Aliansi BEM Undip Menggugat : Tiga Tuntutan untuk Keadilan

Semarang, (30/08) – Aliansi BEM Undip melaksanakan aksi solidaritas dari civitas akademika Universitas Diponegoro yang bertajuk “Indonesia Sekarat: Bebaskan Kawan Kami, Wujudkan Reformasi Polri”. Aksi tersebut digelar di depan Mapolda Jawa Tengah pada Sabtu siang. Aksi ini merupakan bagian dari gelombang protes nasional menentang tindakan represif aparat sekaligus mendesak sejumlah tuntutan kepada pemerintah.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa Undip menyuarakan tiga tuntutan utama. Pertama, membebaskan kawan-kawan mahasiswa Undip yang masih di tangkap aparat dan dalam proses persidangan. Kedua, mendesak agar Kapolri yang saat ini menjabat untuk segera dicopot dari jabatannya. Ketiga, mengusut tuntas kematian almarhum Affan Kurniawan yang hingga kini belum mendapat kejelasan.

Farhan, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB), menyebut bahwa aksi hari ini sudah dipersiapkan sejak malam sebelumnya. “Demo ini lahir dari isu yang sangat aksidental, yaitu brutality aparat. Persiapan kami dimulai sejak tadi malam hingga pagi tadi,” ungkapannya. Farhan menegaskan bahwa aksi ini bukan akhir, melainkan awal dari rangkaian panjang perjuangan. “Kalau tuntutan rakyat tidak dipenuhi, besar kemungkinan akan ada aksi-aksi susulan. Karena sejauh ini pemerintah di bawah rezim Prabowo-Gibran belum menunjukkan langkah nyata yang memuaskan rakyat,” tambahnya.

Sementara itu, Tockary selaku Ketua BEM FEB menjelaskan alasan Undip baru bergabung dalam aksi hari ini tidak mengikuti universitas lain yang lebih dahulu melakukan aksi. Menurutnya, konsolidasi dan teklap menjadi kunci agar aksi tidak berujung pada anarkisme. “Kami tidak mau turun aksi tanpa persiapan, itu bunuh diri. Konsolidasi kami tekan-kan agar demo ini berjalan damai. Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Undip punya etika dalam menyampaikan aspirasi, bukan sekedar turun dan membuat kerusuhan,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa Undip tidak menutup kemungkinan untuk menggelar aksi lanjutan di titik lain, seperti DPRD Jawa Tengah, tergantung hasil konsolidasi berikutnya.

Jeju, seorang mahasiswa FIB, menegaskan bahwa perjuangan mahasiswa tidak bisa berhenti pada satu momentum saja. “Aksi tidak bisa hanya sekali jalan lalu selesai. Kita harus sustain, terus berembuk, terus berkonsolidasi. Jika tuntutan tidak dipenuhi, kita akan lakukan aksi jilid dua,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa tuntutan kali ini bukan sesuatu yang muluk, “saya tidak bicara soal hal-hal utopis seperti copot kapolri dan lain sebagainya. Harapan saya sederhana, pemerintah mau memperhatikan rakyatnya, membebaskan kawan kami, menindak tegas aparat, dan mengusut kasus Affan,” katanya.

Meski aksi berlangsung damai, beberapa beberapa pihak sempat mempertanyakan keefektifannya. Farhan menegaskan bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. “Hari ini mungkin hanya dua ribu massa, besok bisa lima ribu atau lebih. Yang penting kita membangun tradisi berani mengkritik penguasa. Karena saya yakin, Ibu Indonesia hari ini sedang mengandung janin revolusi,” tegasnya.

Aksi damai mahasiswa Undip kali ini menegaskan bahwa gerakan mahasiswa tidak selalu identik dengan kericuhan. Dengan strategi, konsolidasi, dan etika mereka tetap mampu menyampaikan aspirasi dengan cara yang bermartabat. Aksi kemudian rampung pada pukul 14.30 WIB dengan massa membubarkan diri secara tertib. Kini, publik menanti apakah tuntutan mahasiswa akan benar-benar direspons pemerintah atau justru kembali diabaikan hingga melahirkan gelombang aksi yang lebih besar.

Reporter: Sabrina, Laila, Haqi, Aldo

Penulis: Sabrina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *