Mengenal Arti Penting Politik Luar Negeri Melalui Diplomatic Festival

Reporter: Marsha, Dhia

Menteri Retno Memaparkan Materi pada Acara Diplofest

Undip (30/8) – Bertempat di Gedung Prof. Soedarto, telah berlangsung Talkshow #MenluRetno yang merupakan salah satu rangkaian dari acara Diplomatic Festival (DiploFest) yang diadakan oleh Kementrian Luar Negeri (Kemenlu). DiploFest terdiri dari dua rangkaian acara, yaitu public lecturer corpbisnis substansi dan festival yang mendidik namun dikemas kedalam bentuk yang disukai oleh anak-anak milenial. Sebelumya, acara DiploFest telah diselenggarakan di lima kota yang berbeda, yaitu Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Bandung, dan Padang. Kemenlu menyelenggarakan DiploFest ini dengan tujuan untuk membumikan semua ilmu yang dimiliki diplomat, semua ilmu yang dilakukan dalam diplomasi dan politik luar negeri Indonesia ke dunia sehingga masyarakat dapat menerima ilmu tersebut dan masyarakat bisa sekaligus memahami betapa beratnya dan betapa complicated-nya pelaksanaan sebuah politik luar negeri.

Talkshow ini dihadiri oleh Walikota Semarang, Sekretaris Daerah Semarang, Rektor Undip, Guru Besar Undip, beberapa Dekan Undip, dan jajaran kemenlu. Antusiasme peserta untuk mengikuti talkshow sangat tinggi. Hal ini terbukti dari jumlah peserta yang hadir melebihi kapasitas tempat duduk yang disediakan panitia, sehingga beberapa peserta yang tidak kebagian kursi  harus duduk di atas karpet. Hal menarik dari situasi tersebut yaitu ketika Menteri Retno ikut bergabung untuk duduk di karpet bersama para peserta.

Suasana dalam Acara Diplofest di Gedung Prof. Sudarto SH

Dalam Talkshow Diplofest, Menteri Retno menyampaikan empat isu yang diprioritaskan Indonesia dalam melaksanakan politik luar negeri. Isu yang pertama yaitu mengenai Ekosistem Perdamain. Menurut Menteri Retno, cara memperkuat ekosistem perdamaian yaitu dengan menyuburkan budaya damai. Cara ini berupa  penyelesaian masalah dengan cara damai  seperti berdialog dan negosiasi. Cara kedua yaitu dengan Penguatan Peace Keeping Operation (PKO). Sebagai negara sepuluh besar penyumbang PKO, Indonesia ingin menambah jumlah peace keepers perempuan, tidak hanya di Indonesia tapi dunia. Maksud dalam penambahan ini adalah karena secara kodrati, perempuan akan membawa suasana damai didalam lingkungannya. Sehingga harapannya peace keepers perempuan dapat me-recover korban pasca konflik yang mayoritas adalah anak-anak dan perempuan. Politik luar negeri Indonesia juga sangat gencar dalam mengangkat isu perempuan, hal itu dibuktikan dengan dukungan penuh terhadap isu Women Peace and Securate, yaitu dengan melakukan capacity building. Menteri Retno mengatakan “Kita ingin perempuan menjadi agen perdamaian, agen toleransi, dan agen  kesejahteraan. Hormati kemajemukan, hormati perbedaan, kuatkan toleransi”.

Isu kedua yaitu tentang Penguatan Organisasi Kawasan. Kawasan menjadi sangat penting artinya karena masing-masing kawasan selalu memiliki dinamika yang berbeda-beda. Jika kawasan kuat, maka organisasi dapat menyelesaikan masalah sebelum masalah tersebut berkembang. ASEAN sebagai organisasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara, telah menumbuh kembangkan budaya damai diberbagai negara. Indonesia sebagai salah satu negara ASEAN, memiliki konsep inisiatif yang dikagumi oleh negara di kawasan Asia tenggara dan berbagai negara lain. Konsep ini adalah  IndoPacific. Konsep inisiatif tersebut menekankan pada budaya dialog, budaya damai, dan budaya kerjasama. Budaya kerjasama sendiri memiliki empat pilar, yaitu budaya maritim, konektivitas, SDGs 2030, dan kerjasama ekonomi lainnya. “Kita ingin IndoPacific stabil dan aman, karena akan menjadi kesejahteraan sehingga dapat menjadikan Asia aman,” ujar Menteri Retno.

Isu ketiga yang dibahas yaitu mengenai Negara Palestina. Politik Indonesia sangat mendukung Palestina, Indonesia konsisten untuk membantu rakyat Palestina sampai sekarang. Tantangan yang dihadapi Palestina semakin besar. Isu negosiasi dari dunia dengan Palestina terlepas satu persatu diantaranya yakni, status Yerussalem yang sekarang diubah menjadi Ibu Kota Israel, wilayah Palestina yang semakin lama semakin mengecil, dan bantuan yang diberikan kepada pengungsi semakin lama semakin berkurang. “Indonesia tetap akan bersama rakyat Palestina. Mendampingi dan membantu Palestina untuk memperjuangkan hak-haknya,” tegas Menteri Retno. Dalam hal ini Indonesia memberikan bantuan lebih banyak ke PBB untuk Palestina.

Menteri Retno Saat Menemui Media

Selanjutnya, isu yang dibahas yaitu mengenai Diplomasi Ekonomi. Diplomasi ekonomi menjadi salah satu prioritas politik Luar Negeri Indonesia. Diplomasi ekonomi diperkuat dengan memperkuat diplomat melalui pemberian ilmu ekonomi yang lebih dalam dan termasuk ilmu internasional lainnya. Diplomasi ekonomi ini merupakan longterm political invest dan dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja ekonomi, pariwisata, politik dengan negara lain. Orientasi pada diplomasi ekonomi akan diperkuat dengan membuka pasar baru, salah satunya pasar Afrika. “Diplomasi ekonomi kedepan akan terus kita perkuat. The benefit of our diplomation must be felt of all of us,”  ujar Menteri  Retno sebagai penutup.

Dipenghujung pemaparan, Menteri Retno memberikan pesan kepada seluruh peserta yang hadir. “Indonesia ingin menjadi negara pemenang. Untuk menjadi pemenang tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri melainkan kita semua,” tutup Menteri Retno.

Live In Kesmes 2019: Aksi Nyata, Kerja Kita, untuk Indonesia

Reporter: Yunita, Dewima

Kesmes Melakukan Acara Live In di Dusun Batur Kidul, Semarang

Semarang – Kelompok Studi Masalah Ekonomi dan Sosial (Kesmes) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) mengadakan kegiatan Live In dengan tema “Ekonomi Pertanian” di Dusun Batur Kidul, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang pada tanggal 23–25 Agustus 2019. Kegiatan ini merupakan program kerja dari Kesmes yang diadakan setiap tahunnya di tempat yang telah disurvei sebelumnya.

Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang merupakan salah satu desa yang terletak di kaki Gunung Merbabu. Desa tersebut adalah desa cukup terpelosok namun memiliki potensi yang cukup tinggi di sektor pertanian. Setelah survei di berbagai tempat, akhirnya terpilihlah desa tersebut sebagai tempat untuk diadakannya Live In.

Live In merupakan bentuk kegiatan sosial yang mana para pesertanya dapat berinteraksi sosial secara langsung dan merasakan bagaimana kehidupan masyarakat di tempat mereka tinggal untuk sementara tersebut. Live In Kesmes 2019 tersebut diadakan untuk menunjukkan kepada para mahasiswa bagaimana kehidupan di desa karena apa yang dipelajari di dunia perkuliahan belum tentu selaras dengan apa yang terjadi di desa. Adapun tujuannya adalah untuk saling berbagi ilmu, baik dari apa yang dipelajari di kampus yang mungkin bisa diterapkan di desa tersebut maupun sebaliknya.

Selama tiga hari dua malam, para peserta Live In yang terdiri dari panitia, anggota Kesmes, dan volunteer menginap di rumah–rumah warga Dusun Batur Kidul. Mereka melaksanakan berbagai kegiatan yang ditujukan untuk warga dusun, baik yang diisi oleh para peserta maupun dari partner yang didatangkan oleh panitia.

Hari pertama kegiatan dibuka dengan upacara pembukaan dilanjutkan mendatangi rumah warga yang telah dibagi untuk tiap kelompok. Para warga menyambut mereka dengan hangat dan ramah sehingga tidak membuat para peserta canggung. Kegiatan dilanjutkan dengan pemberian pelatihan kepada Kelompok Tani Ngudi Lestari dan Kelompok Tani Hijau Daun serta para peserta tentang pembuatan pupuk cair dengan memanfaatkan limbah sayur. Materi tersebut diisi oleh Bina Mitra.id yang kebetulan juga merupakan mahasiswa Undip. Malam harinya, diadakan kegiatan doa bersama dan acara Jagong Asik yang merupakan acara sharing atau berbincang hangat dengan warga dusun setempat.

Peserta Live In Kesmes Mengajar di Madrasah Ibtidaiyah

Hari kedua, para peserta Live In melakukan kegiatan mengajar di Madrasah Ibtidaiyah dan cek kesehatan warga dusun. Antusiasme para siswa sangat terlihat jelas saat para peserta Live In menggantikan guru mereka untuk mengajar. Dari kegiatan mengajar tersebut, diharapkan para siswa termotivasi untuk mengejar cita–cita mereka sehingga tidak putus sekolah.  Sementara itu, kegiatan cek kesehatan gratis diadakan oleh panitia yang bekerja sama dengan social volunteer dari Fakultas Kedokteran Undip juga diikuti warga setempat dengan antusiasme tinggi. Acara dilanjutkan dengan perlombaan ala tujuh belasan disiang hari dan pensi dengan warga setempat di malam harinya.

Di hari terakhir, peserta berkeliling di ladang untuk belajar bagaimana berladang dari petani langsung dan dilanjutkan dengan membersihkan lingkungan dusun. Upacara penutupan dilaksanakan di sore hari sekaligus sebagai tanda acara telah berakhir.

Kegiatan Live In tersebut memberikan banyak pelajaran bagi para peserta maupun para warga. Nuansa kekeluargaan antar warga yang sangat kental di dusun sangatlah jarang ditemukan di kehidupan saat ini, khususnya di daerah perkotaan. Gotong royong dan guyub rukun serta kesederhanaan dan keramahan mereka memberikan pengalaman baru yang sangat berarti. Begitu pula bagi warga desa, yang mana pelatihan dan kegiatan dari panitia tentu memberikan ilmu yang bermanfaat bagi mereka.

Dari adanya kegiatan tersebut, diharapkan kedepannya dusun tersebut semakin maju baik sektor pertanian, ekonomi maupun pendidikannya. Begitu pula bagi para volunteer dan peserta lainnya agar bisa mengambil pelajaran setelah mengikuti acara tersebut serta tetap menjalin komunikasi dan hubungan yang baik dengan para warga setempat.

Milenial Cinta Islam Bersama IMOT

Reporter: Difa, Camila

Pembukaan Acara IMOT oleh Akhmad Syakir Kurnia Didampingi oleh Perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian

Undip (24/08) – Islamic Motivation Training (IMOT)kembali hadir dengan tema “Aku Milenial, Aku Cinta Islam.” IMOT merupakan salah satu program kerja Mizan, salah satu unit kegiatan mahasiswa di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip). Acara tersebut merupakan Pembukaan Kaderisasi Kerohanian Islam yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa baru yang beragama Islam. Bertempat di Laboratorium Kewirausahaan FEB Undip, acara IMOT mendapatkan tanggapan positif baik dari para mahasiswa maupun dosen.

Acara ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Undip serta tilawah oleh salah satu panitia. Mewakili Dekan FEB Undip, Akhmad Syakir Kurnia, memberikan sambutan terkait acara ini yang memperkenalkan topik ‘Toleransi Umat Beragama’ dengan menghadirkan anggota Pelayanan Rohani Mahasiswa Katolik (PRMK), Persekuan Mahasiswa Kristen (PMK), Mizan, dan Keluarga Mahasiswa Buddhis (KMB). Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki keberagaman budaya dan agama, sehingga topik tersebut sangat sesuai untuk dibahas pada acara kali ini.

Materi pertama yang mengangkat tema tentang “Generasi Cinta Islam” disampaikan oleh Ustadz M. Nur Sholeh, salah satu Dosen Teknik Sipil SV Undip. Memulai materi dengan penjelasan mengenai pentingnya perencanaan, beliau memberikan contoh bahwa sebuah rencana harus diikuti dengan adanya aksi nyata. Dengan perencanaan yang matang dan sebuah aksi nyata, mimpi dan hidup kita akan berjalan secara lebih terstruktur. Beliau menceritakan tentang peran penting pemuda dalam perjalanan perkembangan Islam di masa Rasulullah. Bercermin dari masa tersebut, beliau juga menghimbau para pemuda untuk mempersiapkan diri sebagai pemimpin di masa yang akan datang, sesuai target pemerintah tentang Indonesia Emas 2045. Kemudian, materi pertama ditutup dengan sesi tanya-jawab.

Guna menjadikan acara menarik dan tidak membosankan, panitia memberikan sebuah permainan kepada peserta. Hal ini bertujuan untuk membangun jiwa pemberani serta melatih kreativitas para mahasiswa. Untuk menimbulkan antusiasme peserta, panitia menyiapkan berbagai hadiah.   

Setelah ISHOMA, acara dilanjutkan dengan penyampaian materi kedua. Dalam kesempatan ini Ustadz Ahmed Dzakirin mengangkat tema “Pentingnya Mentoring sebagai Wujud Cinta Islam.” Materi ini disampaikan dengan harapan mahasiswa dapat menyambut antusias program mentoring yang merupakan agenda wajib akademik FEB Undip.

Pada akhir acara, diadakan pembagian kelompok mentoring untuk mahasiswa baru, serta pelantikan pe-mentoring. Diharapkan dengan adanya IMOT, mahasiswa dapat beradaptasi dengan iklim dakwah di lingkungan kampus.

Mahasiswa KKN Undip Melakukan Revitalisasi Bank Sampah di Desa Temon

Mahasiswa KKN Undip Desa Temon Bersama Perangkat Desa

GROBOGAN – Tim  II KKN Undip 2019 Desa Temon pada minggu ke empat menjalankan program multidisiplin berupa revitalisasi bank sampah yang diadakan di Balai Desa Temon dengan sasaran yaitu perangkat desa dan perwakilan warga Desa Temon. Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dengan materi dari semua anggota tim berdasarkan bidang ilmunya masing-masing. Kegiatan ini juga di hadiri oleh sekretaris desa Temon, Eko selaku penanggungjawab untuk Tim KKN dari Desa Temon.

Revitalisasi bank sampah yang dilakukan oleh Tim II KKN Undip 2019 merupakan upaya mengatasi masalah sampah yang menjadi problem utama di Desa Temon. Selain itu produk yang menjadi icon dalam program ini yaitu akuaponik sebagai bentuk pemanfaatan sampah anorganik dan pupuk kompos sebagai bentuk pemanfaatan sampah organik. Adanya kedua produk tersebut diharapakan dapat menjadi contoh bagi masyarakat Desa Temon dalam memanfaatkan sampah anorganik dan organik serta dapat memilahnya dengan baik dan benar.

Akuaponik dibuat dengan memanfaatkan sampah gelas plastik bekas minuman dan juga ember bekas dengan budidaya sayuran bayam. Sedangkan pupuk kompos dibuat dari sampah organik yang diambil langsung dari Pasar Temon dengan jenis kompos yang dibuat yaitu jenis keranjang takamura yang lebih mudah dan sederhana sehingga mudah untuk diterapkan. Peserta yang mengikuti kegiatan acara ini sangat antusias dan tertarik terhadap produk unggulan dari program multidisplin Tim KKN Desa Temon.

Mahasisa KKN Undip Menyampaikan Materi Kepada Peserta yang Hadir

Materi lain dari kegiatan revitalisasi bank sampah ini yaitu adanya edukasi mengenai dampak sampah bagi kesehatan. Tujuan adalah untuk membuka wawasan dan kesadaran warga Desa Temon agar nantinya dapat mengelola sampah dengan baik dan benar. Selanjutnya materi mengenai edukasi pemilihan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di Desa Temon. Tak hanya itu saja, Tim KKN Undip juga memberi edukasi mengenai pemanfaatan kulit semangka sebagai manisan yang produk olahannya dapat secara langsung di nikmati oleh peserta kegiatan. Akhir dari kegiatan program ini dibagikan leaflet mengenai pengelolaan sampah yang baik dan benar serta pemanfaatannya. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini masyarakat Desa Temon mulai bijak dalam mengelola sampah sehingga tidak lagi menjadi masalah utama di Desa Temon. Selain itu juga meningkatkan kesadaran para warga agar lebih tertib dalam membuang sampah pada tempatnya dan tidak membakarnya kembali.

“Transformasi” Gemblong Menjadi Makanan Khas Kekinian Wujudkan Potensi Bisnis Desa Banding oleh Mahasiswa KKN Undip

Mahasiswa KKN Undip Desa Banding Mengikuti Expo KKN Kabupaten Semarang

Semarang – Maraknya berbagai macam makanan kekinian yang memadati industri kuliner serta ketatnya persaingan bisnis kuliner saat ini menuntut setiap pelaku bisnis dalam bidang tersebut untuk membuat inovasi dan kreasi tanpa menghilangkan ciri khas dari produk pangan itu sendiri. Di Desa Banding, Kecamatan Bringin terdapat potensi makanan khas berbahan dasar olahan singkong yang dikenal dengan istilah ‘Gemblong’. Namun kurangnya pengetahuan dan wawasan akan inovasi produk serta analisis bisnis membuat potensi makanan khas desa ini belum berkembang sejak puluhan taun silam dan justru semakin terabaikan. Hal tersebut yang mendorong Mahasiswa Tim II KKN Undip Desa Banding yang terdiri dari berbagai mahasiswi dengan latar belakang disiplin ilmu yang berbeda yaitu Ilma Nur Hayati (Fakultas Kedokteran), Citra Cahaya Yustika (Fakultas Pertanian), Dhita Yulianda (Fakultas Ekonomika dan Bisnis), Bella Annisa (Fakultas Hukum) dan Astri Kurniawati (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik) untuk menyelenggarakan perencanaan pengembangan inovasi potensi makanan khas Desa Banding menjadi makanan khas yang dapat  dilirik oleh kalangan masyarakat modern saat ini.

Program yang ditujukan kepada semua lapisan masyarakat desa baik dari perangkat desa, petani, pengrajin gemblong dan pemuda karang taruna desa ini dilaksanakan pada hari Sabtu (10/8) pukul 20.00 WIB di Aula Balai Desa Banding. Pelaksanaan program perencanaan ini disambut dengan antusias oleh tiap kalangan peserta yang hadir dalam kegiatan sosialisasi tersebut. Sebab banyak pihak yang berharap potensi makanan khas desa ini dapat dioptimalkan dan di-branding sebagai salah satu produk pangan olahan singkong yang khas dari Desa Banding serta dikenal tidak hanya oleh warga sekitar, tetapi juga oleh masyarakat luar daerah maupun provinsi.

Inovasi Olahan Gemblong oleh Mahasiswa KKN Undip

Kegiatan perencanaan optimalisasi ini terdiri dari berbagai aspek sesuai dengan prioritas permasalahan yang didapat yakni, mulai dari penyuplaian bahan baku, pengorganisasian sumber daya manusia yang baik dan benar analisis bisnis marketing, perizinan produk pangan hingga pertimbangan kandungan nilai gizi dari produk pangan tersebut. Dimana setiap penjelasan aspeknya, dipaparkan oleh mahasiswi dengan disiplin ilmu berkaitan. Kegiatan tersebut juga dilanjutkan dengan percobaan pembuatan inovasi produk Gemblong dari kreasi varian rasa, segi pengemasan dan juga merek dagang yang akan digunakan. Hasil inovasi yang telah dibuat kemudian dipamerkan dalam program pameran Expo se-Kabupaten Semarang yang diselenggarakan pada hari Selasa (13/08). Acara tersebut melibatkan banyak pihak serta peserta KKN dari berbagai daerah di Kabupaten Semarang.

Mahasiswa KKN Membantu Penginputan Data PTSL

Pada hari Jumat, 2 Agustus 2019, mahasiswa Tim II KKN Undip 2019 membantu perangkat desa dalam penginputan data PTSL yang merupakan program lanjutan dari pengisian data PTSL sebelumnya. Mahasiswa dan mahasiswi dari Tim II KKN UNDIP di Desa Kambangan berpartisipasi dalam penginputan data pada program pemerintah yang berupa sertifikat massal ini.

Kegiatan ini bertempat di kediaman bapak sekretaris desa, Bapak Abidin. Kegiatan ini dibimbing oleh tenaga ahli, Bapak Azis, dengan memberikan pengarahan langsung kepada 11 mahasiswa dalam hal tata cara penginputan pada PTSL secara sesuai. Setelah pemberihan pengarahan tentang tata cara penginputan maka dilanjutkan dengan tindakan langsung oleh mahasiswa dan mahasiswi dalam hal penginputan menggunakan laptop dari para mahasiswa dan mahasiswi.

Kegiatan yang berlangsung selama dua jam dengan menghasilkan sekitar 40 lembar sertifikat yang sudah terinput pada Microsoft Excel yang sudah disiapkan. Diharapkan dengan bantuan dari mahasiswa dan mahasiswi dapat membantu cepat terselesaikannya program PTSL tersebut.

Ecobrick: Solusi yang Diberikan Mahasiswa KKN Undip untuk Mengatasi Permasalan Sampah di Desa Barang

Mahasiswa KKN Undip Memberikan Pelatihan Membuat Ecobrick di Desa Barang, Temanganggung

Temanggung – Desa Barang merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Jumo yang sudah memiliki bank sampah. Meski demikian, permasalahan yang sering terjadi di bank sampah pada Desa Barang adalah dalam pengelolaan sampah plastik. Sampah yang terbuat dari plastik menimbulkan permasalah yang serius di Indonesia, sehingga muncul berbagai macam cara alternatif untuk mengelola sampah plastik. Salah satu pengelolaan sampah plastik yang dijadikan pelatihan oleh Tim II KKN Undip di Desa Barang adalah ecobrick. Ecobrick merupakan material ramah lingkungan pengganti batu bata. Satu ecobrick yang dibuat dengan botol plastik bekas 1500 ml harus mencapai berat 500 gram. Dengan memanfaatkan sampah menjadi ecobrick, limbah plastik akan menghasilkan sesuatu yang lebih aplikatif dan berguna. Ecobrick yang dibuat dapat dibentuk menjadi modul yang dapat dijadikan berbagai bentuk seperti meja, kursi, tempat sampah, dan lain-lain.

Pada tanggal 6 Agustus 2019, Tim II KKN Undip dari Jurusan Administrasi Bisnis melakukan pelatihan pembuatan ecobrick di posko KKN yang terletak di Dusun Barang Wetan, Desa Barang. Pelatihan ini dihadiri oleh 14 orang yang terdiri dari Karang Taruna Dusun Barang Wetan, serta para kelompok pengelola sampah Desa Barang. Pelatihan diawali dengan presentasi materi, menonton video bahaya sampah plastik bagi lingkungan, dan praktik yang dilakukan langsung oleh seluruh warga desa yang hadir. Praktik pembuatan ecobrick ini dimulai dengan menggunting sampah plastik yang sebelumnya di cuci terlebih dahulu hingga bersih, kemudian memasukan sampah plastik ke botol dengan bambu yang runcing dengan teknik-teknik tertentu. 

Pelatihan mengenai ecobrick menjadi suatu hal yang baru bagi warga Desa Barang. Hal ini dikarenakan ecobrick bisa digunakan sebagai material ramah lingkungan pengganti batu bata yang kuat, awet, dan tahan air. Selain itu, setiap rumah warga yang ada di Desa Barang masih jarang yang memiliki tempat sampah, sehingga ecobrick bisa dijadikan material pembuat tempat sampah, bahkan bisa digunakan sebagai bahan dasar membuat rumah. Ecobrick juga dapat menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah plastik untuk bank sampah Desa Barang sekaligus mengajarkan kepada masyarakat desa untuk memilah sampah sebelum diangkut oleh petugas.

Mahasiswa Tim II KKN Undip Memberikan Pendampingan Pengelolaan Website Desa Kepada Perangkat Desa Pagumenganmas

Mahasiswa KKN Undip Memberikan Pendampingan Pengelolaan Website Kepada Perangkat Desa Pagumenganmas

Pekalongan (9/8) – Tepat pukul 08.30 WIB, Mahasiswa Tim II KKN Undip 2019  telah bersiap di Balai Desa Pagumenganmas, Kecamatan Karangdadap, Pekalongan untuk melaksanakan salah satu program multidisiplin yaitu pendampingan pengelolaan website desa yang diikuti oleh perangkat desa Pagumeganmas. Hal ini merupakan salah satu arahan Abdul Qoyyum, selaku Camat Kecamatan Karangdadap. Abdul mengharapkan tiap desa dapat memiliki website desa untuk menunjang desa masing-masing.

Di era globalisasi ini, keberadaan website desa dirasa sangat penting. Masyarakat banyak mencari dan mendapat informasi dari internet. Website desa dapat membantu masyarakat desa mendapatkan informasi mengenai Desa Pagumenganmas dan kegiatan-kegiatan yang ada di desa. Selain itu, website desa dapat membantu Desa Pagumengmas untuk dikenal oleh dunia luar.

Dalam kegiatan ini, para perangkat desa dberi penjelaskan mengenai cara meng-input postingan, mengatur menu, dan mengatur tampilan website. Website desa berisi struktur kepengurusan desa, tata cara mengurus administrasi kependudukan dan surat-surat desa, dan lain-lain. Website desa juga berisi potensi-potensi baik alam maupun industri yang ada di Desa Pagumenganmas, sehingga dapat menjadi sarana pemasaran bagi industri-industri milik masyarakat Desa Pagumenganmas.

Diharapkan dengan adanya kegiatan pendampingan pengelolaan website desa, para perangkat desa dapat mengelola website dengan baik sehingga dapat bermanfaat bagi pelayanan publik kepada masyarakat Desa Pagumenganmas.

Kardiono selaku Kepala Desa Pagumenganmas mengungkapkan bahwa program multidisiplin yang berupa pendampingan, pengelolaan website desa akan bermanfaat bagi perangkat desa maupun masyarakat dalam kegiatan yang ada di desa. “Saya berharap dengan adanya website desa ini dapat membantu kinerja perangkat desa dan pelaporan kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Pagumenganmas,” ujar Kardiono.

Mahasiswa KKN Undip Mengembangkan Sistem Pemasaran, Penjualan, dan Sertifikasi Teh Organik di BUMDes Desa Kembanglangit

Pelatihan Pemasaran Melalui Platform E-Commerce oleh Mahasiswa KKN Undip

BATANG – Sekar Langit merupakan rumah produksi teh unggulan di Desa Kembanglangit. Sekar Langit memiliki sistem pengolahan yang sudah maju dan konsumen dari berbagai daerah di Indonesia bahkan internasional. Teh Sekar Langit yang memiliki aroma yang khas, tersedia dalam berbagai varian rasa seperti Green Tea, White Tea, Oolong Tea dan White Tea. Selain terkenal karena aroma dan rasanya, Teh Sekar Langit juga terkenal sebagai teh organik yang tersertifikasi. Teh Sekar Langit dirintis oleh Kasmuri sejak tahun 1970 dan sekarang telah menjadi Kelompok Usaha Bersama di Desa Kembanglangit dengan luas lahan 41 ha yang dimiliki dengan asas kepemilikan bersama (48 warga). Sertifikasi Teh Organik Sekar Langit terus menerus dipantau dan diperpanjang dalam waktu tertentu. Pada tanggal 31 Juli 2019, dilaksanakan surveillance untuk memperpanjang sertifikat organik Teh Sekar Langit.

Walau sudah dipasarkan secara nasional maupun internasional, penjualan Teh Sekar Langit masih terpaku pada reseller dan belum memiliki sistem pemasaran online secara mandiri. Atas dasar hal tersebut, mahasiswa KKN Tim II Undip Kecamatan Blado, Desa Kembanglangit, mengenalkan penjualan teh organik berbasis e-commerce untuk BUMDes (KUB Sekar Langit) di Desa Kembanglangit. Hal ini diwujudkan dengan pelatihan secara menyeluruh untuk pengelola BUMDes yaitu Kasmuri tentang pentingnya kesadaran e-commerce di masa kini dan bagaimana untuk menjadi seller di wadah e-commerce. Darmawan Citrajaya (FEB-Akuntansi) dan Nurul Aeni Rahmayanti (FEB-IESP) membantu KUB Sekar Langit untuk menjalankan proses bisnisnya melalui wadah e-commerce.

Mahasiswa KKN Undip dengan Pengelola BUMDes Desa Kembanglangit

Selain membantu dalam bidang pemasaran, Tim II KKN Undip Kecamatan Blado, Desa Kembanglangit juga melaksanakan pemetaan kepemilikan lahan kebun teh yang masih belum terpetakan dengan baik. Pemetaan kepemilikan lahan kebun teh menjadi salah satu poin penilaian yang penting untuk Surveillance in Office selaku Lembaga Penilai Sertifikasi Teh Organik. Selain untuk memenuhi poin penilaian pemetaan lahan juga menjadi acuan dalam pembagian laba usaha. Dengan terpetakannya lahan kebun teh, Sekar Langit berhasil memperpanjang sertifikatnya dan memperoleh nilai yang lebih tinggi. Sertifikasi teh organik ini sangat berguna untuk menarik pangsa pasar online di wadah e-commerce.

Mahasiswa KKN Undip Tingkatkan Kesadaran Berwirausaha dengan Keripik Tempe “Sedanku”

REMBANG – Salah satu tujuan utama dari program Tim II KKN Universitas Diponegoro tahun 2019 adalah pengentasan kemiskinan. Oleh Karena itu Tim KKN Desa Sedan, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang merancang dan menjalankan program unggulan berupa Pendampingan Produksi dan Pemasaran Keripik Tempe “Sedanku”. Program yang dilaksanakan pada tanggal 6 Agustus 2019 ini mengenalkan pada warga tentang bagaimana cara mengolah tempe menjadi camilan keripik dan bagaimana mendapatkan izin usaha serta memasarkannya. Di Balai Desa Sedan, para peserta pelatihan yang mayoritas adalah ibu rumah tangga hadir untuk mempelajari cara memasak dan memperoleh pengetahuan tentang izin usaha serta strategi pemasaran.

Di Desa Sedan sendiri terdapat beberapa produsen tempe yang usahanya selalu berjalan secara berkelanjutan, namun tempe tidak diolah lebih lanjut menjadi makanan jadi. Distribusinya pun masih dalam lingkup Desa Sedan dan sekitarnya. Hal ini pula yang menjadi potensi desa hingga turut mendasari berjalannya program unggulan ini.

Program dimulai dengan pengenalan produk serta tujuan dan latar belakangnya. Setelah itu, Tim KKN melakukan demo memasak keripik tempe yang ditanggapi dengan antusias oleh peserta yang hadir. Pembuatan keripik tempe ini cukup sederhana, yaitu tempe yang sudah dipotong tipis-tipis dibaluri dengan adonan tepung dan bumbu, lalu digoreng hingga keemasan dengan api kecil. Meskipun begitu, ada beberapa tahap yang tricky dalam proses pembuatan keripik ini, seperti tahap pemotongan tempe yang harus benar-benar tipis agar tempe menjadi renyah dan tahap penggorengan tempe yang harus tepat, dalam arti tempe harus diangkat tepat waktu agar rasanya pas.

Setelah demo masak selesai, Tim KKN melanjutkan acara dengan materi mengenai izin usaha, pengemasan, dan pemasaran produk. Dalam sesi ini, Tim KKN menjelaskan mengenai prosedur izin usaha untuk usaha mikro dan penjelasan mengenai modal usaha. Setelah itu dilanjutkan dengan penjelasan mengenai cara pengemasan dan pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini, yakni pengemasan yang menarik dan pemasaran melalui media online seperti Shopee, Tokopedia, dan lain-lain.

Dzawin selaku Sekretaris Desa Sedan sangat mendukung berjalannya program ini. Dengan adanya program Pendampingan Produksi dan Pemasaran Keripik Tempe “Sedanku”, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan waktu luang atau bahkan meluangkan waktu untuk berwirausaha keripik tempe untuk meningkatkan perekonomian keluarga atau bahkan desa.