Karhutla Kalimantan: Antara Musibah Alam dan Kelalaian Struktural

Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali membumihanguskan kawasan Kalimantan. Kebakaran ini terjadi secara intensif sepanjang Agustus 2026 dan mengalami lonjakan signifikan pada 19 Agustus 2026. Kawasan terdampak diselimuti kabut asap pekat dan beracun yang mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat. Sejauh ini kebakaran menghanguskan 1.511,55 hektare yang tersebar di seluruh wilayah Kalimantan. Berdasarkan pemantauan Satelit NOAA-20 hingga 20 Agustus 2026, terdapat sekitar 1.487 titik panas (hotspot). 

Terbakarnya hutan dan lahan di Kalimantan bukanlah bencana baru, melainkan fenomena repetitif tahunan. Data Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI) mencatat bahwa pada 1982–1983, karhutla membumihanguskan 3,2 juta hektare lahan dan memicu kerugian ekonomi hingga US$9 miliar. Siklus destruktif ini terus berulang pada 1997–1998, 2006, 2015, hingga 2019.

Pemicu karhutla merupakan kombinasi antara faktor alamiah dan aktivitas manusia (antropogenik). Pada 2026, ancaman iklim ekstrem El Niño Godzilla diperkirakan memicu kenaikan risiko karhutla. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena El Niño menyedot Tinggi Muka Air (TMA) tanah gambut di Kalimantan dari kedalaman normal 40 cm menjadi 90 cm di bawah permukaan. Akibatnya, lahan gambut mengering drastis dan sangat rentan terbakar walau hanya tersulut percikan api kecil. 

Namun, hasil studi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2025 yang dirilis BNPB menegaskan bahwa praktik pembukaan lahan dengan cara membakar (slash-and-burn) tetap menjadi pemicu utama kemunculan titik api saat musim kemarau. Metode ini masih dianggap lebih efisien dari segi biaya dan waktu dibandingkan pembersihan mekanis menggunakan alat berat. Praktik ini marak ditemukan di Kalimantan Barat, di mana kepolisian telah menangani setidaknya 11 kasus tindak pidana karhutla sepanjang 2026. 

Di sisi lain, penegakan hukum dan pengawasan tata kelola lahan masih lemah. Celah hukum pada Pasal 69 ayat (2) UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang mengecualikan larangan membakar lahan maksimal 2 hektare atas dasar kearifan lokal, sering disalahgunakan oleh oknum pembuka lahan liar. Koordinator Kampanye Walhi Nasional, Uli Arta Siagian, menegaskan bahwa pengecualian tersebut sejatinya merupakan bentuk pengakuan negara terhadap praktik dan pengetahuan tradisional masyarakat adat dalam berproduksi, bukan untuk pemutihan pembakaran skala komersial. 

Akibatnya, fenomena ini terjebak dalam narasi kambing hitam faktor alam, padahal penuntasan krisis membutuhkan pembenahan struktural atas penegakan hukum dan tata kelola kawasan hutan di Kalimantan. Dampak multidimensional yang ditimbulkan dari krisis ini pun melingkupi berbagai sektor vital kehidupan masyarakat.

Dari aspek kesehatan publik, paparan asap pembakaran merusak sistem pernapasan masyarakat secara masif. Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Banjarbaru, Siti Ningsih, mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang mencapai 23.646 kasus sejak awal tahun. Kelompok rentan seperti bayi, ibu hamil, dan lansia menjadi korban utama, meski populasi usia produktif juga turut terpapar. Siti menambahkan bahwa pajanan jangka panjang terhadap partikel mikro PM2,5 dalam kabut asap meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, seperti jantung koroner dan stroke, serta kanker paru-paru.

Sektor ekonomi kerakyatan turut mengalami kelumpuhan. Pembatasan aktivitas luar ruangan demi alasan kesehatan memukul pendapatan pedagang kecil secara signifikan. Di sektor peternakan, Abdul Kholik, peternak asal Kecamatan Liang Anggang, kehilangan seluruh kandang dan 230 ekor ayamnya yang mati terbakar dengan estimasi kerugian mencapai Rp50 juta. Secara makro, keterbatasan jarak pandang akibat asap pekat menghambat arus logistik, merusak rantai pasok pertanian, dan menghentikan perdagangan regional. Di sektor transportasi udara, Bandara Singkawang beroperasi penuh dalam status penutupan (shutdown), sementara 21 jadwal penerbangan di Bandara Supadio mengalami penundaan (delay). 

Kerusakan ekologis yang ditimbulkan juga berdampak secara berkelanjutan hingga melintasi batas negara. Pelepasan emisi karbon dalam skala besar merusak keanekaragaman hayati secara permanen dan mengakselerasi pemanasan global. Selain itu, kanalisasi memicu pengeringan ekosistem gambut yang menghasilkan kabut asap beracun lebih pekat dan tahan lama. Dampak krisis ini melampaui batas kedaulatan negara (transboundary haze pollution), menyelimuti wilayah Malaysia, Singapura, dan Brunei. Jawatankuasa Pengurusan Bencana Negeri (JPBN) Sarawak melaporkan bahwa Indeks Pencemaran Udara (IPU) yang menembus kategori Sangat Tidak Sehat memaksa 108 sekolah di wilayah Serian, Sarawak, menghentikan kegiatan tatap muka dan beralih ke pembelajaran jarak jauh (PJJ). 

Dalam menanggulangi krisis ini, pemerintah memobilisasi 12.880 personel tim gabungan dari Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BPBD, MPA, dan relawan yang dikonsentrasikan di tiga provinsi prioritas, yaitu 10.700 personel di Kalimantan Tengah, 1.410 di Kalimantan Barat, dan 770 di Kalimantan Selatan. BNPB mengoperasikan pengeboman air (water bombing) untuk menjangkau titik api di kedalaman lahan gambut yang terisolasi dari akses darat. Untuk pemadaman darat, dibangun sumur bor kedalaman 15–20 meter di zona prioritas guna memasok air permukaan yang mulai mengering. 

BMKG juga menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang di Kalimantan Barat menghasilkan estimasi curah hujan 10,92 juta m³, sedangkan di Kalimantan Tengah mencapai 4,8 juta m³. Namun, efektivitas OMC pada akhir Agustus mengalami penurunan akibat kelembapan atmosfer yang sangat rendah, sehingga memicu kelangkaan awan konvektif. Di sektor pendidikan, Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru, Pontianak, dan Palangka Raya menerbitkan surat edaran penyesuaian jam masuk sekolah diundur hingga pukul 08.00 atau 09.00 WITA serta penerapan PJJ untuk kawasan berisiko tinggi. Dinas Kesehatan turut membagikan masker standar N95/KN95 secara gratis, meski terkendala keterbatasan stok pasokan. 

Namun, penanganan teknis di lapangan menghadapi hambatan operasional yang berat. Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kalimantan, Yudho Shekti Mustiko, mengungkapkan bahwa pemadaman api gambut di bawah permukaan (subsurface fire) tidak dapat diselesaikan dengan penyiraman permukaan konvensional, melainkan harus menggunakan teknik grout injection atau suntik gambut bertekanan tinggi. Petugas di lapangan harus memikul mesin pompa berat menembus rawa dan vegetasi pakis (Kelakai) setinggi satu meter, di tengah kelangkaan sumber air dan kondisi alat operasional yang mayoritas telah berusia di atas 10 tahun.

Di tengah skenario tanggap darurat tersebut, publik mempertanyakan komitmen preventif pemerintah. Kebijakan yang diambil dinilai cenderung bersifat reaktif ketimbang antisipatif sebelum memasuki puncak musim kemarau. Sejalan dengan kritik tersebut, Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Priyono Suryanto, menggarisbawahi adanya paradoks struktural di mana ekosistem gotong royong kebencanaan di Indonesia sangat solid pada fase responsif saat pemadaman, tetapi sangat lemah pada aspek mitigasi dini dan pengawasan kawasan secara konsisten. Tanpa pergeseran paradigma dari reaktif menuju preventif-mitigatif, krisis karhutla akan terus berulang sebagai siklus tahunan yang kian destruktif. 

Oleh karena itu, dalam menangani bencana yang terus berulang ini, para peneliti menekankan agar penanggulangan yang diberlakukan tidak berhenti pada upaya pemadaman yang bersifat temporer dan reaktif, melainkan beralih ke strategi jangka panjang yang menyentuh akar permasalahan. Hal ini dapat dicapai melalui restorasi dan pembasahan kembali (rewetting) ekosistem gambut yang terdegradasi, pemberian edukasi serta fasilitas Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) bagi masyarakat, penegakan hukum dan penataan kepemilikan lahan yang tegas serta terstruktur melalui program Perhutanan Sosial, serta peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan agar tidak lagi bergantung pada metode eksploitasi lahan yang merusak lingkungan.

Penulis: Dea

Mahasiswa KKN Undip Kenalkan Nilai Guna dan Nilai EkonomisPOC kepada Ibu-Ibu PKK Desa Lebosari

Semarang, 20 Agustus 2026 — KKN Tim II UNDIP di Desa Lebosari menyelenggarakan program kerja pemaparan materi bertajuk “Nilai Guna dan Nilai Ekonomis Pupuk Organik Cair (POC)” yang bertempat di Balai Desa, Desa Lebosari, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, pada Sabtu, 1 Agustus 2026, dengan sasaran Ibu-ibu PKK setempat.


Kegiatan ini diinisiasi sebagai respons terhadap masih terbatasnya pemahaman warga mengenai manfaat pupuk organik cair, baik dari sisi nilai guna dalam mendukung praktik pertanian maupun nilai ekonomisnya sebagai alternatif yang lebih hemat dibandingkan pupuk kimia. Dengan menyasar Ibu-ibu PKK sebagai peserta utama, program ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai manfaat POC serta potensi pemanfaatannya di tingkat rumah tangga maupun usaha tani keluarga.

Fasilitator sekaligus pemateri dalam kegiatan ini, Sholekah, menjelaskan alasan
pemilihan topik tersebut sebagai program kerja. “Saya mengangkat topik nilai guna
dan nilai ekonomis POC ini karena ingin membantu Ibu-ibu PKK memahami bahwa
pupuk organik cair tidak hanya bermanfaat untuk tanaman, tetapi juga bisa menekan
pengeluaran rumah tangga karena bahan dan cara pembuatannya cukup sederhana,”
ujarnya.


Pelaksanaan kegiatan diawali dengan pemaparan materi secara interaktif mengenai pengertian POC, manfaatnya bagi tanaman dan tanah, serta perbandingan nilai ekonomisnya dibandingkan pupuk kimia. Sesi ini kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab, di mana Ibu-ibu PKK aktif bertanya seputar cara pembuatan POC secara sederhana serta bahan-bahan yang mudah didapatkan di lingkungan sekitar. Peserta tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan dari awal hingga akhir.


Sebagai tindak lanjut, fasilitator menyusun sebuah booklet berjudul Nilai Guna dan Nilai Ekonomis Pupuk Organik Cair yang merangkum keseluruhan materi secara lebih terstruktur dan lengkap. Booklet ini kemudian diserahkan kepada perangkat Desa Lebosari, dalam hal ini Kepala Desa (Lurah), Bapak M. Lutfi Kurniawan, di kemudian hari, sebagai bentuk dokumentasi sekaligus arsip desa yang dapat terus digunakan dan disosialisasikan kembali kepada warga lain yang tidak sempat hadir.


Melalui kegiatan ini, diharapkan Ibu-ibu PKK Desa Lebosari dapat lebih memahami manfaat POC, baik dari sisi nilai guna maupun nilai ekonomisnya, sehingga mendorong pemanfaatan sampah organik rumah tangga menjadi pupuk organik cair secara lebih luas dan berkelanjutan di Desa Lebosari.


Penulis/Reporter: Sholekah Eka Putri Trisnawati
Kontak Media / Humas Kelompok: kknlebosari2026@gmail.com

Manfaatkan Limbah Organik, Tim KKN Desa Lebosari Gelar Demonstrasi danSosialisasi Pembuatan Pupuk Organik Cair Kepada Masyarakat Desa Lebosari Kendal

Semarang, 20 Agustus 2026 – Melalui program multidisiplin, tim KKN menyelenggarakan
demonstrasi dan sosialisasi pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) yang melibatkan
partisipasi aktif warga. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kesuburan tanah secara
alami sekaligus memanfaatkan limbah organik rumah tangga agar tidak terbuang begitu saja.


Rangkaian acara diawali dengan sosialisasi jenis-jenis bahan organik yang sering kali
terbuang sia-sia dari limbah rumah tangga. Dilanjutkan sesi demonstrasi, warga diajak
melihat dan berkesempatan mencoba secara langsung proses pembuatan dari Pupuk Organik Cair ini. Warga melihat secara langsung proses pemilahan bahan, pencampuran larutan fermentasi, hingga teknik penyimpanan wadah agar proses pembentukan pupuk cair berjalan optimal.


Guna memastikan pesan dan teknik pembuatan pupuk organik cair dapat diserap dengan
maksimal, seluruh materi praktis tersebut dikemas ke dalam bentuk poster edukatif. Media
visual ini disusun dengan tata letak yang informatif dan menarik, memuat petunjuk langkah
demi langkah, takaran bahan, hingga cara penyemprotan pada tanaman.


Poster edukasi tersebut kemudian disebarluaskan kepada masyarakat Desa Lebosari yang
hadir dalam acara sosialisasi demonstrasi pembuatan pupuk organik cair (POC). Meski
kegiatan sosialisasi dan demonstrasi sempat menemui tantangan dalam alokasi waktu yang terbatas, acara ini tetap lancar dilaksanakan dari awal hingga akhir pada Jumat, 31 Juli 2026 di Balai Desa Lebosari.


Penulis/Reporter: Refi Mediana
Fotografer: Rafif Ulil
Kontak Media / Humas Kelompok: kknlebosari2026@gmail.com

KKN-T IDBU 32 Undip Tumbuhkan Kreativitas melalui Edukasi Lingkungan di Gojoyo

DEMAK (21/7) – Edukasi lingkungan dikemas melalui berbagai kegiatan kreatif oleh mahasiswa KKN Tematik IDBU 32 Universitas Diponegoro di Dukuh Gojoyo, Desa Wedung, Kabupaten Demak. Mulai 10 Juli hingga 21 Juli 2026, program tersebut mengajak anak-anak dan masyarakat memanfaatkan sumber daya alam serta barang bekas menjadi karya yang bernilai sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan pesisir.

Program ini berada di bawah bimbingan Dr. Restiana Wisnu Ariyati, S.Pi., M.Si., Dr. Lestari Lakhsmi W., S.Pi., M.Pi., dan Dr.-Ing. Wisnu Pradoto, S.T., M.T. Kegiatan dirancang untuk menguatkan tiga aspek utama, yaitu kesadaran lingkungan, pembentukan karakter dan keterampilan hidup, serta pengembangan potensi ekonomi masyarakat.

Dzaky Abdul Rafi selaku Ketua kelompok 1 KKN-T IDBU 32 menjelaskan bahwa Dukuh Gojoyo memiliki potensi sumber daya alam, hasil laut, UMKM, dan generasi muda yang besar.Namun, sebagian potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan pengetahuan pengelolaan lingkungan, pengolahan produk, dan pemasaran usaha.

Salah satu kegiatan bertema “Dari Sampah Jadi Cuan” yang dipandu oleh Dewi Nurul Fa’idah mendapat antusias yang tinggi dari para siswa/i.  Dimana kegiatan ini mengajak anak-anak SMP 03 Wedung mengubah barang bekas seperti plastik kemasan diubah menjadi gantungan kunci yang siap dipakai maupun dijual. 

Gambar 1. Gantungan kunci

Program ini tidak hanya melatih kreativitas dan keterampilan tangan siswa, tetapi juga menanamkan pemahaman bahwa sampah rumah tangga memiliki potensi nilai ekonomis apabila dikelola dengan tepat, sekaligus menjadi langkah awal mengurangi volume limbah plastik di lingkungan sekitar mereka.

“Saya kira sampah plastik sudah tidak bisa dipakai lagi, ternyata bisa dibuat gantungan kunci yang lucu seperti ini,” ujar salah satu siswi kelas 7 SMP 03 Wedung.

Dewi Nurul Fa’idah menambahkan bahwa barang bekas yang sering dianggap tidak bernilai sebenarnya masih dapat dimanfaatkan kembali. Menurutnya, dengan kreativitas sederhana, sampah dapat diubah menjadi produk yang menarik sekaligus mengurangi jumlah limbah yang dibuang ke lingkungan. Ia berharap keterampilan yang diperoleh siswa dapat terus dikembangkan secara mandiri, bahkan berpotensi menjadi peluang usaha kecil di tingkat rumah tangga maupun sekolah.

Gambar 2. Demonstrasi pembuatan gantungan kunci

Kegiatan lainnya yang menjadi perhatian siswa/i adalah pelatihan ecoprint pada media tote bag yang dipandu oleh Akbar Nur Kholis. Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diajak memanfaatkan berbagai jenis daun yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar sebagai bahan pembentuk motif alami pada tote bag berbahan kain. Anak-anak terlebih dahulu dikenalkan pada konsep ecoprint, kemudian mempraktikkan langsung proses penyusunan daun, pemukulan, hingga terbentuknya pola dan warna alami pada media kain. 

Gambar 3. Proses pembuatan ecoprint

“Wah, daunnya ternyata bisa mewarnai tote bag yang tadinya putih. Saya baru tahu kalau daun bisa dipakai untuk membuat karya seperti ini,” ujar Tama, siswa kelas VII.

Akbar Nur Kholis mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan pemanfaatan sumber daya alam secara kreatif dan ramah lingkungan. Menurutnya, ecoprint tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga membuka wawasan anak-anak mengenai potensi bahan alami yang ada di sekitar mereka

Gambar 4. Foto bersama hasil ecoprint

Selain kedua program tersebut, mahasiswa KKN-T IDBU 32 menghadirkan sejumlah program pendukung. Di bidang lingkungan, digelar kegiatan “Jelajah Mangrove” serta edukasi mengenai ikan invasif untuk membangun kepedulian anak terhadap kelestarian ekosistem perairan. Program “Aksi Jaga Air, Jaga Kehidupan” turut mengajarkan siswa 

praktik pembuatan filter air sederhana sebagai bekal keterampilan pengelolaan sumber daya air bersih di lingkungan rumah masing-masing. Pada aspek pengelolaan sampah, anak-anak juga diajak berkreasi melalui teknik eco mozaic berbahan limbah plastik dalam program “Sampahku, Karyaku”, yang menekankan pentingnya kesadaran memilah dan memanfaatkan sampah sejak usia dini. 

Gambar 5. Foto bersama 

Sementara itu, untuk mendukung sektor ekonomi lokal, Mahasiswa juga mendampingi UMKM Kerupuk Udang milik Ibu Khotijah melalui produksi video promosi digital. Pendampingan tersebut dilakukan untuk membantu pelaku usaha memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran yang lebih luas sekaligus memperkuat identitas produk lokal Gojoyo.

Gambar 6. Proses pembuatan video promosi

“Saat ini media sosial menjadi salah satu sarana promosi yang efektif. Karena itu, kami mendampingi UMKM dalam pembuatan video promosi agar produk kerupuk udang dapat dipasarkan dengan lebih optimal melalui platform digital,” kata Faris Abyan Nugroho dan Boblie Yoas Eurano, pelaksana program Penguatan Branding UMKM Kerupuk Udang.

Selain kreativitas berbasis lingkungan, mahasiswa juga memperkenalkan berbagai pengetahuan mengenai literasi keuangan, penguatan nilai-nilai Pancasila, pengembangan minat dan cita-cita anak, pengenalan biota laut, serta pencegahan perilaku merokok pada remaja.

Mahasiswa berharap edukasi lingkungan yang telah diberikan dapat terus dipraktikkan oleh anak-anak dan masyarakat Dukuh Gojoyo dalam kehidupan sehari-hari. Keberlanjutan program diharapkan dapat mendorong warga setempat mengoptimalkan potensi alam dan sampah di sekitar mereka menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis, sekaligus memperkuat kesadaran menjaga kelestarian lingkungan pesisir.

TambakKu: Mahasiswa KKN-T IDBU 32 Undip Hadirkan Website Logbook Digital untuk Kelompok Tani Gojoyo

DEMAK (27/7) Mahasiswa KKN Tematik IDBU 32 Universitas Diponegoro mengembangkan website logbook budidaya digital bernama “TambakKu” untuk membantu Kelompok Tani Onggojoyo Jaya di Dukuh Gojoyo, Demak, mencatat kegiatan budidaya tambak seperti udang, bandeng, dan komoditas lainnya secara lebih terstruktur. Kegiatan ini dilaksanakan pada 26 Juli 2026 di kediaman Maskur selaku ketua kelompok tani Onggojoyo Jaya.

Selama ini, kelompok tani masih melakukan pembukuan kegiatan budidaya secara manual dan belum pernah menghitung laba rugi usaha secara terpisah dari data produksi. Kondisi tersebut membuat pencatatan rentan hilang, atau sulit ditelusuri kembali saat dibutuhkan. Menjawab persoalan ini, Faris Abyan Nugroho dari jurusan Akuakultur bersama Muhammad Hafidz Kurniawan dari jurusan Akuntansi merancang website logbook digital sekaligus mendampingi kelompok tani dalam praktik pengisiannya.

Gambar 1. Sosialisasi website TambakKu

“Website logbook budidaya digital ini kami buat untuk memudahkan Kelompok Tani Onggojoyo Jaya dalam mencatat kegiatan budidaya secara lebih praktis dan rapi. Dengan sistem digital, data dapat tersimpan lebih aman, mudah diakses, dan membantu pemantauan kegiatan budidaya secara lebih terorganisir,” kata Faris dan Hafidz selaku pengembang website.

Gambar 2. Website TambakKu

Dalam website TambakKu terdapat berbagai macam fitur seperti pencatatan data dan siklus budidaya, pembukuan biaya, HPP, dan laba/rugi serta pembuatan laporan budidaya dan keuangan secara otomatis. Melalui “TambakKu” kelompok tani kini dapat lebih mudah mencatat data budidaya sekaligus arus keuangan pemasukan dan pengeluaran usaha dalam satu sistem yang terintegrasi, menggantikan pencatatan konvensional berbasis buku yang selama ini digunakan.

Ketua kelompok Onggojoyo Jaya Maskur menyambut baik kehadiran platform tersebut. 

“Harapannya dengan adanya website ini, pencatatan kegiatan budidaya dan keuangan kelompok bisa lebih mudah. Selama ini pencatatan masih menggunakan buku, jadi kadang bisa tercecer atau bahkan hilang. Dengan adanya pencatatan secara digital, data budidaya, pemasukan, dan pengeluaran bisa tersimpan dan lebih mudah dilihat kembali. Jadi kalau sewaktu-waktu membutuhkan laporan atau ingin melihat perkembangan budidaya, datanya sudah ada dan tidak perlu mencari-cari catatan di buku” tutur Maskur 

Dalam kesempatan tersebut, Maskur juga memberikan masukan agar identitas kelompok tani dapat ditampilkan pada sistem yang dikembangkan. Ia mengusulkan penambahan logo Kelompok Tani Onggojoyo Jaya pada tampilan website maupun laporan yang dihasilkan sehingga dapat memperkuat identitas kelompok dalam setiap dokumentasi kegiatan budidaya.

Gambar 3. Foto bersama kelompok Tani Onggojoyo Jaya

Dengan adanya logbook digital “TambakKu” diharapkan menjadi langkah awal digitalisasi tata kelola usaha budidaya di Dukuh Gojoyo, sehingga kelompok tani dapat memantau kinerja usahanya secara lebih transparan dan berbasis data. Kedepannya, sistem pencatatan digital ini juga berpotensi menjadi dasar bagi kelompok tani dalam mengambil keputusan usaha maupun menyusun laporan keuangan yang lebih akuntabel.

Penulis : Tim 1 KKN-T IDBU 32 Undip

Mahasiswa KKN-T IDBU 46 UNDIP Gelar Workshop Penguatan Kapasitas UMKM Melalui Manajemen Usaha, Pengelolaan Keuangan, dan Pengembangan Produk Berkelanjutan

Semarang – Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 46 Universitas Diponegoro menyelenggarakan Workshop UMKM bertajuk “Manajemen Usaha, Pengelolaan Keuangan, dan Pengembangan Produk Berkelanjutan” di Balai Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Sabtu (1/8). Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30–11.30 WIB ini diikuti oleh pelaku UMKM se-Kelurahan Rowosari sebagai upaya meningkatkan kapasitas pelaku usaha dalam mengelola bisnis secara lebih efektif melalui penerapan manajemen usaha, pengelolaan keuangan, pengembangan produk berkelanjutan, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi dan pemasaran digital.

Workshop dibuka oleh Lurah Kelurahan Rowosari, Eko Pudjo Harijadi, S.IP., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, transformasi digital menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan usaha mikro agar mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman. “Digitalisasi UMKM itu penting, demi mendukung keberlanjutan UMKM di Rowosari ini,” ujarnya.

Kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta mengenai materi yang akan disampaikan. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Lurah Kelurahan Rowosari, Eko Pudjo Harijadi, S.IP., serta Dosen Pembimbing Tim KKN-T IDBU 46 Universitas Diponegoro, Dr. Drs. Fuad Mas’ud, MIR., yang memberikan motivasi kepada peserta agar terus mengembangkan kapasitas usaha dan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi dalam mendukung pertumbuhan bisnis.

Pada sesi pertama, peserta memperoleh materi mengenai manajemen usaha dan pengelolaan keuangan yang disampaikan oleh Jeanne M. J. Patalala, S.E.. Materi membahas pentingnya perencanaan usaha, pencatatan keuangan yang tertib, serta strategi pengelolaan keuangan sebagai fondasi keberlanjutan usaha. Penyampaian materi berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang dimanfaatkan peserta untuk berdiskusi mengenai tantangan yang dihadapi dalam menjalankan usaha.

Sesi berikutnya disampaikan oleh Andreas Bakara Sitanggang yang membawakan materi mengenai optimalisasi media sosial sebagai sarana promosi dan pemasaran digital. Selain memperoleh penjelasan mengenai strategi pemasaran digital, peserta juga mengikuti praktik langsung pembuatan akun media sosial usaha, penyusunan profil bisnis, serta langkah-langkah dasar dalam membuat konten promosi yang menarik untuk memperluas jangkauan pasar.

Sebagai bentuk evaluasi pembelajaran, peserta mengerjakan post-test setelah seluruh materi selesai disampaikan. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan di Stand Edukasi UMKM yang memberikan pendampingan secara langsung kepada peserta dalam pembuatan dan pengelolaan akun media sosial usaha, sehingga materi yang diperoleh dapat langsung diimplementasikan untuk mendukung promosi dan pemasaran produk.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi melalui partisipasi aktif dalam sesi diskusi, tanya jawab, serta saat pendampingan praktik penggunaan media sosial di Stand Edukasi UMKM.

Melalui kegiatan ini, Tim KKN-T IDBU 46 Universitas Diponegoro berharap para pelaku UMKM di Kelurahan Rowosari mampu menerapkan manajemen usaha dan pengelolaan keuangan yang lebih baik, mengoptimalkan pemanfaatan media sosial sebagai sarana pemasaran digital, serta meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usahanya di tengah perkembangan ekonomi digital. Program ini juga menjadi wujud kontribusi Tim KKN-T IDBU 46 dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan kapasitas pelaku UMKM dalam manajemen usaha dan pengelolaan keuangan, serta SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui optimalisasi media sosial sebagai sarana promosi dan pemasaran digital guna memperluas jangkauan pasar serta mendorong inovasi dan keberlanjutan usaha.

Dorong Produksi Sehat, Inovasi Produk dan Kemasan Kreatif, Tim KKN-T IDBU 46 Undip Gelar Seminar UMKM di Rowosari

Semarang — Tim KKN Tematik IDBU 46 Universitas Diponegoro menyelenggarakan seminar bertajuk Pelatihan UMKM 1 “Meningkatkan Daya Saing UMKM melalui Produksi Sehat, Inovasi Produk, dan Kemasan Kreatif” pada Sabtu, 18 Juli 2026, di Balai Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Kegiatan ini diikuti oleh 25 pelaku Usaha Mikro Kecil (UMK) di wilayah Rowosari. Seminar tersebut merupakan salah satu program kerja sektor Ekonomi Kreatif KKN Tematik  IDBU Tim 46, yang berada di bawah bimbingan Dr. Dinie Ratri Desiningrum, S.Psi., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Lapangan, serta Dr. Drs. Fuad Mas’ud, MIR., selaku Dosen Pembimbing Sektor Ekonomi Kreatif.

Program ini disusun berdasarkan hasil pemetaan potensi dan kebutuhan pelaku usaha di Kelurahan Rowosari, dengan tujuan meningkatkan kapasitas pelaku UMK agar mampu menghadapi persaingan usaha melalui penerapan produksi pangan yang sehat, pengembangan inovasi produk, serta pengemasan kreatif yang dapat mendongkrak nilai jual produk. Langkah ini sekaligus menjadi kontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), lewat peningkatan kapasitas pelaku UMKM untuk mendorong usaha yang lebih produktif, berdaya saing, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Kegiatan ini berlangsung selama dua jam, diawali dengan registrasi peserta dan pengisian pre-test, dilanjutkan dengan pembukaan dan doa. Acara kemudian dibuka secara resmi melalui sambutan dari Lurah Rowosari, Eko Pudjo Harijadi, S.IP., serta sambutan Dr. Drs. Fuad Mas’ud, MIR. selaku Dosen Pembimbing Sektor Ekonomi Kreatif.

Materi pertama disampaikan oleh Dwi Astiningsih, S.Kom., seorang gluten free enthusiast. Dalam pemaparannya, ia mengingatkan pelaku UMKM untuk tidak sekedar menjual makanan, melainkan menjual nilai tambah. Ia juga menjelaskan pentingnya label kemasan yang lengkap dan informatif guna membangun kepercayaan konsumen. Sebagai contoh penerapan, ia menampilkan kemasan produk kue kering dari Mandala Bites yang mencantumkan deskripsi tambahan bebas gluten dan bebas gula tambahan, sebagai bentuk inovasi produk sehat yang tetap kompetitif di pasaran. Ia juga mengajak peserta memahami pentingnya kualitas produk dan branding sebagai faktor utama peningkatan daya saing UMKM. Materi ini sejalan dengan semangat SDG 12 (Responsible Consumption and Production), yakni mendorong praktik produksi pangan yang sehat, higienis, aman, dan bertanggung jawab demi menghasilkan produk yang berkualitas dan berkelanjutan. Sesi ini disambut antusias oleh peserta melalui sesi tanya jawab yang aktif.

Sesi dilanjutkan dengan materi kedua oleh Muhammad Ulin Nuha, pemilik usaha Abon Kipis (Abon Kulit Pisang) yang didanai melalui Program Mahasiswa Kewirausahaan (PMW). Materi berfokus pada inovasi produk berbasis potensi lokal yang memiliki keunikan dan nilai tambah, mencakup aspek bahan, rasa, bentuk, hingga target pasar. Dalam pemaparannya, ia turut menekankan pentingnya desain kemasan yang menarik, fungsional, dan representatif. Ia turut membagikan tips membangun identitas produk (branding) melalui desain kemasan dan pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi untuk memperluas jangkauan pasar. Sesi ini juga ditutup dengan tanya jawab antara peserta dan narasumber. Pemaparan ini mencerminkan dukungan terhadap SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure), melalui penguatan inovasi produk, pengembangan branding, dan pengemasan kreatif sebagai upaya meningkatkan nilai tambah produk UMKM.

Suasana seminar berlangsung interaktif sepanjang kedua sesi. Para peserta begitu responsif saat menanggapi pemaparan materi, mulai dari tantangan menjaga kualitas produk, inovasi pasar, hingga desain kemasan yang ekonomis. Antusiasme tersebut semakin terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan pada sesi tanya jawab bersama kedua narasumber.

Melalui seminar ini, Tim KKN Tematik IDBU 46 Universitas Diponegoro berharap para pelaku UMKM kuliner di Kelurahan Rowosari dapat menerapkan praktik produksi pangan yang lebih sehat, mengembangkan produk yang inovatif, serta meningkatkan daya tarik produk melalui kemasan dan branding yang lebih baik. Dengan begitu, UMKM lokal diharapkan mampu meningkatkan daya saing, memperluas peluang pemasaran, dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata komitmen Universitas Diponegoro dalam melaksanakan pengabdian kepada masyarakat melalui pemberdayaan UMKM berbasis potensi lokal. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, narasumber, dan masyarakat diharapkan mampu menciptakan ekosistem usaha yang lebih inovatif, adaptif, dan berkelanjutan.

Dokumentasi :

Mahasiswa KKN UNDIP Tanamkan Literasi Keuangan Sejak Dini melalui Program Jragung Cerdas Finansial dalam Rangka Mendukung SDGs 4 Pendidikan Berkualitas

Jragung (14/7) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPTEK Desa Binaan Universitas Diponegoro (IDBU) 25 Kelompok 1 melaksanakan program kerja sosial kemasyarakatan bertajuk “Jragung Cerdas Financial: Penguatan Literasi Keuangan Anak melalui Edukasi Pengelolaan Uang Saku dan Permainan Interaktif.” Program kerja ini dilaksanakan pada Selasa, 14 Juli 2026 di SD Negeri 3 Jragung dengan sasaran 58 siswa kelas 5 dan 6.

Program Jragung Cerdas Financial diangkat sebagai bentuk dukungan terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4, yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education). Selain itu, program ini juga menjawab permasalahan rendahnya literasi keuangan anak, khususnya dalam memahami cara mengelola uang saku, membedakan kebutuhan dan keinginan, membangun kebiasaan menabung, serta menyusun skala prioritas sebagai bekal keterampilan hidup (life skills) di masa depan.

Kegiatan sosialisasi dimulai pada pukul 07.45 WIB dan dilaksanakan secara paralel di dua kelas. Materi untuk siswa kelas 6 disampaikan oleh mahasiswa Program Studi Ekonomi, Muhammad Gibran Bhistarasena Arighi, sedangkan materi di kelas 5 disampaikan oleh mahasiswa Program Studi Akuntansi, Cantika Eka Nur Azizah. Penyampaian materi didukung dengan media presentasi PowerPoint yang dirancang oleh mahasiswa bidang Informasi dan Hubungan Masyarakat, Faradila Usman Harun, sehingga materi dapat disampaikan secara lebih menarik dan mudah dipahami oleh peserta.

Sosialisasi diawali dengan pertanyaan pemantik, “Apabila mendapat uang Rp500.000, akan digunakan untuk apa? Bagaimana jika uang tersebut harus digunakan sebagai uang saku selama satu bulan dan tidak akan mendapat tambahan lagi?” Melalui pertanyaan tersebut, siswa diajak berpikir kritis mengenai cara menggunakan uang. Mayoritas peserta menjawab bahwa mereka akan menggunakan uang tersebut untuk membeli top up permainan daring dan jajan. Namun, ketika diberikan kondisi bahwa uang tersebut harus mencukupi kebutuhan selama satu bulan, sebagian besar siswa mulai mengubah jawabannya dan mempertimbangkan kebutuhan yang lebih penting. Kondisi ini menjadi pengantar untuk menjelaskan pentingnya mengelola keuangan sejak dini.

Sebagai bentuk motivasi, mahasiswa KKN memperkenalkan sosok investor dunia, Warren Buffett, yang telah membangun kebiasaan mengelola keuangan sejak usia dini. Peserta diajak mengenal perjalanan hidup Warren Buffett, mulai dari berjualan pada usia enam tahun, membeli saham pertama pada usia sebelas tahun menggunakan hasil tabungannya, hingga mendalami ilmu investasi di bangku perkuliahan dan menjadi salah satu investor paling sukses di dunia. Kisah tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan menabung, kerja keras, dan kemauan untuk terus belajar merupakan fondasi penting dalam mencapai kesuksesan finansial.

Materi inti kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai fungsi uang, pengertian menabung, serta langkah-langkah sederhana dalam membangun kebiasaan menabung. Siswa juga dikenalkan pada konsep dasar investasi sebagai salah satu cara mengembangkan nilai uang di masa depan. Beberapa instrumen investasi, seperti emas, obligasi, dan saham, diperkenalkan menggunakan bahasa yang sederhana dan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar. Selain potensi keuntungan, mahasiswa KKN juga menjelaskan bahwa setiap instrumen investasi memiliki risiko sehingga diperlukan pengetahuan yang memadai sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Sebagai upaya meminimalkan risiko dalam pengelolaan keuangan, peserta selanjutnya diperkenalkan pada konsep skala prioritas dan budgeting. Siswa diajak membedakan antara kebutuhan dan keinginan, kemudian menyusun urutan prioritas dalam menggunakan uang. Melalui simulasi budgeting sederhana, peserta belajar menyisihkan sebagian uang untuk ditabung terlebih dahulu sebelum menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan permainan edukatif interaktif sebagai evaluasi pemahaman peserta. Permainan berupa simulator studi kasus berbasis laptop yang dikembangkan oleh mahasiswa Informatika, Alvin Harist Prasetyo, mengajak siswa menyusun urutan pengeluaran berdasarkan skala prioritas dalam berbagai kondisi yang disimulasikan. Sebanyak 9 siswa berpartisipasi secara langsung dalam permainan tersebut dan menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung aktif. Selain menjawab pertanyaan dari peserta, mahasiswa KKN juga memberikan beberapa studi kasus kepada siswa untuk menguji pemahaman mereka mengenai skala prioritas dalam mengelola uang. Sebagai bentuk apresiasi, hadiah diberikan kepada siswa yang aktif bertanya, menjawab pertanyaan, maupun berpartisipasi dalam permainan edukatif.

Melalui program “Jragung Cerdas Financial”, mahasiswa KKNT IPTEK Desa Binaan Universitas Diponegoro berharap literasi keuangan dapat ditanamkan sejak usia dini sehingga anak-anak memiliki kebiasaan mengelola uang secara bijak, membangun budaya menabung, serta mampu mengambil keputusan keuangan yang lebih bertanggung jawab di masa mendatang. Program ini diharapkan menjadi salah satu kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung terwujudnya SDGs 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan keterampilan hidup yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Penulis: Cantika