Oleh: Alvaro Siahaan
Alunan merdu ombak menabrak karang Bunyi Falsetto laut menuntun jalanku Menuju kenangan bersamamu Di tempat spesial kita Kehangatan yang dulu kurasa Kini membanjiri sanubari Semua ingatan yang dulu gugur Untuk sesaat mekar mewangi Jadi, ditampi di dalam oleh nafas yang penuh, Yang diketahui jiwaku pada tahun - tahun itu, Dengan kegairahan yang kupikir sudah kulupakan, Aku mencoba mengingat raut wajahmu di kala itu. Dari sekian raut wajah manismu Terbesit pula raut wajah gundah dan lelah Mengisyaratkan matinya api romansa Yang menjadi akhir dari kisah kita Betapa cinta kita itu membunuh Dibutakan gairah romansa, Dibutakan oleh api cemburu, Dibutakan oleh insekuritas, Kita saling mendekap erat Hingga tak sadar saling menyakiti Kita saling memendam emosi Sehingga rasa tak hendak mengalir Apa yang tersisa darimu? Di mana mawar di pipimu? Bibir mu yang tersenyum dan matamu yang bersinar? Sungai air mata yang mendidih Telah hangus membakar semuanya. Mungkin memang kita tak menjadi Tetapi hadirmu tetap membekas Rasa terimakasih kan selalu ada Untukmu yang menemani jejak langkahku

