Kajian Kampung Hati Spesial “Pemuda Tangguh Tetap Kuat Walau Pandemi Menyerang”

Oleh: Diah dan Sulis

Rabu (28/10/2020) – Telah dilaksanakan webinar Mizan Activity 2020 Kajian Kampung Hati Spesial yang diselenggarakan oleh organisasi Mizan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro pada pukul 12.30 WIB melalui platform Zoom. Kajian online ini mengangkat tema “Pemuda Tangguh tetap Kuat Walau Pandemi Menyerang”. Acara ini dihadiri oleh Wakil Dekan yaitu Warsito Kawedar dan juga Ahmad Syakir Kurnia selaku pembina Mizan FEB Undip. Peserta yang hadir dalam platform Zoom ini tercatat 103 partisipan yang berasal dari berbagai daerah dan juga berasal dari luar Universitas Diponegoro salah satunya Universitas Negeri Yogyakarta. Dalam sambutan ketua Mizan FEB Undip, diharapkan para peserta kajian online ini dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat.

Acara ini dimulai dan dipandu oleh pembawa acara yaitu Sulhan Efendi dengan rangkaian yang pertama menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dilanjutkan tilawah oleh saudara Fakhri. Setelah itu, sambutan dari ketua panitia yaitu Disa I Tjokrowardjoyo, kemudian dilanjut oleh ketua Mizan yaitu Firdaus Azhardi. Tak lupa sambutan dari Ahmad Syakir Kurnia selaku pembina Mizan dan Warsito Kawedar selaku wakil dekan FEB juga membuka webinar kajian online ini. Setelah sambutan demi sambutan berlalu, beralih ke acara inti dengan pembicara Ustad Adi Darmawan yang merupakan dosen di Departemen Kimia Fakultas Sains dan Matematika serta dimoderatori oleh Yana sopiana Nurfarizat, mahasiswa Fakultas Sains dan Matematika.

Dalam acara inti, ustad Adi Darmawan menjelaskan pemuda yang beriman. Ustad Adi juga menjelaskan sifat yang terdapat pada pemuda yaitu dinamis, kuat dan idealis. Penjelasan tentang pemuda tersebut didasari pada surah Al Kahfi yang sering disebut ashabul kahfi. Ashabul kahfi ini adalah 7 pemuda beriman yang melarikan diri demi menjaga keimanannya kemudian tertidur di dalam goa selama 309 tahun. Pemuda yang memiliki motivasi akhirat dapat dikategorikan sebagai pemuda yang beriman. Motivasi akhirat itu adalah mementingkan akhirat daripada duniawi. “Sesungguhnya akhirat itu lebih kekal dan lebih abadi, ” kata Ustad Adi Darmawan. Ustad Adi juga menjelaskan surah an Nur yang mana yang beriman akan diberi petunjuk akan kebenaran.

Iman tergantung pada keteguhan masing-masing manusia. Diibaratkan, kita manusia seperti gelas yang terisi air. Ada gelas yang terisi hanya satu atau dua tetes, ada yang terisi air seperempat gelas, ada yang terisi air setengah gelas dan juga ada yang terisi air penuh satu gelas. Dari perumpamaan tersebut, iman terdapat pada setiap manusia hanya saja berbeda volume antara manusia satu dengan yang lain. Di akhir penjelasannya, beliau berpesan untuk memanfaatkan usia muda ini dengan amalan-amalan yang baik dan berkontribusi yang baik untuk negeri ini.

Sebelum acara berakhir, terdapat sesi tanya jawab yang mana peserta sangat antusias mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Ustad Adi Darmawan. Rangkaian acara demi acara telah selesai, kemudian pembawa acara menutup acara tersebut sekitar pukul 15.00 WIB.

Memaknai Sumpah Pemuda bagi Pelajar di Era Milenial

Oleh: Marsha

sumber: unsplash.com/@hobiindustri

Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan hari kedua dilaksanakannya kongres pemuda, sebagaimana menghasilkan beberapa keputusan yang menegaskan cita-cita akan “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”. Tiga janji tersebut merupakan salah satu tonggak sejarah bangsa Indonesia dalam mengawali kesadaran kebangsaan. Kemudian pada tahun-tahun berikutnya, setiap tanggal 28 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Tujuannya ialah untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah menyatukan bangsa dan menjadi pengingat bahwa sejatinya penduduk bangsa Indonesia adalah satu kesatuan, yaitu Indonesia.

Hari Sumpah Pemuda seharusnya dimaknai dengan khidmat oleh seluruh kalangan masyarakat Indonesia. Utamanya adalah para pelajar, yang merupakan wajah bangsa di masa depan. Namun, di era digitalisasi ini yang mana internet menjadi konsumsi sehari-hari bagi pelajar merupakan salah satu faktor yang menjadikan kurangnya pelajar dalam memaknai Sumpah Pemuda. Hal ini bisa saja terjadi karena ketidaktahuan mengenai bagaimana cara mereka dapat memaknai sumpah pemuda di zaman yang modern seperti ini. Tentu saja, dalam memaknai Sumpah Pemuda tidak hanya direnungkan, melainkan perlu adanya tindakan yang positif agar apa yang diperjuangkan dahulu dapat terus dipetahankan sampai nanti. Untuk itu, ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh pemuda atau pelajar milenial untuk memaknai Sumpah Pemuda, yaitu:

  1. Saling menghormati dan menghargai sesama
    Saat ini, isu toleransi menjadi topik hangat yang sering diperbincangkan baik di media sosial maupun dunia nyata. Banyak sekali kasus intoleransi yang masih terjadi di Indonesia. Namun juga banyak pasang mata yang peduli dan aktif menyuarakan toleransi. Sebagai pelajar yang cerdas, tentunya harus dapat menghormati dan menghargai orang lain. Hal ini bisa dimulai dari menghormati orang disekitar, orang yang berbeda jenis kelamin, orang yang berbeda agama, orang yang berbeda pemikiran, dan perbedaan-perbedaan lain yang sebenarnya merupakan sebuah kesatuan. Dengan menumbuhkan rasa saling menghormati, diharapkan dapat memupuk kembali rasa persatuan bangsa dan meminimalisir berbagai kejadian yang berpotensi memecah belah bangsa.
  2. Menggunakan produk dalam negeri
    Para pelajar yang tentunya lebih paham dan update mengenai produk-produk tertentu seperti fashion, elektronik, dan lainnya, seringkali lebih tertarik dan lebih sering menggunakan produk luar negeri. Mungkin masih banyak yang menganggap remeh produk buatan dalam negeri. Bisa jadi juga, karena produk dalam negeri dianggap memiliki kualitas yang kurang bagus dibanding produk luar negeri, ataupun karena faktor gengsi. Untuk itu, dalam memaknai Sumpah Pemuda, pelajar harus lebih menghargai dan lebih sering memakai produk dalam negeri guna meningkatkan rasa cinta terhadap tanah air. Selain meningkatkan rasa cinta tanah air, para pelajar juga dapat meningkatkan apresiasi terhadap UMKM sebagai penopang perekonomian masyarakat.
  3. Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar
    Di era sekarang, banyak dijumpai pelajar Indonesia yang lebih sering menggunakan bahasa-bahasa gaul ataupun bahasa asing untuk berkomunikasi sehari-hari. Sering juga ditemukan kesalahan-kesalahan dalam penulisan atau pengucapan kata dan kebingungan mengenai cara menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal ini merupakan keprihatinan yang mendalam mengingat bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi negara. Bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu yang harus dibanggakan dan jangan sampai disepelekan.
  4. Menyebarkan pesan positif
    Penggunaan media sosial merupakan hal yang sangat umum di era sekarang. Banyak pelajar dari sekolah dasar sampai mahasiswa yang sudah menggunakan media sosial. Tentunya media sosial diharapkan menjadi salah satu media bagi pelajar untuk menyebarkan pesan yang positif di mana saja dan kapan saja. Dengan menyebarkan pesan positif, akan menimbulkan dampak yang cukup besar bagi masyarakat. Hal ini sangat cocok untuk menyebarkan kembali semangat Sumpah Pemuda, yakni bertanah air satu, Indonesia.
  5. Mempelajari budaya yang ada di Indonesia
    Masa remaja merupakan masa dengan rasa keingintahuan sangat tinggi dan tahap untuk mencoba beberapa hal yang baru. Untuk itu, masa ini merupakan tahap yang tepat bagi pelajar untuk mempelajari budaya bangsa dan mengenal lebih jauh mengenai kebudayaan Indonesia. Terlebih dengan bermacam-macamnya kebudayaan yang dimiliki bangsa, menjadikan proses belajar budaya tidak membosankan dan lebih bervariasi.
  6. Menanamkan rasa bangga terhadap tanah air
    Cara lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan menanamkan dan menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap tanah air kepada para pelajar. Dengan banyaknya keberagaman budaya, kekayaan alam, keramahan masyarakatnya, dan prestasi para penduduknya, merupakan beberapa alasan kenapa pelajar harus cinta kepada Indonesia. Penanaman rasa bangga dan cinta kepada tanah air kepada pelajar merupakan hal yang vital, mengingat pelajar adalah harta negara yang harus dididik dengan benar agar selalu bisa memperjuangkan bangsanya.

Mengenal Potensi Diri melalui Webinar Explosion 2020

Oleh: Erva

Sabtu (24/10/2020) – Telah berlangsung Webinar Nasional Explosion yang diselenggarakan secara online melalui platform Zoom Meeting oleh Himpunan Mahasiswa Departemen Akuntansi (HMDA) atau yang biasa disebut Keluarga Mahasiswa Akuntansi (KMA) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip). Acara ini berlangsung selama dua hari yakni pada hari Sabtu 24 Oktober 2020 dan Minggu 25 Oktober 2020. Explosion 2020 mengusung tema “Heat up Your Passion Make it Into Motion”. Dalam seminar kali ini menghadirkan empat pembicara yaitu Iyas Lawrence (Founder & Host @maknatalks), Nadhifa Allya Tsana (Writer, Digital Creator, RINTIK SENDU), Sayed Muhammad (Founder & CEO of USS NETWORKS), dan Fitra Eri (Journalist, Car Review, Race Car Driver, OTODRIVER).

Acara ini diawali dengan pembukaan oleh MC, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Sakadewa Senajati selaku ketua pelaksana Explosion 2020, dilanjutkan oleh Hizkia Efraldo Saragih sebagai Ketua Umum HMDA FEB Undip, dan yang terakhir sambutan dari Kepala Departemen Akuntansi FEB Undip yakni Agung Juliarto. Selanjutnya adalah sesi pemaparan materi yang dipimpin oleh moderator untuk keempat pembicara. Explosion 2020 ini tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa Undip saja, melainkan dari berbagai kalangan di luar Undip yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai passion.

Pada sesi pertama dan kedua dilaksanakan pada Sabtu 24 Oktober 2020. Dalam sesi pertama ini dimoderatori oleh Anggi Rin yang merupakan founder @hersphere_ dan pembicara untuk sesi pertama yaitu Iyas Lawrence, founder & host dari @maknatalks. Pada sesi pertama ini memiliki kategori “Inspiring Talks in Personal” dan mengangkat tema “Life is’nt About Finding Yourself but Creating Yourself”. Iyas Lawrence memberikan tanggapan mengenai pentingnya jiwa kepemimpinan bagi setiap individu dan menjelaskan apresiasi bagi diri sendiri dalam menghadapi setiap fase kehidupan yang dijalani.

Kemudian pada sesi kedua dimoderatori oleh Herfin Angelina, penerima Beswan Djarum Plus 2020, dan pembicara dalam sesi kedua yaitu Nadhifa Allya Tsana, seorang penulis dan digital creator. Pada sesi kedua berkategori “Visualizing Passion in The Middle of Disruption Era” dan bertema “Passion as an Intense, Powerful Devotion and Interest in Something”, Nadhifa Allya Tsana atau yang biasa disapa Tsana ini memberikan cerita atas upaya bagaimana dirinya tetap dapat berkarya di tengah kondisi new normal dan bagaimana cara untuk menemukan peluang atau kegiatan baru pada saat terkendala pandemi ini dan memberikan gambaran secara luas mengenai kekurangan dan kelebihan bekerja sesuai passion diri serta memberikan arahan dalam memanfaatkan segala bentuk opportunity untuk proses meningkatkan kualitas diri (self-improvements) untuk mendukung pengembangan passion yang dimiliki para generasi muda.

Pada sesi ketiga dan keempat dilaksanakan pada Minggu 25 Oktober 2020. Dalam sesi ketiga, pembicaranya adalah Sayed Muhammad, founder & CEO dari USS Networks, dan dimoderatori oleh M. Irham Abdurahman, co founder dari Kost Clink. Sesi ketiga mengangkat tema “What is the most powerful ability for facing this era ?” dan berkategori “Entrepreneur”. Dalam sesi tersebut Sayed menjelaskan pengalamannya dalam memulai bisnis dan membangun USS Networks. Sayed juga berbagi kiat-kiat dalam berbisnis seperti bagaimana cara memilih partner, perlunya passion dalam berbisnis, dan jangan takut untuk gagal. Sayed juga berpesan selagi masih muda cobalah segala hal yang untuk menghabiskan kegagalan di saat muda.

Kemudian sesi terakhir diisi oleh Fitra Eri, yang seorang jurnalis, car review, dan pembalap. Sesi ini dimoderatori oleh Rivaldo Gere Gurky, partner at share & global representative for Indonesia. Pada sesi terakhir ini mengangkat tema “Finding your true life passion to reach self-actualization” dalam kategori “Live Your Passion”. Dalam kesempatan tersebut, Fitra Eri memaparkan bagaimana ketertarikannya dalam dunia otomotif. Kemudian Fitra juga menceritakan awal mula pengalamannya masuk ke dalam dunia racing hingga memenangkan kompetisi di Malaysia. Selain itu, Fitra juga menjelaskan awal mulanya terjun dalam dunia jurnalis yang menulis seputar otomotif.

Sebelum pemaparan materi di setiap sesinya, moderator akan mengadakan sesi interaktif yang berjudul fakta atau bukan. Jadi, setiap pembicara harus memilih fakta atau bukan dari pernyataan yang diajukan oleh moderator. Setelah pemaparan materi dilanjutkan sesi tanya jawab oleh peserta seminar kemudian dilanjutkan mini quiz di setiap sesinya.

Mengenal Potensi Industri Halal Indonesia melalui Seminar Internasional SEHATI 11

Oleh: Salma Vaza

Sabtu (24/10/2020) – Telah berlangsung International Webinar Sharia Economic Activity (SEHATI) 11 yang diselenggarakan secara online melalui platform Zoom Meeting dan live Youtube oleh Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip). Acara tersebut mengusung tema “Reconstruction of The Halal Industry Towards Indonesia as The Center for Global Islamic Economics”. Dalam penyelenggaraannya, seminar ini menghadirkan tiga pembicara Dr. Irfan Syauqi Beik (Director of Distribution and Empowerment, BAZNAS), Dato’ Prof. Dr. Sudin Haron (President & Chief Executive Officer of Kuala Lumpur Business School), dan Dr. Sutan Emir Hidayat (Director of Islamic Economy Supporting Ecosystem, KNEKS).

Acara ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Rizka Aulia selaku ketua panitia SEHATI 11, dilanjutkan oleh Syarieful Khuluq sebagai ketua KSEI FEB Undip, kemudian disambung oleh Firmansyah selaku Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan FEB Undip. Selanjutnya, terdapat sesi pemaparan materi yang dipimpin oleh moderator untuk tiga pembicara. Seminar internasional ini dihadiri oleh berbagai kalangan baik mahasiswa hingga umum. Jadi, peserta tidak sebatas lingkup Undip saja, melainkan dari berbagai kalangan yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai industri halal di Indonesia.

Acara inti dimulai oleh moderator yaitu Prof. Dra. Indah Susilowati M.Sc., Ph.D. selaku dosen Universitas Diponegoro. Sebagai pembawa materi pertama, Dr. Irfan Syauqi Beik menyampaikan mengenai “Optimalisasi Zakat dalam Pengembangan Industri Halal”. Indonesia berpotensi sebagai pusat ekonomi syariah dunia karena Indonesia memiliki pangsa pasar makanan halal sebesar 13% pada tahun 2018. Pada 2020 Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memiliki target zakat sebesar 12,48 triliun. Adapun peran BAZNAS dalam industri halal diantaranya mendorong sertifikasi halal, melaksanakan industri halal secara berkelanjutan dan mengembangkan pasarhalal.com.

Pemateri kedua yakni Dr. Sutan Emir Hidayat, yang membahas mengenai potensi Indonesia sebagai pusat industri halal terutama saat pandemi. Dalam pemaparan materi, Dr. Sutan Emir Hidayat menyebutkan beberapa sector yang mengalami peningkatan seperti penggunaan aplikasi digital berbasis “halal lifestyle”,online learning, serta peningkatan zakat, infaq, shadaqah (ZISWAF). Peran pemerintah dalam revitalisasi industri halal saat new normal dibutuhkan untuk mengantisipasi adanya goncangan perekonomian saat pandemi.

Pemateri terakhir adalah Dato’ Prof. Dr. Sudin Haron. Pada materi ini, pembahasan mengenai industri halal di Indonesia sangat ditekankan, seperti regulasi peraturan halal, jenis-jenis industri halal, hingga pengembangan sumber daya manusia agar industri halal semakin berkembang di Indonesia.

Setiap sesi pemaparan materi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh peserta seminar dan dijawab oleh pembicara. Diakhir acara diumumkan tiga pemenang Twibbon Challenge. Nantinya akan diadakan Awarding Night pada Sabtu (24/10/2020) malam hari sebagai penutup dari rangkaian acara SEHATI 11. Dalam Awarding Night juga diumumkan pemenang lomba Islamic Economic Olympiad (IEO) dan Sharia Paper Competition (SPACE).

DESIGN 2020 : Strategi Rekonstruksi Ekonomi-Sosial Indonesia Pasca Pandemi Covid-19

Oleh: Susan dan Indah

Sabtu (17/10/2020) – Telah berlangsung Seminar Nasional DESIGN (Diponegoro Economics Social General Discussion) 2020 yang diselenggarakan secara online melalui platform Zoom Meeting oleh Kelompok Studi Masalah Ekonomi dan Sosial (KESMES) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip). Acara tersebut mengusung judul “Strategi Rekonstruksi Ekonomi-Sosial Indonesia Pasca Pandemi Covid-19”. Dalam penyelenggaraannya , menghadirkan tiga pembicara, diantaranya yaitu Drs. Pitoyo Tri Susanto, M. Si. (Kepala Bidang Perencanaan Perekonomian Kota Semarang), Esther Sri Astuti Soeryaningrum Agustin, S. E., M.S.E., Ph.D (Program Director INDEF), dan Sherly Annavita Rahmi (Motivator and Millenial Influencer).

Acara ini dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh peserta yang hadir, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Firmansyah selaku Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan FEB Undip, dilanjutkan oleh Fa’iq Fari sebagai Ketua KESMES 2020, kemudian disambung oleh Okki Alfianto sebagai Ketua DESIGN 2020. Lalu, masuk sesi pemaparan yang dipimpin oleh modetor untuk tiga pembicara. Diakhiri dengan sesi tanya jawab, pengumuman pemenang lomba (esai, presentasi, dan diskusi), dan penutup.
Seminar nasional ini diikuti oleh berbagai kalangan baik dari mahasiswa maupun non mahasiwa. Jadi, peserta tidak hanya sebatas lingkup Undip saja, melainkan dari berbagi bidang yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai keadaan ekonomi pasca pandemi.

Saat memasuki acara inti, dimulai oleh moderator yang memimpin acara, yaitu Yunita Sekarningtyas selaku mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Sebelas Maret. Esther Sri Astuti Soeryaningrum Agustin, S. E., M.S.E., Ph.D (Program Director INDEF) perwakilan dari akademisi, menyampaikan mengenai Strategi Pasca Pandemi. Beliau membiacarakan bagaimana adanya peningkatan kemiskinan akibat Covid-19, kemudian UMKM yang banyak mengalami masalah, serta upaya dalam mengatasi berbagai permasalahan tersebut.

Kemudian, dilanjutkan oleh pembicara kedua yaitu Drs. Pitoyo Tri Susanto, M. Si. (Kepala Bidang Perencanaan Perekonomian Kota Semarang). Beliau membicarakan mengenai strategi pasca pandemi dari sisi pemerintahan. Menurut beliau, kondisi saat ini masih berada di masa yang sulit, sebagaimana pada sisi kesehatan masih bagian dari pemerintah dan disisi lain ada bidang ekonomi yang juga bagian pemerintah. Pemerintah Semarang sendiri mulai meluncurkan Kredit Wibawa, merupakan bantuan bergulir dari dana APBD.

Setelah selesai oleh pembicara kedua, dilanjutkan oleh pembicara ketiga bersama Sherly Annavita Rahmi (Motivator and Millennial Influencer). Pada sesi ini akan membahas secara lebih kekinian dari pandangan millennial. Beliau membicarakan bahwa dari setiap kondisi sulit pasti akan memunculkan sosok baru yakni pemenang dari peristiwa tersebut. Bagimana peran pemuda ke depannya, terutama saat Indonesia memasuki usia satu abad pada 2045. Dalam sesi ketiga ini, pembicara melakukannya lebih santai, sehingga menarik bagi mahasiswa untuk lebih paham bagaimana peran mereka bagi Indonesia terutama saat Covid-19 seperti ini.

Ditegaskan pula oleh Sherly bahwa kaum milenial memegang peranan penting baik di masa krisis pandemi Covid-19 ini maupun di masa yang akan datang. Sangat perlu bagi generasi bangsa Indonesia untuk terus berproses untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan semakin baik ke depannya. Baik pun belum tentu cukup, perlu usaha untuk menuju tahap excellent yang mana di tahap itu setiap generasi bisa menjadi insan yang bermanfaat bagi orang lain di sekitarnya.

Dari setiap sesi akan dilanjutkan secara langsung dengan sesi tanya jawab oleh para peserta seminar. Dan pada sesi terakhir akan diumumkan pemenang lomba Kenesian, yang diperoleh oleh perwakilan dari Universitas Negeri Yogyakarta sebagai juara pertama, Institut Teknologi Bandung sebagai juara kedua, dan Universitas Negeri Surabaya selaku juara tiga, serta sesi penutup.

Perlunya Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh: Mila Sri Utami

Hampir memasuki satu tahun, virus Corona atau Covid-19 melanda ke berbagai negara di dunia salah satunya Indonesia. Adanya virus tersebut mengakibatkan seluruh aktivitas masyarakat mengalami dampak yang cukup besar akibat dari Covid-19. Selama pandemi Covid-19 terdapat sejumlah kebijakan yang perlu ditaati seperti karantina di rumah, Work From Home (WFH) dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sebagaimana kebijakan tersebut berakibat pada beberapa sektor, diantaranya seperti sektor pariwisata mengalami penurunan jumlah wisatawan yang cukup signifikan. Hal tersebut dikarenakan apabila melakukan kegiatan pariwisata dapat berpotensi dalam penularan Covid-19, sehingga masyarakat lebih memilih untuk menunda kegiatan tersebut. Selain itu, pada sektor ekonomi terdapat beberapa perusahaan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan merumahkan para pegawainya, karena perusahaan mengalami penurunan penjualan. Lalu, di sektor pendidikan para tenaga pendidik wajib melakukan metode pembelajaran jarak jauh secara online kepada para mahasiswa maupun para siswa. Adanya metode pembelajaran jarak jauh secara online menyebabkan para siswa mengeluh, karena jumlah tugas yang diberikan lebih banyak dibandingkan pembelajaran secara langsung di sekolah dan terdapat gangguan jaringan koneksi internet selama pembelajaran secara online. Beberapa hambatan tersebut menyebabkan beban pada diri kita sendiri yang berakibat depresi, kecemasan, dan rasa takut serta khawatir. Sehingga di saat seperti sekarang tidak hanya kesehatan fisik saja yang perlu diperhatikan, tetapi kesehatan mental juga perlu mendapat perhatian tersendiri.

Di kala pandemi seperti sekarang ini, perasaan cemas, kesepian, maupun rasa takut menjadi meningkat seiring dengan Covid-19 yang semakin ganas. Dikutip dari survei yang dilakukan oleh Tirto.id, dari 1.522 responden terdapat 64,3 persen yang mengalami masalah psikologis, masalah psikologis yang meningkat dari hasil survei tersebut adalah kecemasan. Kecemasan yang timbul selama pandemi Covid-19 diawali dengan gejala seperti merasakan akan terjadi sesuatu yang buruk, mudah marah dan jengkel, serta sulit untuk relaks. Selain itu, perasaan kesepian juga timbul selama melakukan karantina mandiri. Sedangkan perasaan takut, muncul diakibatkan ketakutan akan potensi kehilangan pekerjaan, takut akan infeksi, maupun takut kehilangan orang terdekat. Sehingga, dukungan secara psikologis di masa-masa pandemi ini sangat dibutuhkan.

Tekanan Emosional Selama Pandemi Covid-19

Covid-19 mengakibatkan tekanan terhadap mental seseorang semakin terpuruk. Contohnya, beberapa orang merasa cemas akibat dari dirumahkan-nya pegawai maupun PHK yang diakukan oleh beberapa perusahaan. Selain itu, kecemasan juga kerap dirasakan oleh beberapa individu karena semakin meningkatnya jumlah orang yang terpapar Covid-19 di Indonesia. Akibat dari kecemasan yang dirasakan oleh sebagian besar orang menyebabkan bertambahnya gangguan tekanan emosional. Bentuk-bentuk gangguan tekanan emosional tersebut seperti perubahan pada pola tidur dan makan, emosi yang tidak stabil, menderita stress dan bosan selama karantina, dan gangguan tekanan emosional berimbas juga pada kesehatan fisik seperti sakit kepala yang berkepanjangan karena beban tekanan emosional. Sehingga, tekanan emosional akibat dampak dari Covid-19 tidak dapat dipandang sebelah mata dan perlu mendapat perhatian.

Perlunya Menjaga Komunikasi

Komunikasi memiliki peran penting dalam memberi dukungan psikologis selama keadaan yang tidak menentu seperti sekarang. Dilansir dari Alodokter.com, meluangkan waktu untuk bercerita mengenai rasa khawatir dan takut yang dirasakan kepada orang tua, sahabat, teman, dan kerabat berdampak pada berkurangnya beban yang dirasakan. Dikala pandemi seperti sekarang sangat sulit untuk bertemu dengan kerabat dari luar kota bahkan, untuk bertemu teman yang masih ada di suatu kota terlihat sulit dikarenakan melonjaknya kasus Covid-19 di setiap daerah di Indonesia. Oleh karena itu, selama pandemi masih berlangsung, dukungan psikologis sangat diperlukan melalui komunikasi memberi dukungan satu sama lain. Meluangkan waktu untuk bercerita mengenai hal-hal yang menimbulkan rasa khawatir dan takut, sehingga tekanan emosional yang dipendam selama ini dapat berkurang. Maka dari itu, menjaga komunikasi dengan orang-orang terdekat sangat diperlukan.

Kiat-Kiat Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi

Di saat pandemi seperti sekarang, banyak masalah dari berbagai aspek mulai menghantui berbagai elemen masyarakat. Tidak jarang, banyak dari mereka mengalami tekanan mental dan kondisi yang tidak stabil. Perlunya menjaga kesehatan fisik memang sudah banyak orang ketahui, tetapi kesehatan mental juga perlu mendapat perhatian tersendiri karena kondisi mental seseorang juga dapat mempengaruhi kondisi fisik yang dialami setiap individu. Di kala keadaan yang semakin tidak menentu perasaan takut dan khawatir akan semakin meningkatnya seiring naiknya jumlah kasus per hari akibat Covid-19.

Perasaan takut dan khawatir akan kondisi pendemi seperti sekarang ini, mengharuskan setiap orang menjaga kesehatan pada diri sendiri, terlebih kesehatan mental yang masih dianggap remeh oleh sebagian besar orang Indonesia. Selain itu, berdasarkan sumber Tempo.co, kekebalan tubuh setiap orang dipengaruhi oleh seberapa besar kepedulian mereka terhadap kesehatan fisik maupun mental. Karena itu, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan setiap orang dalam menjaga kesehatan mental mereka dikala pandemic Covid-19 yang semakin menggegerkan. Seperti menjaga komunikasi dengan kerabat terdekat, melakukan olahraga yang dapat dilakukan di rumah maupun aktivitas fisik lainnya, serta lebih bijak dalam memilih informasi karena berita yang tidak diketahui kebenarannya dapat menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi para penikmatnya. Sehingga dengan menjaga kesehatan mental diharapkan kekebalan tubuh juga meningkat di kala situasi yang semakin tidak terkendali.

Hidup sebagai Penyintas Gangguan Kesehatan Mental di Indonesia

Oleh: Kurnia Wulandari

dok. pixabay

Dalam UU Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Dalam UU yang sama, terdapat definisi ODMK dan ODGJ. Apa itu? Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa. Sedangkan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODG) adalah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia.

Kesehatan mental atau jiwa di masa lalu masih dianggap tabu oleh masyarakat dan banyak stigma yang melekat pada para penyintas mental illness. Di Indonesia sendiri, beberapa penanganan terhadap penyintas mental illness masih belum matang. Beruntunglah, kini sedikit demi sedikit, masyarakat Indonesia mulai sadar akan pentingnya kesehatan mental bagi kehidupan mereka, terutama di kalangan kawula muda. Namun, bagi generasi yang lebih tua, mereka masih belum sepenuhnya paham mengenai pentingnya kesehatan mental ini.

Pemicu Timbulnya Gangguan Kesehatan Mental (Mentall Illness)

Gangguan kesehatan mental adalah kondisi individu yang memiliki gejala-gejala gangguan kejiwaan. Terdapat tiga kategori penyebab gangguan kesehatan mental, yaitu faktor somatogenik, psikogenik, dan sosiogenik.

Faktor somatogenik yang terdiri dari neroanatomi, nerofisiologi, nerokimia, tingkat kematangan dan perkembangan organik, dan faktor-faktor pre dan perinatal. Faktor psikogenik meliputi interaksi ibu-anak yang tidak abnormal seperti tidak adanya rasa percaya, peranan ayah, sibling rivaly, intelegensi, hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat, kehilangan yang menyebabkan kecemasan, depresi, rasa malu atau salah, pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya, dan tingkat perkembangan emosi. Faktor sosiogenik yang di dalamnya terdapat kestabilan keluarga, pola mengasuh anak, keluarga dengan ekspresi emosi tinggi atau rendah, tingkat pendapatan atau ekonomi, tempat tinggal, masalah kelompok minoritas yang berprasangka, fasilitas kesehatan, pendidikan, serta kesejahteraan yang tidak memadai, pengaruh rasial dan keagamaan, dan nilai-nilai yang dijadikan pedoman.

Stigma Masyarakat dan Pentingnya Edukasi Kesehatan Mental

Stigma dalam KBBI berarti ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Stigma berdampak buruk terhadap penyintas mental illness karena mereka sedang berjuang melawan dan berusaha sembuh dari penyakitnya, tetapi juga mendapatkan labelling negatif dari masyarakat. Mereka yang tak paham, sering kali menganggap sepele mental illness. Tak ayal, perkataan seperti, “kamu kurang ibadah” atau “kamu saja yang terlalu sensitif” justru membuat para penyintas takut untuk bersuara, takut untuk terbuka terhadap publik apa yang mereka rasakan. Padahal, mereka justru lebih membutuhkan perhatian dan perlu tempat untuk didengarkan keluh kesahnya, dan juga butuh dukungan agar ia lekas sembuh.

Salah satu cara untuk mengatasi stigma ini adalah dengan cara edukasi. Kini, telah banyak kampanye mengenai pentingnya kesehatan mental, terutama di media sosial. Menurut Hartini, dkk (2018), merekomendasikan sebuah pendekatan psikososial untuk menguragi stigma masyarakat terhadap pasien gangguan kesehatan mental, salah satunya dengan meningkatkan literasi mengenai kesehatan mental. Literasi kesehatan mental penting dilakukan karena kurang pengenalan terhadap gejala gangguan mental, adanya kesenjangan antara keyakinan publik dan profesional terhadap penanganan gangguan mental, stigma,dan rendahnya kemampuan dalam keterampilan merespon orang lain dengan gejala gangguan atau krisis mental dan kekeliruan dalam mencari bantuan untuk penanganan gangguan mental (Jorm et al., 2006).

Jorm (2000) memperkenalkan istilah “literasi kesehatan mental” dan mendefinisikannya sebagai pengetahuan dan keyakinan mengenai gangguan mental yang membantu pengenalan, manajemen, atau prevensi. Berdasarkan definisi sebelumnya dan pengembangan konstrak literasi kesehatan mental dalam berbagai penelitian, saat ini literasi kesehatan mental didefinisikan sebagai: (a) pemahaman cara memeroleh dan menjaga kesehatan mental positif; (b) pemahaman gangguan mental dan penanganannya; (c) pengurangan stigma terkait gangguan mental; dan (d) meningkatkan efikasi pencarian pertolongan (mengetahui kapan dan di mana mencari pertolongan dan mengembangkan kompetensi untuk meningkatkan perawatan kesehatan mental seseorang dan kemampuan manajemen diri) (Kutcher, Wei, & Coniglio, 2016).

Internet dan Bahaya Self-Diagnose

Meningkatnya literasi kesehatan mental baik untuk mengurangi stigma masyarakat, tetapi kemudian hal ini menimbulkan masalah baru. Informasi mengenai kesehatan mental kini mudah diakses di internet seperti gejala dan ciri-cirinya. Dengan menemukan informasi yang mereka inginkan di internet, mereka merasa tidak perlu mendatangi ke tenaga profesional untuk penanganan lebih lanjut. Belum lagi jika kredibilitas informasi yang didapat masih perlu dipertanyakan, ditakutkan pula dapat terjadi salah tafsir terhadap informasi tersebut. Kesalahan diagnosis dapat membahayakan jiwa seseorang, oleh karena itu diagnosa profesional lebih valid dibandingkan dengan informasi yang tersedia di internet.

Seorang juru bicara dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS memperingatkan, “Mencoba mendapatkan informasi dari internet seperti minum dari pemadam kebakaran, dan Anda bahkan tidak tahu apa sumber airnya.” Bagaimanapun, internet dapat terlibat dalam “validasi dari gangguan kejiwaan serius sebagai hal yang normal.’” Salah satu hal yang menarik perhatian adalah dalam mencari informasi dalam internet mungkin tidak memahami informasi yang disajikan kepada mereka itu benar atau tidak dan mencoba perawatan yang mungkin membahayakan mereka, daripada mengunjungi pemberi perawatan utama (Cline & Haynes, 2001).

Sumber Referensi:

Gass, M. A. (2016). Risks and Benefits of Self-Diagnosis Using the Internet.

Hebben, L. (2019). # mentalhealth: The effect of influencer messages on burnout self-diagnosis and the intention to act (Master’s thesis, University of Twente).

Novianty, A. (2017). Literasi Kesehatan Mental: Pengetahuan dan Persepsi Publik mengenai Gangguan Mental Literacy of Mental Health: Knowledge and Public Perception of Mental Disorders.

Putri, A. W., Wibhawa, B., & Gutama, A. S. (2015). Kesehatan mental masyarakat Indonesia (pengetahuan, dan keterbukaan masyarakat terhadap gangguan kesehatan mental). Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 2(2).

Republik Indonesia (2014). Undang–Undang No 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa. Jakarta: Kesekretariatan Negara.

Mahasiswa Undip Lakukan Konsolidasi untuk Aksi Tolak UU Cipta Kerja

Oleh: Fitri dan Rijal

Selasa (06/10/2020) — Telah dilaksanakan Konsolidasi Undip Raya:  Tolak RUU Cipta Kerja oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Diponegoro (BEM Undip). Konsolidasi yang awalnya dijadwalkan dimulai pukul 19.30 WIB, dimundurkan hingga satu jam dikarenakan kendala teknis yang dialami oleh panitia. Melalui aplikasi Zoom, acara ini dihadiri sekitar kurang lebih 500 partisipan dari berbagai fakultas yang ada di Undip. Selain di platform Zoom, acara ini ditayangkan secara live streaming pada channel YouTube BEM Undip dan sempat menyentuh angka 1.500 penonton. Selain itu, acara ini dihadiri langsung oleh ketua BEM Undip tahun 2020 yakni Razin Hilmy Baihaqi.

Konsolidasi dibuka oleh Alimullah dari Fakultas Teknik selaku moderator dengan pembacaan rules bagi para partisipan di zoom serta penjelasan mengenai gambaran saat ini mengenai RUU Cipta Kerja yang sudah disahkan menjadi UU Cipta Kerja oleh DPR pada 5 Oktober lalu. Dilanjutkan dengan penjelasan oleh Hilmy selaku ketua BEM Undip mengenai gambaran yang terjadi di lapangan. Pertama bahwa telah disahkannya UU Cipta Kerja yang mana terdapat 6 fraksi yang setuju, 1 fraksi yang setuju dengan syarat, dan 2 fraksi menyatakan tidak setuju. Lalu, yang kedua akan ada aksi mahasiswa bersama buruh atas nama aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (Geram) di Semarang. Aksi tersebut dimulai pukul 10.00 WIB yang diawali di Pelabuhan Tanjung Mas hingga titik akhirnya berada di Kantor Gubernur Jawa Tengah. Selanjutnya yang ketiga adalah sudah dilaksanakan konferensi pers aliansi Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak) melalui Zoom pada tanggal 4 Oktober yang berpusat di Jakarta. Inti bahasan dari konferensi pers Gebark tersebut adalah tanggal 6, 7, dan 8 Oktober akan ada pemogokan kerja yang dilakukan oleh semua buruh di Indonesia, serta tanggal 8 Oktober akan ada aksi nasional Gebrak di Istana/DPR yang masih dirumuskan.

Diskusi Terkait Teknis Pelaksanaan Aksi

Konsolidasi lalu dilanjutkan dengan diskusi mengenai tuntutan dan kajian yang akan disampaikan pada aksi mahasiswa dan Geram pada 7 Oktober nanti. Akan tetapi, banyak yang berpendapat bahwa lebih baik untuk langsung membahas mengenai teknis aksi yang akan dilakukan keesokan harinya karena konsolidasi ini bukan waktunya mengkaji lagi dan berbagai kajian UU Cipta Kerja sudah bertebaran di mana-mana. Hilmy juga menyampaikan bahwa selain aksi offline, juga terdapat aksi online yang dilakukan dengan mengangkat hashtag #BatalkanOmnibusLaw #JegalSampaiBatal #DiponegoroBergerak pada caption dan ditambahkan beberapa tuntutan seperti menolak omnibus law dan mendesak presiden membuat perpu untuk membatalkan omnibus law.

Diskusi mengenai teknis aksi offline cukup panjang mengingat banyaknya yang harus dipersiapkan mulai dari koordinator fakultas, titik kumpul, jam kumpul, dan lain-lain. Ditambah pula saat ini masih terjadi pandemi Covid-19 yang mana protokol kesehatan juga tetap harus dilaksanakan.

Penjelasan yang keempat oleh Hilmy adalah tanggal 5 Oktober sudah dilaksanakan secara bersamaan konsolidasi Geram dan konsolidasi BEM seluruh Indonesia. “Nah, tentu Undip sebagai salah satu Universitas terbesar di Jawa Tengah maupun di skala nasional perlu segera menurut saya pernyataan sikap poin-poin tuntutan, kemudian kejelasan apakah besok kita akan ikut aksinya. Tentu saya mengajak kawan-kawan untuk merumuskan itu secara saksama karena memang kawan-kawan buruh di Jawa Tengah dengan atas nama aliansi Geram sangat menunggu partisipasi dari kawan-kawan untuk ikut aksi turun ke jalan besok untuk terus merapatkan barisan,” ungkap Hilmy.

Hasil Konsolidasi

Aksi online disepakati bahwa akan ada konten yang diangkat pada tanggal 7 dan 8 Oktober pukul 18.00-22.00 WIB dengan beberapa tagar yang telah ditentukan, yang dikoordinasikan langsung oleh Sospol Undip dan fakultas masing-masing. Dalam konsolidasi tersebut disepakati bersama bahwa untuk aksi offline membersamai aliansi Geram akan dilaksanakan di Kantor Gubernur Jawa Tengah pada tanggal 7 Oktober pukul 09.00 WIB dengan titik kumpul mahasiswa ada di Student Center.

Melalui unggahan BEM Undip pada instagram, adapun beberapa protokol kesehatan yang harus dipatuhi saat melakukan aksi pada hari ini nanti, yakni diantaranya:

  1. Menggunakan baju lengan panjang dan almamater. Menimalisiskan bersentuhan.
  2. Memakai masker dengan benar (menutup hidung dan mulut) selama aksi berlangsung. Membawa masker pengganti, karena maksimal penggunaan masker kain hanya 4 jam.
  3. Memakai sepatu bertutup.
  4. Usahakan menggunakan sarung tangan.
  5. Wajib membawa handsanitizer.
  6. Menerapkan Physical Distancing minimal 2 meter dan saling mengingatkan.
  7. Setelah aksi, tidak mampir ke tempat lain. Langsung kembali ke tempat tinggal masing-masing, kemudian membersihkan baju dan mencuci pakaian yang digunakan saat aksi.
  8. Diusahakan mengisolasi diri setelah aksi.