
Semarang, (10/09) – BEM FEB bidang Somaliah memberikan wadah acara sosialisasi untuk peduli pada ekosistem pesisir, berlokasi di Selasar Gedung Prof Sudarto acara ini berhasil memberikan edukasi untuk mahasiswa umum menyadarkan akan pentingnya ekosistem pesisir agar tidak terancam lebih jauh serta memberikan gambaran umum pelestarian ekosistem. Tujuan utama acara ini adalah untuk menjadi pergerakan aksi di masyarakat luas melalui mahasiswa sebagai penggerak.
Muhammad Qusyairy Abdulloh selaku Project Officer dari Social and Environmental Discussion X EcoCare memberikan beberapa pernyataan penjelas mengenai acara yang berlangsung, “SED membahas perkembangan pada masalah pesisir terutama tentang perairan, kenaikannya permukaan laut terus juga banjir terus kita juga membahas kenapa harus ada mangrove.”
Pernyataan Abdulloh, konservasi alam dan rekonstruksi ekologi hutan mangrove, menjadi pokok utama pembahasan dalam acara. Sebagai bentuk edukasi yang nyata dipaparkan materi mengenai pentingnya hutan mangrove itu sendiri untuk kehidupan di pesisir serta implementasi langsung yang akan dijalankan di bulan september sebagai aksi nyata yang akan dijalankan sebagai salah satu hasil dari acara tersebut.
Dr. Mafut Munajat S. Hut,. M.IL. selaku bagian dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) menjelaskan bahwa acara yang dibawakan menjadi arah strategis yang memberikan kesadaran untuk mahasiswa. “Mahasiswa sebagai motor penggerak juga agent of change yang bisa memberikan harapan untuk menyadarkan dan mengedukasi masyarakat dengan keadaan pesisir di Indonesia,” ujar Mafut.
Output yang diharapkan dari acara tersebut adalah kesadaran dari mahasiswa bahkan hingga masyarakat luas supaya menjadi paham akan ilmu ekologi dan keadaan aktual pada ekosistem pesisir yang kian memprihatinkan. Abdulloh memberikan komentar bahwa ini merupakan langkah awal dalam menyadarkan masyarakat atas permasalahan yang ada di pesisir yang memerlukan pencegahan abrasi.
Adapun kebijakan yang akan diangkat oleh DLHK atas kebutuhan dari permasalahan yang ada di pesisir ini sebagai berikut:
- Mengembalikan ekosistem seperti sedia kala,
- Meminimalisir kerusakan kepada lingkungan,
- Mengedukasi masyarakat,
- Meningkatkan volume atau luas tutupan mangrove,
- Mencegah hal hal yang dapat merusak ekosistem.
Di satu sisi masyarakat sekitar masih perlu menyesuaikan skala prioritas yang diperlukan untuk keberlangsungan hidup antara aspek ekonomi dan aspek ekologi. Pernyataan ini dikutip pada wawancara eksklusif dengan Bapak Mafut, “perlu menyesuaikan antara aspek ekonomi dan ekologi jadi masyarakat itu apabila merasa diuntungkan dalam jangka pendek, bila kebutuhan jangka pendeknya terpenuhi maka masyarakat akan terlibat secara langsung.”
Upaya mitigasi yang dilakukan serta kebijakan yang perlu diperhatikan ini tidak semata hanya pada kondisi ekosistem pesisir namun juga kebutuhan ekonomi masyarakat yang perlu dipenuhi terlebih dahulu. Banyak success story dari desa – desa yang berhasil melaksanakan upaya penanaman mangrove di sekitar pesisir yang berada pada; Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Mangrove di Pasar Banggi Rembang, Pemalang di sekitar daerah Mojo, Brebes daerah Kaliwlingi, Kebumen di Muara Kali Ijo.
Tantangan utama yang dijalankan atas pelaksanaan acara SED x ECOCARE 2025 diantaranya masalah libur semester hingga masalah cuaca yang menyebabkan acara ini sedikit terhambat. “Sempat mengganti pembicara hingga mengganti tempat,” jelas Abdulloh, memberikan gambaran tentang kendala yang dihadapi selama persiapan dan pelaksanaan acara tersebut.
Acara ini menjadi titik awal kesadaran tentang pesisir lautan yang tadinya peserta kurang memahami mengenai permasalahan di pesisir, serta menyadari bahwa mangrove merupakan solusi efektif dalam mengatasi masalah-masalah laut. Acara ini sebenarnya menghadirkan dua pembicara yaitu bapak Mafut serta bapak Munhamir selaku warga terdampak yang akrab berinteraksi langsung dengan mangrove.
Abdulloh berharap peserta dapat mengambil hikmah dan semakin memahami tentang pesisir serta pentingnya mangrove. Diskusi ini dirancang untuk memantik aksi nyata sebagai bentuk keberlanjutan dengan diadakannya penanaman mangrove pada tanggal 20 September 2025 di Mangunharjo bertempat di lahan milik bapak Munhamir. Kegiatan tersebut juga akan menjadi pembelajaran langsung mengenai cara menanam mangrove.
Selain peserta dari FEB, hadir pula aktivis lingkungan dari berbagai fakultas lain, yang diajak untuk bersama-sama menuliskan harapan mereka sebagai simbol partisipasi dan komitmen terhadap pelestarian pesisir. Meski menghadapi kendala cuaca hujan selama pelaksanaan acara, antusiasme peserta tetap tinggi. Mereka terus aktif mengikuti sesi sosialisasi dan berdiskusi dengan semangat, menunjukkan komitmen kuat terhadap pelestarian ekosistem pesisir dan mangrove.
Dengan adanya sosialisasi dan aksi nyata ini, diharapkan kesadaran dan kepedulian terhadap ekosistem pesisir akan terus tumbuh dan membawa dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Reporter: Sabrina, Aldo

