Kemeriahan Acara Penutupan ODM Undip 2021

Oleh: Dwiki dan Finecia

(Undip 22/8) – Dalam rangka mengenalkan lingkungan kampus kepada mahasiswa baru, Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan masa Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2021 yang dikemas dalam bentuk Orientasi Diponegoro Muda (ODM). ODM Undip 2021 kali ini mengambil tema “Socio-Technology” yang dilaksanakan secara daring selama sepuluh hari yakni 13-22 Agustus 2021.

”Selamat datang Diponegoro Muda tahun 2021, selamat datang di Kampus Perjuangan. Orientasi Diponegoro Muda merupakan gerbang awal bagi mahasiswa untuk memahami fungsi dan perannya di perguruan tinggi. Dengan harapan mahasiswa dapat menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai sejak dini, seperti humanity, morality, dan sustainability,” ujar Ichwan Nugraha selaku Ketua ODM Undip 2021 ketika memberikan sambutan pada upacara penutupan ODM Undip.

Selanjutnya, acara ini dilanjutkan dengan sambutan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Undip 2021, M. Chory Firdaus. Ia mengajak dan mengingatkan kepada mahasiswa baru Undip 2021 akan pentingnya membangun pola pikir society 5.0.

“Teman-teman Diponegoro Muda 2021, berbanggalah kalian menjadi bagian dan pewaris Diponegoro Muda yang bermoral, berlandaskan kemanusiaan, berpikir secara luas, serta mampu berperan aktif mengelola dampak perkembangan science dan teknologi dalam menyongsong era society 5.0. Society 5.0 atau sosioteknologi merupakan bidang kajian baru yang melihat pengaruh evolusi teknologi dalam kehidupan sosial. Untuk itu, mulailah bangun pola pikir society 5.0 serta tanamkanlah nilai-nilai ke-diponegoro-an pada diri kalian dan jujur, berani, adil, dan peduli sehingga nantinya diharapkan teman-teman dapat meningkatkan derajat kehidupan di mana pun kalian berada,”  ujar Chory dalam keterangannya.

Wakil Rektor Universitas Diponegoro, Budi Setiyono dalam sambutannya menyambut kehadiran mahasiswa baru di Undip. Dalam kesempatan yang sama, beliau berharap agar mahasiswa baru dapat mencari pengalaman sebanyak-banyaknya selama menimba ilmu di Universitas Diponegoro.

“Kalian adalah generasi yang terpilih di antara ribuan pendaftar yang berminat kuliah di Universitas Diponegoro. Oleh karena itu, saya berharap kalian dapat memaksimalkan keberhasilan kalian ini dengan melanjutkan perjuangan, dengan belajar bersungguh-sungguh, serius, dan memiliki motivasi yang kuat untuk mendarmabaktikan ilmu yang didapat kelak pada saat kalian terjun di tengah masyarakat. Selain itu, biasakanlah diri kalian untuk mengetahui segala seluk beluk perkuliahan dan bebagai macam kegiatan atau organisasi yang dapat kalian ikuti selama menjadi mahasiswa di Universitas Diponegoro. Tentunya, kelak hal tersebut dapat menunjang karir kalian di masa yang akan datang,” jelasnya.

Sandiaga Salahuddin Uno, selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif turut hadir dan memberi sambutan pada acara ini. Kemudian acara dilanjutkan dengan pernyataan opini-opini dari seluruh Ketua BEM dari masing-masing fakultas yang dimulai oleh Ketua BEM FSM dan diakhiri oleh Ketua BEM FIB. Tidak hanya Ketua BEM dari masing- masing fakultas, Ketua BEM Undip ikut memberi opini dan motivasi kepada diponegoro muda untuk memandang pandemi sebagai momentum perubahan dan mendorong generasi muda mengambil bagian dari perubahan. Ia juga mengatakan bahwa di masa pandemi ini, penggunaan teknologi menjadi kunci dalam bertahan dan melanjutkan karya tanpa batas.

Penampilan drama musikal di pertengahan acara dari beberapa mahasiswa menjadi hiburan pada acara ini. Drama, lantunan musik, serta tarian yang ditampilkan membuat penonton ikut merasakan apa yang sedang dipertontonkan. Di tengah-tengah penampilan, terdapat video yang memperlihatkan mozaik bergerak yang membentuk suatu kejadian. Kejadian tersebut menceritakan tentang pentingnya kemampuan untuk menyadari, mempertimbangkan, dan mengembangkan tata etika kelola digital dalam interaksi di dunia digital. Selain drama musikal dan mozaik bergerak, acara ini juga dimeriahkan oleh Band Sakutala, PSM Undip, dan Arash Buana. Rangkaian Acara ODM Undip 2021 akhirnya ditutup oleh penampilan dari Jemimah Cita yang merupakan top 5 di ajang pencarian bakat Indonesian Idol 2021 sekaligus mahasiswi Undip Fakultas Hukum tahun 2017.

Pendikar Berakhir, Dipo Muda Resmi menjadi Mahasiswa Baru

Oleh: Luvita dan Deva

Rangkaian acara pendidikan karakter (Pendikar) baik di tingkat fakultas maupun universitas tahun 2021 berakhir pada Sabtu, 21 Agustus. Di tingkat fakultas, sama seperti pendikar hari-hari sebelumnya, kegiatan diselenggarakan oleh masing-masing himpunan program studi pada pukul 08.00 WIB melalui platfrom Zoom Meeting. Pendikar dibuka oleh masing-masing moderator yang kemudian dilanjut dengan pemaparan materi dan diselingi kegiatan ice breaking.

Materi pendikar hari terakhir di tingkat fakultas disampaikan oleh masing-masing dosen dari tiap program studi dengan materi AKKU (Ambisi, Kemampuan, Kondisi, dan Usaha) serta SMART (Specific, Measurable, Action Oriented, Realistic, and Time Base). AKKU dan SMART merupakan lanjutan dari pembahasan materi Declaration of Excellence (DoE) yang sudah diterangkan pada pendikar hari sebelumnya. Materi AKKU dan SMART disampaikan oleh Andrian Budi Prasetyo pada program studi Akuntansi, An’im Kafabih pada program studi Ekonomi Islam, Imroatul Khasanah pada program studi Manajemen, dan Mayanggita Kirana pada program studi Ilmu Ekonomi.

Sebagai penutup dari pendikar tingkat fakultas, kepala masing-masing departemen menyampaikan ucapan selamat dan pesan-pesan kepada mahasiswa baru angkatan 2021. Para kepala departemen berharap bahwa keadaan dan kondisi saat ini tidak menghalangi semangat mahasiswa angkatan 2021 untuk belajar ilmu baru dan mengembangkan kiprah prestasinya bagi Undip. “Selamat untuk kalian semua telah memasuki dunia belajar dengan cara belajarnya orang dewasa dan saya sangat merindukan teman-teman semua melakukan interaksi secara akademiah di kampus kita tercinta,” ucap Akhmad Syakir Kurnia, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi dan Ekonomi Islam.

Setelah penutupan pendikar tingkat fakultas, para dipo muda pun langsung melanjutkan kegiatan dengan memasuki Zoom meeting yang telah disediakan panitia ODM Undip 2021. Pada meeting tersebut dibahas materi terakhir dari Pendikar 2021 dan penutupan rangkaian Pendikar tingkat universitas. Materi terakhir dalam rangkaian Pendikar membahas tentang mental gymnastic dengan narasumber Yohanis F. La Kahija, dosen dari fakultas Psikologi Universitas Diponegoro. Hans, sebutan akrabnya, menginginkan bahwa materi mental gymnastic dapat menjadikan dipo muda lebih rileks dan siap menghadapi masa perkuliahan.

Ketika pemaparan materi mental gymnastic, Hans sempat memberikan sebuah wejangan yang dapat dipegang oleh para dipo muda untuk menjalani kehidupan perkuliahan di Undip. “Awasi pikiranmu karena pikiran itu bakal jadi kata-kata. Awasi kata-katamu karena kata-kata itu bakal jadi tindakan. Awasi tindakanmu karena tindakan itu bakal jadi kebiasaan. Awasi kebiasaanmu karena kebiasaan itu bakal jadi watak. Awasi watakmu karena watak bisa menjadi nasib,” papar Hans.

Setelah pemaparan mental gymnastic selesai, kegiatan dijeda sementara waktu sebagai pembatas antara materi terakhir Pendikar dan penutupan Pendikar universitas tahun 2021. Saat penutupan Pendikar universitas dimulai, kegiatan diawali dengan pembukaan oleh MC, pembacaan kitab suci Al-Qur’an, dan pemutaran lagu Indonesia Raya serta Mars Universitas Diponegoro. Kemudian kegiatan disambung dengan kesan-pesan perwakilan peserta dan dosen pendidikan karakter. Terakhir, disampaikan juga kalimat penutup rektor Universitas Diponegoro yang diwakilkan oleh Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Kemahasiswaan, Budi Setiyono.

Budi menyampaikan kalimat-kalimat terima kasihnya kepada semua pihak yang telah terlibat untuk mensukseskan rangkaian pendidikan karakter tahun 2021. Beliau juga menyampaikan rasa bangga dan berpesan kepada seluruh mahasiswa baru Universitas Diponegoro tahun 2021 untuk terus memiliki rasa kepedulian yang tinggi. “Kalian adalah Diponegoro-Diponegoro Muda yang harus memiliki kepedulian. Tidak hanya kepada masa depan kalian tapi juga masa depan bangsa dan negara,” ucap Budi.

Mengulik Dunia Public Speaking Melalui Webinar

Oleh: Rahayu dan Shafina

(21/08) – “Kupas Tuntas : Tips dan Trik menjadi MC dan Moderator” menjadi tema yang diangkat pada Webinar Public Speaking Class Volume II. Webinar diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Demak Universitas Diponegoro (Imade Undip). Pelaksanaan webinar sendiri tepat waktu, sesuai dengan jadwal yang telah diarahkan oleh panitia yaitu pukul 09.00 WIB. Sambutan dari Agung Luthfi selaku ketua Imade Undip menjadi pembuka bagi acara ini. Dengan dipandu oleh moderator Wafa Muhammad Rikza, webinar mengundang pembicara berpengalaman yaitu Abrori Shorbanas, selaku jurnalis dan presenter berita TVRI Jawa Tengah.

Dalam sesi materi, Abrori Shorbanas menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menjadi seorang MC atau moderator. Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menjadi MC atau moderator yaitu:

  1. Intonasi
  2. Artikulasi
  3. Aksentuasi
  4. Pemenggalan kalimat
  5. Kecepatan
  6. Volume suara

Selain enam hal yang tersebut, dalam menjadi MC dan moderator terdapat beberapa hal yang menjadi basic public speaking, yaitu :

  • Smiling Face

Smiling face dapat mempengaruhi suasana acara yang sedang dilaksanakan. Dengan wajah tersenyum MC dan moderator dapat menumbuhkan aura positif dan memberikan kenyamanan bagi audience, karena sesungguhnya tugas seorang MC dan moderator adalah untuk menjadi magnet dalam acara yang diselenggarakan.

  • Body Language

Body Language merupakan 50% dari basic public speaking, selain suara, lisan, dan pakaian.

  • Eye-Contact

Dengan Eye-contact maka MC dan moderator dapat menarik audience karena tugas MC dan moderator adalah menjadi magnet pada acara yang dilaksanakan.

“Berusahalah untuk berkolaborasi dengan masalah. Jangan pernah berfikir untuk memusnahkannya,” jawab Abrori Shorbanas ketika ditanya mengenai cara mengendalikan rasa nervous ketika menjadi MC dan moderator. Lebih lanjut, beliau mengutip kata-kata dari Najwa Shihab bahwa, ketika seorang MC atau moderator sudah kehilangan rasa takutnya, maka mereka perlu untuk berpindah profesi. 

Tidak hanya itu, sebagai seseorang yang berkecimpung langsung dalam dunia public speaking, Abrori Shorbanas memberikan beberapa hal yang penting dimiliki oleh MC dan moderator. Perlu adanya pengomunikasian dalam menjalankan acara agar jalannya tidak terjadi miss-communication, apalagi jika seorang MC berpasangan. Persiapan yang matang sangat menjadi penentu keberhasilan acara yang dibawakan, sebagai MC dan moderator wajib mengetahui jumlah peserta, tema acara, durasi acara, dan dresscode acara.

Webinar ditutup dengan quotes oleh Abrori Shorbanas “Jika bisa public speaking, kamu bisa merubah hidup anda dan juga orang lain”. Melalui Public Speaking Class Vol. II, Imade Undip berharap bahwa seluruh peserta webinar dapat memahami materi sehingga dapat melatih kemampuan public speaking peserta. Public speaking sangat penting dalam kegiatan setiap orang, tidak hanya untuk menjadi MC dan moderator, namun juga dalam dunia kuliah.

Tax Seminar and Training (TST) Webinar: Retaining Economics Stability Through Taxation Policy in New Normal Era

Oleh: Muhammad Musa Aminullah

(UI 21/8) –Tax Seminar and Training (TST) merupakan acara perpajakan tahunan terbesar dan tertua yang diadakan oleh SPA FEB Universitas Indonesia. Satu dari rangkaian acaranya adalah seminar nasional yang mengangkat tema “Menjaga Stabilitas Perekonomian Melalui Kebijakan Perpajakan di Era New Normal”. Webinar tersebut dilaksanakan melalui platform Zoom Meetings dan Youtube.

Veronica selaku ketua panitia menyampaikan sambutan yang pertama. Dia menyampaikan bahwa acara ini telah berusia 22 tahun mengingat sudah sejak tahun 2000 acara ini terlaksana. Hal inilah yang membuat event ini menjadi event tahunan terbesar dan tertua. Muhammad Ilham selaku chief eksekutif melanjutkan pada sambutan setelahnya bahwa acara ini merupakan wadah belajar untuk mengenal kebijakan yang sedang dijalani pemerintah serta dampak pada stabilitas ekonomi di era new normal. Sambutan terakhir disampaikan oleh perwakilan departemen akuntansi FEB UI yakni Hermawan, beliau mengapresiasi seluruh komponen yang telah berusaha menyelenggarakan acara ini serta kepada seluruh hadirin yang hadir.

Acara yang dihadiri lebih dari 500 orang di zoom meetings tersebut dibuka oleh Yulianus Prastowo Staff Khusus Mentri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis. Beliau menyampaikan bahwa pajak menjadi pendukung utama dalam perekonomian, pembiayaan dalam utang, dan optimalnya penerimaan pajak, serta relaksasi pertumbuhan ekonomi. APBN didayagunakan dan didedikasikan sebagai alat perlindungan sosial, insentif terutama untuk pelaku usaha. Beliau mengutip pidato presiden bahwa pemerintah masih fokus dalam reformasi struktural dan fiskal, UU No. 11 Tahun 2020 ciptaker sedang disiapkan seluruh perangkat infrastruktur dalam rangka memudahkan perijinan, iklim investasi yang baik baik dari investor asing dan lokal. Produktif dan inovatif menjadi jalan keluar dari jebakan negara dengan pendapatan menengah. Satu hal yang sedang dikerjakan adalah reformasi sistem informasi perpajakan yang terintegritas, kemudian revisi UU KUP menciptakan pondasi yang kuat bagi sistem perpajakan. Semua itu untuk meningkatkan kesejahteraan dan pengangguran, membangun ekosistem yang lebih baik, dan penguatan hubungan internasional. Harapan pembangunan pondasi sebagai landasan yang holistic dan integritas.

Acara selanjutnya langsung dipandu oleh moderator yaitu Christine Tjen selaku Akademisi FEB UI. Beliau tidak lupa menekankan lagi bahwa acara ini merupakan tempat menambah wawasan terkait peran UU Ciptaker terutama dalam perpajakan dan menjadi sarana edukasi perpajakan fiskal terutama dalam hal pajak.

Masuk pada pembicara pertama yakni Inge Diana Rahmawanti Kepala Subdirektorat Penyuluhan Perpajakan Direktorat Jendral Pajak. Beliau memulai dengan memaparkan kondisi perekonomian saat ini. Pertumbuhan ekonomi mengalami perubahan, pemulihan ekonomi ditopang stimulus serta optimisme vaksin, penerimaan naik 2%. Daerah penyumbang penerimaan adalah daerah yang terdampak tinggi dalam pandemi, selanjutnya beliau masuk pada pembahasan kebijakan perpajakan, Perppu No. 1 Tahun 2020, UU No. 2 Tahun 2020 terkait tarif PPH turun 25% dan pajak penyelenggara perdagangan melalui sistem elektronik. Selain itu, pajak menurut beliau dalam situasi pandemi saat ini sangatlah penting sebagai penopang kebutuhan masyarakat seperti kebijakan insentif kepada masyarakat terdampak. Dilanjut dengan penjelasan latar belakang UU Ciptaker, yaitu dengan tujuan memperkuat perekonomian, meningkatkan investasi. Di dalam UU tersebut meliputi kebijakan-kebijakan seperti meningkatkan pendanaan investasi, kepatuhan wajib pajak, meningkatkan kepastian hukum.

Danny Septriadi, Center Partner of DDTC sebagai narasumber kedua memaparkan materi tentang pajak solidaritas. Beliau menjelaskan beberapa negara latin telah melaksanakan hal ini, begitu juga Indonesia pada tahun 1995 hingga 1996. Poin utama disebutkan adalah bagaimana merelaksasi indusri terdampak. Heru Supriyanto selaku Business Tax Leader A’doilitte Indonesia, beliau menyinggung terkait ombinus law yaitu omnibus law sebagai insentif bagi para wajib pajak; menarik investor asing dan lokal; penyesuaian perundangan KUP, PPB, PPN; perusahaan go public pendapatan berdasarkan penjulan, omnibus law meningkatkan kepatuhan.

ODM: Kita dan Undip untuk Indonesia

Oleh Michelle Jenifer

(Undip 20/08) – Pendidikan Karakter (Pendikar) Orientasi Diponegoro Muda (ODM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) kembali dimulai untuk hari kedua melalui zoom meetings. Mahasiswa baru langsung terbagi sesuai dengan program studi masing-masing. ODM hari kedua ini membawakan dua tema, yaitu Kita dan Undip serta Undip untuk Indonesia.

Pada program studi Akuntansi, materi sesi pertama mengenai Merdeka Belajar disampaikan oleh Mutiara Tresna selaku salah satu dosen di program studi Akuntansi. Mutiara menjelaskan program-program apa saja yang bisa dipilih mahasiswa dalam Program Merdeka Belajar seperti pertukaran mahasiswa baik dalam maupun luar negeri, magang/praktik kerja, studi independen, KKN tematik, wirausaha, riset atau penelitian, kampus mengajar, dan proyek kemanusiaan. Program Merdeka Belajar sendiri memiliki banyak manfaat diantaranya meningkatkan kompetensi diri mahasiswa, eksplorasi pengetahuan dan kemampuan lapangan, mendapat jaringan diluar program studi universitas sendiri, dan masih banyak lagi.

Setelah pemaparan Program Merdeka Belajar, Tiara menjelaskan mengenai Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Tiara juga menjelaskan jenis-jenis PKM seperti PKM Wirausaha, PKM Karya Cipta, dan sebagainya. Pelaksanaan PKM ini bertujuan menjadikan mahasiswa kreatif dan inovatif untuk menanggapi dan memecahkan isu-isu atau permasalahan disekitar mereka. Tiara juga memberikan beberapa contoh judul PKM yang telah masuk ke pendanaan PIMNAS. “Sayangi diri anda karena di luar sana ada banyak orang yang menyayangi anda,” pesan Tiara menutup pemaparan materinya. Setelah materi selesai, moderator memberi penugasan terkait PKM kepada mahasiswa baru. Lalu acara dilanjutkan dengan permainan kahoot bersama mahasiswa baru.

Setelah ice breaking, acara dilanjutkan ke sesi materi selanjutnya mengenai Prestatif dan Pencerah bersama Aditya Septiani. Prestasi dapat menginspirasi orang untuk meraih sesuatu yang lebih di dalam hidupnya. Lalu ada contoh sosok Pencerah yaitu karakter Muslimah, seorang guru sederhana dalam film Laskar Pelangi. Aditya juga menjelaskan bagaimana menjadi mahasiswa yang prestatif dan pencerah, yaitu dengan mawas diri terhadap kelebihan dan kekurangan, memunculkan keunikan diri yang positif, memiliki kebebasan bereksprei, memiliki sifat yang baik, keteladanan, dan lainnya. Mahasiswa perlu memiliki keyakinan dan kompetensi, integritas moral, serta motivasi tinggi untuk mendarma bakti ilmu. Mahasiswa yang prestatif merupakan mahasiswa yang memiliki sikap dan perilaku selalu ingin maju serta daya juang tinggi mencapai kesuksesan. Mahasiswa yang pencerah adalah yang mampu menjadi teladan dan cermin bagi orang lain.

Setelah pemaparan materi kedua, mahasiswa baru kembali dipecah ke dalam breakout room untuk berdiskusi mengenai simbol diri mereka. Setelah berdiskusi, mereka kembali ke main room untuk mempresentasikan kesimpulan simbol diri kelompok mereka serta kontribusi mereka untuk Undip. Mahasiswa baru sangat antusias untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka dilihat dengan banyaknya anak yang menggunakan fitur raise hand agar terpilih. Setelah beberapa kelompok mempresentasikan simbol kelompok mereka, materi sesi kedua ditutup dengan sedikit feedback dari Aditya. Ia juga memberi tips kepada mahasiswa baru untuk tetap aktif nantinya saat kuliah daring dimulai.

Terakhir, hari kedua ditutup dengan penginformasian mengenai tugas dan judul materi yang akan dibahas pada hari ketiga, Sabtu (21/08).

Mengenal Lebih Jauh Sejarah Maritim Indonesia

Oleh: Muhammad Arif Pratama

Maritim berasal dari bahasa Inggris yaitu maritime yang berarti navigasi. Sedangkan menurut KBBI, maritim memiliki arti berkenaan dengan laut; berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut. Menurut rimbakita.com, pengertian negara maritim adalah suatu negara yang daerah teritorial lautnya lebih luas daripada daerah teritorial daratan. Secara sederhana, negara maritim bisa diartikan sebagai negara yang dikelilingi laut atau perairan yang luas. Suatu negara dapat dikatakan sebagai negara maritim apabila memiliki garis pantai yang panjang. Selain itu, beberapa ciri-ciri negara maritim antara lain: memiliki wilayah perairan atau laut lebih luas sekitar 2/3 luas daratan, memiliki banyak pulau yang dikelilingi oleh perairan atau laut, dan memiliki sumber daya laut yang melimpah.

Contoh negara maritim dunia, antara lain: Kanada, Indonesia, Papua Nugini, Jepang, Selandia Baru, dan masih banyak lagi. Negara-negara tersebut memiliki perairan yang luas mengelilingi daratan teritorialnya, serta memiliki garis pantai yang panjang. Dilihat dari panjang garis pantainya, Indonesia (54.716 km) menempati peringkat kedua yang memiliki garis pantai terpanjang setelah Kanada (202.800 km).

Dilansir dari kkp.go.id, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Terbentang dari Sabang hingga Merauke, Indonesia memiliki 17.499 pulau dengan luas total wilayah Indonesia sekitar 7,81 juta km2. Dari total luas wilayah tersebut 3,25 juta km2 adalah lautan dan 2,55 juta km2 yang berupa daratan. Hal ini yang menyebabkan Indonesia disebut sebagai negara maritim. Selain itu, potensi kelautan dan perikanan di Indonesia juga sangat besar.

Sudah sejak lama Indonesia ditetapkan sebagai negara maritim dunia, tepatnya pada tahun 1982. Secara hukum, penetapan Indonesia sebagai negara maritim tertuang pada United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982, yang disebut Prinsip Negara Kepulauan (Archipelagic State Principle).

Sejarah Maritim Indonesia

Ketika Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, wilayah Indonesia hanya sebatas wilayah Hindia Belanda ditambah dengan Malaka, Borneo Utara, Papua, Timor, dan kepulauan sekelilingnya (berdasarkan sidang BPUPKI 11 Juli 1945). Wilayah laut Hindia Belanda yang menghubungkan pulau-pulau di Indonesia hanya hanya selebar 3 mil dari garis pantai. Bayangkan bahwa Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Banda, Laut Arafura, statusnya merupakan perairan internasional. Pada masa ini, wilayah Republik Indonesia mengacu pada Ordonasi Hindia Belanda 1939, yaitu Teritoriale Zeeen en Maritiemw Kringen Ordonantie (TZMKO) 1939. Dalam peraturan zaman Hindia Belanda ini, pulau-pulau di wilayah Nusantara dipisahkan oleh laut di sekelilingnya dan setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai. Ini berarti kapal asing boleh dengan bebas melayari laut yang memisahkan pulau-pulau tersebut.

Pada awal kemerdekaan Indonesia, dirasakan bahwa hukum laut yang berlaku saat itu dapat mengancam keamanan dan kedaulatan NKRI. Hal ini dikarenakan wilayah kepulauan Indonesia terpecah-pecah oleh perairan yang statusnya perairan internasional, dan kapal asing bebas berlayar di area tersebut.

Deklarasi Djuanda

Menanggapi situasi tersebut, pada 13 Desember 1957, Perdana Menteri Indonesia, Ir. Djuanda Kartawijaya,  mendeklarasikan “Deklarasi Djuanda”. Deklarasi Djuanda menyatakan bahwa perairan di sekitar, di antara, dan yang menghubungkan pulau-pulau yang termasuk dalam daratan Republik Indonesia, dengan tidak memandang luas atau lebarnya, adalah bagian yang wajar dari wilayah daratan negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian dari perairan pedalaman atau perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Deklarasi Djuanda menyatakan bahwa Indonesia menganut prinsip-prinsip negara kepulauan (Archipelagic State), sehingga perairan antar pulau di kawasan Republik Indonesia pun merupakan wilayah Republik indonesia.

Deklarasi ini menuai pro dan kontra dari berbagai negara di dunia. Beberapa negara yang kontra antara lain Amerika Serikat, Ingris, Australia, Belanda, Perancis, dan Selandia Baru. Sedangkan yang pro antara lain Filipina, Equador, dan Yugoslavia.

UNCLOS 1982

Amerika Serikat tetap mempertahankan posisinya yang kontra dan menolak Deklarasi Djuanda hingga tahun 1982. Setelah Indonesia melalui perjuangan panjang, pada tahun 1982, Deklarasi Djuanda akhirnya dapat diterima dan ditetapkan dalam konvensi hukum laut PBB ke-III Tahun 1982. Pada pertemuan itu juga, konsepsi Wawasan Nusantara akhirnya diakui dunia sebagai The Archipelagic Nation Concept.

Melalui UNCLOS 1982, luas laut Indonesia bertambah, dari semula kurang dari 1 juta km2 menjadi 5,8 juta km2. Pemerintah Indonesia kemudian meratifikasi UNCLOS 1982 melalui UU No. 17 Tahun 1985 tentang pengesahan UNCLOS, untuk mempertegas aturan dari PBB yang menyatakan Indonesia merupakan negara kepulauan.

Peringatan Hari Maritim Nasional: Mengenal 7 Pilar Poros Maritim Dunia

Oleh: Dwiki Yanwar

Seperti yang sudah kita ketahui, Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang ada di dunia. Bukan hanya sekedar kepulauan, Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki 17.499 pulau dengan luas total wilayah Indonesia sekitar 7,81 juta km2. Dari total luas wilayah tersebut, luas lautan indonesia sekitar 3,25 juta km2 dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia sekitar 2,55 juta km2. Hal tersebut membuktikan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia merupakan lautan, yang memiliki potensi akan kekayaan hasil lautnya.

Luasnya lautan Indonesia dan potensi yang dimilikinya, membuat presiden pertama Indonesia yaitu Soekarno berharap Indonesia dapat menjadi negara maritim yang berjaya. Saat itu, dalam rangka mengedukasi masyarakat, pemerintah mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) Maritim 1 pada 23 September 1963. Melalui Munas tersebut, Presiden Soekarno akhirnya menerbitkan Surat Keputusan Presiden Nomor 249/1964  yang menetapkan tanggal 23 September sebagai Hari Maritim Nasional.

Hari Maritim Nasional dibuat dan diperingati setiap tahunnya agar masyarakat Indonesia tahu bahwa Indonesia memiliki potensi besar dari kekayaan hasil lautnya sebagai sebuah negara maritim. Di samping itu, upaya lain pemerintah dalam menjadikan Indonesia sebagai negara martim adalah menetapkan tujuh pilar poros maritim dunia. Ketetapan tersebut tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2017 tentang Kebijakan Laut Indonesia.

Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia, Poros Maritim Dunia adalah suatu visi Indonesia  untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang berdaulat, maju, mandiri, kuat serta mampu memberikan kontribusi positif bagi keamanan dan pertahanan dan perdamaian kawasan dan dunia sesuai dengan kepentingan nasional. Tujuh Pilar Poros Maritim Dunia adalah suatu kebijakan terkait kelautan Indonesia untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim bagi dunia. Ketujuh pilar tersebut meliputi:

1. Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia

Kebijakan ini bertujuan untuk mendorong pemanfaatan dan penguasaaan sumber daya kelautan secara optimal dan berkelanjutan serta mengembangkan SDM di bidang kelautan yang profesional, beretika, berdidikasi, dan mampu mengedepankan kepentingan nasional.

2. Pertahanan, Keamanan, Penegakan Hukum, dan Keselamatan di Laut

Kebijakan pertahanan, keamanan, penegak hukum, dan keselamatan di laut bertujuan untuk menegakkan kedaulatan dan hukum, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman, tantangan, dan hambatan, dan gangguan di wilayah tersebut. Beberapa program yang dibuat untuk melaksanakan kebijakan ini meliputi: 1) Pembangunan pertahanan dan keamanan laut yang tangguh serta mampu menanggulangi ancaman dan gangguan dari dalam dan luar negeri; 2) Menegakkan kedaulatan dan hukum di wilayah perairan dan wilayah yuridiksi; 3) Optimalisasi sistem komando, kendali, komunikasi, komputerisasi, intelejen, serta pengawasan dan pengintaian; dan lain-lain.

3. Tata Kelola dan Kelembagaan Kelautan

Kebijakan ini dibuat untuk menciptakan sistem tata kelola kelautan nasional yang komprehensifm terintegrasi, efektif, dan efisien. Program-program dalam pelaksanaannya meliputi: 1) Penataan sistem hukum nasional di bidang kelautan; 2) Implementasi hukum internasional di bidang kelautan sesuai dengan kepentingan nasional; dan 3) Pembangunan sistem tata kelola kelautan nasional yang baik, transparan dan bertanggung jawab.

4. Ekonomi dan Infrastruktrur Kelautan dan Peningkatan Kesejahteraan

Pertama, kebijakan ekonomi kelautan bertujuan untuk menjadikan kelautan sebagai basis pembangunan ekonomi. Artinya, pembangunan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya dengan cara menggerakkan sumber daya nasional melalui program kelautan nasional dan disertai berbagai kelengkapan instrumen fiskal, moneter, serta mobilisasi lintas sektor untuk mendukung pembangunan ekonomi kelautan. Kedua, kebijakan infrastruktur dilakukan pemerintah dalam rangka membangun dan mengembangkan infrastruktur kelautan dan kemaritiman untuk peningkatan konektivitas dan pembangunan dengan pendekatan Indosentris. Ketiga, kebijakan peningkatan kesejahteraan memiliki tujuan dalam mewujudkan pembangunan kelautan yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat terutama masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.

5. Pengelolaan Ruang Laut dan Perlindungan Lingkungan Laut

Kebijakan pengelolaan laut dibuat untuk melindungi sumber daya dan lingkungan berdasarkan pada sumber daya dukung lingkungan kearifan lokal, memanfaatkan potensi sumber daya di wilayah laut yang berskala nasional dan internasional. Sedangkan kebijakan perlindungan lingkungan laut dibuat utuk melestarikan sumber daya kelautan dan mencegah terjadinya kerusakan pada ekosistem di laut.

6. Budaya Bahari

Budaya bahari bertujuan guna memberi pemahaman yang menyeluruh terhadap wawasan bahari di seluruh lapisan masyarakat untuk mengoptimalkan pembangunan kelautan nasional yang berkesinambungan dan lestari. Beberapa program utamanya yaitu: 1) Meningkatkan pendidikan dan penyadaran masyarakat tentang kelautan yang diwujudkan melalui semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan; 2) Mengidentifikasi dan menginventarisasi nilai budaya dan sistem sosial kelautan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bagian dari sistem kebudayaan nasional; 3) Melakukan harmonisasi dan pengembangan unsur kearifan lokal ke dalam sistem pengelolaan dan pemanfataan sumber daya kelautan yang lestari; dan lain-lain.

7. Diplomasi Maritim

Diplomasi maritim merupakan pelaksanaan politik luar negeri yang bertujuan untuk mengoptimalkan potensi kelautan guna memenuhi kepentingan nasional sesuai dengan ketentuan nasional dan hukum internasional. Beberapa program utama dalam pelaksanaan diplomasi maritim meliputi 1) Peningkatan kepemimpinan di dalam berbagai kerja sama di bidang kelautan pada tingkat bilateral, regional, dan multilateral; 2) Peningkatan peran aktif dalam upaya menciptakan dan menjaga perdamaian dunia di bidang kelautan; 3) Kepemimpinan atau peran aktif dalam penyusunan berbagai norma internasonal bidang kelautan; dan lain-lain.

Sumber : Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2017

Menilik Pendidikan Karakter ODM FEB UNDIP 2021

Oleh: Michelle Jenifer

(Undip 19/8) – Rangkaian Orientasi Diponegoro Muda (ODM) 2021 sebagai acara tahunan penyambutan mahasiswa baru Universitas Diponegoro (Undip) telah dimulai. Pembukaan ODM telah dilakukan pada Senin (16/08) dan dilanjutkan dengan Pendidikan Karakter (Pendikar) di fakultas masing-masing (19/08). Di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), pendikar dibuka dengan penyambutan oleh Dekan FEB yaitu Suharnomo dan dilanjutkan dengan penyampaian materi bersama moderator di program jurusan masing-masing. Rangkaian acara ODM FEB 2021 dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meetings.

Sebelum sesi materi pertama, sempat terdapat kendala pada ruang zoom milik program studi Akuntansi dan Manajemen, sehingga jalannya pendikar mundur beberapa menit. Sesi pertama dimulai dengan tema “Siapa Saya?” dengan judul materi “Adaptif, Tangguh, Cerdas, dan Beretika” yang dibawakan oleh Siti Mutmainah, selaku dosen dan sekretaris departemen Akuntansi. Materi dimulai dengan pengenalan arti lambang Universitas Diponegoro. Siti juga menjelaskan pendikar tidak hanya mengenai moral saja, melainkan konsep pendidikan holistik yang semuanya menuju individu yang kritis dan empatis. Ia pun menjelaskan nantinya mahasiswa pasti memiliki masalah dan kendala, sehingga penting bagi mereka memiliki ketangguhan diri.

Di akhir materi, ditampilkan video kisah sebatang pensil yang memotivasi mahasiswa menjadi sosok yang tangguh dalam perkuliahan. Lalu ditampilkan juga video tugas personal branding terbaik mahasiswa baru sebagai salah satu aplikasi tema yang dibawakan pada sesi pertama. Sebagai penutup sesi pertama, Siti memberi pesan, berusaha atau berproses adalah kewajiban kita. Hasilnya adalah hak Tuhan, apapun hasilnya nanti, yang terpenting kita sudah melakukan yang terbaik. Jangan selalu membandingkan dengan orang lain, tapi mulai cintai diri sendiri.

Acara dilanjutkan dengan diskusi perkelompok mengenai dua tema yaitu “Bagaimana menjadi Generasi yang Adaptif dan Tangguh dalam Menjawab Tantangan Pendidikan dan Kehidupan di Masa Sekarang” dan “Bagaimana menjadi Generasi yang Cerdas Beretika di Era Digital”. Diskusi dilangsungkan sekitar 30 menit dalam breakout room masing-masing kelompok. Setelah diskusi, beberapa kelompok mempresentasikan hasil diskusi sesuai tema masing-masing. Diskusi ini sebagai respon mahasiswa dari materi pertama yang telah disampaikan.

Sesi kedua dimulai tema “Siapa Kita” dengan judul materi “Mengenal dan Memahami Generasiku” oleh Andri Prastiwi selaku dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis, khususnya pada program studi Akuntansi. Dalam materi kedua, Andri menjelaskan bahwa mahasiswa harus lebih mandiri dalam berkarya. Mahasiswa dalam generasi merdeka belajar di dunia daring sekarang perlu navigasi diri dalam menggunakan internet secara cerdas, proposional, bijak, adekuat, sesuai peruntukan idealnya, sehingga memberi dampak positif untuk diri sendiri dan lingkungan. Andri juga menjelaskan etika menggunakan internet dan nilai yang diharapkan ada dalam remaja pengakses internet. Andri menekankan, kita adalah pemegang kendali, internet hanya media, sarana, alat untuk mencapai tujuan. Kitalah yang mementukan awal, cara, proses, dan tujuan yang ingin kita capai. Oleh karena itu, kita perlu navigasi diri untuk menggunakan internet agar menjadi bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang disekitar kita.

Setelah sesi kedua, mahasiswa baru kembali dipecah dalam breakout room untuk membuat mozaik secara daring. Gambar mozaik yang digunakan adalah gambar gedung Dekanat FEB, tulisan ODM, Lawang Sewu, gambar Health Awareness, dan tulisan DIPO 2021. Setelah pembuatan mozaik, mahasiswa baru kembali ke ruang utama untuk penugasan dan penutupan acara pendikar hari pertama. Pendikar ini sendiri masih berlangsung sampai hari Sabtu (21/08).

Berbincang tentang Ideologi Indonesia

Oleh: Fortuna Tunggadewi dan Michelle Jenifer

(Undip 16/8) – Departemen Kajian dan Aksi Strategis INSANI Undip kembali hadir membawakan Insani Youth Talk VI: “Sosialisme, Liberalisme, dan Pancasila: Mana yang Paling Cocok untuk Indonesia?” Dalam Insani Youth Talk ini, Insani mengajak pendengar untuk mencari tahu mengapa para bapak pendiri bangsa memilih Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia dibanding dengan ideologi-ideologi terkenal lainnya. Dipandu oleh moderator Hilmy Azkal dan materi dibawakan oleh Muhammad Akmal Ashari selaku Pustakawan SMKN 4 Tangerang Selatan dan Kontributor Gen. Saladin.

Materi dibuka dengan penyampaian pengertian ideologi. Ideologi merupakan kumpulan gagasan, ide-ide dasar, keyakinan, dan kepercayaan yang bersifat dinamis dan membentuk karakter berpikir dalam mewujudkan keinginan dan cita-cita. Biasanya, ideologi dimanifestasikan dalam aksi politik dan ekonomi. Lalu dijelaskan beberapa ideologi besar di dunia seperti Liberalisme, Kapitalisme, Sosisalisme, Komunisme, dan Islamisme. Beberapa ideologi tersebut pernah eksis di Indonesia seperti Komunisme, Sosialisme, dan Islamisme. Ideologi lain yang pernah berkembang adalah Liberalisme dan Nasionalisme. Sekarang Indonesia memakai ideologi Pancasila sebagai ideologi bangsa. Ideologi Pancasila muncul sebagai konsensus bangsa setelah konflik ideologi era 50-60an.

Setelah pemaparan materi, diskusi dilanjutkan dengan tanya jawab. Penanya pertama Ilham menanyakan kontradiksi negara Perancis yang merupakan negara Liberal namun membatasi hak masyarakat muslim untuk menjalankan kewajibannya, contohnya dalam menggunakan hijab. Akmal Ashari menyatakan sebenarnya negara Liberal banyak melakukan tindakan rasisme dan diskriminasi terhadap umat Islam. Selanjutnya, penanya yang sama bertanya mengapa negara komunis memiliki nama yang terdengar demokratis seperti Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Republik Rakyat Demokratik Korea (RRDK). Pemateri sendiri belum bisa menjelaskan penyebab penamaan negara tersebut karena merupakan hak dari masing-masing negara.

Kemudian peserta bernama Fikri menyampaikan perspektif lain, ia menyampaikan Islamisme bukanlah ideologi, karena Islam merupakan agama dan bersumber dari Tuhan, Selanjutnya, Fikri menyatakan Pancasila bukanlah ideologi. Melihat catatan sejarah, tidak ada pernyataan Pancasila merupakan ideologi, melainkan Philosopische Grondslag atau pandangan hidup. Fikri melanjutkan dengan pertanyaan, sila pertama Pancasila menekankan nilai Ketuhanan, sedangkan sila kedua menekankan kemanusian, dan bisa saja terdapat nilai kemanusiaan yang bertentangan dengan nilai agama. Karenanya, terlihat ketidakteraturan Pancasila. Dalam menjawab pertanyaan, pemateri kembali menyatakan banyak tafsiran mengenai Pancasila.

Kemudian Fikri menanggapi dengan pernyataan “Pancasila sudah final” kurang tepat, karena jika demikian maka Pancasila bukan lagi proses berfikir. Di sisi lain, ia juga menyampaikan ideologi seperti liberalis, komunis hingga sosialis banyak diteliti sedangkan sangat jarang ditemui penelitian terkait Pancasila. Akmal Ashari membenarkan pernyataan tersebut dan memberikan alasan mengapa Pancasila jarang diteliti karena mungkin adanya rasa takut dan enggan karena apabila muncul hasil tidak sesuai akan dianggap melecehkan Pancasila. Pemateri juga menyampaikan, Pancasila dewasa ini telah menjadi barang politik yang sensitif.

Selanjutnya adalah dokumentasi dipandu oleh moderator dan dilanjutkan dengan closing statement oleh Akmal Ashari selaku pemateri. Dalam kesempatan ini pemateri menyatakan mahasiswa harus belajar dan memperkaya ilmu pengetahuan, serta memanfaatkan semua kesempatan diskusi, membaca buku terutama dengan hal-hal yang berhubungan dengan negara. Ia juga menegaskan besok negara kita akan memperingati kemerdekaan dan mahasiswa harus banyak belajar karena dalam beberapa tahun lagi, mahasiswa merupakan calon pemimpin legislatif, yudikatif, bahkan eksekutif.

Tim FEB Lolos Pendanaan, Adiksi Internet jadi Bahasan

Oleh: Luvita dan Tarisa

(Undip 15/08) – Kajian-kajian penelitian menarik sudah bermunculan pada ajang Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM). Salah satu kajian itu adalah adiksi atau candu internet di kalangan pelajar selama pandemi Covid-19 yang diusulkan sebuah tim dari FEB dengan ketua Daden Saepul Hambali dan beranggotakan Elvita Nurul Khumairoh, Ifania Kamilla Prameshella Putri, Immanuel Ari Nurpratama, dan Muhammad Naufal Rizqullah.

Dengan judul penelitian “Analisis Prevalensi Adiksi Internet pada Remaja Usia Sekolah selama Masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia”, Daden serta timnya berhasil lolos pada tahap pendanaan dan sekarang sedang menyelesaikan penelitian tahap akhir. Latar belakang dari penelitian yang dilakukannya merupakan buah pikir dari fenomena pandemi Covid-19. Menurut mereka, pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang kemungkinan besar memicu terjadinya konsumsi internet berlebihan menjadi kajian tepat yang hasilnya akan sangat bermanfaat apabila diteliti, baik untuk masyarakat maupun pemerintah.

Dalam proses pencarian data, fokus responden yang Daden dan timnya ambil adalah para pelajar SMP/sederajat, SMA/sederajat, dan perguruan tinggi. Keputusan tersebut dibuat karena usia remaja dinilai merupakan tahap paling mudah bagi seseorang melakukan adiksi. Daden dan tim menyebarkan kuesioner secara daring dan luring. Kuesioner daring disebarkan lewat media-media sosial para anggota tim. Target kuesioner daring ini adalah memperluas cakupan penelitian yang dilakukan. Sementara itu, kuesioner luring disebarkan pada sekolah-sekolah di sekitar Semarang, contohnya beberapa pondok pesantren yang memperbolehkan santri-santriwatinya menggunakan gawai pribadi. Target kuesioner luring adalah memperdalam kajian penelitian tentang adiksi internet ini.

Ada alasan unik dari diambilnya topik adiksi internet yang cenderung lebih dekat pada kajian psikologi. Seperti yang telah disebutkan, Daden dan beberapa anggota timnya merupakan mahasiswa FEB. Hanya Ifania yang merupakan mahasiswa jurusan psikologi. Kendati demikian, mereka tetap memilih topik tersebut dengan alasan bahwa fenomena mental health tengah gencar dibicarakan saat ini. Selain itu, topik adiksi internet juga sudah sangat terasa dalam kehidupan remaja zaman sekarang. Apalagi ditambah dengan kegiatan learning from home yang digaungkan pemerintah selama masa pandemi Covid-19.

Daden dan tim mengharapkan bahwa penelitian mereka dapat membawa manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. Daden menyebutkan setidaknya ada dua harapan yang ingin mereka capai. Secara teoritis, mereka berharap bahwa penelitian ini mampu menjawab fenomena yang sedang terjadi secara ilmiah dan menjadi salah satu penelitian yang akan berkembang atau berkelanjutan nantinya.

Secara praktis, Daden dan tim berharap bahwa penelitiannya dapat memberikan informasi bagi masyarakat mengenai adiksi internet, sehingga diharapkan akan ada langkah preventif untuk mencegah dampak yang tidak diinginkan. Selain itu, hasil penelitian ini juga ditargetkan untuk bisa membantu pemerintah dalam membuat kebijakan ke depannya. Dengan demikian, diharapkan dampak negatif adiksi internet di kalangan remaja pada masa sekolah secara daring dapat diminimalisir secara keseluruhan.