Gelar Webinar Ekonomi Syariah, Prodi Ekonomi Islam FEB Undip Turut Hadirkan Wakil Presiden

Oleh: Aji dan Seli

(FEB Undip 28/04) – Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) bekerjasama dengan Pegadaian Syariah, Dana Kebaikan Umat, Bank Indonesia, dan OJK guna mengadakan Webinar Ekonomi Syariah dengan tema “Penguatan Industri Ekonomi Syariah di Era Digitalisasi dan New Normal”. Acara yang berlangsung pukul 08.20 WIB ini, dilaksanakan melalui platform Zoom Meeting serta siaran langsung pada kanal Youtube Undip TV Official dengan total audiensi yang hadir lebih dari 600 orang. Audiens yang hadir pada webinar tersebut beragam, mulai dari mahasiswa dan dosen dari berbagai kampus di Indonesia, hingga pegawai perusahaan penyelenggara. Acara ini dipandu oleh dua pembawa acara, yaitu Rica Dwi C. dan Widya Arga P., mahasiswi program studi (prodi) Ekonomi Islam, dengan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Menghadirkan empat pembicara yang kompeten di bidang masing-masing, dengan keynote speaker Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin yang tak lain merupakan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Acara diawali dengan pembacaan tata tertib yang dipimpin oleh MC, dilanjut dengan penampilan grup rebana Ready dari Undip. Webinar ekonomi syari’ah dibuka dengan lantunan ayat suci Al Quran oleh Muh. Fahri Fadhilah mahasiswa prodi Ekonomi Islam yang juga seorang hafidz 30 juz. Selanjutnya audiens menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjut dengan sambutan oleh Prof. Dr. Suharnomo, SE., M.Si. selaku Dekan FEB Undip dan Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum. selaku Rektor Undip, serta pembacaan susunan acara.

Selanjutnya, Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin sebagai keynote speakers memaparkan materi mengenai dampak digitalisasi akibat pandemi terhadap ekonomi syariah. Beliau juga memaparkan mengenal empat pilar strategi penguatan ekonomi syariah dalam kenormalan baru, yaitu penguatan infrastruktur termasuk digitalisasi dengan strategi utama dengan pengembangan rantai sistem ekosistem halal, penguatan kelembagaan ekonomi syariah, pengembangan instrumen pasar keuangan syariah, dan meningkatkan literasi ekonomi dan keuangan syariah. Berlanjut kepada grand launching Lomba Paper Forum Riset Industri Gadai Syariah 2021 dengan tema “Membangun Industri Gadai Syariah Berkelanjutan Melalui Sinergi Teknologi, Budaya, dan Gaya Hidup Halal, untuk Membangun Perekonomian Bangsa” yang berhadiahkan total 50 juta rupiah dalam bentuk tabungan emas.

Dilanjutkan pembacaan resume pribadi moderator yaitu Shoimatul Fitri, S.E, M.M. oleh pembawa acara yang turut mengantar audiens kepada materi inti oleh keempat pembicara. Memasuki materi pertama oleh M. Luthfi Hamidi, seorang peneliti ekonomi syariah, mengenai penguatan industri syariah dalam perspektif Quranomics. Dalam materinya, beliau menjabarkan terlebih dahulu mengenai dampak Covid-19 bagi global dan lokal, dampak Covid-19 bagi industri syariah, lalu diakhiri dengan pembahasan mengenai celah pemulihan dari perspektif Quranomics. Lutfhi juga menjelaskan bahwa perlunya kesiapan terkait ekosistem digital dan ditutup dengan tanya jawab bersama audiens.

Materi kedua disampaikan oleh Beni Martina Maulana selaku Kepala Unit Usaha Syariah PT Pegadaian (Persero). Beni menyampaikan topik terkait Pegadaian Syariah di Era New Normal, di mana ia menyampaikan terkait perkembangan pegadaian (pegadaian journey) kemudian profil singkat pegadaian syariah, profil nasabah pegadaian syariah, serta transformasi dan peluang pegadaian syari’ah. Tak lupa pemateri kedua juga ditutup dengan diskusi tanya jawab dengan audiens.

Memasuki pembicara ketiga, webinar ekonomi syari’ah menghadirkan pembahasan mengenai Peran Fintech dalam Industri Keuangan Syariah yang dijelaskan oleh Triyono Gani selaku Kepala Group Inovasi Keuangan Digital OJK yang juga merupakan alumni dari FEB Undip. Webinar ekonomi syariah turut menghadirkan Erwin Haryono selaku Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) yang juga merupakan alumni FEB Undip serta Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edents. Sebagai pembicara keempat, Erwin membawakan pembahasan mengenai Perkembangan Ekonomi Syar’ah Terkini dan Arah ke Depan. Acara ini berakhir pada pukul 12.45 WIB dengan closing statement dari tiap pembicara serta pembacaan pemenang.

Ketua Prodi Ekonomi Islam yakni Darwanto, S.E., M.Si., M.Sy. mengatakan bahwa kegiatan Webinar Ekonomi Syariah ini juga bersamaan dengan launching Lomba Paper yang merupakan tindak lanjut dari kegiatan ini. “Harapan kami lomba paper akan memberikan banyak ide dan pemikiran mengenai implementasi financial technology dalam praktek keuangan syariah dan sektor riil,” ungkapnya. Beliau juga menambahkan bahwa Prodi Ekonomi Islam FEB Undip mengadakan kegiatan bekerjasama dengan Pegadaian Syariah harapannya menjadi bagian meningkatkan literasi keuangan syariah khususnya terkait implementasi financial technology (Fintech). Era Digitalisasi menuntut pelaku ekonomi memahami manfaat dan resiko penggunaan berbagai transaksi ekonomi melalui berbagai platform teknologi.

Belajar Startup untuk Menghadapi Era Kebiasaan Baru

Oleh: Fatimah dan Luvita

(Undip 25/04) Demi mendukung perkembangan perekonomian Indonesia di era new normal, Unit Kegiatan Mahasiswa Research and Business Universitas Diponegoro (UKM R’nB Undip) menghadirkan sebuah acara dengan tajuk “Roadshow dan Sosialisasi Startup: Road to R’nB Startup Competition 2021”. Acara ini diselenggarakan pada Minggu, 25 April 2021 pukul 09.15 – 11.40 WIB menggunakan platform Zoom. Selain untuk mengembangkan perekonomian di era new normal, acara yang dihadiri oleh kurang lebih 260 orang partisipan ini juga dilangsungkan sebagai salah satu tahapan dalam R’nB Competition 2021.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh master of ceremony (MC), yaitu Muhammad Rafli dan Deriza Angelina. Setelah pembukaan, seluruh partisipan diminta untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Selepas itu, dilakukan sesi sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh ketua pelaksana Roadshow dan Sosialisasi Startup 2021, Ardan Chrisyufa, dan sambutan kedua disampaikan oleh vice presiden direktur R’nB, Windi Permatasari. Sesi penyampaian materi kemudian dilakukan sebagai penyambung sesi sebelumnya. Terdapat 2 materi yang disampaikan dalam acara ini, yaitu mengenai “Mahasiswa, Bertumbuh dan Startup” dan “R’nB Competition 2021”.

Materi “Mahasiswa, Bertumbuh dan Startup” dibawakan oleh Hendro Sarjito, atau biasa dipanggil Hendro. Dalam presentasinya, Hendro menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki potensi serta peluang besar. Potensi dan peluang tersebut harus diolah sebaik mungkin agar dapat memberikan dampak positif bagi sekitar. Startup, sebagai salah satu cara dalam mengolah potensi dan peluang, digadang-gadang dapat menjadi sarana alternatif untuk ditekuni anak muda. Startup juga tentunya akan dapat membantu negara serta masyarakat, karena dalam pembentukannya seorang perintis harus meyakini betul bahwa solusi yang ia tawarkan, lewat startup-nya itu, harus dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat.

Hendro memaparkan bahwa dalam memulai sebuah usaha rintisan, selain memantapkan tujuan startup, seorang perintis harus menyiapkan strategi semaksimal dan serealistis mungkin, baik dalam strategi pemasaran, strategi anggaran, hingga financial projection-nya. Tentu saja akan ada banyak tantangan dan hambatan yang akan dihadapi perintis, salah satunya terkait pendanaan, namun jangan ragu sebab akan ada banyak hal yang dapat dilakukan perintis untuk menutupi kekurangan dana, yaitu dengan pengajuan modal pada lembaga-lembaga keuangan hingga mengikutsertakan startup yang bersangkutan dalam kegiatan pitching (presentasi di depan calon investor).

Dalam sesi materi pertama, Hendro juga memaparkan mengenai hal-hal apa saja yang harus selalu diperhatikan dalam perkembangan sebuah startup dan cara-cara apa saja yang dapat dilakukan untuk mengetahui keadaan pasar. Di akhir sesinya, Hendro berpesan agar seluruh partisipan tidak pantang menyerah dalam berkreasi dan berkolaborasi. “Ketika membuat platform, dari ideation to creation, muaranya di proyeksi. Ide itu kalau ga dijalankan, kita nggak akan tahu validasi seperti apa, evaluasinya seperti apa, dan kita tidak akan pernah tahu proyeksi kita ke depannya itu seperti apa. Ide kita layak dijalankan lagi atau nggak, (gitu maksudnya). Makanya, sebagai penutup, temen-temen jangan lelah untuk berkreasi dan gunain (apa yang dimiliki) sebagai ladang kreativitas buat temen-temen semua,” pesan Hendro.

Guna meningkatkan keseruan acara, panitia mengadakan kegiatan ice breaking seusai materi pertama berupa game tebak gambar. Hal ini disambut dengan antusias oleh para partisipan. Acara dilanjutkan dengan materi kedua yang disampaikan oleh ketua pelaksana, Ardan Chrisyufa. Materi kedua dipresentasikan mengenai R’nB Competition 2021. Pemateri menyampaikan bahwa R’nB Competition tahun ini mengusung tema “Peran Mahasiswa sebagai Technopreneur Muda dalam Pemulihan Ekonomi di Era New Normal”, yang bertujuan untuk memberikan pengenalan dan pengarahan sebagai awal membangun startup. Tak lupa diadakan pula perkenalan mengenai kompetisi UKM R’nB itu sendiri, yang diharapkan dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Serangkaian acara R’nB Competition dilangsungkan dengan tiga sesi. Dimulai dengan kegiatan roadshow sebagai pengenalan startup dan launching R’nB Competition, seperti yang diadakan saat ini. Sesi selanjutnya diadakan sebuah webinar yang serupa dengan kegiatan roadshow dengan mengundang para pembicara yang luar biasa. Sebagai penutup, diadakan kegiatan yang berisi presentasi startup dari masing-masing peserta lomba. “Konsep lomba semua online kecuali untuk final day, tapi itu juga tetap akan menyesuaikan dengan situasi nanti,” tambah Ardan. Sesi pertanyaan kembali dibuka untuk materi kedua ini. Di akhir roadshow diadakan sesi dokumentasi bersama. Kemudian acara ditutup oleh MC pada pukul 11.40 WIB.

Berbagai Persepsi Mengenai Utang yang Semakin Meningkat, Ecofinsc Adakan “Financial Interactive Talk 1”

Reporter: Rijal dan Danny

(FEB Undip 24/04) – Acara Financial Interactive Talk diadakan oleh Economic Finance Study Club (Ecofinsc) yang mengusung tema “Utang Kian Meningkat, Bagaimana Nasib Perekonomian Indonesia Pasca Pemulihan Ekonomi”. Acara yang berlangsung pukul 13.00 WIB ini, dilaksanakan melalui platform Zoom Meeting dengan total audiensi yang hadir hampir mencapai 100 orang. Notabenenya audiensi yang ada pada Fintalk 1 tersebut adalah mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. Di samping audiensi, acara ini menghadirkan moderator yang andal dengan dua pembicara yang tak kalah berpengalaman di bidang ekonomi.

Acara Fintalk 1 diawali dengan doa yang dipimpin oleh MC, dilanjut dengan pembacaan susunan acara pada siang hari ini. Lalu acara beralih pada sambutan oleh Raymonth Pieter Silaen selaku Project Officer dan dilanjutkan sambutan Al Razi Radja yang merupakan Chief Excecutive dari Ecofinsc. Tak lupa pembacaan CV dari Jeremia Timothi yang merupakan mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan 2018 selaku moderator. Acara Fintalk 1 kemudian beralih tangan kepada moderator dengan pembacaan CV pembicara dari Akhmad Syakir Kurnia, Ph.D. yang merupakan dosen FEB Undip dan Riza A. Pujarama perwakilan Researcher INDEF.

Acara Fintalk 1 memasuki materi pertama dengan pemaparan oleh Akhmad Syakir yang membahas mengenai permasalahan ketika hutang meningkat. Dalam materinya beliau menjelaskan beberapa kekeliruan dalam mendiskusikan utang. Salah satunya mengenai mispesifikasi indikator yang hiperbolis. Beliau mengatakan bahwa banyak masyarakat yang melihat utang negara hanya dari nominalnya saja. Memang jika dilihat dari nominalnya, utang Indonesia mencapai lebih dari Rp 6.000 triliun. Dari nominal tersebut seringkali analisis masyarakat mengenai utang diilustrasikan dengan indikator-indikator yang hiperbolis atau berlebihan dan sering kali tidak relevan. Misalnya saja banyak yang menganggap bahwa jika dihitung-hitung setiap orang di Indonesia menanggung utang sebesar sekian rupiah. Itu adalah perspektif yang kurang tepat. Alangkah lebih baiknya jika masyarakat melihat dari perspektif yang benar dengan berbagai indikator utang yang ada agar tidak terjerumus pada perspektif yang kurang tepat.

Acara Fintalk 1 lalu dilanjutkan oleh Riza Annisa selaku pembicara kedua yang memaparkan materi mengenai utang dan perekonomian Indonesia. Dalam materinya beliau menjelaskan grafik dari berbagai perkembangan utang mulai dari utang publik, utang BUMN, utang luar negeri, hingga pertumbuhan ekonomi nasional yang semakin menurun. Dijelaskan pula undang-undang yang mengatur batas utang nasional yakni Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Penjelasan Pasal 12 ayat 3. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa defisit anggaran negara dibatasi tidak boleh melebihi atau maksimalnya hanya sampai 3 persen. Sementara, negara hanya boleh memiliki utang maksimal sebesar 60 persen dari Product Domestic Bruto (PDB).

Setelah selesai pemaparan materi oleh kedua pembicara, Fintalk 1 pun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh moderator dan audiensi. Terdapat beberapa pertanyaan yang diajukan kepada pembicara yang salah satu pertanyaannya menyinggung strategi ataupun kebijakan pemerintah dalam melunasi utang negara yang jumlahnya semakin lama semakin meningkat. Beberapa pertanyaan pun dijawab secara lugas oleh kedua pembicara hingga Fintalk 1 pun berada di penghujung acara. Sebelum acara ditutup, panitia memberikan apresiasinya berupa sertifikat kepada kedua pembicara dan moderator. Fintalk 1 ditutup dengan sesi foto bersama dan doa hingga acara pun berakhir pada pukul 15.30 WIB.