Sunset Bersama Rosie mengisahkan tentang perjalanan percintaan Tegar, seorang pria yang memiliki masa lalu kelam karena gagal mengungkapkan perasaannya kepada Rosie, sahabat masa kecilnya. Ketika dewasa, saat Tegar berencana untuk menyatakan perasaannya kepada Rosie dalam sebuah pendakian Gunung Rinjani, sahabat dekatnya Nathan justru lebih dulu menyatakan cinta kepada Rosie. Akhirnya, Rosie dan Nathan menikah, dan Tegar merantau ke Jakarta untuk melupakan perasaannya.
Setelah peristiwa yang membuatnya melarikan diri ke Jakarta, Tegar mencoba menjalani hidup baru dan memperbaiki hubungan pertemanan dengan Nathan dan Rosie, dan Tegar menjadi dekat dengan keluarga Rosie. Namun, kehidupan mereka berubah drastis ketika bom meledak di Pantai Jimbaran saat perayaan ulang tahun pernikahan ke-13 Rosie dan Nathan. Nathan meninggal, dan Rosie mengalami depresi berat. Tegar, yang telah bertunangan dengan Sekar, sahabat yang juga menjadi kekasihnya di Jakarta, memutuskan untuk kembali ke Gili Trawangan untuk mengurus anak-anak Rosie dan resor peninggalan Nathan.
Selama dua tahun Rosie dirawat di shelter, Tegar tidak pernah menghubungi Sekar. Ketika Rosie sembuh, mereka ke Jakarta untuk mengantar Sakura anak kedua Rosie tampil dalam acara musik. Tegar mengetahui Sekar akan bertunangan dengan orang lain. Mendengar hal ini, Tegar memohon kesempatan kedua kepada Sekar, dan mereka akhirnya kembali bersama.
Namun, saat pernikahan Tegar dan Sekar tiba, Rosie yang menghadiri acara tersebut dihadapkan pada kenyataan bahwa putrinya, Lili, menginginkan Tegar sebagai ayahnya. Ditengah dilema, Tegar harus memutuskan apakah akan melanjutkan pernikahannya dengan Sekar atau kembali kepada Rosie dan menghidupkan kembali cinta lama mereka.
Sunset Bersama Rosie adalah novel yang penuh perasaan dan emosional. Karakter Tegar yang mengalami banyak konflik dan dilema emosional membuat pembaca terhanyut dalam alur ceritanya dan terus ingin mengikuti perkembangan hubungan Tegar dan Rosie. Penulis mampu menggambarkan keindahan Gili Trawangan, latar tempat utama cerita ini, sehingga pembaca dapat merasakan suasana tempat tersebut dengan jelas.
Salah satu kekurangan dalam novel ini adalah pengulangan penjabaran peristiwa dan seringnya menampilkan alur mundur ke momen-momen di Gunung Rinjani. Alur cerita yang maju mundur terasa membingungkan dan sedikit membosankan. Akhir dari cerita ini juga sedikit menggantung, yang membuat pembaca merasa tidak puas dengan akhir cerita novel tersebut.
Bumi merupakan novel fiksi karangan Tere Liye yang menceritakan tentang persahabatan antara Raib, Ali, dan Seli. Masing-masing dari mereka memiliki keunikan. Misalnya Raib yang sejak kecil menyimpan rahasia bahwa dirinya bisa menghilang dibalik telapak tangannya, Seli dapat mengeluarkan petir dari kedua tangannya, sedangkan Ali si biang kerok pemalas di sekolah justru memiliki kekuatan yang baru ia ketahui dalam perjalanan mereka disini.
Di suatu siang yang normal, terdapat kejadian di sekolah mereka yang menjadi awal dari perjalanan buku ini. Tiang Listrik yang roboh, membuat mereka bertiga terkurung di lapangan basket sekolah, hingga kemudian menggiring peristiwa yang mengejutkan semuanya. Salah satunya adalah guru paling garang di sekolah tersebut tiba-tiba mengetahui kekuatan dari masing-masing siswanya, khususnya Raib, Ali, dan Seli.
Tragedi tiang listrik yang roboh berlanjut dengan pertarungan antara mereka melawan penjahat dari pintu klan lain. Pertarungan berlangsung sengit sekaligus membingungkan bagi Raib, Ali, dan Seli tentang apa yang sebenarnya terjadi. Akhir dari pertarungan ini justru merupakan awalan dari kisah mereka yang sesungguhnya.
Novel ini memiliki tingkat deskripsi yang detail, sehingga pembaca bisa seolah-olah berada langsung dalam latar cerita tersebut. Semua dapat digambarkan dengan jelas, mulai dari karakterm suasana, hingga peristiwa yang dapat terasa seperti sungguhan. Tere Liye mengemas cerita Bumi ini dengan sangat baik. Walaupun fiksi, tetapi tidak berarti semuanya tidak masuk akal. Penjelasan yang diberikan sistematis, sehingga pembaca pun bisa amengingat dan memahami dengan mudah bagaimana aturan dalam dunia fiksi ini.
Selain itu, novel Bumi memberikan wawasan mengenai kehidupan. Misalnya tentang pentingnya persahabatan, dukungan dari keluarga adalah hal utama dan harus terus dijaga, hingga bagaimana menyelesaikan masalah diantara ribuan masalah lainnya. Tak hanya wawasan mengenai kehidupan, novel Bumi juga memberikan beberapa ilmu pengetahuan karena basis novel ini yang berupa fiksi ilmiah.
Kelebihan lain yang bisa diunggulkan adalah tentang kreativitas dari penulis. Adegan yang diceritakan dalam novel adalah sesuatu yang tidak biasa. Sehingga dapat menarik perhatian pembaca untuk bisa segera menyelesaikan akhir dari novelnya.
Cerita ini adalah karya bersambung yang dilanjutkan ke dalam novel-novel berikutnya. Hal ini dapat menghambat seseorang yang tidak memiliki budget lebih untuk terus membeli karya setelahnya. Totalnya mencapai 15 buku. Hal ini dapat menjadi boomerang karena pembaca merasa cerita ini sangat bertele-tele, hingga akhirnya mereka tak lagi melanjutkan membaca novel lanjutan dari serial Bumi.
“Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” adalah salah satu karya terkenal dari Tere Liye, penulis asal Indonesia. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2010 dan sejak itu telah mendapatkan banyak perhatian dari pembaca di berbagai kalangan. Cerita dalam novel ini mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang gadis bernama Tania dan perjuangannya dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Novel ini diawali dengan pertemuan tak sengaja antara Tania, seorang gadis kecil yang hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan yang tinggal di pinggir jalan , bertemu dengan seorang pria bernama Danar. Danar, yang pada saat itu masih muda dan penuh ambisi, berperan sebagai penyelamat bagi Tania dan keluarganya. Pertemuan ini menjadi awal dari hubungan yang rumit dan mendalam antara keduanya. Tania melihat Danar sebagai sosok pahlawan, sementara Danar melihat Tania dan keluarganya sebagai sebuah tanggung jawab.
Cerita berkembang seiring bertambahnya usia Tania dan perubahan-perubahan dalam hidupnya. Tania tumbuh menjadi gadis remaja yang cerdas dan berbakat, namun tetap memiliki rasa terima kasih yang mendalam kepada Danar. Sementara itu, Danar, yang terus mengejar mimpinya, mulai merasakan beban dari tanggung jawab yang ia pikul. Konflik batin antara perasaan dan kewajiban menjadi tema sentral dalam hubungan mereka. Tania yang semakin dewasa mulai menyadari bahwa perasaannya terhadap Danar bukan sekadar rasa terima kasih, tetapi cinta yang tulus.
Tere Liye menulis dengan gaya bahasa yang sederhana namun penuh makna. Setiap kalimat terasa mengalir dengan indah, membawa pembaca masuk ke dalam dunia Tania dan merasakan setiap emosi yang ia alami. Penulis juga berhasil menggambarkan latar belakang kehidupan Tania dengan sangat baik, memberikan gambaran yang jelas tentang kerasnya kehidupan yang harus dihadapi oleh Tania dan keluarganya. Penggambaran karakter yang kuat membuat pembaca dapat merasakan perjuangan dan konflik batin yang dialami oleh Tania dan Danar.
Tema utama dari novel ini adalah tentang penerimaan dan keikhlasan. Dengan Judul “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” sendiri merupakan metafora yang menggambarkan sikap hidup Tania yang menerima setiap kejadian dalam hidupnya dengan lapang dada. Tania, seperti daun yang jatuh, tidak pernah menyalahkan angin yang membuatnya jatuh. Ia menerima setiap cobaan dan tantangan dengan hati yang ikhlas, tanpa rasa dendam atau kebencian. Ini adalah pelajaran hidup yang sangat berharga yang disampaikan oleh Tere Liye melalui karakter Tania.
Selain itu, novel ini juga menyentuh tema cinta dan pengorbanan. Cinta yang digambarkan dalam cerita ini bukan hanya cinta romantis, tetapi juga cinta dalam bentuk rasa terima kasih, pengorbanan, dan tanggung jawab. Hubungan antara Tania dan Danar menunjukkan bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang mampu menerima kekurangan dan kesalahan, serta bersedia berkorban demi kebahagiaan orang yang dicintai.
Secara keseluruhan novel “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” adalah novel yang menggugah hati dan penuh inspirasi. Tere Liye berhasil menyampaikan pesan-pesan moral yang dalam melalui cerita yang sederhana namun menyentuh. Pembaca diajak untuk merenungkan tentang arti penerimaan, keikhlasan, dan pengorbanan dalam hidup. Novel ini sangat cocok dibaca oleh siapa saja yang mencari cerita yang menghangatkan hati dan memberikan pelajaran hidup yang berarti.
Buku ini termasuk dalam kategori buku non-fiksi yang isinya dikemas menyerupai buku fiksi, di mana dalam buku ini berisi dialog antara seorang filsuf dan seorang pemuda yang saling beradu argumen. Sang filsuf mengajarkan bahwa dunia ini sederhana dan bahwa kebahagiaan dapat diraih dalam sekejap mata oleh setiap manusia, sementara si pemuda mendapati dunia ini sebagai gumpalan kontradiksi yang carut-marut, dan di matanya yang gelisah, gagasan apa pun tentang kebahagiaan adalah hal yang sangat tidak masuk akal. Keduanya kemudian terus-menerus melakukan dialog selama beberapa kali sehingga pada akhirnya mereka pun menganggap satu sama lain sebagai kawan seperjuangan.
Secara garis besar, buku ini banyak membahas kehidupan manusia dari perspektif teori psikologi Adler. Ada beberapa hal penting yang disampaikan dalam buku ini, yaitu yang pertama mengenai perbedaan antara aetiologi (studi tentang hubungan sebab-akibat) dan teleologi (ilmu yang mempelajari tujuan dari suatu fenomena tertentu, ketimbang penyebabnya).
Dalam teori psikologi Adler, manusia tidak digerakkan oleh pencetus di masa lalunya, namun bergerak menuju tujuan yang mereka tetapkan sendiri, hal ini sesuai dengan pandangan teleologi. Selain itu, berdasarkan teori psikologi Adler ketidakbahagiaan kita tidak bisa disalahkan pada masa lalu atau lingkungan kita, dan bukan berarti kita tidak punya kemampuan, kita hanya kurang berani untuk menjadi bahagia. Yang kedua, buku ini membahas mengenai hubungan interpersonal yang menjadi sumber utama dari semua persoalan hidup. Kemudian, yang ketiga disampaikan dalam buku ini bahwa kita tidak boleh mengintervensi tugas-tugas orang lain dan harus fokus pada apa yang menjadi tugas kita. Di sini juga disinggung agar kita menjalani hidup bukan demi memenuhi ekspektasi orang lain, melainkan untuk kebebasan diri kita sendiri. Di mana untuk mencapai kebebasan itu, salah satu konsekuensinya adalah kita harus siap untuk dibenci orang lain. Yang terakhir, buku ini mengajarkan kita untuk jangan pernah berfikir bahwa kita adalah pusat dunia, kita juga harus hidup dengan sungguh-sungguh di masa saat ini, bukan hanya memikirkan masa lalu atau masa depan saja. Alih-alih demikian, kita perlu melihat bahwa masa saat ini bukanlah persiapan kita menuju masa depan, melainkan kesempatan bagi kita untuk menikmati setiap momen berharga di masa kini yang tidak akan bisa diulang kembali.
Salah satu yang menjadi keunggulan dari buku ini adalah isinya yang sangat relate bagi kebanyakan orang yang mungkin belum merasa puas dengan hidupnya dan terus memiliki hasrat untuk diakui oleh orang lain, sehingga menjadikan kehidupannya terasa tidak bahagia. Setiap dialog yang disajikan dalam buku ini, membuat pembaca bisa merasakan kebimbangan yang juga dirasakan oleh si pemuda ketika beradu argumen dengan sang filsuf. Namun, untuk beberapa orang buku ini mungkin terasa berat karena banyak mengandung istilah teknis, terutama dalam bidang psikologi. Meskipun demikian, istilah teknis tersebut selalu disertai dengan penjelasan yang cukup mudah untuk dipahami bagi pembaca.
Buku ini cocok bagi mereka yang merasa bimbang dalam menentukan arah hidupnya atau mereka yang merasa belum puas dengan hidupnya dan ingin membangun keberanian untuk mengubah hidupnya. Melalui buku ini, kita diberikan perspektif baru mengenai bagaimana kita memaknai peristiwa dalam hidup kita, dan kita dituntun untuk bebas dari belenggu trauma masa lalu serta beban ekspektasi orang lain.
Film ini bermula dengan premis yang cukup unik dalam mendukung alur ceritanya, yakni di sebuah kuburan, tepatnya di kuburan Agong (mendiang suami Amah). Dalam adegan tersebut, karakter-karakter utama diperkenalkan: M, seorang remaja yang memutuskan untuk keluar dari sekolah dan menjadi streamer gim; Chew, ibu M yang bekerja di supermarket dan seorang single mother; Kiang, anak sulung Amah yang sibuk dengan pekerjaannya dan memiliki keluarga harmonis dan kaya; dan Soei, anak bungsu Amah yang memiliki kesulitan dalam mengatur dirinya.
Dialog demi dialog pun berlanjut hingga terjadi sebuah insiden yang mengharuskan Amah untuk dibawa ke rumah sakit. Keluarga Amah terkejut mengetahui kondisi kesehatan Amah yang ternyata sudah lama memburuk, yang memaksa mereka untuk lebih sering merawatnya. Namun, kenyataannya berbeda. Konflik mulai muncul karena masing-masing anak Amah disibukkan dengan kehidupan mereka sendiri.
M, yang awalnya tertarik dengan harta Amah karena melihat keberhasilan sepupunya, Mui, yang menjadi pewaris harta kakeknya, mencoba mendekati Amah dengan harapan menjadi orang kesayangannya. Hari demi hari, hubungan M dan Amah semakin dekat. Kisah jenaka, suka dan duka mereka terus berlanjut hingga berbagai ketegangan pun tiba. Kondisi Amah yang semakin memburuk dan konflik saudara antara Kiang, Chew, dan Soei membuat film ini penuh haru di setiap detiknya.
Film ini berhasil mengeksplorasi konflik internal dan eksternal yang hadir dalam keluarga Amah. Ketika Amah jatuh sakit, pertarungan untuk membagi perhatian di antara anak-anaknya menjadi sorotan utama yang membangkitkan ketegangan dan keharuan. Kisah yang awalnya didorong oleh ambisi finansial M berubah menjadi sebuah perjalanan emosional yang mendalam.
Secara keseluruhan, kekuatan film ini terletak pada alur cerita yang terstruktur dengan apik bahkan detail terkecil pun memiliki kesinambungan dalam ceritanya, serta kemampuannya menyampaikan pesan tentang nilai keluarga, dan pengorbanan. Sinematografi yang memukau serta musik latar yang pas, berhasil memperkaya setiap adegan dan menambah dimensi emosional bagi para penonton.
Stoisisme atau Filosofi Teras, merupakan buku yang memaparkan konsep ‘Stoikisme’ atau ‘Stoa’ sebagai panduan permasalahan yang dialami oleh orang-orang zaman sekarang, khususnya anak muda. Dengan penekanan pada gaya bahasa yang sederhana, Henry Manampiring selaku penulis sukses mengemas konsep filosofi yang sering dianggap rumit dan berat menjadi sesuatu yang mudah dicerna bagi kaum awam. Dia memaparkan ajaran-ajaran tokoh-tokoh Stoik seperti Marcus Aurelius, Seneca, dan Epictetus dengan cara yang praktis dan relevan bagi kehidupan pembaca masa kini. Misalnya, pada bagian awal, dia mengajarkan tentang pentingnya membedakan antara hal-hal yang bisa kita kendalikan dan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Misalnya, semua pemikiran, persepsi, dan pertimbangan pribadi merupakan suatu hal yang bisa dikendalikan. Prinsip ini jika diresapi dapat mengarahkan kita untuk hanya berfokus pada sesuatu yang dapat dikontrol oleh diri, sehingga menghindarkan kita dari kecemasan-kecemasan yang tidak perlu.
Salah satu kekuatan yang ditonjolkan dari buku ini adalah penyajian contoh-contoh konkret dan aplikatif. Henry Manampiring memberikan banyak ilustrasi dari kehidupan sehari-hari yang membuat pembaca lebih mudah memahami bagaimana prinsip-prinsip Stoisisme dapat diterapkan. Bab tentang “Dikotomi Kendali” dan “Negative Visualization” secara pribadi memberikan kesan yang mendalam bagi saya. Latihan refleksi diri yang diajarkan dalam buku Filosofi Teras ini juga membantu dalam merefleksikan tindakan dan keputusan yang diambil dalam kehidupan sehari-hari.
Buku ini juga ditulis dengan bumbu humor dan cerita-cerita menarik yang membuat pembaca merasa terhibur sekaligus tercerahkan. Pendekatan ini membuat Filosofi Teras tidak hanya informatif tetapi juga menyenangkan untuk dibaca. Misalnya, cerita tentang bagaimana Manampiring mencoba menerapkan Stoisisme di tengah kemacetan lalu lintas Jakarta benar-benar mengena dan memberikan tawa ringan di tengah pembelajaran serius.
Secara keseluruhan, Filosofi Teras adalah buku yang sangat berguna bagi siapa saja yang ingin menemukan cara hidup yang lebih bijaksana dan tenang. Dengan memadukan ajaran filsafat klasik dengan konteks kehidupan modern, Henry Manampiring berhasil memberikan petunjuk yang dapat membantu kita menjalani hidup dengan lebih bermakna. Buku ini cocok dibaca oleh semua orang yang ingin memahami diri sendiri dan dunia dengan lebih baik. Menurut saya, buku ini menjadi panduan yang berharga dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari.
Poster film All The President’s Men. (Sumber : Wikipedia)
Film ini diangkat dari kisah nyata tentang perjuangan dua wartawan dari The Washington Post dalam upaya membongkar keterlibatan Presiden Amerika Serikat saat itu, Richard Nixon bersama dengan jajaran pejabat Gedung Putih serta Partai Republik dalam skandal politik terbesar dan paling memalukan dalam sejarah AS yaitu Skandal Watergate.
Cerita ini diawali dengan tertangkapnya lima orang perampok yang mendobrak masuk ke dalam kantor Komite Nasional Partai Demokrat di Hotel Watergate, Washington D.C. Bob Woodward yang ditunjuk kantor beritanya untuk membuat laporan peristiwa di persidangan lima perampok tersebut kemudian menemukan indikasi aneh yaitu nama serta nomor telepon Howard Hunt, seorang mantan petinggi CIA yang tertulis di dalam catatan salah satu perampok. Hunt juga pernah bekerja di Gedung Putih sebagai penasihat Presiden Richard Nixon.
Keanehan semakin terlihat dari ketertutupan informasi oleh kantor penasihat presiden terhadap pertanyaan Bob Woodward dan Carl Bernstein mengenai Howard Hunt. Woodward pun menghubungi oleh seorang pejabat di lembaga intelijen AS, yang dijuluki “Deep Throat” sebagai nama samarannya. Petunjuk demi petunjuk mulai diberikan kepada kedua wartawan ini (Bob Woodward dan Carl Bernstein), salah satunya adalah dengan cara mengikuti catatan transaksi keuangan yang ditemukan pihak penegak hukum dari para pendobrak Watergate.
Melalui investigasi lebih lanjut yang dilakukan para wartawan ini, mereka berhasil menemukan jejak uang dalam bentuk cek sebesar USD$25.000, atas nama Kenneth Dahlberg. Ketika ditanya, Dahlberg mengatakan ketidaktahuannya mengenai bagaimana cek atas namanya bisa berakhir di catatan para pendobrak. Setelah ditelusuri, ternyata ia memberi cek tersebut kepada Mantan Menteri Perdagangan AS, Maurice Stans yang juga mengatur keuangan tim kampanye Nixon.
Informasi tersebut menjadi bukti korelasi kuat antara pendobrak Watergate dengan tim kampanye Nixon yang mengindikasikan keterlibatan tidak langsung Presiden Nixon dalam kegiatan ilegal yang dilakukan Partai Republik dalam upaya menyabotase kampanye Partai Demokrat untuk pemilihan presiden AS tahun 1972. Cerita berlanjut dengan investigasi lebih lanjut dari para wartawan terhadap keterlibatan para jajaran pejabat Gedung Putih dan Partai Republik dalam aktivitas ilegal yang dilakukan selama masa kampanye. Film diakhiri dengan ketikan mesin tik yang menulis “Presiden Nixon Mundur” pada tahun 1974.
Film bergenre misteri ini berhasil menggambarkan situasi mencekam di dalam film yang membuatnya terasa sangat nyata oleh banyak penonton, sehingga membuat merinding untuk membayangkan situasi pada saat itu. Contohnya adalah cara komunikasi wartawan dengan “Deep Throat” yang tidak menggunakan telepon melainkan kode berupa bendera di depan apartemen ataupun sandi-sandi yang tertulis di koran untuk bertemu karena adanya penyadapan, padahal itu terjadi di negara dengan ruang kebebasan pers yang cukup tinggi.
Meski begitu, film ini menjadi bukti nyata peran pers yang bebas dalam kontrol kekuasaan untuk menentukan nasib orang banyak. Langka untuk investigasi pers terhadap satu kasus berujung pada jatuhnya sebuah pemerintahan yang telah melakukan kecurangan, namun “All The President’s Men” menunjukkan bahwa hal itu tidak mustahil. Dari film ini kita bisa belajar bahwa jurnalisme dan kebebasan pers bisa menjaga jalannya pemerintahan tetap on-track.
Karena pada akhirnya, kebenaran-lah yang sebenarnya ingin dicapai oleh jurnalisme melalui independensinya, bukan karena motif keberpihakan terhadap suatu kelompok tertentu tapi karena kewajiban moral kepada publik. Dengan kebenaran, maka harapan akan masa depan yang lebih baik bisa terjamin, sesuai dengan kutipan dari Bob Woodward: “Harapan akan terus ada selama kebenaran masih dikejar.”
“Itu definisi-definisi kejahatan perang buatan orang yang menang. Saya pemenang. Saya musti bikin juga definisi kejahatan perang,” ucap Adi Zulkardy, seorang algojo dan rekan kerja Anwar Congo di hari-hari penumpasan PKI setelah peristiwa mencekam 30 September 1965.
Pernyataan Adi menjadi salah satu pemantik dalam film Jagal: The Act of Killing. Film bergenre documentary/crime ini rilis di negara Indonesia pada tahun 2015. Setengah abad setelah terjadinya peristiwa G30S/PKI.
Dalam film, sutradara Joshua Oppenheimer menampilkan tokoh dan bintang utama bernama Anwar Congo. Anwar dikenal sebagai preman sadis di Medan, Sumatera Utara, dan juga tokoh Pemuda Pancasila (PP) termasyhur di wilayah itu. Anwar dan kawan-kawannya membantu tentara dalam melakukan pembantaian terhadap kelompok yang dituduh beraliran “komunis” dan/atau bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI) di hari-hari penumpasan setelah G30S/PKI.
Anwar memperagakan banyak pembunuhan yang dilakukan oleh ia dan para free-man nya berdasarkan sudut pandang mereka sebagai ahli jagal zaman penumpasan. Menurut mereka, pembunuhan tersebut adalah hal benar untuk dilakukan. Bahkan, Anwar terkesan bangga dengan perbuatannya. Perbuatan Anwar tidak terlepas dari peran organisasi Pemuda Pancasila yang menaungi dirinya. Sebagai organisasi semi militer sejak 1959, PP turut andil dalam penumpasan PKI. Layaknya nama semi militer, penumpasan yang dilakukan PP tentu mencampur antara kecongkakan aparat “bersenjata” dan kesemena-menaan masyarakat. Alhasil, kelompok militer kala itu menerima “bantuan” besar dari kerja berdarah PP.
Entah karena karma dari pemikiran amat percaya diri dan paham situasi, sehingga terlampau berani menentukan hidup-mati orang lain, atau karena rasa bersalah yang teramat sangat, tidak jarang Anwar bermimpi dihantui korban-korban yang telah ia bunuh. Memang, mungkin banyak jiwa-jiwa yang tidak terima ketika penumpasan selama masa pasca G30S/PKI karena mereka pada kenyataannya sama sekali tidak memiliki hubungan dengan partai buruh dan tani itu. Namun, di masa kealgojoannya, Anwar memilih tidak peduli dan mengeksekusi siapapun yang dinilai terlibat dengan PKI.
Sutradara Joshua menggunakan pendekatan manjur saat membuat film dokumenter Jagal. Ia mengatakan pada Anwar bahwa Anwar akan dibuatkan film yang mengulas tentang penumpasan “PKI”. Sebagai konsekuensi, Anwar perlu memeragakan ulang pembunuhan-pembunuhan manusia “simpatisan PKI” dari pengalamannya. Hingga di akhir cerita, tergambar sekelebat kesedihan dari apa yang telah Anwar lakukan. “Apa dosa sama saya? Banyak, ya, Josh, manusia yang pernah saya bikin gitu, Josh. Apa dia ini kembali dia kepada saya? Mudah-mudahan jangan sampe. Jangan. Ngga mau saya, Josh, yang beginian, Josh,” ungkap Anwar sebagai penutup film Jagal.
Dalam hemat peresensi, pengambilan scene film Jagal: The Act of Killing cukup menarik. Sutradara Joshua mampu menggabungkan keadaan ramai dengan perasaan terkucilkan, momen-momen pencair suasana yang unik tapi aneh, hingga selaan komedi sangat ringan seperti beberapa scene penari di sebuah perbukitan sebagai footage pergantian satu scene ke scene lainnya. Karena film Jagal mengambil latar tentang pembunuhan sekitar tahun 1965-1966 dalam kacamata seorang pembunuh, banyak scene tampak menyesakkan dan terbatas ruang geraknya. Hal menarik lain dalam film ini adalah pernyataan bahwa teknik-teknik pembunuhan yang dilakukan Anwar terinspirasi langsung dari berbagai film aksi negara Barat.
Sayang, karena merupakan film dokumenter bergenre crime, tidak sedikit scene yang bisa mengganggu kenyamanan penonton.Walau demikian, sebuah pengetahuan yang secara yakin bisa disimpulkan adalah peristiwa pencorengan kemanusiaan di Indonesia tidak hanya muncul saat 30 September 1965 tapi juga terjadi pasca peristiwa G30S/PKI. Oleh karena itu, bagi pembaca yang berniat menonton film Jagal: The Act of Killing, silahkan mempersiapkan hati dan pikiran. Selalu tanam bahwa sejarah berkaitan erat dengan sudut pandang. Karenanya, pembaca dihimbau untuk tidak terlalu terpaku pada pandangan dari salah satu pihak belaka.
Film ini menceritakan petualangan beberapa anak muda di Kalimantan Selatan yang menjelajah daerah koneksi dengan Kawasan Saranjana. Di tengah perjalanan, mereka menyaksikan adanya ritual pemakaman dimana jasad ditenggelamkan ke bawah air. Dengan tekad menjelajah Kota Saranjana, muncullah kisah mistis yang satu per satu membuat mereka diculik.
Fakta Unik
“Kota Saranjana” merupakan hal yang menjadi perbincangan banyak orang. Konon, Kota Saranjana diduga terletak di bagian Kalimantan Selatan, Pulau Laut dan dianggap sebagai kota yang hilang dari peta Indonesia. Bermula dari keberadaannya yang diketahui hanya beberapa orang saja, hingga fakta bahwa masyarakat di dalamnya bukanlah spesies manusia. Keadaan di Saranjana pun berbanding terbalik dengan di Bumi. Mereka memiliki kemajuan yang jauh lebih canggih dan modern. Mistis Kota Saranjana inilah yang membuat orang-orang menantikan perilisan film “Kota Saranjana”.
Tidak hanya melibatkan artis dalam pameran filmya, film “Kota Saranjana” turut menghadirkan pemeran asli yang berasal dari Kalimantan, yaitu Gusti Gina sebagai Hamidah, Mourys Sam sebagai Anwar, Putri Intan Kasel sebagai Rusmiyati, dan Fauzi Rahman sebagai Abah Hadran.
“Kota Saranjana” dijamin bikin merem melek
Kisah petualangan anak muda menjelajahi salah satu kota yang hilang dalam peta dijamin akan membuatmu mengetahui urban legendaris kota Saranjana. Percaya, tidak percaya, film “Kota Saranjana” akan menghibur tanda tanyamu akan keberadaan pasti kota Saranjana.
Kelompok Pementas : Teater Buih Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro
Bentuk Pementasan : TeaterWaktu Pementasan : pukul 20.30 – selesai
Tempat Pementasan : Kantor Kelurahan Srondol Wetan
Pementas : Anggota Teater Buih
Gunarto : diperankan oleh Safrudin Ilhami
Pak Saleh : diperankan oleh Irvandika Rheza Dhevanda
Ibu Tina : diperankan oleh Khaula Hasna Fadiya
Maimun : diperankan oleh Reisya Alayda Ma’ruf Mintarsih : diperankan oleh Marbun, Valentina
Sekilas Cerita
Kondisi ekonomi keluarga Bu Tina tidak baik-baik saja. Setelah 20 tahun ditinggal suami, Pa Saleh, Bu Tina serta anak-anaknya terpaksa harus hidup serba berkecukupan. Bu Tina memiliki 3 orang anak, Gunarto, Maimun, dan Mintarsih. Gunarto, disebut juga Narto, mencintai ibu dan adik-adiknya. Sebagai anak tertua, Narto harus menjadi tulang punggung keluarga ketika sang ayah meninggalkan mereka. Segala perkerjaan dilakoni Narto agar adik-adiknya bisa mendapat kesempatan hidup lebih baik.
Maimun anak yang cemerlang. Sebagai anak kedua, ia berusaha semaksimal mungkin membantu Narto memperbaiki perekonomian keluarga. Atas kerja kerasnya dan bantuan dari sang kakak, Maimun berhasil mengenyam pendidikan tinggi dan banyak menorehkan berbagai prestasi. Mintarsih tumbuh dengan kasih sayang dari ibu dan kedua kakaknya. Oleh karena itu, demi memperbaiki ekonomi keluarga pula, ia rela membantu ibunya mengantarkan jahitan di sela-sela kegiatan mengenyam pendidikan.
Bagi Narto, Pa Saleh bagaikan pahlawan yang image-nya sudah rusak. Berada pada usia 8 tahun ketika ditinggal Pa Saleh cukup menjadikan tindak-tanduk ayahnya itu masih menempel di kepala Narto. Bagi Maimun dan Mintarsih, Pa Saleh merupakan seorang karakter yang sering diceritakan ibunya. Tidak sekalipun Mintarsih pernah melihat rupa Pa Saleh. Maimun sendiri hanya dapat mengimajinasikan rupa sang ayah dalam gambaran kabur dari memori-memorinya kala balita.
Dua puluh tahun berlalu, Bu Tina masih sering bercerita terkait Pa Saleh. Tentang bagaimana sosok yang asalnya terpandang harus jatuh ke dalam lembah kemiskinan karena perilakunya, lalu pergi meninggalkan keluarga. Begitu pula di malam sebelum lebaran tahun itu. Ketika takbir raya Idul Fitri terus diucapkan, Bu Tina merapal kembali cerita Pa Saleh sambil berbincang dengan Narto. Narto terus bersabar mendengarkan cerita ibunya itu.
Maimun pulang agak telat. Begitu pula dengan Mintarsih. Ketika pulang, Maimun menceritakan semua informasi yang diterimanya dari dunia di luar sepengetahuan ibu dan kakaknya. Ia bercerita tentang kabar tetangga rumah, kejadian-kejadian di kantor, hingga pernyataan kenalan di pasar yang melihat seseorang menyerupai sosok ayah Maimun, Pa Saleh. Walaupun melewati kegiatan yang berbeda dengan Maimun, Mintarsih merasakan momen serupa tetapi lebih nyata. Ia melihat seorang laki-laki tua di pertigaan jalan dekat kediaman mereka. Laki-laki itu tampak memandangi rumah Bu Tina sedari tadi. Sontak seisi rumah kaget dan berusaha mendekat ke jendela rumah. Namun, orang tersebut menghilang di tengah gelapnya malam.
Bu Tina, Narto, Maimun, dan Mintarsih kemudian melanjutkan percakapan mereka kembali. Tidak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu. Saat dibuka, terlihat seorang laki-laki tua sedang menunggu. Bajunya lusuh dan mukanya kusam. Itulah Pa Saleh. Ayah yang baru kembali setelah 20 tahun menghilang dari kehidupan Bu Tina dan anak-anaknya. Karena masih ada rasa sayang dan iba, Bu Tina mempersilahkan Pa Saleh masuk dan duduk di sofa. Dengan penuh keraguan, Pa Saleh mengikuti arahan istrinya itu. Maimun dan Mintarsih menyambut ayahnya dengan bahagia. Seorang ayah yang belum pernah mereka temui secara langsung, setidaknya belum ada memori tentang Pa Saleh dalam ingatan mereka. Namun, Narto tak seperti kedua adiknya. Ia marah. Kekesalan yang ia pendam dalam-dalam selama 20 tahun mulai muncul ke permukaan.
Pa Saleh menceritakan semua hal yang ia lalui ketika Bu Tina bertanya padanya. Tentang bisnisnya di Singapura yang bangkrut, kehidupan yang luntang-lantung, serta utang yang melilitnya. Ketika selesai bercerita, Pa Saleh terbatuk. Ia meminta Narto mengambilkan air jika berkenan. Karena tidak merespon, Maimun akhirnya melakukan permintaan sang ayah. Namun, belum juga air itu sampai ke tangan Pa Saleh, Narto meledak. Amarahnya tak sanggup ia bendung lagi. Kebobrokan sang ayah dan kasih sayang yang tidak pernah diterimanya lebih mendominasi daripada rasa iba melihat seorang lelaki tua yang lusuh. Pa Saleh beringsut ketakutan. Rasa salah juga menyelimuti hatinya. Maimun tak setuju dengan kakaknya. Bagaimana pun juga, Pa Saleh tetap orang tua mereka. Pa Saleh tetap harus dihormati dan dijaga kala masa tuanya. Narto dan Maimun berdebat panjang setelah itu. Berbagai seruan kecang serta otot leher yang menegang menjadikan suasana rumah di malam hari raya kala itu semakin panas.
Pa Saleh paham posisinya. Ia lalu memutuskan untuk pergi. Maimun tak bisa menahan kepergian Pa Saleh. Sambil diiringi hujan, Bu Tina berseru, “Malam hari raya, ia pergi lalu datang untuk pergi kembali!”. Maimun bertengkar dengan Narto. Seakan mempertegas keputusannya, Narto berkata, “Jika memang kita punya seorang ayah, lantas mengapa kita banting tulang selama ini?”, “Kita besar dalam rasa sengsara. Rasa gembira di dalam hati sekalipun tidak ada!”, “Aku sanggup jadi orang yang berharga meskipun tanpa kasih sayang seorang ayah!”, dan, “Gunarto yang sekarang adalah Gunarto yang dibentuk dari dirinya sendiri. Aku merdeka semerdeka-merdekanya, Bu!”.
Sadar tak bisa mengalahkan kakaknya, Maimun pergi berlari mengejar sang ayah. Ketika ia kembali, hanya kopiah dan kemeja lusuh yang mampu ia bawa. Kedua barang itu ditemukannya di bawah kolong jembatan dekat sungai. Seketika Narto sadar. Di malam hari raya, ayahnya, ayah Maimun, dan ayah Mintarsih kembali pergi. Namun, kali ini, kepergian sang ayah adalah untuk selamanya.
Aspek Bentuk
Pementasan “Ayahku Pulang” melibatkan pemain sejumlah 5 orang. Jumlah tersebut proporsional dengan kondisi cerita. Alhasil, kesan awal yang diberikan pementasan “Ayahku Pulang” adalah sederhana dan intens. Selain itu, latar tempat pementasan ini hanya berada di rumah Bu Tina. Keberadaan satu latar tersebut menambah citra sederhana atas cerita yang dipentaskan.
Aspek Isi
Isi pementasan “Ayahku Pulang” sangat sesuai dengan fenomena fatherless country saat ini. Masyarakat Indonesia seharusnya aware dengan fenomena fatherless karena Indonesia sendiri menempati posisi ketiga sebagai negara fatherless di dunia . Karena itu, pementasan ini telah membantu penyebaran awareness tersebut. Selain memberikan pesan terkait awareness terhadap fenomena fatherless, pementasan ini juga memberikan pesan bahwa hal yang akan terjadi di masa depan merupakan buah dari perbuatan yang dilakukan di masa sekarang. Bagaimana pada awalnya Pa Saleh berfoya-foya seenak hatinya lalu harus jatuh dan melara hingga akhir hayatnya serta bagaimana kekesalan Narto yang sangat masif berujung pada kehilangan sang ayah untuk selama-lamanya merupakan contoh dari pesan tersebut.
Kelebihan
Para pemain pementasan “Ayahku Pulang” patut diberikan apresiasi tinggi. Mereka mampu membangun emosi penonton, sehingga tidak jarang ditemui para penonton yang terharu ketika pementasan berakhir. Emosi para pemain terlihat natural dan tidak dipaksa-paksakan walaupun hanya berlatih selama 1 bulan. Dengan tambahan manajemen lighting/pecahayaan yang baik, pementasan ini terasa sangat relevan dengan kehidupan. Meskipun di awal hingga pertengahan pementasan dialog antarpemeran terkesan mengulang-ulang, dialog tersebut rupanya penting dalam membangun dasar-dasar cerita yang harus diketahui penonton.
Kekurangan
Dalam pementasan “Ayahku Pulang”, kekurangan yang muncul murni karena risiko dari diterapkannya teknik-teknik pementasan. Kekurangan pertama yang dimaksud ialah suara para pemain belum terdengar jelas apabila diperhatikan dari belakang. Hal tersebut wajar mengingat pementasan menerapkan teknik suara langsung, bukan seperti kabaret yang menggunakan dubbing. Kekurangan kedua ialah ruang pementasan yang langsung diatur gelap ketika penonton memasuki ruangan. Saat pementasan berlangsung, ruangan memang cocok untuk diatur gelap total. Namun, ketika persembahan-persembahan di awal, ada baiknya ruangan diatur redup agar memudahkan penonton menikmati acara secara keseluruhan karena belum perlu fokus ke satu titik panggung yang sama.
Kesatuan
Kesatuan pementasan “Ayahku Pulang” tidak perlu diragu. Pencahayaan dan tata panggung menjadikan pementasan ini tergambar dengan baik. Kedua hal tersebut juga saling melengkapi kekurangan yang ada. Contohnya, walaupun hanya menggunakan 1 latar, cahaya sorot dengan warna berbeda menjadikan panggung memberi banyak makna.
Keseluruhan
Ekspresi pemain yang tidak neko-neko dan tetap terukur menjadikan pesan pementasan tersampaikan secara maksimal. Oleh karena itu, keseluruhan pementasan “Ayahku Pulang” dapat dikatakan baik.
Keragaman
Walaupun mendiami rumah yang sama, karakter Bu Tina, Narto, Maimun, dan Mintarsih memiliki keunikannya masing-masing. Ibu selalu terlihat anggun tetapi memendam rasa kecewa atas perilaku suaminya juga keadaan keluarga saat ini. Narto harus terlihat kuat karena menjadi kakak tertua dalam keluarga yang belum sepenuhnya mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Maimun memiliki semangat tinggi atas keinginan dan keyakinannya. Mintarsih menjadi anak yang penyayang karena mendapat perhatian dari ibu dan kedua kakaknya. Maimun dan Mintarsih tumbuh menjadi anak yang lebih terbuka karena walaupun belum pernah bertemu Pa Saleh, peranan ayah sudah mampu diemban oleh sang kakak, Narto. Tak luput pula, karakter Pa Saleh sebagai ayah yang tiba-tiba hadir kembali setelah 20 tahun pergi meninggalkan keluarga. Semua keunikan karakter itu berkolaborasi dan akhirnya mampu membawakan warna beragam dalam pementasan “Ayahku Pulang”.
Intensitas
Topik yang diangkat dalam pementasan “Ayahku Pulang” sangat relevan dengan permasalahan di masyarakat saat ini. Pesan tersirat dari cerita pun, yaitu penyebaran awareness atas fenomena fatherless dan peningkatan pemahaman “bagaimana ditanam, begitulah dituai”, sudah tergambar dari tiap-tiap adegan yang dipentaskan.
Kesimpulan
Walaupun “Ayahku Pulang” menjadi pementasan pertama bagi Teater Buih setelah dikembalikannya metode perkuliahan secara luar jaringan, pementasan ini sudah mampu menjadi karya yang baik jika dilihat dari aspek bentuk, isi, kesatuan, keseluruhan, keragaman, dan insensitas. Itulah salah satu faktor yang menjadikan banyaknya penonton pementasan “Ayahku Pulang”. Karena hal tersebut, pementasan ini dapat dikatakan sudah bagus dan sangat menghibur.