#UangKitaTalk: Luruskan Pandangan Mengenai APBN Negeri Ini

Talkshow bertajuk #UangKitaTalk Universitas Diponegoro di Gedung KWU FEB Undip pada Jumat, 1703/2023 WIB (Sukma/Edents)

FEB (17/3) – Mendukung inisiasi Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro menyelenggarakan sebuah Talkshow bertajuk #UangKitaTalk Universitas Diponegoro. Acara berlangsung dari pukul 14:00 – 16:00 WIB yang bertempat di Aula Auditorium Utama Lantai 4 Gedung Kewirausahaan FEB Undip. Semarak acara juga dihiasi oleh bagi-bagi doorprize di beberapa stand, seperti dari Bea Cukai Jawa Tengah DIY, LPDP RI, Kemenkeu Learning Center (KLC), dan lain sebagainya. 

Acara ini memperkenalkan Komunitas Uang Kita (Komunita), yaitu sebuah platform yang menyasar generasi muda sebagai penggerak utama Indonesia Maju 2024 untuk menambah pengetahuan, mengembangkan diri, memperluas jaringan dan memahami pengelolaan #UangKita atau APBN.

Dengan menghadirkan beberapa pembicara hebat dalam lingkup APBN, Talkshow ini bertujuan untuk mengedukasi civitas akademika tentang tugas beberapa unsur Kementerian Keuangan, mengingat peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu ditambah dengan tersebarluasnya berbagai macam informasi di media yang berimbas pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap integritas instansi tersebut. Hal ini disampaikan oleh Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si dalam sambutan beliau di awal acara. Beliau menekankan realita saat ini dimana orang-orang lebih cepat percaya pada yang viral. “Kami terbiasa mengundang karena saya sangat percaya kampus ini adalah tempat yang ideal untuk tesa dan antitesa, untuk sebuah pemahaman pemikiran yang sangat bebas, untuk orang berpikir untuk mencerdaskan. Jadi hoax pasti tidak diterima di kampus.” tambah beliau. Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Kepala Kanwil DJPb Jateng Muhdi, S.E., S.Ip., MIS, Ph.D yang ditutup dengan slogan “Tingkatkan Sinergi, Junjung Kolaborasi”. 

Ahmad Heryawan, S.E., M.Si, selaku pembicara pertama pada Talkshow ini yang juga merupakan Kepala Bidang PPA II Kanwil DJPb Jateng memaparkan tentang #UangKita atau APBN di Provinsi Jawa Tengah. Dimulai dari profil kesejahteraan, kinerja APBN, hingga penyaluran dana alokasi fisik dan non fisik. Dimana terdapat pagu 103.743,51 Miliar dengan realisasi 17,41% atau 18.063,42 Miliar di sisi pendapatan, dan pagu 103.114,92 Miliar dengan realisasi 12,64% atau 13.036,03 Miliar di sisi pengeluaran sampai dengan 28 Februari 2023. Tak luput juga dirincikan mengenai realisasi belanja Kementerian Lembaga, salah satunya Kementerian PUPR pada pembangunan jalan tol Semarang-Demak. 

Tak hanya dari sisi APBN Provinsi, Talkshow #UangKita juga menghadirkan pembicara kedua yaitu Siti Siwi Wulandari, S.Pd., selaku perwakilan Mata Garuda Jateng dan merupakan awardee beasiswa LPDP yang membagikan informasi mengenai salah satu belanja APBN untuk fungsi pendidikan yaitu program beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan. Tak hanya memaparkan keunggulan, kinerja, dan komponen dari beasiswa ini, beliau juga menjelaskan tahapan seleksi dan berbagi tips dan trik untuk lolos beasiswa LPDP, seperti keaslian dan keabsahan dokumen, teliti membaca booklet, memperbanyak latihan soal untuk TBS, upgrade kemampuan berbahasa Inggris, rajin update informasi, dan masih banyak lagi. 

Isti, salah satu peserta Talkshow dari program studi Manajemen mengungkapkan, “Sejujurnya aku sudah tau LPDP itu apa, tapi nggak tau sejauh itu seperti yang dipaparkan mbak (pembicara) nya ya. Jadi, informasi yang aku dapat tentang LPDP ini banyak banget di kegiatan hari ini.” Pemaparan mengenai beasiswa juga dinilai sangat informatif dan mudah dipahami bagi mereka yang tertarik dengan beasiswa ini. “Sejujurnya 10 sih, beneran kayak wow, aku baru tau sistemnya begini, pembagiannya begini, bener-bener baru tau, mungkin karena kurang explore kali ya, tapi ini beneran ngebantu banget buat nambah informasi aku sih.” tambah Isti.  (Sukma/Edents)

Semarak Perayaan Dies Natalis FEB Undip ke-63

Penampakan jalan masuk expo dan parade seni dalam acara Dies Natalis FEB Undip ke-63 di halaman kampus serta area parkir sepeda motor pukul 09.00-15.00 WIB pada tanggal (14/03/2023) (Naela/Edents)

Semarang (14/03) – Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro kembali merayakan Dies Natalis yang ke-63. Parade Seni dan Budaya menjadi salah satu rangkaian acara untuk memeriahkan hari jadi Fakultas Ekonomika dan Bisnis ini.

salah satu penampilan kelompok musik mahasiswa saat acara parade seni budaya dalam rangkaian Dies Ntalis FEB Undip ke 68 pukul 11.57 Selasa, 14/03/2023 (Naela/Edents)

Pelaksanaan Parade Seni dan Budaya bertempat di halaman parkir mahasiswa FEB mulai pukul 09.00 WIB dan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya kemudian dilanjutkan dengan Pembacaan Doa oleh mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam, M. Fakhri Fadhillah. Acara kemudian dibuka secara simbolis oleh Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., dengan pelepasan balon didampingi oleh Perwakilan Dekanat. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Puspa Pirata oleh UKM-F Tari FEB Undip.

Mahasiswa menonton pertunjukan dari bawah tenda di depan panggung parade seni budaya pukul 11.26 WIB (Naela/Edents)

Secara keseluruhan acara Parade Seni dan Budaya ini telah diselenggarakan secara meriah dan dihadiri oleh para mahasiswa baik dari FEB maupun Fakultas lain, Civitas Akademika Fakultas Ekonomika dan Bisnis, dan masyarakat umum sekitar Kampus. Tak sedikit pula mahasiswa yang terkena euphoria rangkaian acara Dies Natalis FEB ke-63 ini, tak terkecuali Anisa selaku mahasiswa prodi Ekonomi Islam. “Pastinya seneng banget, seru banget dapet pengalaman baru bisa nonton parade seni ini di FEB, bareng temen-temen, pastinya seru banget sih,” ungkap Anisa.

Ramai Bazar bak Pasar

Tak hanya Parade Seni Budaya bertempat di kawasan parkir motor juga dimeriahkan dengan deretan bazar dari tiap ormawa, UKM, hingga UMKM.

Para mahasiswa saling menjajakan dan membeli dagangan dalam kegiatan expo atau bazar di halaman FEB Undip pada Senin, 14/03/2023 pukul 11.31 WIB (Naela/Edents)

Penyelenggaraan bazar bertempat di halaman FEB yang dimulai pada pukul 09.00 WIB. Acara ini menyasar mahasiswa FEB dan UMKM di sekitar Tembalang dengan tujuan  untuk memberikan wadah agar mereka bisa mengenalkan produknya. Secara keseluruhan acara ini diselenggarakan secara unik dan menarik. Acara ini juga menjadi ajang promosi program kerja organisasi mahasiswa lainnya, salah satunya Vocanight oleh BEM Sekolah Vokasi Undip, yang juga turut mengisi bazar dalam acara kemarin. “Banyak UMKM dari mahasiswa dimana dapat melatih skill kewirausahaan” ujar Nabila, Panitia Vocanight. ”Untuk kekurangan sejauh ini belum ada hanya peletakan plot bisa ditata supaya keramaiannya merata,” ungkap Monik, salah satu mahasiswa Sekolah Vokasi Undip.

Tsania, Naela, dan Sukma (dari kiri) merupakan fungsionaris LPM Edents ketika menjajakan produk di stand milik LPM Edents Senin, 14/03/2023 pukul 11.36 WIB (Reporter/Edents)

Embung FEB Disulap jadi Pemancingan

Adanya kolam atau embung berisi air bukan berarti hanya sebagai keindahan estetika kampus. Kolam atau embung itu disulap menjadi tempat lomba memancing bagi para peserta lomba yang berasal dari mahasiswa, dan civitas akademika FEB Undip.

Salah satu peserta lomba memancing bernomor 36 sedang mempersiapkan alat pancing di kolam FEB Undip pada Senin, 14/03/2023 pukul 11.32 WIB (Reporter/Edents)

Alasan utama diadakan lomba memancing dalam ragam acara Dies Natalis kali ini yakni memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia di halaman luas area FEB. Harapannya dengan menyelenggarakan lomba memancing dapat menjalin kebersamaan antara warga kampus, baik dosen, karyawan, mahasiswa, juga alumni sekaligus sebagai kegiatan refreshing yang mendorong hubungan silaturahmi bagi sesama warga Undip.

 menyelenggarakan lomba memancing dapat menjalin kebersamaan antara warga kampus, baik dosen, karyawan, mahasiswa, juga alumni sekaligus sebagai kegiatan refreshing yang mendorong hubungan silaturahmi bagi sesama warga Undip.

Penampakan kolam FEB ketika lomba memancing berlangsung pada Senin, 14/03/2023 pukul 11.42 WIB (Reporter/Edents)

Ketika ditanya mengenai motivasinya dalam mengikuti lomba memancing, Amir, salah satu peserta menjawab dirinya ingin memeriahkan Dies Natalis tahun ini. “Sangat seru terutama untuk bapak-bapak,” ungkapnya. Amir tidak keberatan apabila ia tak menang, karena membawa pulang beberapa lele yang berhasil ditangkap dari lomba sudah lebih dari cukup untuk membuatnya puas.

Jesi, Gracee (pemenang), Feby (dari kiri) mahasiswa Ekonomi FEB memamerkan prestasi sebagai pemancing tercepat saat lomba memancing di kolam FEB pada Senin, 4/03/2023 pukul 11.47 WIB (Reporter/Edents)

Tak hanya peserta saja, para penonton juga turut memeriahkan acara. Gilbert, seorang mahasiswa yang menonton, merasa sangat terhibur. “Gokil karena unexpected banget, dimana embungan ini bisa dijadikan tempat pancing dan ternyata sangat seru sampai-sampai teman kita mendapatkan satu ikan saja sudah heboh satu kampus,” begitu ujarnya.

Reporter: Haykal, Qosim, Munna

Penulis: Naela

Editor: Musa

Keresahan Warga atas Limbah PT RUM Sukoharjo

Warga ketika berada di pengadilan negeri Sukoharjo menuntut PT RUM atas limbah yang meresahkan warga pada Kamis, 09/03/2023 pukul 14.01 WIB. (Dimas/Koneksi)

(Sukoharjo 9/3) – Satuan masyarakat melancarkan aksi di Pengadilan negeri 1A Sukoharjo pada tanggal 9 maret 2023 sekitar pukul 09.00 sampai 12.00 WIB. Mereka adalah warga desa yang terdampak pencemaran lingkungan dari limbah PT RUM (Rayon Utama Makmur). Mereka menuntut agar PT RUM tersebut segera ditutup karena sejak pendiriannya di tahun 2017 warga sudah merasa terganggu.

PT RUM adalah pabrik serat rayon di bawah PT Sritex Tbx. Warga merasa terganggu aktivitasnya dikarenakan limbah hasil produksi dari PT RUM. Dampak yang ditimbulkan antara lain gangguan pernapasan, gatal, dan mengganggu pertumbuhan tanaman. Warga yang turut ikut aksi terdiri dari kalangan ibu-ibu dan bapak-bapak, mayoritas tani dan ibu rumah tangga.

Salah dua warga membawa tulisan yang diarahkan kepada hakim ketika aksi di pengadilan negeri Sukoharjo beberapa waktu yang lalu. (Dimas/Koneksi)

“Jadi, hari ini kita sudah mendaftarkan gugatan terhadap PT RUM yang telah melakukan banyak pelanggaran kepada warga. Selanjutnya, kita menunggu panggilan persidangan dari Pengadilan Negeri Sukoharjo. Untuk panggilannya sendiri membutuhkan waktu 2 – 3 bulan,” ucap Rizky Putra Edry selaku pengacara publik yang mewakili warga, Kamis (9/03).  (Redaksi)

Mencari Bapak Baru, Mahasiswa Duduki Widya Puraya

Mahasiswa berorasi di tengah lingkaran yang di bentuk oleh massa aksi pukul 14.30 WIB tanggal 06/03/23 di Widya Puraya, Kampus Undip, Semarang (Qosim/Edents)

(UNDIP 6/3) – Massa, mencakup fungsionaris BEM-U, fungsionaris BEM-F, dan mahasiswa umum, melancarkan aksi yang bertajuk “Senja di Widya Puraya (SDWP) Vol. 5: Mencari Bapak Baru” pada Senin, 6 Maret 2023. Aksi beragendakan tuntutan untuk bertemu langsung dengan empat bakal calon rektor (BCR), menyampaikan permasalahan yang ada di lapangan, dan mengharapkan penandatanganan pakta integritas menjelang periode kepemimpinan selanjutnya. 

Sebelum aksi dimulai, terlihat banyak pagar pembatas yang disiapkan oleh pihak keamanan di seluruh jalan menuju Widya Puraya. Alih-alih mengamankan jalan, pembatas tersebut nyatanya malah digunakan untuk menghadang massa aksi. Meski sempat terjadi bentrok dengan pihak keamanan, massa berhasil melanjutkan perjalanan ke area Widya Puraya. 

Di Widya Puraya, massa mulai melancarkan berbagai propaganda agar pihak rektorat memberikan respon. Nahas, hingga aksi berakhir, batang hidung para BCR tidak muncul. Hanya tampak foto keempat calon yang terlihat di banner calon rektor dengan menyunggingkan senyum ke arah massa aksi.

Mahasiswa dihadang pihak keamanan ketika mencoba memasuki pelataran di depan Gedung Rektorat. Pukul 15.54 WIB (Musa/Edents)

MWA unsur Mahasiswa Hasna Widyaningrum memberikan pendapatnya terhadap aksi SDWP Vol. 5. Dia menyebut bahwa dirinya mengapresiasi awareness mahasiswa terhadap momen Pemilihan Rektor Undip 2024. “Aku ngelihat aksi hari ini juga temen-temen berarti udah semakin aware dan ini menunjukkan kalau hari ini juga kita merasa pemilihan rektor ini menjadi salah satu momentum yang penting dikawal sama-sama,” ungkap Hasna.

Hasna pun menambahkan keterangan terkait alasan tidak hadirnya keempat BCR secara fisik pada sore di hari Senin itu. “Mungkin kalau tanggapan aku sebagai “yang mengundang”, ya. Jadi di awal memang aku mengundang para bakal calon rektor ini tapi memang dari para bakal calon rektor ini mengatakan bahwa mereka belum bisa untuk hadir. Dua dari di antaranya menjawab bahwa mereka ada agenda, terus absen, segala macam. Duanya lagi ngga menjawab. Jadi memang udah dikoordinasikan dengan baik, sih, sebenarnya.”

Sebagai tanggapan karena hingga akhir aksi keempat BCR tidak kunjung muncul, koordinator lapangan (Korlap) Razan Siregar mewakili massa menyampaikan sebuah pernyataan sikap. Pernyataan tersebut melingkupi 4 poin yang secara garis besar menyinggung 4 bakal calon rektor tidak mau turun dan duduk bersama mahasiswa, kebebasan berpendapat di lingkungan kampus dibatasi, kejanggalan penundaan pemilihan rektor, dan pernyataan bahwa bakal calon rektor takut menemui mahasiswa.

2 mahasiswa menaiki patung Diponegoro sedang memasang banner bertuliskan “Undip bukan hanya Tembalang saja.” (Musa/Edents)

“Adapun tuntutan yang ingin kami berikan kepada keempat bakal calon rektor, yaitu kami ingin bertemu dengan keempat bakal calon rektor dan menyampaikan serta mengharapkan penandatanganan atas pakta integritas untuk kepemimpinannya di tahun 2024 – 2029,” seru Razan sebagai penutup pernyataan sikap massa aksi.

Tidak berhenti sampai pernyataan sikap, massa aksi juga melilitkan beberapa banner sebagai bentuk simbolik kekecewaan atas ketidakhadiran para BCR. “Kawan-kawan semuanya, berikut adalah bentuk simbolik yang menjadi bentuk kekecewaan kita terhadap aksi hari ini atas ketidakberpihakan mereka (para BCR, red) kepada mahasiswa pada sore hari ini. Bahwasanya dari keempat calon rektor tersebut tidak ada yang pantas untuk jadi rektor,” jelas Razan di sela orasinya.

Penulis: Haykal, Qosim

Reporter: Sukma, Marhawa, Haykal, Qosim

Editor: Musa, Luvita

Ikrar Sudah Diucapkan, Para Pimpinan dan Senator Ormawa FEB Siap Jalani Kepengurusan

Para pemimpin ormawa dan senator sedang berbaris. Yusuf Fikri (kiri membelakangi kamera) sedang menyerahkan jabatan dari pengurus 2022 kepada 2023 secara simbolik. Sumber: Dokumentasi Panitia

(FEB 5/3) – Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) Prof. Dr. Suharnomo., S.E., M.Si. resmi melantik para pimpinan dan senator organisasi mahasiswa (ormawa) FEB Undip periode 2023 pada Minggu, 5 Maret 2023. Pelantikan dilaksanakan secara langsung di Hall Kewirausahaan (KWU) Lantai 4 FEB Undip dengan dihadiri oleh para pimpinan, senator, dan perwakilan 24 ormawa tingkat fakultas.

Untuk membuka kegiatan, Suharnomo memberikan sambutan bahwa manusia yang berguna adalah mereka yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Sebagai orang yang pernah merasakan kehidupan menjadi aktivis kampus, Suharnomo mengingatkan para peserta pelantikan harus mampu manage diri, manage kawan, dan manage hasil.

“Jangan pusing. Sudah dipercaya teman-temannya (malah) lari, ga aktif, tiba-tiba hilang, tiba-tiba dihubungi ngga bisa. Kalau itu kita lakukan, selamanya kita akan jadi pecundang karena tidak berani hadapi kenyataan,” tambah Suharnomo.

Selain Suharnomo, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB Undip Muhammad Adib Rabbani dan Ketua Senat Mahasiswa (SM) FEB Undip Deva Zhalza Amalia juga menyampaikan sambutan formal pertama mereka sebagai pemimpin resmi ormawa masing-masing.

Adib menyampaikan bahwa di tahun 2023, ormawa FEB Undip perlu melakukan sinergitas dan kolaborasi yang lebih intens demi mewujudkan FEB Undip yang lebih baik. Berbeda dengan Adib, Deva menekankan bahwa dengan dilantiknya para pimpinan ormawa FEB melalui ikrar yang telah diucapkan, para pimpinan ormawa secara tidak langsung telah menerima amanah dan tanggung jawab selama 2023 untuk memimpin organisasinya ke arah yang lebih baik. (LD/MJ)

JAGAL: SEBUAH SUDUT PANDANG DARI ALGOJO TANAH MEDAN

oleh: Zahra dan Luvita

“Itu definisi-definisi kejahatan perang buatan orang yang menang. Saya pemenang. Saya musti bikin juga definisi kejahatan perang,” ucap Adi Zulkardy, seorang algojo dan rekan kerja Anwar Congo di hari-hari penumpasan PKI setelah peristiwa mencekam 30 September 1965.

Pernyataan Adi menjadi salah satu pemantik dalam film Jagal: The Act of Killing. Film bergenre documentary/crime ini rilis di negara Indonesia pada tahun 2015. Setengah abad setelah terjadinya peristiwa G30S/PKI. 

Dalam film, sutradara Joshua Oppenheimer menampilkan tokoh dan bintang utama bernama Anwar Congo. Anwar dikenal sebagai preman sadis di Medan, Sumatera Utara, dan juga tokoh Pemuda Pancasila (PP) termasyhur di wilayah itu. Anwar dan kawan-kawannya membantu tentara dalam melakukan pembantaian terhadap kelompok yang dituduh beraliran “komunis” dan/atau bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI) di hari-hari penumpasan setelah G30S/PKI.

Anwar memperagakan banyak pembunuhan yang dilakukan oleh ia dan para free-man nya berdasarkan sudut pandang mereka sebagai ahli jagal zaman penumpasan. Menurut mereka, pembunuhan tersebut adalah hal benar untuk dilakukan. Bahkan, Anwar terkesan bangga dengan perbuatannya. Perbuatan Anwar tidak terlepas dari peran organisasi Pemuda Pancasila yang menaungi dirinya. Sebagai organisasi semi militer sejak 1959, PP turut andil dalam penumpasan PKI. Layaknya nama semi militer, penumpasan yang dilakukan PP tentu mencampur antara kecongkakan aparat “bersenjata” dan kesemena-menaan masyarakat. Alhasil, kelompok militer kala itu menerima “bantuan” besar dari kerja berdarah PP.

Entah karena karma dari pemikiran amat percaya diri dan paham situasi, sehingga terlampau berani menentukan hidup-mati orang lain, atau karena rasa bersalah yang teramat sangat, tidak jarang Anwar bermimpi dihantui korban-korban yang telah ia bunuh. Memang, mungkin banyak jiwa-jiwa yang tidak terima ketika penumpasan selama masa pasca G30S/PKI karena mereka pada kenyataannya sama sekali tidak memiliki hubungan dengan partai buruh dan tani itu. Namun, di masa kealgojoannya, Anwar memilih tidak peduli dan mengeksekusi siapapun yang dinilai terlibat dengan PKI.

Sutradara Joshua menggunakan pendekatan manjur saat membuat film dokumenter Jagal. Ia mengatakan pada Anwar bahwa Anwar akan dibuatkan film yang mengulas tentang penumpasan “PKI”. Sebagai konsekuensi, Anwar perlu memeragakan ulang pembunuhan-pembunuhan manusia “simpatisan PKI” dari pengalamannya. Hingga di akhir cerita, tergambar sekelebat kesedihan dari apa yang telah Anwar lakukan. “Apa dosa sama saya? Banyak, ya, Josh, manusia yang pernah saya bikin gitu, Josh. Apa dia ini kembali dia kepada saya? Mudah-mudahan jangan sampe. Jangan. Ngga mau saya, Josh, yang beginian, Josh,” ungkap Anwar sebagai penutup film Jagal.

Dalam hemat peresensi, pengambilan scene film Jagal: The Act of Killing cukup menarik. Sutradara Joshua mampu menggabungkan keadaan ramai dengan perasaan terkucilkan, momen-momen pencair suasana yang unik tapi aneh, hingga selaan komedi sangat ringan seperti beberapa scene penari di sebuah perbukitan sebagai footage pergantian satu scene ke scene lainnya. Karena film Jagal mengambil latar tentang pembunuhan sekitar tahun 1965-1966 dalam kacamata seorang pembunuh, banyak scene tampak menyesakkan dan terbatas ruang geraknya. Hal menarik lain dalam film ini adalah pernyataan bahwa teknik-teknik pembunuhan yang dilakukan Anwar terinspirasi langsung dari berbagai film aksi negara Barat.

Sayang, karena merupakan film dokumenter bergenre crime, tidak sedikit scene yang bisa mengganggu kenyamanan penonton.Walau demikian, sebuah pengetahuan yang secara yakin bisa disimpulkan adalah peristiwa pencorengan kemanusiaan di Indonesia tidak hanya muncul saat 30 September 1965 tapi juga terjadi pasca peristiwa G30S/PKI. Oleh karena itu, bagi pembaca yang berniat menonton film Jagal: The Act of Killing, silahkan mempersiapkan hati dan pikiran. Selalu tanam bahwa sejarah berkaitan erat dengan sudut pandang. Karenanya, pembaca dihimbau untuk tidak terlalu terpaku pada pandangan dari salah satu pihak belaka.