Reporter: Dwi Novi

Undip (26/12) – Telah berlangsung acara Orasi Terbuka Majelis Wali Amanat (MWA) Unsur Mahasiswa (UM) yang diselenggarakan oleh panitia Pemilihan Umum Raya (Pemira) Universitas Diponegoro (Undip) 2020. Acara yang sedianya dilaksanakan pada pukul 20.00 WIB ini sempat diundur dan baru dimulai pukul 21.00 WIB. Acara ini bertujuan untuk melakukan uji kelayakan, kepatutan, dan uji publik terhadap Calon MWA UM Undip 2021. Dalam acara ini turut hadir Badan Pemilih (Banlih) dan mahasiswa undip dari berbagai fakultas.
Orasi terbuka dibagi menjadi dua segmen. Pertama, pemaparan orasi selama 10 menit dan kedua, orasi serta tanya jawab dengan audience yang hadir. Ayu Rizky Amelia dari Fakultas Peternakan dan Pertanian Angkatan 2017 sebagai calon MWA UM Undip 2021 mengawali segmen dengan memaparkan kajiannya yang berjudul “Optimalisasi Pengawalan Aspirasi Mahasiswa dalam Pembentukan Kebijakan Universitas untuk Mendukung Terwujudnya Good University Governance”.
Di awal pemaparannya, ia menyampaikan mengenai status Undip yang sudah menjadi Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTN BH) sejak tahun 2015 dan pada tahun 2016 MWA hadir sebagai pelengkap dari wewenang PTN BH tersebut. Kehadiran BK MWA dan Majelis Wali Amanat mencegah terjadi fraud atau kecurangan. Kini terhitung sudah 5 tahun MWA hadir di Undip. Ia juga mengatakan bahwa memasuki tahun 2021, banyak hal yang harus diperbaiki dari evaluasi-evaluasi di tahun sebelumnya.
Memasuki sesi tanya jawab, dibuka 3 termin dengan masing-masing 3 penanya pada setiap terminnya. Pada termin pertama, terdapat 3 pertanyaan yang diajukan kepada Ayu. Salah satunya dari Albert Jehoshua yang bertanya mengenai referensi perbandingan kebijakan PTN BH di luar negeri mengingat konsep PTN BH ini sudah dipakai di berbagai negara. Ia juga menanyakan mengenai arti governance menurut Ayu serta bagaimana Ayu bisa punya solusi dan ide tentang academic governance, business governance dan corporate governance yang merupakan 3 unsur utama konsep PTN BH.
Kemudian Ayu menjawab bahwa ia belum menemukan referensi kebijakan dari manapun. Dirinya menganggap bahwa mungkin ada yang bisa dijadikan sebagai acuan namun setiap organ akan memiliki ciri khasnya masing-masing. “Jadi untuk saat ini sepertinya Undip butuhnya adalah perbaikan dan penelitian serta pengembangan dari apa yang sudah dilakui sebelumnya, bukan tentang pengembangan dengan acuan dari luar,” ujarnya.
Mengenai good university corporate governance, ia mengatakan bahwa suatu lembaga itu harus sesuai dengan prinsip good governance. Menanggapi tentang 3 unsur utama PTN BH, ia menyebutkan bahwa di undip sendiri terdapat 10 prinsip yang tertuang di statutanya. Menurutnya lebih ke perbaikan koordinasinya terlebih dahulu. Di ranah mahasiswa perlu diketahui MWA ranahnya di sisi bagian mana dan aspirasi yang masuk sebaiknya di bagian mana. Di Undip, MWA UM berada di forum tertingginya atau forum keputusan yang isinya bukan lagi tentang pengusulan kebijakan tetapi pemeriksaan apakah kebijakan itu sesuai atau tidak. Jadi, usulannya adalah melalui program kerja yang telah ia tulis yaitu menghimpun hasil audiensi setiap fakultas yang kemudian akan dibawa oleh dekan untuk diusulkan kepada rektorat dan diputuskan bersama di organ Undip.
Pada termin kedua, ada pertanyaan dari Ulia Fatmawati. Ia bertanya mengenai bagaimana perannya ketika tahun depan diadakan pergantian anggota MWA dan bagaimana pendapatnya ketika diskusi dalam forum anggota MWA Undip agar nantinya anggota MWA Undip itu tidak disusupi dengan kepentingan politik, serta metode apa atau jalan keluar yang akan Ayu lakukan ketika nanti ada hasil diskusi dari Unsur Mahasiswa yang tidak disepakati di forum MWA.
Ayu menjawab bahwa perlu diperiksa lagi apakah ada 10 unsur dalam PTN BH karena 10 unsur tersebut merupakan unsur yang memiliki kepentingan dari kebijakan Undip itu sendiri. MWA merupakan forum untuk mengesahkan kebijakan maka wajar ketika ada kepentigan-kepentingan dari setiap unsur yang berusaha dimasukkan di dalam forum tersebut. Adalah hal yang wajar jika ada kepentingan yang dimasukkan dalam keputusan kebijakan tinggal dilihat kembali apakah kepentingan tersebut baik untuk bersama atau hanya untuk golongannya saja.
Mengenai pertanyaan kedua, ia menyebutkan bahwa dirinya masih memegang prinsip dari MWA UM sebelumnya yang mengatakan bahwa ketika kajian itu tidak kuat maka tidak bisa lolos ketika diujikan di forum MWA maka harus dilihat kembali apakah hasil diskusi mahasiswa tersebut punya landasan untuk disetujui dalam forum MWA tersebut.
Di termin terakhir, salah satu pertanyaan muncul dari Muhammad Abdullah Anas Al-masyhudi. Pertanyaan seputar bagaimana ketika nanti BK MWA dipegang oleh Ayu untuk pengawalan terkait rencana strategis (renstra) dan indikator kinerja umum PTN. Ia juga menanyakan mengenai bergaining position yang dimiliki Ayu ketika nantinya di dalam forum MWA.
Ayu menjawab bahwa dengan keberjalanan renstra di tahun selanjutnya itu lebih ke progrmanya mengejar partisipasi mahasiswa. Ia tertarik dengan program MWA UM Universitas Indonesia yang mengatakan apa saja indikator yang dinilai PTN BH kemudian dibuka masukan aspirasi dari mahasiswa terkait indikator tersebut dan tertarik untuk mengusulkan hal itu.
Lalu tentang bergaining position, ia mengaku telah bersilaturahmi dengan MWA UM sebelumnya dan juga membahas terkait hal ini. Menurutnya, kedua MWA UM tersebut mengatakan bahwa ketika kajiannya kuat, literasinya kuat, itu bisa diterima dan sejauh ini ia masih memang prinsip bagaimana caranya agar kajian tersebut bisa kuat dan diterima di forum MWA, tentunya dengan melakukan riset dan penelitian sebelum mengajukan kajian dan juga himpunan audiensi dari ranah fakultas maupun universitas yang diajukan melalui birokrasinya masing-masing.
Acara ditutup penyampaian closing statement dari Ayu. “Saya di sini berdiri bukan karena pengin hal-hal apa ya yang mungkin secara sederhananya menganggap aspirasi dari banyaknya mahasiswa Undip yang lebih dari ribuan mahasisawa ini bisa terwakilkan oleh satu unsur mahasiswa. Jadi, izinkan saya untuk berproses untuk sama-sama kita kawal kebijakan-kebijakan di Undip bukan hanya untuk kegiatan mahasiswanya, tetapi untuk perbaikan-perbaikan Undip di masa mendatang. Mungkin ini kata-kata yang klasik, tetapi memang benar adanya. Alangkah baiknya adalah ketika kita yang ada di ruang tersebut membawa nama baik Undip bukan Undip yang membuat nama kita baik. Mari kita kawal bersama aspirasi di Universitas Diponegoro melalui ranahnya masing-masing” ucapnya.











