FEB Undip Gelar Forum Diseminasi Hasil Sebelas Doktor Baru

Penulis: Shela Nur Fajriya

feb-undip-gelar-forum-diseminasi-hasil-sebelas-doktor-baru

Forum Diseminasi Hasil Doktor Dosen digelar oleh Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip pada 30 Maret 2022 dengan sistem blended, yaitu luring dan daring. Acara yang termasuk dalam rangkaian Dies Natalis ke-62 FEB Undip ini, memaparkan 11 hasil disertasi yang dilakukan oleh dosen FEB. Pemaparan hasil penelitian dibagi menjadi 2 (dua) sesi dengan dipandu oleh Onny Dwi Sawastri, S.E sebagai MC serta dimoderatori oleh Sri Rahayu Tri A., S.E., M.M. dan Puji Harto, S.E., M.Si., AKT., PH.D.


Dekan FEB Undip, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., dalam sambutannya berharap para doktor baru dapat menghidupkan kembali kelompok studi serta dapat menyampaikan pendapatnya mengenai fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat sebagai bentuk pendewasaan diri. “Jangan sampai ranah sosial media dipenuhi pendapat-pendapat yang bukan pakarnya. Sibuklah berkontribusi bagi banyak orang,” ujarnya.


Salah satu doktor baru, Dr. Nur Cahyonowati, S.E., M.Si., Akt, dalam kesempatan ini memaparkan hasil risetnya yang bertajuk Faktor Penentu dan Kualitas Kepatuhan Pajak: Pengujian Teori Lereng Licin. Beberapa hal mendasari penelitiannya ini, seperti tingkat kepatuhan pajak Indonesia yang rendah, riset empiris kepatuhan pajak belum meraih konsensus, ketidakkonsistenan pengujian empiris teori lereng licin, hingga isu metodologi: real income/earned income vs endowment income.


Nur menyampaikan bahwa proporsi pajak didominasi oleh Wajib Pajak Pribadi, sehingga tidak boleh disepelekan untuk mengejar penerimaan pajak. Selain itu, ia mengungkapkan bahwa dalam hal kepatuhan pajak, alat yang dapat efektif membuat individu membayar pajak bukan hanya faktor penjera melainkan terdapat juga faktor psikologis berupa trust yang memberikan individu sebuah motivasi untuk membayar pajak secara spontan.


Dalam paparan lainnya, Dr. Daljono, S.E., M.Si., Akt. membagikan hasil penelitiannya dengan judul yang menarik yaitu Manajemen Reaksioner “Sak Dek Sak Nyet” Konstruksi SPM dalam Kontek Perubahan Organisasi”. Istilah sak dek sak nyet ini tidak lain merupakan alternatif dari kata cepat yang ia dapatkan saat wawancara untuk pengambilan data. Pada penelitian ini, Daljono mengangkat bahasan mengenai studi perubahan status PTN “X” (nama dirahasiakan) menjadi PTNBH.


Selain dua dosen tersebut masih ada 9 (sembilan) dosen lain yang turut menyampaikan hasil penelitiannya, yakni Dr.rer.pol Alfa Farah, S.E., M.SC., Dr. Hastarini Dwi Atmanti, S.E., M.Si., Dr. I Made Bayu Dirgantara, S.E., M.M., Dr. Andriyani, S.E., M.M., Dr. Ismi Darmastuti, S.E., M.Si., Dr. Eisha Lataruva, S,E., M.M., Dr. Siti Mutmainah, S.E., M.Si., Akt., Dr. Andri Prastiwi, S.E., M.Si., Akt., dan Dr. Shiddiq Nur Rahardjo, S.E., M.Si., Akt.

Menyambut LKMM-D FEB UNDIP 2022

Reporter: Dewanti dan Munna

Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa tingkat Dasar (LKMMD) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) merupakan salah kaderisasi setelah LKMMP-D yang sesuai dengan buku biru. Pada Minggu, 27 Maret 2022, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB Undip mengadakan sosialisasi LKMM-D pada platform Zoom Meeting dengan membawa tema ‘‘Empowering Leaders, Enabling Others’’ dengan tagline “Creating Leaders Who Lead Others to Lead Better”. LKMM-D ini merupakan kelanjutan kaderisasi LKMMP-D dimana membawa tujuan untuk mengembangkan kepemimpinan, management skill, problem solving, kemampuan beranalisis, dan juga sebagai wadah bagi mahasiswa untuk ikut serta dalam organisasi. Filosofi yang dibawa pada tahun ini adalah ombak yang menggambarkan kekuatan dan dinamisme, matahari yang menggambarkan kehangatan dan sumber harapan, dan sinar matahari yang menggambarkan bukti nyata semangat dan energi.


Sosialisasi pada 27 Maret 2022 tersebut dihadiri oleh Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) yang berada di FEB serta mahasiswa/i yang berasal dari luar FEB. Kegiatan sosialisasi dibuka pada pukul 12.15 WIB dengan rangkaian kegiatan awal adalah menyanyikan Indonesia Raya dilanjut Himne Undip dan Mars Mahasiswa Totalitas Perjuangan. Selanjutnya, kegiatan dibuka dengan pembacaan materi oleh 2 pembicara, yaitu Elisabeth Maretta Kristianti Ginting yang berasal dari Program Studi (Prodi) Gizi, Fakultas Kedokteran Undip dan Dita Indah Maharani yang berasal dari Prodi Ekonomi Islam FEB Undip.

LKMM-D sendiri akan dibuka dengan tahap seleksi berkas, Focus Group Discussion (FGD), hingga interview. Rangkaian proses penyeleksian tersebut bertujuan untuk mengambil mahasiswa/i berkompeten yang berhak ikut tahap LKMM-D selanjutnya. Setalah melewati tahap penyeleksian, akan ada rangkaian acara dari LKMM-D yang terdiri dari technical meeting pada 13 Mei 2022 dilanjutkan dengan Pre-Phase 1, Pre-Phase 2, Day 1, Day 2, Day 3, Day 4, Social Project, dan yang terakhir adalah LPJ Social Project dilaksanakan pada 10 Juli 2022 dimana peserta mempresentasikan laporan penanggungjawaban project yang telah dilakukan.

Untuk peserta LKMM-D sendiri tidak hanya dari delegasi ormawa FEB melainkan dapat dikuti oleh delegasi ormawa manapun dari Universitas Diponegoro. Untuk jumlah kuota peserta tahun ini 80 peserta namun bisa lebih dengan melihat antusias para peserta. Presentase kuota sama antara ormawa FEB maupun ormawa dari luar FEB.

Rangkaian kegiatan yang nantinya diberikan seperti Sekolah Bidang, Pendidikan, Sekolah Bisnis, Sekolah Ekonomi dan Politik akan dibawakan materi yang berbeda dengan pembicara yang berkompeten sesuai dengan tema materi yang ditentukan. Namun berbeda dengan tahun lalu sekarang Sekolah Bidang tahun ini lebih ke general dan singkat jadi para peserta dapat memilih beberapa bidang yang diminati dan tidak fokus ke satu bidang saja.

Cara Cerdas Memulai Bisnis

Reporter: Arrifqi dan Fitri

cara-cerdas-memulai-bisnis

Bukan rahasia umum lagi, jika sebagian besar orang dihadapkan sejuta ketakutan saat ingin memulai berbisnis. Mulai dari persoalan pasar, target konsumen, permodalan, hingga diversifikasi produk yang kerap kali dianggap sebagai kunci utama sebuah kesuksesan dalam berbisnis. Padahal ketika kita merujuk pada riset, sebanyak lima puluh ribu brand baru lahir setiap tahunnya di Indonesia. Fenomena ini juga dapat diartikan bahwa terdapat tujuh brand baru muncul setiap jamnya.

Mindset Wirausahawan yang Harus Diubah

Bagaimana cara menemukan value produk saya? Pertanyaan ini sering muncul pada orang-orang yang ingin memulai bisnis. Terkadang mereka terlalu fokus pada permasalahan diversifikasi produk atau bagaimana caranya produk mereka berbeda dengan kompetitor bisnis lainnya. Mencari pembeda untuk suatu produk bukan menjadi permasalahan, namun yang menjadi bencana, sering kali jalan keluar yang mereka tempuh dengan cara mengotak-atik produknya. “Seakan-akan produk ini adalah mahakarya yang keren banget, ini sebuah sesuatu yang membuat customer beli karna produk ini. Kita mati-matian berfikir gimana caranya produk ini menjadi sesuatu yang berbeda, dan faktanya di luar sana jauh banyak produk-produk yang sejenis,” ungkap Doddy Zulkifly, CEO Neyma Brand Identity.

Doddy menganalogikannya dengan sebuah produk inovasi dari coklat. “Coklat rasa rendang” mungkin produk ini terdengar sangat inovatif, namun yang menjadi pertanyaaan, apakah konsumen akan membeli produk tersebut? Dari sini lah kita dapat tahu jawaban dari persoalan tersebut. Pada Pelatihan Digital Marketing yang diselenggarakan oleh Pegadaian Syariah dan Prodi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) pada Sabtu (25/03), dimana Doddy sebagai pembicara lebih menekankan pada bahasan “Membangun Brand Image Produk melalui Platform Digital”.

Membangun Brand Image Bukan Persoalan Mudah

Tidak hanya itu, Doddy juga memberikan contoh penerapan membangun brand image dengan menganalisa bisnis customer-nya yaitu brand Bunga Chicken yang omsetnya terus menurun bahkan merugi dibandingkan dengan brand fried chicken lainnya. Dengan pengalaman yang dimiliki ia mendapatkan beberapa hipotesis. Hipotesis yang pertama produk tersebut mungkin kurang enak, namun setelah di lakukan survei buta dengan uji sampel makanan tanpa melekatkan brand-nya terhadap beberapa orang, ternyata produk yang enak adalah produk dari Bunga Chicken. Kemudian dia melakukan uji terhadap hipotesis yang kedua yaitu target pasar, ia bertanya kepada owner-nya bagaimana ide usaha tersebut bermula.

“Saya membuat bisnis ini sebagai pemecahan masalah dari ibu-ibu komplek yang malas untuk memasak karena suaminya kerja dan anak-anaknya sekolah,” ungkap pemilik Bunga Chicken. Setelah di analisis Doddy mendapat hipotesis bahwa toko/outlet Bunga Chicken tidak efektif karena yang di butuhkan customer adalah makanannya bukan tempatnya. Jadi Doddy mencoba untuk mengubah posisi kasir yang tadinya ada di belakang, sekarang di pindah ke depan sehingga dekat dengan parkir dan terlihat dari jalan. Alhasil, setelah di terapkan di satu outlet tersebut ternyata hasilnya penjualan meningkat 20 hingga 30 persen. Seiring berjalannya waktu, strategi tersebut di terapkan di outlet lainnya dan hasilnya tujuh outlet Bunga Chicken sangat profitable.

Setelah melalui beberapa tahap analisis, ternyata permasalahannya adalah di tata letak dan desain dari outlet nya kaena costomer lebih suka yang drive thru. Sebelum seminar berakhir, Doddy Zulkifly menegaskan bahwa “Menciptakan sebuah brand dari memecahkan masalah yang ada di pasar memang bagus namun perlu juga mengetahui cara pemasaran dan cara branding yang tepat”.

Perangi Hoaks dengan Cek Fakta

Reporter : Dzikrina dan Azita

Maraknya berita palsu atau lebih dikenal dengan istilah “hoaks” tentu menimbulkan keresahan. Kerap kali muncul kebimbangan saat membaca sebuah berita, apakah itu fakta atau hoaks semata? Jurnalis pun turut terkena imbasnya, penyebaran hoaks di lini masa menjadi tantangan bagi kerja jurnalis. Terutama persoalan kesehatan, HAM, kelompok minoritas yang dapat memantik kesalahpahaman.


Menyikapi kondisi tersebut, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta bekerja sama dengan Prohealth.id serta didukung oleh Google News Initiative Network menyelenggarakan Pelatihan Daring Cek Fakta bagi jurnalis dan mahasiswa pada hari Sabtu (26/03). Pelatihan ini menghadirkan tiga pembicara sekaligus, diantaranya Hartatik sebagaiTrainer Google News Initiative Network dan Jurnalis Suara Merdeka. Kemudian, ada Irsyan Hasyim yang merupakan Trainer Google News Initiative Network dan AJI Jakarta dan Afwan Purwanto selaku Ketua AJI Jakarta. Dengan menghadirkan tiga pembicara ahli dalam bidangnya tersebut, diharapkan mampu mengedukasi para jurnalis dan mahasiswa mengenai teknik mendeteksi informasi palsu mengingat cepatnya penyebaran informasi di era digital.


Masing-masing pembicara pun memiliki fokus topik yang berbeda. Hartatik lebih menyoroti persoalan mengenai cara memproses informasi, tindakan respon terhadap sebuah informasi, perbedaan dari misinformasi dan disinformasi, dan bagaimana cara orang memanipulasi sebuah berita atau konten. Sedangkan, Irsyan Hasyim, menjelaskan secara rinci mengenai anatomi hoaks, hoaks momentum dan evergreen, alasan orang mudah percaya dengan hoaks, modus hoaks, kategori hoaks, alasan munculnya hoaks, serta lima pilar verifikasi untuk melacak konten.


Berbeda dengan dua pembicara sebelumnya, Afwan Purwanto lebih menekankan pentingnya menelusuri konten asli dan analisis sumber. Apabila tidak menelusuri konten asli semakin besar kemungkinan kita tertipu. Sangat perlu dilakukan identifikasi hoaks seperti mengecek alamat media, mengecek detail visual media, mewaspadai iklan yang serupa dengan berita, mengecek “about us” media, mewaspadai judul sensasional, membandingkan ciri-ciri pakem jurnalistik, mengecek situs media arus utama, dan mengecek foto atau video. Afwan Purwanto mempraktikkan cara memverifikasi informasi menggunakan berbagai macam tools seperti menelusuri foto dengan menggunakan google image, yandex image, atau tineye dan metode verifikasi lainnya. Afwan Purwanto menegaskan, “Pilihannya hanya ada dua, apakah ingin menjadi jurnalis yang kredibel atau tidak? kredibilitas akan dipertaruhkan jika tidak melakukan verifikasi informasi,dan yang dibutuhkan adalah valid atau tidaknya bukan faktor cepatnya informasi diterbitkan.”

Sebelum pelatihan berakhir, Afwan Purwanto memberikan kalimat penutupan, “Practice makes perfect, sehingga harus rajin menggunakan tools dalam melakukan verifikasi informasi dan sangat penting bagaimana kita menyikapi dan mengolah informasi yang didapatkan.” Pelatihan ini berlangsung sampai hari Minggu, 27 Maret 2022.

Bedah Buku Nicotine War: Menyingkap Perang Perebutan Nikotin

Reporter: M. Musa Aminullah

bedah-buku-nicotin-war-menyingkap-perang-perebutan-nikotin

(UNDIP 19/3) – Acara bertajuk Nicotine War terinspirasi dari sebuah buku karya Wanda Hamilton berjudul Nicotin War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat. Acara ini merupakan kegiatan bedah buku sekaligus diskusi tentang perang nikotin yang terjadi di Amerika dan di Indonesia. Acara Nicotine War dilaksanakan secara hybrid, yakni di Undip Inn lantai 8 dan platform YouTube. Tiga narasumber diundang pada acara ini, yaitu Abisham Demosa (Koordinator Nasional Komunitas Kretek (2010-2016)), Khotibul Umam (Dosen Sastra Indonesia UNDIP Semarang), dan Irfan Afifi (Budayawan). Tidak lupa, acara juga dimeriahkan oleh Band SAKUTALA.

Acara Nicotine War diselenggarakan oleh LPM Manunggal, Komunitas Kretek, dan Organisasi Daerah (Orda) Tembus (Kudus). Acara dimulai pada pukul 13.30. Sebelum kegiatan berlangsung, terlebih dahulu peserta dicek suhu tubuh, mengisi absensi di resepsionis, dan mendapatkan buku secara gratis. Pembawa acara lalu membuka acara, mempersilahkan Band SAKUTALA menghibur hadirin, dan melimpahkan keberlangsungan acara pada moderator.

Abhi sebagai perwakilan Komunitas Kretek yang concern dalam isu nicotine war. Komunitas Kretek merupakan pengawal isu peperangan perebutan keretek antara industri rokok multinasonal yang menginvasi industri rokok dalam negeri. Abhi membeberkan fakta terkait adanya perang perebutan nikotin di Amerika, antara industri rokok dan industri farmasi. Fakta yang dimaksud menyiratkan bahwa di balik agenda kampanye anti rokok, terdapat agenda untuk menguntungkan industri farmasi atas produk terapi bagi para pecandu rokok. Tidak hanya itu, Abhi juga menjelaskan tentang perang nikotin yang terjadi di Indonesia, perang antara industri rokok nasional dan industri rokok multinasional atas tembakau, dan kampanye anti rokok yang mulai menghilangkan industri rokok lokal.

Berbeda halnya dengan Kholtibul Umam yang menyampaikan dari sudut pandang karya-karya sastra di Indonesia, baik puisi dan lagu. Cukup banyak sastrawan Indonesia yang suka rokok, banyak juga yang tidak. Satu hal yang pasti, kesukaan atau ketidaksukaan itu bukanlah sebuah masalah. Sempat menyinggung juga kalau semakin ke sini, banyak visual yang memperlihatkan orang merokok mulai dihilangkan. Contohnya adalah buku berjudul Roro Mendut yang menghilangkan sosok wanita merokok dan buku karya Chairul Anwar berjudul Bagimu Negeri Menyediakan Api versi terbaru yang menghilangkan rokok pada bibir Chairil, tanpa menghiraukan korek yang menyala.

Sudut pandang berbeda juga disampaikan oleh Irfan Afifi melalui kacamata budaya. Irfan meyatakan bahwa rokok asli Indonesia bermula dari kota Kudus. Ia berargumen bahwa keretek seharusnya menjadi sebuah nama, ciri khas, hingga sebuah potensi rakyat yang harus terus ada tanpa perlu diatur pihak luar. Kalaupun rokok harus musnah, hal itu wajib sesuai dengan hasil kedaulatan rakyat. Penekanan kedaulatan yang dimaksud Kak Irfan bukan hanya persoalan ekonomi atau kesehatan. Bukan juga sesederhana rokok boleh atau tidak, haram atau halal. Kedaulatan yang dimaksud berbicara tentang bagaimana Indonesia mampu berdikari tanpa harus di intervensi pihak luar atau bahkan hanya sebagai konsumen kebudayaan.

“Isu perang nikotin ini menjadi lubang kunci untuk mengintip isu lainnya yang kurang lebih sama. Pada intinya, kita bisa melihat bahwa betapa kompleksnya permasalahan bangsa ini. Tentu dengan tidak hanya sebatas perkara rokok boleh atau tidak, halal atau haram,” pungkas Abhi pada akhir acara.

Atas Nasib dan Harapan, Konsesi Restorasi Ekosistem

Penulis: Luvita Dyaningsih

Pada 3 Februari 2022, laman Kompas.com menerbitkan sebuah berita terkait perusakan 8 hektare hutan mangrove di Nunukan, Kalimantan Utara akibat oknum pengusaha. Oknum-oknum itu secara sepihak membabat hutan mangrove untuk dijadikan kebun kelapa pandan. Bukankah sama-sama tumbuhan? Ya, tapi apakah kebermanfaatan kelapa pandan bagi alam dan manusia akan sehebat mangrove? Belum tentu. Kegiatan tercela itu memicu pertanyaan. Adakah bisnis yang berjalan seiringan dengan kegiatan memperbaiki dan melindungi alam? Mungkin konsesi restorasi ekosistem menjadi salah satu jawaban.

Mendalami Konsesi Restorasi Ekosistem

Berdasarkan artikel dengan judul “Apa yang dimaksud dengan Konsensi Restorasi Ekosistem?” dari laman World Rainforest Movement (WRM), konsesi restorasi ekosistem (KRE) merupakan sebuah konsep yang diusung oleh beberapa grup konservasi besar, seperti British Royal Society for the Protection of Birds (RSPB), dan kementerian kehutanan di tahun 2004. Tujuan KRE adalah memulihkan deforestasi hutan-hutan produksi demi mengembalikan “keseimbangan biologis” hutan-hutan tersebut.

Konsep KRE menegaskan bahwa para pelaku restorasi, dalam hal ini perusahaan restorasi, harus mengembalikan keadaan hutan di wilayah restorasinya. Perusahaan restorasi diperbolehkan melakukan kegiatan yang mendatangkan pendapatan, seperti penjualan hasil hutan non-kayu dan terlibat dalam kegiatan perdagangan karbon. Ketika “keseimbangan biologis” hutan restorasi telah berada di tingkat aman, perusahaan diizinkan melakukan pembalakan kayu dalam batasan tertentu.

Para Perusahaan Restorasi

PT Restorasi Ekosistem Indonesia, disingkat PT REKI, adalah perusahaan pertama yang mendapat izin restorasi pada 2007. Proyek restorasi mereka bernama Proyek Hutan Hujan Harapan. Wilayah restorasi PT REKI berada di perbatasan Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan dengan luas 98.555 hektare. Dikutip dari laman hutanharapan.id, tujuan aktivitas restorasi ekosistem PT RAKI antara lain ialah memulihkan dan meningkatkan keanekaragaman tumbuhan ekosistem hutan alam, memulihkan dan meningkatkan produktivitas hutan alam, meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan, dan lain sebagainya.

PT Rimba Makmur Utama atau PT RMU diberikan izin usaha pemanfaatan hutan kayu restorasi ekosistem oleh kementerian kehutanan pada Oktober 2013. PT RMU merestorasi kawasan hutan seluas 108.225 hektare di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Proyek restorasinya diberi nama Proyek Katingan Mentaya. Dalam proyek tersebut, PT RMU berupaya mengurangi pelepasan karbon dengan melakukan kolaborasi bersama masyarakat lokal serta stakeholder perusahaan ini dalam pengelolahan wilayah restorasi mereka.

Restorasi Ekosistem Riau (RER) adalah program kolaboratif kelompok swasta dan publik yang dibentuk pada 2013 oleh Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) Group, salah satu penghasil pulp dan kertas terbesar di dunia. RER melingkupi kawasan restorasi hutan gambut seluas 150.693 hektare di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang. Dalam usahanya, RER menerapkan model 4 tahap, yaitu proteksi, restorasi, konservasi, dan manajemen hutan gambut yang menjadi wilayah restorasi mereka.

Hingga saat ini, tercatat sekitar 16 perusahaan diberi izin restorasi di Indonesia, termasuk perusahaan yang dipaparkan dalam paragraf-paragraf sebelumnya. Walaupun demikian, usaha tersebut nampaknya belum cukup mengembalikan “keseimbangan biologis” hutan-hutan Indonesia. Artikel berjudul “Ironi Kebijakan Usaha Restorasi” yang dilansir oleh laman Forest Digest menyatakan bahwa kawasan yang dikelola oleh 16 perusahaan restorasi hanya mencapai 600 ribu hektare. Luas tersebut masih terlampau kecil apabila dibandingkan dengan luas hutan rusak di Indonesia yang harus dipulihkan, yaitu 34 juta hektare. Beberapa rintangan menjadi penyebab sulitnya perluasan kawasan restorasi.

Halang Rintang Penerapan KRE

Pemberian izin selektif oleh kementerian lingkungan agaknya menjadikan konsensi restorasi ekosistem sedikit sulit. Terdapat kriteria-kriteria yang wajib dimiliki oleh proyek restorasi, salah satunya terkait modus pebisnis ketika mengajukan proyek KRE. Pengujian tersebut memang baik dilakukan karena untuk mengantisipasi adanya penjualan kembali lahan yang telah diberi izin restorasi. Namun demikian, penerapan persyaratan sepertinya terlampau ketat, sehingga hanya 16 perusahaan saja yang baru diberikan izin.

Selain pemberian izin yang selektif, kegiatan KRE cukup memakan banyak biaya. Permasalahan itu dikarenakan areal restorasi yang diizinkan pemerintah mudah sekali mengalami kebakaran dan perambahan walaupun merupakan hutan rusak bekas hak pengelolaan hutan (HPH). Belum lagi jika ada konflik sosial dengan masyarakat lokal. Karena hal-hal tersebut, tidak banyak pihak swasta yang cukup berani menekuni kegiatan KRE ini.

Harapan Demi Keberlanjutan Alam

Meskipun dalam penerapan KRE terdapat banyak rintangan, harapan yang timbul tetap menjadi api semangat bagi keberlanjutan alam. Dengan KRE, perbaikan terhadap Bumi dan alamnya diharapkan dapat membawa dampak positif bagi kehidupan. KRE juga menjadi salah satu metode yang menunjukkan bahwa perbaikan lingkungan dapat dijalankan berbarengan dengan peningkatan ekonomi walaupun pada pelaksanaan belum sesempurna yang dinyatakan teori.

Masyarakat, baik itu masyarakat lokal maupun masyarakat luas, perlu dilibatkan dalam penerapan KRE. Jangan sampai tujuan mulia KRE dan masyarakat dalam memperbaiki alam harus diintervensi oleh konflik-konflik sosial yang terjadi. Kerja sama dengan masyarakat ini tidak bisa disepelekan karena pada akhirnya, masyarakat lah yang akan lebih dekat dengan alam. Egoisme perusahaan restorasi dan masyarakat hendaknya diolah dan diarahkan sedemikian rupa win-win solution bagi kedua belah pihak bisa tercapai.

Usaha memperbaiki dan menjaga kelestarian alam bukanlah hal yang mudah, apalagi dikaitkan dengan ekonomi dan bisnis. Perlu ada banyak pihak serta golongan yang terlibat dengan dasar orientasi pemikiran serupa. Pihak-pihak dan golongan-golongan tersebut harus mengutamakan kepentingan bersama dibanding kepentingan individual maupun kelompok. Dengan diutamakannya kepentingan bersama, yaitu menjadikan Bumi yang lestari, harapan Bumi sebagai tempat yang lebih baik tentu tidak hanya sekadar angan-angan belaka.

“If you really think that the environment is less important than the economy, try holding your breath while you count your money,” (Jika kamu berpikir bahwa lingkungan kurang penting daripada ekonomi, cobalah menahan napas ketika menghitung uangmu) – Dr. Guy McPherson, Profesor Emeritus Sumber Daya Alam dan Ekologi serta Biologi Evolusioner Universitas Arizona

Sumber:
Dzulviqor, Ahmad. 2022. “Sekitar 8 Hektar mangrove di Nunukan Diduga Dibabat Oknum Pengusaha, Terjadi sejak 2019”.
Overbeek, Winnie. 2020. “(Bahasa Indonesia) Indonesia: Apa yang dimaksud dengan Konsesi Restorasi Ekosistem?”.
Hutan Harapan, “https://hutanharapan.id/”.
Kantingan Mentaya Project, “https://id.katinganproject.com/”.
Restorasi Ekosistem Riau, “https://www.rekoforest.org/id/”
Waldi, Robi Deslia. 2020. “Ironi Kebijakan Usaha Restorasi”.
Forest Digest. 2021. “Nasib Restorasi Ekosistem Setelah PP 23 UU Cipta Kerja”.

Pemulihan Ekonomi Menjadi Sorotan Utama Orasi Ilmiah Wakil Gubernur Jawa Tengah

Reporter: Michelle dan Tsania

pemulihan-ekonomi-menjadi-sorotan-utama-orasi-ilmiah-wakil-gubernur-jawa-tengah

(Undip, 14/3) Dalam memperingati Dies Natalis Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) yang ke-69, Fakultas Ekonomika dan Bisnis menyelenggarakan kegiatan Rapat Senat Terbuka dan Orasi Ilmiah yang diselenggarakan secara luring pada (14/3) di Hall Gedung Kewirausahaan FEB kampus Undip Tembalang dan secara daring melalui platform Zoom Meetings. Kegiatan ini mengambil tema Strategi Penguatan UMKM dan Koperasi di Masa Pandemi Sebagai Tulang Punggung Ekonomi Jawa Tengah, dengan pembicara Wakil Gubernur Jawa Tengah, H. Taj Yasin Maimoen. Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Senat Akademik Anis Chariri. Kemudian, dilanjutkan dengan sambutan oleh Yos Johan Utama selaku Rektor Undip.

Solusi pemulihan ekonomi pasca Covid-19 menjadi intisari gagasan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, H. Taj Yasin Maimoen. Bermula dengan adanya Covid-19 yang memporak-porandakan perekonomian, yang mana ekonomi ini merupakan salah satu sektor yang paling terdampak ketika kita mengalami pandemi. Ini juga perlu diketahui bahwa ternyata UMKM menjadi salah satu
penopang terbesar untuk pertumbuhan ekonomi di masa pandemi Covid-19.

Siapa sangka, fenomena ini sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh para mahasiswa yang saat itu melakukan pembelajaran secara daring, yang banyak tinggal di daerah-daerah, kota-kota, dan pelosok-pelosok itulah yang akhiranya dapat mendorong daya bangkit ekonomi di daerah pedesaan. Pada mahasiswa yang khususnya memiliki kejuruan di bidang ekonomi, tentu akan memiliki pandangan yang berbeda sehingga muncul pelatihan-pelatihan yang diinisiasi oleh mahasiswa. “Saya yakin di situ juga banyak mahasiswa Undip jurusan ekonomi melatih masyarakat bagaimana mengelola usaha itu dan nantinya akan memiliki pangsa pasar sendiri,” ucap Taj Yasin. Ketika hanya masyarakat saja yang memasarkan dan memproduksi, tidak ada value atau imbas yang besar kepada para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM). Hal itu karena terkait ekonomi UMKM, masyarakat rata-rata produksinya masih sama.

Dengan adanya sentuhan dari para pelaku ekonomi muda yang dari universitas khususnya Undip di Fakultas Ekonomi akan dicantumkan adanya cerita yang membuat khas sendiri pada masing-masing produk. Atas dasar itulah, pemerintah mengeluarkan berbagai program supaya UMKM ini tetap bertahan dan maju untuk lebih berkembang melalui kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Pemerintah dan juga civitas, khususnya Undip, turut membantu untuk memberikan hibah bagi usaha pemula demi pengembangan pertumbuhan produk-produk yang ada di masyarakat.

Tidak hanya itu, adanya tambahan dana Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) dapat digunakan untuk pinjaman murah bagi UMKM. Pemerintah juga menyiapkan untuk UMKM dapat bersaing di pasar domestik sampai internasional. Kalau sudah naik ke tingkat internasional, sumber daya manusia ini lah yang sangat penting, salah satunya terkait komunikasi. Sehingga apabila adanya pesanan yang berasal dari luar negeri, masyarakat tidak kebingungan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa asing. Hal itulah yang seharusnya kita tingkatkan bahwa pembekalan bahasa pada mahasiswa itu penting untuk pemasaran.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengajak masyarakat untuk memandang COVID-19 ini bukan hanya menjadi musibah, tapi juga menjadi hikmah bagi kita semua untuk mengubah pola pikir masyarakat menjadi lebih maju dan berkembang. Pemerintah merangkul dengan menciptakan kebijakan pelatihan-pelatihan secara daring untuk masyarakat. Pak Yasin juga mengharapkan mahasiswa ekonomi jangan dibiasakan menjadi pegawai saja, tapi juga bagaimana membuka peluang usaha.

Berdayakan UMKM melalui Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan oleh Mahasiswa KKN Tematik Wonosobo

Penulis: Muhammad Miftahuddin

berdayakan-umkm-melalui-pendampingan-penyusunan-laporan-keuangan-oleh-mahasiswa-kkn-tematik-wonosobo

Pandemi Covid-19 telah melumpuhkan berbagai sektor perekonomian, salah satunya adalah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KemenKopUKM), sekitar 37 ribu lebih UMKM melaporkan terdampak pandemi Covid-19. Sebanyak 56 persen UMKM merasakan terjadinya penurunan penjualan, kemudian 22 persen melaporkan kesulitan memperoleh modal dan melunasi pinjaman, 15 persen terkendala dalam pendistribusian barang dan 4 persen merasa kesulitan memperoleh bahan baku. Kondisi tersebut masih akan terus berlangsung hingga pandemi berakhir atau setidaknya berubah statusnya menjadi endemi.

UMKM Menjadi Pilar Penting dalam Perekonomian Indonesia

Di lain hal, UMKM memegang peran penting dalam perekonomian Indonesia. Prasetyo (2008) menyebutkan bahwa peran UMKM di antaranya: (1) memberantas kemiskinan melalui penyediaan lapangan kerja yang luas; (2) sebagai sumber penciptaan pasar baru dan inovasi; dan (3) pemain penting dalam ketahanan ekonomi nasional dan pengembangan ekonomi lokal. Namun, peran penting belum dipahami oleh pelaku UMKM secara menyeluruh. Banyak pelaku UMKM yang terjebak dalam pola pikir “yang penting usahanya jalan”. Padahal, keberlanjutan usaha harus ditunjang dengan berbagai hal seperti pembukuan keuangan yang terstruktur, akses permodalan yang mudah, hingga perencanaan operasi dan pemasaran yang baik.

Alasan UMKM Wajib Melakukan Pembukuan

Selain itu, pemahaman akan pentingnya penyusunan pembukuan keuangan belum dimiliki oleh pelaku UMKM. Kondisi tersebut diperparah dengan tingkat pengetahuan tentang sistem pembukuan yang baik juga belum ada. Seperti pada UMKM Keripik Kentang Alfia Desa Sikunang yang tidak memiliki sistem pencatatan keuangan karena ketidakpahaman dalam menyusun pencatatan keuangan. Atas dasar itu, Mahasiswa KKN Tematik Wonosobo terjun untuk membantu memberikan pendampingan dan edukasi penyusunan laporan keuangan untuk UMKM yang ada di Desa Sikunang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.

Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, program pendampingan dilakukan dengan dua pendekatan. Pertama, pendekatan berbasis buku, yang mana menggunakan enam jenis buku, yaitu buku kas, biaya, penjualan, persediaan bahan baku, persediaan barang jadi, dan buku lain-lain. Kedua, pendekatan berbasis aplikasi dengan memanfaatkan program aplikasi Si Apik yang dikembangkan oleh Bank Indonesia. Aplikasi Si Apik menyediakan siklus akuntansi, penyusunan laporan keuangan, kinerja keuangan, bahkan hingga analisis laporan keuangan secara komprehensif.

Program Pendampingan UMKM Keripik Kentang Alfia

Dalam pelaksanaannya, pendampingan dilakukan secara rutin sebanyak tiga kali secara door to door. Pendampingan dilakukan pada UMKM Keripik Kentang Alfia yang ada di Desa Sikunang, Kecamatan Kejajar, Wonosobo. UMKM tersebut memproduksi aneka camilan berbahan kentang, seperti keripik kentang, dodol kentang, dan lainnya.

Adapun sistem pembukuan yang digunakan adalah pembukuan berbasis perusahaan manufaktur. Sistem tersebut dinilai sesuai dengan kondisi core business UMKM tersebut yang mana mengolah bahan mentah menjadi barang jadi. Kegiatan pendampingan meliputi: (1) pendampingan pencatatan transaksi ke dalam enam buku; (2) pencatatan transaksi berbasis persamaan dasar akuntansi; (3) pencatatan transaksi berbasis aplikasi; (4) penyusunan financial statement secara manual dan berbasis aplikasi; dan (5) perhitungan harga jual produk yang lebih akurat dengan mengenalkan metode Naïve Cost Plus Methode atau penentuan harga jual dengan menggunakan persentase laba yang dianggap pantas pada biaya bahan baku.

Monitoring dan evaluasi juga dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman dari materi yang diberikan. Evaluasi diberikan pada minggu selanjutnya dalam bentuk pemberian kasus transaksi akuntansi. Hasil evaluasi menunjukan tingkat pemahaman materi yang baik. Selain itu, untuk mempermudah penerapan pembukuan dikemudian hari, pelaksana program memberikan Modul Keuangan untuk UMKM yang isinya membahas mengenai panduan penyusunan pembukuan keuangan untuk UMKM.

Output yang diharapkan dari program pendampingan tersebut adalah pelaku UMKM menjadi aware terhadap penyusunan pembukuan keuangan serta menerapkan sistem pembukuan keuangan pada usahanya sehingga upaya untuk memperoleh modal tambahan menjadi lebih mudah.

Asa dalam Cita

Karya: Tarisa Rahmawati

Kuliah, suatu kata yang cerah
Cerah bagi seluruh ranah hingga dasar lembah
Bagi mereka yang berkerah hingga mereka yang menggaru tanah
Kuliah, asa dalam cita nun absah


Andai saudara tahu berapa asa atas cita Anda
Andai dikau paham bagaimana asa dalam cita Anda
Sungguh tidak akan sanggup engkau bergelar mahasiswa


Andai cakrawala mampu menyuguhkan kesedihannya atas ketidakmampuannya
Andai tambang harta karun mampu menyuarakan ketidakberhargaannya
Andai laut biru mampu menjelaskan luas dan dalamnya ketidakberdayaannya
Sungguh tidak sanggup engkau hanya mengejar gelar sarjana


Dalam satu cita Anda wahai saudara
Ada seribu asa bersama sejuta doa
Harap-harap jadi pelita dalam gulita
Harap-harap jadi penawar duka lara
Harap-harap jadi jiwa raga nusantara
Harap asa dalam cita bagi bangsa, milik bersama


Diamnya Perempuan

Karya : Arum


Puluhan juta lisan terbungkam
Luapan amarah yang seakan kau anggap sampah
Kekerasan pada perempuan tidak asing lagi
Betapa besar ketakutan yang sering dialami
Teriakan seakan lagu penghantar tidur bagi si keji
Dimana lagi tempat aman itu berada
Seakan musnah ditelan bumi


Payung hukum seolah olah diam tak bergerak
Regulasi terkait kekerasan perempuan dipinggirkan
Keadilan yang tak pernah di rasakan
Seakan – akan menjadi kutukan
Dengan kepedihan dan hujatan tanpa pembelaan
Ketakutan menjadikan ketidakberanian
Hal itulah wanita selalu terpojokan


Ku kira semestinya hidup tak saling menyakiti
Saling menjaga dan menghormati
Kasus pelecehan seksual segera diatasi
Dan untuk perempuan
Jangan putus asa dan tetaplah berjuang
Teruslah melangkah ke depan
Untuk mewujudkan cita cita yang kau pendam