
Semarang, (25/10/2025) – Budaya menyalahkan korban kekerasan seksual atau victim blaming masih menjadi masalah sosial yang banyak terjadi di masyarakat. Untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman mahasiswa tentang pentingnya isu tersebut, Harkam BEM FEB Undip dan PP BEM FH Undip mengadakan kolaborasi dalam rangkaian roadshow program Bersua-Bersuara. Acara ini diselenggarakan pada Sabtu, 25 Oktober 2025 bertempat di Hall Gedung C FEB Undip.
Kegiatan ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Ibu Marzellina Hardiyanti, S.H., M.H., selaku dosen Fakultas Hukum Undip, dan Shafa Zahra Sekarwangi, selaku Staf Muda Bidang Pemberdayaan Perempuan BEM FH Undip. Jalannya diskusi dipandu oleh Shasta Daisy Maulana Putri dari Jurusan Ilmu Ekonomi FEB Undip sebagai moderator. Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi dan advokasi terkait isu kekerasan seksual. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa lebih memahami isu kesetaraan gender dan ikut menciptakan lingkungan yang aman di dunia akademik.
Perwakilan panitia menyampaikan bahwa tema ini diangkat karena masih banyak masyarakat yang menganggap perilaku menyalahkan korban kekerasan seksual sebagai hal yang wajar. “Biasanya, yang ditanyakan adalah pakaian atau cara berpakaian korban, bukan tindakan pelaku. Melalui acara ini, kami ingin mengajak mahasiswa memperbaiki cara pandang mereka,” ujar Project Officer. Tema ini diharapkan mampu mendorong masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk mengubah cara pandang dan memperbaiki mindset tersebut.
Dalam paparannya, Ibu Marzellina menjelaskan bahwa kekerasan seksual di Indonesia seperti fenomena gunung es, di mana banyak kasus tidak terungkap karena korban merasa takut berbicara akibat tekanan sosial. “Ketika korban melapor, yang sering ditanyakan adalah pakaian atau waktunya, bukan perbuatan pelaku. Hal ini menunjukkan bahwa sistem sosial kita masih diwarnai oleh pikiran patriarki dan tidak berpihak pada korban,” jelasnya.
Beliau juga menekankan bahwa dalam menangani kekerasan seksual, masyarakat harus berpihak pada korban, baik laki-laki maupun perempuan, serta menciptakan ruang yang aman agar korban bisa bercerita tanpa takut. Serta mengajak korban untuk tidak takut melapor kepada pihak berwajib apabila mengalami kekerasan seksual.
Adanya victim blaming dimulai dari tidak adanya simpati terhadap korban, senada dengan itu Shafa Zahra menjelaskan, “tidak adanya simpati terhadap korban juga adalah salah satu langkah awal terjadinya victim blaming, hal ini bisa mengarahkan ke penyalahan korban dengan menuduh yang tidak-tidak”. Budaya victim blaming ada karena pola masyarakat itu sendiri, di mana mereka berfokus pada kesalahan korban dan ketika korban berusaha speak up pun mereka malah dihakimi, “budaya victim blaming muncul dari budaya di masyarakat, di mana ketika perempuan yang menjadi korban tidak memiliki suara untuk menyampaikan apa yang mereka alami dan ketika mereka speak up mereka dihakimi, ini seperti simalakama,” ujar Ibu Marzellina
Shafa Zahra menambahkan, adanya akar budaya menyalahkan korban yang muncul dari pengaruh kuat budaya patriarki dan stereotip gender di masyarakat. “Patriarki membuat perempuan dianggap sebagai penyebab masalah ketika terjadi kekerasan seksual. Padahal yang seharusnya ditanya adalah perilaku pelaku, bukan korban. Pola pikir ini harus berubah,” tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa edukasi tentang kesetaraan gender dan pencegahan kekerasan seksual perlu terus diperkuat di kampus maupun masyarakat agar terbentuk pola pikir yang lebih adil, penuh empati serta mampu menciptakan ruang aman dimulai dari keluarga dan bagi siapapun.
Sesi diskusi berlangsung interaktif, di mana peserta aktif memberikan pertanyaan terkait isu kekerasan seksual, beberapa mahasiswa mengatakan acara ini membuka wawasan baru tentang bagaimana mendukung korban, memberi dorongan, serta menghindari sikap menghakimi.
Dalam sesi diskusi, Mahasiswi Akuntansi 2024 bertanya bagaimana kita melawan atau apa senjata yang kita pakai terhadap adanya victim blaming. Shafa Alvira mengungkapkan bahwa salah satunya adalah dengan menyuarakan di akun-akun media sosial, “kita sebagai mahasiswa memiliki privilege untuk menyuarakan di media sosial. Ketika punya platform, Mahasiswa diharapkan menyuarakan di media sosial di mana jangkauan media sosial luas tidak hanya di kalangan Mahasiswa”. Dia juga menegaskan bahwa tidak apa disebut fomo ketika ada suatu isu dan ada fitur add yours di IGS karena itu suatu fomo yang baik, “dibilang fomo karena add yours tapi kalau fomo-nya untuk hal baik memang kenapa?” tambahnya.
Sebagai tindak lanjut, panitia berencana melaksanakan kegiatan lanjutan dalam bentuk kampanye kesadaran dan advokasi anti kekerasan seksual yang melibatkan mahasiswa FEB Undip. Program ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam menghapus stigma terhadap korban dan menumbuhkan budaya saling menghargai di lingkungan kampus.
Salah satu peserta, Mahasiswa IE 2023, menyampaikan kesan mendalamnya setelah mengikuti kegiatan ini. “Ya, setelah kegiatan ini saya harap masyarakat terkhusus mahasiswa dapat menjadi lebih aware terhadap lingkungan sekitar. Jika ada teman yang mengalami kekerasan atau pelecehan, berusaha untuk tidak langsung menghakimi, tetapi mendengarkan dengan empati, memberikan validasi, dan memastikan mereka tidak merasa sendirian. Juga berani bersuara untuk ikut menyebarkan kesadaran bahwa kekerasan seksual adalah tanggung jawab bersama untuk dicegah dan dilawan”.
Melalui kegiatan “Tangan Terbuka: Stop Blaming Women, Start Fixing the Mindset” ini, BEM FEB dan BEM FH Undip menegaskan komitmennya untuk terus mengedukasi mahasiswa serta menciptakan ruang terkhusus ruang akademik yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan seksual.
Reporter : Rosita, Musa, Naila
Penulis : Rosita, Musa




