Oleh: Ana
Salsa duduk sendirian di pojok kamar kosnya yang sempit. Segelas teh tarik instan mengepul di meja kecil, ditemani dua bungkus biskuit krim cokelat yang sudah hampir habis. Di lantai, ada bungkus kue bolu keju murah dari warung belakang kos. Dia baru saja menyelesaikan tugas kelompok yang membuat kepalanya pusing seharian. Gula adalah penolong setianya.
Sejak merantau untuk kuliah dua tahun lalu, makanan manis adalah pelarian paling mudah. Murah, praktis, dan rasanya membuat hati terasa lebih ringan, seolah semua masalah hilang meski hanya sementara. Dari pagi yang berat, sore yang lesu, hingga malam yang sunyi, Salsa selalu punya alasan untuk mengunyah sesuatu yang manis.
Namun, akhir-akhir ini tubuhnya mulai memberontak. Ia sering merasa haus berlebihan, bahkan setelah minum sebotol penuh air mineral. Malam-malamnya terganggu karena harus bolak-balik ke kamar mandi. Kadang, matanya kabur saat membaca buku atau layar laptop. Yang paling membuatnya panik adalah berat badannya turun, tapi ia tidak merasa lebih sehat. Justru, Salsa sering merasa lemas dan cepat capek, padahal ia tidak melakukan aktivitas berat.
Awalnya, ia menyangkal semuanya, “mungkin karena kecapekan,” katanya. Tapi setelah pingsan di kelas saat presentasi, ia tidak bisa menunda lagi. Ia memeriksakan diri ke klinik kampus, dan hasilnya membuat jantungnya hampir copot: Salsa terkena diabetes tipe 2.
“Kamu masih muda, tapi pola makan kamu sangat buruk. Terutama konsumsi gulanya,” kata dokter waktu itu, “kalau tidak diubah, kondisimu bisa makin parah.”
Salsa menunduk saat mendengarnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa manis bukan lagi teman, tapi musuh yang perlahan membunuhnya.
Teman sekelasnya, Nayla, adalah orang pertama yang tahu tentang kondisinya. Nayla memang berbeda sejak awal. Ia tinggal bersama orang tuanya di Jogja,\ dan keluarganya sangat peduli soal makanan. Nayla selalu membawa bekal sendiri, jarang jajan sembarangan, dan sering mengingatkan Salsa secara halus.
“Gula itu kayak racun pelan-pelan loh, Sal,” kata Nayla suatu siang, setahun lalu. Saat itu Salsa hanya tertawa, lalu menyeduh kopi instan sachetnya yang manis.
Kini, Nayla tidak menghakimi. Ia hanya berkata, “Pelan-pelan, kita bisa ubah kebiasaan kamu bareng-bareng.”
Kalimat itu lebih dari cukup. Dalam sepi dan rasa bersalah, Nayla menjadi cahaya kecil yang menuntun Salsa kembali.
Perjalanan memperbaiki pola hidup bukan hal mudah. Hari-hari pertama, tubuh Salsa seperti berontak. Ia gelisah tanpa camilan manis. Lidahnya kehilangan rasa saat mencicipi teh tawar. Ia nyaris menyerah.
Tapi Nayla hadir dengan solusi-solusi sederhana. Ia mengajak Salsa masak sendiri. Mulai dari oatmeal tanpa gula, infused water, hingga camilan berbahan dasar pisang dan gandum. Nayla juga mengenalkan Salsa pada aplikasi yang bisa melacak kadar gula dan kalori makanan.
Mereka berolahraga ringan bersama setiap pagi seperti jalan kaki keliling kompleks kos atau naik-turun tangga kampus. Kadang, mereka ikut kelas yoga online bersama. Dukungan itu membuat Salsa bertahan.
“Kenapa kamu peduli banget sama aku?” tanya Salsa suatu malam.
“Karena aku nggak mau kehilangan teman yang baik cuma karena teh tarik,” jawab Nayla sambil tersenyum.
Setelah enam bulan, hasil cek kesehatan menunjukkan perbaikan. Gula darah Salsa mulai stabil. Tubuhnya lebih bugar, pikirannya lebih jernih. Tapi yang paling penting, ia belajar bahwa kesehatan adalah tanggung jawab yang tidak bisa digantikan siapa pun.
Salsa mulai berbagi kisahnya lewat blog dan media sosial. Ia tahu banyak mahasiswa lain seperti dirinya—yang menjadikan gula sebagai pelarian dari stres. Ia ingin mereka sadar sebelum terlambat.
“Aku dulu merasa manis itu kebahagiaan,” tulisnya dalam salah satu unggahan. “Tapi ternyata, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah saat tubuhmu sehat dan kamu bisa menikmatinya tanpa rasa takut.”
Kini, tiap pagi Salsa menyeduh teh tanpa gula sambil menikmati udara segar. Kadang, ia masih merindukan rasa manis berlebih itu. Tapi ia tahu, ia telah memilih sesuatu yang jauh lebih manis: hidup yang sehat dan penuh makna.
“Tubuh kita adalah rumah pertama dan terakhir. Jagalah ia, sebelum manis yang kamu nikmati hari ini menjadi pahit yang kamu sesali esok hari.”

