Propaganda Perlakuan untuk Makanan

Penulis: Luvita Dyaningsih

Pada bulan-bulan “cinta”, degup musik menggetarkan hari-hari banyak tempat pertemuan. Awal cerita pasangan-pasangan berbahagia dimulai sejak momen itu. Bukan hanya keluarga, para tamu undangan juga hadir menambah sukacita. Makanan prasmanan dan stand-stand kudapan menjadi simbol rasa syukur pemilik acara serta penghargaan atas tamu-tamu yang hadir. Orang-orang berbaris mengerubungi sumber-sumber kelezatan tersebut. Ambil, makan, ambil lagi hingga perut kenyang namun tak mengindahkan sisa-sisa yang ditinggalkan. Fenomena ini tentu tidak terjadi ketika pernikahan saja. Semua kegiatan yang melibatkan massa dan makanan pasti mengalami hal serupa.

Penyelenggara acara tidak dapat disalahkan sepenuhnya saat kegiatan mereka menghasilkan masalah limbah makanan. Perhitungan yang dilakukan mungkin sudah tepat namun faktor lain menjadi pemicu hal itu. Sikap berlebihan para undangan ketika mengambil makanan merupakan satu dari beberapa penyebab yang perlu digarisbawahi. Keinginan mencicipi segala yang ada disertai ketidaktahuan akan limitasi perut menjadi sifat buruk manusia ketika bertemu dengan seabrek makanan dan minuman. Alhasil, makanan dan minuman sisa di tiap-tiap alat makan ditumpuk begitu saja. Tidak dimakan kembali apalagi dibagikan sebagai berkah bagi orang-orang membutuhkan.

Limbah Makanan Pembawa Bencana

Menurut salah satu laman Zerowaste Indonesia, limbah makanan (food waste) mengacu pada makanan siap konsumsi yang dibuang begitu saja dan akhirnya menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Tumpukan limbah itu menghasilkan dua gas beracun bagi Bumi, yaitu metana dan karbondioksida. Sebagai contoh, pada 21 Februari 2005 silam, TPA Leuwigajah di Cimahi, Jawa Barat meledak kemudian longsor akibat gas-gas beracun dari limbah-limbah sampah, termasuk limbah makanan. Kejadian itu bukan hanya merusak Bumi, tapi juga merenggut banyak korban serta harta-benda.

Sumber dari masalah limbah makanan Indonesia antara lain ialah gaya hidup
masyarakat yang tidak menghabiskan makanan mereka dan tidak memperhatikan porsi idealnya. Sebagian masyarakat terkadang juga gengsi kalau-kalau orang lain menilai nafsu makan mereka terlalu besar. Karena itulah, mereka memilih “menyisihkan” limbah makanan dari apa yang sudah diambil. Perilaku tersebut menyebabkan setidaknya 300 kg per kapita limbah makanan dihasilkan negara tiap tahunnya. Namun bagai ironi, tingkat kelaparan di Indonesia tidak kalah menggemparkan bila dibandingkan dengan kenyataan tersebut.

Penghamburan Makanan vs Kelaparan

Berpacu pada indeks kelaparan global (global hunger index (GHI)) tahun 2021, Indonesia
adalah negara ke-3 dengan tingkat kelaparan tertinggi di Asia Tenggara dan peringkat ke-12 di Asia. Walau dicap “moderate” atau “sedang” karena memiliki indeks 18.0, angka tersebut seharusnya bisa lebih kecil apabila makanan layak konsumsi diatur sebaik mungkin demi mengentas kelaparan. Dengan pengaturan itu juga, kondisi gizi buruk dan stunting dapat diperkecil kemunculannya.

Love Food, Less Waste

Gaya hidup tidak menghabiskan makanan, tidak memperhatikan porsi, dan gengsi akan
pandangan orang lain terkait nafsu makan perlu diubah. Jangan sampai makanan serta
minuman layak konsumsi terbuang begitu saja ketika di luar sana masih banyak orang susah payah mencari makan hingga kelaparan. Cara makan sedikit-sedikit lalu ditambah lagi saat masih belum kenyang dan menyisihkan makanan terlebih dahulu sebelum dimakan merupakan beberapa proses yang dapat dilakukan. Melalui cara tersebut, dua burung akan kena dengan sekali lemparan batu, yaitu puas mencicipi makanan dan tidak menghasilkan limbah makanan. Tingkat disiplin dalam mengatur makanan ini perlu dilatih sejak dini agar terciptanya lingkungan masyarakat yang mencintai makanan dengan cara menghabiskan dan tidak membuangnya sebagai limbah.

Upaya pengaturan dalam rangka memperkecil kuantitas limbah makanan merupakan tugas bersama. Hal itu karena nasib Bumi, tempat tinggal kita, terancam akibat gas metana serta karbondioksida yang dihasilkan limbah ini. Lewat cara-cara yang tepat, tidak hanya masalah limbah yang tertangani namun juga persoalan terkait gizi buruk serta stunting pada generasi muda. Ambil secukupnya, sisihkan terlebih dahulu bila dirasa berlebih, lalu habiskan makanan ialah proses sepele serta sederhana demi masa depan Bumi dan Indonesia.

Referensi:

Grebmer, dkk. 2021. Global Hunger Index: Hunger and Food Systems in Conflict Settings. Dublin: Welthungerhilfe.
Kurniawan, Indra. 2021. “Kisah Kelam Bandung Lautan Sampah: Tragedi Meledaknya TPA Leuwigajah”. (Online), (https://mapaybandung.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/pr1471473642/kisah-kelam-bandung-lautan-sampah-tragedi-meledaknya-tpa-leuwigajah, diakses pada 12 Februari 2022).
Kustiani, Rini. 2021. “The Paradox of Indonesia’s Food Waste and Food Shortage”. (Online), (https://en.tempo.co/read/1522047/the-paradox-of-indonesias-food-waste-and-food-shortage, diakses pada 12 Februari 2022).
Utami, Sri Fadhillah. “Apa Perbedaan Food Loss dan Food Waste?”. (Online), (https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/perbedaan-food-loss-dan-food-waste/, diakses pada 12 Februari 2022).

Perbaikan Gizi untuk Investasi Bangsa

Penulis : Susan Liya

Investasi bangsa sejatinya tidak hanya mengarah pada peningkatan kualitas pendidikan maupun pembangunan sarana prasarana publik semata. Kesehatan masyarakat pun menjadi salah satu
sektor yang patut untuk diberikan perhatian lebih oleh pemerintah secara umum. Maraknya isu-isu kesehatan seperti stunting yang mengancam pertumbuhan anak-anak serta obesitas yang justru menjadi mimpi buruk di usia dewasa membuktikan bahwa perlu ada solusi yang cepat serta tepat sasaran untuk menyelesaikan permasalahan terkait hal tersebut.

Dalam agenda ketiga pembangunan nasional yaitu meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing, tentulah sektor kesehatan harus fokus untuk meningkatkan pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta dengan penekanan pada penguatan pelayanan kesehatan dasar (Primary Health Care) dengan mendorong peningkatan upaya promotif dan preventif didukung oleh inovasi dan pemanfaatan teknologi. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat yakni Kirana Pritasari, menyebutkan bahwa strategi yang digunakan untuk mencapai hal tersebut adalah peningkatan kesehatan ibu, anak, dan KB dan kesehatan reproduksi, percepatan perbaikan gizi, peningkatan pengendalian penyakit, pembudayaan perilaku hidup sehat melalui gerakan masyarakat hidup sehat, serta penguatan sistem kesehatan dan pengawasan obat dan makanan.

Program kesehatan masyarakat hingga 2024 nanti akan berfokus pada penurunan angka kematian ibu, angka kematian bayi, penurunan prevalensi stunting dan wasting pada balita yang kemudian diikuti dengan indikator-indikator pendukung. Dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020 – 2024 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2020 tentang Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2020 – 2024, maka Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat telah menyusun Pedoman Indikator Program Kesehatan Masyarakat Tahun 2020 – 2024. Dijelaskan oleh Kartini Rustandi selaku Sekretaris Ditjen Kesehatan Masyarakat, pedoman tersebut memberikan informasi secara detail terkait indikator dan target yang seharusnya dicapai dalam RPJMN dan Renstra Tahun 2020 – 2024 sehingga mudah dipahami oleh daerah dan mengurangi kesalahan pencatatan pelaporan program kesehatan masyarakat.

Momentum Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap 25 Januari, tahun ini mengusung tema Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas. Tema tersebut diambil sebagai cerminan dualitas permasalahan gizi yang dialami oleh masyarakat Indonesia. Stunting sendiri merupakan kondisi dimana terdapat gangguan terhadap pertumbuhan anak akibat kurangnya nutrisi sehingga tubuhnya lebih pendek dibandingkan rata-rata teman seusianya. Sementara itu, dikutip dari laman halodoc.com, obesitas adalah suatu kondisi yang menggambarkan seseorang memiliki badan yang sangat gemuk dan mengandung banyak lemak pada tubuhnya. Faktor risiko obesitas sendiri dapat disebabkan oleh faktor genetik, gaya hidup keluarga, tidak aktif, diet tidak sehat, masalah medis tertentu konsumsi obat-obatan tertentu, masalah sosial dan ekonomi, usia, kehamilan, serta kurang tidur.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, stunting dan obesitas merupakan beban ganda permasalahan gizi di Indonesia. Bersumber dari hasil survei Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 yang dimuat dalam laman sehatnegeriku.kemkes.go.id, prevalensi stunting ialah sebesar 24,4% yang mana masih jauh dari angka prevalensi yang ditargetkan dalam RPJMN 2020 – 2024
yakni 14%. Stunting merupakan permasalahan gizi yang terjadi di hampir seluruh wilayah serta seluruh kelompok sosial ekonomi yang tentunya sangat berpengaruh pula terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), tingkat perekonomian, serta angka kemiskinan nasional.

Sementara itu, bersumber dari akun Instagram @BappenasRI, prevalensi obesitas pada usia dewasa dalam artian 18 tahun ke atas, dikatakan semakin meningkat meski harapannya tidak akan melebihi angka 21,8% hingga 2024 nanti. Kurangnya aktivitas fisik serta minimnya konsumsi buah dan sayur dapat meningkatkan risiko obesitas. Tingginya konsumi lemak, gula, serta garam juga menjadi faktor penting yang dapat memicu obesitas. Pencegahan obesitas dapat dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dengan pembudidayaan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas)

Bukan sebuah rahasia umum lagi, jika SDM merupakan salah satu aset utama yang dimiliki oleh suatu negara. Indonesia jelas unggul jika berbicara terkait kuantitas, namun apabila fokus utamanya beralih pada kualitas? Tentu hal tersebut masih dipertanyakan. Meski begitu, pemerintah tentu tak tinggal diam. Usaha-usaha peningkatan kualitas SDM melalui perbaikan
gizi tengah diupayakan. Masyarakat tentu sangat berharap banyak pada program-program kesehatan masyarakat yang direncanakan oleh pemerintah. Tidak hanya stunting maupun obesitas, tetapi program-program lain sehingga kesehatan dasar mereka dapat terpenuhi.

Clouds: Sebuah Lagu Perpisahan

clouds-sebuah-lagu-perpisahan

Penulis: Azita

Judul : Clouds
Rilis : 16 Oktober 2020 (USA)
Durasi : 121 menit
Sutradara : Justin Baldoni
Produser : Justin Baldoni, Andrew Lazar, dan Casey La Scala
Pemeran : Fin Argus, Sabrina Carpenter, Madison Iseman, Lil Rel Howery, Tom
Everett Scott, Neve Campbell, dsb.

Film ini diangkat berdasarkan kisah nyata seorang remaja bernama Zachary David Sobiech. Sebuah buku berjudul Fly a Little Higher: How God Answered a Mom’s Small Prayer in a Big Way yang ditulis oleh Ibu Zach, Laura Sobiech, menjadi dasar dari cerita film Clouds. Ia merinci pengalaman keluarganya menemani Zach Sobiech berjuang melawan Osteosarcoma yang merupakan salah satu jenis kanker tulang mematikan. Saat Zach dinyatakan stadium akhir, ia ingin memanfaatkan masa-masa terakhir hidupnya sebaik mungkin. Sebelum ia menutup usia pada Mei 2013, Zach menciptakan lagu perpisahan berjudul Clouds.

Durasi film ini terbilang cukup panjang, tetapi Justin Baldoni, sutradara film Five Feet Apart,
berhasil membawakan film Clouds dengan baik, tidak membosankan, dan menguras emosi. Para pemain berhasil menyampaikan pesan cerita langsung ke dalam emosi penonton. Kerja keras tim pembuatan film terbayar tuntas karena cerita yang disajikan menggiring emosi dan menginspirasi, sehingga tidak mungkin dilewatkan untuk ditonton. Bahkan untuk beberapa orang yang mungkin tidak menyukai film seperti ini pasti akan dibuat menangis pada beberapa adegan. Clouds menyampaikan banyak pesan kehidupan yang akan membuat Anda ingin memanfaatkan hidup sebaik-baiknya.

Awal dan Jalan Cerita

Zach Sobiech mulai didiagnosis mengidap penyakit Osteosarcoma ketika ia berusia 14 tahun. Semenjak itu, ia menjalani pengobatan kemoterapi dan terus berjuang melawan penyakitnya. Zach beruntung dikelilingi orang-orang positif yang selalu mencintai dan mendukungnya bagaimanapun keadaannya. Zach memiliki seorang sahabat bernama Sammy Brown yang telah berada sisinya selama bertahun-tahun. Mereka merupakan musisi yang senang menulis lagu sebagai salah satu sarana berkomunikasi dan menyampaikan perasaan

Pada musim gugur 2012, Zach, yang berusia 17 tahun, dinyatakan stadium akhir dan hanya
dapat bertahan beberapa bulan saja. Karena itu, ia memutuskan berhenti menjalani kemoterapi dan mulai menikmati sisa hidupnya demi mewujudkan mimpi sebagai musisi dan membuat orang di sekitarnya bahagia. Dalam waktu yang terbatas, Zach dan Sammy memutuskan untuk merekam dan menerbitkan video musik yang berjudul Fix Me Up di YouTube. Mereka tidak menyangka videonya menjadi tenar. Hal itu kemudian menuntun mereka menandatangani kontrak dengan sebuah label musik. Bersama dengan Sammy, Zach
menulis lagu berjudul Clouds. Lagu tersebut mendapat banyak perhatian dan mulai
memuncaki tangga lagu Amerika Serikat.

Fakta Menarik di Balik Film

Sebelum Zach Sobiech meninggal, ia memutuskan mendirikan Zach Sobiech Osteosarcoma Fund untuk mengumpulkan dana demi perawatan dan penyembuhan kanker mematikan ini. Penghasilan dari musiknya ia sumbangkan pada penelitian Osteosarcoma dengan harapan dapat menyelamatkan nyawa anak-anak pengidap Osteosarcoma dan memberikan mereka
kehidupan yang lebih baik. Dalam waktu tujuh tahun setelah kematian Zach, para peneliti yang didanai oleh Zach Sobiech Osteosarcoma Fund telah menciptakan 16 penemuan genetik baru tentang Osteosarcoma dan mulai membuka uji klinis untuk pengobatan penyakit tersebut.

Pesan dari Zach Sobiech

Kisah Zach Sobiech sangat menginspirasi banyak orang dengan keberaniannya menghadapi kanker stadium akhir. Terlihat bahwa ia ingin mencapai mimpinya sejauh mungkin dengan waktunya yang terbatas. Sebagai manusia, tentu kita semua memiliki “waktu” sendiri-sendiri. Tidak ada yang tahu kapan kita akan meninggalkan dunia ini. Oleh karena itu, kita harus mengejar impian mulai dari sekarang. Kisah Zach membuktikan bahwa hidup merupakan hadiah dan kita memiliki kekuatan untuk memanfaatkannya sebaik mungkin. Seiring waktu, kita dapat melakukan apa pun yang kita inginkan, mencapai apa pun yang kita inginkan, dan
menjadi apa pun yang kita inginkan.

“You don’t have to find out that you’re dying….to start living” –Zach Sobiech