Menakar Makna Kerja: Refleksi Gen Z dalam Dunia Entrepreneur

Semarang (25/07) – Di tengah arus perubahan yang semakin cepat, generasi Z hadir dengan cara pandang baru terhadap dunia kerja. Mereka tak lagi terpaku pada gambaran karier ideal versi generasi sebelumnya, seperti berkantor dari pagi hingga sore, meniti tangga jabatan, lalu pensiun nyaman di usia senja. Bagi Gen Z, bekerja bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga sebagai sarana untuk meraih kemandirian, memberi dampak nyata, dan menjalani hidup sesuai nilai-nilai yang mereka yakini. 

Pilihan menjadi entrepreneur bukan semata bentuk ambisi, melainkan cerminan dari pencarian makna dalam bekerja. Kebebasan dalam mengatur waktu, mengekspresikan nilai pribadi, serta menciptakan sesuatu yang berdampak, menjadi motivasi utama di balik keputusan tersebut. Banyak dari mereka memilih merintis usaha sendiri sebagai bentuk upaya membangun jalur karier yang selaras dengan visi hidup dan pengendalian arah masa depan, dengan keberanian mengambil risiko sebagai bagian dari proses bertumbuh.

Pandangan inilah yang dipegang oleh Hie, Jason Henryan Wijaya, pemuda kelahiran 2001 yang mendirikan PT FUU NOO CHIEN, sebuah perusahaan pengelolaan limbah kardus yang berlokasi di Semarang, Jawa Tengah. Usaha ini berangkat dari kepekaan terhadap peluang di sekitarnya, sekaligus dorongan kuat untuk menghadirkan kontribusi nyata lewat solusi berkelanjutan. Inspirasi itu muncul dari obrolan ringan bersama sang kakak usai menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), ketika Jason mengetahui bahwa pabrik milik keluarganya menyisakan banyak limbah kardus yang belum termanfaatkan secara optimal.

Melihat potensi dari sesuatu yang sering dianggap remeh, ia tertarik menjadikannya peluang usaha. Bermodalkan tabungan dari pekerjaan paruh waktu dan usaha angkringan semasa kuliah, ia menyewa gudang, meminjam mesin dan forklif, hingga mulai menjembatani distribusi limbah kardus dari pabrik ke para pembeli. Meskipun limbah tersebut berasal dari usaha keluarganya sendiri, Jason tetap bersikap profesional. Ia membeli kardus-kardus itu dengan mengikuti harga pasar. “Saya ingin sejak awal membangun bisnis dengan prinsip profesional. Walaupun dari keluarga sendiri, tetap saya perlakukan sebagai mitra. Saya biasakan semuanya dihitung dan dibayar. Itu penting untuk menumbuhkan budaya menghargai kerja dan memperhitungkan untung-rugi sejak awal,” ujarnya.

Prinsip tersebut mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh banyak Gen Z: transparansi, integritas, dan tanggung jawab. Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Jason pernah mengalami kerugian besar setelah membeli limbah dalam jumlah banyak tepat sebelum harga pasar anjlok. Dari kejadian itu, ia belajar pentingnya membaca tren pasar dan menerapkan manajemen risiko yang matang. “Nggak cukup semangat saja. Harus bisa hitung peluang dan siap dengan kemungkinan terburuk,” ungkapnya.

Sebagai generasi yang tumbuh di era digital, Gen Z memanfaatkan teknologi sebagai alat utama dalam mengembangkan usaha. Jason pun menggunakan media sosial untuk menjaring pembeli, membangun branding, serta memperluas jaringan mitra. Strategi ini membuat bisnisnya dikenal tanpa harus banyak promosi konvensional. “Berkat media sosial, kita nggak perlu repot-repot cari penjual atau pembeli. Mereka sendiri yang datang karena tahu keberadaan kita. Dengan kata lain, justru kita yang dicari,” jelasnya. Pemanfaatan teknologi digital menjadi strategi cerdas yang menguatkan posisi bisnisnya, terutama di tengah perkembangan pasar yang serba cepat dan kompetitif.

Meski teknologi membuka banyak pintu, Jason mengakui bahwa tantangan lain tetap ada, terutama soal konsistensi dan kedisiplinan. Ia menyadari menjaga fokus dan keteraturan dalam operasional bukan hal yang mudah, terlebih ketika semangat awal mulai memudar. Ia terus belajar menertibkan pencatatan dan manajemen operasional. Refleksi ini mencerminkan dinamika mentalitas Gen Z dalam berwirausaha, yaitu berani melangkah namun sadar bahwa proses pendewasaan tetap diperlukan.

Tak hanya fokus pada strategi usaha, Jason juga menanamkan prinsip integritas dan keterbukaan dalam setiap langkah bisnisnya. Ia percaya bahwa membangun kepercayaan adalah fondasi penting, terutama bagi pengusaha muda yang ingin bertahan dan berkembang. “Komunikasi harus dilakukan secara transparan, dan yang tak kalah penting adalah menjaga konsistensi terhadap apa yang saya katakan atau janjikan kepada mitra. Dari situlah integritas dan kompetensi kita akan terlihat,” ujarnya.

Lebih dari sekadar bisnis, Jason menyematkan visi sosial dalam perusahaannya. Ia ingin mengubah persepsi masyarakat terhadap limbah, bukan sebagai sampah yang tak berguna, tetapi sebagai sumber daya ekonomi yang dapat dikelola secara berkelanjutan. Menurutnya, material seperti kardus, plastik, hingga besi, jika diolah dengan benar akan memiliki nilai tambah yang besar. “Selama manusia terus konsumsi, limbah nggak akan habis. Dan itu berarti, peluang akan selalu ada,” tegasnya.

Melalui PT FUU NOO CHIEN, ia berharap dapat berkontribusi menciptakan sistem daur ulang yang lebih terarah dan berdampak nyata bagi lingkungan dan perekonomian Indonesia. Kini, seiring meningkatnya volume limbah yang ditangani, Jason tengah menyusun rencana ekspansi. Ia ingin memperluas kapasitas gudang, memperkuat sistem penyimpanan, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperluas jangkauan distribusi. Bagi Jason, pertumbuhan usaha bukan semata soal profit, tetapi juga perluasan dampak dan tanggung jawab sosial.

Kepada sesama Gen Z yang ingin memulai usaha, Jason berpesan untuk tidak menunggu segalanya sempurna. Ia menyarankan membiasakan diri menabung sejak dini, menyisihkan 30 hingga 50 persen penghasilan sebagai modal awal. “Kalau tabungan dan niat sudah ada, biasanya ide ikut datang. Jangan nunggu semuanya lengkap baru mulai,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya lingkungan sosial yang suportif. Teman-teman yang jujur dan mendukung pertumbuhan pribadi sangat berpengaruh dalam perjalanan seorang entrepreneur muda. “Lingkungan itu berpengaruh besar. Teman yang bisa saling bantu dan jaga semangat itu penting banget,” tambahnya.

Bagi Jason, sukses bukan tentang gelar, jumlah kekayaan, atau jabatan tinggi. Ia percaya bahwa setiap orang berhak merumuskan arti sukses versi mereka sendiri. “Buat saya, sukses itu saat kita bisa berdampak. Bisa bantu orang, buka lapangan kerja, tetap jadi diri sendiri, dan selalu beruntung. Standar sukses itu seharusnya kita yang tentukan, bukan orang lain,” pungkasnya.Kisah Jason hanyalah salah satu dari banyak wajah Gen Z yang memilih jalur berbeda dalam membangun masa depan. Di era serba digital dan kompetitif, generasi ini hadir bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pencipta solusi. Dengan keberanian merintis, semangat memberi dampak, dan keyakinan terhadap nilai yang mereka perjuangkan, Gen Z menunjukkan bahwa menjadi entrepreneur bukan lagi sekadar alternatif karier, tetapi jalan hidup yang mencerminkan kemandirian dan tekad menciptakan perubahan.

Reporter: Najwatun Umma

Tolak UU TNI, Dihadang Aparat! Demonstrasi di DPRD Jawa Tengah Ricuh

Kantor DPRD Jawa Tengah (20/3) – Merespons pengesahan Revisi Undang-Undang (RUU) TNI menjadi Undang-Undang (UU) oleh DPR RI di Senayan, mahasiswa Semarang menggelar aksi demonstrasi. Awalnya, aksi berlangsung kondusif sehingga mahasiswa diperbolehkan masuk ke pelataran gedung DPRD, meskipun aparat kepolisian bersenjata tampak dikerahkan untuk menghadang massa masuk ke dalam gedung.

Selain mahasiswa, beberapa lembaga pers mahasiswa maupun pers eksternal turut meliput demonstrasi. Mahasiswa menyampaikan tuntutan melalui orasi dengan pengeras suara di atas mobil pick-up. Mereka tidak menggunakan atribut lembaga seperti almamater, bendera, atau benda provokatif. Sebagai gantinya, mereka kompak mengenakan kaos hitam sebagai simbol perlawanan kolektif masyarakat.

Evan, mahasiswa sekaligus Koordinator Lapangan (KorLap) demonstrasi untuk FEB, menegaskan, “Kita tidak memakai almamater atau membawa bendera. Itu adalah bentuk perlawanan kolektif dari masyarakat,” ujarnya saat ditanya mengenai demonstrasi yang berujung ricuh.

Massa menuntut pencabutan UU TNI karena dinilai mencederai supremasi sipil yang telah dibangun sejak reformasi. Mereka khawatir UU tersebut dapat disalahgunakan untuk membungkam masyarakat yang menolak proyek-proyek pemerintah.

Prabu Farhan, salah satu orator dalam konferensi pers, menyampaikan, “Dengan adanya Undang-Undang TNI ini, ke depannya TNI akan dilibatkan guna membungkam dan menindas rakyat yang menentang proyek-proyek strategis nasional. Karena pada akhirnya, proyek strategis nasional atau PSN ini selalu bertentangan dengan kepentingan rakyat.”

Ia mencontohkan, “Pagar laut mewakili kepentingan investor asing, imperialis, Bank Dunia, dan IMF. Namun, kepentingan itu bertentangan dengan nelayan dan rakyat Banten yang membutuhkan akses tak terbatas ke laut.”

Meskipun sempat ada mediasi antara perwakilan parlemen dan massa, hasilnya tidak memuaskan. Massa tetap menuntut masuk ke dalam gedung, tetapi tidak diizinkan.

Gesekan mulai terjadi ketika aparat menghadang massa yang mencoba merangsek masuk. Aparat melakukan intimidasi dengan membunyikan deru motor untuk membingungkan massa. Namun, massa yang dipandu orator tetap berusaha masuk, sehingga terjadi aksi saling dorong. Ketegangan memuncak ketika terdengar bunyi letusan petasan dari arah yang tidak diketahui, memprovokasi kedua belah pihak. Aparat kemudian menembakkan gas air mata, menyebabkan massa panik dan ricuh.

Saat massa berusaha menyelamatkan diri, aparat mengejar, memukul, dan menangkap beberapa demonstran, termasuk seorang sopir dan mobil pick-up yang digunakan untuk orasi. Insiden ini menyebabkan kemacetan di depan gedung. Aparat melalui pengeras suara mengimbau demonstran agar menjauhi area, lalu menguasai gedung dan memblokade gerbang masuk.

Demonstrasi berlangsung dari siang hingga malam. Rafanto, KorLap demonstrasi untuk Undip, menyatakan bahwa satu mahasiswa Undip dari FISIP ditangkap aparat. Setelah aksi mereda, demonstran merilis pernyataan pers yang menuntut pembebasan mahasiswa yang ditahan.

Reporter: Aldo, Haqi, Royhan

Penulis: Royhan

Sinergi Keuangan Syariah Bantu Wujudkan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan di Indonesia

Semarang (11/03) – OJK Provinsi Jawa Tengah bersama dengan Universitas Diponegoro dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) mengadakan Webinar Edukasi Keuangan Syariah bertajuk “Bangkitkan Ekonomi Negeri Bersama Ekonomi Keuangan Syariah” pada tanggal 11 Maret 2025, pukul 10.00-11.30 WIB. Kegiatan webinar ini dilaksanakan secara virtual melalui platform zoom. Webinar  ini diadakan sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai peran ekonomi syariah dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Ekonomi syariah pada masa kini semakin berkembang hingga diyakini sebagai salah satu pilar utama dalam sistem keuangan Indonesia dan dianggap berpotensi besar dalam menopang stabilitas ekonomi nasional. Pendapat tersebut didasarkan pada laporan OJK per Desember 2024 yang menyebutkan bahwa total aset keuangan syariah, tidak termasuk saham syariah, mencapai Rp2.883,67 triliun.

Pada pelaksanaannya, webinar ini dibagi dalam dua sesi dengan narasumber berbeda. Sesi pertama diisi oleh Bambang Hermanto, Plt. Kepala OJK Provinsi Jawa Tengah, yang memaparkan berbagai strategi reformasi dan transformasi sektor keuangan syariah. Beliau menjelaskan bahwa reformasi sektor keuangan berbasis lima pilar, termasuk peningkatan akses jasa keuangan serta penguatan mitigasi risiko, menjadi langkah penting dalam memperkuat sistem ekonomi syariah.

Selain itu, transformasi perbankan syariah terus dilakukan melalui konsolidasi, pengembangan produk, serta peningkatan daya saing dan efisiensi. Bambang Hermanto juga menekankan pentingnya optimalisasi wakaf produktif untuk membantu masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan sosial. Lebih lanjut, sinergi antara perbankan syariah dan ekosistem ekonomi syariah, termasuk sektor riil dan keuangan sosial, dianggap sebagai kunci utama dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia.

Kemudian pada sesi kedua webinar diisi oleh Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., Rektor Universitas Diponegoro, yang membahas mengenai transformasi ekonomi syariah Indonesia serta prospek dan strategi masa depan. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2023/2024, pengeluaran konsumsi dalam perekonomian syariah global tercatat tumbuh rata-rata 9% per tahun. Sementara itu, sektor keuangan Islam mengalami peningkatan signifikan, dari USD 3,37 triliun pada 2021 menjadi USD 3,96 triliun pada 2022. 

Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi syariah, terbukti dari posisinya sebagai negara dengan peluang ekonomi syariah terbesar ketiga di dunia menurut Global Islamic Economy Indicator (GIEI). Namun, tantangan seperti rendahnya literasi keuangan syariah, keterbatasan SDM ahli, dan persaingan dengan sistem keuangan konvensional masih perlu diatasi melalui inovasi dan penguatan sektor ekonomi syariah. Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan literasi keuangan syariah melalui edukasi dan kampanye kepada masyarakat, mendorong inovasi digital dalam keuangan syariah dengan pemanfaatan fintech syariah dan teknologi blockchain, serta memperkuat ekosistem keuangan syariah melalui integrasi dengan sektor UMKM dan industri halal. 

Ekonomi syariah bukan hanya terbatas pada sektor perbankan, tetapi juga mencakup berbagai aspek lain dalam kehidupan ekonomi seperti industri halal, pariwisata halal, serta instrumen keuangan sosial seperti zakat dan wakaf. Dengan adanya sinergi antara sektor riil, keuangan komersial, dan sosial diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. 

Melalui webinar ini, masyarakat dapat lebih memahami peran ekonomi syariah dalam pembangunan Indonesia yang lebih maju dan sejahtera, dengan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri untuk menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

Reporter: Aurel, Annisa, Rosi

Penulis: Najwa

Editor: Cantika

Mahasiswa Semarang Berjuang Mengembalikan Kemanusiaan

Kantor DPRD Jawa Tengah (18/02) – Sejumlah mahasiswa di Semarang menggelar demonstrasi bertajuk “SEMARANG MENGGUGAT: NEGARA SEKARAT PRABOWO-GIBRAN MENCEKIK RAKYAT” pada 18 Februari 2025 di depan kantor DPRD Jawa Tengah. Aksi ini diselenggarakan sebagai bentuk ketidakpuasan mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan, salah satunya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 mengenai efisiensi anggaran yang dianggap akan berdampak buruk untuk sektor pendidikan. Efisiensi tersebut dimaksudkan untuk merealisasikan kebijakan-kebijakan pemerintah, salah satunya program unggulan makan bergizi gratis yang akan disalurkan kepada 82 juta siswa sekolah dan ibu hamil.

Para mahasiswa membawa spanduk dan kritikan yang ditujukan kepada pemerintah. Aksi massa berjalan dengan kondusif walaupun ada sedikit keributan di kala massa akan memasuki gedung DPRD. Beberapa mahasiswa juga berorasi di hadapan petugas kepolisian yang sedang melakukan keamanan.

“Demo ini bertujuan agar Bapak Presiden, Pak Prabowo, tidak mengesahkan efisiensi anggaran ini, terutama yang berpotensi memotong anggaran pendidikan. Jika itu terjadi, alih-alih menjadi Generasi Emas 2045, kita justru akan menjadi Generasi Cemas.” ujar Amanda, seorang mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Universitas Diponegoro.

Amanda menyatakan bahwa kebijakan efisiensi di sektor pendidikan dikhawatirkan akan meningkatkan Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan memotong bantuan biaya pendidikan yang berpotensi memberatkan mahasiswa, terutama bagi mereka yang membiayai pendidikan sendiri.

“Sebagai lulusan Sejarah, saya tidak setuju apabila anggaran pendidikan dipotong. Bayangkan saja, 600.000 penerima KIP terancam tidak dapat melanjutkan pendidikan. Kemudian, penerima LPDP di luar negeri juga ikut terancam. Mengapa kita perlu berfokus pada MBG, padahal prasarana pendidikan kita masih sangat terbatas?” Ujar Arthur, Relawan medis alumni UNNES.

Arthur berharap agar pemotongan pendidikan dibatalkan dan, jika memungkinkan, justru ditambah serta diekspansi. Misalnya, pembayaran dosen direalisasikan, guru honorer diatasi agar dapat disejahterakan, dan kepintaran murid-murid diprioritaskan.

Para mahasiswa berharap aspirasi mereka didengar dan pemerintah memiliki kesadaran atas dampak kebijakan yang dibuat. Mereka juga menegaskan bahwa Indonesia tidak sedang baik-baik saja.

Penulis: Jua

Editor: Cantika

Sisi Lain Demonstrasi: Kata Mereka Soal Aksi

Rizwan (kiri) dan Rindra (kanan) siswa kelas 12 SMAN 3 Semarang

Balai Kota Semarang (26/08) – Aksi demonstrasi pada hari Senin, 26 Agustus pukul 15.00 di depan gedung Balai Kota Semarang merupakan aksi lanjutan dari aksi pertama mengenai pengesahan RUU Pilkada yang mulanya akan disahkan dalam rapat paripurna lalu. Para demonstran merasa belum maksimal dalam memberi tekanan kepada pemerintah. Akhirnya,  peserta aksi yang berasal dari berbagai universitas turun kembali ke jalan demi menuntaskan keinginan mereka : melengserkan Joko Widodo sebelum waktunya.

Lalu, bagaimana pandangan masyarakat terhadap aksi ini? Kami berhasil mewawancarai beberapa siswa SMA dan juga masyarakat sekitar yang memberikan pandangannya mengenai aksi hari itu. 

Menurut Rinda dan Rizwan, siswa kelas 12 SMAN 3 Semarang, aksi dilakukan karena ada yang belum adil dan tidak sesuai konstitusi. “Kita demo buat sesuatu yang kurang adil, ada yang kurang lah, gak sesuai dengan konstitusi kita,” ucap Rindra. 

Rizwan dan Rindra juga berpendapat bahwa aksi ini penting, asalkan sesuai tempat dan tidak anarkis. “Sebenarnya sesuai tempat aja sih, Mas. Tujuannya protes aja, jangan sampe ngerusak-ngerusak gitu,” ucap Rindra.

Aksi yang awalnya akan diselenggarakan di gedung DPRD Jateng ini sempat berganti lokasi menjadi di gedung DPRD Kota Semarang, di sebelah Balai Kota. Hal ini menyebabkan siswa-siswi SMAN 3 dan SMAN 5 yang lokasinya tepat di depan Balai Kota kesulitan untuk mobilisasi sehingga terjebak di dalam sekolah.

Rahma, Bella, dan Air, siswi SMAN 3 Semarang juga mengeluhkan sulitnya akses untuk pulang, “Menghambat perjalanan, kan, nggak bisa lewat sini. Terus yang naik bus juga susah lewatnya, “ jelas Rahma. “Kalau mau naik BRT nggak bisa harus putar balik dulu,” tambah Air.

“Orang tua juga udah nunggu di rumah, udah nelponin beberapa kali. Ditanyain kenapa nggak pulang-pulang kan jam pulangnya setengah empat. Ini udah hampir jam empat lebih belum pulang dan ternyata ada demo,” jelas Bella.

Menurut Rizwan, seharusnya perlu ada peringatan sebelum aksi datang agar mereka semua bisa pulang terlebih dahulu lewat belakang.

Hal lain yang cukup disayangkan adalah para demonstran yang terlihat membuang sampah tidak sesuai pada tempatnya. Alhasil,  jalanan tampak kotor dipenuhi dengan sampah plastik. Ketika aksi, para demonstran juga memulai kericuhan dengan merusak pagar dan merusak sekat pagar yang sedang diperbaiki. Tak hanya itu, peserta aksi juga mencopot CCTV dan menginjak-injak tameng polisi. 

 “Ketika aksi massa merusak pagar seperti ini bisa membuat para politikus bakal memiliki ide kotor yang lain untuk kepentingan mereka sendiri,” menurut Dudun, salah satu warga sipil yang ikut menyaksikan aksi.

Dudun beropini bahwa aksi demo yang dilakukan di depan sekolah berbahaya karena mengundang anak sekolahan yang ingin ikut-ikutan dalam aksi, “Demo seperti ini bisa mengundang anak sekolah untuk ikut-ikutan. Jadi, sepertinya kurang layak. Harusnya apabila ingin menyuarakan seperti ini ikut dalam rapat DPR saja bersama para politikus di dalamnya,” ujarnya. (EC)

Aksi di Kota Semarang Kembali Ricuh, Tindakan Represif Aparat Salah Sasaran

Dokumentasi massa Aksi

Balai Kota Semarang (26/8) – Gerakan Rakyat Jawa Tengah Menggugat (GERAM) kembali melakukan aksi di depan Gedung Balai Kota Semarang pada Senin, 26 Agustus 2024. Aksi yang bertajuk “Adili dan Turunkan Jokowi” merupakan aksi susulan dari aksi tolak RUU Pilkada pada Kamis lalu. Poin-poin tuntutan yang diminta oleh para massa aksi sebagai berikut:

  1. Meminta para pejabat untuk mematuhi hukum demi mengembalikan marwah demokrasi sebagai mana mestinya.
  2. Mewajibkan Jokowi dan koloninya untuk menegakkan konstitusi serta tidak membangkangi konstitusi.
  3. Melihat beberapa lembaga dicawe-cawe oleh Jokowi maka kuatkan kembali fungsi institusi seperti KPK sebagaimana mestinya.
  4. Apabila tidak dilaksanakan kami meminta adili dan turunkan Jokowi sebelum waktunya.

Aksi yang rencana awalnya dilakukan di Kantor DPRD Jawa Tengah bergeser ke Gedung Balai Kota Semarang yang bersebelahan dengan Kantor DPRD Kota Semarang di Jalan Pemuda. Bergesernya titik aksi disebabkan banyaknya personil yang sudah disiapkan aparat dan penutupan jalur-jalur evakuasi. Sesampainya di Balai Kota, para demonstran menyampaikan poin-poin tuntutan dan beberapa orasi. Pada pukul 16.00 massa aksi mencoba menerobos masuk ke Balai Kota Semarang namun terus dihadang oleh aparat. 

Anak-anak TPQ yang terkena efek gas air mata (Farhan/HW)

Menjelang matahari terbenam situasi semakin panas. Bentrok antara massa aksi dan aparat tak dapat terhindarkan. Tak sedikit korban harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Pukul 18.00 aparat mengancam akan membubarkan massa dengan alasan batasan jam melakukan aksi. Sekitar pukul 18.30, setelah massa aksi melakukan sholat berjamaah, aparat mulai melakukan tindakan represif untuk membubarkan massa berupa penembakan gas air mata dan pemukulan menggunakan tongkat. Penembakan gas air mata yang dilakukan oleh aparat sampai masuk ke perkampungan warga. Efek dari gas air mata tersebut sampai mengenai anak-anak TPQ yang sedang megaji di Masjid At-Taqwa Sekayu.

Tolak RUU Pilkada: Rakyat dan Mahasiswa Semarang Serukan Perlawanan di Depan Kantor Gubernur Jawa Tengah 

Aksi dilkukan oleh masyarakat dan mahasiswa Semarang

Gubernuran (22/08) – Aksi Peringatan Darurat Tolak RUU Pilkada dilakukan oleh masyarakat sipil Semarang dan sekitarnya di depan Gedung DPRD Jawa Tengah. Massa aksi terdiri dari mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi, masyarakat Aliansi Semarang Menggugat, dan lembaga lainnya. Aksi diawali dengan gerakan simbolis menabur bunga di depan peti mati yang menandakan bahwasanya demokrasi di Indonesia sudah mati. 

Para mahasiswa melanjutkan aksi dengan ramai-ramai berjalan dari arah gerbang Undip Pascasarjana menuju depan gerbang Kantor Gubernur Jawa Tengah. Teriakan “Lawan!” terus berkumandang mengiringi perjalanan para massa aksi. Setelah beberapa orasi dari perwakilan lembaga, massa aksi berpindah ke arah utara Gedung DPRD Jawa Tengah. Massa aksi yang sudah berkumpul di sebelah utara Gedung DPRD Jawa Tengah berusaha menerobos masuk ke dalam gedung. Merespon hal tersebut, aparat kepolisian melakukan tindakan represif dengan menembakan gas air mata ke massa aksi.

Aksi berakhir ricuh, tindakan represif yang dilakukan aparat membuat massa aksi menyebar ke segala arah. Beberapa massa mengamankan diri ke Undip Pascasarjana, beberapa lain mengamankan diri mereka ke SMA 1 dan SMK 8 yang kebetulan dekat dari lokasi. Sampai tulisan ini ditulis 18 mahasiswa harus dilarikan ke rumah sakit akibat tindakan represif aparat. Sejumlah 15 orang di Rumah Sakit Roemani, 1 orang di Rumah Sakit Tlogorejo, 1 orang di Rumah Sakit Pandanaran, dan 1 orang di Rumah Sakit Kariadi.

Aksi yang dilakukan bertujuan untuk menekan atau mendesak DPR yang ingin menganulir putusan MK. Farid Darmawan selaku ketua BEM Undip 2024 menegaskan seharusnya keputusan MK adalah keputusan yang final and binding.

“Kita aksi di sini untuk menekan atau mendesak bahwasanya per hari ini DPR ingin menganulir putusan MK yang kita ketahui bersama seharusnya MK itu keputusannya bersifat final dan and binding, maksudnya mengikat, tidak ada yang lebih tinggi dari keputusan tersebut,” ujar Farid.

Farid juga menjelaskan dengan ditundanya rapat DPR sampai batas waktu yang tidak ditentukan setidaknya dapat menunda sekaligus mengeskalasikan gerakan selanjutnya.

“Untuk aksi lanjutan, tadi saya mendengar bahwasanya DPR sempat menunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Pertama, alhamdulillah, kita bisa menunda setidak-tidaknya sambil kita mengeskalasikan gerakan ke depan,” ujar Farid. (QZ)

Seminar & Exhibition, Peresmian Bulletin dan Wartafest: Mengupas Peluang dan Tantangan Literasi Digital di Era Transformasi

UDINUS (5/7) – UKM Pers Kampus Wartadinus Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) menyelenggarakan Seminar & Exhibition, Peresmian Bulletin dan Wartafest di Auditorium Gedung H lantai 7. Acara tersebut mengangkat tema “Peluang & Tantangan Literasi Digital di Era Transformasi”. Mengundang dua pembicara yang kompeten yaitu Sekar Hasna N,S.I.Kom, selaku mantan ketua umum Wartadinus dan Swita Amalia Hapsari, M.I.Kom selaku jurnalis dosen ilmu komunikasi UDINUS. Tema spesifik yang diangkat dalam acara tersebut menuju kepada refleksi atas alasan mengapa di era sekarang lebih banyak menonton ketimbang membaca. 

Karlina Supelli yang dikenal sebagai filsuf astronom perempuan menyatakan pernyataan yang menarik yaitu “Baca buku itu tidak bisa digantikan dengan TikTok, dengan nonton film, yang dampaknya pemikiran bisa menjadi tumpul, tidak cukup kritis, tidak cukup tajam.”

Swita Amalia Hapsari pun juga menyatakan “kalian tambahkan aktivitas membaca agar bisa otaknya berdialog akan jauh lebih membuat kalian akan bisa punya pengetahuan”. Lebih jauh Swita menyatakan bahwa basis dari media dan jurnalistik adalah memperkaya materi dengan banyak sumber media. 

Swita memaparkan berdasarkan hasil riset dari Data Portal pada bulan Januari 2024 tentang ‘DAILY TIME SPENT WITH MEDIA’. Data tersebut memaparkan bahwa rata-rata audiens di Indonesia menghabiskan waktu paling lama untuk menggunakan Internet yaitu 7 jam 38 menit per hari dibandingkan dengan aktivitas lain seperti menonton video konten secara streaming, scrolling hp untuk sosmed, dan membaca berita online atau media print. 

Tantangan yang terkait dengan dunia Jurnalistik adalah bagaimana menyajikan tulisan yang menarik di tengah pergeseran tren media. Beberapa cara yang dapat diterapkan antara lain dengan memperbanyak perbendaharaan kata, perbendaharaan ide, dan konsep dari membaca. Beberapa contoh media yang dapat dijadikan inspirasi antara lain Folkative dan USS Feeds. Selain itu jurnalis harus mempunyai kemampuan untuk memetakan mana media yang bisa dijadikan sumber informasi dan mana yang tidak. Termasuk mengacu pada aturan-aturan, kaidah-kaidah yang ada yang telah ditetapkan oleh Dewan Pers. Perlu dilakukan lima proses yang benar, yaitu: akses, analisa, evaluasi, produksi, dan aksi.   

Sekar Hasna N,S.I.Kom memberikan Tips & Trick bagi kalian yang mau masuk ke dunia jurnalistik. “Kenalin dirimu sendiri terlebih dahulu kamu tuh sukanya di bidang apa, coba dideketin apa yang kamu suka di bagian itu, cari komunitas yang bisa bangun passion kamu, dan yakinkan kepada orang tuamu.” 

Penulis: Haykal 

Reporter: Haykal

Menjawab Keresahan Warga Semarang, ID Next Leader Jawa Tengah Adakan Forum Diskusi NGOPI Vol. 2 

Dokumentasi Panitia

Semarang (11/5) – ID Next Leader (IDNL) Jawa Tengah berkolaborasi dengan Kawula Muda Semarang mengadakan sebuah forum diskusi yang bertajuk “NGOPI: Ngobrol Perkara Isu #2”. Forum diskusi dilaksanakan mulai pukul 15:00 hingga selesai yang bertempat di rumah makan khas Padang Uda Uni Vol. 2, Tembalang. Dengan menghadirkan H. Arnaz Agung Andrarasmara. SE., MM, yang juga menjabat sebagai Ketua Kadin Kota Semarang, Ketua Koni Kota Semarang, Ketua Baznas Kota Semarang, dan Ketua BMI Kota Semarang, forum diskusi ini sukses mengupas lebih lanjut keresahan-keresahan yang disampaikan oleh peserta mewakili apa yang dirasakan masyarakat secara umum. 

Inisiasi pelaksanaan forum diskusi ini didorong oleh kondisi Kota Semarang sendiri yang kian rentan terhadap ancaman-ancaman berupa ancaman lingkungan hidup, perekonomian, kondisi sosial, dan politik. Terlepas dari statusnya sebagai ibukota provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang masih menyimpan berbagai problematika yang belum terselesaikan. Hal tersebutlah yang disampaikan baik oleh narasumber maupun para peserta. 

Beberapa keresahan yang dikemukakan oleh peserta dalam sesi tanya jawab antara lain adalah kurangnya pengayoman terhadap UMKM, permasalahan housing terkait harga rumah dan tata wilayah, program-program desa yang ditunda, program keluarga harapan (PKH) yang kurang tepat sasaran, dan beragam keresahan lainnya. 

Menyikapi berbagai permasalahan tersebut, Arnaz Andrarasmara menekankan kepada tiga variabel, diurutkan dari yang paling penting, yaitu people (orang), environment (lingkungan), dan technology (teknologi). Menurut Arnaz, Indonesia masih terbilang egosentris, dalam artian dinas-dinas yang seharusnya menangani permasalahan publik sesuai bidangnya masih terfokus pada penggunaan anggaran yang telah tercatat di RAB saja, tanpa memperhatikan value yang dihasilkan. Misalnya yang terjadi pada UMKM. Di Indonesia khususnya Kota Semarang, barang-barang produk UMKM mayoritas kurang memiliki nilai jual. Sedangkan jika dibandingkan dengan Malaysia, yang mana UMKM nya lebih berkembang, produk UMKM memiliki nilai jual yang sudah terlampau tinggi karena beberapa faktor, salah satunya packaging. Melalui hal ini Arnaz menekankan bahwa yang paling utama adalah people, yaitu pembinaan terhadap SDM yang ada, sebelum berlanjut ke pengembangan lingkungan dan teknologi. Hal ini juga berlaku untuk permasalahan-permasalahan yang lain. 

Sebagai akhir kata, Arnaz menyampaikan bahwa forum diskusi ini ditujukan agar kita dapat belajar menyayangi kota dimana kita tinggal, yaitu Kota Semarang dan menyayangi negara kita. “Kita harus kritis, anak muda harus kritis. Kalian percuma menjadi anak muda tapi tidak melakukan sesuatu. Buat acara seperti ini agar para pemimpin-pemimpin kita ini mendengar apa yang sebenarnya yang diperlukan.” kata Arnaz. Arnaz juga menambahkan bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang mau mendengarkan dan mau diajak berdebat, maka dari itu Arnaz menyarankan para mahasiswa untuk berorganisasi agar bisa belajar menjadi seorang pemimpin yang sejati. 

Reporter: Sukma, Rayhan

Penulis: Sukma

Tambakrejo: Satu dari Sekian Benteng Terakhir Pesisir Utara Semarang

Satu dari sekian rumah tak berhuni yang hancur akibat banjir rob di Tambakrejo. (Musa/Edents)

(Semarang 4/6) – Tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Pers Mahasiswa Semarang yang berkumpul dalam Forum Komunikasi Persma Semarang melakukan liputan bersama di beberapa titik pesisir utara Semarang-Demak, pada pukul 09.00 WIB, Minggu (4/6/2023). Kurang lebih 10 LPM dari berbagai universitas dan fakultas di Kota Semarang dan Salatiga membersamai liputan tersebut. LPM Edents bersama LPM DinamikA dan LPM Misi mendapat daerah Tambakrejo sebagai titik liputan bersama.

Edentser berangkat bersama selepas briefing di sekretariat LPM Suprema Fakultas Hukum Universitas Sultan Agung (Unissula) sekitar pukul 9 pagi. Sesampai di Tambakrejo, Edentser disambut bau asin khas daerah pesisir pada umumnya. Bertemu tokoh masyarakat menjadi tujuan pertama. Terdapat 2 RT paling ujung wilayah Tambakrejo, yakni RT 5 dan RT 6.

Laut Sumber Penghidupan

Laut menjadi sumber penghasilan utama bagi masyarakat Kampung Nelayan Tambakrejo. Setiap harinya, para warga harus pergi ke laut untuk bertahan hidup. Mereka perlu berlomba-lomba menangkap ikan, sementara ikan di laut kian hari kian habis. Penghasilan yang diperoleh pun tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Penerimaan sekitar 150 ribu per hari tak cukup untuk kebutuhan ekonomi yang tinggi.

Dalam menghadapi keterbatasan penghasilan, masyarakat Kampung Nelayan Tambakrejo mengakali dengan berbagai cara, salah tiganya ialah wisata laut, pemancingan tengah laut, dan budidaya kerang hijau. Meski demikian, tetap ada warga yang beralih profesi. Contohnya ialah menjadi dosen, guru, bahkan membuka warung sendiri.

Prayitno, Ketua RT 5 RW 16 Tambakrejo saat kami wawancarai. (Hatfina/Edents)

Prayitno, Ketua RT 5 RW 16 Tambakrejo, mengungkapkan bahwa mayoritas warganya sekarang tidak lagi melaut akibat banjir rob. “Warga Tambakrejo mayoritas profesinya nelayan, sekarang sudah transisi. Tambak juga habis akibat abrasi,” ujarnya.

Fadillah, istri Ketua RT 6 RW 16 Tambakrejo, menjelaskan bahwa ia sudah bekerja selama 10 tahun menjadi petani kerang hijau. “Saya sudah 10 tahun kerja seperti ini. Setiap hari, rutin saya lakukan. Setelah kerangnya dipisah, saya jual ke pengepul di Tambaklorok”, ungkapnya.

Fadillah menambahkan, beberapa masyarakat mengembangkan budidaya kerang hijau di sepanjang wilayah pesisir RT 6 Tambakrejo. Luas tambak untuk budidaya itu mencapai lebih dari 100 hektare.

“Pada saat musim panen, produksi kerang minimal 5 ton per hari dengan harga jual Rp 5.000 per kilogram. Usaha sampingan ini, jika terus digeluti, akan mampu meningkatkan pendapatan warga di sini,” tuturnya.

Dani (45) salah satu warga RT 6 RW 16 Tambakrejo merupakan satu dari sekian warga yang masih mempertahankan profesinya sebagai nelayan. (Yasmien/Edents)

Dani (45), warga RT 6 RW 16 Tambakrejo, merupakan satu dari sekian warga yang masih mempertahankan profesinya sebagai nelayan. Edentser bertemu Dani yang sedang membersihkan alat tangkap udang di atas perahunya, selepas beliau pulang dari laut.

Laut Juga jadi Ancaman

Selain menjadi sumber penghasilan utama, laut juga menjadi ancaman utama bagi warga Tambakrejo. Banjir dan rob seringkali membuat warga khawatir terhadap tempat tinggalnya. Tidak hanya itu, tumpukan sampah yang dibawa air laut pun membuat warga kesulitan. “Waktu pasang itu sampah pada datang, tapi pas surut sampahnya ketinggalan. Kita juga sudah gak tahu gimana cara bersihinnya,” ujar bu Fadilah, pengusaha budidaya kerang hijau.

Selain menjadi sarang penyakit, tumpukan sampah juga menghambat pekerjaan para nelayan. Mesin kapal seringkali mati karena sampah. “Biasanya baru jalan beberapa meter sudah mati beberapa kali.” Keluh Bu Fadilah.

Fadillah istri Ketua RT 6 RW 16 Tambakrejo beserta keluarganya saat membersihkan kerang hijau yang baru diambil oleh penyelam dari tambak. (Qosim/Edents)

Beruntung, rob dan sampah tidak terlalu berpengaruh terhadap penghasilan pengusaha budidaya kerang hijau. Panen kerang hijau bisa mencapai 1 kwintal, bahkan saat panen raya bisa mencapai 4 kwintal. Kerang hijau setelah dipanen dan dipotong-potong akan dijual ke pengepul. Oleh pengepul, kerang dibeli dan dibawa ke pasar. Biasanya 1 kwintal kerang hijau bisa mencapai 500 ribu. Namun, nominal itu belum mencakup biaya pegawai, operasional, dan lain-lain. Sebagai pengusaha budidaya kerang, Bu Fadilah tetap mensyukuri apapun hasil yang ia dapat.

Tanggul Laut Proyek Pemkot

Banjir rob atau pasangnya air laut menuju ke daratan pesisir pantai sangatlah umum terjadi di Desa Tambakrejo. Sama seperti kota-kota pesisir lainnya, bencana ini ditengarai oleh   waktu ke waktu. 

Tentu, pemerintah tidak tinggal diam menyaksikan ancaman krisis iklim yang kian parah melanda pesisir pantai Utara Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang. Salah satu inisiasi pemerintah Kota adalah dibangunnya infrastruktur Jalan Tol Semarang-Demak sepanjang 26,95 km. Jalan tol ini tak hanya ditujukan untuk mobilitas masyarakat, tetapi juga sebagai tanggul laut. Proyek infrastruktur ini menjadi jawaban pemerintah atas perkiraan kenaikan permukaan laut yang akan terus meningkat di masa yang akan datang.

Melansir dari TribunBanyumas.com, pemerintah Kota Semarang memulai pembangunan tanggul laut pada akhir tahun 2022. Tanggul laut ini akan dijadikan solusi untuk banjir rob yang terjadi. Panjang tanggul laut yang akan dibangun mencapai lebih dari 1,2 KM.

Dari kanan Pak Marzuki dan Pak Safi adalah kakak-beradik yang terdampak relokasi. Mereka tinggal di Tambakrejo sejak tahun 2000. (Hatfina/Edents)

Dalam menanggulangi banjir di wilayah Tambakrejo, beberapa proyek dilakukan pemkot Kota Semarang. Sebagai dampaknya, proyek-proyek itu membuat beberapa warga terkena dampak relokasi. Pak Marzuki dan Pak Safi adalah kakak-beradik yang terdampak relokasi. Mereka tinggal di Tambakrejo sejak tahun 2000. Pada tahun 2019, mereka harus terkena dampak relokasi. Tahun 2021, mereka diberikan hunian sementara oleh pemerintah. Marzuki menyebutkan bahwa secara kewarganegaraan, mereka sudah resmi memiliki tempat tinggal. Namun, untuk surat legalitas rumah masih belum jelas. Mereka berharap agar urusan surat rumah ini cepat selesai. 

Artikel ini merupakan hasil liputan bersama LPM se-Semarang Raya dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup