Dibalik Redupnya Pers Mahasiswa

Oleh: Rayhan Riza

Pilar-pilar demokrasi dalam ruang lingkup akademia juga ditopang oleh hadirnya lembaga pers mahasiswa. Sebagai penyambung lidah mahasiswa, atau setidaknya itu yang dicita-citakan, LPM bertanggungjawab sebagai kontrol sosial dalam lingkup kampus maupun masyarakat luas. Melalui prinsip jurnalistiknya meliput, menulis, dan mempublikasi informasi-informasi yang relevan dan terkadang krusial bagi civitas setempat. Sehingga, layaknya lembaga jurnalistik pada dasarnya, hal itu tidak berjalan tanpa rintangan. 

Namun pada abad ke-21 sekarang, timbul faktor-faktor multidimensional yang berkontribusi secara signifikan dalam kemunduran pers. Apalagi pers mahasiswa yang notabenenya terletak di kehidupan akademia, dimana kutub-kutub arus perubahan sosial bermuara, maka tantangan konvensional dan non-konvensional berdatangan sehingga memicu tanda-tanda keredupan pers mahasiswa. Mulai dari relevansi, popularitas, sampai urgensi, segala aspek fundamental jurnalistik kemahasiswaan mulai dipertanyakan secara serius.

Narasi Konvensional

Sebagai kontrol sosial, pers mahasiswa secara otomatis akan menghadapi tantangan yang muncul dari pihak penguasa, layaknya semua lembaga jurnalistik, termasuk dalam ruang lingkup kampus. Pembatasan ruang gerak adalah satu hal yang sering dialami pers mahasiswa dari masa ke masa dalam menjalani hak kebebasan pers nya. Melalui alasan “kondusivitas” atau “stabilitas”, menciptakan gap antara ruang kritik pers mahasiswa dengan pihak birokrasi. Bahkan bentuk-bentuk tekanan khusus dari pihak kampus tak jarang ditemui. Beberapa kampus atau pemerintah tak segan-segan untuk membredel media pers mahasiswa, seringkali dengan tuduhan-tuduhan provokatif.

Benar bahwasanya ancaman terhadap demokrasi dan kebebasan pers sedang dalam situasi darurat, dan kita hidup di titik terendah dalam nadir hubungan media dan otoritas di era modern. Tetapi apakah narasi konvensional “Pers melawan Otoritas” akan terus menerus menjadi alasan dibalik redupnya pers mahasiswa? Apakah tidak ada faktor internal yang juga turut hadir? Atau apakah hanya narasi itu semata yang menjadi faktor eksternal?

Media Sosial dan Jurnalisme

Media sosial telah tumbuh menjadi alternatif, jika bukan, platform utama mahasiswa dalam menyerap berbagai informasi, berpendapat, dan berperan aktif dalam dinamika media yang memperluas jangkauan informasi media sosial lebih daripada pers mahasiswa. Ini tentunya secara langsung maupun tidak langsung menggeser urgensi pers mahasiswa yang tugasnya adalah meliput, menulis, dan mempublikasi informasi. Ditambah dengan fakta bahwa gaya belajar masyarakat dan mahasiswa Indonesia yang dominan dengan metode auditori (pendengaran), kebanyakan lebih mudah mengandalkan pendengaran sebagai cara utama untuk memahami informasi dan pengetahuan. Hal itu djawab lebih banyak oleh fitur sosial media daripada tulisan media konvensional yang mengharuskan membaca.

Tapi bukan hal itu yang menjadi masalah, yang menjadi pertanyaan terpenting adalah apakah peran media sosial bisa membantu, atau justru merusak ikhtiar jurnalisme? Media sosial memang tidak termasuk kedalam kategori jurnalisme, namun media sosial dapat mendorong secara signifikan praktik-praktik jurnalisme. Itu menjelaskan kenapa platform media sosial ramai digunakan oleh lembaga pers mahasiswa dimanapun saat ini. Melalui cara-cara inovatif, LPM berusaha untuk menarik pembaca via fitur-fitur media sosial yang relevan saat ini. Tapi apakah itu membantu?

Dukungan Lingkungan

Liberalisasi masif dalam dunia pendidikan Indonesia menghadirkan tuntutan pemerintah, dan industri yang lebih besar dari sebelumnya terhadap civitas akademia. Sehingga, sama seperti ormawa lainnya, lembaga pers mahasiswa mengalami penurunan popularitas dan relevansinya di kalangan kehidupan mahasiswa yang lebih fokus pada tuntutan karir dan pekerjaan mendatang. Argumen tersebut mungkin tidak relevan bagi mereka yang ingin menunjang karir di bidang jurnalistik atau media. Tapi beragamnya minat dan pilihan yang ada juga berkontribusi pada jatuhnya pers mahasiswa. 

Hal itu juga dirasakan lewat tingkat dukungan pihak kampus terhadap keberjalanan pers mahasiswa itu sendiri. Jika bukan dalam aspek finansial (pendanaan kelembagaan) maka pada fasilitas dan ruang gerak yang kian lama diabaikan mengingat relevansi dan urgensi pers mahasiswa yang terus tergerus. Bukan untuk mengatakan bahwa situasi ini pasti ditemui di setiap kampus, namun dukungan lingkungan akademia menjadi faktor penting dalam mempertahankan eksistensi lembaga pers mahasiswa itu sendiri.

Internal Pers Mahasiswa

Eksistensi sebuah institusi pada landasan fundamentalnya akan bergantung bagaimana kualitas institut tersebut dalam menjalankan fungsi-fungsi organisasinya. Maka dalam hal ini, kualitas dari lembaga pers mahasiswa juga menjadi faktor krusial. Pers mahasiswa diisi oleh anggota yang juga merupakan mahasiswa, dimana proses pembelajaran masih menjadi bagian dari keberjalanan sehingga organisasi rawan dengan berbagai kesalahan karena juga wadah dari “proses belajar”. Maka wajar saja jika kualitas pers mahasiswa masih belum sebanding dengan kualitas lembaga pers atau kantor berita konvensional. 

Tetapi itulah yang menjadi permasalahan ketika praktik jurnalisme diimplementasikan. Tuduhan yang menjadi justifikasi pihak otoritas terhadap pers mahasiswa salah satunya bisa masuk melalui lemahnya kualitas produk yang dihasilkan. Jika fungsionaris pers tidak dibekali dengan pemahaman jurnalistik yang matang, termasuk dalam kode etik jurnalistik, maka eksistensi lembaga pers mahasiswa itu sendiri bisa jadi sangat rawan.  

Menjadi Pers Mahasiswa di Abad 21

Banyak sekali yang bisa menjadi evaluasi bagi lembaga pers mahasiswa di abad ke-21. Perubahan zaman menuntut perubahan dalam cara menjalankan peran sebagai sumber informasi yang independen. Meningkatnya persaingan dan media alternatif tidak mengurangi urgensi dari lembaga pers mahasiswa itu sendiri. Karena pada akhirnya, pilar demokrasi yang akan terus hidup disaat tiga lainnya runtuh kedalam tirani adalah pers yang merdeka dan independen. Tidak ada yang bisa menggantikan pers dalam fungsi jurnalisme independennya, dan tidak ada kelompok generasi yang mendorong semangat perubahan sebesar mahasiswa, sehingga peran lembaga pers mahasiswa tidak boleh mati meski tengah redup.

Koruptor Cilik

Oleh: Rayhan Riza

Kita seringkali bersuara untuk mengekspos beragam praktik dan fenomena ketidakadilan di negeri ini yang kebanyakan berasal dari para pemangku kepentingan tertinggi. Entah itu dijalan, forum diskusi, atau tongkrongan, stigma mengenai sang koruptor seolah hanya terbatas pada mereka yang ada di dalam ruang lingkup kekuasaan saja. Apalagi bagi generasi lumbung aktivis seperti mahasiswa, gelar public enemy sudah sering kita sematkan pada pejabat korup. Ini sama sekali tidak salah: Praktik korupsi adalah sebuah kejahatan dan harus disuarakan terus seperti itu, tetapi kebanyakan dari kita luput dari gambaran yang lebih besar. 

Di sebuah republik konstitusional, para pemangku kepentingan tertinggi entah itu di lingkup pemerintahan atau bisnis bermuara dari kita sendiri, warga negara. Pejabat-pejabat kita adalah “Tetangga rumah kita yang ikut terjun ke politik”. Sehingga perilaku mereka secara alami sesuai dengan masyarakat pada umumnya. Bila praktik korupsi marak di kalangan petinggi-petinggi kita, bukankah lebih baik jika kita mulai mengamati muaranya?

Korupsi dan Koruptor

Kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu korupsi dan siapa itu koruptor. Menurut KBBI, korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara. Namun, korupsi juga bisa mengacu pada makna lain seperti penyimpangan dari yang aslinya atau dari apa yang murni/benar. Terlepas dari perbedaan tafsir, kedua makna yang tertera mengandung makna yang sama yaitu penyimpangan. Maka, orang yang melakukan praktik korupsi disebut sebagai koruptor. Tentu, koruptor yang dimaksud bukan hanya mereka yang menyalahgunakan kekuasaan, tapi juga mereka yang menyalahgunakan hak-hak nya.

Korupsi tidak terbatas dalam tindakan, tetapi korupsi adalah pola pikir. Itu adalah nilai yang tertanam di DNA masyarakat Indonesia dalam kesehariannya, bukan hanya di kalangan elit. Kita seharusnya semakin sadar bahwa pola pikir kitalah yang melahirkan koruptor-koruptor cilik sebelum pada akhirnya menjadi koruptor besar. Pendekatan top down pun semakin tidak efektif, diperkuat dengan maraknya praktik korupsi yang sudah menembus banyak zona-zona integritas, salah satunya pendidikan.

Koruptor Cilik

 Lihat di lingkungan kampus kita contohnya, banyak koruptor-koruptor cilik yang bermunculan. Mungkin kita memandang sebelah mata dan terus menganggap bahwa korupsi di kalangan mahasiswa tampak seperti masalah kecil. Namun, hal itu bisa menimbulkan dampak signifikan terhadap integritas akademik dan juga citra perguruan tinggi di negeri kita.

Sudah sering kita lihat misalnya, mereka yang menyalahgunakan beasiswa dan dana bantuan publik. Tidak dipakai sebagaimana mestinya tapi justru untuk penopang hasrat konsumtif mereka. Mereka telah melanggar hak fundamental mereka: Hak untuk mendapatkan pendidikan dan kesejahteraan ekonomi, yang mirisnya bukan dilakukan oleh pihak otoritas, tapi mereka yang seharusnya mendapat hak itu sendiri.

Kejahatan finansial tidak hanya sampai situ saja, mark up anggaran kemahasiswaan yang dilakukan oleh ormawa pun juga sering terjadi. Bahkan dalam beberapa kasus anggaran kegiatan dipakai oleh individu mahasiswa untuk kepentingan pribadi. Penggelapan dana kerap dilakukan melalui manipulasi proposal dan laporan pertanggungjawaban kegiatan. Satu bisa merasa bahwa usahanya dalam kegiatan tidak dibayar sepadan sehingga mendorong tindakan korupsi anggaran, atau justru berpikir bahwa semua juga melakukan hal yang sama. Ditambah dengan faktor tekanan seperti tekanan hidup, kebutuhan konsumtif, bahkan bisa saja mereka yang terjerumus ke dalam aktivitas illegal. Disitulah mereka melihat peluang yang lebar untuk memanfaatkan dana yang ada guna kepentingan pribadi.

Pola pikir koruptif juga marak utamanya diluar domain anggaran: Akademik. Digitalisasi yang semakin masif semakin membuka pintu lebar bagi kita untuk melakukan tindakan plagiarisme dalam menunaikan tugas-tugas akademiknya. Perkembangan Artificial Intelligence tidak dimanfaatkan untuk proses pembelajaran yang lebih mendalam namun justru disalahgunakan dengan perilaku yang tidak bijak. Jika bukan plagiarisme, maka joki tugas dan/atau skripsi menjadi opsi alternatif.

The Fraud Triangle

Mengacu pada teori Fraud Triangle, perilaku penyalahgunaan tersebut didorong oleh tiga hal: Rasionalisasi, Tekanan/Motivasi, dan Peluang. Tekanan akademik adalah suatu hal yang banyak dari kita rasakan, terlepas dari faktor pendorongnya. Saat tekanan yang dihadapi melebihi kapasitas kita, disitulah cara-cara pragmatis bermunculan. Orientasi pada hasil yang tidak mengedepankan proses membuat kita cenderung mengabaikan prinsip yang dibangun dari proses itu sendiri. Dorongan kita untuk berperilaku koruptif juga didukung oleh rasionalisasi yang menyatakan seolah semua orang juga melakukan hal yang sama, sehingga tidak ada alasan kuat untuk tidak mengikutinya. Dari sanalah, mereka melihat peluang terbuka lebar untuk menggapai hasil dengan cara instan yang kotor.

Perilaku-perilaku tersebut mungkin tampak sepele, tapi jika pola pikir koruptif yang sama dipegang oleh setidaknya mayoritas dari civitas akademika, maka institusi pendidikan tidak memiliki landasan yang kuat untuk menciptakan zona integritas. Ini juga akan mencerminkan cetakan alumni nantinya yang masuk ke dunia pekerjaan. Apapun tidak akan berubah, entah itu sistem, masyarakat, negara, dan peradaban secara keseluruhan, jika pola pikir tersebut terus membersamai kita selamanya. Terjebak di lingkaran penderitaan, dan dibelenggu oleh ketamakan.

Apakah kita sudah cukup suci jika disandingkan dengan mereka yang menyalahgunakan kekuasaan? Kalau bukan nominal, maka berapa banyak hak yang kita korupsi untuk diri kita sendiri? 

Menkeu Bicara Soal Kebijakan, BI Atur Suku Bunga. Tapi Siapa Sebenarnya yang Sedang Diuntungkan?

Semarang, (18/09) – Gelar Wicara Ekonomi Vol. 3 adalah sebuah forum diskusi politik dengan intervensinya dalam ranah ekonomi. Bertempat di Dome FEB Undip, Sospol BEM FEB Undip, memberi wadah untuk edukasi dan menyadarkan mahasiswa FEB mengenai berbagai situasi ekonomi saat ini yang menjadi ukuran pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Forum kali ini mengundang pemantik serta pemateri Syahrul Fajri Mahasiswa Ekonomi FEB Universitas Diponegoro. Isi dalam forum ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang tepat untuk mahasiswa memahami kondisi aktual di Indonesia.

Syahrul Fajri menjelaskan dalam forum mengenai pengaruh geopolitik pada ekonomi dunia, bahwa Indonesia telah masuk ke dalam BRICS dan membeberkan fakta dan data mengenai pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang menjadi isu hangat serta kebijakan – kebijakan politik yang kontroversi.  “Kita lihat jika memang BI rate kita nanti turun berarti ada campur tangan politik pada Bank Indonesia yang notabenenya institusi yang independen,” ungkap Syahrul Fajri dalam Forum Gelar Wicara Vol. 3.

Pernyataan tersebut diangkat ketika Syahrul Fajri diberikan pertanyaan mengenai bagaimana dampak dari kebijakan – kebijakan politik mampu mempengaruhi perekonomian. Kebutuhan masyarakat luas yang nanti akan menjadi ukuran pertumbuhan di Indonesia dihantam dengan kebijakan – kebijakan kontroversial yang dikeluarkan pemerintah. Hal ini dipertanyakan oleh Arkan, seorang mahasiswa FEB.

“Perkembangan ekonomi dunia juga merupakan andil dari organisasi BRICS yang sebanyak 29% PDB berputar di organisasi ini dan 20% perdagangan internasional berputar pula di BRICS dengan negara yang memiliki andil besar pada perdagangan Internasional, Iran dan Mesir,” ucap Syahrul 

Kebanyakan perputaran ekonomi dunia juga dipengaruhi oleh adanya organisasi BRICS menjadi tonggak perekonomian dunia, masalah utama yang timbul ketika Purchasing Power Parity Index (PPPI) meningkat, seperti pada perang yang timbul antara Iran dan Israel, ketika sekarang PPPI berada di kisaran 20% dapat meningkat 49,6% menyebabkan kemampuan membeli barang dan jasa di luar negeri pada suatu negara akan menurun karena kenaikan index perdagangan. Hal inilah yang menjadi pokok utama bagaimana geopolitik perlu dibahas secara serius karena sangat berpengaruh atas perekonomian dunia, serta masalah yang ada di Indonesia.

Di Indonesia kebanyakan masih membicarakan arah kebijakan yang diatur sebagaimana tidak konsisten dan se-linear dengan pemenuhan pertumbuhan Indonesia. Hal ini dicetus oleh Syahrul, bahwa Indonesia belum menemukan karakter bangsa dan seharusnya ukurannya sudah ditentukan oleh terwujudnya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang realisasinya masih minim di masyarakat luas. “Pertumbuhan Indonesia juga nantinya akan dipengaruhi oleh kebijakan BI menentukan suku bunga atau BI rate yang nantinya akan naik atau menurun seiring hasil rapat yang dijalankan pada hari Senin tanggal 22 September 2025,” tambah Syahrul.

Pada pernyataan Syahrul mendapati bahwa jika nantinya BI rate turun maka kemungkinan besar akan menjadi alat untuk melanggengkan kekuasaan dengan menaikkan tingkat kepercayaan masyarakat dengan adanya penurunan BI rate. Dari wawancara dengan Syahrul pula dijelaskan bahwa BI rate yang turun ini harus dijelaskan dengan alasan yang jelas sehingga tidak menjadi rancu dan dapat dijadikan sebagai alat politik, juga menjadi pertanyaan untuk status independensi dari Bank Indonesia sendiri.

Dari diskusi hangat di atas bisa menggambarkan Forum Gelar Wicara ini merupakan wadah penting untuk mahasiswa FEB tentunya memahami masalah yang fokus utamanya di ekonomi, mengenai stabilitas ekonomi di Indonesia dan intervensinya yang dapat menjadi masalah umum di Indonesia.

Rafi Ridho Tockary, Ketua BEM FEB Undip, Memberikan pendapatnya bahwa dari forum yang digelar diharap mampu menjadi wadah untuk pencerdasan mahasiswa. “Kita dari BEM pastinya akan terus konsisten mengadakan, menyuarakan, dan memberikan sebuah wadah-wadah diskusi supaya pencerdasan dan iklim dari mahasiswa yang mungkin kurang paham, kurang peduli menjadi peduli, tahu, dan mau bertindak,” ujarnya dalam wawancara eksklusif.

Forum ini tidak hanya memberikan edukasi formal namun kemudian dibumbui dengan konser yang mampu mencairkan suasana. Hal ini diperkuat dengan harapan dari beberapa panitia serta salah satu audiens dalam wawancara. Alfa, mahasiswa jurusan Ekonomi FEB Undip, menyatakan, “harapannya mungkin lebih ke mahasiswa FEB, sih, buat lebih bisa meramaikan acara seperti ini, karena disini juga kita sharing, terus juga belajar juga, gitu.” 

Diperkuat dengan pernyataan oleh Tiara dan Arkan masing – masing selaku Project Officer (PO) dan Vice Project Officer (VPO), menyatakan bahwa dengan diadakannya forum ini besar harapannya mampu mengedukasi mahasiswa FEB dan mampu menyalurkan pengetahuannya pada masyarakat luas nantinya.

Sospol BEM FEB Undip tahun ini akan menggelar forum gerakan 4 yang akan membahas dengan topik yang berbeda dengan harapan mampu memberikan edukasi yang sesuai dengan kondisi di negara dan menyadarkan sebagian masyarakatnya. “Keberlanjutan Gerakan 4 akan membahas tema yang berbeda. Di sini, saya bertujuan untuk membangun kesadaran mahasiswa FEB nantinya,” ujar Arkan Toto pada wawancara eksklusif.

Reporter: Aldo, Haqi

Penulis: Aldo

Capital Market Fair 2025: Puncak Literasi Pasar Modal di Undip

(Semarang, 13/09) – Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) FEB Undip menggelar Capital Market Fair 2025 di Gedung Prof Sudarto. Capital Market Fair atau CMF adalah acara yang bertujuan untuk mengedukasi dan menginspirasi mahasiswa serta masyarakat mengenai peran pasar modal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan mengangkat tema “Exploring Promising Sectors: Strategic Drivers of Economic Growth”, KSPM bertujuan menghadirkan pemahaman mendalam mengenai sektor-sektor potensial yang mampu menjadi penggerak ekonomi Indonesia di masa depan, sekaligus menumbuhkan minat generasi muda untuk berinvestasi secara cerdas. Acara terbesar KSPM ini didukung oleh OJK, SIM Invest, Sinarmas Sekuritas, Sidomuncul, Bursa Efek Indonesia, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia, dan masih banyak lagi.

Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Prof. Faisal, memberikan sambutan dengan menekankan arti penting CMF di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian. “Acara ini menjadi penting bagi kita semua ditengah krisis global dan krisis geo politik, diharapkan dari kegiatan ini kita dapat optimis sebagai mahasiswa, investor, dan akademisi di tengah kondisi yang tidak menentu”. Selanjutnya terdapat keynote speech dari Rudi Utomo selaku CEO PT Sinarmas Sekuritas yang menyebut bahwa literasi keuangan menjadi sarana penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang tangguh menghadapi tantangan di era saat ini. Ia menggambarkan journey investment sebagai proses panjang, “Investasi tidak terbentuk dengan cepat, melainkan dimulai dari modal yang sedikit lama-lama menjadi bukit” ujarnya. Sementara itu, Sandiaga Uno juga memberikan keynote speech dengan menekankan bahwa pasar modal memiliki peran vital sebagai alternatif pembiayaan pembangunan, khususnya infrastruktur. Menurutnya, peningkatan investasi di pasar modal dapat mencetak generasi investor yang cerdas, berkelanjutan, memiliki karir, sekaligus berkontribusi dalam transformasi ekonomi Indonesia. 

Agenda dilanjutkan dengan peresmian Galeri Investasi Universitas Diponegoro yang didukung oleh PT Sinarmas Sekuritas. Peresmian dilakukan secara simbolis dengan pemotongan pita, menandai resmi beroperasinya galeri yang akan menjadi pusat literasi keuangan baru yang terletak di gedung KWU FEB Undip. Sudah terdapat 971 galeri investasi di Indonesia yang menjadi bukti kuat komitmen literasi keuangan di Indonesia. 

CMF 2025 digelar dengan sangat megah, dengan menghadirkan tiga tokoh utama pasar modal yaitu Lo Kheng Hong yang dikenal sebagai investor hebat di Indonesia, lalu ada Budiyanto selaku CFO PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk., serta Isfhan Helmy selaku Head of Institutional Research PT Sinarmas Sekuritas. Diskusi dipandu oleh moderator Friska Devi Choirina, pendiri Ngerti Saham, yang membawakan sesi menjadi lebih interaktif dan relevan dengan kondisi ekonomi terkini. Dalam kesempatan ini, Lo Kheng Hong menekankan disiplin dalam analisis fundamental. “Kinerja masa lalu bisa mencerminkan kinerja masa depan. Sektor yang bertumbuh akan bertahan karena akan menghasilkan laba besar dan dibutuhkan masyarakat”. Sementara itu, Isfhan Helmy menyoroti konsistensi sektor perbankan. Menurutnya sektor perbankan adalah mesin pertumbuhan ekonomi kita. Beberapa bank bahkan mencatat return yang sangat konsisten. Tak hanya itu, Budiyanto juga berbagi perspektif manajemen korporasi serta strategi keberlanjutan guna menjaga perusahaan di tengah dinamika pasar. 

Antusiasme peserta begitu tinggi, karena selain mendatangkan pembicara yang expert pada bidangnya, sebagai bentuk apresiasi, panitia memberikan hadiah voucher shopee sidomuncul sebesar Rp 300.000 kepada lima penanya terbaik. Salah seorang penanya, Fachri Ashafi mahasiswa fakultas hukum mengaku terinspirasi dengan materi Lo Kheng Hong. “Materinya sangat insightful, beliau menjelaskan mengapa lebih memilih investasi jangka panjang daripada ikut IPO. Itu membuka sudut pandang baru bagi saya,” ujarnya. 

Menurut Nada selaku Project Officer CMF 2025, visi utama CMF adalah menjadikan acara ini sebagai platform edukasi nasional dipasar modal. “Kami ingin menghadirkan pemahaman mendalam tentang sektor-sektor potensial yang menjadi engine of growth Indonesia, sekaligus menumbuhkan minat generasi muda untuk berinvestasi secara cerdas,”jelasnya. 

Sebagai informasi, Capital Market Fair merupakan puncak acara dari Diponegoro Capital Market Days (DCMD). Jadi sebelum acara CMF terdapat serangkaian kegiatan, salah satunya yaitu DIponegoro International Capital Market Investment Challenge (DINAMIC), yang mempertemukan mahasiswa terbaik dari universitas di seluruh Indonesia. Kompetisi ini mendapat apresiasi tinggi dari peserta karena mendorong critical thinking serta keberanian dalam menyampaikan gagasan. Alfin, salah satu peserta dari UNAIR, menilai Dinamic berbeda dari lomba lain.“Mulai dari proses pre-elim hingga final, semua dikritisi dengan sangat detail oleh juri. Bahkan saat gala dinner, kami bisa berdiskusi langsung dengan para finalis dan pembicara,” ungkapnya. Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan DCMD secara keseluruhan. 

Capital Market Fair 2025 sukses membungkus rangkaian panjang Diponegoro Capital Market Days (DCMD), yang menjadi puncak dari seluruh agenda tahunan KSPM Undip. Acara ini menjadi penutup yang sempurna, sekaligus tonggak penting dalam meneguhkan peran generasi muda sebagai investor cerdas dan berkelanjutan bagi masa depan ekonomi Indonesia.

Reporter: Sabrina, Cantika

Scholarship Expo FEB Undip 2025: Jembatan Mahasiswa Meraih Peluang Beasiswa

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) kembali menghadirkan Scholarship Expo 2025 sebagai bagian dari rangkaian Job and Scholarship Day (JSD). Acara yang digelar pada Kamis, 11 September 2025 di bawah Masjid FEB Undip ini menjadi wadah interaktif yang mempertemukan mahasiswa dengan berbagai lembaga pemberi beasiswa nasional bergengsi, mulai dari LPDP, Djarum Beasiswa Plus, Tanoto Foundation, Pertamina Foundation, Karya Salemba Empat, Bakti BCA, hingga Paragon Scholarship.

Ketua panitia, Bintang, menjelaskan bahwa expo ini dirancang sebagai ruang bagi mahasiswa maupun fresh graduate FEB Undip untuk mendapatkan informasi langsung dari penyelenggara beasiswa. “Tenant beasiswa kami pilih melalui kolaborasi dengan berbagai institusi resmi agar informasi yang disampaikan benar-benar valid dan bermanfaat. Harapannya, peserta dapat memperoleh strategi yang tepat untuk meningkatkan potensi diri mereka,” ujarnya.

Suasana expo terasa hidup dengan mahasiswa yang silih berganti mendatangi booth, membawa daftar pertanyaan seputar syarat pendaftaran, tahapan seleksi, hingga tips agar dapat lolos. Beberapa datang memang dengan tujuan yang sudah jelas, sementara sebagian lainnya mampir karena penasaran setelah melihat keramaian. Hanin, salah satu mahasiswa FEB, mengaku hadir untuk memperluas wawasan. Ia sudah memiliki beasiswa incaran sehingga langsung menuju tenant yang sesuai. “Yang paling saya cari itu tips dan trik agar bisa lolos, sekaligus dokumen apa saja yang dibutuhkan. Setelah sharing dengan awardee, saya jadi lebih percaya diri untuk mencoba,” ungkapnya. Hal senada juga dialami Maida yang awalnya tidak tahu ada acara ini, namun langsung tertarik ketika mengetahui ada tenant beasiswa yang memang sejak lama ia incar. “Rasanya senang bisa tanya langsung ke awardee, jadi ada gambaran jelas untuk ke depannya,” ujarnya.

Dalam expo ini, salah satu tenant yang sempat diwawancarai lebih jauh adalah Beasiswa Bakti BCA. Program ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan PT Bank Central Asia yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga menawarkan pengembangan diri yang komprehensif. Penerimanya disebut sebagai Bakti Champions, sebuah identitas yang menekankan bahwa awardee bukan sekadar penerima bantuan, melainkan individu yang disiapkan untuk membawa perubahan positif di lingkungannya. Ari Fitriani, mahasiswa FISIP Undip angkatan 2022 sekaligus penerima Beasiswa Bakti BCA tahun 2024, menjelaskan bahwa beasiswa ini memiliki tiga jalur seleksi, yaitu bantuan finansial, prestasi akademik, dan prestasi non-akademik. Sistem jalur tersebut membuat program ini lebih inklusif. “Kalau jalur akademik tentu memperhatikan IPK, tetapi untuk jalur non-akademik tidak ada syarat minimal IPK. Jadi mahasiswa yang menonjol di bidang olahraga, seni, atau organisasi tetap punya kesempatan sama besarnya,” tuturnya.

Lebih dari sekadar beasiswa, Bakti BCA juga menghadirkan berbagai program pengembangan seperti workshop keterampilan, pelatihan kepemimpinan, program community empowerment, company visit, hingga National Summit di Jakarta yang mempertemukan para Bakti Champion dari seluruh Indonesia. Menurut Ari, pengalaman tersebut memberinya kesempatan memperluas wawasan serta mengasah soft skill yang tidak selalu diperoleh di bangku kuliah. Ia juga membagikan tips sederhana bagi calon pendaftar: perbanyak riset, jangan ragu bertanya ke awardee, latihan menghadapi tes, dan yang terpenting jadilah diri sendiri. “Tagline Bakti BCA itu every champion is unique, the champion is you, jadi mereka memang mencari keunikan tiap peserta,” tambahnya.

Dengan konsep bazar interaktif yang mempertemukan mahasiswa, awardee, dan lembaga pemberi beasiswa dalam suasana santai namun informatif, Scholarship Expo 2025 berhasil menjadi jembatan yang memudahkan mahasiswa Undip untuk meraih informasi secara langsung. Panitia berharap acara ini tidak hanya menjadi ajang berburu beasiswa, tetapi juga momentum untuk membangun keyakinan diri. Seperti disampaikan Bintang, “Acara ini kami desain agar mahasiswa tidak hanya pulang dengan informasi, tetapi juga dengan keyakinan bahwa mereka mampu meraih beasiswa dan sukses di bidang yang mereka pilih.”

Reporter : Najwa dan Sabrina

Penulis : Najwa

SED x ECOCARE 2025: Acara Sosialisasi Konservasi Hutan Mangrove di Jawa Tengah

Semarang, (10/09) – BEM FEB bidang Somaliah memberikan wadah acara sosialisasi untuk peduli pada ekosistem pesisir, berlokasi di Selasar Gedung Prof Sudarto acara ini berhasil memberikan edukasi untuk mahasiswa umum menyadarkan akan pentingnya ekosistem pesisir agar tidak terancam lebih jauh serta memberikan gambaran umum pelestarian ekosistem. Tujuan utama acara ini adalah untuk menjadi pergerakan aksi di masyarakat luas melalui mahasiswa sebagai penggerak. 

Muhammad Qusyairy Abdulloh selaku Project Officer dari Social and Environmental Discussion X EcoCare memberikan beberapa pernyataan penjelas mengenai acara yang berlangsung, “SED membahas perkembangan pada masalah pesisir terutama tentang perairan, kenaikannya permukaan laut terus juga banjir terus kita juga membahas kenapa harus ada mangrove.” 

Pernyataan Abdulloh, konservasi alam dan rekonstruksi ekologi hutan mangrove, menjadi pokok utama pembahasan dalam acara. Sebagai bentuk edukasi yang nyata dipaparkan materi mengenai pentingnya hutan mangrove itu sendiri untuk kehidupan di pesisir serta implementasi langsung yang akan dijalankan di bulan september sebagai aksi nyata yang akan dijalankan sebagai salah satu hasil dari acara tersebut.

Dr. Mafut Munajat S. Hut,. M.IL. selaku bagian dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) menjelaskan bahwa acara yang dibawakan menjadi arah strategis yang memberikan kesadaran untuk mahasiswa. “Mahasiswa sebagai motor penggerak juga agent of change yang bisa memberikan harapan untuk menyadarkan dan mengedukasi masyarakat dengan keadaan pesisir di Indonesia,” ujar Mafut.

Output yang diharapkan dari acara tersebut adalah kesadaran dari mahasiswa bahkan hingga masyarakat luas supaya menjadi paham akan ilmu ekologi dan keadaan aktual pada ekosistem pesisir yang kian memprihatinkan. Abdulloh memberikan komentar bahwa ini merupakan langkah awal dalam menyadarkan masyarakat atas permasalahan yang ada di pesisir yang memerlukan pencegahan abrasi.

Adapun kebijakan yang akan diangkat oleh DLHK atas kebutuhan dari permasalahan yang ada di pesisir ini sebagai berikut:

  1. Mengembalikan ekosistem seperti sedia kala,
  2. Meminimalisir kerusakan kepada lingkungan,
  3. Mengedukasi masyarakat,
  4. Meningkatkan volume atau luas tutupan mangrove,
  5. Mencegah hal hal yang dapat merusak ekosistem.

Di satu sisi masyarakat sekitar masih perlu menyesuaikan skala prioritas yang diperlukan untuk keberlangsungan hidup antara aspek ekonomi dan aspek ekologi. Pernyataan ini dikutip pada wawancara eksklusif dengan Bapak Mafut, “perlu menyesuaikan antara aspek ekonomi dan ekologi jadi masyarakat itu apabila merasa diuntungkan dalam jangka pendek, bila kebutuhan jangka pendeknya terpenuhi maka masyarakat akan terlibat secara langsung.”

Upaya mitigasi yang dilakukan serta kebijakan yang perlu diperhatikan ini tidak semata hanya pada kondisi ekosistem pesisir namun juga kebutuhan ekonomi masyarakat yang perlu dipenuhi terlebih dahulu. Banyak success story dari desa – desa yang berhasil melaksanakan upaya penanaman mangrove di sekitar pesisir yang berada pada; Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Mangrove di Pasar Banggi Rembang, Pemalang di sekitar daerah Mojo, Brebes daerah Kaliwlingi, Kebumen di Muara Kali Ijo.

Tantangan utama yang dijalankan atas pelaksanaan acara SED x ECOCARE 2025 diantaranya masalah libur semester hingga masalah cuaca yang menyebabkan acara ini sedikit terhambat. “Sempat mengganti pembicara hingga mengganti tempat,” jelas Abdulloh, memberikan gambaran tentang kendala yang dihadapi selama persiapan dan pelaksanaan acara tersebut.

Acara ini menjadi titik awal kesadaran tentang pesisir lautan yang tadinya peserta kurang memahami mengenai permasalahan di pesisir, serta menyadari bahwa mangrove merupakan solusi efektif dalam mengatasi masalah-masalah laut. Acara ini sebenarnya menghadirkan dua pembicara yaitu bapak Mafut serta bapak Munhamir selaku warga terdampak yang akrab berinteraksi langsung dengan mangrove. 

Abdulloh berharap peserta dapat mengambil hikmah dan semakin memahami tentang pesisir serta pentingnya mangrove. Diskusi ini dirancang untuk memantik aksi nyata sebagai bentuk keberlanjutan dengan diadakannya penanaman mangrove pada tanggal 20 September 2025 di Mangunharjo bertempat di lahan milik bapak Munhamir. Kegiatan tersebut juga akan menjadi pembelajaran langsung mengenai cara menanam mangrove. 

Selain peserta dari FEB, hadir pula aktivis lingkungan dari berbagai fakultas lain, yang diajak untuk bersama-sama menuliskan harapan mereka sebagai simbol partisipasi dan komitmen terhadap pelestarian pesisir. Meski menghadapi kendala cuaca hujan selama pelaksanaan acara, antusiasme peserta tetap tinggi. Mereka terus aktif mengikuti sesi sosialisasi dan berdiskusi dengan semangat, menunjukkan komitmen kuat terhadap pelestarian ekosistem pesisir dan mangrove.

Dengan adanya sosialisasi dan aksi nyata ini, diharapkan kesadaran dan kepedulian terhadap ekosistem pesisir akan terus tumbuh dan membawa dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Reporter: Sabrina, Aldo

Launch Point: The Biggest Bazar at FEB Undip

Semarang (27/08) – Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip menggelar acara Launch Point yaitu acara bazar serta talk show kewirausahaan. Ratusan mahasiswa ikut memeriahkan acara ini. Program tersebut merupakan wujud aktualisasi dalam meningkatkan iklim wirausaha di lingkup FEB Undip. Launch Point mendapat sponsorship dari Astra Autoshop serta didukung oleh Ikatan Alumni FEB Undip (IKAFE) serta BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, panitia berkolaborasi dengan HIPMI PT dan HIPMI BPD dalam penyelenggaraan talk show. 

Rangkaian bazar dimulai pada 9.30 pagi di sepanjang jalan gedung kelas FEB. Mahasiswa FEB digratiskan dalam menyewa tenant, sedangkan UMKM dikenakan biaya sewa. Panitia menargetkan setengah peserta dari mahasiswa FEB dan sisanya berasal dari UMKM luar dengan target pengunjung mahasiswa FEB. Selaras dengan itu, Project officer dari Launch Point,  Farrel Azkiya, menyampaikan harapan agar program tersebut kedepannya dapat diselenggarakan kembali dengan biaya gratis bagi seluruh mahasiswa Undip. 

Panitia memberikan kebebasan yang luas kepada peserta tenant dalam berkreativitas menjalankan usahanya. Salah satunya adalah memberikan free sample kepada pembeli guna meningkatkan ketertarikan produk serta mendapatkan evaluasi mengenai produk yang mereka jual. 

Acara bazar ini mendapat respon yang baik dari berbagai kalangan. Salah satu mahasiswa yang menjual buket, Umi Salamah, merasakan manfaatnya. “Saya merasakan banyak sekali manfaatnya. Terutama untuk mempromosikan produk agar lebih dikenal, menambah teman baru dari stand bazaar lain, dan juga menambah pemasukan.” Begitu pula dengan Anida, dia mengungkapkan perasaan senang ketika mengalami keuntungan selama berjualan di bazar Launch Point. “Alhamdulillah, insya Allah ada keuntungan.”

Kemudian, Najwa Nazila, yang menjual aksesoris manik-manik yang dibuat melalui handicraft, menceritakan pengalaman yang tidak diperkirakan olehnya ketika mendapat peluang baru untuk mengembangakan usaha miliknya. “Manfaatnya, kemarin ada beberapa mahasiswa yang datang mewawancarai kami, sepertinya untuk tugas mata kuliah. Lalu, tadi pagi kami ditawari untuk ikut CBC atau Campus Business Circle. Sepertinya itu komunitas baru yang dibentuk Juni 2025, isinya seperti sesi berbagi antar pelaku usaha mahasiswa FEB.”

Pengunjung pun terlihat antusias. Salah satunya adalah Arin, yang terlihat antusias dalam menikmati keberjalanan acara. Terdapat banyak jajanan yang tersedia di sepanjang jalan dan menarik untuk dilihat, katanya. Tak hanya itu, pengunjung lainnya, seperti Alya menceritakan ketertarikannya saat melihat produk berbentuk unik yang belum ia temui sebelumnya, seperti scrunchy, jepit rambut, dan gelang. Mereka pun sepakat ingin agar program ini dapat diadakan kembali di kemudian hari.

Namun, menurut beberapa peserta tenant, program tersebut memiliki beberapa kendala. Kritik pertama berasal dari Anida yang menyampaikan harapan agar informasi terkait bazar dapat disebar lebih luas lagi. “Untuk evaluasi ke depannya, mungkin informasinya bisa disebar lebih luas lagi. Jujur, saya sendiri baru tahu ada bazar ini, H-beberapa hari sebelum acara. Jadi, informasinya belum menyebar secara luas.” Kemudian, terdapat pula kendala yang dialaminya terkait sarana prasarana. Ia menuturkan bahwa listrik sempat mati sehingga mengganggu proses memasak. “Penyelenggaraannya sudah cukup bagus. Hanya ada sedikit kritik, kemarin listriknya sempat beberapa kali mati. Ini jadi hambatan, karena kami pakai listrik untuk mengukus dimsum.”

Kritik selanjutnya datang dari Najwa Nazila, dia mengatakan terdapat koordinasi panitia yang kurang baik sehingga menimbulkan kendala saat loading barang dan juga tidak adanya penomoran tenda. “Mungkin terkait koordinasi panitia. Waktu saya loading barang hari Selasa pagi, tidak ada panitia di lokasi yang memberitahu kami nomor tenant-nya. Di tendanya juga tidak ada nomor, jadi kami sempat kebingungan. Mungkin kedepannya penomoran tenda bisa lebih jelas.”

Selain bazar, program talk show, yang dijelaskan juga oleh Project Officer Launch Point, diadakan pada 26-27 agustus 2025 yang bertempat di Hall Pertamina Gedung Dekanat. Rangkaian ini dijalankan untuk memotivasi mahasiswa agar mulai berbisnis. Topik yang dibicarakan adalah seputar ekonomi dengan mengupas berbagai masalah bisnis, solusi, serta tips untuk mengembangkan usaha kecil bersama para praktisi yang sudah lebih dahulu berpengalaman dalam dunia bisnis. Panitia mengundang dua pembicara, yang salah satunya adalah Tedi Agung Tirtayadi, Ketua Umum BPD HIPMI Jawa Tengah. 

Launch Point 2025 bukan sekadar program kewirausahaan biasa, terkandung niat baik di dalamnya serta terkandung peluang-peluang baru yang menunggu untuk dimanfaatkan. Sebuah tempat strategis untuk menciptakan wirausahawan baru di kampus kuning. 

Reporter: Royhan, Najwa

Penulis: Bima

Aliansi BEM Undip Menggugat : Tiga Tuntutan untuk Keadilan

Semarang, (30/08) – Aliansi BEM Undip melaksanakan aksi solidaritas dari civitas akademika Universitas Diponegoro yang bertajuk “Indonesia Sekarat: Bebaskan Kawan Kami, Wujudkan Reformasi Polri”. Aksi tersebut digelar di depan Mapolda Jawa Tengah pada Sabtu siang. Aksi ini merupakan bagian dari gelombang protes nasional menentang tindakan represif aparat sekaligus mendesak sejumlah tuntutan kepada pemerintah.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa Undip menyuarakan tiga tuntutan utama. Pertama, membebaskan kawan-kawan mahasiswa Undip yang masih di tangkap aparat dan dalam proses persidangan. Kedua, mendesak agar Kapolri yang saat ini menjabat untuk segera dicopot dari jabatannya. Ketiga, mengusut tuntas kematian almarhum Affan Kurniawan yang hingga kini belum mendapat kejelasan.

Farhan, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB), menyebut bahwa aksi hari ini sudah dipersiapkan sejak malam sebelumnya. “Demo ini lahir dari isu yang sangat aksidental, yaitu brutality aparat. Persiapan kami dimulai sejak tadi malam hingga pagi tadi,” ungkapannya. Farhan menegaskan bahwa aksi ini bukan akhir, melainkan awal dari rangkaian panjang perjuangan. “Kalau tuntutan rakyat tidak dipenuhi, besar kemungkinan akan ada aksi-aksi susulan. Karena sejauh ini pemerintah di bawah rezim Prabowo-Gibran belum menunjukkan langkah nyata yang memuaskan rakyat,” tambahnya.

Sementara itu, Tockary selaku Ketua BEM FEB menjelaskan alasan Undip baru bergabung dalam aksi hari ini tidak mengikuti universitas lain yang lebih dahulu melakukan aksi. Menurutnya, konsolidasi dan teklap menjadi kunci agar aksi tidak berujung pada anarkisme. “Kami tidak mau turun aksi tanpa persiapan, itu bunuh diri. Konsolidasi kami tekan-kan agar demo ini berjalan damai. Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Undip punya etika dalam menyampaikan aspirasi, bukan sekedar turun dan membuat kerusuhan,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa Undip tidak menutup kemungkinan untuk menggelar aksi lanjutan di titik lain, seperti DPRD Jawa Tengah, tergantung hasil konsolidasi berikutnya.

Jeju, seorang mahasiswa FIB, menegaskan bahwa perjuangan mahasiswa tidak bisa berhenti pada satu momentum saja. “Aksi tidak bisa hanya sekali jalan lalu selesai. Kita harus sustain, terus berembuk, terus berkonsolidasi. Jika tuntutan tidak dipenuhi, kita akan lakukan aksi jilid dua,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa tuntutan kali ini bukan sesuatu yang muluk, “saya tidak bicara soal hal-hal utopis seperti copot kapolri dan lain sebagainya. Harapan saya sederhana, pemerintah mau memperhatikan rakyatnya, membebaskan kawan kami, menindak tegas aparat, dan mengusut kasus Affan,” katanya.

Meski aksi berlangsung damai, beberapa beberapa pihak sempat mempertanyakan keefektifannya. Farhan menegaskan bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. “Hari ini mungkin hanya dua ribu massa, besok bisa lima ribu atau lebih. Yang penting kita membangun tradisi berani mengkritik penguasa. Karena saya yakin, Ibu Indonesia hari ini sedang mengandung janin revolusi,” tegasnya.

Aksi damai mahasiswa Undip kali ini menegaskan bahwa gerakan mahasiswa tidak selalu identik dengan kericuhan. Dengan strategi, konsolidasi, dan etika mereka tetap mampu menyampaikan aspirasi dengan cara yang bermartabat. Aksi kemudian rampung pada pukul 14.30 WIB dengan massa membubarkan diri secara tertib. Kini, publik menanti apakah tuntutan mahasiswa akan benar-benar direspons pemerintah atau justru kembali diabaikan hingga melahirkan gelombang aksi yang lebih besar.

Reporter: Sabrina, Laila, Haqi, Aldo

Penulis: Sabrina