Air dan Keberlangsungan Hidup di Dunia

Oleh : Anika Fathur

Air merupakan salah satu elemen terpenting dalam kehidupan makhluk hidup di bumi. Sebagian besar permukaan bumi merupakan perairan luas. Menurut data dari United States Geological Survey (USGS), air menutupi 71 persen dari permukaan bumi dan sisanya merupakan daratan. Di permukaan bumi, lautan merupakan sekitar 97 persen dari seluruh air di bumi dan hanya 3 persen air yang tidak mengandung garam digunakan untuk konsumsi manusia. Jumlah air di bumi mungkin tampak berlimpah, namun seiring terjadinya peningkatan populasi di bumi, tentunya jumlah kebutuhan akan air semakin bertambah dan hal ini juga akan berdampak pada ketersediaan air di bumi. Lalu kebutuhan akan air tawar juga semakin meningkat dan sudah menyebabkan kelangkaan air di beberapa tempat. Selain itu dengan adanya peningkatan populasi dunia serta dampak dari kemajuan teknologi terutama industri berpengaruh pada kualitas kebersihan air di bumi.

Kelangkaan air di merupakan kurangnya sumber daya air untuk kebutuhan air di suatu wilayah. Kelangkaan air dapat disebabkan oleh kelangkaan air secara fisik dan kelangkaan air secara ekonomi. Kelangkaan air secara fisik mengacu pada situasi ketika sumber daya air alami tidak dapat memenuhi permintaan suatu wilayah dan kelangkaan air secara ekonomi adalah akibat dari sumber daya pengelolaan air yang buruk. Penyebab terjadinya kelangkaan air yaitu penggunaan air yang terlalu sering, adanya polusi air, terjadinya konflik, adanya hambatan pada jarak, kekeringan, atau keterbatasan akses dari pemerintah.

  • Pertama, kelangkaan air disebabkan oleh penggunaan air yang terlalu sering atau secara berlebihan, tidak hanya pada manusia, namun juga pada hewan atau tumbuhan tanpa memperhatikan efek yang akan terjadi pada sekitar.
  • Kedua, adanya polusi air terutama pada wilayah yang tidak memiliki sistem pembuangan limbah yang baik, contohnya terdapat pada area industri. Polusi tersebut berupa bahan kimia, minyak, atau kotoran yang dapat mencemari kualitas air.
  • Ketiga, karena terjadinya konflik di area tanah seperti keadaan yang membahayakan atau mengancam di suatu tempat. Sehingga hal ini juga dapat menyebabkan sulitnya akses air karena adanya polusi yang membahayakan manusia.
  • Keempat, adanya hambatan pada jarak untuk mengakses air. Seperti contohnya pada suatu wilayah yang jauh dari sumber air menyebabkan kesulitan akses, sehingga untuk mengakses air bersih perlu menempuh jarak yang jauh.
  • Kelima, terjadinya kekeringan di suatu wilayah. Ada beberapa wilayah di dunia tidak mendapatkan curah hujan yang cukup, namun juga ada wilayah yang memang tergolong kering sehingga kebutuhan air tidak mencukupi di wilayah tersebut.
  • Keenam, adanya keterbatasan akses dari pemerintah. Hal ini juga dipengaruhi oleh keadaan politik di suatu daerah. Contohnya di beberapa negara, khususnya mereka yang memiliki penguasa diktator, penggunaan air dikontrol secara ketat oleh mereka yang berkuasa. Hal ini menyebabkan kelangkaan bagi mereka yang mungkin berlokasi di wilayah tersebut. Pemerintah menjadi sumber kendali atas pemerintahan yang mereka kelola dan hal ini yang bisa menjadi masalah besar.

Seperti yang telah dijelaskan diatas mengenai penyebab kelangkaan sumber daya air dapat menimbulkan berbagai efek. Efek dari kelangkaan air dapat dikelompokkan atas empat, yaitu kesehatan, kemiskinan, pendidikan, dan kelaparan. Pada bidang kesehatan, adanya kelangkaan air dapat menyebabkan masalah sanitasi dan penularan penyakit karena air yang tidak bersih. Selain itu, limbah yang terdapat di air dapat menimbulkan penyakit, seperti penyakit kulit atau pencernaan. Kemudian ada efek kemiskinan, yaitu kelangkaan air dapat menghambat kegiatan perekonomian masyarakat. Dengan adanya ketersediaan akses air berkualitas merupakan kunci menuju kemakmuran ekonomi dan standar kehidupan yang lebih baik. Pada bidang pendidikan, contohnya seperti ketika ada kekurangan air di suatu daerah, maka anak-anak sering meninggalkan sekolah untuk membantu orang tua mereka mencari air. Hal ini sangat disayangkan karena menyebabkan mereka tidak sempat untuk mengenyam pendidikan. Selanjutnya efek kelaparan yang ditimbulkan akibat kurangnya irigasi untuk pertanian, sehingga menyebabkan kelangkaan pada bahan pangan.

Sebagai anak bangsa dan penerus generasi, sudah selayaknya kita ikut terlibat dalam menjaga dan melestarikan air untuk masa depan. Solusi yang saat ini bisa kita lakukan, yaitu pertama melalui hal yang sederhana dengan menghemat penggunaan air. Kedua, melalui pendidikan atau edukasi mengenai kelangkaan air serta untuk memperbaiki ekosistem lingkungan terutama air. Ketiga, menciptakan inovasi untuk meningkatkan sistem pertanian dengan sistem irigasi yang lebih efisien dalam penggunaan air serta memperbaiki sistem pembuangan limbah untuk mengurangi permasalahan lingkungan atau kesehatan. Keempat, yaitu membantu memberikan akses air bersih bagi daerah yang mengalami kelangkaan air dengan inovasi teknologi. Melalui hal ini kita dapat menciptakan lingkungan air yang bersih dan mengurangi kelangkaan pada sumber daya air untuk dunia yang lebih baik dan lebih nyaman.

Melestarikan ‘Air’ Menjaga Kehidupan

Oleh: Nailul Maghfiroh

sumber gambar: https://vocal.media/lifehack/proven-ways-to-save-water-in-your-garden

Siang hari yang terik, antrian warga yang membawa ember terlihat memanjang sampai beberapa meter. Senyum sumringah menghiasi wajah mereka ketika sudah mendapatkan air, sedang wajah masam tampak pada mereka yang tidak mendapatkan bagian karena air dalam mobil tank air gratis itu sudah habis. Pemandangan ini begitu familiar di Indonesia saat musim kemarau panjang tiba. Air PDAM yang biasa dialirkan ke rumah-rumah warga sebagai sumber air bersih menjadi sangat terbatas bahkan penyalurannya digilir setiap berapa hari sekali. Padahal, air bersih bagi makhluk hidup merupakan urgensi yang sangat penting. Sehari saja tidak ada air, maka semua aktivitas akan terganggu. Tidak bisa mandi, tidak bisa memasak, tidak bisa mencuci dan lain-lain. Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk menjaga ketersediaan air bersih di masa sekarang dan masa mendatang?

PBB, organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada sidang umum tanggal 22 Desember 1992 di Rio De Jenairo Brasil menetapkan tanggal 22 Maret sebagai peringatan Hari Air Sedunia (World Day for Water). Adanya hari peringatan ini bertujuan untuk membangkitkan kepedulian publik terhadap air bersih dan pengelolaan sumber air yang berkelanjutan. Dalam setiap peringatannya, Hari Air Sedunia memiliki tema-tema khusus yang berbeda. Pada tahun 2020 ini, Hari Air Sedunia akan mengangkat tema ‘Air dan Perubahan Iklim’. Makna tema ini sangat singkron dengan keadaan dunia saat ini dimana perubahan iklim terjadi dengan sangat ekstrim dan meleset dari prediksi.

Di Indonesia, perubahan iklim berdampak pada pergantian musim yang tidak menentu dan menyebabkan Indonesia rawan krisis air. Di musim kemarau, kekeringan terjadi di mana-mana sehingga air menjadi sangat langka. Sedangkan, saat musim penghujan tiba, air bersih tetap susah didapatkan karena surplus air menyebabkan banjir lumpur. Saat ini, persediaan air bersih secara nasional di berbagai daerah kabupaten rata-rata sekitar 70-90%. Namun, di daerah kota ada yang ketersediaan air bersihnya kurang dari 70%. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah telah berkomitmen untuk melengkapi pembangunan sarana air bersih hingga mencapai 100% secara nasional pada tahun 2030 mendatang. Padahal, para ahli telah memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami krisis air pada tahun 2025.

Dirgen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyebutkan bahwa upaya pembangunan sarana air bersih terhambat karena lokasi sumber air yang jauh dari pemukiman dan kondisi sumber air yang keruh. Ini membutuhkan banyak biaya untuk mengatasi sumber air yang keruh sebab membutuhkan proses pengelolan air untuk menjadikannya lebih jernih. Dari sini kita tahu bahwa jika hanya mengandalkan pemerintah, krisis air tidak akan dapat dihindari. Untuk itu, sebagai warga negara dan makhluk hidup yang sadar akan pentingnya air bersih, kita perlu melakukan upaya mandiri untuk mendukung program pembangunan sarana air bersih pemerintah.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi krisis air adalah menghemat penggunaan air bersih. Hal ini dapat dilakukan dengan cara tidak mengisi bak air sampai tumpah, mencuci pakaian menggunakan air secukupnya dan memakai bekas air cucian untuk menyiram piring kotor yang hendak dicuci. Selanjutnya, tidak mencemari sumber air. Air yang keruh akibat limbah menjadi faktor utama langkanya air bersih. Oleh karena itu, untuk mengurangi krisis air upaya yang dapat dilakukan adalah mendaur ulang limbah terlebih dulu sebelum membuangnya agar tidak mencemari lingkungan. Selain mendaur ulang limbah, upaya lainnya yang dapat dilakukan untuk menjaga sumber air diantaranya upaya konservasi sumber air dengan memperluas ruang hijau, menanam tanaman yang dapat menyimpan cadangan air, membuat lubang resapan air atau biopori, melestarikan hutan dan membuat daerah aliran sungai. Hal lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi krisis air dengan cara melakukan pertanian hemat air. Melalui metode pertanian hidroponik atau pertanian menggunakan media gedebog pisang maupun sabut kepala yang dapat menahan air siraman tanaman dapat sangat menghemat air untuk kegiatan pertanian tanpa mengurangi produktivitas tanaman. Dengan demikian, jika upaya penanggulangan krisis air bersih ini dapat diterapkan oleh banyak orang, program pembangunan air bersih pemerintah pun akan berjalan lancar sehingga ketersediaan air masa mendatang pun dapat terjaga.

Upaya-upaya pelestarian air tersebut tidak akan berguna jika tidak dipraktekan. Karenanya, kita harus memulainya dari sendiri untuk sadar pentingnya air bersih kemudian mengajak saudara dan teman untuk melakukannya juga. Air adalah sesuatu yang sangat penting guna keberlangsungan hidup manusia. Jika tidak dilestarikan mulai sekarang, bagaimana anak-anak kita di masa depan akan hidup jika ketersediaan air bersih tidak ada? Sedang, semua manusia pasti membutuhkan air untuk hidup.

CEO Talk : Pengaruh Digital Disruption Terhadap Perekonomian

Oleh: Fitri dan Susan

FEB Undip (13/03) – Bertempat di Hall Gedung Laboratorium Kewirausahaan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) telah dilaksanakan CEO Talks yang mengangkat tema Turning Disruption Into Opportunity : For a Better Indonesia yang dilangsungkan pada pukul 09.00 WIB. CEO Talks ini merupakan salah satu dari rangkaian Dies Natalis Ke-60 FEB Undip. Acara tersebut dihadiri oleh Erwin Haryono selaku Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia dan Agusty Tae Ferdinand, serta M. Rizki Fadilah sebagai moderator.

Acara ini dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Undip oleh seluruh peserta yang hadir. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh Suharnomo selaku Dekan FEB Undip. Dan selanjutnya masuk ke sesi inti yang dimulai dengan pemaparan materi oleh Erwin Haryono tentang Revolusi Industri 4.0 atau Digital Disruption. Erwin menegaskan bahwa Revolusi Industri 4.0 bukan tentang komputer, karena komputer bahkan internet sudah ada di 3.0. Yang sekarang terjadi adalah sebuah revolusi dimana format kita dalam berekonomi dilakukan secara digital. Perlu diingat bukan masalah revolusi dari teknologinya tapi bagaimana teknologi tersebut dapat menciptakan model bisnis yang baru. Berdasarkan pemaparan terkait Amazon, Ali Baba, serta Facebook yang akan bertransformasi menjadi Libra, disruption bukan hanya dihadapi oleh bank tapi juga dihadapi oleh bank sentral, dimana nantinya akan bergerak sebagai sebuah sistem monopoli yang luar biasa.

Jika dilihat dari dunia bisnis saat ini, pesaing dari perusahaan transportasi, retail, media adalah perusahaan teknologi. Sebagai contoh perusahaan transportasi bersaing dengan perusahaan teknologi contoh ojek online, perusahaan retail bersaing dengan e-commerce, hal ini menunjukkan bahwa industri-industri tersebut sudah terdisrupsi bahkan termasuk Indonesia. Indonesia seperti juga Cina sekarang menjadi kasus telaah studi yang bagus, karena digital disruption yang terjadi pada ekonomi ternyata bahkan lebih kuat dibandingkankan dengan negara maju. Hal tersebut karena dipengaruhi oleh faktor demografi, karena negara maju berdasarkan demografi ageing population dimana orang-orang tua mungkin yang tidak terlalu antusias dengan teknologi. Di Indonesia struktur demografinya dikuasai oleh anak-anak muda yang sangat antusias dengan hal yang baru. Dan yang kedua alasannya adalah di negara maju hampir semua orang dewasa sudah memiliki rekening bank, sedangkan di Indonesia berdasarkan data 2017 sekitar 49% penduduk orang dewasa belum memiliki rekening bank. Oleh karena itu, pada saat model bisnis yang baru masuk kesana, dampaknya dapat diprediksikan akan lebih kuat dibandingkan dengan negara maju.

Selanjutnya pemaparan materi kedua disampaikan oleh Agusty, tentang bagaimana disrupsi teknologi atau era disruption terhadap perekonomian Indonesia. Berdasarkan data yang ditampilkan, Indonesia menduduki peringkat keenam di dunia dalam penggunaan internet terbesar. Sekitar kurang lebih delapan jam per hari orang Indonesia aktif menggunakan internet. Tetapi yang menimbulkan pertanyaan bahwa dampaknya terhadap ekonomi tidak mempengaruhi secara signifikan. Hal ini dikarenakan sebagian besar penggunaan internet digunakan bukan untuk kegiatan yang potensial namun hanya untuk bersosial.

Setelah selesai pemaparan materi oleh Erwin Haryono dan Agusty Ferdinand, dilanjutkan sesi tanya jawab dengan peserta. CEO Talks ditutup dengan penyerahan plakat kepada Erwin Haryono dan Agusty Ferdinand kemudian dilanjutkan foto bersama dengan tamu undangan.

Diskusi Omnibus Law RUU Cipta Kerja

Oleh: Aji Darmawan dan Dwi Novi

Undip (12/03) – Bertempat di pelataran Student Center (SC) Universitas Diponegoro (Undip), telah dilaksanakan diskusi akbar mahasiswa Undip oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip mengenai Omnibus Law “Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja: Menyejahterakan atau Menyengsarakan?”. Acara ini berlangsung sekitar pukul 16.30 sampai pukul 20.00 yang dimoderatori oleh Akbar Malik selaku perwakilan dari Bidang Sosial Politik BEM Undip. Dalam diskusi ini turut hadir pula ketua BEM Undip Hilmy Baihaqi yang sempat beberapa kali mengemukakan pendapatnya pada diskusi ini. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun pemahaman bersama substansi dari Omnibus Law sendiri yang nantinya untuk dapat membangun keresahan serta memberikan pencerdasan pada setiap mahasiswa Undip tentang permasalahan RUU Cipta Kerja. Berbagai mahasiswa datang pada diskusi ini mulai dari perwakilan BEM setiap fakultas maupun perseorangan.

Dalam sesi awal, diskusi ini membahas mengenai mengapa diskusi ini berlangsung setelah adanya gerakan aksi pada tanggal 11 Maret 2020 yang melibatkan perwakilan Undip serta Rakyat Jawa Tengah Melawan (RAJAM) dalam menyuarakan pendapatnya. Namun dari pihak perwakilan Undip sendiri kurang dapat menjelaskan mengenai hal apa yang ditolak dalam RUU Cipta Kerja pada saat kegiatan aksi. Hal itu dikarenakan kurangnya kajian terhadap masing-masing BEM tiap fakultas karena hanya memberikan infografis mengenai Omnibus Law serta hanya BEM Fakultas Hukum (FH) saja yang memberikan kajian terhadap RUU Cipta Kerja, sehingga diskusi ini lebih banyak tentang asumsi dari pada tentang hal-hal apa yang ditolak dalam isi RUU Cipta Kerja ini.

Pada sesi berikutnya, diskusi ini lebih mengenai apa yang dipermasalahkan dalam RUU Cipta Kerja ini seperti adanya ketertutupan pelibatan publik atas penyusunan Omnibus Law yang mana hal ini menyalahi aturan secara formil tentang asas pembuatan RUU. Dari setiap peserta diskusi sendiri juga kurang mengetahui apa yang dimaksud dengan Omnibus Law. Kemudian Rangga, mahasiswa FH, memperjelaskan pendapat perwakilan mahasiswa teknik bahwa Omnibus Law yakni suatu konsepsi hukum sedangkan RUU Cipta Kerja yang dipermasalahkan. Ia juga menjelaskan pandangannya bahwa menurutnya Omnibus Law baik namun yang tak baik yakni substansi tentang cipta kerjanya. Selain itu, terdapat pula pendapat yang dikemukakan Angel, mahasiswi FH, mengenai kekurangan dalam substansi RUU Cipta Kerja terkait substansi RUU Cipta Kerja yang menafsirkan mengenai pasal RUU Cipta Kerja dalam mengatur Upah Minimum sendiri hanya terdapat pada provinsi yang ditetapkan pada gubernur sendiri.

Proses pembentukan RUU Cipta Kerja sendiri juga masih kurang dipahami peserta diskusi yang menyebutkan bahwa tanggal 23 adalah proses pembahasan, namun menurut Bima, Mahasiswa FH, proses RUU Cipta Kerja berkelanjutan pada tanggal 23 Maret masuk ke masa reses yang kemungkinan akan dapat dikerjakan yang melalui beberapa tahap seperti pembahasan dalam dua kali rapat pleno sampai diterbitkannya RUU.

Namun, perlu disayangkan sampai akhir diskusi ini belum menemukan titik pilihan terkait kecenderungan sikap dari setiap peserta diskusi ini karena banyak peserta diskusi yang masih mengemukakan pendapat normatif ataupun opini saja yang tanpa disertai dengan saran serta keputusan. Para peserta diskusi juga memberi saran untuk menjalin kerja sama pada setiap bidang Sosial Politik (Sospol) BEM setiap fakultas agar dapat mengkajinya terlebih dahulu, sehingga untuk kelanjutan dalam diskusi serta keikutsertakan kegiatan aksi dapat menjelaskan permasalahan yang substansial secara mendalam.

Kuliah Umum Bersama DJP: Pentingnya Kesadaran Masyarakat untuk Membayar Pajak

Oleh: Rio dan Seli

FEB Undip (12/03) – Bertempat di Laboratorium Kewirausahaan Lantai 4 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip), telah dilaksanakan Kuliah Umum dan Pelantikan Pengurus Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) Jawa Tengah 1. Acara ini menghadirkan Suryo Utomo selaku Direktur Jenderal Pajak untuk memberikan materi kuliah umum dengan tema “Facing Disruption in Digital Era”. Acara yang dimoderatori oleh Darussalam ini dimulai pada pukul 10.05 WIB. Acara ini dibuka oleh Suharnomo selaku Dekan FEB Undip. Selanjutnya, para peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Undip. Materi kuliah umum yang disampaikan oleh Suryo Utomo ini berjudul “Membangun Kultur Kepatuhan Pajak melalui Skema Edukasi Perpajakan di Era Disrupsi Digital”.

Di awal kuliah umum, Suryo Utomo menjelaskan betapa pentingnya peran pajak dalam menyokong penerimaan negara. Sehingga Direktorat Jenderal Pajak (DJP) lebih fokus untuk melakukan edukasi sadar pajak kepada msyarakat. Ini dikarenakan lebih dari 70% penerimaan negara itu berasal dari pajak. Lalu, hasil pajak sendiri akan dikembalikan lagi kepada masyarakat dalam bentuk pembangunan infrastruktur, bantuan dana sosial, dan lain-lain.

Dalam sepuluh tahun belakangan ini, penerimaan pajak dan pertumbuhan ekonomi tidak sejalan. Beliau menampilkan data statistik grafik yang tidak simetris dan cenderung datar mengenai perkembangan penerimaan pajak dan tax rasio. Setelah ditelusuri ternyata ada jarak yang besar antara jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 267 juta tetapi yang memiliki NPWP baru sekitar 42 juta. Dan dari jumlah tersebut, hanya 18 juta yang perlu lapor SPT mereka. Sehingga DJP berusaha untuk mengedukasi masyarakat terutama yang sudah memiliki pekerjaan untuk segera membuat NPWP dan membayar pajak.

Selain itu, banyak juga faktor penyebab tidak melakukan pembayaran pajak seperti kegiatan ekonomi di sektor non formal contohnya warung tegal (warteg) tidak masuk atau register dalam sistem pajak sehingga tidak ada pendapatan pajak dari warteg tadi. Ada juga e-commerce dimana hasil dari kegiatan jual belinya susah untuk dicatat pajaknya.

Di akhir pemaparan, ia mengatakan untuk melakukan edukasi bagi masyarakat agar sadar akan pentingnya membayar pajak tidak dapat dilakukan hanya oleh DJP saja. Sehingga dia meminta mahasiswa untuk ikut berperan mengedukasi sadar membayar pajak pada keluarga, teman, dan tetangga. Karena dari edukasi inilah akan berlanjut ke orang lain. Ini berhubungan dengan Tax Morale dimana jika ingin masyarakat bisa sadar membayar pajak maka perlu diberi cerita-cerita tentang pajak. Bahkan ia ingin materi tentang edukasi pajak ini bisa dimasukkan ke dalam kurikulum di sekolah. “Pajak tidak harus ditakuti, pajak tidak harus dihindari, karena pajak adalah keniscayaan,” ujarnya di sela-sela pemberian materi.

Acara ini berjalan dengan lancar meskipun bisa dikatakan dimulai agak mundur sekitar lima menit. Di kuliah umum kali ini, mahasiswa terlihat antusias dibuktikan dengan sesi tanya jawab yang ramai oleh para penanya. Setelah acara kuliah umum ini selesai, acara dilanjutkan dengan pelantikan pengurus ATPETSI Jawa Tengah 1.

Orasi Ilmiah Michael Bambang Hartono dalam Sidang Senat Terbuka FEB Undip

Oleh: Fitri dan Rijal

FEB Undip (10/03) – Bertempat di Laboratorium Kewirausahaan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) telah dilaksanakan Sidang Senat Terbuka yang dilangsungkan pada pukul 10.00. Acara ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ekonomi Islam yang diketuai oleh Nafia Dias M. selaku mahasiswa program studi Ekonomi Islam. Acara ini diadakan dalam rangka Dies Natalis Ke-60 FEB Undip. Sidang Senat Terbuka ini dihadiri oleh tamu undangan dan alumni FEB, tenaga pengajar, delegasi tiap Organisasi Mahasiswa (Ormawa), dan mahasiswa FEB Undip.

Berbagai rangkaian acara terlaksana di Sidang Senat Terbuka ini. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh peserta yang hadir. Kemudian secara resmi Sidang Senat Terbuka FEB Undip dibuka oleh Ketua Senat FEB Undip, Anis Chariri. Sambutan juga turut disampaikan oleh Suharnomo selaku Dekan FEB Undip dan Yos Johan Utama selaku Rektor Undip. Acara selanjutnya yang sangat membanggakan yakni pemberian penghargaan kepada Augusty Tae Ferdinand dan Imam Ghozali atas jasa dan kontribusi untuk FEB Undip. Tak luput Penghargaan Pengabdian Terbaik juga diberikan untuk dosen dan karyawan yang telah berpulang, yakni Maruto Umar Basuki, Bejo dan Purwanto. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian penghargaan “Outstanding Alumni Award” kepada Michael Bambang Hartono, Maryono, dan Randi Anto oleh Rektor Universitas Diponegoro.

Inti acara dari Sidang Senat Terbuka disampaikan dengan Orasi Ilmiah oleh Michael Bambang Hartono. Orasi Ilmiah tersebut mengangkat tema “Kemandirian Ekonomi Bangsa: Peluang dan Tantangan”. Dengan mengangkat tema tersebut, diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai keadaan perekoniman Indonesia saat ini kepada para peserta Sidang Senat Terbuka. Orasi diawali dengan menjelaskan bahwa FEB Undip berdiri tahun 1957 yang salah satu pendirinya adalah Soedarto. Beliau juga menjelaskan bahwa Indonesia mengalami kelonjakan perekonomian di tahun 2014 dan 2019. Michael pun menyampaikan bahwa perekonomian sekarang didominasi oleh era ekonomi digital yang masif dengan penjualan online secara cepat dan signifikan. Orasi Ilmiah ditutup dengan tiga cara menarik investor guna meningkatkan perkonomian bangsa, yakni mengubah undang-undang berkaitan dengan investasi, menurunkan pajak penghasilan, serta mempermudah regulasi.

Sidang Senat Terbuka ini lalu ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Marwini dan resmi ditutup oleh Anis Chariri. Para tamu undangan dan alumni FEB serta tenaga pengajar kemudian diajak untuk meresmikan Working Space FEB Undip lalu dilanjutkan dengan penanaman pohon tabebuya dan santap siang.

Lebih Dekat Dengan LKMMD FEB

Oleh: Aji Darmawan dan Alam Suprobo

FEB Undip (04/03) – Bertempat di Dome Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) pada pukul 15.30 telah dilaksanakan sosialisasi mengenai Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa tingkat Dasar (LKMMD). Sosialisasi ini diselenggarakan oleh panitia LKMMD tahun 2020 yang diketuai oleh Bahrul Ma’arif selaku mahasiswa Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP) tahun 2018. Sosialisasi ini diadakan guna memberikan informasi lebih mengenai seleksi serta kegiatan yang terdapat pada LKMMD tahun 2020.

LKMMD tahun 2020 mengambil tema Dare to Care, Innovate, and Lead For Indonesian Betterment. Dengan tema tersebut, diharapkan setelah mengikuti kegiatan tersebu para peserta dapat berinovasi serta menjadi pemimpin untuk Indonesia yang lebih baik. LKMMD ini merupakan kegiatan kaderisasi lanjutan dari Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa tingkat Pra Dasar (LKMMPD). Tujuan diadakannya kegiatan LKMMD yakni untuk memberikan pengetahuan mengenai pengelolaan organisasi secara profesional, meningkatkan kemampuan dalam memimpin, meningkatkan sikap kritis terhadap isu dan opini yang berkembang di publik, serta untuk menstimulasi mahasiswa dalam mengoptimalkan peran penting mahasiswa. Terdapat inovasi yang berbeda dengan tahun 2019 yakni pada LKMMD tahun 2020 terdapat spesialisasi seperti sekolah bidang, yaitu bidang-bidang yang dapat diikuti oleh peserta LKMMD sesuai dengan bidang yang dipilihnya saat mendaftar, selanjutnya terdapat juga sekolah politik mengenai pendidikan politik di kampus.

Untuk rangkaian acaranya dari tanggal 2 Maret sampai 6 Juni 2020 dengan timeline seleksinya yakni, 2-9 Maret open registration, 12 Maret pengumuman lolos berkas, 14-15 Maret wawancara, 22 Maret pengumuman lolos wawancara serta kegiatan LKMMD ini ditutup dengan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ). Untuk persentase kuota peserta dalam mengikuti LKMMD pada tahun 2020 yaitu sebesar 75% berasal dari mahasiswa FEB sendiri serta 25% berasal dari fakultas lain. Kemudian pendaftarannya dapat dilakukan secara online pada media sosial LKMMD FEB Undip 2020. Untuk berkas yang harus disiapkan oleh calon peserta LKMMD antara lain mengunduh formulir pendaftaran, membuat Curiculum Vitae (CV), melampirkan pas foto, scan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), melampirkan scan surat telah mengikuti LKMMPD, scan transkip nilai, surat keterangan aktif organisasi, membuat Motivation Letter, serta mengupload foto dengan twibbon LKMMD 2020.

Pada dasarnya LKMMD FEB ini tak jauh berbeda dengan LKMMD fakultas lain di Undip, hanya saja kaderisasi ini lebih difokuskan pada peran mahasiswa FEB Undip sendiri. Kegiatan ini berlangsung sekitar 1,5 jam yang diakhiri dengan sesi tanya jawab dan diskusi oleh perwakilan tiap Organisasi Mahasiswa (Ormawa) FEB Undip yang menyempatkan hadir mengikuti sosialisasi ini.