Semarang (18/09) – Kegiatan Ecocare 2022 dari Bidang Sosial Masyarakat dan Lingkungan Hidup (Somaliah) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (BEM FEB Undip) berjalan dengan penuh antusiasme. Berbeda dengan tahun sebelumnya, Ecocare 2022 berkolaborasi dengan berbagai sponsor dan terbuka untuk seluruh mahasiswa FEB yang lolos seleksi.
Acara ini memiliki dua agenda utama. Agenda pertama ialah penanaman 1.000 bibit mangrove, sedangkan agenda kedua adalah bersih-bersih pantai. Kegiatan ini berlokasi di Pantai Mangunharjo, Semarang, Jawa Tengah. Dalam keberjalanannya, kegiatan ini juga berkolaborasi bersama masyarakat setempat. Adapun harapan dari berlangsungnya program ini sebagaimana disampaikan oleh Dito Febrian, ketua pelaksana Ecocare 2022, dalam sambutannya di awal acara. “Harapannya langkah kecil kita pada pagi hari ini bisa mengurangi erosi dari pantainya tersebut (Pantai Mangunharjo),” papar Dito. (LD)
Setelah dua tahun tidak menyajikan santapan bagi mahasiswa, food court Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) beroperasi kembali. Pengoperasian ini sejalan dengan dimulainya kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di Universitas Diponegoro (Undip) pada tahun 2022. Food court FEB terdiri dari beberapa tenant. Tenant–tenant tersebut menjajakan berbagai makanan yang disukai mahasiswa. Lokasi food court ini terletak di lantai dasar gedung C FEB Undip. Nyatanya, food court FEB tidak hanya melayani mahasiswa kampus kuning saja tetapi juga terbuka bagi seluruh mahasiswa Undip. Namun, apakah food court FEB mampu mencukupi kebutuhan mahasiswa FEB, atau bahkan Undip?
Hebatnya Food Court FEB
Dari segi harga, terdapat sejumlah makanan yang masuk kriteria “ramah di kantong”. Untuk variasi pilihan, beberapa menu menjadi favorit, salah duanya adalah soto dan nasi katsu. Food court FEB bisa menjadi penolong mahasiswa di kala lapar dan malas. Tidak heran, food court ini selalu ramai dipenuhi mahasiswa, apalagi pada jam-jam tertentu. Letak food court yang strategis pun menjadi faktor pendukung karena memudahkan mahasiswa berkunjung ke sana. Tidak hanya sekadar makan, mahasiswa juga memanfaatkan food court sebagai tempat menunggu jam pergantian kelas, berdiskusi, bahkan bersantai sambil belajar.
Tolong Dengarkan!
Sayang, masih ada beberapa kekurangan yang seharusnya sudah dapat ditanggulangi oleh para pengelola food court FEB ketika vakum 2 tahun kemarin. Beberapa kekurangan tersebut antara lain ialah tempat yang kurang luas, kurangnya meja dan kursi, masalah jaringan wifi Undip Connect serta sulitnya sinyal, tata ruang food court kurang teratur, dan banyaknya komputer tidak terpakai memenuhi sudut-sudut food court.
Terkait keterbatasan tempat, tidak ada hal yang dapat diperdebatkan karena memang kurang luas. Namun, setelah menyadari hal itu, pengelola seharusnya sadar untuk mulai menata food court serta menyingkirkan hal-hal tidak terpakai. Beberapa hal itu salah satunya adalah komputer-komputer bekas. Tak heran, banyak mahasiswa yang mengurungkan niatnya untuk makan di food court FEB. Hal ini tentu berdampak pada kesejahteraan para pemilik tenant.
Masih berhubungan dengan tempat, fasilitas kursi serta meja di food court juga belum seimbang dengan jumlah mahasiswa FEB. Meja dan kursi itu terlalu sedikit untuk bisa mencukupi bahkan setidaknya seperempat dari jumlah mahasiswa FEB. Mungkin dari hal inilah para mahasiswa mulai makan di sekitar area Dome. Nahas, kebiasaan baru itu menimbulkan dampak negatif lainnya, yaitu sampah. Belum adanya kesadaran dari seluruh mahasiswa FEB untuk membuang sampah pada tempatnya menjadikan Dome terlihat kumuh. Keranjang yang disediakan pengelola food court malah dijadikan tempat sampah. Padahal, di atas keranjang tersebut jelas-jelas tertulis, “Mahasiswa Ganteng & Cantik, kalau habis makan + minum piring & gelas kotor masukan sini dong,”. Jelas-jelas tidak tertulis satupun kata yang berhubungan dengan sampah bukan?
Karena lokasinya di lantai dasar (basement), food court FEB memiliki kondisi jaringan buruk. Kondisi ini bahkan belum bisa ditanggulangi oleh wifi Undip Connect yang digadang-gandang mampu menjangkau seluruh wilayah Undip.Situasi tersebut menyebabkan para pemilik tenant tidak dapat menggunakan metode pembayaran berbasis Quick Response code Indonesian Standard (QRIS). Hal ini tentu bertentangan dengan branding image FEB sebagai salah satu bagian dari World Class University (WCU) yang seharusnya sudah tidak asing dengan penerapan transformasi digital di lingkungan kampus.Melihat kelebihan dan kekurangan tersebut, sudah seharusnya pihak pengelola food court FEB tidak lagi tutup mata. Adanya food court yang layak bisa menjadi salah satu faktor dalam mendorong terjadinya peningkatan kualitas diri tiap-tiap mahasiswa FEB. Jika mahasiswa tercukupi dan para pemilik tenant terpenuhi kebutuhannya, iklim perekonomian mikro dan kecil di lingkup FEB Undip pun akan terpuaskan. Maka dari itu, pembenahan kembali seharusnya menjadi prioritas pengelola food court FEB saat ini.
FEB Undip (13/09) – Dalam menunjang kelengkapan
fasilitas kampus, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro
(Undip) melaksanakan pembangunan Gedung Perpustakaan. Pembangunan ini ditujukan
guna meningkatkan kenyamanan mahasiswa dan masyarakat FEB. Tentunya,
pembangunan ini akan menghadirkan suatu output
yang baik. Namun dalam perjalanannya, pembangunan Gedung Perpustakaan FEB tetap
berdampak pada kegiatan di sekitar lokasi bersangkutan, khususnya kegiatan
mahasiswa. Reporter Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edents telah melakukan
beberapa wawancara khusus kepada pihak-pihak berkepentingan untuk dimintai
pendapatnya mengenai pembangunan ini.
Hilmi
Fadhlurrahman, seorang mahasiswa jurusan Ilmu Ekonomi angkatan 2020 yang juga
merupakan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Diponegoro (BEM FEB Undip), menyampaikan pandangannya. Bagi Hilmi,
pembangunan Gedung Perpustakaan akan sangat membantu dan meringankan mahasiswa.
Ia berpendapat bahwa waktu tempuh mahasiswa yang akan ke Gedung Perpustakaan
akan lebih singkat karena tidak perlu melewati Masjid Ekonomi.
Hilmi
mengakui bahwa untuk sekarang, pembangunan yang sedang berjalan cukup
mengganggu kegiatan mahasiswa, khususnya yang berkegiatan di sebagian Gedung
Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM). Namun hal itu sepadan dengan manfaat masa depan
yang akan diterima, baik diterima mahasiswa maupun civitas akademika lainnya. “Sebenernya dengan adanya pembangunan ini
cukup terganggu, ya, baik BEM ataupun
Ormawa lainnya yang sekrenya
berhadapan sama (lokasi) pembangunan,” ujar Hilmi.
Pandangan
lain disampaikan oleh Hilmy, mahasiswa angkatan 2018 dan salah satu anggota
organisasi mahasiswa (Ormawa) Teater Buih. Bagi Hilmy, proses pembangunan cukup
mengganggu kegiatan Ormawanya, serta mungkin Ormawa lain, karena menimbulkan
suara bising. Karena itulah, bilamana akan dilangsungkan rapat atau kegiatan
rutin Ormawa, mahasiswa harus pandai beradaptasi dengan keadaan yang ada.
“Sebelum adanya pembangunan ini sebenernya
lebih tenang pastinya. Jadi, kadang bisa sering-sering nongkrong di sekitar sekre,
atau juga bisa ngelakuin kegiatan di dome juga. Jadi agak beda sama
sekarang,” jelas Hilmy.
Adanya
pembangunan ini tidak terlepas dari campur tangan para pelaksana pembangunan di
lapangan. Demi menyajikan gambaran utuh dari berbagai sudut pandang, reporter
LPM Edents pun mewawancarai salah satu pelaksana lapangan atas pembangunan
Gedung Perpustakaan. Beliau bernama Mutaqin, salah satu pelaksana lapangan
dalam pembangunan yang terjadi.
Mutaqin
memaparkan bahwa pembangunan Gedung Perpustakaan difokuskan pada penambahan
fasilitas berupa lift. “Manfaat dari
adanya pembangunan ini, bisa karena adanya lift nantinya. (Lift ini) bisa mempermudah akses dan menjadikan lebih cepat dalam
beraktivitas”, ungkap Mutaqin. Rupanya pelaksanaan pembangunan Gedung
Perpustakaan diperkirakan menghabiskan waktu selama enam bulan. Waktu itu
dihitung sejak 11 April 2022, sehingga pembangunan diperkirakan rampung sekitar
awal bulan Oktober 2022. Sebagai penutup, Mutaqin pun menyatakan bahwa
pembangunan Gedung Perpustakaan hingga saat ini sudah mencapai tingkat
penyelesaian sebesar 80 persen.
(Semarang, 13/09) Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) bukanlah hal yang asing bagi makanisme demokrasi politik di dunia kampus terutama di Universitas Diponegoro. Selasa, 13 September 2022, mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) Perma Pemira sebagai penyempurna persiapan pemilihan tampuk kepemimpinan mahasiswa. Sekilas kegiatan ini sudah menjadi rutinitas. Rapat dihadiri peserta yang terdiri dari mahasiswa dari kalangan aktivitis pergerakan, yaitu mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan ormawa internal maupun eksternal kampus.
Meski sudah menjadi hal yang tidak asing, rapat ini tidak kehilangan daya tariknya. Ketika Rapat dimulai pada pukul 19.30 WIB-selesai yang diselenggarakan secara onlinevia Microsoft Teams, para peserta secara aktif memberikan saran, tanggapan, dan masukan yang positif terhadap draft yang ditampilkan secara jelas oleh operator. Terdapat beberapa kesimpulan hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) Perma Pemira tahun ini diantaranya sebagai berikut :
Adanya penambahan nomor Perma dan tahun di sebelum kata “tentang” pada bagian memutuskan.
Tambahan dari Gusti tentang adanya kemungkinkan jika hak senator LPM dicabut dari senator SM FEB karena tidak sesuai dengan sistem politik di negara. Pendapat ini akan dipertimbangkan kembali, selanjutnya perlu menunggu sidang penetapan perma pemira tgl 18 September 2022.
Yusuf sebagai ketua SM FEB Undip setuju dengan pernyataan dari Gusti tentang persyaratan harus bebas dari KS. “Perlu dibahas bagaimana pembentukan ayat dan pengimplementasiannya bagaimana, namun sejauh ini belum ada yang kontra akan hal ini,” tutur Noel.
“Jika ada persyaratan tidak merokok di lingkungan kampus Undip, apakah ada follow up/pengawalan dan apabila terbukti melanggar harus ada sanksi yang diberikan?” tanya Gusti. Yusuf menambahkan, “Jika memang ayat ini tidak ada pengawalan, tidak apa-apa dihapuskan saja. Senat sudah memiliki kode etik tidak merokok di kawasan FEB Undip, namum BEM seperti apa?” serunya. Noel memberi pernyataan bahwa PMO BEM bisa membantu dalam keberjalanannya, dan bisa menarik ayat dari pasal ini untuk dijadikan SOP. Terakhir, Gusti berpendapat bahwa jika ada regulasi bebas rokok di lingkungan Undip ayat ini seharusnya disertakan karena sudah ada dasarnya.
Pernyataan gusti tentang calon senator dimana anggotanya harus ormawa yang bersangkutan, dan pemilihan senator himpunan dilaksanakan secara terbuka mendapat berbagai tanggapaan. “Jika akan dilakukan pemilihan secara terbuka, namun melihat kondisi sekarang beberapa ormawa tidak mengirimkan delegasi untuk menjadi senator, sehingga harus mengambil senator dari eksternal organisasi tersebut. Maka, jika kondisinya demikian, ujungnya harus bermusyawarah seperti mekanisme yang sekarang,” pungkas Yusuf. “Tidak harus dipaksakan, tetapi seiring berjalannya waktu ormawa akan lebih dewasa dan paham bahwa semua ormawa perlu perwakilan/pendelegasian ke SM FEB karena SM FEB menjadi tempat mereka bisa menyuarakan suara mereka. Terkait senator himpunan, harus dilihat kesiapan dari setiap himpunan. Apakah himpunan bersedia?” tambahan Noel. Gusti juga berasumsi jika lebih baik dapat dijadikan regulasi.
Usulan dari Sisferdi untuk penambahan redaksi atau penjelasan bahwa semua perangkat pemira tidak diperbolehkan untuk mengikuti kampanye. Yusuf menanggapi bahwa hal ini tidak perlu ditambahkan karena sudah diiperjelas pada Bab 3 Pasal 7,8, dan 9.
Pertanyaan dari Khalda tentang sumbangan yang tidak mengikat.
“Sumbangan bukan menjadi suatu keharusan dalam pengajuan calon, namun jika ada harus tetap dilaporkan,” bubuh Imam.
Setelah musyawarah hingga pasal terakhir, pimpinan rapat dengar pendapat akan menutup rapat pada hari itu. Langkah selanjutnya setelah RDP selesai, hasil rapat akan dibahas kembali oleh senat, lalu akan disahkan sebagai Perma Pemira yang baru melaui sidang pleno. Perma baru akan hadir dan mendasari kegiatan Pemira pada tahun ini. Diskusi berjalan dengan cukup baik dan rapat pun akhirnya ditutup oleh pemimpin rapat dan MC dengan presensi di link yang sudah dibagikan dan pembacaan doa.
Tim
Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) Universitas
iponegoro (UNDIP) memberikan pendampingan kepada para pengajar Komunitas
Belajar Sejahterakan Indonesa (KBSI) untuk melakukan digitalisasi edukasi
kebudayaan dengan menggunakan board game
terintegritas platform online. Tim
PKM-PM ini beranggotakan empat mahasiswa yaitu Khanuun Maulida Puspita H. dari
Fakultas Teknik (FT), Addien Safriya R. dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis
(FEB), Felisiana Ardelia A. dari FT, dan Ahmad Reihan A. dari Fakultas Sains
dan Matematika (FSM).
Kegiatan ini digelar dalam rangka mengikuti PKM-PK yang diadakan oleh Kenterian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdkti) dengan program pengajuan bernama “Mertamu Budaya”.
Program ini dilakukan oleh Tim PKM-PM UNDIP yang muncul atas keresahan para pengurus KBSI Semarang yang mencari berbagai cara yang menyenangkan untuk mengajar kebudayaan para anak-anak di sana agar tidak merasa jenuh akan pembelajaran. Adanya keresahan tersebut membuat Tim PKM-PM UNDIP datang ke KBSI Semarang dan membimbng para pengajarnya untuk membantu menemukan solusi bersama terkait dengan sistem pembelajaran budaya yang menyenangkan.
Mertamu
Budaya hadir sebagai solusi tersebut dengan memanfaatkan permainan kartu system board game yang terintegrasi
dengan aplikasi mobile. Bersama
dengan KBSI Semarang diimplementasikan-lah permainan ini bersama pengajar
maupun murid di sana. TIM PKM-PM dan pengajar KBSI Semarang berfokus untuk
mengajarkan tentang kebudayaan dari Jawa Tengah. Selain itu, Mertamu Budaya
memiliki sub program yang dilakukan untuk dapat memaksimalkan output edukasi kebudayaan tersebut. Dimulai
dari “Siapa Kita?”, yang merupakan sesi perkenalan program Mertamu Budaya
kepada siswa, dengan menampilkan video edukasi kebudayaan Jawa Tengah, agar
siswa mengerti gambaran yang akan dipelajari bersama
Program selanjutnya adalah “Mari Mengenal Jawa Tengah”, di sini TIM PKM-PM bersama pengajar melakukan tes pengetahuan kebudayaan Jawa Tengah kepada siswa di KBSI Semarang.
Kemudian, dilanjutkan dengan “Mari Bermain Board Game Mertamu Budaya!”, program ini secara langsung kami praktikan pembelajaran kebudayaan Jawa Tengah dengan menggunakan board game Mertamu Budaya. Siswa-siswi di KBSI Semarang membentuk kelompok yang terdiri dari 4 hingga 5 anak yang nantinya membutuhkan kartu “Mertamu Budaya” dan mempersiapkan 1 gawai dari pengajar untuk bermain.
Mereka
bermain dengan bersemangat, karena bisa bermain sambil beljar kebudayaan
seperti tagline milik Mertamu Budaya
yakni Mertamu Budaya, Bermain Sambil
Belajar Budaya.
Setelah
program bermain tersebut selesai, KBSI Semarang dan TIM PKM-PM melanjutkan
program lain yaitu “Menari dan Menyanyi Bersama!”, merupakan program belajar
menari dan menyanyi. Pengajar bersama TIM PKM-PM mengajarkan tarian tradisional
dan menari bersama. Setelah itu, diilanjutkan dengan menyanyi lagu daerah
bersama. Untuk tes pemahaman akan pembelajaran, ada beberapa anak yang maju
sebagai pewakilan untuk bernyanyi dan menari di depan.
Selanjutnya, TIM PKM-PM dan pengajar melaksanakan kembali program “Mari Bermain Board Game Mertamu Budaya Lagi!”, dimana berfokus untuk belajar kebudayaan Jawa Tengah kembali untuk nantinya memaksmalkan output pemahaman kebudayaan yang didapatkan siswa KBSI Semarang.
Program
terakhir adalah “Sayonara TIM PKM-PM UNDIP” yakni program evaluasi, mulai dari
evaluasi pengetahuan siswa KBSI Semarang dengan melakukan Post-Test Kebudayaan
Jawa Tengah, dilajutkan dengan evaluasi program bersana dengan pengurus dan
pengajar KBSI Semarang. Rangkaian program PKM-PM UNDIP di tutup dengan kesan
dan pesan dari para siswa, pengajar, pengurus, pengelola, dan orang tua dari
siswa di KBSI Semarang.
Harapannya
dari program Mertamu Budaya ini terus berlanjut dan berkembang di KBSI Semarang
untuk dapat menghasilkan anak muda yang berjiwa cinta budaya Indonesia. Tidak
hanya di KBSI Semarang namun di komunitas belajar yang lainnya juga dapat
diterapkan dan mampu menjadi solusi atas permasalahan edukasi budaya di
Indonesia.
Semarang (15/08/2022) – Untuk memudahkan proses pembelajaran karakter bagi anak, sekelompok mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Skema Kewirausahaan (PKM-K) tahun 2022 menciptakan sebuah inovasi berupa buku dengan berbagai fitur. Kelompok mahasiswa tersebut diketuai oleh Febiyanti Azis dengan anggota terdiri dari Ayu Diah Safitri, Muhammad Ilham, Chairullatif Aji Sadewa, dan Silvia Puspa Kumaeroh.
Produk bernama ‘Edukit’ merupakan sebuah paket berisi buku cerita dengan fitur pop-up dan augmented reality, aplikasi android, dan permainan edukatif. Produk tersebut diciptakan dengan sasaran konsumen ditujukan kepada anak usia 3 – 9 tahun. Febiyanti dan kawan-kawannya membutuhkan waktu enam bulan untuk membuat produk tersebut hingga akhirnya selesai.
Ide terciptanya produk Edukit berawal dari keprihatinan Febiyanti dan kawan-kawan atas fenomena krisis karakter pada anak yang dapat dilihat secara nyata. Contoh fenomena ini misalnya kasus pemukulan siswa, bullying, dan sebagainya. Kemerosotan karakter pada anak menjadi momok yang mengancam kualitas suatu bangsa. Maka dari itu, diperlukan adanya pembentukan karakter yang dapat ditanamkan sejak usia dini, salah satunya melalui media pembelajaran yang menarik dan interaktif.
Produk Edukit dari mahasiswa Undip ini memiliki keistimewaan tersendiri jika dibandingkan dengan produk lain yang serupa. Keistimewaan tersebut antara lain sebagai berikut.
Alur cerita yang sederhana dan mudah dipahami.
Desain berwarna dan menarik.
Fitur pop-up untuk menarik minat pembaca.
Fitur aplikasi yang meliputi menu scan augmented reality, artikel parenting, kuis interaktif, dan video edukatif.
Fitur augmented reality yang memberikan kesan nyata.
Dilengkapi dengan permainan edukatif yang memberikan pengalaman langsung untuk belajar karakter yang baik pada anak.
Adanya berbagai fitur tersebut memungkinkan terjadinya peran aktif baik dari anak maupun orang tua ketika menggunakan produk Edukit. “Edukit merupakan produk PKM Kewirausahaan kami sebagai media pembelajaran karakter anak pada rentang usia 3-9 tahun. Produk kami menggunakan konsep belajar sambil bermain, sehingga akan memberikan pemahaman yang lebih, terutama melalui gaya belajar audio, visual, dan kinestetik,” ujar Febiyanti Azis selaku ketua tim. “Kedepannya, tidak menutup kemungkinan bahwa produk kami akan dikembangkan lagi dengan berbagai fitur yang lebih lengkap dan dapat merangkap media pembelajaran di sektor dan tingkatan lainnya,” tambah Febiyanti. Febiyanti dan kawan-kawannya berharap inovasi Edukit bisa menjadi pilihan orang tua dan tenaga pendidik dalam pembelajaran karakter yang baik kepada anak-anak.
Informasi lebih lanjut mengenai Edukit dapat diakses melalui media sosial berikut.