Bersamamu

Oleh: Alvaro Siahaan

Alunan merdu ombak menabrak karang
Bunyi Falsetto laut menuntun jalanku
Menuju kenangan bersamamu
Di tempat spesial kita

Kehangatan yang dulu kurasa
Kini membanjiri sanubari
Semua ingatan yang dulu gugur
Untuk sesaat mekar mewangi

Jadi, ditampi di dalam oleh nafas yang penuh, 
Yang diketahui jiwaku pada tahun - tahun itu,
Dengan kegairahan yang kupikir sudah kulupakan,
Aku mencoba mengingat raut wajahmu
di kala itu.
 

Dari sekian raut wajah manismu
Terbesit pula raut wajah gundah dan lelah
Mengisyaratkan matinya api romansa
Yang menjadi akhir dari kisah kita

Betapa cinta kita itu membunuh
Dibutakan gairah romansa,
Dibutakan oleh api cemburu,
Dibutakan oleh insekuritas,

Kita saling mendekap erat
Hingga tak sadar saling menyakiti
Kita saling memendam emosi
Sehingga rasa tak hendak mengalir

Apa yang tersisa darimu?
Di mana mawar di pipimu?
Bibir mu yang tersenyum dan matamu yang bersinar?
Sungai air mata yang mendidih
Telah hangus membakar semuanya.

Mungkin memang kita tak menjadi
Tetapi hadirmu tetap membekas
Rasa terimakasih kan selalu ada
Untukmu yang menemani jejak langkahku

Diamnya Perempuan

Karya : Arum


Puluhan juta lisan terbungkam
Luapan amarah yang seakan kau anggap sampah
Kekerasan pada perempuan tidak asing lagi
Betapa besar ketakutan yang sering dialami
Teriakan seakan lagu penghantar tidur bagi si keji
Dimana lagi tempat aman itu berada
Seakan musnah ditelan bumi


Payung hukum seolah olah diam tak bergerak
Regulasi terkait kekerasan perempuan dipinggirkan
Keadilan yang tak pernah di rasakan
Seakan – akan menjadi kutukan
Dengan kepedihan dan hujatan tanpa pembelaan
Ketakutan menjadikan ketidakberanian
Hal itulah wanita selalu terpojokan


Ku kira semestinya hidup tak saling menyakiti
Saling menjaga dan menghormati
Kasus pelecehan seksual segera diatasi
Dan untuk perempuan
Jangan putus asa dan tetaplah berjuang
Teruslah melangkah ke depan
Untuk mewujudkan cita cita yang kau pendam