KSPM Reshuffle, Ketua Mengundurkan Diri Karena Masalah Pribadi? 

(18/05) Press Release Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM), pada tanggal 26 April 2025 telah dilaksanakan musyawarah besar dan menyatakan bahwa pengurus inti dari organisasi KSPM melakukan reshuffle dikarenakan ada alasan tersendiri untuk president director terpilih sebelumnya Angga Rizky Setiawan mengundurkan diri beserta Wakil Organisasi KSPM Ghina Aurellia yang diberhentikan dengan terhormat.

President Director KSPM digantikan oleh Ariq Widitama Fachrudy, kemudian Angga menjadi Vice President of Organization menggantikan Ghina. 

Alasan utama bahwa Angga mengundurkan diri dikarenakan masalah kesehatan sehingga ia tidak sanggup untuk melanjutkan tanggung jawabnya sebagai President Director. Sedangkan Ghina sendiri memang terdapat pembahasan yang privasi dari KSPM. 

Ibnu Athaillah, salah satu dewan komisaris KSPM memberikan statement bahwa Angga mengundurkan diri bukan dikarenakan masalah yang sepele sedangkan masalah kesehatan yang yang kian memburuk. 

“Karena ketua organisasi memiliki masalah kesehatan sehingga ia memilih untuk mengundurkan diri” ucap Ibnu.

Ibnu Athaillah menambahkan bahwa ada beberapa kasus sehingga perlu diadakan musyawarah besar untuk didiskusikan mengenai masalah reshuffle dan lain hal.

Patrialis Zulfa, salah satu bagian dewan komisaris KSPM memberikan pendapatnya 

“KSPM sekarang itu dibentuk dewan baru yaitu commisioner atau dewan komisaris yang nantinya berfungsi sebagai dewan penasihat untuk KSPM”

Meninjau dari permasalahan yang ada pembentukan commisioner memungkinkan untuk memberikan bantuan atas organisasi KSPM.

Reporter: Aldo

Sedia Kecewa Sebelum Hujan

Oleh: Royhan

Tadinya kupikir hidup itu neraka

Lalu aku terbangun, ternyata aku di surga

Namun, tak berlangsung lama

kembali ku dirundung nestapa

Setelahnya, aku diangkat ke nirwana

Lalu dijatuhkan kembali ke samsara

Aduhai, begitu terus seterusnya

Ternyata hidup ini dusta

Tapi tak mengapa punya asa

Seperti gemuruh hujan tak berperasaan

Petirnya, kilat menjilat di angkasa

Manusia berprasangka akan siksa

Tapi, ternyata pelangi terbentuk di angkasa

Namun, ingat ia pun hanya sementara

Tak ada yang selamanya

Jadi, selayaknya pepatah lama

Sedia kecewa sebelum hujan

Manis yang Menyesatkan

Oleh: Ana

Salsa duduk sendirian di pojok kamar kosnya yang sempit. Segelas teh tarik instan mengepul di meja kecil, ditemani dua bungkus biskuit krim cokelat yang sudah hampir habis. Di lantai, ada bungkus kue bolu keju murah dari warung belakang kos. Dia baru saja menyelesaikan tugas kelompok yang membuat kepalanya pusing seharian. Gula adalah penolong setianya.

Sejak merantau untuk kuliah dua tahun lalu, makanan manis adalah pelarian paling mudah. Murah, praktis, dan rasanya membuat hati terasa lebih ringan, seolah semua masalah hilang meski hanya sementara. Dari pagi yang berat, sore yang lesu, hingga malam yang sunyi, Salsa selalu punya alasan untuk mengunyah sesuatu yang manis.

Namun, akhir-akhir ini tubuhnya mulai memberontak. Ia sering merasa haus berlebihan, bahkan setelah minum sebotol penuh air mineral. Malam-malamnya terganggu karena harus bolak-balik ke kamar mandi. Kadang, matanya kabur saat membaca buku atau layar laptop. Yang paling membuatnya panik adalah berat badannya turun, tapi ia tidak merasa lebih sehat. Justru, Salsa sering merasa lemas dan cepat capek, padahal ia tidak melakukan aktivitas berat.

Awalnya, ia menyangkal semuanya, “mungkin karena kecapekan,” katanya. Tapi setelah pingsan di kelas saat presentasi, ia tidak bisa menunda lagi. Ia memeriksakan diri ke klinik kampus, dan hasilnya membuat jantungnya hampir copot: Salsa terkena diabetes tipe 2.

“Kamu masih muda, tapi pola makan kamu sangat buruk. Terutama konsumsi gulanya,” kata dokter waktu itu, “kalau tidak diubah, kondisimu bisa makin parah.”

Salsa menunduk saat mendengarnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa manis bukan lagi teman, tapi musuh yang perlahan membunuhnya.

Teman sekelasnya, Nayla, adalah orang pertama yang tahu tentang kondisinya. Nayla memang berbeda sejak awal. Ia tinggal bersama orang tuanya di Jogja,\ dan keluarganya sangat peduli soal makanan. Nayla selalu membawa bekal sendiri, jarang jajan sembarangan, dan sering mengingatkan Salsa secara halus.

“Gula itu kayak racun pelan-pelan loh, Sal,” kata Nayla suatu siang, setahun lalu. Saat itu Salsa hanya tertawa, lalu menyeduh kopi instan sachetnya yang manis.

Kini, Nayla tidak menghakimi. Ia hanya berkata, “Pelan-pelan, kita bisa ubah kebiasaan kamu bareng-bareng.”

Kalimat itu lebih dari cukup. Dalam sepi dan rasa bersalah, Nayla menjadi cahaya kecil yang menuntun Salsa kembali.

Perjalanan memperbaiki pola hidup bukan hal mudah. Hari-hari pertama, tubuh Salsa seperti berontak. Ia gelisah tanpa camilan manis. Lidahnya kehilangan rasa saat mencicipi teh tawar. Ia nyaris menyerah.

Tapi Nayla hadir dengan solusi-solusi sederhana. Ia mengajak Salsa masak sendiri. Mulai dari oatmeal tanpa gula, infused water, hingga camilan berbahan dasar pisang dan gandum. Nayla juga mengenalkan Salsa pada aplikasi yang bisa melacak kadar gula dan kalori makanan.

Mereka berolahraga ringan bersama setiap pagi seperti jalan kaki keliling kompleks kos atau naik-turun tangga kampus. Kadang, mereka ikut kelas yoga online bersama. Dukungan itu membuat Salsa bertahan.

“Kenapa kamu peduli banget sama aku?” tanya Salsa suatu malam.

“Karena aku nggak mau kehilangan teman yang baik cuma karena teh tarik,” jawab Nayla sambil tersenyum.

Setelah enam bulan, hasil cek kesehatan menunjukkan perbaikan. Gula darah Salsa mulai stabil. Tubuhnya lebih bugar, pikirannya lebih jernih. Tapi yang paling penting, ia belajar bahwa kesehatan adalah tanggung jawab yang tidak bisa digantikan siapa pun.

Salsa mulai berbagi kisahnya lewat blog dan media sosial. Ia tahu banyak mahasiswa lain seperti dirinya—yang menjadikan gula sebagai pelarian dari stres. Ia ingin mereka sadar sebelum terlambat.

“Aku dulu merasa manis itu kebahagiaan,” tulisnya dalam salah satu unggahan. “Tapi ternyata, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah saat tubuhmu sehat dan kamu bisa menikmatinya tanpa rasa takut.”

Kini, tiap pagi Salsa menyeduh teh tanpa gula sambil menikmati udara segar. Kadang, ia masih merindukan rasa manis berlebih itu. Tapi ia tahu, ia telah memilih sesuatu yang jauh lebih manis: hidup yang sehat dan penuh makna.

“Tubuh kita adalah rumah pertama dan terakhir. Jagalah ia, sebelum manis yang kamu nikmati hari ini menjadi pahit yang kamu sesali esok hari.”

Main Event Research School 2 : Menguatkan Generasi Muda dalam Riset dan Inovasi Berkelanjutan

Dok: Pribadi

Semarang — Pada Sabtu, 17 Mei 2025, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) telah menyelenggarakan Main Event Research School 2, sebuah program pelatihan lanjutan dalam kaderisasi riset mahasiswa. Program ini diusung oleh Badan Eksekutif Mahasiswa bidang Riset dan Keilmuan. Kegiatan ini berlangsung di Hall Gedung C FEB Undip dan diikuti oleh sekitar 40 peserta dari berbagai fakultas, baik dari FEB maupun luar FEB.

Research School merupakan program pengkaderan riset yang dirancang oleh lembaga kemahasiswaan untuk mencetak generasi muda yang unggul dan kompetitif dalam dunia keilmuan. Program ini terbagi menjadi beberapa tahap dengan Research School 2 sebagai kelanjutan dari Research School 1. Pada tahap ini, peserta diberikan bimbingan dan pelatihan secara lebih mendalam mengenai empat pilar riset utama, yaitu karya tulis ilmiah, kajian kebijakan, simulasi konferensi Model United Nations (MUN), dan pengembangan ide inovatif. Tujuan utamanya adalah membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis, analitis, serta keterampilan teknis yang diperlukan untuk menghadapi dan berprestasi dalam kompetisi riset, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Tahun ini, Research School 2 mengangkat tema “Empowering Young Achievers: Building Research and Sustainable Innovation.” Tema ini diusung untuk mendorong semangat generasi muda dalam menciptakan karya riset yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak secara sosial dan berkelanjutan.

Menurut Lilis selaku Wakil Ketua Pelaksana, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kesiapan peserta dalam menghasilkan karya yang relevan dan bernilai. “Tujuannya itu untuk pembekalan agar ketika peserta yang akan mengikuti lomba dapat memberikan impact yang lebih,” ujarnya.

Main event ini menghadirkan pembicara inspiratif, Bryant Andhika Prayoga selaku Mahasiswa Berprestasi Nasional peringkat 3 tahun 2023. Dalam sesi bertajuk “How to Be a Champion in Mahasiswa Berprestasi Nasional and Gain a Research School Scholarship Abroad,” Bryant membagikan kisah perjuangannya dalam meraih prestasi, mulai dari penolakan 21 kali saat mendaftar perguruan tinggi, hingga akhirnya diterima di Program Studi IUP Kimia, Fakultas Sains dan Matematika Undip. Ia juga membagikan pengalamannya mengikuti Pilmapres saat masih duduk di semester 4, lengkap dengan kesibukan mengurus berbagai dokumen sertifikat.

Saat ini, Bryant tengah menyusun skripsi dan secara terbuka meminta doa dari para peserta agar diberikan kelancaran dalam prosesnya. Permintaan tersebut disambut hangat dan penuh semangat oleh peserta yang hadir.

Dalam pemaparannya, Bryant juga membagikan tips penting terkait penulisan essay beasiswa. Ia menekankan bahwa banyak pelamar yang keliru dengan menuliskan daftar prestasi dan pengalaman organisasi di essay, padahal itu sudah tercantum di CV. Menurut Bryant, esai seharusnya menjadi ruang personal yang mencerminkan identitas dan motivasi secara mendalam.

Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya niat baik dan konsistensi dalam meniti proses. Ia menceritakan hampir gagal mengikuti lomba di Istanbul, Turki karena kendala biaya. Namun, ketika ia meniatkan partisipasinya sebagai bentuk ibadah, jalan pun terbuka dengan datangnya bantuan tak terduga dari perusahaan yang bersedia mendanai perjalanannya.

Salah satu kutipan inspiratif yang juga disampaikannya:
“Hidup terlalu singkat untuk menangis dan tertawa, sementara orang-orang hidup berdampingan dan tidak memperhatikanmu. Namun, jaga dirimu agar tetap bermanfaat, hingga kamu sungguhan menyadari bahwa hal yang tersingkat dari semua itu ialah kesabaran.”

Antusiasme peserta sangat terasa sepanjang acara. Agung Kurniawan menyampaikan rasa senangnya bisa bertemu langsung dengan Bryant. “Guest star-nya Mas Bryant, karena saya sering melihat namun belum pernah ngobrol. Jadi ini kesempatan besar bagi saya,” ujarnya.

Sementara itu, Nizar, salah satu peserta lainnya, juga mengungkapkan kesan positifnya. “Kesannya seru banget acara Research School 2, dan saya merasa dapat mengimplementasikan apa yang sudah disampaikan oleh Kak Bryant.”

Dengan semangat dan inspirasi yang dibawa oleh para pembicara dan peserta, Research School 2 diharapkan menjadi pijakan kuat bagi mahasiswa Undip dari berbagai latar belakang untuk terus berkembang dalam dunia riset dan menciptakan inovasi yang berkelanjutan.

Reporter : Sabrina, Shafa

Penulis   : Sabrina

ECOART 2025: Ruang Ekspresi dan Apresiasi Seni Mahasiswa FEB UNDIP

Dok: Pribadi

Tembalang, Semarang – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro kembali menggelar acara ECOART atau Economics Art Week 2025 sebagai ajang tahunan khusus bagi mahasiswa FEB. Acara ini berlangsung selama dua hari, yaitu pada Selasa, 14 Mei 2025 pukul 12.30 hingga selesai, dan dilanjutkan pada Kamis, 15 Mei 2025 mulai pukul 10.00 di Hall KWU FEB UNDIP. ECOART 2025 mengusung slogan “Lestari Budayaku, Bewarna Duniaku” yang bertujuan menumbuhkan semangat mahasiswa dalam melestarikan nilai budaya melalui ekspresi seni. Acara ini menjadi wadah untuk menyalurkan potensi seni mahasiswa di tengah padatnya rutinitas akademik.

Tahun ini, sebanyak 90 peserta ambil bagian dalam berbagai lomba seni seperti solo vokal, baca puisi, cerpen, lukis, fotografi, poster, dan band, dengan total hadiah senilai dua juta rupiah. ECOART tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya seni, tetapi juga mendorong terciptanya semangat kolaborasi, solidaritas, dan kreativitas antarmahasiswa. Para pemenang nantinya akan mewakili FEB dalam kompetisi seni bergengsi Diponegoro Art Competition. ECOART 2025 menjadi batu loncatan bagi mahasiswa berprestasi di bidang seni untuk melangkah ke tingkat universitas.

ECOART 2025 mengangkat tema “Where Timeless Tales Meet Modern Imagination” dengan tujuan menghadirkan nilai-nilai luhur budaya secara lebih menarik dan segar bagi generasi muda. Menurut VPO ECOART 2025, Sheva Putri Wardani, tema ini terinspirasi dari cerita dongeng Nusantara sebagai warisan budaya Indonesia yang diangkat kembali dengan peningkatan modern dan imajinatif. PO ECOART 2025, Jeslyn Viarna Listy, menjelaskan bahwa tema ini dipilih karena lebih rasional dan melekat dalam kehidupan sehari-hari. Tema tersebut berkontribusi positif terhadap peningkatan jumlah peserta pada tahun ini.

ECOART 2025 berhasil menarik lebih dari 85 mahasiswa FEB untuk unjuk bakat dalam 7 bidang seni. Keberhasilan ini merupakan hasil dari strategi pemasaran aktif dengan memasarkan acara dari kelas ke kelas dan memasang poster di beberapa gedung. VPO ECOART 2025 berharap acara ini dapat menjadi kebanggaan mahasiswa FEB dan memberikan dampak positif bagi kampus. Harapannya ECOART dapat berkembang secara kualitas, jaringan, dan inovasi setiap tahunnya.

Salah satu audiens lomba fotografi mengungkapkan ketertarikannya terhadap tema lomba karena memberikan ruang untuk mengekspresikan kecintaannya pada warisan budaya Indonesia. Ia telah memiliki minat mendalam terhadap dunia fotografi sejak SMP dan melihat ECOART sebagai kesempatan menggabungkan passionnya dengan pelestarian budaya. Dalam persiapan lomba, ia melakukan observasi langsung ke lokasi bersejarah untuk mencari komposisi foto yang tepat. Ia juga mempelajari sejarah dan filosofi objek yang difoto agar karyanya memiliki makna mendalam. Menjelang ECOART tahun depan, peserta fotografi berharap ajang tersebut dapat menghadirkan inovasi dalam bentuk lomba yang lebih beragam dan menarik. Ia berharap tema yang diangkat semakin relevan dengan isu-isu budaya dan lingkungan saat ini.

Nayla Clarissa, mahasiswa Akuntansi angkatan 2024, menjadi peserta lomba dalam cabang solo vokal. Nayla tertarik mengikuti ECOART karena terpacu oleh tantangan ingin membandingkan kemampuannya dengan peserta berbakat lainnya. Nayla memiliki latar belakang di bidang musik, khususnya tarik suara, karena aktif dalam kegiatan paduan suara semasa sekolah. Dalam persiapan, Nayla mengaku tidak melakukan latihan intensif, hanya mencari instrumen pendukung dan berlatih sekali sebelum tampil. Sebagai peserta, Nayla berharap agar semakin banyak mahasiswa yang ikut serta dalam ECOART ke depannya. Ia juga tertarik kembali mengikuti ECOART tahun depan, terutama jika ada cabang lomba dangdut.

Semangat dan kreativitas yang ditampilkan oleh para mahasiswa FEB UNDIP menjadi bukti nyata bahwa seni dapat menjadi media efektif dalam melestarikan budaya. Melalui berbagai karya yang dihasilkan, acara ini tidak hanya memperkaya pengalaman artistik para peserta, tetapi juga mempererat ikatan antar mahasiswa FEB. Diharapkan semangat ini terus berlanjut dan berkembang dalam kegiatan-kegiatan seni di masa mendatang. ECOART 2025 tidak hanya menjadi ajang kompetisi seni semata, tetapi juga menjadi pendorong bagi mahasiswa untuk lebih mengenal dan mencintai budaya bangsa.

Reporter: Florence, Musa, Zaki

Pergantian Pelatih Timnas Indonesia

Sumber: Merdeka.com

Pergantian pelatih Timnas Indonesia yang dilakukan pada awal tahun ini menjadi perhatian besar di kalangan pecinta sepak bola nasional. Tidak sedikit yang menilai keputusan ini cukup mengejutkan, mengingat pelatih sebelumnya, Shin Tae-yong, dinilai telah membawa banyak kemajuan bagi Timnas sejak mulai menangani skuad Merah Putih pada 2020.

Di bawah asuhan Shin Tae-yong, Timnas Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Ia dikenal disiplin, berani memberi peluang pada pemain muda, dan mampu meningkatkan daya saing Timnas di level Asia Tenggara hingga Asia. Bahkan, dalam beberapa turnamen dan pertandingan uji coba, performa Timnas terlihat lebih terstruktur dan modern dibanding sebelumnya, serta chemistry antara Shin Tae-yong dengan para pemain timnas sudah terbentuk.

Namun, di sisi lain, PSSI selaku federasi tentu memiliki pertimbangan tersendiri. Keputusan mengganti pelatih bukanlah hal yang dilakukan tanpa alasan. PSSI tampaknya ingin mengambil langkah baru demi target yang lebih tinggi, yakni lolos ke Piala Dunia 2026. Untuk itu, mereka menunjuk pelatih baru asal Belanda yang bernama Patrick Kluivert membawa filosofi berbeda, serta dibantu oleh dua asistennya yaitu Alex Pastoor dan Denny Landzaat.

PSSI menyebut bahwa alasan mengganti Shin Tae-yong dengan pelatih baru adalah  adanya dinamika tim, tetapi isu yang beredar mengatakan bahwa masalah komunikasi dan perbedaan budaya menjadi salah satu pertimbangan penting. Masalah tersebut menjadi kendala dalam penyampaian strategi di lapangan. 

Pergantian pelatih ini membuat banyak orang bertanya tanya, pasalnya Timnas masih memiliki empat pertandingan penting dalam lanjutan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia dan dua di antaranya akan berlangsung dalam waktu dekat. Situasi ini menuntut pelatih baru untuk cepat beradaptasi, mengenal karakter pemain, memahami kekuatan dan kelemahan skuad, serta membangun chemistry dengan seluruh elemen tim.

Sementara itu, publik terbelah dalam menyikapi keputusan ini. Sebagian mendukung, melihat pergantian ini sebagai bentuk ambisi dan langkah maju. Namun sebagian lagi ragu, karena proses adaptasi butuh waktu dan tidak bisa instan, apalagi dengan tantangan komunikasi, perbedaan budaya, dan tekanan ekspektasi yang besar dari publik.

Yang jelas ini adalah momen penting bagi sepak bola Indonesia. Di satu sisi, kita melihat bahwa ada keberanian dari PSSI untuk mengambil risiko. Di sisi lain, publik juga punya hak untuk mempertanyakan dan memberikan kritik. Tapi yang perlu diingat, kritik sebaiknya tetap disampaikan secara konstruktif, bukan sekadar emosi sesaat.

Timnas Indonesia adalah milik semua. Apa pun keputusan yang diambil federasi, pada akhirnya akan diuji di lapangan. Kita berharap pelatih baru bisa cepat menyatu dengan tim dan para pemain juga mampu beradaptasi dengan sistem yang diterapkan. Begitu juga PSSI, perlu terbuka dalam berkomunikasi agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Proses pembangunan sepak bola nasional memang tidak mudah. Kadang perlu perubahan, kadang juga butuh konsistensi. Tidak ada jaminan satu pelatih pasti membawa sukses, sama halnya tidak semua pergantian selalu berakhir buruk.

Mari kita lihat hasilnya secara objektif. Waktu akan menjawab apakah keputusan ini tepat atau tidak. Sementara itu, sebagai pendukung, sudah sepatutnya kita terus memberikan dukungan dengan cara yang sehat. Karena sepak bola bukan hanya soal hasil akhir, tapi juga tentang perjalanan, kerja keras, dan semangat untuk terus menjadi lebih baik. Selain itu juga kita berharap pergantian pelatih ini bisa membuat timnas Indonesia menuju ke piala dunia 2026 dan mencetak sejarah baru untuk Indonesia.

Penulis: Tsaniya Zakiyatun Nufus

Gelar Aksi Bisu untuk Palestina, Mahasiswa Bagikan Semangka sebagai Simbol Solidaritas

Tembalang, 4 Mei 2025 – Sejumlah mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) menggelar aksi bisu sebagai bentuk solidaritas terhadap krisis kemanusiaan di Palestina. Aksi ini diinisiasi oleh kelompok Undip Student Justice for Palestine dan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap situasi yang dinilai telah mencapai tahap genosida.

Aksi dilaksanakan di lokasi yang berbeda, yakni di lampu merah Ngesrep dan depan Masjid Kampus Undip. kegiatan dilakukan membagikan potongan semangka—yang menjadi simbol perlawanan Palestina akibat pelarangan penggunaan bendera negara tersebut—oleh peserta aksi serta mengangkat poster dan plakat berisi pesan dukungan. Meski tanpa orasi, aksi ini mendapat respon positif dari masyarakat, beberapa pengendara bahkan meneriakkan dukungan mereka.

Diam sebagai Simbol Perlawanan

Fahri, mahasiswa Sekolah Vokasi sekaligus penanggung jawab aksi Undip SJP, menjelaskan bahwasannya aksi bisu dipilih untuk menganalisis dan mengukur empati masyarakat terhadap isu Palestina. “Kami ingin melihat seberapa besar kepedulian mahasiswa dan warga terhadap isu Palestina. Ini langkah awal menuju aksi yang lebih besar seperti long march,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa isu Palestina adalah persoalan kemanusiaan, bukan sekadar topik berlandaskan keagamaan. “Siapa pun yang memiliki hati nurani dan akal sehat minimal tidak hanya diam melihat penderitaan mereka,” tegasnya.

Senada dengan Fahri, Muhammad Junaidi, Ketua UKM Insani FISIP 2025 dan perwakilan Undip Student Justice for Palestine, menyatakan bahwa keheningan dalam aksi ini mencerminkan sikap pasif dunia terhadap penderitaan Palestina. “Diam adalah bentuk perlawanan, karena dunia terlalu lama membisu,” ujarnya.

Persiapan Singkat, Antusiasme Tinggi

Meskipun persiapan dilakukan secara mendadak dengan waktu yang cukup singkat, aksi berjalan lancar berkat kerja sama solid para peserta. Mereka bekerja sama berkumpul di Masjid Kampus untuk menyiapkan poster, plakat, dan semangka yang dibagikan kepada masyarakat.

Junaidi menegaskan bahwa aksi ini baru permulaan. “Kami akan lanjutkan dengan aksi yang lebih besar dalam satu hingga dua minggu ke depan. Kami juga mendorong aksi nyata, seperti boikot produk yang mendukung Israel,” katanya.

Dukungan Masyarakat Menguatkan Semangat

Aksi berjalan kondusif dan disambut antusias oleh warga. Hal itu terlihat dari banyaknya pengendara yang menerima potongan semangka dengan terbuka serta beberapa yang menyuarakan dukungan mereka secara lantang. 

Dengan aksi ini, mahasiswa Undip berharap semangat solidaritas terus menyebar hingga dunia mendengar jeritan rakyat Palestina. “Kami tidak akan berhenti sampai keadilan ditegakkan,” tutup Fahri.

Reporter: Nares, Sholekah, Anisa Zahi

Penulis: Sholekah, Anisa Zahi

Fit Fest 2025 Meriahkan Dies Natalis ke-65 FEB UNDIP, Wujudkan Kebersamaan

Sumber: Dok. Pribadi

Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-65, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB UNDIP) menggelar acara bertajuk FIT FEST FEB UNDIP 2025 pada Minggu (4/5/2025). Kegiatan ini diselenggarakan di Embung FEB UNDIP dan berlangsung meriah sejak pukul 06.00 hingga 12.00 WIB.

Terbuka bagi seluruh warga fakultas, acara ini menghadirkan berbagai kegiatan menarik mulai dari senam pagi, jalan sehat, final lomba karaoke, hingga lomba memancing. Tak hanya itu, pengunjung juga dimanjakan dengan sarapan gratis yang disediakan secara terbatas serta bazaar UMKM. Salah satu momen paling ditunggu adalah pembagian doorprize. Saat panitia mulai memanggil nama-nama pemenang dari atas panggung, sorak sorai langsung bergema. Antusiasme peserta terlihat jelas, sementara para penerima hadiah tampak sangat bahagia.

Salah satu peserta Fit Fest 2025 FEB UNDIP mengungkapkan antusiasmenya terhadap acara tersebut, terutama karena kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan danusan yang difasilitasi melalui penyediaan tenant oleh panitia. Setiap tenant dalam acara ini dikhususkan untuk satu himpunan mahasiswa, sehingga banyak dari mereka melihat peluang emas untuk menggalang dana kegiatan atau program kerja (proker) mereka. “Kami manfaatkan momen ini untuk danusan, karena banyak proker yang akan diselenggarakan dan butuh dana,” ujar Fatihah, mahasiswa Ekonomi Islam.

Keramaian acara ini mendatangkan keuntungan besar bagi para tenant. Salah satu mahasiswa memberikan nilai keseruan sebesar 10 dari skala 1 hingga 10. “Selain bisa bertemu banyak orang, kita juga bisa mendapat keuntungan besar,” tambahnya.

Acara ini juga menjadi ajang kebersamaan antara mahasiswa, dosen, dan alumni FEB. Panitia acara yang terdiri dari perwakilan seluruh departemen, baik mahasiswa maupun dosen, merancang kegiatan ini bersama-sama. Semangat kolaboratif tersebut diwujudkan dalam berbagai inisiatif, salah satunya dengan membuat akun Instagram khusus untuk Fit Fest sebagai sarana promosi. Selain itu, panitia juga menyediakan makan gratis dan aktif menyebarkan informasi melalui berbagai media sosial guna menarik partisipasi sebanyak mungkin.

Fit Fest 2025 tak hanya menjadi agenda hiburan dan olahraga, tapi juga sarana membangun kebersamaan lintas generasi warga FEB UNDIP. Sebagai evaluasi dan harapan ke depan, sejumlah peserta berharap agar Fit Fest tahun berikutnya dapat menghadirkan artis dan dibuka untuk masyarakat umum agar semakin meriah.

Reporter: Chesia, Jua, Naila

Penulis: Chesia, Jua, Naila