KSEI FEB Undip Gelar SEHATI: Bahas Literasi Syariah dan Keuangan Digital 

SEMARANG — Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) menyelenggarakan SEHATI pada Kamis (17/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Hall Kewirausahaan FEB Undip tersebut terdiri atas rangkaian perlombaan dan panel discussion yang membahas literasi ekonomi syariah serta perkembangan keuangan digital.

Nezwa, Vice Project Officer (VPO) SEHATI, menjelaskan bahwa SEHATI merupakan program tahunan KSEI FEB Undip. Selain menjadi wadah kompetisi, kegiatan tersebut diarahkan untuk memberikan pengalaman kepada peserta sekaligus memperluas pemahaman mengenai keuangan syariah.

“Harapannya semoga Sehati ini bukan cuma sebagai program tahunan, tapi juga bisa menjadi insight tersendiri bagi para peserta seminar nasional dan memberikan pengalaman kepada peserta lomba,” ujar Nezwa saat ditemui LPM Edents, Kamis (17/9).

Mengusung tema “The Halal Way of Life: Elevating Sharia Literacy and Digital Finance in the Modern Era”, panel diskusi membahas keterkaitan antara literasi syariah dan perkembangan digital finance.

Panel diskusi menghadirkan Diana Amelia sebagai influencer, Eska dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Aam yang hadir secara daring sebagai pemantik diskusi.

Menurut Nezwa, panel diskusi diharapkan dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengetahuan baru mengenai keuangan syariah, khususnya dari para pembicara yang memiliki perhatian di bidang tersebut.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, SEHATI tidak hanya menjadi wadah kompetisi mahasiswa, tetapi juga ruang diskusi mengenai literasi keuangan syariah dan perkembangan digital finance. (Juw/Tsania)

SED x Eco Care Soroti Krisis Pesisir Mangunharjo, Ajak Mahasiswa Kawal Hak Warga 

SEMARANG — Kondisi pesisir Mangunharjo menjadi sorotan dalam Social Environmental Discussion (SED) x Eco Care yang digelar BEM FEB Undip melalui Bidang Sosial Masyarakat dan Lingkungan Hidup (Somalia), Jumat (11/9). Bertempat di Bundaran Jogging Track Undip, kegiatan ini menjadi ruang diskusi sekaligus pembekalan bagi volunteer sebelum aksi penanaman mangrove di Mangunharjo.

Project Officer SED x Eco Care, Ozah Fauziah, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian kedua dari tiga rangkaian program kerja. Setelah penanaman pohon di dataran tinggi, rangkaian kedua berfokus pada persoalan pesisir, sedangkan rangkaian ketiga akan mengangkat isu independen.

“Melalui diskusi ini, kami ingin pembekalan volunteer sebelum aksi penanaman mangrove di Mangunharjo tidak sekadar kegiatan fisik biasa, tetapi didasari oleh empati,” jelas Ozah.

Mangunharjo merupakan salah satu wilayah pesisir yang menghadapi persoalan abrasi cukup parah. Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk menyuplai bibit mangrove sebagai upaya pemulihan lingkungan. Namun, setelah muncul isu pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) berupa giant sea wall atau tanggul laut raksasa, pasokan bibit mangrove disebut terhenti. Di sisi lain, kejelasan mengenai arah pembangunan dan solusi bagi masyarakat belum kunjung diberikan.

Pembangunan infrastruktur pesisir juga dikhawatirkan mengganggu akses dan mata pencaharian nelayan. Warga menyebut nelayan berpotensi harus menempuh perjalanan lebih jauh menuju Weleri atau Demak karena belum tersedianya fasilitas pelabuhan pengganti yang memadai di Semarang.

Selain persoalan akses, warga turut menyoroti ketidakpastian hukum dan ganti rugi atas lahan serta permukiman yang terdampak banjir rob. Kritik juga diarahkan pada proyek giant sea wall yang dinilai belum tentu menyelesaikan persoalan pesisir secara menyeluruh, terlebih di tengah ancaman land subsidence atau penurunan muka tanah.

Mahasiswa Didorong Tidak Berhenti pada Empati

Melalui pemaparan hasil Focus Group Discussion (FGD), peserta membedah sejumlah studi kasus terkait persoalan pesisir. Diskusi diarahkan untuk membangun pemikiran kritis, mendorong evaluasi proyek, serta mempertimbangkan pendekatan restorasi lingkungan berbasis ekologi.

Ozah menekankan bahwa kepedulian terhadap isu lingkungan tidak cukup berhenti pada angka dan statistik, tetapi perlu diwujudkan melalui kepekaan terhadap kehidupan masyarakat terdampak.

“Sebagai mahasiswa, sudah menjadi kewajiban kita untuk memanusiakan manusia lain dan mengawal isu-isu di sekitar kita agar tidak tenggelam begitu saja setelah tidak lagi viral,” pungkas Ozah

Mahasiswa KKN Undip Kenalkan Nilai Guna dan Nilai EkonomisPOC kepada Ibu-Ibu PKK Desa Lebosari

Semarang, 20 Agustus 2026 — KKN Tim II UNDIP di Desa Lebosari menyelenggarakan program kerja pemaparan materi bertajuk “Nilai Guna dan Nilai Ekonomis Pupuk Organik Cair (POC)” yang bertempat di Balai Desa, Desa Lebosari, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, pada Sabtu, 1 Agustus 2026, dengan sasaran Ibu-ibu PKK setempat.


Kegiatan ini diinisiasi sebagai respons terhadap masih terbatasnya pemahaman warga mengenai manfaat pupuk organik cair, baik dari sisi nilai guna dalam mendukung praktik pertanian maupun nilai ekonomisnya sebagai alternatif yang lebih hemat dibandingkan pupuk kimia. Dengan menyasar Ibu-ibu PKK sebagai peserta utama, program ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai manfaat POC serta potensi pemanfaatannya di tingkat rumah tangga maupun usaha tani keluarga.

Fasilitator sekaligus pemateri dalam kegiatan ini, Sholekah, menjelaskan alasan
pemilihan topik tersebut sebagai program kerja. “Saya mengangkat topik nilai guna
dan nilai ekonomis POC ini karena ingin membantu Ibu-ibu PKK memahami bahwa
pupuk organik cair tidak hanya bermanfaat untuk tanaman, tetapi juga bisa menekan
pengeluaran rumah tangga karena bahan dan cara pembuatannya cukup sederhana,”
ujarnya.


Pelaksanaan kegiatan diawali dengan pemaparan materi secara interaktif mengenai pengertian POC, manfaatnya bagi tanaman dan tanah, serta perbandingan nilai ekonomisnya dibandingkan pupuk kimia. Sesi ini kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab, di mana Ibu-ibu PKK aktif bertanya seputar cara pembuatan POC secara sederhana serta bahan-bahan yang mudah didapatkan di lingkungan sekitar. Peserta tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan dari awal hingga akhir.


Sebagai tindak lanjut, fasilitator menyusun sebuah booklet berjudul Nilai Guna dan Nilai Ekonomis Pupuk Organik Cair yang merangkum keseluruhan materi secara lebih terstruktur dan lengkap. Booklet ini kemudian diserahkan kepada perangkat Desa Lebosari, dalam hal ini Kepala Desa (Lurah), Bapak M. Lutfi Kurniawan, di kemudian hari, sebagai bentuk dokumentasi sekaligus arsip desa yang dapat terus digunakan dan disosialisasikan kembali kepada warga lain yang tidak sempat hadir.


Melalui kegiatan ini, diharapkan Ibu-ibu PKK Desa Lebosari dapat lebih memahami manfaat POC, baik dari sisi nilai guna maupun nilai ekonomisnya, sehingga mendorong pemanfaatan sampah organik rumah tangga menjadi pupuk organik cair secara lebih luas dan berkelanjutan di Desa Lebosari.


Penulis/Reporter: Sholekah Eka Putri Trisnawati
Kontak Media / Humas Kelompok: kknlebosari2026@gmail.com

Manfaatkan Limbah Organik, Tim KKN Desa Lebosari Gelar Demonstrasi danSosialisasi Pembuatan Pupuk Organik Cair Kepada Masyarakat Desa Lebosari Kendal

Semarang, 20 Agustus 2026 – Melalui program multidisiplin, tim KKN menyelenggarakan
demonstrasi dan sosialisasi pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) yang melibatkan
partisipasi aktif warga. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kesuburan tanah secara
alami sekaligus memanfaatkan limbah organik rumah tangga agar tidak terbuang begitu saja.


Rangkaian acara diawali dengan sosialisasi jenis-jenis bahan organik yang sering kali
terbuang sia-sia dari limbah rumah tangga. Dilanjutkan sesi demonstrasi, warga diajak
melihat dan berkesempatan mencoba secara langsung proses pembuatan dari Pupuk Organik Cair ini. Warga melihat secara langsung proses pemilahan bahan, pencampuran larutan fermentasi, hingga teknik penyimpanan wadah agar proses pembentukan pupuk cair berjalan optimal.


Guna memastikan pesan dan teknik pembuatan pupuk organik cair dapat diserap dengan
maksimal, seluruh materi praktis tersebut dikemas ke dalam bentuk poster edukatif. Media
visual ini disusun dengan tata letak yang informatif dan menarik, memuat petunjuk langkah
demi langkah, takaran bahan, hingga cara penyemprotan pada tanaman.


Poster edukasi tersebut kemudian disebarluaskan kepada masyarakat Desa Lebosari yang
hadir dalam acara sosialisasi demonstrasi pembuatan pupuk organik cair (POC). Meski
kegiatan sosialisasi dan demonstrasi sempat menemui tantangan dalam alokasi waktu yang terbatas, acara ini tetap lancar dilaksanakan dari awal hingga akhir pada Jumat, 31 Juli 2026 di Balai Desa Lebosari.


Penulis/Reporter: Refi Mediana
Fotografer: Rafif Ulil
Kontak Media / Humas Kelompok: kknlebosari2026@gmail.com

KKN-T IDBU 32 Undip Tumbuhkan Kreativitas melalui Edukasi Lingkungan di Gojoyo

DEMAK (21/7) – Edukasi lingkungan dikemas melalui berbagai kegiatan kreatif oleh mahasiswa KKN Tematik IDBU 32 Universitas Diponegoro di Dukuh Gojoyo, Desa Wedung, Kabupaten Demak. Mulai 10 Juli hingga 21 Juli 2026, program tersebut mengajak anak-anak dan masyarakat memanfaatkan sumber daya alam serta barang bekas menjadi karya yang bernilai sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan pesisir.

Program ini berada di bawah bimbingan Dr. Restiana Wisnu Ariyati, S.Pi., M.Si., Dr. Lestari Lakhsmi W., S.Pi., M.Pi., dan Dr.-Ing. Wisnu Pradoto, S.T., M.T. Kegiatan dirancang untuk menguatkan tiga aspek utama, yaitu kesadaran lingkungan, pembentukan karakter dan keterampilan hidup, serta pengembangan potensi ekonomi masyarakat.

Dzaky Abdul Rafi selaku Ketua kelompok 1 KKN-T IDBU 32 menjelaskan bahwa Dukuh Gojoyo memiliki potensi sumber daya alam, hasil laut, UMKM, dan generasi muda yang besar.Namun, sebagian potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan pengetahuan pengelolaan lingkungan, pengolahan produk, dan pemasaran usaha.

Salah satu kegiatan bertema “Dari Sampah Jadi Cuan” yang dipandu oleh Dewi Nurul Fa’idah mendapat antusias yang tinggi dari para siswa/i.  Dimana kegiatan ini mengajak anak-anak SMP 03 Wedung mengubah barang bekas seperti plastik kemasan diubah menjadi gantungan kunci yang siap dipakai maupun dijual. 

Gambar 1. Gantungan kunci

Program ini tidak hanya melatih kreativitas dan keterampilan tangan siswa, tetapi juga menanamkan pemahaman bahwa sampah rumah tangga memiliki potensi nilai ekonomis apabila dikelola dengan tepat, sekaligus menjadi langkah awal mengurangi volume limbah plastik di lingkungan sekitar mereka.

“Saya kira sampah plastik sudah tidak bisa dipakai lagi, ternyata bisa dibuat gantungan kunci yang lucu seperti ini,” ujar salah satu siswi kelas 7 SMP 03 Wedung.

Dewi Nurul Fa’idah menambahkan bahwa barang bekas yang sering dianggap tidak bernilai sebenarnya masih dapat dimanfaatkan kembali. Menurutnya, dengan kreativitas sederhana, sampah dapat diubah menjadi produk yang menarik sekaligus mengurangi jumlah limbah yang dibuang ke lingkungan. Ia berharap keterampilan yang diperoleh siswa dapat terus dikembangkan secara mandiri, bahkan berpotensi menjadi peluang usaha kecil di tingkat rumah tangga maupun sekolah.

Gambar 2. Demonstrasi pembuatan gantungan kunci

Kegiatan lainnya yang menjadi perhatian siswa/i adalah pelatihan ecoprint pada media tote bag yang dipandu oleh Akbar Nur Kholis. Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diajak memanfaatkan berbagai jenis daun yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar sebagai bahan pembentuk motif alami pada tote bag berbahan kain. Anak-anak terlebih dahulu dikenalkan pada konsep ecoprint, kemudian mempraktikkan langsung proses penyusunan daun, pemukulan, hingga terbentuknya pola dan warna alami pada media kain. 

Gambar 3. Proses pembuatan ecoprint

“Wah, daunnya ternyata bisa mewarnai tote bag yang tadinya putih. Saya baru tahu kalau daun bisa dipakai untuk membuat karya seperti ini,” ujar Tama, siswa kelas VII.

Akbar Nur Kholis mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan pemanfaatan sumber daya alam secara kreatif dan ramah lingkungan. Menurutnya, ecoprint tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga membuka wawasan anak-anak mengenai potensi bahan alami yang ada di sekitar mereka

Gambar 4. Foto bersama hasil ecoprint

Selain kedua program tersebut, mahasiswa KKN-T IDBU 32 menghadirkan sejumlah program pendukung. Di bidang lingkungan, digelar kegiatan “Jelajah Mangrove” serta edukasi mengenai ikan invasif untuk membangun kepedulian anak terhadap kelestarian ekosistem perairan. Program “Aksi Jaga Air, Jaga Kehidupan” turut mengajarkan siswa 

praktik pembuatan filter air sederhana sebagai bekal keterampilan pengelolaan sumber daya air bersih di lingkungan rumah masing-masing. Pada aspek pengelolaan sampah, anak-anak juga diajak berkreasi melalui teknik eco mozaic berbahan limbah plastik dalam program “Sampahku, Karyaku”, yang menekankan pentingnya kesadaran memilah dan memanfaatkan sampah sejak usia dini. 

Gambar 5. Foto bersama 

Sementara itu, untuk mendukung sektor ekonomi lokal, Mahasiswa juga mendampingi UMKM Kerupuk Udang milik Ibu Khotijah melalui produksi video promosi digital. Pendampingan tersebut dilakukan untuk membantu pelaku usaha memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran yang lebih luas sekaligus memperkuat identitas produk lokal Gojoyo.

Gambar 6. Proses pembuatan video promosi

“Saat ini media sosial menjadi salah satu sarana promosi yang efektif. Karena itu, kami mendampingi UMKM dalam pembuatan video promosi agar produk kerupuk udang dapat dipasarkan dengan lebih optimal melalui platform digital,” kata Faris Abyan Nugroho dan Boblie Yoas Eurano, pelaksana program Penguatan Branding UMKM Kerupuk Udang.

Selain kreativitas berbasis lingkungan, mahasiswa juga memperkenalkan berbagai pengetahuan mengenai literasi keuangan, penguatan nilai-nilai Pancasila, pengembangan minat dan cita-cita anak, pengenalan biota laut, serta pencegahan perilaku merokok pada remaja.

Mahasiswa berharap edukasi lingkungan yang telah diberikan dapat terus dipraktikkan oleh anak-anak dan masyarakat Dukuh Gojoyo dalam kehidupan sehari-hari. Keberlanjutan program diharapkan dapat mendorong warga setempat mengoptimalkan potensi alam dan sampah di sekitar mereka menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis, sekaligus memperkuat kesadaran menjaga kelestarian lingkungan pesisir.

TambakKu: Mahasiswa KKN-T IDBU 32 Undip Hadirkan Website Logbook Digital untuk Kelompok Tani Gojoyo

DEMAK (27/7) Mahasiswa KKN Tematik IDBU 32 Universitas Diponegoro mengembangkan website logbook budidaya digital bernama “TambakKu” untuk membantu Kelompok Tani Onggojoyo Jaya di Dukuh Gojoyo, Demak, mencatat kegiatan budidaya tambak seperti udang, bandeng, dan komoditas lainnya secara lebih terstruktur. Kegiatan ini dilaksanakan pada 26 Juli 2026 di kediaman Maskur selaku ketua kelompok tani Onggojoyo Jaya.

Selama ini, kelompok tani masih melakukan pembukuan kegiatan budidaya secara manual dan belum pernah menghitung laba rugi usaha secara terpisah dari data produksi. Kondisi tersebut membuat pencatatan rentan hilang, atau sulit ditelusuri kembali saat dibutuhkan. Menjawab persoalan ini, Faris Abyan Nugroho dari jurusan Akuakultur bersama Muhammad Hafidz Kurniawan dari jurusan Akuntansi merancang website logbook digital sekaligus mendampingi kelompok tani dalam praktik pengisiannya.

Gambar 1. Sosialisasi website TambakKu

“Website logbook budidaya digital ini kami buat untuk memudahkan Kelompok Tani Onggojoyo Jaya dalam mencatat kegiatan budidaya secara lebih praktis dan rapi. Dengan sistem digital, data dapat tersimpan lebih aman, mudah diakses, dan membantu pemantauan kegiatan budidaya secara lebih terorganisir,” kata Faris dan Hafidz selaku pengembang website.

Gambar 2. Website TambakKu

Dalam website TambakKu terdapat berbagai macam fitur seperti pencatatan data dan siklus budidaya, pembukuan biaya, HPP, dan laba/rugi serta pembuatan laporan budidaya dan keuangan secara otomatis. Melalui “TambakKu” kelompok tani kini dapat lebih mudah mencatat data budidaya sekaligus arus keuangan pemasukan dan pengeluaran usaha dalam satu sistem yang terintegrasi, menggantikan pencatatan konvensional berbasis buku yang selama ini digunakan.

Ketua kelompok Onggojoyo Jaya Maskur menyambut baik kehadiran platform tersebut. 

“Harapannya dengan adanya website ini, pencatatan kegiatan budidaya dan keuangan kelompok bisa lebih mudah. Selama ini pencatatan masih menggunakan buku, jadi kadang bisa tercecer atau bahkan hilang. Dengan adanya pencatatan secara digital, data budidaya, pemasukan, dan pengeluaran bisa tersimpan dan lebih mudah dilihat kembali. Jadi kalau sewaktu-waktu membutuhkan laporan atau ingin melihat perkembangan budidaya, datanya sudah ada dan tidak perlu mencari-cari catatan di buku” tutur Maskur 

Dalam kesempatan tersebut, Maskur juga memberikan masukan agar identitas kelompok tani dapat ditampilkan pada sistem yang dikembangkan. Ia mengusulkan penambahan logo Kelompok Tani Onggojoyo Jaya pada tampilan website maupun laporan yang dihasilkan sehingga dapat memperkuat identitas kelompok dalam setiap dokumentasi kegiatan budidaya.

Gambar 3. Foto bersama kelompok Tani Onggojoyo Jaya

Dengan adanya logbook digital “TambakKu” diharapkan menjadi langkah awal digitalisasi tata kelola usaha budidaya di Dukuh Gojoyo, sehingga kelompok tani dapat memantau kinerja usahanya secara lebih transparan dan berbasis data. Kedepannya, sistem pencatatan digital ini juga berpotensi menjadi dasar bagi kelompok tani dalam mengambil keputusan usaha maupun menyusun laporan keuangan yang lebih akuntabel.

Penulis : Tim 1 KKN-T IDBU 32 Undip

Ajang Mas Mbak FEB 2026: Siapa yang Layak Menjadi Wajah Kampus?

Suasana meriah dan penuh semangat terasa di Hall Pertamina, Gedung Dekanat Lantai 3 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro pada Jumat (22/5). BEM Divisi Kepemudaan Bidang Seniora menggelar Uji Publik dan Uji Bakat Mas Mbak FEB 2026, sebuah rangkaian seleksi yang menjadi salah satu tahap penting dalam pemilihan representasi terbaik FEB untuk menuju ajang Mas Mbak Undip.

Acara yang terbuka untuk umum ini berhasil menarik perhatian mahasiswa. Tidak hanya menjadi ajang kompetisi, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi para peserta untuk menunjukkan karakter, kemampuan, dan potensi diri mereka di hadapan penonton dan panitia.

Sebelum sampai pada tahap uji publik dan uji bakat, para peserta telah melewati berbagai proses seleksi yang cukup panjang. Rangkaian dimulai dari open registration pada 25–29 April 2026, kemudian dilanjutkan dengan seleksi administrasi, wawancara, Leaderless Group Discussion (LGD), hingga upgrading class. Setelah tahap yang berlangsung pada Jumat ini, para peserta nantinya akan menunggu awarding sekaligus pengumuman finalis Mas Mbak FEB 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Mei mendatang.

Dalam sesi uji publik, peserta diuji melalui kemampuan berbicara, cara berpikir, hingga bagaimana mereka merespons isu dan lingkungan di sekitar FEB. Sementara itu, pada sesi uji bakat, para peserta tampil membawakan beragam kemampuan dan kreativitas yang membuat suasana semakin hidup.

Menurut panitia, sosok yang layak menjadi Mas dan Mbak Undip bukan hanya mahasiswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga pribadi yang memiliki rasa cinta terhadap FEB Undip, mampu membangun komunikasi yang baik dengan orang lain, percaya diri saat berbicara di depan publik, serta peka terhadap lingkungan sekitar.

Melalui program kerja ini, BEM Seniora ingin menghadirkan wadah pengembangan mahasiswa yang tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga pembentukan karakter dan kontribusi sosial. Selain mencari representasi terbaik fakultas, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengembangkan potensi mahasiswa, meningkatkan keterlibatan dalam pelestarian budaya, serta memperkuat citra FEB Undip sebagai fakultas yang aktif, unggul, dan berprestasi.

Lebih dari sekadar ajang pemilihan, Mas Mbak FEB 2026 menjadi ruang bagi mahasiswa untuk bertumbuh, berani menunjukkan kemampuan diri, dan mempersiapkan langkah menuju kompetisi di tingkat yang lebih luas.

Mei Berkabung: Ruang Ingatan di Tengah Sunyinya Penyelesaian HAM

Bidang Hukum Sosial Politik BEM FH Undip 2026 menggelar kegiatan “Mei Berkabung” pada Senin, 18 Mei 2026 hingga Rabu, 20 Mei 2026 di Beranda Kreativitas Fakultas Hukum Universitas Diponegoro. Mengusung tema “Merawat Ingatan: Elegi untuk Mereka yang Dibungkam”, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus ekspresi mahasiswa terhadap berbagai persoalan hak asasi manusia di Indonesia.

Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dengan rangkaian acara yang berbeda di tiap harinya. Pada hari pertama, panitia mengadakan diskusi mengenai degradasi HAM akibat Undang-Undang TNI. Hari kedua diisi dengan bedah film Pesta Babi yang membahas pelanggaran HAM di Papua. Sementara pada hari terakhir, panitia menghadirkan panggung bebas dan gigs musik.

Panggung bebas tersebut membuka ruang bagi mahasiswa untuk tampil melalui berbagai bentuk ekspresi, mulai dari orasi, pembacaan puisi, menyanyi solo, akustik, hingga monolog puisi. Untuk menjaring partisipasi mahasiswa, panitia menyebarkan tautan registrasi bagi peserta yang ingin tampil dalam acara tersebut.

Selain itu, panitia juga mengirim undangan ke sejumlah organisasi mahasiswa, seperti BEM dan Lembaga Pers Mahasiswa, guna menarik lebih banyak peserta untuk hadir dan terlibat dalam kegiatan.

Menurut panitia, “Mei Berkabung” merupakan agenda tahunan yang selalu mengalami perubahan konsep di setiap penyelenggaraannya. Meski demikian, mereka menegaskan bahwa esensi kegiatan tetap sama, yakni merawat ingatan mengenai pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan bulan Mei.

Panitia berharap kegiatan tersebut tidak hanya dipandang sebagai hiburan atau ajang seru-seruan semata. Mereka menilai masih banyak kasus pelanggaran HAM di Indonesia yang hingga kini belum memperoleh penyelesaian maupun keadilan.

“Semoga ke depannya tetap menjadi salah satu wadah untuk menyuarakan HAM. Orang-orang juga semakin sadar dan tidak lupa atas kejadian pelanggaran HAM yang ada di Indonesia,” ujar panitia.

Salah satu band yang tampil dalam acara tersebut juga mengaku puas dengan respons penonton selama penampilan berlangsung. Mereka merasa lega karena penampilan mereka mendapat sambutan positif dari audiens yang hadir.

Meski demikian, dari sisi teknis, mereka menilai masih ada beberapa hal yang dapat diperbaiki untuk penyelenggaraan tahun berikutnya.

“Sekarang sudah bagus, tapi bisa lebih bagus lagi,” ujar salah satu anggota band. Mereka berharap ke depan panitia dapat lebih mengakomodasi kebutuhan para pengisi acara agar persiapan penampilan menjadi lebih matang dan terorganisasi.

Rapat Pra-Public Hearing : Menyuarakan dan Menyatukan Aspirasi Mahasiswa FEB

Hall Pertamina FEB Undip, Jumat (8/5) — Seluruh perwakilan Ormawa FEB dan delegasi tim advokasi berkumpul untuk melaksanakan rapat Pra-Public Hearing. Pertemuan ini bertujuan mendiskusikan serta menyaring aspirasi mahasiswa yang dihimpun melalui kuesioner Senat FEB dan tim advokasi, sekaligus memastikan suara yang disampaikan kepada dekanat pada audiensi terbuka 19 Mei mendatang tetap solid dan tidak terpecah. Agenda ini dipandu oleh Akmal Febrian Faturrahman selaku moderator.

Pembahasan Isu Akademik : Isian Rencana Studi (IRS)

Pembahasan mencakup dua domain utama, yakni Isu Akademik serta Isu Sarana dan Prasarana (Sarpras). Pada ranah akademik, poin yang cukup menyita perhatian adalah dinamika Isian Rencana Studi (IRS). Beberapa kendala yang mencuat meliputi keterbatasan kuota, lambannya penambahan kelas, hingga jadwal yang bertabrakan akibat perubahan sistem secara sepihak.

“Khususnya di program studi Akuntansi angkatan 2023, banyak mahasiswa kesulitan karena sistem membaca peminatan yang tidak sesuai. Dampaknya, jadwal mereka terlempar bahkan tertumpuk menjadi lima kelas di satu waktu,” jelas Aldo dari Senat FEB.

Hal senada diungkapkan oleh delegasi Keluarga Mahasiswa Akuntansi (KMA). Menurutnya, kuota mata kuliah peminatan yang sangat terbatas memaksa mahasiswa pindah ke kelas yang tidak sesuai dengan minat mereka. Masalah ini ternyata tidak hanya menimpa mahasiswa Akuntansi. Nabil, delegasi dari Management Student Association (MSA), menyampaikan bahwa keterbatasan kuota peminatan juga memaksa mahasiswa Manajemen mengambil mata kuliah yang tidak mereka minati. Mengingat krusialnya dampak masalah ini, forum menyepakati agar isu IRS dibawa ke dalam Public Hearing.

Isu Sulitnya Proses Pengajuan Penurunan UKT

Selain IRS, forum juga membahas sulitnya proses pengajuan penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Meskipun data kuesioner tidak menunjukkan ini sebagai masalah mayoritas, Galang dari tim advokasi menilai adanya bias data. Ia berpendapat mahasiswa yang mengisi “tidak kesulitan” dalam kuesioner kemungkinan besar adalah mereka yang memang tidak pernah mengajukan penurunan UKT.

“Saya merasa ada yang bias dari survei UKT. Mayoritas bilang tidak kesulitan karena kemungkinan mereka memang tidak mengajukan. Saya sendiri sudah tiga kali mengajukan dan tidak disetujui, padahal seluruh syarat sudah terpenuhi,” pungkas Galang.

Aldo dari Senat menanggapi pernyataan Galang dengan mengingatkan bahwa isu UKT dinaungi langsung oleh Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma) BEM FEB. Ia menyarankan agar masalah ini tidak perlu disampaikan di Public Hearing, tetapi agar ditangani langsung oleh pihak Kesma BEM FEB. Setelah berdiskusi, isu ini disepakati forum untuk ditunda (di-hold) terlebih dahulu 

Tabel Ringkasan Isu Akademik

Berikut ringkasan tabel isu pada ranah akademik meliputi status pembahasan, status pembahasan, pertimbangan, serta mekanisme tindak lanjut :

Isu AkademikStatus PembahasanPertimbanganMekanisme Tindak Lanjut
Sistem Pengisian Isian Rencana Studi (IRS)FixSering terjadi kendala teknis, lambatnya penambahan kuota, jadwal bentrok, dan kurangnya kejelasan informasi. Data menunjukkan 73,6% responden mengalami kendala.Akan diangkat dalam forum Public Hearing
Dosen Wali / Pembimbing AkademikFixBanyak mahasiswa merasa tidak mendapatkan bimbingan maksimal, padahal dosen wali menerima insentif. Mayoritas audiens forum merasa kurang dibimbing dalam perencanaan studi.Akan diangkat dalam forum Public Hearing
Evaluasi Dosen (PBM)FixPengisian evaluasi dianggap formalitas, sistemnya bertele-tele (pertanyaan tidak substantif), dan tidak ada transparansi tindak lanjut hasil evaluasi.Diangkat ke Public Hearing dengan menawarkan solusi konkret berupa revitalisasi sistem dan penyederhanaan kuesioner.
Tenaga Pendidik (Dosen) BermasalahFix pada beberapa bagianMasalah meliputi ketidakteraturan jadwal dan dosen tidak memenuhi kewajiban RPS. Birokrasi cenderung defensif jika menyerang oknum secara terbuka, serta adanya kekhawatiran relasi kuasa (ancaman nilai).Sosialisasi kanal pengaduan dan mekanisme penindakan dibawa ke Public Hearing. Laporan spesifik mengenai oknum dosen dilakukan melalui lobi tertutup.
Penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT)HoldIsu tidak bersifat kolektif dan mayoritas responden (71,91%) tidak mengalami kesulitan. Pihak Kesma BEM sudah mempersiapkan penanganan mandiri.Tidak dibawa ke Public Hearing; ditangani melalui penjaringan mandiri dan lobi oleh bidang Kesma BEM.
Magang dan Studi Independen (MSIB / Konversi)HoldKurangnya transparansi kualifikasi perusahaan yang bisa dikonversi. Prosedur bergantung pada kebijakan prodi, dan data pendukung/bukti penolakan belum cukup kuat untuk forum terbuka.Tidak dibawa ke Public Hearing; akan dikaji lebih lanjut atau diaudiensikan ke prodi masing-masing terlebih dahulu.

Tabel: Ringkasan Isu Akademik

Pembahasan Isu Sarpras : Musala Gedung C Kurang Terawat

Pembahasan kemudian berlanjut pada ranah isu Sarana dan Prasarana (Sarpras). Pada ranah ini, forum mendiskusikan masalah fasilitas penunjang kegiatan mahasiswa di lingkungan FEB, contohnya masalah musala di Gedung C yang kurang terawat, seperti yang disampaikan Aldo dari Senat FEB.

“Musala Gedung C sangat bau, tempat wudu cowok digabung dengan toilet, sajadah sedikit, dan sekat pria-wanita sangat menggantung, ” jelas Aldo. Fitri dari delegasi advokasi juga menambahkan mukena dan alas di mushola tersebut memiliki bau apek yang membuat tidak nyaman ketika beribadah. Karena banyak dikeluhkan forum menyepakati membawa isu ini ke Public Hearing.

Masalah lainnya yang dibahas terkait Sarpras adalah tentang kelayakan toilet yang banyak mendapat keluhan. Beberapa temuan yang disampaikan oleh tim advokasi di antaranya: toilet di berbagai gedung kekurangan sabun dan berbau, wastafel mampet, serta kunci pintu yang rusak. Terdapat usulan agar disediakan keseimbangan antara jumlah kloset duduk dan jongkok. 

Menanggapi keluhan yang cukup masif tersebut, Rohib dari Senat mengusulkan agar masalah toilet tidak hanya disampaikan pada saat Public Hearing, tetapi juga dibuatkan inventarisasi per gedung agar dapat diadvokasikan secara langsung kepada Wakil Dekan II. 

“Mungkin isu ini tetap kita bawakan ke forum, tetapi nanti caranya kita lakukan inventarisasi per gedung untuk diadvokasikan langsung ke Wakil Dekan II,” jelas Rohib.

Tabel Ringkasan Isu Sarpras

Berikut ringkasan tabel isu pada ranah Sarpras meliputi Keputusan Forum, status pembahasan, pertimbangan, serta mekanisme tindak lanjut :

Isu Sarana Prasarana (Sarpras)Keputusan ForumPertimbanganMekanisme Tindak Lanjut
Perlengkapan ibadah di Gedung C (musala tidak terawat, sajadah/mukena bau apek, fasilitas wudu kurang layak)Public HearingKondisi fasilitas di Gedung C sangat kontras dan timpang dibandingkan Gedung A dan B, sehingga memerlukan tindakan perbaikan segera dari pihak birokrasi.Mengangkat isu ini ke Public Hearing dengan membawa bukti visual kondisi fasilitas di Gedung C.
Ketidaknyamanan kamar mandi (bau, mampet, tidak ada sabun, kunci rusak) dan ketimpangan jumlah kloset duduk/jongkok.Public HearingMasalah kebersihan dan pemeliharaan (maintenance) kamar mandi sangat memengaruhi kenyamanan dasar mahasiswa dan pengerjaannya masih tidak merata di seluruh gedung.Melakukan inventarisasi masalah kamar mandi per gedung untuk dilaporkan kepada Wakil Dekan II dalam forum terbuka.
Kurangnya jumlah stop kontak di kelas dan banyaknya fasilitas stop kontak atau kabel roll yang tidak berfungsi maksimal.Public HearingFasilitas ini sangat krusial untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, namun jumlahnya saat ini tidak sebanding dengan kapasitas mahasiswa di kelas.Membawa isu ini ke forum terbuka untuk menuntut penambahan dan perbaikan titik-titik stop kontak yang rusak.
Kelayakan fasilitas kelas seperti proyektor yang bermasalah, kursi yang rusak, dan meja yang tidak seragam.Public HearingBanyaknya inventaris kelas yang rusak (kursi reok) secara langsung menghambat efektivitas proses belajar mengajar mahasiswa.Melakukan inventarisasi kondisi kelas per gedung beserta bukti foto untuk disampaikan kepada pimpinan saat audiensi.
Kapasitas parkir kendaraan mahasiswa yang overload dan kurangnya penataan layout parkir.Public HearingMasalah parkir diprediksi akan semakin parah dengan kehadiran mahasiswa baru, sehingga memerlukan solusi rekonstruksi layout atau pemanfaatan lahan baru segera.Membahas opsi rekonstruksi layout parkir di samping danau dan optimalisasi pemanfaatan basement Gedung C.
Koneksi jaringan internet atau Wi-Fi yang buruk di Gedung A, Gedung B lantai 1, dan Gedung PKM.Public HearingMasalah ini dirasakan secara luas oleh mahasiswa dan organisasi mahasiswa (Ormawa) dalam menunjang kegiatan akademik maupun organisasional.Mengangkat isu buruknya koneksi jaringan internet ke dalam daftar utama bahasan Public Hearing.
Fasilitas air minum (galon dan dispenser) yang sering kosong dan belum memadai di setiap gedung.Lobi TertutupIsu dianggap kurang mendesak untuk forum terbuka karena pihak dekanat sudah beritikad baik. Dibutuhkan data survei konsumsi harian agar argumen tidak menjadi bumerang saat audiensi.Melakukan survei transparansi kebutuhan air per hari per gedung untuk mendapatkan data konkret sebelum diajukan kembali via lobi.
Penyediaan area bebas rokok (Smoking Area).Lobi TertutupTerdapat Peraturan Rektor dan Surat Edaran Undip 2024 yang menetapkan kawasan tanpa rokok secara total, sehingga sulit memaksakan pengadaan area merokok di forum resmi.Melakukan lobi tertutup terkait penertiban tenaga pendidik yang masih merokok sembarangan sebelum menuntut fasilitas bagi mahasiswa.
Fasilitas sepeda kampus (PKU) yang terbengkalai.Lobi TertutupIsu ini dinilai memiliki tingkat urgensi yang rendah (low urgency) dibandingkan dengan masalah sarana prasarana lainnya yang lebih mendesak.Isu ditinjau secara internal atau melalui jalur lobi langsung kepada pihak terkait tanpa melalui forum Public Hearing.
Kebijakan jam malam di FEB untuk kegiatan mahasiswa dan belajar mandiri.Lobi TertutupPengadaan jam malam dianggap akan membebani anggaran serta staf keamanan secara berlebihan, sementara mahasiswa sudah terbiasa belajar di luar kampus.Isu ini diturunkan dari agenda dan tidak akan dibahas dalam forum Public Hearing.

Tabel: Ringkasan Isu Sarpras

Dengan dirumuskannya poin-poin krusial dalam rapat pra-audiensi ini, diharapkan aspirasi mahasiswa FEB dapat tersampaikan secara utuh dan terstruktur. Advokasi yang solid akan menjadi kunci dalam mewujudkan perbaikan akademik maupun sarana prasarana yang berdampak langsung pada kenyamanan perkuliahan mahasiswa.

DESC Adakan “Senomi” Sebagai Acara Awarding Perlombaan Olahraga

Sabtu, 09/05/2026, Diponegoro Economics Student Community (DESC) mengadakan acara awarding bertajuk “Senomi” atau Senandung Ekonomi di Dome FEB Undip mulai pukul 09.30 WIB. Acara tersebut merupakan bagian penutup dari perlombaan olahraga yang telah dilaksanakan pada minggu sebelumnya.

Project Officer acara, Nur Baiti, menyampaikan bahwa Senomi terbuka untuk umum dan tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa prodi ekonomi.

Acara diawali dengan sambutan dari panitia dan dilanjutkan dengan beberapa penampilan hiburan seperti seni tari dan band.

Dalam acara tersebut, Economusic turut tampil sebagai pengisi acara. Economusic sendiri merupakan komunitas musik FEB yang telah berdiri sejak tahun 2017. Setelah tampil, pihak Economusic mengaku senang dapat menjadi bagian dari acara Senomi dan merasa lega karena penampilan mereka berjalan dengan lancar.

Di akhir acara, Nur Baiti berharap agar Senomi dapat semakin dikenal oleh warga FEB pada pelaksanaan berikutnya.