Belajar Berani dan Bersahabat Lewat ORION FEB Undip

Semarang (22/08) – Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) kembali menyambut mahasiswa baru melalui rangkaian orientasi bertajuk ORION—singkatan dari Orientasi Integritas Diponegoro Muda. Program ini tidak hanya menjadi sarana pengenalan kampus, tetapi juga dirancang untuk membangun kepercayaan diri sekaligus menjalin relasi lintas program studi.

Rangkaian ORION terdiri dari beberapa tahap, mulai dari PPKMB, Pendikar, hingga acara puncak Euphorion. Setiap sesi di dalamnya dirancang untuk menanamkan nilai-nilai penting seperti kejujuran, keberanian, dan kepedulian, sambil menciptakan suasana hangat dan interaktif agar mahasiswa baru merasa nyaman beradaptasi.

Bagi sebagian peserta, ORION memberikan pengalaman yang berbeda dari bayangan awal mereka. Rebika Dwi Sahrani, mahasiswa baru Prodi Ekonomi, mengaku semula mengira kegiatan ini akan mirip orientasi fakultas pada umumnya. “Awalnya kupikir ini kayak OSFAK, tapi ternyata namanya ORION. Dari pagi sampai sekarang rasanya seru banget,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Paulus Beryl Priyantoro dari Prodi Manajemen. Ia mengira kegiatan ini akan terasa kaku dan penuh aturan. “Awalnya dengar cerita dari orang tua dan kakak, katanya disiplin banget. Ternyata seru dan banyak interaksi,” tuturnya sambil tersenyum.

Salah satu momen yang paling berkesan bagi para peserta adalah sesi Pendikar. Rebika menilai sesi ini memberikan pengalaman berbeda karena bisa berinteraksi lebih luas. “Waktu Pendikar seru karena bisa ketemu teman-teman dari prodi lain dan main game bareng. Walau agak pegal karena lama di kelas, tapi nggak apa-apa, yang penting nggak kepanasan,” ceritanya.

Bagi Yanfira Aulia Andhini dari Prodi Ekonomi, Pendikar justru menjadi titik awal untuk melatih kepercayaan diri. “Waktu Pendikar sering ada games untuk presentasi di depan orang yang belum kita kenal. Dari situ aku jadi lebih berani,” ungkapnya.

Tak hanya mereka, Benedict Yosua Mikael Bharoto S. dari Prodi Akuntansi juga merasakan perubahan besar. Sebagai pribadi yang mengaku sulit bergaul, ia justru berhasil menemukan banyak teman baru. “Aku orangnya susah bergaul, tapi dari Pendikar ini sudah punya banyak teman baru,” ujarnya.

Selain memberikan pengalaman yang menyenangkan, ORION juga mengajarkan nilai-nilai penting yang dibutuhkan selama perkuliahan. Benedict menuturkan bahwa nilai kejujuran sangat ditekankan sejak awal. “Sebelum acara mulai, selalu ada pengecekan atribut. Jadi kita belajar disiplin dan jujur,” jelasnya. Paulus pun menambahkan, “Nilai kepedulian juga terasa, terutama saat berinteraksi dengan teman-teman baru di Pendikar.”

Tak hanya memperkenalkan lingkungan kampus, ORION juga menjadi wadah orasi bagi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Rebika dan Andhini mengaku tertarik dengan KSPM (Kelompok Studi Pasar Modal) karena relevan dengan bidang studinya. Paulus memilih UKM yang sama karena minatnya pada investasi, sedangkan Benedict mempertimbangkan BAK (Badan Audit Kemahasiswaan) karena sesuai dengan ketertarikannya di bidang audit.

Setelah melewati rangkaian ORION, mereka merasa lebih siap untuk memulai perkuliahan. Rebika optimistis karena sudah mengenal lingkungan dan memiliki banyak teman. Andhini berharap dapat memperluas relasi, sementara Benedict ingin lebih aktif dan percaya diri dalam berorganisasi. Paulus sendiri bertekad meraih IPK tinggi sambil memperluas jaringan pertemanan.

Meski puas dengan penyelenggaraan ORION, mereka juga menyampaikan masukan. Rebika dan Andhini berharap informasi terkait jadwal dapat diberikan lebih awal agar peserta bisa mempersiapkan diri dengan baik. Paulus menilai sesi Pendikar patut dipertahankan karena menjadi bagian paling menyenangkan, sementara Benedict menganggap keseluruhan rangkaian sudah berjalan baik.

Secara keseluruhan, ORION FEB 2025 bukan sekadar orientasi biasa, melainkan langkah awal untuk menumbuhkan keberanian, memperluas pertemanan, dan membangun rasa percaya diri. Lebih dari sekadar pengenalan kampus, ORION menjadi fondasi yang menguatkan mahasiswa baru untuk menapaki dunia perkuliahan dengan keyakinan.

Reporter: Najwa, Seiya

ORION: Dari Nama Hingga Makna, Cerita Baru Orientasi FEB Undip

Semarang (21/08) – Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) menghadirkan wajah baru dalam kegiatan orientasi mahasiswa. Kegiatan yang sebelumnya dikenal sebagai ODM (Orientasi Diponegoro Muda) kini resmi berganti nama menjadi ORION, singkatan dari Orientasi Integritas Diponegoro Muda. Pergantian ini bukan sekadar rebranding, melainkan juga bentuk penyesuaian terhadap ketentuan universitas terkait nomenklatur kaderisasi, yang tidak lagi menggunakan istilah ODM fakultas sehingga kegiatan ini terintegrasi dengan rangkaian PPKMB, Pendikar, dan puncaknya yang disebut Euphorion.

Alzeno Gandi Karsya, Ketua Pelaksana ORION FEB Undip 2025, menjelaskan bahwa pemilihan nama baru ini melalui proses panjang yang melibatkan aspirasi mahasiswa, ketua himpunan, BEM, hingga senat. “Awalnya ada sekitar 12 opsi nama. Setelah melalui diskusi dan polling, akhirnya pilihan mengerucut menjadi ORION. Kami berharap nama ini tidak hanya menjadi identitas baru, tetapi juga membawa semangat positif bagi mahasiswa baru,” ujarnya.

Makna di balik ORION pun tak kalah penting. Secara harfiah, Orion adalah rasi bintang yang melambangkan harapan untuk bersinar di tengah kegelapan. Filosofi ini sejalan dengan tujuan orientasi, yaitu membimbing mahasiswa agar berkembang dan siap menapaki perjalanan akademik. Selain itu, ORION menekankan nilai integritas, sesuai prinsip Pendikar: Jujur, Berani, Adil, dan Peduli. Filosofi FINE (Future-Oriented, Insightful, Growth, Humanity, Tenacity) diterapkan untuk menumbuhkan sikap visioner, adaptif, dan memiliki daya juang tinggi.

ORION 2025 juga menghadirkan berbagai inovasi yang relevan dengan generasi digital. Program Halo Ormawa memperkenalkan organisasi mahasiswa di FEB, Journey of Economics menyuguhkan tur virtual interaktif ke gedung-gedung dan area penting kampus, sementara Get Ready with Grizzy mengenalkan sistem SSO serta jajaran dekanat. Dengan tema Future, Oriented, Insightful, and Entrepreneur, rangkaian kegiatan ini mendorong mahasiswa berpikir kritis, kreatif, dan berjiwa kewirausahaan.

Sosialisasi perubahan nama dilakukan secara bertahap melalui media sosial dan polling. Respon terhadap perubahan ini sangat positif, terbukti dari dukungan penuh yang diberikan oleh dekanat dan panitia, memastikan ORION tidak sekadar menjadi kegiatan orientasi, tetapi pengalaman yang bermakna dan membentuk karakter mahasiswa.

Sejalan dengan dukungan tersebut, Alzeno menyampaikan pesan dan harapannya yang merangkum makna ORION. Ia berharap seluruh mahasiswa, khususnya dari FEB, dapat memahami filosofi ORION dan membedakannya dari ODM sebelumnya. Ia juga ingin mahasiswa baru memetik pesan dan kesan dari rangkaian kegiatan PPKMB, Pendikar, hingga Euphorion, karena setiap program membawa nilai-nilai penting yang diharapkan terus mereka bawa hingga lulus. Menurutnya, pengalaman ini bukan sekadar kenangan, tetapi juga menjadi bekal karakter dan integritas dalam perjalanan akademik mereka.

Dengan semua inovasi, filosofi, dan makna yang terkandung di dalamnya, ORION menegaskan identitas baru FEB Undip. Nama ini bukan sekadar label, melainkan simbol perjalanan mahasiswa untuk bersinar, menumbuhkan integritas, dan menorehkan pengalaman orientasi yang berkesan.

Reporter: Najwa, Sabrina

PMB UNDIP 2025: Perjuangan Maba, Antusiasme Acara, dan Kerja Keras Panitia

Semarang – Universitas Diponegoro (UNDIP) resmi menggelar Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2025 pada Rabu (13/8). Acara ini dihadiri ribuan mahasiswa baru Program Sarjana dan Sarjana Terapan dari berbagai fakultas. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 13–15 Agustus 2025 di Lantai 2 Gedung Muladi Dome, pukul 07.30 hingga 11.30 WIB. Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan UNDIP untuk menyambut mahasiswa baru sekaligus memperkenalkan lingkungan kampus. Tahun ini, tema yang diusung adalah “UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat, UNDIP Jaya!”. 

Bagi mahasiswa baru, menjadi mahasiswa resmi UNDIP adalah pencapaian yang membanggakan. Mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Program Studi Gizi mengaku begitu gembira hingga tak bisa tidur semalaman. “Seneng, seru banget, excited! Berangkat jam 5 pagi demi bisa foto sama rektor,” ujar Nadiatul Izzah. Ia membagikan perjuangannya setelah selama tiga tahun mengikuti les di berbagai tempat dan memaksimalkan nilai raport hingga berbuah manis diterima UNDIP jalur SNBP.

Sementara dari FEB, mahasiswa jurusan Manajemen juga membagikan kisahnya. Farrel mengaku sempat struggle karena lintas jurusan dan baru dapat mengkonfirmasi pilihannya mendekati PMB, di sisi lain Fiki mengaku datang sendirian tanpa kenalan sebelumnya namun langsung merasa kompak dengan teman-teman barunya. Jalur masuk penerimaan maba juga sangat beragam, ada yang lewat jalur SNBP, SNBT, ujian mandiri yang semuanya diperjuangkan demi menjadi bagian dari Universitas Diponegoro. “Saya ingin membuktikan kalau saya bisa masuk kampus TOP 10 seperti UNDIP,” ujar Usli.

Mahasiswa baru juga kompak memuji jalannya acara penerimaan mahasiswa baru (PMB). Mulai dari rektor yang ramah, Paduan Suara Mahasiswa (PSM) dan orkestra yang memukau, hingga suasana PMB yang meriah namun hangat. Ada pula yang merasa bangga karena dapat menempuh pendidikan di universitas yang menempati peringkat pertama lulusan paling banyak diterima kerja di Indonesia.

Di balik suksesnya PMB, terdapat peran besar panitia yang sebagian besar berasal dari UKM Racana Diponegoro, Resimen Mahasiswa (Menwa), dan KSR PMI. Proses terpilih menjadi panitia melalui penugasan langsung dari pihak protokol dan rektorat. Persiapan dimulai sejak seminggu sebelumnya dengan rapat bersama unsur akademik dan gladi bersih pagi hari sebelum acara. 

Tantangan terbesar bagi panitia adalah mengatur ribuan mahasiswa baru yang sangat antusias. Meski melelahkan, momen ini justru memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi mereka. Meski melelahkan, momen ini justru memberikan pengalaman yang sangat berharga karena dapat lebih dekat dengan para pihak rektorat dan akademik. “Harapannya, PMB tahun depan persiapannya lebih baik lagi dan panitianya lebih banyak,” ungkap Andika salah satu panitia PMB.

Setelah resmi menjadi mahasiswa UNDIP, banyak mahasiswa baru yang sudah merancang target selama kuliah, mulai dari fokus pada akademik, mengikuti organisasi, magang hingga mengikuti beasiswa dan program student exchange. Beberapa juga berharap agar dapat lulus tepat waktu.  

PMB UNDIP 2025 bukanlah hanya upacara penerimaan mahasiswa baru saja, namun juga merupakan titik awal perjalanan akademik yang akan membentuk generasi unggul untuk masa depan yang cerah. 

Reporter: Sabrina, Najwa, Hanin

Penulis: Hanin, Sabrina

Menakar Makna Kerja: Refleksi Gen Z dalam Dunia Entrepreneur

Semarang (25/07) – Di tengah arus perubahan yang semakin cepat, generasi Z hadir dengan cara pandang baru terhadap dunia kerja. Mereka tak lagi terpaku pada gambaran karier ideal versi generasi sebelumnya, seperti berkantor dari pagi hingga sore, meniti tangga jabatan, lalu pensiun nyaman di usia senja. Bagi Gen Z, bekerja bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga sebagai sarana untuk meraih kemandirian, memberi dampak nyata, dan menjalani hidup sesuai nilai-nilai yang mereka yakini. 

Pilihan menjadi entrepreneur bukan semata bentuk ambisi, melainkan cerminan dari pencarian makna dalam bekerja. Kebebasan dalam mengatur waktu, mengekspresikan nilai pribadi, serta menciptakan sesuatu yang berdampak, menjadi motivasi utama di balik keputusan tersebut. Banyak dari mereka memilih merintis usaha sendiri sebagai bentuk upaya membangun jalur karier yang selaras dengan visi hidup dan pengendalian arah masa depan, dengan keberanian mengambil risiko sebagai bagian dari proses bertumbuh.

Pandangan inilah yang dipegang oleh Hie, Jason Henryan Wijaya, pemuda kelahiran 2001 yang mendirikan PT FUU NOO CHIEN, sebuah perusahaan pengelolaan limbah kardus yang berlokasi di Semarang, Jawa Tengah. Usaha ini berangkat dari kepekaan terhadap peluang di sekitarnya, sekaligus dorongan kuat untuk menghadirkan kontribusi nyata lewat solusi berkelanjutan. Inspirasi itu muncul dari obrolan ringan bersama sang kakak usai menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), ketika Jason mengetahui bahwa pabrik milik keluarganya menyisakan banyak limbah kardus yang belum termanfaatkan secara optimal.

Melihat potensi dari sesuatu yang sering dianggap remeh, ia tertarik menjadikannya peluang usaha. Bermodalkan tabungan dari pekerjaan paruh waktu dan usaha angkringan semasa kuliah, ia menyewa gudang, meminjam mesin dan forklif, hingga mulai menjembatani distribusi limbah kardus dari pabrik ke para pembeli. Meskipun limbah tersebut berasal dari usaha keluarganya sendiri, Jason tetap bersikap profesional. Ia membeli kardus-kardus itu dengan mengikuti harga pasar. “Saya ingin sejak awal membangun bisnis dengan prinsip profesional. Walaupun dari keluarga sendiri, tetap saya perlakukan sebagai mitra. Saya biasakan semuanya dihitung dan dibayar. Itu penting untuk menumbuhkan budaya menghargai kerja dan memperhitungkan untung-rugi sejak awal,” ujarnya.

Prinsip tersebut mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh banyak Gen Z: transparansi, integritas, dan tanggung jawab. Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Jason pernah mengalami kerugian besar setelah membeli limbah dalam jumlah banyak tepat sebelum harga pasar anjlok. Dari kejadian itu, ia belajar pentingnya membaca tren pasar dan menerapkan manajemen risiko yang matang. “Nggak cukup semangat saja. Harus bisa hitung peluang dan siap dengan kemungkinan terburuk,” ungkapnya.

Sebagai generasi yang tumbuh di era digital, Gen Z memanfaatkan teknologi sebagai alat utama dalam mengembangkan usaha. Jason pun menggunakan media sosial untuk menjaring pembeli, membangun branding, serta memperluas jaringan mitra. Strategi ini membuat bisnisnya dikenal tanpa harus banyak promosi konvensional. “Berkat media sosial, kita nggak perlu repot-repot cari penjual atau pembeli. Mereka sendiri yang datang karena tahu keberadaan kita. Dengan kata lain, justru kita yang dicari,” jelasnya. Pemanfaatan teknologi digital menjadi strategi cerdas yang menguatkan posisi bisnisnya, terutama di tengah perkembangan pasar yang serba cepat dan kompetitif.

Meski teknologi membuka banyak pintu, Jason mengakui bahwa tantangan lain tetap ada, terutama soal konsistensi dan kedisiplinan. Ia menyadari menjaga fokus dan keteraturan dalam operasional bukan hal yang mudah, terlebih ketika semangat awal mulai memudar. Ia terus belajar menertibkan pencatatan dan manajemen operasional. Refleksi ini mencerminkan dinamika mentalitas Gen Z dalam berwirausaha, yaitu berani melangkah namun sadar bahwa proses pendewasaan tetap diperlukan.

Tak hanya fokus pada strategi usaha, Jason juga menanamkan prinsip integritas dan keterbukaan dalam setiap langkah bisnisnya. Ia percaya bahwa membangun kepercayaan adalah fondasi penting, terutama bagi pengusaha muda yang ingin bertahan dan berkembang. “Komunikasi harus dilakukan secara transparan, dan yang tak kalah penting adalah menjaga konsistensi terhadap apa yang saya katakan atau janjikan kepada mitra. Dari situlah integritas dan kompetensi kita akan terlihat,” ujarnya.

Lebih dari sekadar bisnis, Jason menyematkan visi sosial dalam perusahaannya. Ia ingin mengubah persepsi masyarakat terhadap limbah, bukan sebagai sampah yang tak berguna, tetapi sebagai sumber daya ekonomi yang dapat dikelola secara berkelanjutan. Menurutnya, material seperti kardus, plastik, hingga besi, jika diolah dengan benar akan memiliki nilai tambah yang besar. “Selama manusia terus konsumsi, limbah nggak akan habis. Dan itu berarti, peluang akan selalu ada,” tegasnya.

Melalui PT FUU NOO CHIEN, ia berharap dapat berkontribusi menciptakan sistem daur ulang yang lebih terarah dan berdampak nyata bagi lingkungan dan perekonomian Indonesia. Kini, seiring meningkatnya volume limbah yang ditangani, Jason tengah menyusun rencana ekspansi. Ia ingin memperluas kapasitas gudang, memperkuat sistem penyimpanan, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperluas jangkauan distribusi. Bagi Jason, pertumbuhan usaha bukan semata soal profit, tetapi juga perluasan dampak dan tanggung jawab sosial.

Kepada sesama Gen Z yang ingin memulai usaha, Jason berpesan untuk tidak menunggu segalanya sempurna. Ia menyarankan membiasakan diri menabung sejak dini, menyisihkan 30 hingga 50 persen penghasilan sebagai modal awal. “Kalau tabungan dan niat sudah ada, biasanya ide ikut datang. Jangan nunggu semuanya lengkap baru mulai,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya lingkungan sosial yang suportif. Teman-teman yang jujur dan mendukung pertumbuhan pribadi sangat berpengaruh dalam perjalanan seorang entrepreneur muda. “Lingkungan itu berpengaruh besar. Teman yang bisa saling bantu dan jaga semangat itu penting banget,” tambahnya.

Bagi Jason, sukses bukan tentang gelar, jumlah kekayaan, atau jabatan tinggi. Ia percaya bahwa setiap orang berhak merumuskan arti sukses versi mereka sendiri. “Buat saya, sukses itu saat kita bisa berdampak. Bisa bantu orang, buka lapangan kerja, tetap jadi diri sendiri, dan selalu beruntung. Standar sukses itu seharusnya kita yang tentukan, bukan orang lain,” pungkasnya.Kisah Jason hanyalah salah satu dari banyak wajah Gen Z yang memilih jalur berbeda dalam membangun masa depan. Di era serba digital dan kompetitif, generasi ini hadir bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pencipta solusi. Dengan keberanian merintis, semangat memberi dampak, dan keyakinan terhadap nilai yang mereka perjuangkan, Gen Z menunjukkan bahwa menjadi entrepreneur bukan lagi sekadar alternatif karier, tetapi jalan hidup yang mencerminkan kemandirian dan tekad menciptakan perubahan.

Reporter: Najwatun Umma

Napak Tilas Sejarah Srumbung Gunung: Bukti Nyata Kontribusi pada Desa

Kabupaten Semarang (29/06) – Sekelompok mahasiswa Universitas Diponegoro penerima Beasiswa Bakti BCA, Kelompok Nakula, menggelar acara Jalan Sehat dan Bazar UMKM Napak Tilas Sejarah Srumbung Gunung pada Minggu, 29 Juni 2025 di Desa Wisata Kreatif Perdamaian (DWKP) Srumbung Gunung, Dusun Poncoruso, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Acara yang diadakan di lereng Gunung Ungaran ini berpusat di Angkringan Joglo Mbah Ridhu dan diramaikan oleh masyarakat setempat baik dari Srumbung Gunung maupun sekitarnya.

Jalan Sehat dan Bazar UMKM

Acara Jalan Sehat dan Bazar UMKM dimulai dengan registrasi peserta jalan sehat pada pukul 06.30 WIB. Warga setempat yang sudah melakukan registrasi mendapatkan kupon yang nantinya akan diundi untuk mendapatkan doorprize yang sudah disiapkan oleh panitia. Setelah registrasi, pembukaan acara dilaksanakan pada pukul 07.30 WIB dan dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Desa Poncoruso, Bapak Haryoko, dan Ketua Pelaksana, Arya Harris Prasetyo.

Sebagai pemanasan panitia menyiapkan senam sebelum melakukan jalan sehat. Rute jalan sehat kali ini melewati beberapa situs sejarah yang ada di Srumbung Gunung diantaranya adalah Makam Mbah Ridhu, Makam Mbah Pathok, dan Sendang Tirta Sari. Di beberapa titik jalan sehat panitia menyiapkan 3 pos, pos pertama adalah pembagian air minum untuk peserta, di pos kedua terdapat penyobekan kupon, dan pos ketiga adalah pembagian snack dan air minum.

Setelah jalan sehat peserta dapat menikmati makanan dari para pelaku UMKM yang sudah siap berjualan di sekitar Angkringan Joglo Mbah Ridhu. Terdapat berbagai macam makanan yang tersedia seperti lotek, dimsum, dawet, tahu campur, es potong, dan lain sebagainya. Peserta kemudian dikumpulkan kembali di area Angkringan Joglo Mbah Ridhu untuk sesi pembagian doorprize dan karaoke. Terdapat 3 doorprize utama yang sudah disiapkan panitia. Setelahnya acara pagi itu ditutup dengan sesi dokumentasi.

Kontribusi Nyata Pembangunan Desa

Acara yang diadakan oleh Kelompok Nakula ini merupakan bagian dari tugas mereka sebagai Bakti Champions, penerima Beasiswa Bakti BCA, yaitu Community Empowerment. Community Empowerment ini adalah bentuk nyata implementasi dari tagline #BuktiBaktiku, “acara ini merupakan salah satu bukti kami dalam berkontribusi langsung pada masyarakat dengan memberdayakan potensi dan meningkatkan perekonomian mereka,” ujar Arya, Ketua Pelaksana sekaligus Ketua Kelompok Nakula. 

“Acara Jalan Sehat dan Bazar UMKM hari ini merupakan acara puncak dari Community Empowerment kami. Dengan rute jalan yang melewati situs-situs sejarah kami harap peserta dapat lebih mengenal budaya dan tradisi DWKP Srumbung Gunung sehingga kedepannya desa wisata ini dapat lebih dikenal khalayak ramai. Selain itu dengan adanya bazar UMKM diharapkan dapat meningkatkan perekonomian warga,” lanjut Arya. 

Sebelum acara puncak Napak Tilas ini Kelompok Nakula sudah melakukan beberapa pelatihan sebagai bentuk kontribusi langsung pada masyarakat Srumbung Gunung, “pelatihan yang sudah kami lakukan diantaranya ada pelatihan mengenai manajemen keuangan, promosi digital, desain kemasan dan feeds, juga optimalisasi e-commerce. Kami juga bersedia dan siap mendampingi UMKM di sini dalam pembuatan QRIS dan membuka toko online,” ungkap Arya.

Tanggapan Perangkat Desa dan Pokdarwis

Kepala Desa Poncoruso, Bapak Haryoko, menyatakan bahwa kegiatan Napak Tilas Sejarah ini tepat sasaran, “dari segi ekonomi, dengan diadakannya acara seperti ini, dapat menambah penghasilan para pelaku UMKM. Di samping itu, acara ini juga dapat menjadi hiburan bagi para warga dan dapat dengan kompak mengikuti jalan sehat,” ujar beliau. Bapak Haryoko menambahkan bahwa beliau berharap kegiatan seperti ini dapat  diadakan lagi dan Kelompok Nakula dapat ikut mengawal serta mempromosikan tempat wisata yang ada di Srumbung Gunung ini.

Di sisi lain, Bapak Eko Widodo, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) DWKP Srumbung Gunung, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Kelompok Nakula yang sudah mengadakan acara ini sehingga dapat membantu UMKM warga juga meningkatkan semangat warga. “Hari ini sangat meriah sekali dan warga juga sangat happy, terima kasih untuk tim Nakula yang sudah merancang event yang sangat berdampak untuk warga,” ujar beliau.

Manfaat yang Dirasakan Masyarakat

Acara puncak Community Empowerment ini juga disambut baik oleh warga. Ibu Siti Mukaromah, salah seorang warga Srumbung Gunung, mengungkapkan bahwa ia sangat bersemangat untuk berpartisipasi dalam kegiatan Napak Tilas Sejarah ini, “saya sangat bersemangat dan senang untuk berpartisipasi dalam acara ini, sangat seru dan bermanfaat, bisa jadi tambah sehat dengan kegiatan jalan sehat,” ujar beliau. Ibu Suniati, salah satu warga Srumbung Gunung, membenarkan pernyataan Ibu Siti, “sangat menyenangkan, anak-anak jadi senang, dan merasa lebih fresh juga dapat menghilangkan stress,” tambah beliau.

Ibu Siti dan Ibu Suniati setuju bahwa dengan diadakannya acara seperti ini dapat membantu perekonomian di Desa Srumbung Gunung karena dapat meramaikan UMKM di desa mereka. Selain itu, melalui acara ini pula keduanya merasa nama DWKP Srumbung Gunung dapat lebih dikenal serta dapat memajukan perekonomian desa. Keduanya berharap bahwa acara ini dapat dirutinkan sehingga desa mereka dapat lebih maju lagi.

Reporter: Cantika

INSANI Youth Talk 2: Menimbang Ulang Makna ‘Solusi’

Semarang (14/06) – Pada Sabtu, 14 Juni 2025, Lembaga Dakwah Kampus INSANI Universitas Diponegoro  (LDK INSANI UNDIP) menggelar INSANI Youth Talk (IYT) 2 di Pendopo Student Center UNDIP dengan mengangkat tema “Two-State Solution of Israel and Palestine: Mungkinkah Mencapai Perdamaian Abadi?”. Forum ini menjadi respon mahasiswa terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mendukung two-state solution sebagai bentuk penyelesaian konflik antara Israel dan Palestina. Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu ini, INSANI menghadirkan ruang dialog terbuka yang membedah persoalan tersebut dari berbagai sisi, baik politik, sejarah, maupun kemanusiaan. Royhan, mahasiswa prodi Bisnis Digital, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) yang juga menjadi ketua pelaksana, menekankan bahwa forum ini bertujuan memperluas wawasan dan melatih daya kritis mahasiswa. “Pernyataan Presiden Prabowo menimbulkan polemik, dan kami merasa penting untuk mengulasnya bersama,” ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa two-state solution bukanlah hal baru, melainkan isu lama yang perlu dilihat kembali konteksnya hari ini. Meski tidak ideal, menurutnya, pendekatan ini bisa menjadi alternatif diplomatik yang strategis bagi Palestina.

Dalam sesi debat utama, forum mempertemukan dua pembicara dari sisi yang berseberangan. Raihan Akbar Samudra selaku Koordinator Isu dari LDK Semarang Raya 2024 sebagai pihak kontra, menjadi yang pertama menyampaikan argumennya. Dengan nada tegas, ia menyatakan bahwa two-state solution hanya akan memperkuat ketimpangan yang sudah berlangsung lama. “Two-state solution  itu hanya ilusi damai,” tegasnya, “yang ada, kita sedang menyetujui penjajahan yang dibungkus kompromi.” Menurutnya, sejarah telah menunjukkan bahwa Israel kerap mengingkari perjanjian dan terus memperluas wilayahnya dengan cara yang licik. Ia juga mengkritik umat Islam saat ini yang terlalu terpaku pada romantisme kejayaan masa lalu tanpa membangun kekuatan konkret untuk menghadapi realitas yang ada. “Kita harus berani menyebut ketidakadilan sebagai ketidakadilan. Bukan memolesnya dengan nama ‘solusi’.”

Menanggapi pandangan tersebut, Muhammad Wildan Hanif selaku Wakil Mas’ul INSANI 2024 sebagai pihak pro menyampaikan bahwa meskipun two-state solution bukanlah penyelesaian akhir yang sempurna, pendekatan ini bisa menjadi langkah awal yang strategis. Menurutnya, dengan status negara tetap, Palestina bisa memperoleh berbagai dukungan internasional, termasuk bantuan dari PBB dan kekuatan diplomasi yang lebih kuat. “Kalau Palestina punya pengakuan formal, mereka bisa mendapat pasukan perdamaian dan hak negosiasi yang sah,” ujarnya. Ia menekankan bahwa sikap keras tanpa celah justru bisa membuat Palestina kehilangan peluang-peluang penting. “Jangan tolak mentah-mentah. Ini bisa jadi ruang strategis, meski belum ideal,” tambahnya.

Diskusi semakin memanas ketika forum dibuka untuk audiens. Royhan kembali menyampaikan pandangannya sebagai peserta, menekankan bahwa Indonesia memang tidak memiliki daya tawar yang besar secara global, namun tetap bisa memainkan peran diplomatiknya. “Kalau two-state solution bisa jadi pintu awal untuk menyuarakan Palestina di panggung internasional, kenapa tidak kita manfaatkan?” katanya. Namun pandangan ini segera mendapat sanggahan tajam dari Fahri, peserta forum yang mengingatkan pentingnya ketegasan posisi Indonesia seperti di era Presiden Soekarno. “ Presiden Soekarno dulu menolak mentah-mentah Israel ikut ajang internasional,” ujarnya, “Indonesia bahkan tak mengakui Israel sebagai negara. Kalau sekarang kita lunak, lalu untuk apa sejarah perjuangan itu?”

Sikap kontra terhadap solusi dua negara juga muncul dari Fahad, mahasiswa prodi Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) yang diwawancarai oleh LPM Edents usai forum. Ia menyatakan bahwa sejak awal tidak setuju dengan solusi tersebut karena melihat rekam jejak Israel yang kerap mengingkari perjanjian. “Bagi saya ini bukan solusi realistis. Bahkan kalau dunia mendukung Palestina, Israel tetap tidak akan tunduk,” ujarnya. Ia menilai bahwa solusi dua negara hanya menawarkan kompromi diplomatik, bukan keadilan yang seharusnya menjadi dasar penyelesaian. “Ini bukan cuma soal politik, tapi soal moral. Kita tidak boleh kompromi pada prinsip,” tegasnya. Fahad juga menambahkan bahwa konflik ini bukan sekadar isu agama, tetapi persoalan kemanusiaan yang seharusnya menggerakkan semua pihak, bukan hanya umat Islam.

Meski forum berjalan dinamis dan penuh argumentasi, panitia mengakui bahwa jumlah peserta yang hadir belum sesuai target. Dari 50 undangan yang disebar ke berbagai UKM dan BEM, hanya sekitar 20 mahasiswa yang hadir. Royhan menyampaikan bahwa keterbatasan tersebut disebabkan oleh waktu persiapan yang sangat singkat, hanya lima hari, dan publikasi yang baru dilakukan sehari sebelum acara. “Ini jadi pelajaran penting buat kami,” ungkapnya, “tapi saya sangat mengapresiasi teman-teman yang menyempatkan hadir dari jam delapan pagi saat hari Sabtu. Saya menilai itu merupakan bentuk perjuangan mereka untuk Palestina.”

Kedepannya INSANI berkomitmen untuk menjalin kerja sama yang lebih luas dengan organisasi mahasiswa lain agar IYT bisa menjangkau audiens yang lebih beragam. Royhan menyadari masih adanya stigma bahwa INSANI bersifat eksklusif karena membawa identitas keislaman. “Kami ingin INSANI dilihat sebagai ruang yang terbuka,” jelasnya, “isu Palestina bukan hanya milik umat Islam, ini isu kemanusiaan yang seharusnya jadi perhatian semua orang.”

INSANI Youth Talk tahun ini menjadi bukti bahwa mahasiswa masih memiliki kepedulian terhadap isu-isu global yang kompleks. Forum ini tidak hanya menyajikan debat dua arah, tetapi juga membangkitkan kesadaran bahwa keberpihakan terhadap Palestina bukan semata persoalan politik, melainkan soal keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan yang harus terus diperjuangkan. Dalam kondisi di mana opini publik kerap dibentuk oleh narasi dominan media internasional, ruang seperti IYT menjadi penting untuk mempertahankan nalar kritis dan suara nurani mahasiswa.

Reporter: Najwa, Sabrina, Annisa Zahi

Penulis: Najwa

KSPM Reshuffle, Ketua Mengundurkan Diri Karena Masalah Pribadi? 

(18/05) Press Release Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM), pada tanggal 26 April 2025 telah dilaksanakan musyawarah besar dan menyatakan bahwa pengurus inti dari organisasi KSPM melakukan reshuffle dikarenakan ada alasan tersendiri untuk president director terpilih sebelumnya Angga Rizky Setiawan mengundurkan diri beserta Wakil Organisasi KSPM Ghina Aurellia yang diberhentikan dengan terhormat.

President Director KSPM digantikan oleh Ariq Widitama Fachrudy, kemudian Angga menjadi Vice President of Organization menggantikan Ghina. 

Alasan utama bahwa Angga mengundurkan diri dikarenakan masalah kesehatan sehingga ia tidak sanggup untuk melanjutkan tanggung jawabnya sebagai President Director. Sedangkan Ghina sendiri memang terdapat pembahasan yang privasi dari KSPM. 

Ibnu Athaillah, salah satu dewan komisaris KSPM memberikan statement bahwa Angga mengundurkan diri bukan dikarenakan masalah yang sepele sedangkan masalah kesehatan yang yang kian memburuk. 

“Karena ketua organisasi memiliki masalah kesehatan sehingga ia memilih untuk mengundurkan diri” ucap Ibnu.

Ibnu Athaillah menambahkan bahwa ada beberapa kasus sehingga perlu diadakan musyawarah besar untuk didiskusikan mengenai masalah reshuffle dan lain hal.

Patrialis Zulfa, salah satu bagian dewan komisaris KSPM memberikan pendapatnya 

“KSPM sekarang itu dibentuk dewan baru yaitu commisioner atau dewan komisaris yang nantinya berfungsi sebagai dewan penasihat untuk KSPM”

Meninjau dari permasalahan yang ada pembentukan commisioner memungkinkan untuk memberikan bantuan atas organisasi KSPM.

Reporter: Aldo

Main Event Research School 2 : Menguatkan Generasi Muda dalam Riset dan Inovasi Berkelanjutan

Dok: Pribadi

Semarang — Pada Sabtu, 17 Mei 2025, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) telah menyelenggarakan Main Event Research School 2, sebuah program pelatihan lanjutan dalam kaderisasi riset mahasiswa. Program ini diusung oleh Badan Eksekutif Mahasiswa bidang Riset dan Keilmuan. Kegiatan ini berlangsung di Hall Gedung C FEB Undip dan diikuti oleh sekitar 40 peserta dari berbagai fakultas, baik dari FEB maupun luar FEB.

Research School merupakan program pengkaderan riset yang dirancang oleh lembaga kemahasiswaan untuk mencetak generasi muda yang unggul dan kompetitif dalam dunia keilmuan. Program ini terbagi menjadi beberapa tahap dengan Research School 2 sebagai kelanjutan dari Research School 1. Pada tahap ini, peserta diberikan bimbingan dan pelatihan secara lebih mendalam mengenai empat pilar riset utama, yaitu karya tulis ilmiah, kajian kebijakan, simulasi konferensi Model United Nations (MUN), dan pengembangan ide inovatif. Tujuan utamanya adalah membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis, analitis, serta keterampilan teknis yang diperlukan untuk menghadapi dan berprestasi dalam kompetisi riset, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Tahun ini, Research School 2 mengangkat tema “Empowering Young Achievers: Building Research and Sustainable Innovation.” Tema ini diusung untuk mendorong semangat generasi muda dalam menciptakan karya riset yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak secara sosial dan berkelanjutan.

Menurut Lilis selaku Wakil Ketua Pelaksana, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kesiapan peserta dalam menghasilkan karya yang relevan dan bernilai. “Tujuannya itu untuk pembekalan agar ketika peserta yang akan mengikuti lomba dapat memberikan impact yang lebih,” ujarnya.

Main event ini menghadirkan pembicara inspiratif, Bryant Andhika Prayoga selaku Mahasiswa Berprestasi Nasional peringkat 3 tahun 2023. Dalam sesi bertajuk “How to Be a Champion in Mahasiswa Berprestasi Nasional and Gain a Research School Scholarship Abroad,” Bryant membagikan kisah perjuangannya dalam meraih prestasi, mulai dari penolakan 21 kali saat mendaftar perguruan tinggi, hingga akhirnya diterima di Program Studi IUP Kimia, Fakultas Sains dan Matematika Undip. Ia juga membagikan pengalamannya mengikuti Pilmapres saat masih duduk di semester 4, lengkap dengan kesibukan mengurus berbagai dokumen sertifikat.

Saat ini, Bryant tengah menyusun skripsi dan secara terbuka meminta doa dari para peserta agar diberikan kelancaran dalam prosesnya. Permintaan tersebut disambut hangat dan penuh semangat oleh peserta yang hadir.

Dalam pemaparannya, Bryant juga membagikan tips penting terkait penulisan essay beasiswa. Ia menekankan bahwa banyak pelamar yang keliru dengan menuliskan daftar prestasi dan pengalaman organisasi di essay, padahal itu sudah tercantum di CV. Menurut Bryant, esai seharusnya menjadi ruang personal yang mencerminkan identitas dan motivasi secara mendalam.

Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya niat baik dan konsistensi dalam meniti proses. Ia menceritakan hampir gagal mengikuti lomba di Istanbul, Turki karena kendala biaya. Namun, ketika ia meniatkan partisipasinya sebagai bentuk ibadah, jalan pun terbuka dengan datangnya bantuan tak terduga dari perusahaan yang bersedia mendanai perjalanannya.

Salah satu kutipan inspiratif yang juga disampaikannya:
“Hidup terlalu singkat untuk menangis dan tertawa, sementara orang-orang hidup berdampingan dan tidak memperhatikanmu. Namun, jaga dirimu agar tetap bermanfaat, hingga kamu sungguhan menyadari bahwa hal yang tersingkat dari semua itu ialah kesabaran.”

Antusiasme peserta sangat terasa sepanjang acara. Agung Kurniawan menyampaikan rasa senangnya bisa bertemu langsung dengan Bryant. “Guest star-nya Mas Bryant, karena saya sering melihat namun belum pernah ngobrol. Jadi ini kesempatan besar bagi saya,” ujarnya.

Sementara itu, Nizar, salah satu peserta lainnya, juga mengungkapkan kesan positifnya. “Kesannya seru banget acara Research School 2, dan saya merasa dapat mengimplementasikan apa yang sudah disampaikan oleh Kak Bryant.”

Dengan semangat dan inspirasi yang dibawa oleh para pembicara dan peserta, Research School 2 diharapkan menjadi pijakan kuat bagi mahasiswa Undip dari berbagai latar belakang untuk terus berkembang dalam dunia riset dan menciptakan inovasi yang berkelanjutan.

Reporter : Sabrina, Shafa

Penulis   : Sabrina

ECOART 2025: Ruang Ekspresi dan Apresiasi Seni Mahasiswa FEB UNDIP

Dok: Pribadi

Tembalang, Semarang – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro kembali menggelar acara ECOART atau Economics Art Week 2025 sebagai ajang tahunan khusus bagi mahasiswa FEB. Acara ini berlangsung selama dua hari, yaitu pada Selasa, 14 Mei 2025 pukul 12.30 hingga selesai, dan dilanjutkan pada Kamis, 15 Mei 2025 mulai pukul 10.00 di Hall KWU FEB UNDIP. ECOART 2025 mengusung slogan “Lestari Budayaku, Bewarna Duniaku” yang bertujuan menumbuhkan semangat mahasiswa dalam melestarikan nilai budaya melalui ekspresi seni. Acara ini menjadi wadah untuk menyalurkan potensi seni mahasiswa di tengah padatnya rutinitas akademik.

Tahun ini, sebanyak 90 peserta ambil bagian dalam berbagai lomba seni seperti solo vokal, baca puisi, cerpen, lukis, fotografi, poster, dan band, dengan total hadiah senilai dua juta rupiah. ECOART tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya seni, tetapi juga mendorong terciptanya semangat kolaborasi, solidaritas, dan kreativitas antarmahasiswa. Para pemenang nantinya akan mewakili FEB dalam kompetisi seni bergengsi Diponegoro Art Competition. ECOART 2025 menjadi batu loncatan bagi mahasiswa berprestasi di bidang seni untuk melangkah ke tingkat universitas.

ECOART 2025 mengangkat tema “Where Timeless Tales Meet Modern Imagination” dengan tujuan menghadirkan nilai-nilai luhur budaya secara lebih menarik dan segar bagi generasi muda. Menurut VPO ECOART 2025, Sheva Putri Wardani, tema ini terinspirasi dari cerita dongeng Nusantara sebagai warisan budaya Indonesia yang diangkat kembali dengan peningkatan modern dan imajinatif. PO ECOART 2025, Jeslyn Viarna Listy, menjelaskan bahwa tema ini dipilih karena lebih rasional dan melekat dalam kehidupan sehari-hari. Tema tersebut berkontribusi positif terhadap peningkatan jumlah peserta pada tahun ini.

ECOART 2025 berhasil menarik lebih dari 85 mahasiswa FEB untuk unjuk bakat dalam 7 bidang seni. Keberhasilan ini merupakan hasil dari strategi pemasaran aktif dengan memasarkan acara dari kelas ke kelas dan memasang poster di beberapa gedung. VPO ECOART 2025 berharap acara ini dapat menjadi kebanggaan mahasiswa FEB dan memberikan dampak positif bagi kampus. Harapannya ECOART dapat berkembang secara kualitas, jaringan, dan inovasi setiap tahunnya.

Salah satu audiens lomba fotografi mengungkapkan ketertarikannya terhadap tema lomba karena memberikan ruang untuk mengekspresikan kecintaannya pada warisan budaya Indonesia. Ia telah memiliki minat mendalam terhadap dunia fotografi sejak SMP dan melihat ECOART sebagai kesempatan menggabungkan passionnya dengan pelestarian budaya. Dalam persiapan lomba, ia melakukan observasi langsung ke lokasi bersejarah untuk mencari komposisi foto yang tepat. Ia juga mempelajari sejarah dan filosofi objek yang difoto agar karyanya memiliki makna mendalam. Menjelang ECOART tahun depan, peserta fotografi berharap ajang tersebut dapat menghadirkan inovasi dalam bentuk lomba yang lebih beragam dan menarik. Ia berharap tema yang diangkat semakin relevan dengan isu-isu budaya dan lingkungan saat ini.

Nayla Clarissa, mahasiswa Akuntansi angkatan 2024, menjadi peserta lomba dalam cabang solo vokal. Nayla tertarik mengikuti ECOART karena terpacu oleh tantangan ingin membandingkan kemampuannya dengan peserta berbakat lainnya. Nayla memiliki latar belakang di bidang musik, khususnya tarik suara, karena aktif dalam kegiatan paduan suara semasa sekolah. Dalam persiapan, Nayla mengaku tidak melakukan latihan intensif, hanya mencari instrumen pendukung dan berlatih sekali sebelum tampil. Sebagai peserta, Nayla berharap agar semakin banyak mahasiswa yang ikut serta dalam ECOART ke depannya. Ia juga tertarik kembali mengikuti ECOART tahun depan, terutama jika ada cabang lomba dangdut.

Semangat dan kreativitas yang ditampilkan oleh para mahasiswa FEB UNDIP menjadi bukti nyata bahwa seni dapat menjadi media efektif dalam melestarikan budaya. Melalui berbagai karya yang dihasilkan, acara ini tidak hanya memperkaya pengalaman artistik para peserta, tetapi juga mempererat ikatan antar mahasiswa FEB. Diharapkan semangat ini terus berlanjut dan berkembang dalam kegiatan-kegiatan seni di masa mendatang. ECOART 2025 tidak hanya menjadi ajang kompetisi seni semata, tetapi juga menjadi pendorong bagi mahasiswa untuk lebih mengenal dan mencintai budaya bangsa.

Reporter: Florence, Musa, Zaki

Gelar Aksi Bisu untuk Palestina, Mahasiswa Bagikan Semangka sebagai Simbol Solidaritas

Tembalang, 4 Mei 2025 – Sejumlah mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) menggelar aksi bisu sebagai bentuk solidaritas terhadap krisis kemanusiaan di Palestina. Aksi ini diinisiasi oleh kelompok Undip Student Justice for Palestine dan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap situasi yang dinilai telah mencapai tahap genosida.

Aksi dilaksanakan di lokasi yang berbeda, yakni di lampu merah Ngesrep dan depan Masjid Kampus Undip. kegiatan dilakukan membagikan potongan semangka—yang menjadi simbol perlawanan Palestina akibat pelarangan penggunaan bendera negara tersebut—oleh peserta aksi serta mengangkat poster dan plakat berisi pesan dukungan. Meski tanpa orasi, aksi ini mendapat respon positif dari masyarakat, beberapa pengendara bahkan meneriakkan dukungan mereka.

Diam sebagai Simbol Perlawanan

Fahri, mahasiswa Sekolah Vokasi sekaligus penanggung jawab aksi Undip SJP, menjelaskan bahwasannya aksi bisu dipilih untuk menganalisis dan mengukur empati masyarakat terhadap isu Palestina. “Kami ingin melihat seberapa besar kepedulian mahasiswa dan warga terhadap isu Palestina. Ini langkah awal menuju aksi yang lebih besar seperti long march,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa isu Palestina adalah persoalan kemanusiaan, bukan sekadar topik berlandaskan keagamaan. “Siapa pun yang memiliki hati nurani dan akal sehat minimal tidak hanya diam melihat penderitaan mereka,” tegasnya.

Senada dengan Fahri, Muhammad Junaidi, Ketua UKM Insani FISIP 2025 dan perwakilan Undip Student Justice for Palestine, menyatakan bahwa keheningan dalam aksi ini mencerminkan sikap pasif dunia terhadap penderitaan Palestina. “Diam adalah bentuk perlawanan, karena dunia terlalu lama membisu,” ujarnya.

Persiapan Singkat, Antusiasme Tinggi

Meskipun persiapan dilakukan secara mendadak dengan waktu yang cukup singkat, aksi berjalan lancar berkat kerja sama solid para peserta. Mereka bekerja sama berkumpul di Masjid Kampus untuk menyiapkan poster, plakat, dan semangka yang dibagikan kepada masyarakat.

Junaidi menegaskan bahwa aksi ini baru permulaan. “Kami akan lanjutkan dengan aksi yang lebih besar dalam satu hingga dua minggu ke depan. Kami juga mendorong aksi nyata, seperti boikot produk yang mendukung Israel,” katanya.

Dukungan Masyarakat Menguatkan Semangat

Aksi berjalan kondusif dan disambut antusias oleh warga. Hal itu terlihat dari banyaknya pengendara yang menerima potongan semangka dengan terbuka serta beberapa yang menyuarakan dukungan mereka secara lantang. 

Dengan aksi ini, mahasiswa Undip berharap semangat solidaritas terus menyebar hingga dunia mendengar jeritan rakyat Palestina. “Kami tidak akan berhenti sampai keadilan ditegakkan,” tutup Fahri.

Reporter: Nares, Sholekah, Anisa Zahi

Penulis: Sholekah, Anisa Zahi