Kenaikan Pajak Ekstrem Picu Demo: Buah Kebijakan Efisiensi?

Di tengah tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, lonjakan ekstrem Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) telah memicu gelombang protes yang meluas di berbagai daerah. Kenaikan yang mencapai ratusan hingga ribuan persen—tercatat diantaranya di Kota Cirebon (1000%), Kabupaten Jombang (800%), Kabupaten Semarang (400%), Kabupaten Bone (300%), dan Kabupaten Pati (250%)—menjadi pemicu utama kemarahan publik. Puncaknya terjadi pada Agustus 2025, ketika aksi massa pecah serentak, menegaskan bahwa ini bukanlah sekadar anomali lokal, melainkan sebuah masalah sistemik.

Diwarnai tensi yang memanas hingga kericuhan di beberapa titik, tuntutan massa pun beragam: mulai dari desakan pembatalan kebijakan, transparansi perhitungan pajak, hingga seruan pemakzulan kepala daerah. Salah satu eskalasi protes terbesar dan paling disorot terjadi di Kabupaten Pati, di mana kemarahan publik berujung pada tuntutan pemakzulan.

Demonstrasi di Kabupaten Pati: Tuntutan Pemakzulan Bupati

Puncak protes terjadi di Kabupaten Pati pada Rabu (13/8/2025), di mana 25.000 orang memadati alun-alun. Aksi ini tercatat sebagai demonstrasi terbesar dalam rentetan penolakan kenaikan PBB-P2 di berbagai daerah dan menjadi pemicu bagi daerah-daerah lain untuk menggelar aksi serupa. Para demonstran menolak kebijakan Bupati Sudewo yang menaikkan PBB-P2 hingga 250%. Respons awal dari pemerintah daerah cenderung defensif. Bupati Sudewo sempat mengeluarkan pernyataan yang dianggap menantang publik untuk berdemonstrasi.

“Jangankan 5 ribu orang yang demo, 50 ribu orang yang demo pun tidak akan membatalkan kebijakan PBB,” ujar Sudewo menanggapi ancaman demo.

Pernyataan tersebut menjadi bumerang. Unjuk rasa yang semula damai berubah tegang ketika Bupati Sudewo mencoba berdialog namun disambut lemparan botol oleh massa. Akibatnya, tuntutan massa tidak lagi sebatas pembatalan kenaikan pajak, tetapi bereskalasi menjadi seruan pemakzulan bupati. Dihadapkan pada tekanan yang tak kunjung surut, Bupati Sudewo akhirnya menyerah, meminta maaf secara terbuka, dan membatalkan total kebijakan tersebut. Demonstrasi di Pati menunjukkan bahwa keputusan yang diambil tanpa dialog terbuka dan membebani masyarakat dapat dengan cepat berubah menjadi krisis legitimasi politik bagi seorang kepala daerah.

Demonstrasi di Kabupaten Bone: Eskalasi Kekerasan dan Intervensi Atasan

Demonstrasi yang memanas juga menjalar hingga Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan pada Selasa (19/8/2025). Ribuan warga yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bone Bersatu turun ke jalan untuk memprotes kebijakan kenaikan PBB 300% di depan Kantor Bupati. Aksi demonstrasi sempat tidak menemukan titik terang, hingga akhirnya bereskalasi menjadi kericuhan fisik. Aksi massa yang memanas direspon oleh aparat keamanan dengan tembakan gas air mata, yang kemudian dibalas dengan lemparan batu oleh para demonstran.

Demonstran menuntut diadakannya dialog secara terbuka. Mereka secara spesifik mempertanyakan dasar perhitungan di balik kenaikan 300% dan menuntut pemerintah daerah untuk duduk bersama dengan semua pemangku kepentingan, termasuk perwakilan masyarakat, Bapenda, dan DPRD, untuk mencari solusi yang adil.

Setelah terjadi kekerasan, pemerintah daerah menunda dan akhirnya membatalkan kebijakan kenaikan PBB. Namun, isu kekerasan di Bone membuat pemerintahan yang lebih tinggi melakukan intervensi. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, melalui Sekretaris Daerah Jufri Rahman, secara terbuka mendukung penundaan tersebut dan mengutip adanya edaran dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang menginstruksikan agar kebijakan kenaikan PBB dihentikan jika menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Intervensi dari pusat dianggap terlambat dan cenderung bersifat reaktif setelah kericuhan mulai menjadi pemberitaan.

Demonstrasi di Kota Cirebon: Kenaikan Fantastis hingga Solusi Tambal Sulam

Kota Cirebon menjadi contoh paling ekstrem dari rentetan fenomena ini. Sejak tahun 2024, berdasarkan Perda Nomor 1 Tahun 2024, tarif PBB di kota ini melonjak hingga 1.000% untuk beberapa objek pajak. Dampak kebijakan ini terhadap warga biasa tergambar jelas oleh kasus seorang warga Cirebon, dilansir dari saluran YouTube KOMPASTV pada Selasa (19/8/2025). Yayat, seorang buruh las yang tagihan PBB rumahnya meroket dari Rp389.000 pada tahun 2022 menjadi Rp2,3 juta pada tahun 2024, mengakui bahwa kenaikan tersebut sangat memberatkannya.

“…gaji saya yang setiap minggu diambil untuk makan keluarga hari-hari anak bayar anak sekolah sangat memberatkan sekali pak. Harapan saya PBB-nya diturunkan lagi seperti tahun 2023…” ujar Yayat.

Meskipun kenaikan sudah terjadi dari tahun 2024, akibat rentetan aksi massa di berbagai daerah, eskalasi protes yang sebelumnya bersifat individual berubah menjadi aksi massa pada Selasa (12/8/2025). Paguyuban Pelangi Cirebon turun ke jalan untuk memprotes kenaikan yang “tidak masuk akal” di tengah perekonomian yang sedang lesu. Massa mendesak pemerintah daerah segera mencabut Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2024 yang dinilai memberatkan warga.

Menghadapi potensi gejolak, respon Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, adalah dengan tidak memberlakukan Perda tersebut dan menawarkan solusi jangka pendek yang bersifat tambal sulam: memberikan “diskon 50%” untuk pembayaran PBB. Meskipun dimaksudkan untuk meringankan beban, kebijakan diskon ini tidak menyentuh akar masalah, yaitu struktur tarif dalam Perda yang secara fundamental tidak realistis.

Di Balik Kenaikan Pajak Ekstrem

Akar masalah dari gejolak ini dapat ditelusuri pada kebijakan efisiensi yang diterapkan oleh pemerintah pusat. Menurut analisis Trubus Rahadiansyah, seorang analis kebijakan publik, kebijakan efisiensi berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 berdampak langsung pada dana transfer ke daerah, khususnya Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik. Dalam wawancaranya yang dilansir dari saluran YouTube KOMPASTV (19/8/2025), ia menyatakan bahwa pemotongan ini menyebabkan banyak program pembangunan infrastruktur di daerah terhambat. Selain itu, kebijakan efisiensi lain—seperti larangan bagi instansi pemerintah untuk menyelenggarakan kegiatan di hotel—turut memangkas sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Di tengah tekanan ganda ini, Trubus menyoroti kurangnya inovasi dari pemerintah daerah untuk menambal kekurangan anggaran. “Persoalannya, banyak daerah tidak bisa menerapkan apa yang disebut ‘entrepreneur government’. Harusnya kepala daerah berinovasi dan kreatif mencari sumber-sumber [pendapatan] lain, tidak hanya mengandalkan cara instan seperti menaikkan pajak dan retribusi,” tandasnya. Dengan kata lain, gejolak ini berakar dari dua masalah utama: kebijakan efisiensi pusat yang membebani keuangan daerah, serta respons pemerintah daerah yang cenderung instan dan sepihak. Alih-alih membangun struktur ekonomi lokal yang kuat melalui inovasi, beban anggaran justru dilimpahkan kepada masyarakat melalui kenaikan pajak yang ekstrem.

Refrensi

Tirto.id. (2025, 14 Agustus). Daftar Daerah yang Naikkan PBB Ratusan Persen Selain Pati. Tirto.id. Diakses pada 24 Agustus 2025, dari https://tirto.id/daftar-daerah-yang-naikkan-pbb-ratusan-persen-selain-pati-hfPA

Kompas.com. (2025, 18 Agustus). Warga Protes PBB Naik 1.000 Persen, Walkot Cirebon Malah Kasih Diskon 50 Persen. Kompas.com. Diakses pada 24 Agustus 2025, dari https://bandung.kompas.com/read/2025/08/18/053800678/warga-protes-pbb-naik-1.000-persen-walkot-cirebon-malah-kasih-diskon-50?page=all

KOMPASTV. (2025, 19 Agustus). Warga Cirebon Keluhkan Kenaikan PBB, Tagihan Naik dari Rp389 Ribu Jadi Rp2,3 Juta | BERUT [Video]. YouTube. Diakses pada 24 Agustus 2025, dari https://www.youtube.com/watch?v=vY4Z2wEJS1c

KOMPASTV. (2025, 19 Agustus). [FULL] Analis Blak-Blakan Kenaikan Pajak di Sejumlah Daerah, Pemerintah Cari Solusi Instan? [Video]. YouTube. Diakses pada 24 Agustus 2025, dari https://www.youtube.com/watch?v=wAMPk69gh4w

kumparanNEWS. (2025, 13 Agustus). Ucapan Sudewo yang Picu Demo Besar di Pati. kumparan. Diakses pada 24 Agustus 2025, dari https://kumparan.com/kumparannews/ucapan-sudewo-yang-picu-demo-besar-di-pati-25eCxQTVtYo

Jakarta Satu. (2025, 20 Agustus). Gelombang Protes Tolak Kenaikan Pajak Menandakan Pemda Tak Bisa Semena-mena. Jakarta Satu. Diakses pada 24 Agustus 2025, dari https://jakartasatu.com/2025/08/20/gelombang-protes-tolak-kenaikan-pajak-menandakan-pemda-tak-bisa-semena-mena/

Penulis: Royhan

Relawan Pemilah Sampah: Wajah Hijau di Balik Megahnya ODM Undip 2025

Semarang (23/08) – Panggung megah Orientasi Diponegoro Muda (ODM) Undip 2025 tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk peran BEM Undip bidang Lingkungan Hidup yang bertugas menjaga kebersihan dengan melakukan pemilahan sampah. 

Menurut Nandana Geraldi, mahasiswa FPIK angkatan 2023, tim pemilah sampah merupakan bagian dari program Green Dips Scholarship yang dikelola BEM Undip bidang Lingkungan Hidup. Ia menuturkan bahwa program ini terbuka untuk seluruh mahasiswa, dengan informasi pendaftaran yang diperoleh melalui akun Instagram BEM Undip, LH BEM Undip, dan Green Dips Scholarship.

Nanda menuturkan jika relawan Green Dips Scholarship tidak tergabung dalam kepanitian resmi ODM Undip 2025, sehingga dapat disebut sebagai panitia eksternal. Ia juga mengaku motivasinya mengikuti kegiatan ini adalah untuk mencari pengalaman, mengisi waktu luang, sekaligus menikmati konser ODM secara gratis. 

Para relawan diwajibkan hadir sejak pukul 03.30 WIB di Stadion Undip. “Persiapan sebelum berangkat jam 3 pagi kemarin sudah ada meeting melalui link teams, itu briefing terkait teknisnya, pembagian tim, dan jobdesc masing – masing.” ujar Nanda.

Tugas relawan dibagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu tim edukator yang memberi edukasi pemilahan sampah, tim logistik yang menyiapkan trash bag dan perlengkapan lain, tim runner yang membawa trash bag menuju tim pemilah, serta tim pemilah yang memisahkan sampah berdasarkan kategori. Nanda menambahkan, khusus untuk tim pemilah merupakan tim tambahan karena dari mahasiswa baru harus sudah memilah sendiri sampahnya.

Jenis-jenis sampah yang dipilah disampaikan oleh Nanda ada lima. Jenis pertama yaitu plastik yang ada di dalam kotak makan atau yang sudah terkontaminasi oleh makanan, jenis sampah ini merupakan sampah residu. Jenis kedua yaitu mika yang merupakan residu juga dengan trash bag berwarna hitam. Jenis ketiga yaitu sendok, garpu, dan botol minum dengan trash bag berwarna hijau. Jenis keempat yaitu kertas atau karton yang masih dapat dimanfaatkan dengan trash bag berwarna kuning. Sampah dengan trash bag warna kuning akan dijual dan hasil penjualannya akan dialokasikan untuk Green Dips Scholarship. Jenis kelima yaitu sisa makanan dengan trash bag berwarna ungu, yang nantinya akan diolah menjadi pakan maggot, pupuk, dan kebutuhan lain.

Meski lelah, Nanda menilai pengalaman ini sangat berkesan. “Melihat mahasiswa-mahasiswa baru yang penuh semangat jadi tambah semangat. Harapannya semoga Undip semakin bermartabat, bermanfaat, dan jaya jaya juara!” tuturnya. 

Reporter : Shafa, Sabrina

Penulis : Shafa

ODM Undip 2025: Dari Edukasi Finansial hingga Harmoni Bersama Maliq & D’Essentials

Semarang (23/08) – Orientasi Diponegoro Muda (ODM) merupakan gerbang awal bagi mahasiswa baru Universitas Diponegoro dalam memasuki kehidupan kampus. Agenda tahunan ini bukan sekadar seremoni penyambutan, tetapi juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai luhur Undip, membuka wawasan, menumbuhkan rasa bangga pada almamater, sekaligus membentuk karakter mahasiswa yang berlandaskan filosofi COMPLETE.

Setelah menjalani PPKMB serta ODM di tingkat fakultas, tibalah mahasiswa baru pada puncak ODM Undip 2025 yang berlangsung di Stadion Undip pada Sabtu, 23 Agustus 2025. Sejak pukul 05.30 pagi, ribuan mahasiswa baru telah memadati stadion dengan dresscode hijau mint lengkap dengan udeng Jawa, menghadirkan lautan warna seragam yang mencerminkan kesatuan dan kebersamaan. Antusiasme yang membuncah terus terjaga hingga acara ditutup pada pukul 13.00 siang.

Mengangkat tema “Smart Spending, Big Thinking”, ODM tahun ini menyoroti pentingnya literasi keuangan bagi generasi muda. Tema tersebut dipilih sebagai respons terhadap fenomena gaya hidup konsumtif dan maraknya perilaku fear of missing out (fomo) di kalangan Gen Z. Melalui tema ini, mahasiswa baru diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berani, visioner, serta mampu mengelola keuangan secara bijak, terutama bagi mereka yang harus hidup mandiri sebagai perantau jauh dari orang tua.

ODM 2025 juga menegaskan lima pilar nilai yang akan menjadi fondasi Diponegoro Muda: mandiri, konsisten, bijak, integritas, dan humanis.
“Universitas ini mewarisi semangat Pangeran Diponegoro. Kita memang bukan pendiri, tetapi kita adalah pewaris nilai-nilai Pangeran Diponegoro—nilai jujur, berani, dan adil,” tutur Prof. Suharnomo, Rektor Universitas Diponegoro, dalam sambutannya yang disambut dengan sorakan penuh semangat dari ribuan mahasiswa baru.

Kemeriahan ODM 2025 semakin terasa dengan kehadiran maskot baru, Ganeo, Garuda Diponegoro yang gagah. Sosok Ganeo bukan hanya simbol, melainkan representasi nilai integritas, keberanian, dan semangat kebersamaan. Kehadirannya menegaskan bahwa keberagaman mahasiswa Undip adalah sumber kekuatan, bukan penghalang, dalam melangkah menuju perjalanan akademik maupun pengabdian masyarakat.

Rangkaian acara dimulai dengan atraksi mozaik, di mana setiap mahasiswa memegang kertas warna sesuai pola dan nomor tempat yang telah ditentukan untuk membentuk gambar besar yang menyimbolkan semangat persatuan. Dilanjutkan dengan atraksi udara dari dua paramotor yang membentangkan bendera Universitas Diponegoro dan ODM Undip yang diterbangkan langsung dari Bukit Ungaran,mencuri perhatian seluruh peserta.

Suasana stadion kemudian semakin ramai dengan parade organisasi kemahasiswaan (ormawa) Undip. Parade ini menjadi momen penting bagi mahasiswa baru untuk mengenal ragam organisasi yang kelak bisa menjadi wadah pengembangan diri, baik di bidang akademik, minat bakat, maupun advokasi mahasiswa.

Tidak hanya parade, beragam hiburan juga disuguhkan dengan konsep yang dikemas apik. Mulai dari penampilan tarian EconoRhythm hingga pertunjukan Mahakarya yang menggabungkan drama dengan koreografi tari modern. Perpaduan tersebut berhasil menyampaikan pesan nilai dengan cara yang kreatif dan menghibur.

Salah satu sesi yang paling ditunggu adalah Dipscussion bersama aktris sekaligus penyanyi Cinta Laura. Pada kesempatan ini, Cinta berbagi pengalamannya dalam mengatur keuangan secara bijak sejak dini.“Fun fact, sampai sekarang aku punya excel spreadsheet di mana aku menulis pengeluaran aku setiap hari,” ungkap Cinta, disambut gelak tawa dan tepuk tangan mahasiswa baru. Ia juga membagikan kisah pribadinya saat pertama kali beradaptasi sebagai mahasiswa di New York, sebuah pengalaman yang memberi motivasi bagi mahasiswa baru untuk lebih mandiri dan disiplin.

Acara kemudian berlanjut dengan orasi dari 12 Ketua BEM Fakultas dan Sekolah Vokasi, yang masing-masing menyoroti kelebihan dan kekurangan dari fakultasnya. Orasi tersebut ditutup dengan pidato dari Aufa Atha Ariq, Ketua BEM Undip 2025. Setelah menyampaikan orasinya, para ketua BEM berdiri di tengah lapangan dengan bendera identitasnya masing-masing. Momen ini semakin kuat ketika mereka secara kompak mengenakan kaos bertuliskan “Bebaskan Kawan Kami”, sebagai bentuk seruan solidaritas untuk kawan-kawan mahasiswa yang masih memperjuangkan keadilan.

Puncak acara ditandai dengan keynote speech Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Arman Sulaiman, yang menyampaikan pesan inspiratif mengenai peran generasi muda dalam membangun kemandirian bangsa, khususnya di bidang pangan dan pertanian. Suasana kemudian beralih ke momen hiburan penutup yang ditunggu-tunggu: penampilan band Maliq & D’Essentials. Dengan membawakan deretan lagu populernya, Maliq & D’Essentials berhasil membuat seluruh stadion bergemuruh, menutup ODM Undip 2025 dengan meriah sekaligus meninggalkan kesan mendalam bagi para mahasiswa baru

Reporter : Sabrina,Shafa 

Penulis : Sabrina 

Yellow Fest 2025: Inside Out, Bermula dari Rasa, Bertumbuh dengan Makna

Semarang (22/08) – Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro kembali menggelar acara tahunannya yakni Yellow Fest yang diselenggarakan oleh Divisi Harmonisasi Kampus (Harkam) BEM FEB. Acara ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa baru (maba) dalam mengenal dunia kampus sekaligus menemukan organisasi kemahasiswaan (Ormawa) yang tepat sebagai wadah pengembangan diri. 

Dengan mengusung tagline Start with Feelings, Grow with Meaning, Yellow Fest 2025 dikemas sebagai perjalanan emosional yang merefleksikan pengalaman maba dalam beradaptasi di lingkungan perkuliahan. Tahun ini, acara berlangsung dalam skala yang lebih besar, dengan melibatkan ribuan mahasiswa baru serta puluhan Ormawa yang berpartisipasi.

 Acara Yellow Fest menjadi wadah bagi para Ormawa dan UKM mendirikan stand-stand untuk memperkenalkan diri pada mahasiswa baru FEB Undip. Setiap stand didesain dengan ciri khas masing-masing, mulai dari poster program kerja, atribut organisasi, hingga dekorasi kreatif yang merepresentasikan identitas mereka. Bahkan ada pula yang menghidupkan suasana dengan yel-yel, musik, dan mini games yang membuat interaksi dengan mahasiswa baru semakin hidup. Semua itu bertujuan agar mahasiswa baru tidak hanya mengetahui nama organisasi, tetapi juga merasakan atmosfer dan nilai yang ditawarkan oleh setiap Ormawa. 

Bunga, selaku Vice Project Officer Yellow Fest 2025, menyebutkan bahwa tantangan terbesar dari penyelenggaraan Yellow Fest tahun ini adalah besarnya skala acara. “Jumlah maba mencapai 1.300 orang, ditambah terdapat penambahan Ormawa menjadi 27 Ormawa yang terlibat. Jadi kita harus menyiapkan Yellow Fest yang lebih besar, meriah, dan matang lagi,” ungkapannya.

Konsep Inside Out dipilih sebagai tema Yellow Fest tahun ini. Menurut Bunga, tema ini merepresentasikan perjalanan emosional mahasiswa baru dalam mencari organisasi yang sesuai dengan minat dan identitas mereka.“Saat pertama masuk kuliah, maba pasti kaget. Tema ini mencerminkan perjalanan emosi mereka dalam mencari organisasi yang cocok sebagai rumah pengembangan diri,” tambahnya.

Antusiasme mahasiswa baru sangat terlihat di sepanjang acara. Vanan, mahasiswa baru Prodi Akuntansi, mengungkapkan bahwa setiap Ormawa memiliki ciri khas masing-masing. “Setiap penyampaian punya ciri khas masing-masing. Jadi makin paham dan tertarik dengan Ormawa yang ada,” ujarnya.Hal serupa disampaikan Rifqi, mahasiswa baru lainnya, yang merasa terbantu dengan adanya kegiatan ini. “Awalnya nggak tahu, tapi jadi tahu lebih banyak tentang organisasi dan keluarga besar FEB,” katanya.

Panitia berharap Yellow Fest 2025 dapat memotivasi mahasiswa baru untuk aktif berorganisasi. “Harapannya, setelah acara ini, maba semakin tertarik untuk ikut Ormawa dan aktif berkontribusi di FEB,” pungkas Bunga.

Dengan skala yang lebih besar, konsep yang lebih up to date, serta partisipasi dari ribuan mahasiswa, Yellow Fest 2025 bukanlah sekadar wadah pengenalan saja bagi mahasiswa baru. Lebih dari itu, Yellow Fest merupakan tonggak awal perjalanan baru bagi para Diponegoro Muda untuk bertumbuh, berproses, dan berkontribusi di FEB Undip.

Reporter : Cantika, Sabrina

Penulis : Sabrina 

Belajar Berani dan Bersahabat Lewat ORION FEB Undip

Semarang (22/08) – Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) kembali menyambut mahasiswa baru melalui rangkaian orientasi bertajuk ORION—singkatan dari Orientasi Integritas Diponegoro Muda. Program ini tidak hanya menjadi sarana pengenalan kampus, tetapi juga dirancang untuk membangun kepercayaan diri sekaligus menjalin relasi lintas program studi.

Rangkaian ORION terdiri dari beberapa tahap, mulai dari PPKMB, Pendikar, hingga acara puncak Euphorion. Setiap sesi di dalamnya dirancang untuk menanamkan nilai-nilai penting seperti kejujuran, keberanian, dan kepedulian, sambil menciptakan suasana hangat dan interaktif agar mahasiswa baru merasa nyaman beradaptasi.

Bagi sebagian peserta, ORION memberikan pengalaman yang berbeda dari bayangan awal mereka. Rebika Dwi Sahrani, mahasiswa baru Prodi Ekonomi, mengaku semula mengira kegiatan ini akan mirip orientasi fakultas pada umumnya. “Awalnya kupikir ini kayak OSFAK, tapi ternyata namanya ORION. Dari pagi sampai sekarang rasanya seru banget,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Paulus Beryl Priyantoro dari Prodi Manajemen. Ia mengira kegiatan ini akan terasa kaku dan penuh aturan. “Awalnya dengar cerita dari orang tua dan kakak, katanya disiplin banget. Ternyata seru dan banyak interaksi,” tuturnya sambil tersenyum.

Salah satu momen yang paling berkesan bagi para peserta adalah sesi Pendikar. Rebika menilai sesi ini memberikan pengalaman berbeda karena bisa berinteraksi lebih luas. “Waktu Pendikar seru karena bisa ketemu teman-teman dari prodi lain dan main game bareng. Walau agak pegal karena lama di kelas, tapi nggak apa-apa, yang penting nggak kepanasan,” ceritanya.

Bagi Yanfira Aulia Andhini dari Prodi Ekonomi, Pendikar justru menjadi titik awal untuk melatih kepercayaan diri. “Waktu Pendikar sering ada games untuk presentasi di depan orang yang belum kita kenal. Dari situ aku jadi lebih berani,” ungkapnya.

Tak hanya mereka, Benedict Yosua Mikael Bharoto S. dari Prodi Akuntansi juga merasakan perubahan besar. Sebagai pribadi yang mengaku sulit bergaul, ia justru berhasil menemukan banyak teman baru. “Aku orangnya susah bergaul, tapi dari Pendikar ini sudah punya banyak teman baru,” ujarnya.

Selain memberikan pengalaman yang menyenangkan, ORION juga mengajarkan nilai-nilai penting yang dibutuhkan selama perkuliahan. Benedict menuturkan bahwa nilai kejujuran sangat ditekankan sejak awal. “Sebelum acara mulai, selalu ada pengecekan atribut. Jadi kita belajar disiplin dan jujur,” jelasnya. Paulus pun menambahkan, “Nilai kepedulian juga terasa, terutama saat berinteraksi dengan teman-teman baru di Pendikar.”

Tak hanya memperkenalkan lingkungan kampus, ORION juga menjadi wadah orasi bagi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Rebika dan Andhini mengaku tertarik dengan KSPM (Kelompok Studi Pasar Modal) karena relevan dengan bidang studinya. Paulus memilih UKM yang sama karena minatnya pada investasi, sedangkan Benedict mempertimbangkan BAK (Badan Audit Kemahasiswaan) karena sesuai dengan ketertarikannya di bidang audit.

Setelah melewati rangkaian ORION, mereka merasa lebih siap untuk memulai perkuliahan. Rebika optimistis karena sudah mengenal lingkungan dan memiliki banyak teman. Andhini berharap dapat memperluas relasi, sementara Benedict ingin lebih aktif dan percaya diri dalam berorganisasi. Paulus sendiri bertekad meraih IPK tinggi sambil memperluas jaringan pertemanan.

Meski puas dengan penyelenggaraan ORION, mereka juga menyampaikan masukan. Rebika dan Andhini berharap informasi terkait jadwal dapat diberikan lebih awal agar peserta bisa mempersiapkan diri dengan baik. Paulus menilai sesi Pendikar patut dipertahankan karena menjadi bagian paling menyenangkan, sementara Benedict menganggap keseluruhan rangkaian sudah berjalan baik.

Secara keseluruhan, ORION FEB 2025 bukan sekadar orientasi biasa, melainkan langkah awal untuk menumbuhkan keberanian, memperluas pertemanan, dan membangun rasa percaya diri. Lebih dari sekadar pengenalan kampus, ORION menjadi fondasi yang menguatkan mahasiswa baru untuk menapaki dunia perkuliahan dengan keyakinan.

Reporter: Najwa, Seiya

ORION: Dari Nama Hingga Makna, Cerita Baru Orientasi FEB Undip

Semarang (21/08) – Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) menghadirkan wajah baru dalam kegiatan orientasi mahasiswa. Kegiatan yang sebelumnya dikenal sebagai ODM (Orientasi Diponegoro Muda) kini resmi berganti nama menjadi ORION, singkatan dari Orientasi Integritas Diponegoro Muda. Pergantian ini bukan sekadar rebranding, melainkan juga bentuk penyesuaian terhadap ketentuan universitas terkait nomenklatur kaderisasi, yang tidak lagi menggunakan istilah ODM fakultas sehingga kegiatan ini terintegrasi dengan rangkaian PPKMB, Pendikar, dan puncaknya yang disebut Euphorion.

Alzeno Gandi Karsya, Ketua Pelaksana ORION FEB Undip 2025, menjelaskan bahwa pemilihan nama baru ini melalui proses panjang yang melibatkan aspirasi mahasiswa, ketua himpunan, BEM, hingga senat. “Awalnya ada sekitar 12 opsi nama. Setelah melalui diskusi dan polling, akhirnya pilihan mengerucut menjadi ORION. Kami berharap nama ini tidak hanya menjadi identitas baru, tetapi juga membawa semangat positif bagi mahasiswa baru,” ujarnya.

Makna di balik ORION pun tak kalah penting. Secara harfiah, Orion adalah rasi bintang yang melambangkan harapan untuk bersinar di tengah kegelapan. Filosofi ini sejalan dengan tujuan orientasi, yaitu membimbing mahasiswa agar berkembang dan siap menapaki perjalanan akademik. Selain itu, ORION menekankan nilai integritas, sesuai prinsip Pendikar: Jujur, Berani, Adil, dan Peduli. Filosofi FINE (Future-Oriented, Insightful, Growth, Humanity, Tenacity) diterapkan untuk menumbuhkan sikap visioner, adaptif, dan memiliki daya juang tinggi.

ORION 2025 juga menghadirkan berbagai inovasi yang relevan dengan generasi digital. Program Halo Ormawa memperkenalkan organisasi mahasiswa di FEB, Journey of Economics menyuguhkan tur virtual interaktif ke gedung-gedung dan area penting kampus, sementara Get Ready with Grizzy mengenalkan sistem SSO serta jajaran dekanat. Dengan tema Future, Oriented, Insightful, and Entrepreneur, rangkaian kegiatan ini mendorong mahasiswa berpikir kritis, kreatif, dan berjiwa kewirausahaan.

Sosialisasi perubahan nama dilakukan secara bertahap melalui media sosial dan polling. Respon terhadap perubahan ini sangat positif, terbukti dari dukungan penuh yang diberikan oleh dekanat dan panitia, memastikan ORION tidak sekadar menjadi kegiatan orientasi, tetapi pengalaman yang bermakna dan membentuk karakter mahasiswa.

Sejalan dengan dukungan tersebut, Alzeno menyampaikan pesan dan harapannya yang merangkum makna ORION. Ia berharap seluruh mahasiswa, khususnya dari FEB, dapat memahami filosofi ORION dan membedakannya dari ODM sebelumnya. Ia juga ingin mahasiswa baru memetik pesan dan kesan dari rangkaian kegiatan PPKMB, Pendikar, hingga Euphorion, karena setiap program membawa nilai-nilai penting yang diharapkan terus mereka bawa hingga lulus. Menurutnya, pengalaman ini bukan sekadar kenangan, tetapi juga menjadi bekal karakter dan integritas dalam perjalanan akademik mereka.

Dengan semua inovasi, filosofi, dan makna yang terkandung di dalamnya, ORION menegaskan identitas baru FEB Undip. Nama ini bukan sekadar label, melainkan simbol perjalanan mahasiswa untuk bersinar, menumbuhkan integritas, dan menorehkan pengalaman orientasi yang berkesan.

Reporter: Najwa, Sabrina

Merdeka?

Oleh: Rayhan Riza

8 dekade silam, rakyat kita terbebas dari belenggu kolonialisme yang memerintah berabad-abad lamanya. Melepaskan diri dari sistem penindasan dan kemunafikan yang dibawa dari belahan bumi barat ke bumi timur dibawah bendera “Peradaban”. Dengan keimanan, kecemerlangan, dan usaha, bapak bangsa kita merumuskan dunia baru: Peradaban Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, adil, dan makmur. Atas kehendak dan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, berdirilah “Republik Indonesia”. 

Kemerdekaan sesungguhnya yang mereka impikan tertulis dalam konstitusi Republik Indonesia. Maka dirumuskanlah Undang-Undang Dasar 1945, sebuah panduan hukum untuk negara baru yang siap menempatkan dirinya di muka bumi. Di dalamnya, tergambarkan cita-cita rakyat atas apa yang mereka harapkan dari republik ini, bukan untuk mereka tetapi untuk anak cucu mereka. Sebuah negara yang menjamin kemerdekaan manusia dari semua bentuk penindasan.

Hari ini, 80 tahun republik kita berdiri. Benar bahwa kita dikaruniai hak untuk hidup sebagai manusia. Benar bahwa kita hidup dengan kebebasan finansial dan ekonomi sesuai dengan kebutuhan pribadi. Benar bahwa kita memiliki hak untuk menjalankan kepercayaan sesuai dengan iman masing-masing. Benar bahwa kita memiliki hak politik untuk berpartisipasi dalam praktik kenegaraan. Benar bahwa kita tinggal dan bertempat di negara yang berdaulat dan bersatu. Tapi satu pertanyaan tetap tak terjawab: “Apakah kita sudah merdeka?”

Kemerdekaan Politik?

Jika sudah, kemerdekaan apa yang dimaksud? Apakah kemerdekaan politik? 27 tahun berlalu sejak kita meraih kembali pemerintahan yang demokratis. Dari kuasa tangan besi, kembali kepada kekuasaan rakyat. Namun bagaimana kabar reformasi hari ini? 

Masyarakat belum bisa merasakan kemerdekaan politik sepenuhnya akibat dinamika politik yang mayoritas didominasi oleh kelompok elit politik. Pemilih tidak pernah dipandang sebagai masyarakat, tetapi sebagai komoditas suara semata untuk memenuhi ambisi politik. Tidak ada jalan bagi rakyat untuk secara langsung memengaruhi kebijakan, tidak ada referendum kebijakan atau hak parlementer yang kuat. Satu tidak bisa menjadi bagian dari pemerintahan tanpa dorongan mesin-mesin politik. Matinya elemen populisme dalam praktik pemerintahan memperkuat elitisme dalam setiap proses perumusan kebijakan yang eksklusif.

Narasi “persatuan” dan “stabilitas” pun menjadi justifikasi para penguasa untuk membungkam suara-suara alternatif yang berbeda haluan dengan mereka. Oposisi dianggap sebagai separatis alih-alih mitra dalam pemerintahan. Rasanya tidak elok bagi penguasa jika tidak memiliki dukungan 100% dari kekuatan-kekuatan politik yang ada. Stabilitas pemerintahan disalahartikan sebagai hegemoni satu koalisi, dan persatuan publik disalahartikan sebagai monokrasi. Kemerdekaan untuk menyuarakan pandangan yang berbeda berakibat pada pidana dan persekusi, atau alienasi politik. 

Dewasa ini, kita juga menyaksikan masuknya kekuatan bersenjata ke dalam arena politik. Sebuah sinyal kuat masuknya hegemoni totalitarianisme yang menggeser kebebasan sipil dalam berpolitik. Meredupkan kemerdekaan politik bagi warga negaranya.

Kemerdekaan Sipil?

Meski tertulis di dalam kitab hukum, kemerdekaan pers Indonesia masih berada di situasi darurat, tergambarkan dengan adanya penurunan kualitas kebebasan pers, terutama dalam hal keamanan. Kasus kekerasan, intimidasi, dan kriminalisasi terhadap jurnalis masih terjadi, bahkan kian hari kian meningkat, yang didominasi oleh aktor negara. Jurnalis seringkali menghadapi tekanan dan intimidasi, terutama saat meliput isu-isu sensitif seperti korupsi. Ini juga didorong dengan tingkat kesejahteraan jurnalis yang rendah dan ketergantungan media pada pihak tertentu yang memengaruhi independensi pers. 

Intimidasi terhadap masyarakat sipil kian kencang tiap harinya. Aktivis sipil dari berbagai elemen masyarakat seperti buruh, mahasiswa, bahkan masyarakat adat menjadi korban intimidasi dan kekerasan, hanya karena keberanian mereka dalam menyuarakan kebenaran. Tindakan kekerasan dan intimidasi ini bukan hanya menunjukkan kegagalan negara dalam melindungi warga negaranya, tetapi tindakan represi terbuka yang ditujukan pada rakyatnya. Sebuah negara yang memerangi rakyatnya sendiri.

Tindakan intimidasi terhadap elemen sipil adalah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dengan upaya terbuka dalam menutup kemerdekaan sipil oleh negara. Pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh badan yang justru seharusnya menjamin hak itu sendiri pada rakyatnya.

Kemerdekaan Ekonomi?

Atau justru kemerdekaan ekonomi? Disaat ketimpangan ekonomi antar wilayah dan masyarakat masih terlihat jelas, dan 24 juta jiwa hidup di bawah belenggu kemiskinan. 3 juta jiwa hidup tanpa atap. 7 juta hidup tanpa penghasilan sama sekali. Terkadang mudah bagi kita untuk kembali menyalahkan bahwa mereka yang menderita bertanggungjawab atas penderitaan mereka sendiri, tetapi apakah kita sudah benar-benar mendapatkan kesempatan ekonomi yang setara? Praktik kolusi dan nepotisme yang kentara di ranah industri masih melukis garis pembatas antara masyarakat dengan kemerdekaan ekonomi. Kemerdekaan ekonomi yang tidak dibersamai oleh kemerdekaan dalam mendapatkan kesempatan ekonomi.

Meski menjadi tulang punggung pembangunan dan penggerak ekonomi, kaum buruh belum bisa mencapai tingkat kesejahteraan yang diharapkan. Upah minimum yang ada tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Kerentanan terhadap pemutusan hubungan kerja bagi buruh kontrak, serta berbagai pelanggaran hak-hak buruh lainnya yang belum bisa dituntaskan oleh negara. Kemerdekaan untuk berkumpul dan berserikat telah dimonopoli oleh kepentingan tak kasat mata dibaliknya. Gerakan-gerakan buruh yang ada adalah tidak lain merupakan alat politik bagi aktor-aktor negara, bisnis, dan pihak berkepentingan. Cita-cita akan hak asasi buruh sekarang hanyalah mainan untuk menggiring massa yang hanyalah alat kepentingan.

Kemerdekaan Pendidikan?

Kemerdekaan manusia hanya bisa dicapai jika pembatasan ruang-ruang berpikir dibuka sehingga membebaskan manusia dari kebodohan, dengan pendidikan sebagai kuncinya. Pendidikan hari ini lebih terlihat sebagai hak istimewa alih-alih hak asasi. Bagi mereka yang mengharapkan pendidikan tinggi harus mengeluarkan modal lebih, akibatnya perguruan tinggi dewasa ini terlihat sebagai komoditas ekonomi daripada jenjang pendidikan: Hak yang diperjualbelikan. Sehingga gagasan komersialisasi pendidikan tinggi merupakan, tidak lain dan tidak kurang, pelanggaran hak asasi manusia untuk mendapatkan pendidikan yang layak. 

Kita melihat ketidakseriusan negara dalam menginvestasikan sumber daya kepada tujuan-tujuan pendidikan. Sulit untuk mengharapkan cetakan unggul dari sekolah-sekolah negeri ini disaat nasib dan kebutuhan guru tidak diperhatikan secara serius. Kondisi tenaga didik yang di upah dibawah standar kehidupan masih menjadi masalah dalam mencapai kemerdekaan pendidikan.

Kemerdekaan sebuah bangsa tidak akan ada artinya jika tidak ada kemerdekaan bagi manusia di dalamnya. Indonesia sudah merdeka secara politik 80 tahun silam, namun kemerdekaan sosial masih menjadi perjuangan jangka panjang kita yang mau tidak mau, suka tidak suka, akan mengawal jalannya peradaban kita sampai estafet berlanjut ke generasi berikutnya. 8 dekade kemerdekaan tidak sepatutnya kita lihat sebagai perayaan semata, tetapi pengingat bahwa jalan kita masih panjang untuk mencapai kemerdekaan sesungguhnya.

Kemerdekaan adalah perjuangan jangka panjang, perjuangan yang menuntut semua bagian dan elemen masyarakat untuk ikut memperjuangkannya. Kemerdekaan tidak dirayakan, tapi diperjuangkan. Kemerdekaan bukan berian atau warisan dari nenek moyang kita, tapi satu yang diraih oleh perjuangan jangka panjang kita semua dalam mewujudkan peradaban yang memerdekakan manusia.

PMB UNDIP 2025: Perjuangan Maba, Antusiasme Acara, dan Kerja Keras Panitia

Semarang – Universitas Diponegoro (UNDIP) resmi menggelar Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2025 pada Rabu (13/8). Acara ini dihadiri ribuan mahasiswa baru Program Sarjana dan Sarjana Terapan dari berbagai fakultas. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 13–15 Agustus 2025 di Lantai 2 Gedung Muladi Dome, pukul 07.30 hingga 11.30 WIB. Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan UNDIP untuk menyambut mahasiswa baru sekaligus memperkenalkan lingkungan kampus. Tahun ini, tema yang diusung adalah “UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat, UNDIP Jaya!”. 

Bagi mahasiswa baru, menjadi mahasiswa resmi UNDIP adalah pencapaian yang membanggakan. Mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Program Studi Gizi mengaku begitu gembira hingga tak bisa tidur semalaman. “Seneng, seru banget, excited! Berangkat jam 5 pagi demi bisa foto sama rektor,” ujar Nadiatul Izzah. Ia membagikan perjuangannya setelah selama tiga tahun mengikuti les di berbagai tempat dan memaksimalkan nilai raport hingga berbuah manis diterima UNDIP jalur SNBP.

Sementara dari FEB, mahasiswa jurusan Manajemen juga membagikan kisahnya. Farrel mengaku sempat struggle karena lintas jurusan dan baru dapat mengkonfirmasi pilihannya mendekati PMB, di sisi lain Fiki mengaku datang sendirian tanpa kenalan sebelumnya namun langsung merasa kompak dengan teman-teman barunya. Jalur masuk penerimaan maba juga sangat beragam, ada yang lewat jalur SNBP, SNBT, ujian mandiri yang semuanya diperjuangkan demi menjadi bagian dari Universitas Diponegoro. “Saya ingin membuktikan kalau saya bisa masuk kampus TOP 10 seperti UNDIP,” ujar Usli.

Mahasiswa baru juga kompak memuji jalannya acara penerimaan mahasiswa baru (PMB). Mulai dari rektor yang ramah, Paduan Suara Mahasiswa (PSM) dan orkestra yang memukau, hingga suasana PMB yang meriah namun hangat. Ada pula yang merasa bangga karena dapat menempuh pendidikan di universitas yang menempati peringkat pertama lulusan paling banyak diterima kerja di Indonesia.

Di balik suksesnya PMB, terdapat peran besar panitia yang sebagian besar berasal dari UKM Racana Diponegoro, Resimen Mahasiswa (Menwa), dan KSR PMI. Proses terpilih menjadi panitia melalui penugasan langsung dari pihak protokol dan rektorat. Persiapan dimulai sejak seminggu sebelumnya dengan rapat bersama unsur akademik dan gladi bersih pagi hari sebelum acara. 

Tantangan terbesar bagi panitia adalah mengatur ribuan mahasiswa baru yang sangat antusias. Meski melelahkan, momen ini justru memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi mereka. Meski melelahkan, momen ini justru memberikan pengalaman yang sangat berharga karena dapat lebih dekat dengan para pihak rektorat dan akademik. “Harapannya, PMB tahun depan persiapannya lebih baik lagi dan panitianya lebih banyak,” ungkap Andika salah satu panitia PMB.

Setelah resmi menjadi mahasiswa UNDIP, banyak mahasiswa baru yang sudah merancang target selama kuliah, mulai dari fokus pada akademik, mengikuti organisasi, magang hingga mengikuti beasiswa dan program student exchange. Beberapa juga berharap agar dapat lulus tepat waktu.  

PMB UNDIP 2025 bukanlah hanya upacara penerimaan mahasiswa baru saja, namun juga merupakan titik awal perjalanan akademik yang akan membentuk generasi unggul untuk masa depan yang cerah. 

Reporter: Sabrina, Najwa, Hanin

Penulis: Hanin, Sabrina

Dipomuda

Oleh: Rayhan Riza

Menjadi Diponegoro Muda adalah satu langkah besar bagi seorang individu dalam menunaikan kewajiban pendidikannya. Perkuliahan adalah dunia baru bagi siapapun yang akan menempuhnya, dunia transisi dari masa lalu yang nyaman ke masa depan yang penuh perhitungan. Selain mengubah cara belajar dan beraktivitas, dunia akademik perkuliahan berkontribusi dalam pembentukan karakter baru guna mencetak kader bangsa yang unggul.

Namun, menjelang masuk ke pintu gerbang perkuliahan, seorang Dipomuda seringkali dihadapkan pada tantangan baru yang menuntut kesiapan dan adaptasi. Dunia perkuliahan yang dinamis dan penuh dengan tuntutan akademik mengharuskan persiapan yang sangat matang dari kalian supaya dapat sukses dan berkembang. Berikut adalah beberapa hal yang, menurut penulis, wajib dipersiapkan oleh seorang Dipomuda guna bertahan dan menggapai kesuksesan akademik di dunia perkuliahan.

Kesiapan Akademik

Berbeda dari jenjang pendidikan sebelumnya, perkuliahan adalah tempat pertama bagi kita untuk memiliki hak dalam memilih disiplin ilmu yang akan kita tempuh sesuai dengan minat dan keinginan kita sendiri. Akan sangat merugikan bila kita tidak memiliki pemahaman terlebih dahulu mengenai kurikulum yang akan ditempuh selama tiga atau empat tahun kedepan, mengingat jurusan yang ditempuh adalah mayoritas sesuai dengan keinginan diri masing-masing. Maka pastikan kalian memiliki pemahaman yang baik tentang mata kuliah yang akan diambil dan materi yang akan dipelajari.

Jika belum mencapai pemahaman yang mendalam, maka setidaknya pemahaman dasar tentang matkul atau materi tersebut. Paling tidak supaya kita dapat beradaptasi dengan lingkungan belajar kelas. Karena mayoritas proses pembelajaran yang didapat di ruang kelas merupakan pembelajaran dua arah. Tidak jarang dosen atau pengajar menguji pemahaman seorang mahasiswa terkait mata kuliah yang diambil dengan bertanya, atau membentuk sistem belajar berkelompok dengan metode diskusi. Selain melatih penalaran dan pengetahuan, ini akan sangat bermanfaat untuk menabung nilai yang bagus.

Keterampilan Belajar

Kesiapan akademik salah satunya juga dibentuk dengan keterampilan belajar. Jika kalian merasa metode belajar selama jenjang sekolah sebelumnya kurang efektif, maka perkuliahan adalah tempat yang tepat bagi kalian untuk mulai mengubah hal tersebut menjadi keterampilan belajar yang efektif. Semua orang memiliki metode belajar yang berbeda yang sesuai dengan karakternya. Maka dari itu, seorang Dipomuda bukan hanya harus belajar memahami materi, tapi belajar memahami diri sendiri, salah satunya dengan mencari cara inovatif yang mendukung keterampilan belajar masing-masing supaya dapat memenuhi tuntutan akademik tanpa beban belajar yang merugikan.

Manajemen Waktu

Jangan salah, perkuliahan akan “menyita” banyak dari waktu kalian diluar kesibukan akademik dan ruang kelas, baik secara langsung maupun tidak langsung. Entah itu mengerjakan tugas, kegiatan organisasi, kerja part-time, magang, atau justru aktivitas untuk keperluan sehari-hari. Tidak sedikit yang merasa stres dan lelah bukan karena terlalu banyak kegiatan, tetapi karena ketidakmampuan dirinya dalam mengatur waktu. Maka pastikan kalian mulai belajar mengatur waktu dengan efektif untuk menyeimbangkan waktu kuliah, mengerjakan tugas, maupun melakukan aktivitas lainnya.

Ada satu metode manajemen waktu yang sederhana namun efektif, yaitu Eisenhower Matrix. Matriks ini adalah alat manajemen waktu berbasis prioritas yang bisa membantu kalian Dipomuda dalam mengkategorikan tugas berdasarkan urgensi dan kepentingannya. Kuadran dan solusinya meliput: Mendesak dan Penting (Lakukan segera), Mendesak tapi Tidak Penting (Delegasikan), Penting tapi Tidak Mendesak (Jadwalkan), dan Tidak Mendesak dan Tidak Penting (Hilangkan). Dengan metode berbasis prioritas, maka Dipomuda tidak perlu khawatir jika suatu saat harus bertemu jadwal sibuk.

Kesiapan Mental

Dunia perkuliahan menuntut banyak waktu dan energi yang kita miliki sebelum mencapai keberhasilan akademik. Dalam hal ini, isu yang sering menjadi keluhan adalah masalah kesehatan mental di kalangan mahasiswa, terutama Dipomuda. Tidak sedikit dari mereka yang pada akhirnya tidak mampu menghadapi tekanan dan tuntutan yang melebihi kemampuannya, sehingga berakibat negatif bagi kesehatan fisik dan mentalnya. 

Utamanya bagi para perantau, yang memerlukan adaptasi di daerah dan lingkungan barunya, tentu di awal terasa berat untuk jauh dari rumah dan keluarga. Maka Dipomuda wajib mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dan tekanan dalam perkuliahan. Karena tekanan yang ada tidak hanya hadir dari akademik semata, namun ke semua aspek kehidupan. Obatnya yaitu mengembangkan keterampilan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, serta keterampilan dalam mengelola stres.

Kita tidak boleh meremehkan dampak negatif yang ditimbulkan dari gangguan kesehatan mental. Pada banyak kasus, itu bisa berakibat fatal. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari pihak teman maupun kampus yang sudah menyiapkan layanan yang mewadahi keluhan kesehatan mental. Karena kesiapan mental adalah fondasi dasar dalam menghadapi dunia baru dengan segala tuntutannya.

Koneksi Sosial

Salah satu cara untuk menghadapi kejenuhan dan kecemasan adalah melalui interaksi yang intens dengan lingkungan sekitar. Dalam hal ini, Dipomuda yang merasa jauh dari keluarga dan rumah bisa membangun rumah dan keluarga baru di Undip, yaitu membangun pertemanan yang luas dan jadikan kehidupan kampus sebagai rumah kalian untuk berkembang. Koneksi sosial dengan teman-teman, dosen, dan civitas akademia lainnya akan sangat bermanfaat kedepannya: Itu bukan hanya remidi, tetapi investasi.

Membangun jejaring dengan teman-teman kampus, baik lewat jalur pergaulan informal, maupun jalur formal. Selain membangun relasi pertemanan, penting juga untuk membangun relasi dengan dosen-dosen dan tenaga didik. Dipomuda tak perlu khawatir! Undip dipenuhi oleh pengajar-pengajar asik yang antusias terhadap pertemanan dengan mahasiswanya. Mereka adalah dukungan kalian selama masa perkuliahan, maupun masa setelah perkuliahan. Dengan itu, maka Dipomuda bisa memperluas jaringan dengan civitas akademika yang pastinya bermanfaat untuk kedepannya.

Keterlibatan dalam Kegiatan Kampus

Dipomuda harus ingat satu hal: Pembelajaran selama kuliah tidak hanya didapatkan di ruang kelas, justru mayoritas pelajaran hidup yang bisa dipetik terletak di luar bangku kelas. Hard skill memang penting untuk kesiapan memasuki dunia pekerjaan, tetapi Soft skill lah yang justru lebih ampuh untuk membawa kalian kepada keberhasilan. Mengutip dari Anies Baswedan, “IP yang tinggi akan mengantarkan anda pada panggilan wawancara pekerjaan. Tapi leadership, yang akan membawa pada masa depan”.

Keterampilan Soft skill bisa diperoleh dari mengikuti berbagai kegiatan kampus untuk memperluas pengalaman dan mengembangkan keterampilan. Jika Dipomuda tertarik pada aktivitas keorganisasian, maka jangan khawatir karena Undip memiliki banyak Ormawa dengan berbagai klusternya yang bisa diikuti sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Jika Dipomuda lebih suka pengalaman jangka pendek, maka bisa mengikuti aktivitas kepanitiaan yang beragam. Atau mungkin tidak minat ke Ormawa? Dipomuda bisa cari “loker” sebagai asisten dosen atau mungkin aktif mengikuti magang di setiap kesempatan luang. Apapun kesibukan itu, penulis menyarankan kepada Dipomuda untuk terus aktif dan hindari menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang).

Keterampilan Teknologi

Dalam era digital saat ini, teknologi memainkan peran penting dalam dunia perkuliahan. Dipomuda perlu menguasai teknologi yang digunakan dalam perkuliahan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam proses pembelajaran. Mulai dari sistem layanan informasi, penugasan, kelas, dan komunikasi, semua sudah melibatkan banyak elemen digital dalam keberjalanannya. Selain itu, aktivitas kampus lainnya juga menuntut banyak keterampilan digital. Maka, Dipomuda harus memiliki dan terus mengembangkan keterampilan teknologi.

Diponegoro muda bukan hanya sekedar nama yang melambangkan formalitas dari nama institusi, tetapi sebuah pesan, cita-cita, dan harapan bahwa almamater kita tercinta bisa mencetak generasi-generasi unggul dengan semangat Diponegoro yang tidak pernah paham. Kader bangsa dan Iron Stock yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dan zamannya, serta memegang kendali estafet kepemimpinan unggul di masa emas yang akan datang. Selamat datang ke dunia baru, Diponegoro Muda!

Polemik Bendera One Piece Menjelang Agustusan : Simbol Kecintaan Pada Negara atau Makar?

Sumber: Kompas.com

Menjelang peringatan HUT RI ke-80 pada Agustus 2025, sebuah fenomena unik menjadi perbincangan masyarakat. Fenomena itu adalah pengibaran bendera bajak laut ‘Jolly Roger’ dari serial anime One Piece tepat di bawah bendera nasional, Sang Saka Merah Putih. Aksi ini dilakukan oleh warga di berbagai daerah, mulai dari Jakarta dan sekitarnya hingga sejumlah kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Berbeda dari ornamen lain yang biasa dipasang untuk memeriahkan hari kemerdekaan, berkibarnya bendera hitam bermotif tengkorak topi jerami ini menimbulkan polemik. Para warga mengaku mengibarkan bendera tersebut sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah. Di sisi lain, beberapa pihak pemerintah menganggap aksi ini provokatif dan berpotensi memecah belah bangsa, sehingga dirasa perlu menindak tegas para pelaku.

Berkibarnya Bendera ‘Jolly Roger’ : Ketika Fiksi Menjadi Aksi Protes

Fenomena pengibaran bendera dari serial anime One Piece mulai menyita perhatian publik pada akhir Juli 2025. Platform media sosial, terutama Instagram, TikTok, dan X (sebelumnya Twitter), menjadi pemicu utama perbincangan mengenai gerakan ini. Unggahan-unggahan individual yang menampilkan bendera tengkorak bertopi jerami terpasang di depan rumah, kendaraan pribadi, hingga sudut-sudut gang perkotaan inilah yang dengan cepat berkembang menjadi tren nasional. Bendera tersebut lantas menjadi simbol perlawanan masyarakat—untuk menuntut hak mereka yang terabaikan—mencerminkan tema utama perjuangan dalam serial anime yang telah berjalan lebih dari dua dekade itu.

Bendera ‘Jolly Roger Topi Jerami’—nama resminya dalam serial—adalah simbol milik kelompok protagonis, sebuah kru bajak laut. Dipimpin oleh Monkey D. Luffy, kisah anime adaptasi dari karya seorang mangaka, Eiichiro Oda ini berpusat pada perjuangan meraih kebebasan—sebuah tujuan yang hanya bisa dicapai melalui solidaritas, loyalitas, dan tekad yang kuat. Semangat perjuangan inilah yang tampaknya diadopsi oleh banyak warga.

Dilansir dari CNN (4/8/2025), warga Surabaya yang turut serta dalam aksi ini—Caca (bukan nama sebenarnya)—menyebut pengibaran bendera itu sebagai bentuk protes atas kekecewaannya. Ia menegaskan tidak berniat melakukan aksi separatis atau antinasionalis. Sebagai buktinya, ia menunjuk fakta bahwa bendera Merah Putih tetap ia kibarkan di tiang tertinggi. “Yang saya lakukan adalah bukti bahwa negara ini masih sangat saya cintai,” ujarnya. Namun, ia juga kecewa dengan kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat kecil dan menganggap pelarangan aksi ini sebagai bukti sikap antikritik.

Sikap serupa ditunjukkan oleh Arif. Dilansir dari Detikjatim (4/8/2025), warga Mulyorejo, Surabaya itu mulai memasang bendera tersebut sejak 30 Juli 2025. Sama seperti Caca, ia menekankan hierarki simbol dengan mengatakan, “Tapi tetap bendera merah putih di atas, NKRI tetap ya harga mati”. Pernyataannya ini menggarisbawahi bahwa kritik terhadap pemerintah tidak sama dengan penolakan terhadap negara kesatuan.

Bergeser ke ibu kota, Riki Hidayat, seorang warga Kebayoran, Jakarta Selatan, menggunakan simbolisasi bendera One Piece sebagai kritiknya terhadap isu spesifik, yaitu pajak. Dilansir dari CNA, ia menyatakan, “Saya cinta Tanah Air di mana saya bisa hidup di sana. Tetapi Tanah Air yang saya cintai itu, bukan Tanah Air tempat saya membayar pajak, namun tidak mendapatkan hak yang sepadan atas pajak yang saya bayar.” Kutipan ini secara langsung menghubungkan aksi simbolik pengibaran bendera dengan isu-isu nyata seperti keadilan pajak dan hak-hak warga negara.

Menariknya, pandangan di kalangan pemerintah sendiri terbelah dalam menanggapi aksi ini. Beberapa di antaranya menganggap pengibaran bendera One Piece sebagai bentuk ekspresi masyarakat, asalkan tetap menempatkan Merah Putih di posisi tertinggi. Salah satu pandangan moderat datang dari Ketua Fraksi PKB MPR RI, Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz. Ia mengimbau aparat agar tidak bertindak represif terhadap warga yang mengibarkan bendera tersebut. Untuk mendukung argumennya, ia merujuk pada pandangan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang masih relevan hingga kini.

“Ingat, Gus Dur pernah bilang kalian boleh mengibarkan bendera lain, tapi jangan lebih tinggi dari Merah Putih,” ujarnya, dilansir dari DetikNews (2/8/2025).

Namun, terdapat pula reaksi keras yang mengecam aksi tersebut. Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menilainya sebagai upaya untuk memecah belah persatuan bangsa. Senada dengan itu, Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar, Firman Soebagyo, menyebut tindakan ini sebagai provokasi yang berpotensi makar.

“Jelas ini adalah melakukan bagian provokasi kemudian yang akan merugikan bangsa dan negara. Ini enggak boleh. Oleh karena itu, bagian daripada makar mungkin malah itu. Nah ini enggak boleh. Ini harus ditindak tegas,” ujarnya, dikutip dari CNN, Jumat (1/8/2025).

Firman Soebagyo mengklaim pandangan kerasnya didukung oleh pejabat tinggi lain, termasuk Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Budi Gunawan. Ia pun mendesak agar para pelaku diinterogasi dan diberi pembinaan.

“Harus dilakukan interogasi, siapa yang menyuruh dan apa motivasinya. Kemudian lakukan pembinaan kepada mereka,” ujar Firman.

Tanggapan sebagian pemerintah yang cenderung represif memicu amarah publik, yang menilai pemerintah mulai antikritik dan tidak memahami budaya pop. Warganet pun menyoroti ironi ini, membandingkannya dengan momen saat Wakil Presiden (Wapres) Gibran menggunakan simbol serupa untuk kampanye.

Salah satu kritik tersebut dicuitkan oleh pengguna X @hyuung_nim pada Senin (4/8/2025).

“Saat buat nyari suara, dipakeee, pas udah dpt jabatan dibilang ancaman,” tulisnya.

Sentimen serupa dengan nada yang lebih menantang datang dari pengguna X @hgsjioo. Dalam cuitannya pada Senin (4/8/2025), ia menulis:

“Berarti awal mula pemecah belah bangsa ya GIBRAN LAH!! tangkep dong masa engga ditangkep sih? Aneh dong kan mulanya dari blio ini. Apa ga berani? Takut yaaa,”

Sikap resmi Istana Kepresidenan ternyata cenderung moderat, menyatakan tidak mempermasalahkan fenomena ini sebagai bentuk ekspresi masyarakat. Melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, Presiden Prabowo berpesan bahwa aksi tersebut boleh saja dilakukan, dengan satu syarat penting.

“Tapi, jangan ini dibawa atau dibentur-benturkan kepada, disandingkan, atau dipertentangkan dengan bendera Merah Putih,” ujar Prasetyo, seperti dilansir dari Kompas, Jumat (8/8/2025).

Ekspresi Berujung Represi

Tidak lama setelah isu ini ramai menjadi perbincangan. Aparat penegak hukum di beberapa tempat mulai melakukan penelusuran kepada warga yang mengibarkan bendera meminta mereka menurunkannya, dan melakukan interogasi terhadapnya.

Dilansir dari Amnesty, seorang warga dari Tuban, Jawa Timur pada Jumat (1/8/2025) didatangi Polisi Pamong Praja (Pol PP) di rumahnya, setelah memposting di WhatsApp foto hormat kepada bendera bajak laut tersebut.

Begitu pula di Sragen, Jawa Tengah pada Minggu (3/8/2025). Polisi dan tentara memantau penghapusan mural One Piece yang telah dibuat oleh warga setempat. Penghapusan tersebut dilakukan atas arahan anggota TNI yang datang ke lokasi.

Aparat tidak menganggap remeh tindakan pengibaran bendera fiktif ini pada peringatan HUT RI ke-80. Wakil Kepala Kepolisian Daerah Banten, Hengki pada Sabtu (2/8/2025) menyampaikan akan menindak tegas para pelaku pengibar bendera tersebut. Meskipun, dalam keterangannya ini ia tidak menyebut secara rinci tindakan apa yang akan dilakukan.

Tindakan aparat yang cenderung represif di berbagai daerah ini lantas memicu perdebatan krusial di ruang publik. Di tengah ancaman penindakan, muncul pertanyaan mendasar: apakah aksi pengibaran bendera One Piece ini sesungguhnya memiliki dasar pelanggaran hukum?

Bagaimana Pandangan Hukum?

Dari sisi hukum, para ahli umumnya bersepakat bahwa pengibaran bendera One Piece merupakan bentuk ekspresi yang tidak melanggar hukum, asalkan tidak menodai kesakralan Bendera Merah Putih. Dilansir dari Hukumonline (5/8/2025), argumen ini berlandaskan pada UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara. Secara spesifik, rujukan hukumnya ada pada Pasal 17 ayat (1) yang mengatur pengibaran bendera negara berdampingan dengan bendera negara lain, serta Pasal 21 ayat (1) yang mengatur tentang bendera atau panji organisasi. Berdasarkan kedua pasal tersebut, tidak ada larangan eksplisit untuk mengibarkan bendera fiktif bersama dengan bendera negara.

Pandangan ini diperkuat oleh Mudzakkir, Dosen Hukum Pidana Universitas Islam Indonesia. Dalam artikelnya, “Pengibaran Bendera One Piece, Bentuk Ekspresi Bukan Makar”, ia menegaskan bahwa tidak ada dasar hukum untuk memidanakan aksi tersebut. Menurutnya, tindakan itu sepenuhnya legal selama memenuhi dua syarat kunci: tidak dimaksudkan untuk menggantikan kedudukan Bendera Merah Putih, dan tidak dikibarkan sejajar atau lebih tinggi dari bendera negara pada tiang yang sama.

Senada dengan itu, Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur, menilai pengibaran bendera fiktif itu sebagai ekspresi dilematis masyarakat—sebuah wujud cinta pada tanah air yang berbarengan dengan rasa kecewa terhadap pemerintah. Menurutnya, ekspresi semacam ini adalah hal yang wajar dalam demokrasi dan tidak memiliki unsur pelanggaran hukum.

Dari perspektif hukum pidana, argumentasi negara untuk menyatakan tindakan ini ilegal menghadapi tantangan berat. Negara harus mampu membuktikan adanya niat jahat (mens rea) dari warga untuk secara sengaja “merendahkan” atau “menghina” kehormatan Bendera Merah Putih. Beban pembuktian ini sangat sulit, karena menuntut penilaian subjektif terhadap niat seseorang hanya dari sebuah simbol, terlepas dari fakta bahwa simbol tersebut dipasang di posisi lebih rendah.

Kesulitan ini diperumit oleh adanya wilayah hukum yang abu-abu. Kerangka hukum yang ada, yakni UU No. 24 Tahun 2009, tidak dirancang untuk menghadapi fenomena budaya populer. Undang-undang tersebut hanya mengatur pengibaran bendera negara asing dan bendera organisasi, sehingga belum cukup fleksibel untuk zaman ini. Ketiadaan aturan yang spesifik inilah yang membuka ruang bagi interpretasi yang saling bertentangan dan berpotensi disalahgunakan secara subjektif oleh aparat penegak hukum.

Refrensi :

Amnesty International Indonesia. (2025, Agustus 4). Hentikan Razia dan Intimidasi Warga Pengibar Bendera ‘One Piece’. Dikutip pada 9 Agustus 2025, dari https://www.amnesty.id/kabar-terbaru/siaran-pers/hentikan-razia-dan-intimidasi-warga-pengibar-bendera-one-piece/08/2025/

Kompas.com. (2025, Agustus 8). Istana Tak Larang Bendera “One Piece”, tapi Tak Dibenturkan dan Disandingkan. Dikutip pada 9 Agustus 2025, dari https://nasional.kompas.com/read/2025/08/08/11370791/istana-tak-larang-bendera-one-piece-tapi-tak-dibenturkan-dan-disandingkan?page=all

CNN Indonesia. (2025, Agustus 1). MPR soal Pengibaran Bendera One Piece: Provokasi Jatuhkan Pemerintah. CNN Indonesia. Dikutip pada 9 Agustus 2025, dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250801173814-32-1257748/mpr-soal-pengibaran-bendera-one-piece-provokasi-jatuhkan-pemerintah

CNA.ID. (2025, Agustus 4). Kontroversi Bendera One Piece, Jelly Roger Luffy Topi Jerami Apa Artinya?. CNA.ID. Dikutip pada 9 Agustus 2025, dari https://www.cna.id/lifestyle/kontroversi-bendera-one-piece-jelly-roger-luffy-topi-jerami-apa-artinya-36056

detikJatim. (2025, Agustus 4). Bendera One Piece Mulai Dikibarkan di Surabaya Jelang HUT Ke-80 RI. detikJatim. Dikutip pada 9 Agustus 2025, dari https://www.detik.com/jatim/berita/d-8044348/bendera-one-piece-mulai-dikibarkan-di-surabaya-jelang-hut-ke-80-ri

Hukumonline.com. (2025, Juli 5). Hukumnya Pengibaran Bendera Merah Putih dengan Bendera Lain. Dikutip pada 9 Agustus 2025, dari https://www.hukumonline.com/klinik/a/hukumnya-pengibaran-bendera-merah-putih-dengan-bendera-lain-lt689303ec30734/

detikNews. (2025, Agustus 5). Pemerintah Diminta Bijak Sikapi Bendera One Piece: Ingat Kata Gus Dur. Dikutip pada 9 Agustus 2025, dari https://news.detik.com/berita/d-8045744/pemerintah-diminta-bijak-sikapi-bendera-one-piece-ingat-kata-gus-dur

Tempo.co. (2025, Agustus 5). Mengapa Pengibaran Bendera One Piece Dianggap Ancaman?. Dikutip pada 9 Agustus 2025, dari https://www.tempo.co/politik/mengapa-pengibaran-bendera-one-piece-dianggap-ancaman-2055142

Suara.com.. (2025, Agustus 2). Sejarah Jolly Roger di Bendera One Piece, Viral Berkibar Jelang 17 Agustus. Dikutip pada 9 Agustus 2025, dari https://www.suara.com/lifestyle/2025/08/02/115437/sejarah-jolly-roger-di-bendera-one-piece-viral-berkibar-jelang-17-agustus?page=1

Penulis: Royhan