TALK SHOW PP BEM FH X Tangan Terbuka BEM FEB: “Stop Blaming Women, Start Fixing the Mindset”

Semarang, (25/10/2025) – Budaya menyalahkan korban kekerasan seksual atau victim blaming masih menjadi masalah sosial yang banyak terjadi di masyarakat. Untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman mahasiswa tentang pentingnya isu tersebut, Harkam BEM FEB Undip dan PP BEM FH Undip mengadakan kolaborasi dalam rangkaian roadshow program Bersua-Bersuara. Acara ini diselenggarakan pada Sabtu, 25 Oktober 2025 bertempat di Hall Gedung C FEB Undip.

Kegiatan ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Ibu Marzellina Hardiyanti, S.H., M.H., selaku dosen Fakultas Hukum Undip, dan Shafa Zahra Sekarwangi, selaku Staf Muda Bidang Pemberdayaan Perempuan BEM FH Undip. Jalannya diskusi dipandu oleh Shasta Daisy Maulana Putri dari Jurusan Ilmu Ekonomi FEB Undip sebagai moderator. Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi dan advokasi terkait isu kekerasan seksual. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa lebih memahami isu kesetaraan gender dan ikut menciptakan lingkungan yang aman di dunia akademik.

Perwakilan panitia menyampaikan bahwa tema ini diangkat karena masih banyak masyarakat yang menganggap perilaku menyalahkan korban kekerasan seksual sebagai hal yang wajar. “Biasanya, yang ditanyakan adalah pakaian atau cara berpakaian korban, bukan tindakan pelaku. Melalui acara ini, kami ingin mengajak mahasiswa memperbaiki cara pandang mereka,” ujar Project Officer. Tema ini diharapkan mampu mendorong masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk mengubah cara pandang dan memperbaiki mindset tersebut.

Dalam paparannya, Ibu Marzellina menjelaskan bahwa kekerasan seksual di Indonesia seperti fenomena gunung es, di mana banyak kasus tidak terungkap karena korban merasa takut berbicara akibat tekanan sosial. “Ketika korban melapor, yang sering ditanyakan adalah pakaian atau waktunya, bukan perbuatan pelaku. Hal ini menunjukkan bahwa sistem sosial kita masih diwarnai oleh pikiran patriarki dan tidak berpihak pada korban,” jelasnya.

Beliau juga menekankan bahwa dalam menangani kekerasan seksual, masyarakat harus berpihak pada korban, baik laki-laki maupun perempuan, serta menciptakan ruang yang aman agar korban bisa bercerita tanpa takut. Serta mengajak korban untuk tidak takut melapor kepada pihak berwajib apabila mengalami kekerasan seksual.

Adanya victim blaming dimulai dari tidak adanya simpati terhadap korban, senada dengan itu Shafa Zahra menjelaskan, “tidak adanya simpati terhadap korban juga adalah salah satu langkah awal terjadinya victim blaming, hal ini bisa mengarahkan ke penyalahan korban dengan menuduh yang tidak-tidak”. Budaya victim blaming ada karena pola masyarakat itu sendiri, di mana mereka berfokus pada kesalahan korban dan ketika korban berusaha speak up pun mereka malah dihakimi, “budaya victim blaming muncul dari budaya di masyarakat, di mana ketika perempuan yang menjadi korban tidak memiliki suara untuk menyampaikan apa yang mereka alami dan ketika mereka speak up mereka dihakimi, ini seperti simalakama,” ujar Ibu Marzellina

Shafa Zahra menambahkan, adanya akar budaya menyalahkan korban yang muncul dari pengaruh kuat budaya patriarki dan stereotip gender di masyarakat. “Patriarki membuat perempuan dianggap sebagai penyebab masalah ketika terjadi kekerasan seksual. Padahal yang seharusnya ditanya adalah perilaku pelaku, bukan korban. Pola pikir ini harus berubah,” tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa edukasi tentang kesetaraan gender dan pencegahan kekerasan seksual perlu terus diperkuat di kampus maupun masyarakat agar terbentuk pola pikir yang lebih adil, penuh empati serta mampu menciptakan ruang aman dimulai dari keluarga dan bagi siapapun.

Sesi diskusi berlangsung interaktif, di mana peserta aktif memberikan pertanyaan terkait isu kekerasan seksual, beberapa mahasiswa mengatakan acara ini membuka wawasan baru tentang bagaimana mendukung korban, memberi dorongan, serta menghindari sikap menghakimi.

Dalam sesi diskusi, Mahasiswi Akuntansi 2024 bertanya bagaimana kita melawan atau apa senjata yang kita pakai terhadap adanya victim blaming. Shafa Alvira  mengungkapkan bahwa salah satunya adalah dengan menyuarakan di akun-akun media sosial, “kita sebagai mahasiswa memiliki privilege untuk menyuarakan di media sosial. Ketika punya platform, Mahasiswa diharapkan menyuarakan di media sosial di mana jangkauan media sosial luas tidak hanya di kalangan Mahasiswa”. Dia juga menegaskan bahwa tidak apa disebut fomo ketika ada suatu isu dan ada fitur add yours di IGS karena itu suatu fomo yang baik, “dibilang fomo karena add yours tapi kalau fomo-nya untuk hal baik memang kenapa?” tambahnya.

Sebagai tindak lanjut, panitia berencana melaksanakan kegiatan lanjutan dalam bentuk kampanye kesadaran dan advokasi anti kekerasan seksual yang melibatkan mahasiswa FEB Undip. Program ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam menghapus stigma terhadap korban dan menumbuhkan budaya saling menghargai di lingkungan kampus.

Salah satu peserta, Mahasiswa IE 2023, menyampaikan kesan mendalamnya setelah mengikuti kegiatan ini. “Ya, setelah kegiatan ini saya harap masyarakat terkhusus mahasiswa dapat menjadi lebih aware terhadap lingkungan sekitar. Jika ada teman yang mengalami kekerasan atau pelecehan, berusaha untuk tidak langsung menghakimi, tetapi mendengarkan dengan empati, memberikan validasi, dan memastikan mereka tidak merasa sendirian. Juga berani bersuara untuk ikut menyebarkan kesadaran bahwa kekerasan seksual adalah tanggung jawab bersama untuk dicegah dan dilawan”.

Melalui kegiatan “Tangan Terbuka: Stop Blaming Women, Start Fixing the Mindset” ini, BEM FEB dan BEM FH Undip menegaskan komitmennya untuk terus mengedukasi mahasiswa serta menciptakan ruang terkhusus ruang akademik yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan seksual.

Reporter : Rosita, Musa, Naila

Penulis : Rosita, Musa

Pelatihan Jurnalistik 2025: Upaya Nyalakan Api Pers Mahasiswa di Tengah Redupnya  Jurnalistik

Pelatihan Jurnalistik 2025: Upaya Nyalakan Api Pers Mahasiswa di Tengah Redupnya  Jurnalistik

Redupnya pers menjadi sinyal buruk dalam dunia jurnalistik, kepenulisan terasa kian tenggelam dalam hingar-bingar birokrasi. Selaku bagian pers mahasiswa, LPM Edents mengadakan Pelatihan Jurnalistik (PJ) sebagai upaya nyata untuk menghidupkan kembali semangat menulis dan berpikir kritis di kalangan mahasiswa. “Di tengah menurunnya minat mahasiswa terhadap jurnalistik, kami harus bisa membuktikan bahwa dunia pers kampus bermakna dan bermanfaat,” ujar Tsaniya, Project Officer PJ 2025. Pernyataan ini menjadi landasan Edents dalam mengembalikan makna sejati jurnalistik kampus sebagai wadah intelektual yang independen dan berintegritas.

Mengangkat tema “Tulisan untuk Perubahan : Dari Layar ke Realita”, kegiatan ini berlangsung mulai pukul 09.15 hingga 12.00 WIB dengan pembicara hari pertama yaitu presenter TVRI sekaligus Dosen prodi Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro, Choirul Ulil Albab. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa dunia jurnalistik adalah medan yang tidak pernah lepas dari konflik dan dinamika sosial. “Karena Jurnalistik adalah profesi yang selalu berkutat dengan konflik, maka kita harus bisa mengkaji, mengatur terkait dengan bagaimana produk–produk informasi ataupun berita yang kita buat bisa lebih relevan,” ujarnya. 

Dalam pelatihan ini, Kak Ulil sapaan akrabnya, membagikan berbagai wawasan mengenai sikap jurnalis di lapangan, etika profesi, serta realitas yang dihadapi jurnalis dalam praktiknya. Kak Ulil juga membagikan tips and trick  tentang bagaimana Pers dapat tetap terlihat idealisme dan berpihak pada kebenaran. Menurutnya, jurnalis harus memiliki wawasan yang luas, sehingga dapat menyampaikan informasi sejujurnya, dan dapat bijaksana dengan selalu berpihak pada kebenaran. Beliau juga menyebutkan bahwa fitrah seorang jurnalis adalah membela warga, karena itulah fungsi pers sebagai kontrol sosial.

Pada sesi ini, Kak Ulil ditemani oleh Moderator yaitu Rizki Fahrizal Aziz. Rizki menambahkan bahwa tantangan terbesar bagi pers mahasiswa adalah dalam hal independensi, sebab tidak seperti jurnalisme profesional, jurnalis kampus tidak memiliki back-up yang seharusnya. Hal inilah yang menjadikan keberanian dan idealisme menjadi modal utama bagi pers mahasiswa untuk menjalankan fungsi kontrol sosial dan menyuarakan kebenaran di lingkungan kampus.

Tak dapat dipungkiri, keterpurukan minat terhadap  jurnalistik di kalangan mahasiswa semakin parah dari tahun ke tahun. Hal ini tentu saja menjadi tantangan besar  bagi LPM Edents untuk memastikan pelatihan jurnalistik ini benar-benar berdampak tidak hanya sekedar kegiatan seremonial. “Kami berupaya menghadirkan pelatihan yang tidak hanya memberi teori, tetapi juga pengalaman yang membangkitkan kesadaran bahwa menulis dan berpikir kritis adalah bentuk keberanian untuk peduli pada lingkungan kampus,” tambah Tsaniya.

Zainal, salah satu peserta, mengungkapkan bahwa terdapat insight baru yang didapat terkait mitigasi peliputan saat aksi demonstrasi. Pemateri menyebutkan bahwa agar jurnalis dapat merasa aman saat meliput, salah satu cara efektif adalah berada di belakang barisan polisi sambil berdialog dan membangun komunikasi yang baik. Zainal  juga menyampaikan bahwa secara keseluruhan, pelaksanaan PJ sudah sangat baik, meski masih ada beberapa substansi yang bisa ditingkatkan ke depannya.

Pelatihan Jurnalistik ni berlanjut pada hari kedua, Sabtu, 18 Oktober 2025, dengan menghadirkan narasumber Titis Anis Fauziyah, selaku junalis kontributor Kompas.com Semarang yang membawakan materi “Jurnalisme Kreatif: Memanfaatkan Ruang Digital sebagai Pemberdayaan Akal.” Dalam pemaparannya, Kak Titis menegaskan bahwa semangat pers mahasiswa sesungguhnya telah terbangun, namun perlu digugah kembali melalui ruang diskusi dan praktik lapangan. “Perlu sesekali mengundang jurnalis profesional untuk berbagi pengalaman, karena dari situ teman-teman persma bisa melihat bagaimana kerja jurnalistik mampu mendorong perubahan kebijakan atau sosial. Itu nantinya dapat membangkitkan kembali semangat pers mahasiswa,”ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya tindak lanjut dari kegiatan seperti pelatihan jurnalistik ini. Menurutnya, peserta yang telah menggali isu dan ide liputan dapat diajak untuk mengulas dan membuat berita tersebut secara bersama. “Kalau isunya sama, ayo dikerjakan bareng-bareng, dibagi tugas, tapi tetap saling koordinasi. Dari situ bisa muncul semangat dan kekompakan baru,”jelasnya. Kak Titis menambahkan bahwa keberlanjutan pelatihan jurnalistik dapat dijaga dengan rutin melakukan brainstorming isu di setiap bulan, sehingga pelatihan tidak berhenti pada ruang teori saja, tetapi berlanjut dalam kerja jurnalistik yang nyata.

Kak Titis juga menekankan relevansi pers kampus harus terus dijaga dengan cara memperkuat kolaborasi dan jejaring antar LPM maupun dengan dosen pendukung.”Kalau liputan dirasa sensitif, ajak LPM lain untuk kolaborasi. Sekarang bukan zamannya siapa yang tercepat, tapi bagaimana liputan kita bisa mendorong perubahan sosial. Kolaborasi itu penting,” tegasnya. Menurut Kak Titis, tulisan mahasiswa masih sangat mungkin menjadi kekuatan perubahan, asalkan diikuti oleh komitmen untuk mengawal isu hingga tuntas. “Kebenaran itu dibangun dari fakta yang disampaikan setiap hari. Walau hasilnya tidak selalu seperti yang kita inginkan, yang penting kita menulis dengan tujuan berpihak pada publik,”pungkasnya.

Salah satu peserta, Vani Fajria, mahasiswa Prodi Biologi Fakultas Sains dan Matematika (FSM) 2025, menyampaikan bahwa dirinya mengetahui informasi pelatihan ini melalui Instagram. Ia mengaku mendapat banyak wawasan baru setelah mengikuti kegiatan ini. “Sangat menambah wawasan, karena saya sendiri berminat di bidang jurnalistik dan ingin melanjutkan menjadi jurnalis muda di FSM. Ini benar-benar menjadi bekal untuk saya karena saya jadi mengetahui cara-cara menjadi jurnalis, bagaimana observasi, dan menulis berita,” ungkapnya. Ia juga menambahkan kesannya, “Sangat menyenangkan, sangat seru, pengalaman yang excited.”

Melalui rangkaian Pelatihan Jurnalistik ini, Edents berupaya meneguhkan kembali eksistensi pers mahasiswa sebagai garda terdepan penyampai kebenaran dan pembawa perubahan. Bahwa di tengah derasnya arus informasi dan menurunnya minat menulis, masih ada ruang untuk membangun idealisme dan keberanian bersuara melalui tulisan.

Reporter: Sabrina, Najwa, Royhan, Widya, Zaki

Penulis: Sabrina, Najwa

Halo Effect: Ketika Kesan Pertama Mengaburkan Penilaian Objektif

Oleh : Ramadhan Wicaksana 

Sebagai mahasiswa, kita hampir setiap hari dihadapkan pada situasi di mana kita harus menilai orang lain atau sesuatu berdasarkan informasi terbatas. Sayangnya, otak manusia punya kecenderungan untuk mengambil jalan pintas dalam menilai, dan inilah yang disebut halo effect. Fenomena ini membuat kesan pertama yang kuat “baik positif maupun negatif” mempengaruhi penilaian kita terhadap aspek-aspek lain yang sebenarnya tidak berkaitan.

Contoh paling nyata yang sering kita alami adalah ketika bertemu dosen baru. Jika dosen tersebut berpenampilan menarik, berbicara lancar, dan menggunakan slide yang bagus di pertemuan pertama, kita langsung berasumsi bahwa beliau adalah pengajar yang hebat dalam segala aspek. Kita bahkan belum tahu bagaimana cara beliau menjelaskan materi yang rumit atau seberapa adil sistem penilaiannya.

Kita juga bisa melihat halo effect ini dalam pergaulan sehari-hari di kampus. Ada teman yang selalu datang pagi, duduk di barisan depan, dan rajin mencatat materi, langsung kita anggap dia yang paling pintar di kelas. Tapi sebenarnya, rajin dan pintar itu dua hal yang beda. Ada juga teman yang sering telat masuk kelas atau kelihatan cuek, kita sering langsung judge dia pemalas atau tidak peduli sama kuliah. Padahal bisa jadi dia tipe orang yang bisa paham materi hanya dengan sekali baca, makanya terkesan santai.

Hal yang sama juga terjadi ketika kita hendak memilih organisasi atau UKM. Melihat sekretariatnya keren, website-nya bagus, langsung berpikir “wah ini pasti bagus nih”. Kita sering malas buat cari tahu lebih jauh, misalnya program kerjanya apa saja, pengurusnya kompeten atau tidak, atau sudah melakukan apa saja selama ini organisasi tersebut.

Nah, yang membuat risiko tinggi itu jika sampai salah pilih hal-hal penting seperti dosen pembimbing skripsi. Terkadang kita kepincut sama dosen yang kelihatan asik, gaul, atau up to date sama teknologi terbaru. Tapi kita lupa mengecek, beliau benar-benar mengerti bidang yang akan kita teliti atau tidak. Ada juga yang sebaliknya, takut dengan dosen yang terlihat killer atau strict, padahal beliau ahli sekali di bidangnya dan dapat membimbing kita sampai lulus dengan hasil memuaskan.

Dampak jangka panjang dari bias ini cukup serius. Halo effect dapat membuat kita melewatkan peluang berharga atau justru terjebak dalam pilihan yang salah. Dalam dunia kerja nanti, kemampuan menilai secara objektif akan sangat diperlukan, baik untuk memilih rekan kerja, mengevaluasi ide bisnis, maupun mengambil keputusan strategis.

Untuk menghindari jebakan halo effect, kita perlu lebih berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam menilai. Jangan langsung menarik kesimpulan hanya berdasarkan satu atau dua aspek yang terlihat di permukaan. Berikan waktu untuk mengumpulkan informasi yang lebih lengkap sebelum membuat penilaian akhir. Saat bertemu orang baru atau menghadapi situasi baru, cobalah bertanya pada diri sendiri: “Apa yang benar-benar saya ketahui tentang ini? Informasi apa saja yang masih saya butuhkan?”

Langkah praktis lainnya adalah dengan sengaja mencari informasi dari berbagai sumber dan sudut pandang yang berbeda. Jika tertarik dengan suatu organisasi, tanyakan kepada anggota lama tentang pengalaman mereka. Jika mempertimbangkan dosen pembimbing, cari tahu rekam jejak penelitiannya dan bagaimana pengalaman mahasiswa bimbingannya sebelumnya.

Menyadari adanya halo effect adalah langkah awal untuk menjadi pemikir yang lebih objektif. Sebagai generasi yang akan menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks, kemampuan ini akan sangat bermanfaat untuk mengambil keputusan yang lebih tepat dan menghindari kesalahan penilaian yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Keterampilan berpikir kritis ini tidak hanya berguna selama kuliah, tetapi juga akan menjadi bekal berharga untuk karier dan kehidupan pribadi di masa depan.

Dari Hama Jadi Cuan: PPK Ormawa Memberdayakan Ibu-Ibu Desa Asinan Jualan Kerupuk & Nugget “Red Devil” via Medsos

Desa Asinan di Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, merupakan desa wisata yang mengandalkan Rawa Pening sebagai sumber mata pencaharian. Namun, ekosistem rawa dan populasi ikan mujair terancam oleh ikan predator invasif ‘Red Devil’. Ikan ini dianggap hama karena tidak bernilai jual dan tidak enak untuk dimakan langsung serta mengganggu tangkapan nelayan. Tingkat invasinya yang masif dapat digambarkan bahwa dari sepuluh hasil tangkapan, delapan di antaranya adalah Red Devil. Ikan Red Devil sejatinya adalah ikan hias endemik Amerika yang menjadi invasif setelah dilepasliarkan tanpa pengawasan.

Melihat masalah ini, tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) dari FEB Undip menawarkan solusi dengan mengolah ikan Red Devil menjadi produk bernilai ekonomis seperti kerupuk dan nugget yang mengingat populasi dari Red Devil yang melimpah. Sejak Juli, tim menginisiasi pelatihan produksi bagi ibu-ibu Desa Asinan. Aliya Zakira, mahasiswa Akuntansi 2023 Undip selaku ketua, menjelaskan program ini berfokus pada kemandirian usaha untuk menjadikan produk olahan ini sebagai oleh-oleh khas baru. Keberhasilan awal terbukti saat percobaan penjualan pertama pada bulan September di Car Free Day Simpang Lima, dimana produk berhasil terjual 12 pouch kerupuk Raja Merah dan 8 pack nugget Tresno Abang, yang mendapat keuntungan sekitar Rp420.000. 

Tidak berhenti di sana, tim PPK Ormawa melanjutkan program untuk memastikan keberlanjutan usaha. Pada Sabtu (4/10), mereka kembali menggelar pelatihan lanjutan dengan fokus pada kemandirian produksi dan pemasaran digital. Menurut Aliya materi ini relevan karena banyak UMKM di Desa Asinan yang belum melek digital. Materi pemanfaatan media sosial sebagai alat promosi dibawakan oleh Stella, mahasiswa Manajemen Undip 2022 yang juga seorang praktisi. Stella menyatakan, “karena audiens yang akan datang merupakan ibu-ibu, jadi materi yang akan aku bawakan tentang pemanfaatan Instagram, Facebook dan TikTok jadi alat promosi bukan hanya hiburan.”

Pada kunjungan ini, Rafi Ridha Tockary selaku ketua BEM FEB Undip, juga hadir menyampaikan sambutan. Tockary berharap program ini dapat membuka keran-keran usaha baru dan meningkatkan kesejahteraan warga Desa. 

Warga desa yang hadir, Ibu Ani selaku ketua produksi nugget Tresno Abang dan ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) SI ABANG, merasa terbantu dengan program pemberdayaan ini. Menurutnya, ikan Red Devil yang sebelumnya hanya dibuang atau menjadi pakan hewan, kini telah menjadi produk olahan bernilai jual lebih tinggi. Ibu Ani juga menyambut positif materi tentang media sosial dari Stella, yang memungkinkan warga desa memasarkan produk secara lebih luas dan mandiri tanpa bergantung pada tim PPK Ormawa. Sebagai tindak lanjut, dalam pertemuan ini diinisiasi pembuatan akun e-commerce untuk KUB SI ABANG.

Namun, dalam program ini Ibu Rusmiyah selaku ketua produksi kerupuk Raja Merah, mengeluhkan kurangnya tenaga kerja sehingga produksi tidak maksimal. Ia kesulitan membuat kerupuk dengan hanya empat orang, padahal perencanaan awal membutuhkan sepuluh orang per produksi. Masalah ini terjadi karena tidak adanya kontrak yang profesional sehingga banyak yang mengundurkan diri. Sebagai solusi, PPK Ormawa menawarkan pembuatan kontrak kerja yang lebih profesional dan mengikat. Hingga saat ini, masalah tersebut masih berusaha dipecahkan dan dievaluasi.

Aliya selaku ketua mengharapkan program ini dapat berkelanjutan meskipun program PPK Ormawa di masa baktinya akan berakhir pada bulan November. Ia berharap program pemberdayaan ini dapat terus dimonitor dan dievaluasi melalui regenerasi ke masa bakti berikutnya. Harapannya, Desa Asinan tidak hanya menjadi desa pariwisata tetapi juga dapat berkembang menjadi desa wirausaha yang berdampak nyata bagi kesejahteraan warga setempat.

Reporter: Royhan, Aurellia

Tiga Kandidat FEB Undip Adu Gagasan dalam Uji Publik LKMM-TM 2025

Semarang, (29/09) – Uji Publik LKMM-TM FEB Undip 2025 merupakan kegiatan seleksi terbuka untuk menentukan perwakilan terbaik Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro yang akan menjadi delegasi dalam ajang Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM-TM) tingkat universitas. Kegiatan yang berlangsung di Dome FEB Undip ini melibatkan berbagai elemen penilaian untuk memastikan objektivitas dalam menilai kualitas kepemimpinan, pemikiran strategis, dan integritas calon delegasi.

Dalam acara terdapat 3 sesi yaitu: sesi pemaparan materi  selama 20 menit, sesi banding selama 10 menit, dan sesi Q&A selama 20 menit untuk setiap kandidat. Tahun ini, terdapat tiga kandidat yang maju mewakili FEB Undip, yaitu Entol Evan Surya Mahendra, Muhammad Fadhil Firmansyah, dan Muhammad Rafi Ilma.

Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua BEM FEB Undip, Rafi Ridho Tockary, yang bertindak sebagai panelis. Ia menekankan bahwa, “sering terjadi miskonsepsi seolah-olah LKMM hanya ditujukan bagi mereka yang menjadi ketua organisasi. Esensi kegiatan ini adalah manifestasi untuk menyelesaikan permasalahan sekaligus mencari penerobosan baru di organisasi mahasiswa,” ujarnya. Setelah sambutan tersebut, acara berlanjut ke sesi pemaparan materi yang diawali oleh kandidat pertama.

Entol Evan Surya Mahendra (Kandidat 1)

Entol Evan Surya Mahendra mengajukan gagasan penerapan prinsip ESG (Environment, Social, Governance) dalam organisasi mahasiswa untuk menciptakan keberdampakan yang lebih nyata, kolaboratif, dan berkelanjutan. Menurutnya organisasi mahasiswa di FEB Uv  ndip selama ini masih cenderung berfokus pada formalitas program, ketimbang hasil yang berkelanjutan. Padahal, mahasiswa seharusnya menjadi agent of change yang mampu melahirkan solusi bagi persoalan sosial, lingkungan, sekaligus memperbaiki tata kelola internal. 

Evan juga menekankan pentingnya tata kelola organisasi yang transparan, akuntabel, partisipatif, dan efektif, sejalan dengan prinsip good governance. Selain itu, ormawa diharapkan mampu menghadirkan program sosial dan lingkungan yang tidak hanya simbolis, tetapi memberikan dampak nyata serta melibatkan kolaborasi dengan banyak pihak, termasuk NGO. Dengan demikian, organisasi mahasiswa tidak hanya menjadi wadah kegiatan, tetapi juga laboratorium kepemimpinan yang mendorong perubahan sosial berkelanjutan.

Muhammad Fadhil Firmansyah (kandidat 2)

Muhammad Fadhil Firmansyah menyoroti kebijakan Inpres No. 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran pendidikan tinggi. Ia menilai kebijakan tersebut, meski ditujukan untuk optimalisasi belanja negara, berpotensi berdampak pada mahasiswa melalui kemungkinan kenaikan UKT, pengurangan beasiswa, serta kualitas layanan pendidikan. Dari hasil survei terhadap mahasiswa FEB Undip, mayoritas responden menyatakan khawatir bahwa efisiensi justru berujung pada komersialisasi pendidikan dan memperlebar jurang kesenjangan.

Fadhil menegaskan bahwa pendidikan tinggi adalah hak konstitusional yang dijamin UUD 1945. Ia juga mengkritisi narasi efisiensi pemerintah yang dianggap lebih sebagai jalan pintas untuk menutupi lemahnya tata kelola anggaran. “Organisasi mahasiswa harus hadir sebagai aktor sosial-politik yang kritis, bukan hanya menolak kebijakan yang diskriminatif tetapi juga menawarkan alternatif berbasis data dan solusi yang adil demi menjaga akses pendidikan tetap inklusif,” tegasnya

Muhammad Rafi Ilma (Kandidat 3)

Muhammad Rafi Ilma membawa gagasan reformasi student government di Universitas Diponegoro melalui pembentukan Mahkamah Mahasiswa sebagai lembaga independen berfungsi yudikatif. Menurutnya, kondisi saat ini masih timpang karena hanya terdapat eksekutif (BEM) dan legislatif (Senat Mahasiswa), sementara fungsi yudikatif belum terwadahi secara jelas. Hal ini menimbulkan potensi tumpang tindih kewenangan dan dominasi legislatif, sehingga mekanisme check and balance tidak berjalan optimal.

Menurut Rafi, penerapan prinsip trias politica dalam organisasi mahasiswa sangat penting demi menjaga keadilan dan akuntabilitas (check and balance). Meski menyadari adanya tantangan seperti legitimasi politik, netralitas, dan kesiapan SDM, ia meyakini keberadaan Mahkamah Mahasiswa dapat memperkuat demokrasi kampus dan menjaga keseimbangan kekuasaan antar lembaga kemahasiswaan.

Dalam wawancara singkat, ketiga kandidat juga memberikan pandangannya terkait persiapan mengikuti uji publik. Kandidat kedua LKMM-TM, Muhammad Fadhil Firman, menyatakan pentingnya penulisan makalah yang substansial sebagai dasar argumentasi yang disampaikan kepada mahasiswa FEB Undip maupun ke panelis.

“Baik, menurut saya persiapan yang paling penting dan perlu untuk ditekankan adalah dalam hal penulisan makalah. Karena itu merupakan suatu hal yang penting ketika kita berbicara mengenai LKM-TM. Karena kita harus memberikan substansi kepada mahasiswa FEB Undip maupun ke panelis yang akan kita ujikan nantinya, seperti itu. Selain itu, saya juga mempersiapkan diri dengan latihan presentasi agar gagasan dapat tersampaikan secara jelas kepada juri dan peserta,” ujar Muhammad Fadhil Firman Syah

Selain Muhammad Fadhil Firman ada juga Entol Evan Surya  menyatakan bahwa pentingnya memilih tema yang relevan dan krusial. “Oke, buat aku pribadi, hal pertama yang krusial adalah memilih tema yang relevan dengan diri kita dan yang paling urgen atau dibutuhkan di FEB, tapi tetap realistis sehingga memiliki peluang besar untuk direalisasikan,” ujarnya

Sementara itu persiapan yang dilakukan Muhammad Rafi Hilma dalam LKMM-TM ini  menyiapkan makalah yang paling harus dilengkapi. “Persiapan terkait uji publik yang pertama adalah menyiapkan mental terlebih dahulu ya. Karena pastinya gejolak politik, baik itu akun-akun buzzer atau yang lainnya, pastinya bakal muncul di sana. Selain itu, saya juga mempersiapkan makalah, video, dan berkas-berkas lain yang harus dilengkapi, seperti surat aktif organisasi dan kelakuan baik. Dan mungkin, terkait substansi ilmu yang akan kita tuangkan di dalam makalah jadi salah satu yang paling penting sih untuk mempersiapkan hari ini,” ujarnya

Selain para peserta, panitia juga memberikan pandangannya. Muhammad Satrya Daffa, Kepala Bidang PSDM BEM FEB Undip, menjelaskan bahwa LKMM-TM merupakan wadah menuju jenjang kaderisasi terakhir. Ia menegaskan bahwa meskipun tahun ini hanya ada tiga pendaftar, hal itu tidak otomatis menjamin ketiganya lolos. “Mungkin langkah yang kita ambil kan sebenarnya kuotanya empat, tapi pendaftar tahun ini cuma tiga. Jadi tentu kita nggak bisa bilang 100% semuanya pasti lolos. Karena in the end, hari ini kan uji publik, uji kelayakan, yang based on apa yang panelis nilai. Nanti juga bakal didiskusikan lagi bareng panelis, kira-kira dari apa yang sudah mereka persiapkan, apakah masuk tahap layak atau nggak. Dan taraf kelayakan itu juga ditentukan lewat diskusi panelis lagi. Jadi ya, apapun kondisinya, kita nggak bisa jamin semua pasti lolos. Hasil akhirnya tetap balik lagi ke diskusi panelis yang dibicarakan secara tertutup,” ujarnya.

Muhammad Satrya Daffa juga mengatakan kalau acara ini diselenggarakan masih dalam jauh dari kata sempurna, karena keterbatasan sumber daya membuat persiapan acara ini kurang maksimal, sehingga untuk tahun selanjutnya akan dibuatkan tim khusus acara LKMM-TM FEB.

Dengan adanya acara LKMM-TM FEB ini membuat teman teman FEB lain menjadi penasaran siapa yang menjadi pemenang atau yang mewakili LKMM-TM FEB 2025 ditingkat pusat.

Reporter: Alvaro

Penulis: Tsaniya, Alvaro

Pentas Produksi Teater Buih 2025: Penampilan Dengan Makna Mendalam

(Semarang, 25/09) Teater Buih FEB Undip kembali menggelar Pentas Produksi 2025 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang. Pada tahun ini Pentas Produksi menampilkan mahakarya dari Heru Kesawa Murti berjudul “Dhemit”, diwarnai dengan interpretasi baru khas Teater Buih. Pentas Produksi kali ini didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, Dinas Pariwisata Kota Semarang, OPPO, Super Skin, Pop Mie, Horison Inn, Orlin, ID Food, dan Undip Maju. 

Bapak Samsul Bahri Siregar, SH, MM., perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, dalam sambutannya menyatakan bahwa dukungan dari Disbudpar dalam pementasan ini adalah salah satu bukti mereka dalam melestarikan seni pertunjukkan. Beliau juga berharap bahwa seni dan budaya kita akan terus dilestarikan, “acara ini merupakan bukti bahwa budaya tidak pernah berhenti atau mati tapi bertransformasi, mudah-mudahan tahun depan akan berlanjut lagi.”

Bukan Sekadar Pentas Biasa

Pentas Produksi tahun ini lebih spesial dari tahun-tahun sebelumnya karena melalui penampilan ini penonton diajak untuk melihat “Dhemit” dengan nuansa yang berbeda, bukan sebatas hantu atau setan namun bermakna manusia yg bersifat rakus. Penampilan ini mengkritik manusia yang mengeksploitasi alam tanpa memikirkan dampaknya. Muthia Ayu Sheillawati, Koor Make-up dan Kostum, mengatakan bahwa sebelum pementasan panitia terlebih dahulu mempelajari isu-isu yang sedang ramai belakangan, mencari apa saja yang sedang naik daun, kemudian memadukannya dengan seni. Akhirnya terpilihlah isu lingkungan yang belakangan rasanya semakin parah, seperti penebangan liar, yang kemudian diangkat menjadi alur cerita “Dhemit”.

Mempersembahkan penampilan yang sangat memukau tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Nurul Izzah Salsabila, Pimpinan Produksi, mengaku bahwa keputusan yang paling sulit mereka ambil adalah keputusan untuk membuat semuanya sendiri, tidak menggunakan produk atau jasa orang lain. Dalam perjalanannya banyak dijumpai trial and error yang membuat frustasi namun memberikan banyak sekali pelajaran. “Naskah kolosal yang kami gunakan mengharuskan untuk memiliki banyak properti seperti pohon yang tingginya 4 meter yang harus kami kerjakan siang dan malam bekerja sama. Walau lelah tapi dari situ kami mendapatkan pengalaman, relasi, bahkan belajar saling berbagi,” ungkapnya.

Selain pementasan teater, Pentas Produksi tahun ini juga menampilkan stand up comedy, musikalisasi puisi, dan persembahan tari dari Kesenian Jawa Undip. Jessica Sihite, Staff Make-up dan Kostum, menyatakan bahwa tema stand up comedy dan musikalisasi disesuaikan dengan tema pementasan utama. “Dengan begitu, hiburan stand up comedy dan musikalisasi tidak berdiri sendiri dan menjadi gabungan keseluruhan dari pementasan utama. Hal ini juga bertujuan untuk menjaga suasana emosional penonton sehingga pementasan utama lebih berkesan,” ungkapnya.

Cerita Aktor Di Balik Peran Mereka

Core atau inti dari seni teater tentunya adalah para aktor dan cara mereka memerankan karakter di atas panggung. Nur Adila, berperan sebagai Madam (Jin Pohon Beringin), melatih karakternya dengan mencari sudut pandang yang sesuai, mendalami apa yang dialami karakter, melihat bagaimana sifat karakter, membuang semua pribadi dan menggantikan sesuai peran karakter, serta selalu membaca naskah yang tersedia. Pada saat latihan, Adila mengaku sempat berbeda interpretasi dengan sutradara, “saya berperan sebagai Jin Pohon Beringin yang digambarkan sebagai nenek yang memiliki postur bungkuk dan membawa tongkat. Namun karena ketika membungkuk suara saya tidak terlepas, maka sutradara mengganti postur tubuh saya dengan tegak menantang dan suara yang berwibawa,” ujarnya.

Selain itu Adila juga menceritakan hal yang paling menantang dalam memerankan tokoh Madam adalah ketika adegan meluapkan kemarahan di ending cerita, di mana ia harus berteriak lancang sebagai tanda kekalahan dan kefrustasian. Hal tersebut sangat menguras tenaga karena harus memahami apa yang dialami karakter dan harus menunjukkan kekuatan lebih daripada adegan yang lain. Selain itu ia juga merasa kesulitan saat menghafal banyak dialog sehingga sering terbolak-balik dan salah kalimat.

Melalui perannya sebagai Jin Pohon Beringin, Adila ingin menyampaikan pesan bahwa sebagai manusia kita tidak boleh serakah dengan kehidupan dan harus mengingat batasan-batasan yang ada. “Cerita ‘Dhemit’ ini sebenarnya ditujukan untuk mengkritik manusia yang selalu merusak alam, menebang pohon seenaknya tapi dengan dalih dunia dhemit,” ungkapnya.

Kesan Mendalam Bagi Audiece

Judul “Dhemit” sekilas memberikan kesan horror bagi audience, namun ternyata judul tersebut menyimpan makna. Hal ini dirasakan oleh Sekar, Mahasiswi jurusan Akuntansi, dari judul ia mengira akan ada banyak adegan horror, “ternyata meskipun dibalut dengan nuansa komedi, tapi justru unsur horror nya implisit di dalam makna ceritanya. Pementasan ini nunjukin bahwa keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam itu horror banget! Lebih “dhemit” daripada “dhemit” itu sendiri,” ujarnya.

Sekar juga membagikan adegan paling memorable menurutnya yaitu ketika si mandor proyek tidak memenuhi janjinya kepada Madam untuk menjaga alam. Menurutnya hal ini sangat relate dengan manusia yang suka lupa dengan janji setelah keinginannya terpenuhi, “jujur ini ngena banget baik di kehidupan sehari-hari kita maupun dengan isu politik akhir-akhir ini.”

Sejalan dengan pernyataan Sekar, Valiza, Mahasiswi jurusan Akuntansi, mengatakan bahwa representasi karakter para dhemit yang muncul sebagai ‘suara’ alam ketika alam menderita akibat ulah manusia, mudah dipahami, lucu, dan memberi pesan mendalam. Ia juga mengungkapkan dipadukannya teater dengan stand up comedy, musikalisasi puisi, dan kesenian jawa membuat suasana menjadi lebih santai. “Meskipun topik yang dibawa cukup serius, jadi tidak terlalu tegang. Musikalisasi puisinya sangat indah dan bikin merinding,” ungkapnya.

Baik Sekar dan Valiza, keduanya sepakat bahwa Pentas Produksi Teater Buih 2025 telah memberikan kesempatan bagi penonton untuk mengenal seni dan budaya sekaligus isu-isu yang dekat dengan kehidupan sekarang. Sekar menambahkan bahwa hal ini merupakan cara yang fresh untuk mengajak anak-anak muda berdiskusi soal isu sosial dan lingkungan, tidak hanya melalui diskusi formal saja.

Reporter: Sabrina, Cantika

Penulis: Cantika

Akademia Pilar Demokrasi

Oleh: Rayhan Riza

Kita sering mendengar bahwa empat pilar demokrasi yang terdiri dari Legislatif, Eksekutif, Yudikatif, dan Pers. Namun, ada satu elemen krusial masyarakat yang juga memainkan peran vital dalam menegakkan prinsip-prinsip demokrasi. Satu elemen itu adalah akademia.

Baru-baru ini, kita menyaksikan perseteruan sengit antara Universitas Harvard dengan Donald Trump di Amerika Serikat. Perseteruan ini merupakan akibat ketidakpatuhan Harvard terhadap beberapa kebijakan Trump yang bertentangan dengan prinsip demokrasi dan melanggar integritas akademia. Dalam kata lain, Harvard menolak untuk tunduk kepada Trump. Hal ini bukan tanpa konsekuensi, serangan sistematis yang dilakukan oleh Trump mengakibatkan Harvard kehilangan jutaan dolar dana federal, izin penerimaan mahasiswa asing, dan status lembaga bebas pajak.

Ini bukan hanya pertarungan hukum, tetapi juga pertarungan prinsip. Prinsip independensi yang dianut oleh setiap institut perguruan tinggi dan perannya sebagai kontrol sosial di kalangan warga negara. Dalam hal ini, Harvard tetap berpegang teguh pada prinsip independensinya dan menolak untuk tunduk pada intervensi pemerintahan Trump. Selain mencerminkan citra Amerika Serikat sebagai salah satu pusat pendidikan dan prinsip demokrasi, studi kasus ini merefleksikan gambaran yang lebih luas tentang akademia dan hubungannya dengan kekuasaan dan publik secara umum.

Kekuasaan pada hari ini memiliki satu tren yang senada di seluruh penjuru dunia: Autokratisasi. Demokrasi hari ini tengah mengalami kemunduran yang cukup signifikan, dan peran akademia guna menanggulangi hal ini lebih diperlukan dari sebelumnya. Selain menjalankan peran sebagai pengawal moral, ini adalah bentuk tanggung jawab akademia sebagai kontrol sosial supaya kekuasaan dan masyarakat berjalan sesuai dengan nilai-nilai demokrasi. Karena tanggung jawab akademia tidak hanya terbatas dalam mendidik civitasnya, tapi mendidik warga negaranya dan umat manusia secara keseluruhan. Tapi satu bisa bertanya, apa saja sebenarnya yang menjadi tanggung jawab akademia sebagai pilar demokrasi? 

Tanggung jawab fundamental bagi akademia adalah untuk mempertahankan kebenaran dan integritas dalam prinsip intelektual. Di tengah era Post Truth dan manipulasi informasi oleh aktor politik, akademia harus tetap mematuhi prinsip-prinsip kejujuran intelektual, ketekunan akademis, dan perilaku etis. Dengan mempertahankan integritas, akademia dan intelektual berkontribusi untuk membendung segala macam kekuatan yang secara sengaja mengancam demokrasi.

Di tengah kemunduran demokrasi, akademia dan intelektual harus bertindak sebagai pembela yang kuat dari prinsip-prinsip dan institusi demokrasi. Kita memiliki kewajiban untuk berbicara melawan upaya untuk merusak demokrasi, termasuk pembatasan kebebasan politik, serangan terhadap kemerdekaan pikiran, dan erosi integritas kelembagaan. Menyuarakan kedaulatan hukum, kebebasan berekspresi, dan hak untuk partisipasi politik.

Akademia juga memainkan peran penting dalam mempromosikan pendidikan sipil dan keterlibatan warga. Guna memperkokoh demokrasi, maka kita memiliki tanggung jawab untuk mendidik masyarakat tentang hak, tanggung jawab, dan pentingnya partisipasi demokratis sebagai landasan dasar demokrasi itu sendiri. Memasifkan kuliah publik, kampanye pendidikan, dan program promosi masyarakat, sudah menjadi tugas kita untuk memberdayakan warga negara untuk membuat keputusan yang berdasarkan pengetahuan, melaksanakan kewajiban sipil mereka, dan terlibat aktif dalam proses demokrasi.

Kewajiban untuk secara kritis mengoreksi kekuasaan dan ketidakadilan dalam masyarakat. Meningkatkan kesadaran akan ketidaksetaraan sistemik, korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan yang merusak pemerintahan demokratis dan keadilan sosial. Melalui Dharma Penelitian Perguruan Tinggi yang menurun pada penelitian, penerbitan analisis, dan mendorong reformasi kebijakan, mereka berkontribusi untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, adil, dan bertanggung jawab.

Akademia bertanggung jawab untuk mendukung perlindungan hak asasi manusia, martabat, dan keadilan sosial bagi semua warga negara. Kita mempunyai kewajiban moral untuk menyuarakan perlawanan terhadap pelanggaran hak asasi manusia, diskriminasi, dan pelecehan terhadap kebebasan sipil yang dilakukan oleh pemerintah atau aktor lain. Menyuarakan masyarakat yang termarginalisasi, mendorong reformasi kebijakan, dan mendukung prinsip hak asasi manusia, serta berkontribusi untuk memajukan hak dan martabat manusia.

Sebagai wujud nyata, kita harus aktif terlibat dalam dialog dan musyawarah demokratis untuk mempromosikan pemahaman, konsensus, dan pengambilan keputusan demokrasi. Secara aktif mempromosikan pertukaran ide-ide yang terbuka, menghormati perspektif yang beragam, dan mencari dasar bersama dalam mengatasi tantangan masyarakat. Dengan memfasilitasi dialog antara pemerintah, masyarakat sipil, dan warga negara, intelektual mempromosikan pluralisme demokratis dan berkontribusi pada pembangunan demokrasi yang lebih inklusif dan partisipatif.

Apa yang dilakukan oleh kalangan civitas academica akhir-akhir ini di belahan dunia manapun merupakan perwujudan dan pelaksanaan tanggung jawab kita kepada publik. Kelalaian terhadap prinsip-prinsip demokrasi saat ini yang dilakukan oleh kekuasaan menuntut peran penting kita  untuk mempertahankan nilai-nilai demokrasi, mempromosikan akuntabilitas, dan mendorong kemajuan masyarakat. Upaya kolektif akademia, intelektual dan warga negara untuk mengatasi tantangan saat ini menuju masa depan yang demokratis, berkeadilan, dan berkemakmuran adalah alasan mengapa akademia patut disebut sebagai pilar demokrasi.