Semarang (25/07) – Di tengah arus perubahan yang semakin cepat, generasi Z hadir dengan cara pandang baru terhadap dunia kerja. Mereka tak lagi terpaku pada gambaran karier ideal versi generasi sebelumnya, seperti berkantor dari pagi hingga sore, meniti tangga jabatan, lalu pensiun nyaman di usia senja. Bagi Gen Z, bekerja bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga sebagai sarana untuk meraih kemandirian, memberi dampak nyata, dan menjalani hidup sesuai nilai-nilai yang mereka yakini.
Pilihan menjadi entrepreneur bukan semata bentuk ambisi, melainkan cerminan dari pencarian makna dalam bekerja. Kebebasan dalam mengatur waktu, mengekspresikan nilai pribadi, serta menciptakan sesuatu yang berdampak, menjadi motivasi utama di balik keputusan tersebut. Banyak dari mereka memilih merintis usaha sendiri sebagai bentuk upaya membangun jalur karier yang selaras dengan visi hidup dan pengendalian arah masa depan, dengan keberanian mengambil risiko sebagai bagian dari proses bertumbuh.
Pandangan inilah yang dipegang oleh Hie, Jason Henryan Wijaya, pemuda kelahiran 2001 yang mendirikan PT FUU NOO CHIEN, sebuah perusahaan pengelolaan limbah kardus yang berlokasi di Semarang, Jawa Tengah. Usaha ini berangkat dari kepekaan terhadap peluang di sekitarnya, sekaligus dorongan kuat untuk menghadirkan kontribusi nyata lewat solusi berkelanjutan. Inspirasi itu muncul dari obrolan ringan bersama sang kakak usai menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), ketika Jason mengetahui bahwa pabrik milik keluarganya menyisakan banyak limbah kardus yang belum termanfaatkan secara optimal.
Melihat potensi dari sesuatu yang sering dianggap remeh, ia tertarik menjadikannya peluang usaha. Bermodalkan tabungan dari pekerjaan paruh waktu dan usaha angkringan semasa kuliah, ia menyewa gudang, meminjam mesin dan forklif, hingga mulai menjembatani distribusi limbah kardus dari pabrik ke para pembeli. Meskipun limbah tersebut berasal dari usaha keluarganya sendiri, Jason tetap bersikap profesional. Ia membeli kardus-kardus itu dengan mengikuti harga pasar. “Saya ingin sejak awal membangun bisnis dengan prinsip profesional. Walaupun dari keluarga sendiri, tetap saya perlakukan sebagai mitra. Saya biasakan semuanya dihitung dan dibayar. Itu penting untuk menumbuhkan budaya menghargai kerja dan memperhitungkan untung-rugi sejak awal,” ujarnya.
Prinsip tersebut mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh banyak Gen Z: transparansi, integritas, dan tanggung jawab. Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Jason pernah mengalami kerugian besar setelah membeli limbah dalam jumlah banyak tepat sebelum harga pasar anjlok. Dari kejadian itu, ia belajar pentingnya membaca tren pasar dan menerapkan manajemen risiko yang matang. “Nggak cukup semangat saja. Harus bisa hitung peluang dan siap dengan kemungkinan terburuk,” ungkapnya.
Sebagai generasi yang tumbuh di era digital, Gen Z memanfaatkan teknologi sebagai alat utama dalam mengembangkan usaha. Jason pun menggunakan media sosial untuk menjaring pembeli, membangun branding, serta memperluas jaringan mitra. Strategi ini membuat bisnisnya dikenal tanpa harus banyak promosi konvensional. “Berkat media sosial, kita nggak perlu repot-repot cari penjual atau pembeli. Mereka sendiri yang datang karena tahu keberadaan kita. Dengan kata lain, justru kita yang dicari,” jelasnya. Pemanfaatan teknologi digital menjadi strategi cerdas yang menguatkan posisi bisnisnya, terutama di tengah perkembangan pasar yang serba cepat dan kompetitif.
Meski teknologi membuka banyak pintu, Jason mengakui bahwa tantangan lain tetap ada, terutama soal konsistensi dan kedisiplinan. Ia menyadari menjaga fokus dan keteraturan dalam operasional bukan hal yang mudah, terlebih ketika semangat awal mulai memudar. Ia terus belajar menertibkan pencatatan dan manajemen operasional. Refleksi ini mencerminkan dinamika mentalitas Gen Z dalam berwirausaha, yaitu berani melangkah namun sadar bahwa proses pendewasaan tetap diperlukan.
Tak hanya fokus pada strategi usaha, Jason juga menanamkan prinsip integritas dan keterbukaan dalam setiap langkah bisnisnya. Ia percaya bahwa membangun kepercayaan adalah fondasi penting, terutama bagi pengusaha muda yang ingin bertahan dan berkembang. “Komunikasi harus dilakukan secara transparan, dan yang tak kalah penting adalah menjaga konsistensi terhadap apa yang saya katakan atau janjikan kepada mitra. Dari situlah integritas dan kompetensi kita akan terlihat,” ujarnya.
Lebih dari sekadar bisnis, Jason menyematkan visi sosial dalam perusahaannya. Ia ingin mengubah persepsi masyarakat terhadap limbah, bukan sebagai sampah yang tak berguna, tetapi sebagai sumber daya ekonomi yang dapat dikelola secara berkelanjutan. Menurutnya, material seperti kardus, plastik, hingga besi, jika diolah dengan benar akan memiliki nilai tambah yang besar. “Selama manusia terus konsumsi, limbah nggak akan habis. Dan itu berarti, peluang akan selalu ada,” tegasnya.
Melalui PT FUU NOO CHIEN, ia berharap dapat berkontribusi menciptakan sistem daur ulang yang lebih terarah dan berdampak nyata bagi lingkungan dan perekonomian Indonesia. Kini, seiring meningkatnya volume limbah yang ditangani, Jason tengah menyusun rencana ekspansi. Ia ingin memperluas kapasitas gudang, memperkuat sistem penyimpanan, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperluas jangkauan distribusi. Bagi Jason, pertumbuhan usaha bukan semata soal profit, tetapi juga perluasan dampak dan tanggung jawab sosial.
Kepada sesama Gen Z yang ingin memulai usaha, Jason berpesan untuk tidak menunggu segalanya sempurna. Ia menyarankan membiasakan diri menabung sejak dini, menyisihkan 30 hingga 50 persen penghasilan sebagai modal awal. “Kalau tabungan dan niat sudah ada, biasanya ide ikut datang. Jangan nunggu semuanya lengkap baru mulai,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya lingkungan sosial yang suportif. Teman-teman yang jujur dan mendukung pertumbuhan pribadi sangat berpengaruh dalam perjalanan seorang entrepreneur muda. “Lingkungan itu berpengaruh besar. Teman yang bisa saling bantu dan jaga semangat itu penting banget,” tambahnya.
Bagi Jason, sukses bukan tentang gelar, jumlah kekayaan, atau jabatan tinggi. Ia percaya bahwa setiap orang berhak merumuskan arti sukses versi mereka sendiri. “Buat saya, sukses itu saat kita bisa berdampak. Bisa bantu orang, buka lapangan kerja, tetap jadi diri sendiri, dan selalu beruntung. Standar sukses itu seharusnya kita yang tentukan, bukan orang lain,” pungkasnya.Kisah Jason hanyalah salah satu dari banyak wajah Gen Z yang memilih jalur berbeda dalam membangun masa depan. Di era serba digital dan kompetitif, generasi ini hadir bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pencipta solusi. Dengan keberanian merintis, semangat memberi dampak, dan keyakinan terhadap nilai yang mereka perjuangkan, Gen Z menunjukkan bahwa menjadi entrepreneur bukan lagi sekadar alternatif karier, tetapi jalan hidup yang mencerminkan kemandirian dan tekad menciptakan perubahan.
Reporter: Najwatun Umma


