Inilah Euforia Pendikar FEB 2022!

Reporter: Bella, Zhafira, Danny, Deva
Penulis: Luvita

(Undip, 21/08) Meskipun tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, pendidikan karakter
(Pendikar) tahun 2022 memberikan euforia tersendiri. Euforia ini dipicu karena adanya
kegiatan mozaik langsung di depan gedung dekanat pada hari ketiga Pendikar di Fakultas
Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip).

Seperti telah diketahui, kegiatan Pendikar tahun 2022 diselenggarakan secara luar
jaringan (luring). Pada dua hari pertama, 18 – 19 Agustus 2022, para mahasiswa baru (maba) diberikan materi-materi mengenai kehidupan kampus dan karakter seorang mahasiswa yang baik. Pemberian materi ini dilakukan dalam ruang kelas berdasarkan pembagian yang telah ditentukan untuk masing-masing kelompok. Oleh sebab itu,
pelaksanaan mozaik secara langsung di hari terakhir Pendikar FEB tanggal 20 Agustus 2022 diibaratkan sebagai hiburan dan tantangan baru setelah 2 hari mendengar banyak materi yang cukup melelahkan.

Mozaik tahun ini memiliki 3 desain utama. Ketiga desain tersebut menggambarkan
kondisi di lingkup FEB saat Pendikar tahun 2022 dilaksanakan. Desain pertama bertuliskan “ODM FEB 2022”. Desain kedua mengilustrasikan sebuah tangan yang menonjok virus Covid-19 disertai tulisan “Together we win”. Desain terakhir menggambarkan kurva inflasi disertai tulisan “Economy”.

Selain mozaik, euforia hari ketiga Pendikar FEB disemaraki pula oleh adanya kegiatan supporter-an dan acara Economic Carnival (Ecocar). Secara garis besar, supporter-an adalah kegiatan menyanyikan bersama yel-yel FEB. Salah satu yel-yel yang dinyanyikan adalah yel “Ekonomi goes marching in!”. Berbeda dari supporter-an, Ecocar adalah kegiatan pengenalan 24 organisasi mahasiswa (ormawa) di FEB Undip. Perwakilan dari berbagai ormawa yang hadir mempresentasikan organisasi mereka pada para mahasiswa baru. Selain itu, terdapat pula stand-stand bagi para oramawa untuk promosi serta stand penjualan makanan dan minuman.

PKKMB Usai, Tahap Pertama Terlewati

Penulis: Tsania

(FEB Undip, 15/8) Balon warna-warni dilepaskan Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. sebagai penanda bahwa kegiatan pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru (PKKMB) tahun 2022 di kampus kuning, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip), telah dimulai. Kegiatan ini merupakan tahap pertama rangkaian PMB di tingkat fakultas sebelum nantinya dilanjutkan oleh kegiatan pendidikan karakter (Pendikar). PKKMB 2022 berlangsung selama 2 hari, yaitu pada Senin dan Selasa, 15 – 16 Agustus 2022.

Ketika upacara pembukaan PKKMB, Prof. Suharnomo memberikan berbagai pesan kepada para mahasiswa baru. Salah satu pesan itu ialah keharusan menjaga perilaku di lingkungan kampus. “Jaga integritas diri. Sekali rusak, susah untuk memperbaikinya lagi. Anda sudah dewasa. Sekali ada pilihan, ada (juga) konsekuensi yang harus ditanggung,” pesan Prof. Suharnomo.

Setelah upacara pembukaan, PKKMB diisi dengan kegiatan materi oleh dosen-dosen di tiap departemen FEB. Materi yang dipaparkan berfokus pada pengenalan kondisi kampus, seperti tentang sistem pendidikan di perguruan tinggi, international exposure, budaya serta etika di kampus, single sign-on (SSO), dan lain sebagainya. Pemaparan materi ini kemudian dilanjutkan pada hari kedua PKKMB.

Untuk memudahkan penyampaian materi dan pengordinasian kegiatan, mahasiswa baru ditempatkan pada tiga lokasi berbeda. Lokasi pertama ialah Hall Kewirausahaan, lokasi kedua di Hall Pertamina, dan lokasi terakhir di Dome FEB. Pembagian lokasi ini ditentukan berdasarkan departemen. Departemen Manajemen di lokasi pertama, departemen Akuntansi di lokasi kedua, dan departemen Ekonomi di lokasi ketiga.

PKKMB akhirnya ditutup dengan kegiatan orasi pengenalan Organisasi Mahasiswa (ormawa). Orasi ini dilakukan oleh ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), ketua Senat Mahasiswa (SM), serta para ketua himpunan.

PMB Luring: Dari Ngga Dijemur Sampai Macet

Penulis: Luvita

(Semarang, 12/08) Pada tahun 2022, mahasiswa baru (maba) Universitas Diponegoro (Undip) merasakan pengalaman berbeda dari maba-maba tahun sebelumnya. Di tahun ini, Undip menggelar Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) secara luar jaringan yang berlokasi di Stadion Undip. Kegiatan dibagi ke dalam 2 sesi, yaitu sesi pagi pada pukul 07.00 – 10.30 dan sesi siang pada pukul 14.00 – 17.00. Rektor serta jajarannya, para dekan serta jajarannya, serta sebagian guru besar hadir pada kegiatan ini untuk menyambut para mahasiswa baru.

Dilihat dari susunan acara, kegiatan upacara PMB memiliki beberapa tujuan. Tujuan-tujuan tersebut antara lain ialah melaporkan data terkait penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2022/2023, melantik secara resmi para mahasiswa baru, dan mengamanahkan mahasiswa-mahasiswa baru tersebut kepada setiap fakultas/sekolah.

Saat keberjalanan acara, Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum., Rektor Undip periode 2019 – 2024, menyatakan bahwa Undip adalah universitas dengan berbagai pencapaian memukau. Selain itu, Undip juga adalah kampus yang menjunjung tinggi budaya, kehormatan, serta religi. “Sorry, bro! Ngga dijemur!” guyon Prof. Yos ketika pidatonya. Guyonan itu beliau jadikan sebagai salah satu tanda bahwa Undip memang menjunjung tinggi nilai-nilai yang diprioritaskannya.

Meskipun kegiatan terbagi menjadi dua sesi, yaitu sesi pagi untuk mahasiswa baru dengan nomor induk mahasiswa (NIM) ganjil dan sesi siang untuk mahasiswa baru dengan NIM genap, kemacetan tetap belum bisa dihindari. Banyaknya kendaraan pribadi pada akhirnya memenuhi bahu jalan. Berdasarkan pengakuan dari salah seorang orang tua murid, beliau memaparkan bahwa putrinya terpaksa berjalan dari bunderan Undip ke Stadion Undip. Hal tersebut menyebabkan durasi tempuh lebih lama daripada menggunakan kendaraan pada kondisi normal. Namun demikian, para mahasiswa baru tetap melakukan hal tersebut karena dikejar waktu dan parahnya kondisi lalu lintas.

Tim Reporter: Fatimah, Tsania, Hatfina, Danny

Selepas Hoax Terbitlah Utang

Pengarang: Finecia Shinta

Suatu siang, di SMA Cendekiawan, terdapat 3 sekawan yang sedang menikmati jam istirahat. Tiga sekawan itu menamai diri mereka “Remaja”. Remaja yang dimaksud ialah singkatan nama-nama mereka, yaitu Rere, Malika, dan Jamila. Mereka sudah bersama sejak taman kanak-kanak (TK), sehingga dapat dikatakan bagai 3 saudara.

Entah dari mana datangnya, Rere tiba-tiba melontarkan pernyataan yang berbalut pertanyaan. “Guys, denger-denger Indonesia itu punya utang yang bisa bikin bangkrut negara ya!?” ujar Rere. Dengan sigap, Malika menanggapi ucapan Rere tersebut.

“Hus, Rere! Kamu tau ga? Nyebar hoax itu bisa kena pasal, loh!” ujar Malika.

Malika melanjutkan pidatonya sambil mencari laman di internet tentang hukuman penyebar hoax.

“Dalam Hukum Positif Indonesia, menyebarluaskan berita hoax melalui media sosial termasuk melanggar Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, sedangkan bagi penyebar hoax dapat diancam pidana yang berdasarkan Pasal 45A ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2009!” jelasnya bagai petugas pembaca pembukaan undang-undang dasar 1945.

Tidak tinggal diam, Rere membalas, “Bentar-bentar, deh. Tadi kamu bilang nyebarin di media sosial aja, kan? Kalo kayak mulut ke mulut sama aja, ga, pasalnya?”.

Malika pun bingung ingin menjawab apa. Walau begitu, daripada Rere ngomong terus soal utang Indonesia yang membuatnya pusing, ia berkata, “Sama aja! Kenapa coba? Aku kan bisa rekam suara kamu buat jadi bukti. Terus aku viralin ke media sosial kalo kamu nyebar hoax. Wehehe!”.

Rere tak mau kalah. Dia membalas, “Lah! Berarti kamu yang nyebar, dong? Kan kamu yang bawa rekamannya, terus kamu juga yang share!”.

Malika yang tadinya ingin membuat Rere diam malah kena batunya. “Udah, lah, Re! Ga usah nambah-nambahin bebanku dengan beban negara, deh! Tugas-tugas sekolah aja udah bikin aku pusing! Terus jug…,” balas Malika yang tiba-tiba rencana curhatnya dipotong oleh Jamila.

“Udah deh, Kalian! Bisa diem, ga?! Daritadi bahas utang negara! Janji yang kemarin aja lupa! Bisa-bisa kalian kena pasal juga karena cuma nyebarin janji manis doang!” ucap Jamila yang langsung meninggalkan Malika dan Rere untuk kembali ke kelas.

“Sama aja! Kenapa coba? Aku kan bisa rekam suara kamu buat jadi bukti. Terus aku viralin ke media sosial kalo kamu nyebar hoax. Wehehe!”. Rere tak mau kalah.

Dia membalas, “Lah! Berarti kamu yang nyebar, dong? Kan kamu yang bawa rekamannya, terus kamu juga yang share!”.

Malika yang tadinya ingin membuat Rere diam malah kena batunya.

“Udah, lah, Re! Ga usah nambah-nambahin bebanku dengan beban negara, deh! Tugas-tugas sekolah aja udah bikin aku pusing! Terus jug…,” balas Malika yang tiba-tiba rencana curhatnya dipotong oleh Jamila.

“Udah deh, Kalian! Bisa diem, ga?! Daritadi bahas utang negara! Janji yang kemarin aja lupa! Bisa-bisa kalian kena pasal juga karena cuma nyebarin janji manis doang!” ucap Jamila yang langsung meninggalkan Malika dan Rere untuk kembali ke kelas.

Malika dan Rere pun terdiam dan saling bertatapan. Mereka bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

Malika bertanya pada Rere, “Lah, Re. Dia kenapa dah? Kok tiba-tiba sensi gitu?”.

Rere menjawab, “Ga tau. Kamu kali ada janji sama dia kemarin. Tapi-tapi, emang ada, ya, pasal tentang nyebarin janji manis?”.

Dengan raut muka kesal, Malika berkata, “Mulai lagi kekepoan ni anak satu. Nambah-nambahin beban pikiranku aja! Udah, yuk, balik kelas. Bentar lagi pelajaran Bu Maemunah, nih!”.

Rere pun menjawab, “Oh, iya! Ayo, yo, ayo!”. Pada akhirnya, mereka berdua kembali ke kelas, menyusul Jamila.

Sesampainya di kelas, mereka bertiga duduk di tempat masing-masing. Mereka mulai mempersiapkan buku paket dan buku tulis untuk pelajaran Bu Maemunah. Akhirnya 2 jam berlalu dan bel pulang berbunyi. Sambil merapikan tas dan bersiap untuk pulang, Rere menyanyikan sesuatu, “Mana janji manismu..,”. Malika langsung cepat-cepat menyenggol Rere dengan sikutnya. Rere terdiam. Ia memandang Malika yang sedang melihat raut muka tidak enak dari Jamila. Mata Rere pun mengikuti pandangan mata yang mengarah ke Jamila dan seketika ia merasa takut. Dia tidak menyangka bahwa leluconnya ditanggapi serius oleh Jamila. Ia kira nyanyiannya akan membuat Jamila dan Malika tertawa. Akhirnya Rere pun meminta maaf pada Jamila yang duduk tepat di belakang Malika.

“Mil, maafkan aku! Aku ada salah, ya? Beneran, deh. Aku lupa janji kemarin itu yang mana! Eh, Malika. Bantuin napa? Tadi siang, kan, Jamila bilang kita berdua yang punya janji! Ga cuma aku aja!”.

Jamila pun tidak bisa menahan tawanya. Raut mukanya yang tegang akhirnya berubah seketika. Mulutnya bergetar dan mulai tertawa terbahak-bahak.

“Ahahahaha! Aneh banget, deh, mukanya! Lagian dari tadi ngoceh mulu! Aku tuh cuma bercanda doang tapi masa, sih, kalian lupa? Jadi, kan, kalian kemarin lusa beli gorengan sama mi di warung Mbak Siti. Terus, kalian minta aku buat bayarin dulu. Kalian janji bakal bayar secepatnya. Sial banget! Sampai hari ini, tuh, perkataan kalian cuma janji manis doang!”.

Malika dan Rere pun menghela nafas lega. Ternyata Jamila tidak marah.

“Aduh. Lega banget. Aku kira kamu marah beneran, Mil. Kamu kan jarang marah. Malah kayaknya kamu itu ga pernah marah, apalagi ke kita,” ucap Rere.

Malika pun menimpali, “Iya! Bener banget! Yak! Tul! Sip! Jos!”.

Lalu mereka tertawa karena kata-kata Malika yang menirukan Bu Maemunah saat muridnya menjawab jawaban dengan benar. Setelah itu, Rere mulai berbicara lagi.

“Jamila cantiek! Utangnya dianggap lunas aja, ya? Kamu ga marah, kan?” rayu Rere.

Malika seketika ikut menimpali. “Heem, nih. Jamila yang cantiek, perhatian, sholehah, pinter menab.,” puji Malika yang tiba-tiba dipotong Jamila.

“Ga boleh! Utang is utang! Tanggung jawab! Kalian mau aku marah beneran?” tegas Jamila.

Malika dan Rere langsung sigap membalas dan menyerahkan uang yang ada di kantong mereka.

“Iya-iya. Ini uangnya,” ucap Rere terbata.

Jamila akhirnya lega dan menjawab sambil tersenyum,

“Nah! Gitu dong! Makasih, Guys!”.

Mereka akhirnya bergegas pulang ke kontrakan sambil bercanda ria.