Sambil Liburan, Yuk Simak Film “Kota Saranjana” Yang Akan Tayang di Tahun 2023 Ini

Reporter: Dewanti

Genre : Horror

Rilis : Akan Tayang

Produksi : DHF Entertainment

Produser : Johansyah Jumberan

Sutradara : Johansyah Jumberan

Alur Petualangan Kota Saranjana

Film ini menceritakan petualangan beberapa anak muda di Kalimantan Selatan yang menjelajah daerah koneksi dengan Kawasan Saranjana. Di tengah perjalanan, mereka menyaksikan adanya ritual pemakaman dimana jasad ditenggelamkan ke bawah air. Dengan tekad menjelajah Kota Saranjana, muncullah kisah mistis yang satu per satu membuat mereka diculik.

Fakta Unik

“Kota Saranjana” merupakan hal yang menjadi perbincangan banyak orang. Konon, Kota Saranjana diduga terletak di bagian Kalimantan Selatan, Pulau Laut dan dianggap sebagai kota yang hilang dari peta Indonesia. Bermula dari keberadaannya yang diketahui hanya beberapa orang saja, hingga fakta bahwa masyarakat di dalamnya bukanlah spesies manusia. Keadaan di Saranjana pun berbanding terbalik dengan di Bumi. Mereka memiliki kemajuan yang jauh lebih canggih dan modern. Mistis Kota Saranjana inilah yang membuat orang-orang menantikan perilisan film “Kota Saranjana”. 

Tidak hanya melibatkan artis dalam pameran filmya, film “Kota Saranjana” turut menghadirkan pemeran asli yang berasal dari Kalimantan, yaitu Gusti Gina sebagai Hamidah, Mourys Sam sebagai Anwar, Putri Intan Kasel sebagai Rusmiyati, dan Fauzi Rahman sebagai Abah Hadran. 

“Kota Saranjana” dijamin bikin merem melek

Kisah petualangan anak muda menjelajahi salah satu kota yang hilang dalam peta dijamin akan membuatmu mengetahui urban legendaris kota Saranjana. Percaya, tidak percaya, film “Kota Saranjana” akan menghibur tanda tanyamu akan keberadaan pasti kota Saranjana. 

Menggali Potensi Diri, dari Hobi Menjadi Prestasi

Reporter: Munnafatu dan Luthfia Nabila

Meylisa Eka Putri merupakan salah satu mahasiswi prodi Manajemen angkatan 2019, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Diponegoro. Meylisa menekuni cabang olahraga basket bukan tanpa alasan. Basket adalah olahraga pertama yang ia pelajari dan paling berkesan karena secara tidak langsung, masalah yang dihadapi, seperti naik turunnya alur kehidupan, dapat diatasi dengan bermain basket. Masa SMP adalah awal ia terjun ke dalam olahraga ini, dimana setiap siswa-siswi wajib mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Tidak di setiap pertandingan basket ia meraih kesempatan untuk memasuki final dan menang. Butuh waktu dan proses yang sangat panjang untuk meraih hal tersebut. Saat ia dapat meraihnya, jiwa kompetitif Meylisa benar-benar tumbuh dan bangkit untuk mempertahankan pencapaian yang diraihnya.  Sejak saat itu banyak sekali prestasi yang diukir oleh Meylisa.

Prestasi sebagai Dorongan

Berikut ini adalah jabaran prestasi cabang olahraga basket yang berhasil diraih Meylisa: Juara I DBL  Kalimantan Timur (2017), Juara II PORSIMAPTAR AKPOL Nasional (2017), Juara I DBL Kalimantan Timur (2018), MVP DBL Kalimantan Timur  (2018), Juara II POPWIL KALTIM (2018), Juara I lomba UMS Universitas Muhammadiyah Surakarta (2019), Juara II PORSIMAPTAR AKPOL Akademi Kepolisian (2019), Juara I Lomba 3X3 KU20 Wanita Balikpapan (2021), Juara II  Piala GUBERNUR CUP KALTIM (2021), Juara II Kompetisi SBL UNIKA Soegijapranata (2022), Juara II KEJURPROV KALTIM (2022), Juara III FEB UI Universitas Indonesia (2022), Juara I Kompetisi Bola Basket INDTEAM CUP VII (2022), Juara II Pertandingan Bola Basket POMPROV Jawa Tengah (2022), Juara II 3X3 Walikota cup Semarang (2022), Juara II Olimdipo FEB (2022), serta Juara 3 3×3 Basketball POPROV KALTIM (2022).  

Lewat wawancara secara daring dengan LPM Edents, Meylisa sempat mengutarakan bahwa motivasinya datang dari diri sendiri untuk meraih banyak prestasi tersebut. Ia merasa tidak sedikit juga pihak-pihak yang terlibat dalam mendukung mimpi-mimpi yang ia miliki sekaligus percaya akan potensi dirinya, baik itu yang datang dari orang tua, kerabat dekat, pelatih, dan teman-teman. Prestasi yang diraih memberi banyak pesan dan makna. “Prestasi yang aku dapat merupakan bentuk kerja keras dari usaha dan pengorbanan yang aku kasih selama ini di basket, untuk membanggakan orang tua dan orang-orang sekitar,” ungkapnya. 

Pentingnya Manajemen Waktu

Ada berbagai cara yang dilakukan oleh Meylisa agar dapat membagi waktunya antara olahraga basket dan kegiatan kuliah sehingga seimbang di tengah kesibukannya. “Membuat skala prioritas adalah kuncinya. Jika ada event terdekat, kita harus tetap melakukan kewajiban kuliah terlebih dahulu dan mengerjakan tugas. Untuk latihan rutinnya, biasa dilakukan pada jam malam, jadi tidak mengganggu jadwal kuliah. Jika ada event, sebisa mungkin untuk fokus pada event itu,” tuturnya. Proses latihan basket di luar jadwal latihan rutin tiga kali dalam seminggu, biasanya Meylisa juga menambahkannya dengan latihan lain seperti, jogging dan gym. 

Tidak sah rasanya jika kita tidak membicarakan perlombaan atau wishlist yang ingin dipenuhi. “Untuk perlombaan ke depan dalam waktu dekat ini mungkin aku ingin mengikuti event antar-club di Samarinda. Aku akan membela club OSNBC Venus Balikpapan dan harapannya aku dan timku bisa juara 1. Next, yaitu mengikuti kompetisi lainnya di lingkup universitas bersama Tim Basket Undip dan juga Tim Basket Fakultas Ekonomika & Bisnis, terakhir untuk target paling besar kedepannya yaitu Pra-PON dan PON (Pekan Olahraga Nasional, Red) di tahun terakhir, aku berharap dapat menjadi suatu kenangan indah di akhir untuk menutup karir basket, dan semoga aku dapat membawa harum nama Kaltim (Kalimantan Timur, Red), daerah asalku sebagai juara,” ucap Meylisa. 

Basket dan Kehidupan

Meylisa juga membubuhkan beberapa saran yang positif sebagai pendorong untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat. Perlu adanya effort, tenaga, dan kemauan yang kuat untuk menekuni suatu hal. “Karena basket adalah olahraga beregu, secara tidak langsung kalian akan mendapat soft skill dari kehidupan tentang bagaimana caranya memahami karakter teman 1 tim, kerja sama, belajar komunikasi yang baik antar personal, disiplin dengan diri sendiri, memiliki komitmen tinggi, daya juang dan etos kerja yang baik, menjadi leader yang bijak, belajar menerima kekalahan, serta menghadapi kemenangan, secara tidak langsung di kehidupan, kita akan dihadapkan dengan berbagai macam problem, sehingga dari basket aku banyak belajar arti hidup,” ujarnya. 

Memburu Keadilan: Sebuah Pergerakan, Bukti Kasih Sayang, dan Bentuk Perjuangan

Reporter: Luvita dan Sukma

Sumber: Publikasi @orangtua.bergerak
Sumber: Live instagram @orangtua.bergerak

(Yogyakarta, 11/01) Istilah klitih sudah tidak asing didengar bagi masyarakat Indonesia, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bermoduskan “iseng-iseng”, klitih telah memakan banyak korban secara semena-mena. Dilansir dari Kumparan News, istilah klitih ini pula yang diakui Ketua Majelis Hakim Suparman pada persidangan tanggal 9 November 2022 atas 5 terdakwa klitih Gedongkuning. Beliau meyakini bahwa klitih adalah, “Perbuatan yang mencoreng nama baik Kota Yogyakarta sebagai kota wisata yang aman dan tertib,”. Namun, keputusan persidangan tersebut tampaknya bukan kasus klitih biasa karena muncul dugaan salah tangkap yang dilakukan polisi kepada 5 terdakwa.

Melalui akun Instagram-nya, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta menyatakan terdapat 3 poin penting pembelaan terdakwa kasus salah tangkap polisi dalam peristiwa klitih Gedongkuning. Ketiga poin tersebut ialah pernyataan hampir sebagian besar saksi bahwa para terdakwa tidak berada di Gedongkuning, terungkapnya fakta manipulasi proses penyidikan, dan penggunaan kekerasan terhadap terdakwa serta saksi oleh pihak kepolisian. Keluarga para terdakwa akhirnya menempuh berbagai cara untuk menyatakan bahwa para terdakwa adalah korban salah tangkap. Satu dari banyaknya cara tersebut ialah ditulisnya buku “Memburu Keadilan: Anakku Korban Rekayasa Kasus Aparat” oleh Andayani, ibu terdakwa Andi Muhammad Husein Mazhahiri.

Dalam kegiatan diskusi serta bedah buku oleh gerakan kolektif Warga Bergerak, Andayani menyatakan bahwa buku “Memburu Keadilan” merupakan bagian dari usahanya memperjuangkan hak kelima korban salah tangkap. Lebih lanjut, buku tersebut juga menjadi wujud perlawanan dalam menghadapi sandiwara aparat dan persekongkolannya. “Karena kalau tidak ditulis, tidak direkam, apa yang kami perjuangkan akan hilang,” tegas Andayani. Kegiatan diskusi dan bedah buku “Memburu Keadilan” dilaksanakan pada Rabu, 11 Januari 2023 di Bjong Ngopi Janti, Yogyakarta, serta live via Instagram @orangtua.bergerak. 

Selain menjadi bentuk perjuangan seorang ibu untuk melawan “Pengadilan Sesat”, buku “Memburu Keadilan” secara lengkap mengisahkan perjalanan panjang menguras emosi yang dituangkan oleh Andayani. Beliau bahkan tak kuasa menahan air mata ketika menceritakan kronologi peristiwa, mulai dari penangkapan anaknya serta anak-anak lain yang dituduh sebagai tersangka, perjuangan para orang tua untuk mencari alibi dan bukti, hingga ketika mereka telah didakwa dan mengajukan kasasi. Tak ayal, rumitnya perjuangan melawan permainan aparat penegak hukum oleh Andayani dan orang tua terdakwa lain diwarnai dengan masalah kesehatan mental yang sempat dirasakan.

Secara gamblang, buku “Memburu Keadilan” mengungkapkan kesewenangan sikap aparat yang seolah membuat terdakwa dan orang tua mereka tidak berdaya dengan dalih kasus bersangkutan telah mengundang perhatian nasional. Berkaitan dengan hal itu, Ketua Ruang Arsip Sejarah Perempuan Ita Fatia Nadia mengatakan, “Fungsi polisi sudah menggantikan fungsi militer. Dia (polisi) melakukan kekerasan,”. Ita menyebut bahwa apa yang ditulis oleh Andayani dalam buku “Memburu Keadilan” menjadi gerakan yang bisa membangun kesadaran politik dan kesadaran sosial melalui perempuan, terutama para ibu.

“Gerakan politik ibu-ibu harus jadi lebih luas dan harus bisa melakukan dialog-dialog. Polisi bukan lagi pengayom masyarakat. Polisi sudah menjadi kawan penguasa. Kita harus melawan.” tegas Bu Ita. “Ada banyak cara kita melawan. Cara-cara itu bisa kita sepakati.” sambungnya. Beliau juga mengungkapkan bagaimana perempuan dan ibu-ibu telah menjadi tonggak berbagai perlawanan yang pernah terjadi di Indonesia, salah satunya pada Gerakan Mahasiswa Indonesia tahun 1998. Beliau mengatakan bahwa tanpa peran ibu-ibu yang mendorong para mahasiswa untuk menuntut aspirasi dengan menduduki Gedung MPR/DPR, Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998 tidak akan terjadi.

“Peristiwa 98 bukan hanya tentang mahasiswa tapi juga karena ibu-ibu dan para aktivis wanita. Kalau buku Bu Andayani bisa diakui dan dijadikan alat politik untuk mengangkat kebenaran atas isu yang dibahas, pergerakan ini akan berdampak besar dan akan mencegah hal serupa yang tidak diinginkan di masa depan.” papar Ita. Sebagai penutup sesinya, Andayani berharap bahwa dia dapat melanjutkan perjuangannya melalui buku-buku yang akan ia tulis selanjutnya. “Kita percaya semesta pasti mendukung kita.” ungkap Bu Andayani dengan penuh keyakinan.