Kehilangan tak membuatmu mati.

Aku ingin mempelajari segala hal setelah tanda titik diselesaikan.
Nyatanya, hanya ada dua pilihan:
berbahagia atas keputusannya,
atau menyesali diri sendiri berkali-kali.

Barangkali, esok hari aku akan mengerti mengapa seseorang terasa berharga setelah pergi.
Barangkali benar, aku belum selesai dengan diriku sendiri,
sehingga tidak perlu mencampuri perasaan orang lain.

Sekarang aku kebingungan memungut serpihan diriku sendiri
yang tersebar tak beraturan di sudut-sudut ruang.

“Yang pergi tidak selalu ingin kembali, kawan.”

Penulis : Juw

Raga yang Terkunci

Oleh: Chesia

Lari dalam diam dan bersembunyi dalam sepi

Sepasang mata melirik untuk berjaga-jaga

Kaki terus menapaki jalan dengan udara dingin

Berkejaran dengan waktu yang terus bergerak

Arah angin selalu sama dengannya seolah mengerti

Ada sebuah raga yang sedang hilang tapi berbentuk

Semua seolah menjadi satu dalam angin yang bertiup

Dan berdiam dalam langit malam yang begitu gelap

Raga yang berlari kini diam dan terhenti dalam ruang

Tetapi ia terhimpit dalam kebisingan yang tak menentu

Lagi dan lagi ia merasakan sebuah kebencian dalam diri

Ia ingin waktu untuk tau raga ini telah lelah berlari

Sekarang waktu untuknya kembali berjalan dengan aman

Dalam ruang dan waktu yang terus berbicara pada angin

Kata demi kata terucap dengan untaian kesesakan

Hati yang telah lelah kini mulai terbuka dalam kata itu

Angin seolah berkelahi dengan diri yang lelah

Diri yang terkunci telah mengucap kata terakhirnya

Kunci yang selama ini hilang telah terucap dalam ruang

Lantas untuk apa raga itu harus dikunci?

~

Kita Pernah di Sana

Pernah, di antara tumpukan agenda dan suara rapat,
ada tawa kecil yang memecah penat.
Bukan karena semuanya mudah,
tapi karena kita saling menjaga agar tak menyerah.

Kita tumbuh bukan dari hasil yang sempurna,
melainkan dari malam-malam yang hampir membuat kita putus asa,
dari perbedaan yang akhirnya mengajarkan makna,
bahwa tujuan takkan berarti tanpa hati yang sama.

Aku masih ingat…
tatapan lelah yang disembunyikan dengan senyum,
suara yang tetap tegas meski tenggorokan kering,
dan langkah yang tetap kuat,
meski hati kadang ingin pulang.

Kini ruangan itu mungkin telah sunyi,
nama-nama di absen sudah berganti,
tapi setiap kali aku menatap ke belakang,
aku melihat kita masih di sana,
menata mimpi dengan caranya masing-masing,
namun berakar dari tempat yang sama.

Karena organisasi ini bukan sekadar tempat kita bekerja,
tapi tempat kita belajar mencintai dengan cara yang sederhana:
dengan waktu, dengan tenaga,
dengan seluruh diri yang kita berikan,
tanpa pernah benar-benar meminta balasan.

Kontradiksi

Oleh: Rosita

Janji lahir dari bibir yang manis,
Namun mati di pangkuan dusta.
Kau bicara tentang nurani,
Tapi hanya bualan yang tak seirama.

Kau datang membawa janji,
Serupa cahaya di ujung senja,
Hangat saat pandang pertama,
Namun perlahan padam tanpa suara.

Aku menanam harap di tanah yang retak,
Namun yang tumbuh hanyalah bayang-bayang.
Aku menunggu hangat di hati yang beku,
Tak ada yang berubah selain tipu.

Bunga pun layu di taman sanubari,
Disiram kata yang tak pernah berarti.
Keindahan tinggal kenangan sepi,
Hanya harum palsu yang tersisa di hati.

Salahku, menaruh asa pada manusia,
Yang pandai bersandiwara.
Setinggi cakrawala harap ini menjelma,
Namun jatuh, tenggelam di samudra luka.

Kini aku tahu,
Janji tak butuh banyak kata.
Ia hidup dalam tindakan,
Bukan sekedar ucap semata.

Hilang

Oleh: Chesia Afrian Siahaan

Kini langkah kaki ini terdiam

Tak tau akan bergerak kemana

Akhir yang selalu ada kini hilang

Tak ada lagi arah penuntun

Raga ini bimbang mencari tujuan

Tak ada lagi genggaman tangan padanya

Semua hilang tanpa isyarat dan pesan

Seolah-olah diri ini hanyalah angin lalu

Binar dan tatapan itu ternyata hanya ilusi

Antara terucap dan tak terucap

Senyum dan tawa itu juga hanya topeng

Untuk sebuah peran yang dibentuk

 Lantas arah apa yang harus dipilih?

Jalan dalam kesunyian yang ada

Atau memilih arah lain yang tak pasti

Aku?

Oleh: Royhan

Jangan cari aku di tengah kerumunan 

Karena aku tak pernah ada di sana 

Jangan cari tahu aku dengan menelusuri jejak

Karena aku akan selalu buntu

Aku tak pernah ada

Aku adalah kumpulan makna yang kau buat

Jasadku hanyalah perantara

Yang kau rindukan bukanlah aku

Yang kau rindukan adalah momen bersamaku

Jikalau seseorang dapat menggantikan itu

Nanti saat kematianku, kau kubur jasadku

Tetapi kau menangisi ku dan berkata aku telah pergi

Namun bukankah jasadku tergeletak lemas di tanah?

Lalu apakah aku pergi? Lalu apa yang kau tangiskan?

Aku?

Kala itu

Oleh: Sabrina Syifa Yogi

Disaat hujan membasahi pertiwi,
Dua sejoli bertatap dalam sunyi,
Istiqlal dan Katedral menjadi saksi,
Atas ikatan jiwa yang tengah terombang-ambing.

Tentang lanjut atau usai?
Tentang yang mencipta atau yang dicipta,
Tentang mengadah ataupun menggenggam,
Entahlah…

Rintik hujan membawa tanya,
Mengurai benang kusut di ruang imaji,
Terbawa alunan rasa yang lirih,
Tak juga tunjukkan arah pasti.

Takdir, bagai pelita dalam gelap,
Yang tergores di jejak- riak langkah hidup,
Apapun yang tertanda,
Namamu tetap terpatri di nadiku,
Tuan….

Tekad Menembus Jarak

Oleh: Annisa Zahi As Zahira

Kupijak jalan yang asing dan jauh,

Dengan sebuah tas penuh doa dari rumah.

Langit kota tak sesyahdu langit kampung,

Tapi mimpi membuatku terus melangkah.

Setiap malam, rindu mengetuk hati,

Teringat hangatnya peluk ibu.

Tapi air mata kubiarkan jatuh diam-diam,

Agar semangat tak ikut luruh.

Di balik letih yang tak selalu terlihat,

Ada tekad yang terus kugenggam kuat.

Karena aku tahu, perjuangan ini bukan sia-sia,

Ada masa depan yang sedang kucipta.

Biar jarak dan waktu membentang ribuan hari,

Aku percaya, semua ini akan berarti.

Dan ketika pulang nanti…

Aku ingin membawa bangga, bukan hanya hadir kembali.

Sedia Kecewa Sebelum Hujan

Oleh: Royhan

Tadinya kupikir hidup itu neraka

Lalu aku terbangun, ternyata aku di surga

Namun, tak berlangsung lama

kembali ku dirundung nestapa

Setelahnya, aku diangkat ke nirwana

Lalu dijatuhkan kembali ke samsara

Aduhai, begitu terus seterusnya

Ternyata hidup ini dusta

Tapi tak mengapa punya asa

Seperti gemuruh hujan tak berperasaan

Petirnya, kilat menjilat di angkasa

Manusia berprasangka akan siksa

Tapi, ternyata pelangi terbentuk di angkasa

Namun, ingat ia pun hanya sementara

Tak ada yang selamanya

Jadi, selayaknya pepatah lama

Sedia kecewa sebelum hujan

Hujan dan Tembalang

Oleh: Musa M. Ramadhan

Sore ini hujan, seperti kemarin
Untungnya hari ini tidak mati lampu
Ya, sore ini hujan

Aku terduduk, masih terpaku pada layar
Terbesit Ebiet yang bertanya pada rumput bergoyang
Tapi sayangnya aku sedang di kamar
Hanya ada jaring debu di sudut langit

Kian hujan menjadi asing bagi ku
Aku yang menari tawa dalam kasih tuhan
Kini ku meringkuk dalam diam