Dua Calon Wakil Dekan FEB Undip Sampaikan Rencana Kerja dalam Rapat Senat Terbuka

Farida (Sekretaris Senat FEB Undip) bersama Dua Calon Wakil Dekan FEB Undip, Firmansyah dan Warsito

FEB Undip (24/6) – Bertempat di Hall Pertamina Gedung Dekanat FEB Undip, telah berlangsung acara Rapat Senat Terbuka dalam rangka Penyampaian Rencana Kerja Calon Wakil Dekan FEB Undip untuk periode 2019-2024. Acara ini diikuti oleh dua Calon Wakil Dekan FEB Undip, yaitu Warsito Kawedar dan Firmansyah. Rapat Senat Terbuka ini juga turut dihadiri oleh Dekan, Tenaga Pengajar, Karyawan, dan Mahasiswa FEB Undip.

Suharnomo, Dekan FEB Undip, dalam sambutannya, berharap dari acara ini dapat terpilih wakil dekan yang kompeten dan dapat membawa FEB Undip lebih baik lagi. “Semoga setelah acara ini nanti, kita dapat memperoleh orang-orang yang dapat membawa FEB Undip lebih baik lagi. Dan tentunya dapat kita dukung secara penuh”.

Keberlangsungan penyampaian rencana kerja, dimoderatori oleh Farida selaku Sekretaris Senat FEB Undip. Firmansyah menyampaikan rencana kerja dalam rangka pencalonan dirinya sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik. Sedangkan Warsito menyampaikan rencana kerja untuk posisi Wakil Dekan Bidang Sumber Daya. Berbeda dengan Susunan Kepemimpinan Dekan FEB Undip sebelumnya, untuk periode selanjutnya, wakil dekan hanya diisi oleh dua orang saja. Sedangkan periode sebelumnya berisikan empat posisi.

Firman menyampaikan rencana kerjanya terlebih dahulu. Dalam paparannya, Firman menyampaikan beberapa poin penting seperti peningkatan kualitas perpustakaan, Laboratorium Bloomberg, peningkatan kinerja International Office, optimalisasi sinergisitas dengan organisasi kemahasiswaan di FEB Undip, dan lain-lain. Terkait organisasi kemahasiswaan, Firman berencana untuk terus mempertahankan independensi organisasi mahasiswa (ormawa) yang ada di FEB Undip, agar tercipta iklim diskusi yang baik. “Kami berencana untuk terus menjaga independensi organisasi mahasiswa yang ada di sini (FEB Undip). Agar ke depannya tetap tercipta iklim diskusi yang baik,” pungkas Firman.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian rencana kerja oleh Warsito. Dalam konsep yang ia sampaikan, Bidang Sumber Daya direncanakan akan berfokus pada beberapa hal seperti Sumber Daya Manusia, E-Office, dan E-Library. Dimana hal-hal tersebut dapat dicapai dengan sepuluh program strategis. “Ke depannya saya akan berusaha mengoptimalkan apa yang sudah ada. Seperti optimalisasi di bidang akademik, penguatan kapasitas dosen, dan penguatan layanan administrasi,” tutur Warsito.

Usai penyampaian rencana kerja, acara dilanjutkan dengan penyampaian aspirasi dan pertanyaan dari peserta yang turut mengikuti rapat senat terbuka tersebut. Acara kemudian ditutup dengan foto bersama, serta disambung dengan rapat senat tertutup guna memberikan pertimbangan kepada Dekan FEB Undip.

Kontribusi Wisatawan yang Berdampak pada Sektor Perekonomian Lingkungan Pariwisata dan Meningkatnya Devisa Negara

Oleh: Mila *)

Related image
Sumber: lifestyle.okezone.com

Indonesia merupakan negara dengan berbagai bentang alam tersebar dari sabang sampai merauke. Keindahan negeri pertiwi terpancar hingga ke berbagai negara, banyak julukan dimiliki oleh negeri  ini seperti negera khatulistiwa, negeri maritim dan masih banyak lagi julukan yang dimiliki oleh negeri kita ini. Ditambah  tren yang sedang maraknya yaitu backpacking, yaitu bepergian ke suatu tempat dengan budget seminimal mungkin. Dari faktor itu dapat disimpulkan bahwa saat ini seluruh negara dengan gencar mempromosikan destinasi pariwisata yang ada di negaranya dengan melihat tren saat ini. Tidak kalah juga Indoneisa dengan brand pariwisata yaitu Wonderful Indonesia, yang mampu menarik jutaan wisatawan untuk merasakan indahnya alam Indonesia.  Dengan adanya peluang di bidang pariwisata, hal tersebut dapat mendongkrak aktivitas perekonomian di sekitar tempat pariwisata tersebut bahkan juga dapat menjadi penghasilan devisa negara terbesar.

Peningkatan Pemasukan Devisa dari Sektor Pariwisata
Dilansir dalam grafik perbandingan kunjungan bulanan wisatawan mancanegara oleh Kemenpar, kenaikan kunjungan ini membawa dampak yang positif misalnya dalam pendapatan valuta asing. Adanya pendapatan valuta asing meningkatkan pemasukan devisa negara. Tahun 2016 tercatat US$13,57 miliar pendapatan negara dari sektor pariwisata dan tahun 2017 meningkat sebesar US$17,05 miliar. Mengalahkan pendapatan negara dari sektor migas, tekstil, dan batubara. Dengan meningkatnya sektor pariwisata di Indonesia dapat meningkatkan investasi para pengusaha baik dari dalam negeri maupun luar negeri membuka lahan dan mulai berinvestasi dengan membangun berbagai properti seperti hotel, apartemen, dan hostel sebagai bisnis yang menjajikan karena faktor pariwisata Indonesia yang menonjol. Dengan adanya bisnis properti tersebut Indonesia turut mendapatkan bagian dari keuntungan tersebut melalui pajak yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

Selain melalui pendapatan valuta asing dan pendapatan pajak dari penanam modal di Indonesia, adanya lapangan pekerjaan di bidang biro perjalanan lokal yang menawarkan jasa paket tur untuk wisatawan merupakan peluang bisnis yang ideal dalam meraup keuntungan. Dan juga dapat membuka peluang bagi para pencari pekerjaan . Peluang pekerjaan tidak hanya terdapat pada biro perjalanan, tetapi juga jasa pernginapan. Hal ini dapat meningkatkan peluang peningkatan penyerapan tenaga kerja yang sebanding dengan peningkatan para pelamar kerja.

Pendapatan dari Sektor Pariwisata di Beberapa Pulau di Indonesia
Dari banyaknya destinasi wisata di Indonesia. Bali menjadi tempat yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal. Walaupun Bali termasuk pulau yang kecil tetapi keindahan destinasi wisata yang disuguhkan oleh Pulau Dewata ini sungguh menakjubkan. Mulai dari keindahan pantai hingga banyaknya pura yang menjadi tempat wisata yang wajib dikunjungi jika berkunjung ke Bali. Tingkat pengangguran terbuka di Pulau Bali menurun akibat dari meningkatnya sektor pariwisata disana yang pada Februari 2017 terdapat pengangguran terbuka sekitar 1,28% menurun menjadi 0,42% pada Februari 2018. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terdapat di beberapa wilayah di Pulau Bali seperti di Kabupaten Buleleng yang tumbuh 53,11% dan mendapatkan PAD sebesar  Rp422 Miliar pada 2017.  Denpasar memiliki tingkat PAD sebesar Rp852 Miliar, dan PAD terbesar diraih oleh Kabupaten Badung dengan nominal Rp4,17 Triliun. Dengan begini pariwisata merupakan merupakan jantung pertumbuhan ekonomi di Pulau Bali.

Sedangkan di Papua, Kepulauan Raja Ampat menjadi destinasi favorit para wisatawan. Dengan pemandangan gugusan pulau-pulau kecil dan keindahan alam bawah laut yang menakjubkan, tidak diragukan lagi bahwa dengan adanya keindahan Kepulauan Raja Ampat, Pemeritah Raja Ampat menargetkan Pendapatan Asli Daerah senilai Rp20 miliar. Setiap tahun pendapatan dari sektor pariwisata di Raja Ampat meningkat. Tahun 2016 sektor pariwisata menyumbang sebesar Rp15 miliar pada PAD. Tetapi beberapa kendala transportasi untuk mengakses tempat wisata di Papua cukup susah. Wisatawan yang ingin ke Papua harus memiliki biaya yang lebih untuk menikmati pulau dengan julukan Mutiara Hitam dari Indonesia tersebut.

Beralih ke tempat wisata lain yaitu di Pulau Komodo yang menjadi situs warisan dunia UNESCO. Keingintahuan wisatawan terhadap binatang ini, membawa mereka langsung untuk berkunjung ke Pulau Komodo dan melihat secara langsung hewan reptil tersebut. Selain itu letak Pulau Komodo yang berdekatan dengan Pulau Padar dan Pulau Rinca memberikan peluang yang menguntungkan bagi wisatawan selain melihat hewan purba tersebut, mereka juga dapat menikmati keindahan pantai di Pulau Rinca dan Pulau Padar. Pendapatan yang didapat dari sektor wisata tersebut hasilnya cukup tinggi, yaitu sebanyak RP 27 miliar lebih pada tahun 2017 didapat dari pendapatan berupa penerimaan negara buka pajak (PNBP). Dengan adanya hewan khas Indonesia tersebut diharapkan masyarakat desa di Pulau Komodo dapat membuka peluang bisnis demi kesejahteraan kehidupan dan tetap melestarikan serta menjaga kearifan lingkungan pulau tersebut.

Dampak Positif dari Sektor Pariwisata bagi Perekonomian Indonesia
Peningkatan kegiatan ekonomi akibat dari sektor pariwisata Indonesia memberikan dampak yang positif demi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Masalah kemiskinan dan pengangguran kedepannya dapat berkurang dengan membuka peluang bisnis di bidang pariwisata dan penyerapan tenaga kerja yang bekerja secara optimal. Selain itu pelestarian lingkungan pariwisata dan perlindungan terhadap hewan langka harus digalakkan mulai saat ini untuk menjaga keindahan bumi pertiwi agar tetap lestari. Kedepannya Indonesia diprediksi akan lebih aktif menerima wisatwan baik mancanegara maupun lokal, karena tigkat peningkatan promosi pariwisata Indonesia melalui program  Wonderful Indonesi. Dan diharapkan peningkatan wisatawan sejalan dengan pengembangan daerah pariwisata dengan lebih baik serta penyediaan sarana dan parsanarana yang memadai. Mungkin saja suatu saat sektor pariwisata dapat menjadi penyumbang devisa paling banyak mengalahkan ekspor minyak kelapa sawit yang masih mendominasi hingga sekarang.

*) Penulis merupakan mahasiswa Akuntansi FEB Undip angkatan 2017, Staf Divisi Artistik LPM Edents

Menuju Ekonomi Kreatif

Oleh: Rachel Ayu *)

Image result for ekonomi kreatif
Sumber: bapeda,jabarprov.go.id

Ekonomi tak terlepas dari setiap aspek kehidupan manusia. Kegiatan ekonomi pasti berlangsung dalam kehidupan sosial masyarakat, pendidikan, politik, bahkan lingkungan. Kita sebagai penerus generasi bangsa harus mengerti dan paham akan pentingnya dampak kegiatan terhadap kehidupan kita. Semakin berkembangnya zaman, pola pola kegiatan ekonomi yang lampau sudah ditinggalkan. Dahulu yang mulanya kita bertransaksi dengan bertukar barang atau yang kita kenal dengan istilah barter sudah digantikan dengan traansaksi menggunakan alat tukar yakni uang. Semakin kesini, uang pun sudah berkurang penggunaannya dan mulai muncullah e-money (electronic money) di mana uang mulai digantikan dengan kartu yang bisa kita gunakan untuk melakukan transaksi. Hal ini menunjukkan perkembangan kreativitas dan inovasi seseorang dalam melakukan transaksi. Tak hanya dari alat tukarnya saja, di era yang modern ini seseorang dituntut untuk menjadi seorang yang kreatif dan mampu mengembangkan ekonomi di lingkungan sekitarnya dengan kreatifitas yang dimiliki.

Definisi Ekonomi Kreatif
Ekonomi kreatif sudah mulai dikenal secara global sejak terbitnya buku “The Creative Economy: How People Make Money from Ideas” pada tahun 2001 oleh John Howkins. Dalam bukunya disebutkan bahwa pengertian ekonomi kreatif adalah “The creation of value as a result of idea”. Dalam acara World Intellectual Property Organization, ia juga menjelaskan ekonomi kreatif adalah “Kegiatan ekonomi dalam masyarakat yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menghasilkan ide, tidak hanya melakukan hal-hal yang rutin dan berulang. Karena bagi masyarakat ini, menghasilkan ide merupakan hal yang harus dilakukan untuk kemajuan”.

United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) juga melakukan studi pada tahun 2010 dan mendefinisikan bahwa ekonomi kreatif adalah “An evolving concept  based on creative assets potentially generating economic growth and development”, yang berarti bahwa konsep ekonomi yang berkembang berdasarkan pada aset kreatif yang berpotensi menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Dengan kata lain, konsep ekonomi kreatif lebih mengedepankan kreativitas, ide, dan pengetahuan manusia sebagai aset utama dalam menggerakkan ekonomi.

Dampak Adanya Ekonomi Kreatif
Di era modern ini, perkembangan teknologi sangatlah pesat, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa semakin cepat dan mudah untuk mengembangkan ide kreativitas yang dimiliki. Canggihnya teknologi lebih mempermudah seseorang dalam hal perancangan, pengelolaan produk, hingga pendistribusian. Kita sebagai konsumen yang juga dapat berperan sebagai produsen harus mampu membuat “ekonomi kreatif”.

Banyak hal yang bisa kita lihat dari perkembangan ekonomi kreatif, seperti usaha advertising, riset dan pengembangan, fashion, pasar barang seni, dan kuliner. Dari beberapa contoh yang ada hal-hal tersebut merupakan hal yang sering kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan adanya ekonomi kreatif, orang yang dulunya hanya sekadar mencoba-coba sekarang bisa dijadikan sebuah usaha. Seseorang yang hobi mendesain bisa menyalurkan bakatnya melalui usaha advertising, untuk yang hobi memasak bisa melalui usaha kuliner. Untuk para pencinta seni bisa menyalurkan hobinya melalu pasar seni yang di mana berupa tempat pameran, pertunjukan seni sekaligus tempat jual beli.  

Indonesia dengan Ekonomi Kreatif
Indonesia merupakan salah satu negara dengan penggerak ekonominya adalah ekonomi kreatif. Di era revolusi 4.0 menjadikan ekonomi kreatif menjadi salah satu isu strategis yang dapat digunakan sebagai pilihan strategi memenangkan persaingan global, ditandai dengan terus dilakukannya inovasi dan kreativitas guna meningkatkan nilai tambah ekonomi  melalui kapitalisasi ide kreatif. Kontribusi ekonomi kreatif semakin nyata dibuktikan dengan nilai tambah yang dihasilkan ekonomi kreatif setiap tahunnya semakin bertambah. Pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia sekitar 5,76%, di mana pertumbuhan ekonomi kreatif berada di atas pertumbuhan sektor listrik, gas dan air bersih, pertambangan dan penggalian, pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, jasa-jasa dan industri pengolahan.

Sekarang juga sudah banyak ekonomi kreatif yang mengarah Intellectual Property (IP) atau HKI. Aset bisnis ini adalah Hak Kekayaaan Intelektual (HKI). Namun, belum banyak orang yang menggandrungi bisnis ini. Seseorang yang sudah mulai merintis bisnis ini sebagian besar adalah pekerja di subsektor film, pekerja di bidang kuliner (19,75 persen) serta pengusaha televisi dan radio (16,59 persen). Pelaku di sektor lain yang belum banyak memegang HKI adalah arsitek (3,64 persen), desainer interior (5,45 persen), pengrajin kriya (6,69 persen) dan musisi (6,88 persen).

Kita tahu bahwa ekonomi kreatif tidak hanya mengenai tentang produk apa yang akan kita hasilkan, melainkan bagaimana kita akan memulai bisnis tersebut. Sebuah kreativitas seseorang tidak dibatasi oleh produk, tapi kita dapat mengembangkannya dalam berbagai aspek. Ekonomi kreatif juga menunjang pertumbuhan ekonomi bangsa di mana tingkat pertumbuhan ekonominya menjadi meningkat.

*) Penulis merupakan mahasiswa Akuntansi FEB Undip angkatan 2018, Magang Divisi Redaksi LPM Edents

Apa Kabar Ekonomi Indonesia? Kau Tak Apa-Apa Kan Setelah ‘Adu Jotos’ Pemilu 2019?

Oleh: Prastio Anggoro *)

Image result for perekonomian indonesia
Sumber: maxmanroe.com

Selalu menjadi hal yang menarik ketika kita membahas isu politik, terlebih pemilu yang akhir-akhir ini terjadi. Banyak hal yang menjadi tantangan Indonesia dalam penyambutan pesta demokrasi lima tahunan ini. Bagaimana ketika diawal pemilu pun sudah banyak hal yang menarik perhatian yang mengiringi intisari dari pemilu itu sendiri, yakni adu gagasan para calon presiden dan wakil presiden yang maju dikontestasi pemilu tahun ini. Layaknya sedang meracik masakan, hoax & isu SARA menjadi bumbu-bumbu awal yang tidak baik untuk pesta rakyat kali ini. Dilanjutkan dengan siraman atas nama agama yang dilibatkan dalam prosesnya. Hingga puncaknya terjadi aksi oleh oknum yang menciderai kesucian pesta ini yang membuat kondisi negeri carut-marut dan dalam kondisi yang menegangkan. Banyak hal yang rasanya membuat politik menjadi bahasan menarik sekaligus menjadi kejenuhan netizen negeri ini, tetapi kita kali ini tidak akan membahas politik itu secara mendalam, kita ingin melihat aspek lain yang menjadi korban dari kejadian politik yang terkena dampak paling signifikan yakni bidang ekonomi Indonesia. Investasi barangkali menjadi sektor yang seharusnya terkena imbas yang paling signifikan.


Sebuah Paradoks Pemilu
Menurut logika ekonomi, ketika terjadi situasi politik yang tidak baik, maka persepsi investor akan iklim investasi di Indonesia juga akan menurun sehingga logikanya investasi juga akan mengalami penurunan. Mungkin kita bisa sedikit flashback ke belakang, dimana pada tahun 1998 silam nilai tukar rupiah terhadap dolar menurun pada pembukaan pasar valas tahun 1998. Bahkan, pada akhir Desember tercatat nilai tukarnya senilai Rp5.050 dan melemah jadi Rp6.000. Melemahnya kurs rupiah juga memicu jatuhnya indeks harga saham di Jakarta Stock Exchange sebesar 400 poin. Bisa dibilang situasi politik yang saat itu tidak karuan hingga puncaknya menuntut rezim Soeharto turun sangat berdampak pada perekonomian Indonesia. Bagaimana
sejarah telah membuktikan bagaimana dahsyatnya kekuatan politik terhadap sektor ekonomi. Namun, ibarat sebuah paradoks, yang terjadi pada tahun politik sekarang justru sebaliknya. Data realisasi investasi Triwulan I (periode Januari – Maret) tahun 2019 mencapai total investasi sebesar Rp 195,1 triliun. Angka tersebut naik 5,3% dibanding periode yang sama tahun 2018, yaitu sebesar Rp 185,3 triliun. Nilai investasi selama Triwulan I Tahun 2019 untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 87,2 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 107,9 triliun. Selama periode Triwulan I Tahun 2019, tenaga kerja yang terserap adalah sebanyak 235.401 tenaga kerja Indonesia. Sistem perizinan yang terintegrasi berbasis online atau Online Single Submission (OSS) yang menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mempercepat kemudahan berusaha yang diluncurkan bulan Juni 2018, kemudahan perizinan investasi dan kebijakan pemerintah lainnya sepertinya yang membuat investasi Indonesia tetap stabil meski diterjang badai politik.

Selain itu, seperti yang dikatakan oleh Kepala BKPM Thomas Lembong pada Detik.com bahwasanya Ia bersyukur adanya tren peningkatan investasi di luar Jawa, yang tumbuh sebesar 16,7% bila dibandingkan dengan Triwulan I Tahun 2018. Capaian ini disumbang oleh investasi di Indonesia bagian timur, khususnya di sektor pengolahan hasil tambang yang sangat penting untuk peningkatan ekspor. Pada periode Triwulan I Tahun 2019 realisasi investasi di luar Jawa sebesar Rp85,8 triliun meningkat 16,7% dari periode yang sama pada tahun 2018 sebesar Rp73,5 triliun. Lantas, apakah ini adalah efek pembangunan infrastruktur yang digaung-gaungkan oleh pemerintahan Jokowi? Tercatat anggaran belanja infrastruktur di tahun 2019 mencapai Rp 420 triliun. Angka ini meningkat sebesar 157% dari tahun 2014 yang hanya Rp 163 triliun. Total 3.432 kilometer jalan, 947 kilometer jalan tol, 19 pelabuhan baru dan masih banyak infrastruktur lainnya yang telah dibangun di era empat tahun keberlangsungan pemerintahan Jokowi yang semuanya tersebar dari ujung barat sampai ujung Merauke. Hal itu yang nampaknya membuat investasi sektor pariwisata menjadi cukup menggairahkan bagi investor. Dimana adanya infrastruktur yang memadai yang telah menyentuh surga tersembunyi Indonesia membuat investor mulai beralih ke sektor ini, Sektor pariwisata di Indonesia bagian timur menjadi potensi untuk terus dikembangkan, terutama pariwisata bahari maupun wisata minat khusus, yang tentunya akan dapat mendiversifikasi destinasi wisata di Indonesia. Terlepas dari situasi politik yang terjadi saat ini, nampaknya selama kita membuat kebijakan yang pro-investasi dan kebijakan lainnya membuat hal tersebut tidak berpengaruh terhadap iklim investasi di Indonesia. Boleh jadi, situasi ekonomi global lah yang harus kita waspadai seperti perang dagang AS dengan Tiongkok sembari juga mewasadai situasi perekonomian dalam negeri.

Lantas, apakah ini adalah efek pembangunan infrastruktur yang digaung-gaungkan oleh pemerintahan Jokowi?
Tercatat anggaran belanja infrastruktur di tahun 2019 mencapai Rp 420 triliun. Angka ini meningkat sebesar 157% dari tahun 2014 yang hanya Rp 163 triliun. Total 3.432 kilometer jalan, 947 kilometer jalan tol, 19 pelabuhan baru dan masih banyak infrastruktur lainnya yang telah dibangun di era empat tahun keberlangsungan pemerintahan Jokowi yang semuanya tersebar dari ujung barat sampai ujung Merauke. Hal itu yang nampaknya membuat investasi sektor pariwisata menjadi cukup menggairahkan bagi investor. Dimana adanya infrastruktur yang memadai yang telah menyentuh surga tersembunyi Indonesia membuat investor mulai beralih ke sektor ini, Sektor pariwisata di Indonesia bagian timur menjadi potensi untuk terus dikembangkan, terutama pariwisata bahari maupun wisata minat khusus, yang tentunya akan dapat mendiversifikasi destinasi wisata di Indonesia. Terlepas dari situasi politik yang terjadi saat ini, nampaknya selama kita membuat kebijakan yang pro-investasi dan kebijakan lainnya membuat hal tersebut tidak berpengaruh terhadap iklim investasi di Indonesia. Boleh jadi, situasi ekonomi global lah yang harus kita waspadai seperti perang dagang AS dengan Tiongkok sembari juga mewasadai situasi perekonomian dalam negeri.

*) Penulis merupakan mahasiswa Manajemen FEB Undip angkatan 2017, Staf Divisi Marketing and Communication LPM Edents

Koran Edents

Koran Edents merupakan salah satu produk LPM Edents yang terbit 2 (dua) minggu sekali. Produk ini menyuguhkan berita-berita seputar kampus (tingkat fakultas/universitas) yang dikupas secara lebih mendalam.

Anda dapat membaca seluruh koran kami secara gratis melalui tautan berikut:

Koran terbit di tahun 2022:

Koran terbit di tahun 2021:
Koran Edents Vol. 6 Tahun 2021
Koran Edents Vol. 5 Tahun 2021
Koran Edents Vol. 4 Tahun 2021
Koran Edents Vol. 3 Tahun 2021
Koran Edents Vol. 2 Tahun 2021
Koran Edents Vol. 1 Tahun 2021

Koran terbit di tahun 2020:
Koran Edents Vol. 1 Tahun 2020
Koran Edents Vol. 2 Tahun 2020
Koran Edents Vol. 3 Tahun 2020
Koran Edents Vol. 4 Tahun 2020
Koran Edents Vol. 5 Tahun 2020
Koran Edents Vol. 6 Tahun 2020
Koran Edents Vol. 7 Tahun 2020
Koran Edents Vol. 8 Tahun 2020
Koran Edents Vol. 9 Tahun 2020
Koran Edents Vol. 10 Tahun 2020

Koran terbit di tahun 2019:
Koran Edents Volume 1 Tahun 2019
Koran Edents Volume 2 Tahun 2019
Koran Edents Volume 3 Tahun 2019
Koran Edents Volume 4 Tahun 2019
Koran Edents Volume 5 Tahun 2019
Koran Edents Volume 6 Tahun 2019
Koran Edents Volume 7 Tahun 2019
Koran Edents Volume 8 Tahun 2019
Koran Edents Volume 9 Tahun 2019
Koran Edents Volume 10 Tahun 2019

Koran terbit di tahun 2018:
Koran Edents Volume 1 Tahun 2018
Koran Edents Volume 2 Tahun 2018
Koran Edents Volume 3 Tahun 2018
Koran Edents Volume 4 Tahun 2018
Koran Edents Volume 5 Tahun 2018
Koran Edents Volume 6 Tahun 2018
Koran Edents Volume 7 Tahun 2018
Koran Edents Volume 8 Tahun 2018
Koran Edents Volume 9 Tahun 2018
Koran Edents Volume 10 Tahun 2018
Koran Edents Volume 11 Tahun 2018
Koran Edents Volume 12 Tahun 2018

Koran terbit di tahun 2017:
Koran Edents Volume 1 Tahun 2017
Koran Edents Volume 2 Tahun 2017
Koran Edents Volume 3 Tahun 2017
Koran Edents Volume 4 Tahun 2017
Koran Edents Volume 5 Tahun 2017
Koran Edents Volume 6 Tahun 2017
Koran Edents Volume 7 Tahun 2017
Koran Edents Volume 8 Tahun 2017
Koran Edents Volume 9 Tahun 2017
Koran Edents Volume 10 Tahun 2017
Koran Edents Volume 11 Tahun 2017
Koran Edents Volume 12 Tahun 2017
Koran Edents Volume 13 Tahun 2017
Koran Edents Volume 14 Tahun 2017

Kritik dan saran sangat kami harapkan bagi Anda semua yang sudah bersedia membaca produk kami. Selamat membaca!

Buletin Erlangga 17

Buletin Erlangga 17 merupakan salah satu produk LPM Edents yang terbit tiga bulan sekali. Produk ini menyuguhkan berita-berita seputar kampus (tingkat fakultas/universitas) yang dikupas secara lebih mendalam.

Anda dapat membaca seluruh buletin kami secara gratis melalui tautan berikut:

Buletin terbit di tahun 2022:

r

Buletin terbit di tahun 2021:
Buletin Erlangga 17 Edisi Maret
Buletin Erlangga 17 Edisi Agustus
Buletin Erlangga 17 Edisi November

Buletin terbit di tahun 2020:
Buletin Erlangga 17 Edisi Maret 2020
Buletin Erlangga 17 Edisi Mei 2020
Buletin Erlangga 17 Edisi September 2020
Buletin Erlangga 17 Edisi Oktober 2020

Buletin terbit di tahun 2019:
Buletin Erlangga 17 Edisi Oktober 2019
Buletin Erlangga 17 Edisi September 2019
Buletin Erlangga 17 Edisi Maret 2019
Buletin Erlangga 17 Edisi Mei 2019

Buletin terbit di tahun 2018:
Buletin Erlangga 17 Edisi April 2018
Buletin Erlangga 17 Edisi Mei 2018
Buletin Erlangga 17 Edisi September 2018
Buletin Erlangga 17 Edisi November 2018

Buletin terbit di tahun 2017:
Buletin Erlangga 17 Edisi April 2017
Buletin Erlangga 17 Edisi Juni 2017
Buletin Erlangga 17 Edisi September 2017
Buletin Erlangga 17 Edisi November 2017

Buletin terbit di tahun 2016:
Buletin Erlangga 17 Edisi April 2016
Buletin Erlangga 17 Edisi Mei 2016
Buletin Erlangga 17 Edisi September 2016
Buletin Erlangga 17 Edisi Oktober 2016

Kritik dan saran sangat kami harapkan bagi Anda semua yang sudah bersedia membaca produk kami. Selamat membaca!

Visi & Misi

Visi: Mengembangkan mahasiswa jurnalistik independen yang berdinamika intelektual dalam kerangka kekeluargaan

Misi:

  1. Kontrol Sosial;
  2. Melakukan Kajian-kajian kebijakan di tingkat Fakultas, Universitas, dan Nasional;
  3. Laboratorium (Organisasi belajar);
  4. Mengembangkan karakteristik yang humanis dan praktis (verbal dan aktivis);
  5. Membangun jaringan kerja dan komunikasi antar Pers Mahasiswa yang mampu menghubungkan secara sinergis penglaman-pengalaman yang ada.

Sejarah

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edents Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro lahir pada tanggal 8 Mei 1976. Berusia 43 tahun pada tahun ini (2019), menjadikan Edents sebagai salah satu Lembaga Pers Mahasiswa tertua se-Jawa Tengah. Edents juga merupakan organisasi mahasiswa di FEB yang pertama kali berdiri setelah Badan Eksekutif Mahasiswa dan Senat Mahasiswa. Lebih dari empat dasawarsa yang lalu, produk Edents hanya berupa kumpulan tulisan pendek seputar masalah ekonomi yang dikemas dalam satu cetakan sederhana.

Lahirnya Edents merupakan hasil dari pemikiran mengenai suatu media yang dinilai dapat mewadahi aspirasi mahasiswa FEB. Sosok di balik berdirinya Edents adalah Alm. Syafrudin, Apang Suryaningrum dan Joko Suroso. Nama Edents (Economic Students) terinspirasi dari nama sekolompok kalangan eksekutif mahasiswa FEB dengan menempati salah satu ruang di FEB yang kala itu masih berada di Jalan Bodjong (sekarang Jalan Pemuda).

Pada awal berdiri, Edents memiliki masa-masa sulit selama dua tahun, namun kehadiran Sasongko Tedjo (Peminpin Redaksi Suara Merdeka saat ini) memberikan nafas baru bagi Edents yang tengah mati suri. Kini, di usianya yang ke-43 tahun, Edents telah menghasilkan berbagai produk seperti majalah, koran, buletin, berita online, infografis, Edents TV, dan buku Seri Pemikiran Mahasiswa (SPM). Edents telah melahirkan nama-nama besar seperti Sasongko Tedjo yang saat ini menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Enny Sri Hartati yang tengah menjabat sebagai Direktur Institute of Development of Economics and Finance (INDEF), Erwin Haryono yang menjabat sebagai Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di New York, dan masih banyak nama lagi.

Pada usianya yang terus bertambah, Edents selalu berusaha agar mampu menjadi lembaga pers mahasiswa yang independen dan kredibel. Kami berkomitmen untuk selalu memberitakan fakta dan terus melakukan kontrol sosial guna mewujudkan keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat. Terakhir, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada para pembaca setia yang selalu menunggu produk-produk kami. Kritik dan saran selalu kami tunggu untuk LPM Edents yang lebih baik.

Majalah Edents

Majalah merupakan produk dari LPM Edents yang mengangkat tema soal ekonomi. Di mana tema ini akan dikombinasikan dengan bidang-bidang lain seperti teknologi, politik, pendidikan, dan lain-lain. Produk ini terbit selama 2 (Dua) kali dalam satu tahun, dalam bentuk cetak dan juga digital.

Anda dapat membaca seluruh majalah kami melalui tautan berikut:

Kritik dan saran sangat kami harapkan bagi Anda semua yang sudah bersedia membaca produk kami. Selamat membaca!