
Oleh: Alvaro Siahaan
Dalam beberapa minggu belakangan ini, event Pekan Olahraga Nasional (PON) yang bertempat di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara ini menjadi viral, bukan karena hal yang positif melainkan hal yang negatif. Salah satu hal yang menjadi viral adalah tentang permasalahan infrastruktur yang belum siap dimana banyak akses menuju venue masih merupakan jalanan berlumpur. Selain itu, akomodasi buruk, kualitas konsumsi yang tidak sesuai standar, serta fasilitas hotel yang tidak memadai, juga dikeluhkan oleh para atlet.
Dugaan korupsi dalam pengadaan infrastruktur serta konsumsi ini semakin memperburuk citra PON kali ini, meski panitia membantah klaim bahwa PON 2024 adalah yang terburuk dalam sejarah. Permasalahan ini menuntut evaluasi secara mendalam terhadap seluruh proses persiapan dan pelaksanaan PON, demi menjaga kredibilitas pemerintah dalam melaksanakan ajang ini.
Persiapan yang Terburu-buru dan Infrastruktur yang Bermasalah
Salah satu masalah paling mencolok dalam PON adalah terkait dengan persiapan yang kurang matang dalam hal pembangunan infrastruktur. Ada banyak laporan mengenai arena pertandingan yang rusak atau belum siap pada waktunya, seperti yang baru ini muncul di sosial media video yang menunjukkan kaca venue basket yang pecah dan melukai penonton. Hal ini tidaklah hanya mengganggu kelancaran kompetisi, tetapi juga membahayakan keselamatan atlet dan penonton Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa baik perencanaan dan pengawasan proyek-proyek infrastruktur PON.
Persiapan yang terkesan terburu-buru seringkali dipicu oleh kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, serta antara panitia dan kontraktor yang bertanggung jawab atas pembangunan fasilitas olahraga. Oleh karena itu, banyak arena pertandingan yang baru selesai menjelang hari-H pelaksanaan, bahkan ada yang belum siap sama sekali saat pertandingan dimulai. Hal ini menggambarkan bahwa terdapat ketidakefisienan dalam manajemen proyek dan perencanaan yang seharusnya bisa dihindari jika ada persiapan yang lebih matang dan terukur.
Masalah infrastruktur juga meluas ke fasilitas pendukung seperti akomodasi dan transportasi. Atlet sering kali harus menghadapi kondisi yang tidak nyaman, dari fasilitas penginapan yang tidak layak hingga transportasi yang tidak terorganisir dengan baik. Hal ini tentu berdampak pada performa atlet dan menimbulkan ketidakpuasan para staf lainnya.
Kontroversi dalam Pertandingan Sepak Bola
Selain masalah infrastruktur, kontroversi dalam pelaksanaan pertandingan juga menjadi sorotan utama dalam PON. Salah satu isu terjadi pada pertandingan sepak bola antara Provinsi Aceh dan Provinsi Sulawesi Tengah. Dua kejadian besar yang menjadi sorotan adalah kontroversi kepemimpinan wasit Eko Agus Sugih Harto serta pemukulan yang dilakukan pemain Muhammad Rizki terhadap wasit yang dinilai berat sebelah. Kejanggalan kepemimpinan wasit dipertanyakan dengan adanya tiga kartu merah dan dua penalti. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu insiden pemukulan tersebut meskipun tindakan ini tidak dapat dibenarkan.
Untuk mengatasi hal ini, dapat dilakukan hal preventif sebelum pertandingan dimulai. Hal ini dilakukan dengan penunjukan wasit dan ofisial pertandingan harus didasarkan pada kompetensi wasit, bukan hal-hal lain yang dapat mengganggu integritas kompetisi. Selain itu, penerapan teknologi seperti VAR (Video Assistant Referee) dalam olahraga seperti sepak bola bisa menjadi solusi untuk meminimalisir kesalahan wasit dan memberikan keadilan yang lebih baik bagi semua pihak. Langkah represif yang dapat dilakukan adalah dengan Pihak PSSI menginvestigasi wasit dan apabila terbukti melakukan kecurangan baru dikenakan sanksi. Sanksi jugalah harus diberlakukan terhadap pemain yang melakukan pemukulan karena meski wasit berlaku curang, tindakan kekerasan tetap tidak dapat dibenarkan.
Lempar Tangan Terkait Masalah Konsumsi
Masalah krusial lain yang dialami pada event PON 2024 adalah masalah konsumsi. Tiga masalah utama konsumsi adalah temuan makan basi, keterlambatan distribusi, dan menu yang tidak sesuai dengan standar. Bukannya mengaca dan mengaku salah, Panitia Besar (PB) PON malah mengalihkan sebagian tanggung jawab ke vendor dan relawan, mengklaim bahwa ketidakmampuan mereka dalam memenuhi standar konsumsi adalah penyebab utama. Namun, sikap ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya koordinasi dan pengawasan dilakukan dalam acara sebesar PON.
Penunjukan vendor seharusnya melalui proses seleksi yang ketat dengan mempertimbangkan faktor pemenuhan kebutuhan gizi ribuan atlet dan staf. Tak hanya itu, relawan yang terlibat dalam distribusi makanan perlu mendapatkan pelatihan memadai untuk memastikan alur distribusi berjalan lancar. Melemparkan kesalahan sepenuhnya pada pihak lain tidak menyelesaikan inti masalah, yakni lemahnya koordinasi antara panitia dan pihak-pihak terkait.
Sebagai tuan rumah, PB PON memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa segala aspek konsumsi terorganisir dengan baik. PB PON harus bertindak sebagai pengawas utama yang mengawal kerja vendor dan relawan agar tetap sesuai standar. Dengan kolaborasi yang baik, acara sebesar PON bisa berjalan lancar tanpa insiden-insiden yang tidak diinginkan.
Perlunya Evaluasi dan Reformasi
Event ini ibarat sebuah tamparan bagi pihak pemerintah bahwa perlu adanya kompetensi dalam melakukan perencanaan event. Hal ini dapat menjadi wadah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aspek pelaksanaan. Baik dari evaluasi manajemen proyek infrastruktur, alokasi dana, indikasi korupsi, pemenuhan konsumsi, seleksi wasit, serta penyediaan fasilitas pendukung perlu menjadi fokus utama.
Reformasi dalam penyelenggaraan PON juga harus mencakup peningkatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Banyak masalah yang terjadi dalam PON sering kali berasal dari ketidakselarasan kebijakan dan kurangnya dukungan dari pihak-pihak terkait. Oleh karena itu, diperlukan mekanisme koordinasi yang lebih baik untuk memastikan bahwa setiap daerah yang menjadi tuan rumah PON dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan maksimal.







