Gizi yang Baik untuk Indonesia yang Lebih Baik

Sumber: Google

Oleh: Olivia Gita

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2018 sebesar 71,39. IPM diukur berdasarkan rata-rata pencapaian dari tiga dimensi yang berkaitan dengan durasi dan kehidupan yang sehat, pengetahuan, dan standar kehidupan yang layak. Kualitas hidup masyarakat dipengaruhi oleh gizi masyarakat itu sendiri. Dilansir dalam Liputan6.com, angka stunting pada tahun 2019 turun menjadi 27,67 persen. Penurunan tersebut berdasarkan Prevalensi Data Stunting Tahun 2019 dari hasil riset studi status gizi balita di Indonesia. Penurunan angka stunting tahun 2019 cukup signifikan jika dibandingkan pada tahun 2018, yang angkanya mencapai 30,8 persen. Akan tetapi, angka tersebut masih tergolong cukup tinggi jika dibandingkan dengan ambang batas World Health Organization (WHO). Menurut WHO ambang batas stunting adalah sebesar 20%, yang mana angka stunting di Indonesia tahun 2019 sebesar 27, 67 persen. Meskipun penurunan angka stunting dari tahun ke tahun cukup signifikan, tapi pemerintah masih memiliki banyak tugas untuk memperbaiki permasalahan gizi yang ada di Indonesia.

Masalah gizi di Indonesia bukan hanya masalah stunting saja, melainkan overweight atau gizi lebih (obesitas) juga menjadi permasalahan yang cukup serius. Obesitas dapat mengancam kesehatan masyarakat. Obesitas merupakan kondisi abnormal atau kelebihan lemak yang serius dalam jaringan adiposa yang dapat menggangu kesehatan. Penyebab obesitas yang paling mendasar adalah ketidakseimbangan energi dan kalori yang dikonsumsi dengan jumlah yang dikeluarkan. Baik pada kelompok anak-anak, remaja, maupun dewasa, obesitas terus meningkat hampir satu persen setiap tahunnya. Apabila sejak kecil anak sudah terkena obesitas, maka mereka akan memiliki peluang obesitas yang lebih besar ketika mereka dewasa. Anak yang sejak kecil obesitas juga lebih rentan terkena penyakit tidak menular saat dewasa, seperti diabetes dan penyakit jantung. Selain itu, kelebihan lemak tubuh terutama di bagian tengah tubuh dapat menyebabkan penyusutan otak.

Gizi yang kurang maupun gizi yang berlebih itu tidak baik. Gizi yang kurang dapat menghambat proses pertumbuhan pada anak dan menyebabkan sejumlah masalah pada metabolisme tubuh. Sedangkan gizi yang berlebih dapat meningkatkan peluang penyakit berbahaya yang tidak menular pada anak ketika mereka dewasa dan menyebabkan penyusutan otak. Gizi yang baik adalah gizi yang jumlahnya tepat dan sesuai dengan kebutuhan. Segala sesuatu yang kurang maupun berlebih itu tidak baik dan dapat menimbulkan masalah, sehingga kita harus tepat dalam mengonsumsi asupan makanan dan minuman yang sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) kita.

Salah satu cara untuk melihat status gizi adalah dengan cara menghitung Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT adalah angka yang menjadi penilaian standar untuk menentukan apakah berat badan seseorang tergolong normal, kurang, berlebih, atau obesitas. Cara mengukur IMT adalah berat badan (kg) dibagi tinggi badan (m2). IMT yang normal untuk perempuan adalah antara 17-23, sedangkan untuk laki-laki adalah antara 18-25. IMT tidak hanya menggambarkan lemak tubuh saja, tetapi IMT juga menunjukkan massa otot. Seseorang yang kuat dan sehat adalah seseorang yang memiliki jumlah lemak tubuh, tulang, dan otot yang cukup.

Untuk mendapatkan gizi yang seimbang, kita dapat menggunakan panduan piring makan yaitu setengah dari piring makan terdiri dari sayur dan buah-buahan kurang lebih setinggi satu ruas jari dengan beragam jenis dan warna, seperempat dari piring makan diisi dengan protein setinggi satu ruas jari untuk protein hewani dan dua ruas jari untuk protein nabati. Sebaiknya kita membatasi konsumsi daging merah dan daging olahan, misalnya sosis. Seperempat dari piring makan dipenuhi dengan karbohidrat dari biji-bijian utuh, nasi, gandum utuh, atau pasta kurang lebih setinggi satu ruas jari. Sebaiknya kita memilih karbohidrat kompleks seperti gandum utuh, oat, kentang, ubi, dan nasi merah dibanding karbohidrat simpleks seperti roti dan nasi putih. Karbohidrat simpleks memiliki kandungan gula yang tinggi, sehingga kurang baik untuk kesehatan. Sedangkan karbihidrat kompleks identik dengan kandungan serat yang tinggi, yang baik untuk kesehatan.

Kita juga perlu melengkapi asupan makanan kita dengan lemak baik seperti alpukat, kacang almond, minyak zaitun, dan minyak kanola. Hindari lemak jenuh yang mengandung kolesterol tinggi. Selain itu, kita juga harus mengonsumsi air putih yang cukup dan membatasi susu dan produk turunannya. Konsumsi susu sebaiknya dibatasi 1-2 gelas per hari. Gizi yang tepat tentunya akan meningkatkan kesehatan masyarakat yang menunjukkan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Kita harus memperhatikan asupan gizi dan aktivitas fisik untuk meningkatkan kualitas kesehatan kita. Panduan piring makan dapat digunakan untuk dijadikan sebagai acuan porsi makan yang sehat dan sesuai dengan gizi yang tepat.

Gizi yang tepat bukan hanya dilihat dari jumlah dan jenis makanannya saja, melainkan juga dilihat dari proses pengolahannya juga. Apabila jumlah dan jenis makanannya sesuai tapi proses pengolahannya salah, justru dapat merusak kandungan gizi yang ada atau bahkan menyebabkan munculnya zat yang berbahaya, seperti membakar daging secara langsung dengan api besar hingga kehitaman dapat menghasilkan zat karsionogen yang dapat menyebabkan kanker. Sehingga kita juga perlu memperhatikan jumlah, jenis, dan proses pengolahan makanan yang kita konsumsi untuk mendapatkan gizi seimbang yang sesuai dengan kebutuhan. Tonggak kepemimpinan bangsa ini ada di tangan kita, maka dari itu kita harus memperhatikan gizi kita untuk meningkatkan kualitas kesehatan kita. Berawal dari piring, untuk bangsa!

Lestarikan Lingkungan, Sayangi Kehidupan

Oleh: Amadea Arum

Manusia perlu memahami bahwa lingkungan memiliki berbagai peran penting bagi makhluk hidup. Lingkungan berperan sebagai tempat tinggal, tempat untuk mencari makan, hingga tempat untuk berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Tidak hanya sebatas memahami peran yang dimiliki oleh lingkungan, manusia juga perlu memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Manusia harus memahami bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan ekosistem yang ada.

Saat ini, dunia sedang dihadapkan dengan berbagai permasalahan lingkungan yang memerlukan perhatian khusus. Permasalahan-permasalahan lingkungan yang timbul sudah cukup mengkhawatirkan. Dilansir dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terdapat rekor suhu terpanas dalam empat tahun terakhir, yakni tahun 2015-2019. Pemanasan global ini dapat menjadi lebih buruk jika emisi gas rumah kaca semakin bertambah. Kondisi iklim yang lama kelamaan dapat menjadi semakin buruk ini bisa mengancam kelangsungan hidup semua makhluk hidup.

Air, sebagai komponen lingkungan lainnya, juga turut mengalami pencemaran. Pencemaran yang terjadi pada air sebagian besar diakibatkan oleh aktivitas manusia, seperti pembuangan limbah rumah tangga, limbah pabrik yang tidak diolah terlebih dahulu, serta sampah yang sulit terurai ke dalam sungai dan dapat berujung pada laut. Jika pencemaran air semakin bertambah parah, maka seiring berjalannya waktu akan terjadi krisis air bersih. Selain krisis air bersih, kehidupan makhluk hidup akan terancam. Ekosistem sungai dan laut akan terganggu akibat zat berbahaya dan sampah yang mencemarinya. Hewan dan tumbuhan di dalamnya juga bisa mengalami kepunahan.

Permasalahan-permasalahan lingkungan ini harus diatasi dengan serius. Di sini manusia sangat berperan penting untuk memperbaiki alam. Manusia perlu menyadari bahwa setiap individu dapat berkontribusi dalam mengubah lingkungan alam menjadi lebih baik, bukan hanya para pemimimpin negara ataupun para pemilik industri saja. Setidaknya, hal utama yang dapat dilakukan oleh setiap individu adalah menjaga lingkungan dan tidak memperburuk kondisi yang telah ada. Upaya menjaga lingkungan dapat dilakukan dengan memulai hal yang sederhana, yakni hal-hal umum yang biasa dilakukan setiap hari oleh para individu.

Lalu, bagaimana cara sederhana untuk menjaga lingkungan? Pertama, kita bisa berupaya untuk mengurangi limbah rumah tangga. Salah satu limbah rumah tangga yang dapat memperburuk pencemaran air adalah limbah sabun deterjen. Untuk mengurangi dampak negatif dari limbah tersebut, kita dapat menggunakan detergen yang lebih ramah lingkungan atau biasa dikenal dengan istilah biodegradable detergent. Untuk mengurangi limbah rumah tangga juga kita bisa mencoba untuk mengganti penggunaan barang-barang berbahan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini sudah terdapat berbagai tas kain pengganti kantong kresek untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Selain itu, kebiasaan untuk menggunakan gelas dan sedotan plastik juga dapat diubah dengan mulai memakai botol minum dan sedotan reusable.

Kedua, untuk menghindari peningkatan pemanasan global kita dapat mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari kegiatan sehari-hari. Pemakaian lemari pendingin dan Air Conditioner dapat menghasilkan chlorofluorocarbon (CFC). Gas ini dapat berakibat pada menipisnya lapisan ozon. Kita bisa mengurangi pemakaian alat-alat tersebut guna mengurangi gas rumah kaca. Selain itu, menurut National Geographic Indonesia, penggunaan kendaraan pribadi juga dapat menimbulkan gas rumah kaca seperti karbon monooksida, karbon dioksida, dan beberapa senyawa lainnya. Oleh karenanya, kita dapat berupaya untuk mengurangi emisi tersebut dengan cara beralih dari penggunaan kendaraan pribadi menjadi kendaraan publik.

Ketiga, jika terdapat sampah plastik bekas, kita bisa belajar untuk melakukan daur ulang sampah tersebut. Sampah plastik bekas dapat diubah menjadi berbagai barang yang berguna serta bisa disulap menjadi hiasan. Tidak hanya berupaya untuk mengurangi pencemaran lingkungan, dengan melakukan daur ulang sampah plastik, kita juga dapat melatih serta meningkatkan kreativitas kita.

Pencemaran lingkungan tidak dapat diatasi jika kita tidak memulai perubahan dari diri kita sendiri. Kita perlu mengingat bahwa saat ini bumi membutuhkan peran yang nyata dari diri kita dalam menjaga serta melestarikan lingkungan. Kelestarian lingkungan tak hanya berdampak positif pada manusia, melainkan juga seluruh ekosistem yang ada di lingkungan. Kelestarian lingkungan tidak hanya demi kebaikan generasi masa kini, melainkan juga kebaikan generasi masa mendatang. Mari lestarikan lingkungan kita!