjutkan dengan peresmian Galeri Investasi Universitas Diponegoro yang didukung oleh PT Sinarmas Sekuritas. Peresmian dilakukan secara simbolis dengan pemotongan pita, menandai resmi beroperasinya galeri yang akan menjadi pusat literasi keuangan baru yang terletak di gedung KWU FEB Undip. Sudah terdapat 971 galeri investasi di Indonesia yang menjadi bukti kuat komitmen literasi keuangan di Indonesia. 

CMF 2025 digelar dengan sangat megah, dengan menghadirkan tiga tokoh utama pasar modal yaitu Lo Kheng Hong yang dikenal sebagai investor hebat di Indonesia, lalu ada Budiyanto selaku CFO PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk., serta Isfhan Helmy selaku Head of Institutional Research PT Sinarmas Sekuritas. Diskusi dipandu oleh moderator Friska Devi Choirina, pendiri Ngerti Saham, yang membawakan sesi menjadi lebih interaktif dan relevan dengan kondisi ekonomi terkini. Dalam kesempatan ini, Lo Kheng Hong menekankan disiplin dalam analisis fundamental. “Kinerja masa lalu bisa mencerminkan kinerja masa depan. Sektor yang bertumbuh akan bertahan karena akan menghasilkan laba besar dan dibutuhkan masyarakat”. Sementara itu, Isfhan Helmy menyoroti konsistensi sektor perbankan. Menurutnya sektor perbankan adalah mesin pertumbuhan ekonomi kita. Beberapa bank bahkan mencatat return yang sangat konsisten. Tak hanya itu, Budiyanto juga berbagi perspektif manajemen korporasi serta strategi keberlanjutan guna menjaga perusahaan di tengah dinamika pasar. 

Antusiasme peserta begitu tinggi, karena selain mendatangkan pembicara yang expert pada bidangnya, sebagai bentuk apresiasi, panitia memberikan hadiah voucher shopee sidomuncul sebesar Rp 300.000 kepada lima penanya terbaik. Salah seorang penanya, Fachri Ashafi mahasiswa fakultas hukum mengaku terinspirasi dengan materi Lo Kheng Hong. “Materinya sangat insightful, beliau menjelaskan mengapa lebih memilih investasi jangka panjang daripada ikut IPO. Itu membuka sudut pandang baru bagi saya,” ujarnya. 

Menurut Nada selaku Project Officer CMF 2025, visi utama CMF adalah menjadikan acara ini sebagai platform edukasi nasional dipasar modal. “Kami ingin menghadirkan pemahaman mendalam tentang sektor-sektor potensial yang menjadi engine of growth Indonesia, sekaligus menumbuhkan minat generasi muda untuk berinvestasi secara cerdas,”jelasnya. 

Sebagai informasi, Capital Market Fair merupakan puncak acara dari Diponegoro Capital Market Days (DCMD). Jadi sebelum acara CMF terdapat serangkaian kegiatan, salah satunya yaitu DIponegoro International Capital Market Investment Challenge (DINAMIC), yang mempertemukan mahasiswa terbaik dari universitas di seluruh Indonesia. Kompetisi ini mendapat apresiasi tinggi dari peserta karena mendorong critical thinking serta keberanian dalam menyampaikan gagasan. Alfin, salah satu peserta dari UNAIR, menilai Dinamic berbeda dari lomba lain.“Mulai dari proses pre-elim hingga final, semua dikritisi dengan sangat detail oleh juri. Bahkan saat gala dinner, kami bisa berdiskusi langsung dengan para finalis dan pembicara,” ungkapnya. Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan DCMD secara keseluruhan. 

Capital Market Fair 2025 sukses membungkus rangkaian panjang Diponegoro Capital Market Days (DCMD), yang menjadi puncak dari seluruh agenda tahunan KSPM Undip. Acara ini menjadi penutup yang sempurna, sekaligus tonggak penting dalam meneguhkan peran generasi muda sebagai investor cerdas dan berkelanjutan bagi masa depan ekonomi Indonesia.

Reporter: Sabrina, Cantika

Scholarship Expo FEB Undip 2025: Jembatan Mahasiswa Meraih Peluang Beasiswa

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) kembali menghadirkan Scholarship Expo 2025 sebagai bagian dari rangkaian Job and Scholarship Day (JSD). Acara yang digelar pada Kamis, 11 September 2025 di bawah Masjid FEB Undip ini menjadi wadah interaktif yang mempertemukan mahasiswa dengan berbagai lembaga pemberi beasiswa nasional bergengsi, mulai dari LPDP, Djarum Beasiswa Plus, Tanoto Foundation, Pertamina Foundation, Karya Salemba Empat, Bakti BCA, hingga Paragon Scholarship.

Ketua panitia, Bintang, menjelaskan bahwa expo ini dirancang sebagai ruang bagi mahasiswa maupun fresh graduate FEB Undip untuk mendapatkan informasi langsung dari penyelenggara beasiswa. “Tenant beasiswa kami pilih melalui kolaborasi dengan berbagai institusi resmi agar informasi yang disampaikan benar-benar valid dan bermanfaat. Harapannya, peserta dapat memperoleh strategi yang tepat untuk meningkatkan potensi diri mereka,” ujarnya.

Suasana expo terasa hidup dengan mahasiswa yang silih berganti mendatangi booth, membawa daftar pertanyaan seputar syarat pendaftaran, tahapan seleksi, hingga tips agar dapat lolos. Beberapa datang memang dengan tujuan yang sudah jelas, sementara sebagian lainnya mampir karena penasaran setelah melihat keramaian. Hanin, salah satu mahasiswa FEB, mengaku hadir untuk memperluas wawasan. Ia sudah memiliki beasiswa incaran sehingga langsung menuju tenant yang sesuai. “Yang paling saya cari itu tips dan trik agar bisa lolos, sekaligus dokumen apa saja yang dibutuhkan. Setelah sharing dengan awardee, saya jadi lebih percaya diri untuk mencoba,” ungkapnya. Hal senada juga dialami Maida yang awalnya tidak tahu ada acara ini, namun langsung tertarik ketika mengetahui ada tenant beasiswa yang memang sejak lama ia incar. “Rasanya senang bisa tanya langsung ke awardee, jadi ada gambaran jelas untuk ke depannya,” ujarnya.

Dalam expo ini, salah satu tenant yang sempat diwawancarai lebih jauh adalah Beasiswa Bakti BCA. Program ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan PT Bank Central Asia yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga menawarkan pengembangan diri yang komprehensif. Penerimanya disebut sebagai Bakti Champions, sebuah identitas yang menekankan bahwa awardee bukan sekadar penerima bantuan, melainkan individu yang disiapkan untuk membawa perubahan positif di lingkungannya. Ari Fitriani, mahasiswa FISIP Undip angkatan 2022 sekaligus penerima Beasiswa Bakti BCA tahun 2024, menjelaskan bahwa beasiswa ini memiliki tiga jalur seleksi, yaitu bantuan finansial, prestasi akademik, dan prestasi non-akademik. Sistem jalur tersebut membuat program ini lebih inklusif. “Kalau jalur akademik tentu memperhatikan IPK, tetapi untuk jalur non-akademik tidak ada syarat minimal IPK. Jadi mahasiswa yang menonjol di bidang olahraga, seni, atau organisasi tetap punya kesempatan sama besarnya,” tuturnya.

Lebih dari sekadar beasiswa, Bakti BCA juga menghadirkan berbagai program pengembangan seperti workshop keterampilan, pelatihan kepemimpinan, program community empowerment, company visit, hingga National Summit di Jakarta yang mempertemukan para Bakti Champion dari seluruh Indonesia. Menurut Ari, pengalaman tersebut memberinya kesempatan memperluas wawasan serta mengasah soft skill yang tidak selalu diperoleh di bangku kuliah. Ia juga membagikan tips sederhana bagi calon pendaftar: perbanyak riset, jangan ragu bertanya ke awardee, latihan menghadapi tes, dan yang terpenting jadilah diri sendiri. “Tagline Bakti BCA itu every champion is unique, the champion is you, jadi mereka memang mencari keunikan tiap peserta,” tambahnya.

Dengan konsep bazar interaktif yang mempertemukan mahasiswa, awardee, dan lembaga pemberi beasiswa dalam suasana santai namun informatif, Scholarship Expo 2025 berhasil menjadi jembatan yang memudahkan mahasiswa Undip untuk meraih informasi secara langsung. Panitia berharap acara ini tidak hanya menjadi ajang berburu beasiswa, tetapi juga momentum untuk membangun keyakinan diri. Seperti disampaikan Bintang, “Acara ini kami desain agar mahasiswa tidak hanya pulang dengan informasi, tetapi juga dengan keyakinan bahwa mereka mampu meraih beasiswa dan sukses di bidang yang mereka pilih.”

Reporter : Najwa dan Sabrina

Penulis : Najwa

SED x ECOCARE 2025: Acara Sosialisasi Konservasi Hutan Mangrove di Jawa Tengah

Semarang, (10/09) – BEM FEB bidang Somaliah memberikan wadah acara sosialisasi untuk peduli pada ekosistem pesisir, berlokasi di Selasar Gedung Prof Sudarto acara ini berhasil memberikan edukasi untuk mahasiswa umum menyadarkan akan pentingnya ekosistem pesisir agar tidak terancam lebih jauh serta memberikan gambaran umum pelestarian ekosistem. Tujuan utama acara ini adalah untuk menjadi pergerakan aksi di masyarakat luas melalui mahasiswa sebagai penggerak. 

Muhammad Qusyairy Abdulloh selaku Project Officer dari Social and Environmental Discussion X EcoCare memberikan beberapa pernyataan penjelas mengenai acara yang berlangsung, “SED membahas perkembangan pada masalah pesisir terutama tentang perairan, kenaikannya permukaan laut terus juga banjir terus kita juga membahas kenapa harus ada mangrove.” 

Pernyataan Abdulloh, konservasi alam dan rekonstruksi ekologi hutan mangrove, menjadi pokok utama pembahasan dalam acara. Sebagai bentuk edukasi yang nyata dipaparkan materi mengenai pentingnya hutan mangrove itu sendiri untuk kehidupan di pesisir serta implementasi langsung yang akan dijalankan di bulan september sebagai aksi nyata yang akan dijalankan sebagai salah satu hasil dari acara tersebut.

Dr. Mafut Munajat S. Hut,. M.IL. selaku bagian dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) menjelaskan bahwa acara yang dibawakan menjadi arah strategis yang memberikan kesadaran untuk mahasiswa. “Mahasiswa sebagai motor penggerak juga agent of change yang bisa memberikan harapan untuk menyadarkan dan mengedukasi masyarakat dengan keadaan pesisir di Indonesia,” ujar Mafut.

Output yang diharapkan dari acara tersebut adalah kesadaran dari mahasiswa bahkan hingga masyarakat luas supaya menjadi paham akan ilmu ekologi dan keadaan aktual pada ekosistem pesisir yang kian memprihatinkan. Abdulloh memberikan komentar bahwa ini merupakan langkah awal dalam menyadarkan masyarakat atas permasalahan yang ada di pesisir yang memerlukan pencegahan abrasi.

Adapun kebijakan yang akan diangkat oleh DLHK atas kebutuhan dari permasalahan yang ada di pesisir ini sebagai berikut:

  1. Mengembalikan ekosistem seperti sedia kala,
  2. Meminimalisir kerusakan kepada lingkungan,
  3. Mengedukasi masyarakat,
  4. Meningkatkan volume atau luas tutupan mangrove,
  5. Mencegah hal hal yang dapat merusak ekosistem.

Di satu sisi masyarakat sekitar masih perlu menyesuaikan skala prioritas yang diperlukan untuk keberlangsungan hidup antara aspek ekonomi dan aspek ekologi. Pernyataan ini dikutip pada wawancara eksklusif dengan Bapak Mafut, “perlu menyesuaikan antara aspek ekonomi dan ekologi jadi masyarakat itu apabila merasa diuntungkan dalam jangka pendek, bila kebutuhan jangka pendeknya terpenuhi maka masyarakat akan terlibat secara langsung.”

Upaya mitigasi yang dilakukan serta kebijakan yang perlu diperhatikan ini tidak semata hanya pada kondisi ekosistem pesisir namun juga kebutuhan ekonomi masyarakat yang perlu dipenuhi terlebih dahulu. Banyak success story dari desa – desa yang berhasil melaksanakan upaya penanaman mangrove di sekitar pesisir yang berada pada; Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Mangrove di Pasar Banggi Rembang, Pemalang di sekitar daerah Mojo, Brebes daerah Kaliwlingi, Kebumen di Muara Kali Ijo.

Tantangan utama yang dijalankan atas pelaksanaan acara SED x ECOCARE 2025 diantaranya masalah libur semester hingga masalah cuaca yang menyebabkan acara ini sedikit terhambat. “Sempat mengganti pembicara hingga mengganti tempat,” jelas Abdulloh, memberikan gambaran tentang kendala yang dihadapi selama persiapan dan pelaksanaan acara tersebut.

Acara ini menjadi titik awal kesadaran tentang pesisir lautan yang tadinya peserta kurang memahami mengenai permasalahan di pesisir, serta menyadari bahwa mangrove merupakan solusi efektif dalam mengatasi masalah-masalah laut. Acara ini sebenarnya menghadirkan dua pembicara yaitu bapak Mafut serta bapak Munhamir selaku warga terdampak yang akrab berinteraksi langsung dengan mangrove. 

Abdulloh berharap peserta dapat mengambil hikmah dan semakin memahami tentang pesisir serta pentingnya mangrove. Diskusi ini dirancang untuk memantik aksi nyata sebagai bentuk keberlanjutan dengan diadakannya penanaman mangrove pada tanggal 20 September 2025 di Mangunharjo bertempat di lahan milik bapak Munhamir. Kegiatan tersebut juga akan menjadi pembelajaran langsung mengenai cara menanam mangrove. 

Selain peserta dari FEB, hadir pula aktivis lingkungan dari berbagai fakultas lain, yang diajak untuk bersama-sama menuliskan harapan mereka sebagai simbol partisipasi dan komitmen terhadap pelestarian pesisir. Meski menghadapi kendala cuaca hujan selama pelaksanaan acara, antusiasme peserta tetap tinggi. Mereka terus aktif mengikuti sesi sosialisasi dan berdiskusi dengan semangat, menunjukkan komitmen kuat terhadap pelestarian ekosistem pesisir dan mangrove.

Dengan adanya sosialisasi dan aksi nyata ini, diharapkan kesadaran dan kepedulian terhadap ekosistem pesisir akan terus tumbuh dan membawa dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Reporter: Sabrina, Aldo

Launch Point: The Biggest Bazar at FEB Undip

Semarang (27/08) – Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip menggelar acara Launch Point yaitu acara bazar serta talk show kewirausahaan. Ratusan mahasiswa ikut memeriahkan acara ini. Program tersebut merupakan wujud aktualisasi dalam meningkatkan iklim wirausaha di lingkup FEB Undip. Launch Point mendapat sponsorship dari Astra Autoshop serta didukung oleh Ikatan Alumni FEB Undip (IKAFE) serta BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, panitia berkolaborasi dengan HIPMI PT dan HIPMI BPD dalam penyelenggaraan talk show. 

Rangkaian bazar dimulai pada 9.30 pagi di sepanjang jalan gedung kelas FEB. Mahasiswa FEB digratiskan dalam menyewa tenant, sedangkan UMKM dikenakan biaya sewa. Panitia menargetkan setengah peserta dari mahasiswa FEB dan sisanya berasal dari UMKM luar dengan target pengunjung mahasiswa FEB. Selaras dengan itu, Project officer dari Launch Point,  Farrel Azkiya, menyampaikan harapan agar program tersebut kedepannya dapat diselenggarakan kembali dengan biaya gratis bagi seluruh mahasiswa Undip. 

Panitia memberikan kebebasan yang luas kepada peserta tenant dalam berkreativitas menjalankan usahanya. Salah satunya adalah memberikan free sample kepada pembeli guna meningkatkan ketertarikan produk serta mendapatkan evaluasi mengenai produk yang mereka jual. 

Acara bazar ini mendapat respon yang baik dari berbagai kalangan. Salah satu mahasiswa yang menjual buket, Umi Salamah, merasakan manfaatnya. “Saya merasakan banyak sekali manfaatnya. Terutama untuk mempromosikan produk agar lebih dikenal, menambah teman baru dari stand bazaar lain, dan juga menambah pemasukan.” Begitu pula dengan Anida, dia mengungkapkan perasaan senang ketika mengalami keuntungan selama berjualan di bazar Launch Point. “Alhamdulillah, insya Allah ada keuntungan.”

Kemudian, Najwa Nazila, yang menjual aksesoris manik-manik yang dibuat melalui handicraft, menceritakan pengalaman yang tidak diperkirakan olehnya ketika mendapat peluang baru untuk mengembangakan usaha miliknya. “Manfaatnya, kemarin ada beberapa mahasiswa yang datang mewawancarai kami, sepertinya untuk tugas mata kuliah. Lalu, tadi pagi kami ditawari untuk ikut CBC atau Campus Business Circle. Sepertinya itu komunitas baru yang dibentuk Juni 2025, isinya seperti sesi berbagi antar pelaku usaha mahasiswa FEB.”

Pengunjung pun terlihat antusias. Salah satunya adalah Arin, yang terlihat antusias dalam menikmati keberjalanan acara. Terdapat banyak jajanan yang tersedia di sepanjang jalan dan menarik untuk dilihat, katanya. Tak hanya itu, pengunjung lainnya, seperti Alya menceritakan ketertarikannya saat melihat produk berbentuk unik yang belum ia temui sebelumnya, seperti scrunchy, jepit rambut, dan gelang. Mereka pun sepakat ingin agar program ini dapat diadakan kembali di kemudian hari.

Namun, menurut beberapa peserta tenant, program tersebut memiliki beberapa kendala. Kritik pertama berasal dari Anida yang menyampaikan harapan agar informasi terkait bazar dapat disebar lebih luas lagi. “Untuk evaluasi ke depannya, mungkin informasinya bisa disebar lebih luas lagi. Jujur, saya sendiri baru tahu ada bazar ini, H-beberapa hari sebelum acara. Jadi, informasinya belum menyebar secara luas.” Kemudian, terdapat pula kendala yang dialaminya terkait sarana prasarana. Ia menuturkan bahwa listrik sempat mati sehingga mengganggu proses memasak. “Penyelenggaraannya sudah cukup bagus. Hanya ada sedikit kritik, kemarin listriknya sempat beberapa kali mati. Ini jadi hambatan, karena kami pakai listrik untuk mengukus dimsum.”

Kritik selanjutnya datang dari Najwa Nazila, dia mengatakan terdapat koordinasi panitia yang kurang baik sehingga menimbulkan kendala saat loading barang dan juga tidak adanya penomoran tenda. “Mungkin terkait koordinasi panitia. Waktu saya loading barang hari Selasa pagi, tidak ada panitia di lokasi yang memberitahu kami nomor tenant-nya. Di tendanya juga tidak ada nomor, jadi kami sempat kebingungan. Mungkin kedepannya penomoran tenda bisa lebih jelas.”

Selain bazar, program talk show, yang dijelaskan juga oleh Project Officer Launch Point, diadakan pada 26-27 agustus 2025 yang bertempat di Hall Pertamina Gedung Dekanat. Rangkaian ini dijalankan untuk memotivasi mahasiswa agar mulai berbisnis. Topik yang dibicarakan adalah seputar ekonomi dengan mengupas berbagai masalah bisnis, solusi, serta tips untuk mengembangkan usaha kecil bersama para praktisi yang sudah lebih dahulu berpengalaman dalam dunia bisnis. Panitia mengundang dua pembicara, yang salah satunya adalah Tedi Agung Tirtayadi, Ketua Umum BPD HIPMI Jawa Tengah. 

Launch Point 2025 bukan sekadar program kewirausahaan biasa, terkandung niat baik di dalamnya serta terkandung peluang-peluang baru yang menunggu untuk dimanfaatkan. Sebuah tempat strategis untuk menciptakan wirausahawan baru di kampus kuning. 

Reporter: Royhan, Najwa

Penulis: Bima

Aliansi BEM Undip Menggugat : Tiga Tuntutan untuk Keadilan

Semarang, (30/08) – Aliansi BEM Undip melaksanakan aksi solidaritas dari civitas akademika Universitas Diponegoro yang bertajuk “Indonesia Sekarat: Bebaskan Kawan Kami, Wujudkan Reformasi Polri”. Aksi tersebut digelar di depan Mapolda Jawa Tengah pada Sabtu siang. Aksi ini merupakan bagian dari gelombang protes nasional menentang tindakan represif aparat sekaligus mendesak sejumlah tuntutan kepada pemerintah.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa Undip menyuarakan tiga tuntutan utama. Pertama, membebaskan kawan-kawan mahasiswa Undip yang masih di tangkap aparat dan dalam proses persidangan. Kedua, mendesak agar Kapolri yang saat ini menjabat untuk segera dicopot dari jabatannya. Ketiga, mengusut tuntas kematian almarhum Affan Kurniawan yang hingga kini belum mendapat kejelasan.

Farhan, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB), menyebut bahwa aksi hari ini sudah dipersiapkan sejak malam sebelumnya. “Demo ini lahir dari isu yang sangat aksidental, yaitu brutality aparat. Persiapan kami dimulai sejak tadi malam hingga pagi tadi,” ungkapannya. Farhan menegaskan bahwa aksi ini bukan akhir, melainkan awal dari rangkaian panjang perjuangan. “Kalau tuntutan rakyat tidak dipenuhi, besar kemungkinan akan ada aksi-aksi susulan. Karena sejauh ini pemerintah di bawah rezim Prabowo-Gibran belum menunjukkan langkah nyata yang memuaskan rakyat,” tambahnya.

Sementara itu, Tockary selaku Ketua BEM FEB menjelaskan alasan Undip baru bergabung dalam aksi hari ini tidak mengikuti universitas lain yang lebih dahulu melakukan aksi. Menurutnya, konsolidasi dan teklap menjadi kunci agar aksi tidak berujung pada anarkisme. “Kami tidak mau turun aksi tanpa persiapan, itu bunuh diri. Konsolidasi kami tekan-kan agar demo ini berjalan damai. Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Undip punya etika dalam menyampaikan aspirasi, bukan sekedar turun dan membuat kerusuhan,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa Undip tidak menutup kemungkinan untuk menggelar aksi lanjutan di titik lain, seperti DPRD Jawa Tengah, tergantung hasil konsolidasi berikutnya.

Jeju, seorang mahasiswa FIB, menegaskan bahwa perjuangan mahasiswa tidak bisa berhenti pada satu momentum saja. “Aksi tidak bisa hanya sekali jalan lalu selesai. Kita harus sustain, terus berembuk, terus berkonsolidasi. Jika tuntutan tidak dipenuhi, kita akan lakukan aksi jilid dua,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa tuntutan kali ini bukan sesuatu yang muluk, “saya tidak bicara soal hal-hal utopis seperti copot kapolri dan lain sebagainya. Harapan saya sederhana, pemerintah mau memperhatikan rakyatnya, membebaskan kawan kami, menindak tegas aparat, dan mengusut kasus Affan,” katanya.

Meski aksi berlangsung damai, beberapa beberapa pihak sempat mempertanyakan keefektifannya. Farhan menegaskan bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. “Hari ini mungkin hanya dua ribu massa, besok bisa lima ribu atau lebih. Yang penting kita membangun tradisi berani mengkritik penguasa. Karena saya yakin, Ibu Indonesia hari ini sedang mengandung janin revolusi,” tegasnya.

Aksi damai mahasiswa Undip kali ini menegaskan bahwa gerakan mahasiswa tidak selalu identik dengan kericuhan. Dengan strategi, konsolidasi, dan etika mereka tetap mampu menyampaikan aspirasi dengan cara yang bermartabat. Aksi kemudian rampung pada pukul 14.30 WIB dengan massa membubarkan diri secara tertib. Kini, publik menanti apakah tuntutan mahasiswa akan benar-benar direspons pemerintah atau justru kembali diabaikan hingga melahirkan gelombang aksi yang lebih besar.

Reporter: Sabrina, Laila, Haqi, Aldo

Penulis: Sabrina

Relawan Pemilah Sampah: Wajah Hijau di Balik Megahnya ODM Undip 2025

Semarang (23/08) – Panggung megah Orientasi Diponegoro Muda (ODM) Undip 2025 tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk peran BEM Undip bidang Lingkungan Hidup yang bertugas menjaga kebersihan dengan melakukan pemilahan sampah. 

Menurut Nandana Geraldi, mahasiswa FPIK angkatan 2023, tim pemilah sampah merupakan bagian dari program Green Dips Scholarship yang dikelola BEM Undip bidang Lingkungan Hidup. Ia menuturkan bahwa program ini terbuka untuk seluruh mahasiswa, dengan informasi pendaftaran yang diperoleh melalui akun Instagram BEM Undip, LH BEM Undip, dan Green Dips Scholarship.

Nanda menuturkan jika relawan Green Dips Scholarship tidak tergabung dalam kepanitian resmi ODM Undip 2025, sehingga dapat disebut sebagai panitia eksternal. Ia juga mengaku motivasinya mengikuti kegiatan ini adalah untuk mencari pengalaman, mengisi waktu luang, sekaligus menikmati konser ODM secara gratis. 

Para relawan diwajibkan hadir sejak pukul 03.30 WIB di Stadion Undip. “Persiapan sebelum berangkat jam 3 pagi kemarin sudah ada meeting melalui link teams, itu briefing terkait teknisnya, pembagian tim, dan jobdesc masing – masing.” ujar Nanda.

Tugas relawan dibagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu tim edukator yang memberi edukasi pemilahan sampah, tim logistik yang menyiapkan trash bag dan perlengkapan lain, tim runner yang membawa trash bag menuju tim pemilah, serta tim pemilah yang memisahkan sampah berdasarkan kategori. Nanda menambahkan, khusus untuk tim pemilah merupakan tim tambahan karena dari mahasiswa baru harus sudah memilah sendiri sampahnya.

Jenis-jenis sampah yang dipilah disampaikan oleh Nanda ada lima. Jenis pertama yaitu plastik yang ada di dalam kotak makan atau yang sudah terkontaminasi oleh makanan, jenis sampah ini merupakan sampah residu. Jenis kedua yaitu mika yang merupakan residu juga dengan trash bag berwarna hitam. Jenis ketiga yaitu sendok, garpu, dan botol minum dengan trash bag berwarna hijau. Jenis keempat yaitu kertas atau karton yang masih dapat dimanfaatkan dengan trash bag berwarna kuning. Sampah dengan trash bag warna kuning akan dijual dan hasil penjualannya akan dialokasikan untuk Green Dips Scholarship. Jenis kelima yaitu sisa makanan dengan trash bag berwarna ungu, yang nantinya akan diolah menjadi pakan maggot, pupuk, dan kebutuhan lain.

Meski lelah, Nanda menilai pengalaman ini sangat berkesan. “Melihat mahasiswa-mahasiswa baru yang penuh semangat jadi tambah semangat. Harapannya semoga Undip semakin bermartabat, bermanfaat, dan jaya jaya juara!” tuturnya. 

Reporter : Shafa, Sabrina

Penulis : Shafa

ODM Undip 2025: Dari Edukasi Finansial hingga Harmoni Bersama Maliq & D’Essentials

Semarang (23/08) – Orientasi Diponegoro Muda (ODM) merupakan gerbang awal bagi mahasiswa baru Universitas Diponegoro dalam memasuki kehidupan kampus. Agenda tahunan ini bukan sekadar seremoni penyambutan, tetapi juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai luhur Undip, membuka wawasan, menumbuhkan rasa bangga pada almamater, sekaligus membentuk karakter mahasiswa yang berlandaskan filosofi COMPLETE.

Setelah menjalani PPKMB serta ODM di tingkat fakultas, tibalah mahasiswa baru pada puncak ODM Undip 2025 yang berlangsung di Stadion Undip pada Sabtu, 23 Agustus 2025. Sejak pukul 05.30 pagi, ribuan mahasiswa baru telah memadati stadion dengan dresscode hijau mint lengkap dengan udeng Jawa, menghadirkan lautan warna seragam yang mencerminkan kesatuan dan kebersamaan. Antusiasme yang membuncah terus terjaga hingga acara ditutup pada pukul 13.00 siang.

Mengangkat tema “Smart Spending, Big Thinking”, ODM tahun ini menyoroti pentingnya literasi keuangan bagi generasi muda. Tema tersebut dipilih sebagai respons terhadap fenomena gaya hidup konsumtif dan maraknya perilaku fear of missing out (fomo) di kalangan Gen Z. Melalui tema ini, mahasiswa baru diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berani, visioner, serta mampu mengelola keuangan secara bijak, terutama bagi mereka yang harus hidup mandiri sebagai perantau jauh dari orang tua.

ODM 2025 juga menegaskan lima pilar nilai yang akan menjadi fondasi Diponegoro Muda: mandiri, konsisten, bijak, integritas, dan humanis.
“Universitas ini mewarisi semangat Pangeran Diponegoro. Kita memang bukan pendiri, tetapi kita adalah pewaris nilai-nilai Pangeran Diponegoro—nilai jujur, berani, dan adil,” tutur Prof. Suharnomo, Rektor Universitas Diponegoro, dalam sambutannya yang disambut dengan sorakan penuh semangat dari ribuan mahasiswa baru.

Kemeriahan ODM 2025 semakin terasa dengan kehadiran maskot baru, Ganeo, Garuda Diponegoro yang gagah. Sosok Ganeo bukan hanya simbol, melainkan representasi nilai integritas, keberanian, dan semangat kebersamaan. Kehadirannya menegaskan bahwa keberagaman mahasiswa Undip adalah sumber kekuatan, bukan penghalang, dalam melangkah menuju perjalanan akademik maupun pengabdian masyarakat.

Rangkaian acara dimulai dengan atraksi mozaik, di mana setiap mahasiswa memegang kertas warna sesuai pola dan nomor tempat yang telah ditentukan untuk membentuk gambar besar yang menyimbolkan semangat persatuan. Dilanjutkan dengan atraksi udara dari dua paramotor yang membentangkan bendera Universitas Diponegoro dan ODM Undip yang diterbangkan langsung dari Bukit Ungaran,mencuri perhatian seluruh peserta.

Suasana stadion kemudian semakin ramai dengan parade organisasi kemahasiswaan (ormawa) Undip. Parade ini menjadi momen penting bagi mahasiswa baru untuk mengenal ragam organisasi yang kelak bisa menjadi wadah pengembangan diri, baik di bidang akademik, minat bakat, maupun advokasi mahasiswa.

Tidak hanya parade, beragam hiburan juga disuguhkan dengan konsep yang dikemas apik. Mulai dari penampilan tarian EconoRhythm hingga pertunjukan Mahakarya yang menggabungkan drama dengan koreografi tari modern. Perpaduan tersebut berhasil menyampaikan pesan nilai dengan cara yang kreatif dan menghibur.

Salah satu sesi yang paling ditunggu adalah Dipscussion bersama aktris sekaligus penyanyi Cinta Laura. Pada kesempatan ini, Cinta berbagi pengalamannya dalam mengatur keuangan secara bijak sejak dini.“Fun fact, sampai sekarang aku punya excel spreadsheet di mana aku menulis pengeluaran aku setiap hari,” ungkap Cinta, disambut gelak tawa dan tepuk tangan mahasiswa baru. Ia juga membagikan kisah pribadinya saat pertama kali beradaptasi sebagai mahasiswa di New York, sebuah pengalaman yang memberi motivasi bagi mahasiswa baru untuk lebih mandiri dan disiplin.

Acara kemudian berlanjut dengan orasi dari 12 Ketua BEM Fakultas dan Sekolah Vokasi, yang masing-masing menyoroti kelebihan dan kekurangan dari fakultasnya. Orasi tersebut ditutup dengan pidato dari Aufa Atha Ariq, Ketua BEM Undip 2025. Setelah menyampaikan orasinya, para ketua BEM berdiri di tengah lapangan dengan bendera identitasnya masing-masing. Momen ini semakin kuat ketika mereka secara kompak mengenakan kaos bertuliskan “Bebaskan Kawan Kami”, sebagai bentuk seruan solidaritas untuk kawan-kawan mahasiswa yang masih memperjuangkan keadilan.

Puncak acara ditandai dengan keynote speech Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Arman Sulaiman, yang menyampaikan pesan inspiratif mengenai peran generasi muda dalam membangun kemandirian bangsa, khususnya di bidang pangan dan pertanian. Suasana kemudian beralih ke momen hiburan penutup yang ditunggu-tunggu: penampilan band Maliq & D’Essentials. Dengan membawakan deretan lagu populernya, Maliq & D’Essentials berhasil membuat seluruh stadion bergemuruh, menutup ODM Undip 2025 dengan meriah sekaligus meninggalkan kesan mendalam bagi para mahasiswa baru

Reporter : Sabrina,Shafa 

Penulis : Sabrina 

Yellow Fest 2025: Inside Out, Bermula dari Rasa, Bertumbuh dengan Makna

Semarang (22/08) – Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro kembali menggelar acara tahunannya yakni Yellow Fest yang diselenggarakan oleh Divisi Harmonisasi Kampus (Harkam) BEM FEB. Acara ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa baru (maba) dalam mengenal dunia kampus sekaligus menemukan organisasi kemahasiswaan (Ormawa) yang tepat sebagai wadah pengembangan diri. 

Dengan mengusung tagline Start with Feelings, Grow with Meaning, Yellow Fest 2025 dikemas sebagai perjalanan emosional yang merefleksikan pengalaman maba dalam beradaptasi di lingkungan perkuliahan. Tahun ini, acara berlangsung dalam skala yang lebih besar, dengan melibatkan ribuan mahasiswa baru serta puluhan Ormawa yang berpartisipasi.

 Acara Yellow Fest menjadi wadah bagi para Ormawa dan UKM mendirikan stand-stand untuk memperkenalkan diri pada mahasiswa baru FEB Undip. Setiap stand didesain dengan ciri khas masing-masing, mulai dari poster program kerja, atribut organisasi, hingga dekorasi kreatif yang merepresentasikan identitas mereka. Bahkan ada pula yang menghidupkan suasana dengan yel-yel, musik, dan mini games yang membuat interaksi dengan mahasiswa baru semakin hidup. Semua itu bertujuan agar mahasiswa baru tidak hanya mengetahui nama organisasi, tetapi juga merasakan atmosfer dan nilai yang ditawarkan oleh setiap Ormawa. 

Bunga, selaku Vice Project Officer Yellow Fest 2025, menyebutkan bahwa tantangan terbesar dari penyelenggaraan Yellow Fest tahun ini adalah besarnya skala acara. “Jumlah maba mencapai 1.300 orang, ditambah terdapat penambahan Ormawa menjadi 27 Ormawa yang terlibat. Jadi kita harus menyiapkan Yellow Fest yang lebih besar, meriah, dan matang lagi,” ungkapannya.

Konsep Inside Out dipilih sebagai tema Yellow Fest tahun ini. Menurut Bunga, tema ini merepresentasikan perjalanan emosional mahasiswa baru dalam mencari organisasi yang sesuai dengan minat dan identitas mereka.“Saat pertama masuk kuliah, maba pasti kaget. Tema ini mencerminkan perjalanan emosi mereka dalam mencari organisasi yang cocok sebagai rumah pengembangan diri,” tambahnya.

Antusiasme mahasiswa baru sangat terlihat di sepanjang acara. Vanan, mahasiswa baru Prodi Akuntansi, mengungkapkan bahwa setiap Ormawa memiliki ciri khas masing-masing. “Setiap penyampaian punya ciri khas masing-masing. Jadi makin paham dan tertarik dengan Ormawa yang ada,” ujarnya.Hal serupa disampaikan Rifqi, mahasiswa baru lainnya, yang merasa terbantu dengan adanya kegiatan ini. “Awalnya nggak tahu, tapi jadi tahu lebih banyak tentang organisasi dan keluarga besar FEB,” katanya.

Panitia berharap Yellow Fest 2025 dapat memotivasi mahasiswa baru untuk aktif berorganisasi. “Harapannya, setelah acara ini, maba semakin tertarik untuk ikut Ormawa dan aktif berkontribusi di FEB,” pungkas Bunga.

Dengan skala yang lebih besar, konsep yang lebih up to date, serta partisipasi dari ribuan mahasiswa, Yellow Fest 2025 bukanlah sekadar wadah pengenalan saja bagi mahasiswa baru. Lebih dari itu, Yellow Fest merupakan tonggak awal perjalanan baru bagi para Diponegoro Muda untuk bertumbuh, berproses, dan berkontribusi di FEB Undip.

Reporter : Cantika, Sabrina

Penulis : Sabrina