Dilema Student Government di Indonesia

Oleh: Rayhan Riza

Belakangan, terbit sebuah potensi besar terkait terbentuknya “Mahkamah Mahasiswa” di Universitas Diponegoro. Ini membuka ruang bagi satu cabang kekuasaan dalam ruang lingkup kemahasiswaan yaitu yudikatif, dimana sebelumnya hanya diisi oleh dua unsur yaitu legislatif dan eksekutif. Bukan merupakan hal baru tentunya, karena beberapa universitas di Indonesia telah lebih dahulu membentuk dan menjalankan lembaga tersebut. Terlepas dari narasi pro dan kontra yang ada, fenomena ini menjadi salah satu komponen menarik untuk ditelaah lebih dalam, utamanya untuk melihat dalam gambaran luas tentang bagaimana praktik Student Government bekerja di Indonesia.

Student Government atau Pemerintahan Mahasiswa adalah gerakan mahasiswa yang terlembagakan secara formal dan berfungsi sebagai wadah aspirasi mahasiswa dan secara signifikan mengatur kegiatan kemahasiswaan, juga memberikan platform untuk partisipasi mahasiswa yang lebih luas di ruang lingkup perguruan tinggi. Secara sederhana, Student Government adalah gerakan mahasiswa yang dilembagakan. Ini sangat esensial karena mahasiswa yang merupakan stakeholder terbanyak di kalangan civitas akademika seharusnya memiliki hak yang cukup untuk terlibat dalam pengambilan keputusan di lingkungan perguruan tinggi. Guna mewakili suara mereka maka diperlukan peran organisasi kemahasiswaan sebagai representasi mahasiswa. Selain mewadahi kepentingan yang diperlukan, Student Government juga hadir sebagai tempat untuk melatih pengembangan diri. Melalui kegiatan keorganisasian, mahasiswa mendapatkan kesempatan lebih untuk mengembangkan keterampilan diri utamanya dalam aspek kepemimpinan, komunikasi, dan kerjasama kolektif.

Hal tersebut tentu tidak datang sendiri tanpa kritik. Banyak yang belum merasa pasti mengenai pembagian ranah kerja lembaga-lembaga yang ada, pun dengan fungsi substansialnya, yang bisa saja diakibatkan oleh cakupan kelembagaan Student Government itu sendiri yang dinilai terlalu luas untuk ukuran lingkungan perguruan tinggi atau fakultas. Disinilah konsep Student Government menemui tantangan dan dilemanya: Apa fungsi sebenarnya?

Miniatur Pemerintahan: Trias Politica atau Inefisiensi?

Perguruan tinggi di seluruh dunia umumnya memiliki Student Government, namun satu hal yang menarik di Indonesia adalah bagaimana Student Government itu sendiri berdiri dan bekerja layaknya sebuah miniatur negara. Berangkat dari fenomena terbaru, Student Government di Indonesia sekarang memiliki tiga cabang kekuasaan: Legislatif yang umumnya bernama Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) atau Senat Mahasiswa (SM), Eksekutif yang terdiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Himpunan Mahasiswa (HIMA), dan Yudikatif yang diwakili oleh Mahkamah Mahasiswa (MM). Semuanya membentuk trias politica melalui peran nya masing-masing, dan menjadikan lembaga pergerakan kemahasiswaan seperti miniatur dari pemerintahan negara, karena memiliki struktur pemerintahan yang kurang lebih mirip. Beragamnya lembaga yang ada dalam Pemerintahan Mahasiswa ini membuat Student Government di Indonesia memiliki ruang tata kelola yang luas.

Jika kita menganalogikan Student Government sebagai lembaga pemerintahan, maka kurang lebih lembaga legislatif seperti Senat Mahasiswa berperan sebagai Dewan Perwakilan Rakyat serta Senat Mahasiswa Fakultas sebagai Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Badan Eksekutif Mahasiswa Sebagai Pemerintah Pusat dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas sebagai Pemerintah Daerah serta Himpunan Mahasiswa sebagai Pemerintah Kota/Kabupaten, lalu Mahkamah Mahasiswa selaku lembaga yudikatif sebagai Mahkamah Agung. Kurang lebih seperti itu lembaga kemahasiswaan mengambil perannya.

Pada satu sisi, struktur organisasi seperti itu menawarkan wadah yang luas bagi mahasiswa untuk mendalami praktik pemerintahan secara mendalam, serta memberi banyak pilihan bagi preferensi yang beragam terhadap minat tersebut. Namun disisi lain, dalam praktiknya sering ditemukan pergesekan tupoksi antar lembaga. Pada ranah advokasi dan aspirasi misalnya, tidak sedikit yang merasa ketiadaan perbedaan khusus antara forum advokasi atau aspirasi yang diwadahi BEM atau Senat Mahasiswa. Jika Pun ada serangkaian aturan kemahasiswaan atau memorandum yang membagi tupoksi advokasi kedua lembaga, maka faktanya masih banyak ditemui persimpangan yang terjadi dalam pengaplikasiannya.

Bahkan dalam pemberdayaan ormawa-ormawa yang ada kerap terjadi persinggungan, ada agenda masing-masing namun aspirasi yang diserap kurang lebih sama. Belum lagi dengan hadirnya himpunan, yang memiliki beberapa tupoksi yang kurang lebih mirip dengan BEM Fakultas, utamanya dalam kaderisasi. Di Undip misalnya, terlalu banyak acara orientasi dan pengenalan kampus (Ospek) dirasakan oleh mahasiswa baru banyak yang memakan waktu, energi, dan sumber daya dengan cukup signifikan akibat ormawa-ormawa tersebut memiliki event nya masing-masing. 

Jika memang itu benar, maka sangat disayangkan bila wadah yang beragam tidak dibersamai dengan output dan outcome yang beragam pula. Apalagi jika kita menambahkan unsur anggaran universitas dan fakultas yang dialokasikan untuk sumber daya yang besar tersebut. Kalau beberapa pergesekan yang terjadi tidak bisa dijelaskan dengan baik maka akan banyak anggapan dan persepsi yang timbul kalau hal tersebut adalah tidak kurang dari inefisiensi tata kelola dan pemborosan anggaran semata. Sehingga dalam titik ini, banyak yang bisa dipertanyakan mengenai esensi dari Student Government itu sendiri.

“Carut Marut” Politik Kampus

Dilema ini akan semakin keruh jika kita menambahkan konsekuensi politik yang tidak terelakkan dan secara alamiah pasti dihasilkan oleh praktik pemerintahan, dalam hal ini pemerintahan mahasiswa. Karena Student Government berperan layaknya miniatur negara, maka dinamika politik pun akan berjalan layaknya negara pula. Jika kita melihat dalam ruang lingkup Indonesia secara keseluruhan, maka bisa penulis katakan bahwasanya kualitas berpolitik yang ada kebanyakan belum mencapai standar yang sehat, dan tentunya ini secara langsung mendegradasi kualitas dari Student Government itu sendiri.

Salah satu faktor yang berkontribusi pada meningkatnya apatisme mahasiswa terhadap Student Government di Indonesia adalah fakta bahwa itu tidak dapat dipisahkan dengan faktor-faktor politis yang hadir, terlebih jika proses politik yang ada tidak menunjukkan pola persaingan yang sehat. Itu bisa meluas dan masuk kedalam budaya organisasi; dinamika politik yang ada bisa membentuk budaya yang dianut oleh organisasi Student Government itu sendiri. Jika dari hulu tidak sehat, maka situasi di hilir pun demikian. Hal ini bisa dilihat dari masifnya skandal-skandal dalam politik kampus yang menyeret nama baik kelembagaan Student Government.

Kita mungkin bisa banyak memberi kritik mengenai pahitnya politik kenegaraan dan dampak kelembagaan yang ditimbulkan, sayangnya politik kampus di Indonesia pun kurang lebih demikian secara keseluruhan. Tidak heran jika banyak mahasiswa/i yang mulai tidak tertarik untuk bergabung dengan Student Government dari awal. Apalagi ditambah dengan prioritas mereka yang secara jelas akan lebih difokuskan kepada kewajiban akademik, maka semakin berkuranglah esensi Student Government di mata mahasiswa banyak. Tapi apakah kita bisa selamanya melihat Student Government dari sudut pandang ini?

Miniatur Demokrasi

Dilema tidak selamanya memberi kebuntuan bagi yang melihatnya. Dibalik dilema terdapat makna yang baru, atau setidaknya sudut pandang lain. Jika kita mengatakan bahwa sistem pemerintahan mahasiswa yang dijalankan terlalu rumit secara struktural dan fungsi, maka kita bisa melontarkan kritik yang sama terhadap sistem pemerintahan negara kita. Namun bukankah sistem yang “rumit” itu ditujukan untuk menghindari monopoli kekuasaan?

Montesquieu mengenalkan konsep trias politica guna menghindari kekuasaan absolut dalam pemerintahan, hal ini tentunya juga relevan bagi Student Government yang pada esensinya adalah pemerintahan mahasiswa. Jika motif politis dan konflik kepentingan yang cukup keruh bisa kita lihat dalam politik kampus, maka akan lebih baik jika itu diminimalisir dengan Check dan Balances melalui fungsi kelembagaan yang demokratis. Karena apa itu pemerintahan dan organisasi kemahasiswaan kalau bukan sarana pembelajaran untuk menghadapi kontradiksi karakter dalam diri kita. 

Bisa saja kita membayangkan dengan sederhana konseptualisasi Student Government yang lebih praktis dan sederhana, misalnya jika hanya diisi oleh satu lembaga layaknya kebanyakan Student Government di luar negeri, supaya tidak terjadi pergesekan tupoksi antar lembaga seperti yang sudah disebutkan. Namun, semua variasi yang ada menyesuaikan dengan situasi sosial dan kondisi aktual masing-masing ruang lingkup. Dalam konteks Indonesia, guna membangun iklim demokrasi kampus yang lebih mapan maka perlu pendekatan yang praktis dimana dalam hal ini adalah sistem kelembagaan organisasi Student Government yang mengedepankan Check and Balances.

Sangat mudah untuk melihat kecacatan atau kekacauan dari praktik Student Government di sekitar kita; Simpang siur tupoksi, inefisiensi, politik kampus, konflik kepentingan, skandal. Tapi seberapa sulit bagi kita untuk memandang hal tersebut sebagai sebuah prinsip? Mencetak Agent of Change sebagai individu dan mempersiapkan Iron Stock secara kolektif untuk menyambut estafet kepemimpinan generasi mendatang, disaat yang bersamaan berperan sebagai Social Control untuk menghadapi tantangan zaman. Belajar berdemokrasi memang bukan hal yang mudah, tapi disitulah karakter kita diuji untuk memperbaiki kualitas diri sendiri dan kualitas dari iklim demokrasi kemahasiswaan melalui Student Government. Praktik Student Government bukan hanya berfungsi sebagai miniatur negara tetapi juga miniatur demokrasi.

“It’s easy when it’s something you can see; A wall, a hill, a river. But how can you explain to them when it’s for a principle?” 

– Sir Arthur, 55 Days at Peking (1963).

Tekad Menembus Jarak

Oleh: Annisa Zahi As Zahira

Kupijak jalan yang asing dan jauh,

Dengan sebuah tas penuh doa dari rumah.

Langit kota tak sesyahdu langit kampung,

Tapi mimpi membuatku terus melangkah.

Setiap malam, rindu mengetuk hati,

Teringat hangatnya peluk ibu.

Tapi air mata kubiarkan jatuh diam-diam,

Agar semangat tak ikut luruh.

Di balik letih yang tak selalu terlihat,

Ada tekad yang terus kugenggam kuat.

Karena aku tahu, perjuangan ini bukan sia-sia,

Ada masa depan yang sedang kucipta.

Biar jarak dan waktu membentang ribuan hari,

Aku percaya, semua ini akan berarti.

Dan ketika pulang nanti…

Aku ingin membawa bangga, bukan hanya hadir kembali.

Cuaca Tak Menentu di Akhir Mei 2025: Musim Kemarau Belum Merata, Hujan Lebat Masih Mengancam 

Memasuki akhir Mei 2025, sebagian besar wilayah Indonesia masih dihadapkan pada kondisi cuaca yang sulit diprediksi. Meskipun secara klimatologis periode ini seharusnya menjadi masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau, kenyataannya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih sering terjadi di berbagai daerah, bahkan kerap disertai petir dan angin kencang yang berpotensi menimbulkan kerusakan serta mengganggu aktivitas masyarakat. 

Pola Peralihan Musim: Kemarau Datang Lebih Lambat 

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sekitar 57,7% wilayah Indonesia atau 403 Zona Musim (ZOM) diprediksi akan memasuki musim kemarau pada periode April hingga Juni 2025. Wilayah Nusa Tenggara menjadi yang paling awal mengalami kemarau. Secara keseluruhan, musim kemarau tahun ini diprediksi datang bersamaan atau bahkan lebih lambat dari biasanya di 409 ZOM (59%) dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus dan berlangsung lebih singkat di 298 ZOM (43%). 

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa hingga dasarian II Mei 2025 baru sekitar 11% ZOM yang benar-benar memasuki musim kemarau sementara 73% ZOM masih berada pada musim hujan. Artinya, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada di masa peralihan, sehingga cuaca pun cenderung berubah cepat, dari pagi yang cerah menjadi mendung dan hujan pada sore hingga malam hari. 

Penyebab Cuaca Ekstrem: Dinamika Atmosfer dan Fenomena Global 

BMKG menjelaskan, fenomena hujan lebat yang masih sering terjadi pada masa peralihan ini tidak hanya dipicu oleh mekanisme konvektivitas lokal, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh dinamika atmosfer berskala luas. Beberapa faktor utama yang berperan antara lain: 

  1. Kondisi atmosfer yang labil akibat interaksi suhu permukaan laut yang hangat, tekanan udara, dan kelembapan tinggi, memicu pembentukan awan konvektif seperti Cumulonimbus yang dapat menyebabkan hujan lebat, petir, angin kencang, hingga hujan es,
  2. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer tropis yang saat ini masih aktif melintasi wilayah Indonesia dan memicu pertumbuhan awan hujan secara signifikan, dan
  3. Gelombang atmosfer lain seperti gelombang Kelvin dan Rossby ekuatorial yang cenderung persisten di sebagian wilayah barat dan tengah Indonesia, semakin memperbesar potensi hujan lebat. 

BMKG juga menegaskan bahwa fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini berada dalam fase netral, sehingga tidak ada gangguan besar dari Samudra Pasifik maupun Hindia hingga semester II 2025. Namun, suhu muka laut di sekitar Indonesia yang cenderung lebih hangat turut berkontribusi pada tingginya kelembapan udara dan pembentukan awan hujan. 

Imbauan BMKG untuk Masyarakat 

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dalam beberapa waktu ke depan. Berikut beberapa langkah yang disarankan:

  1. Gunakan pelindung seperti tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan untuk menghindari paparan sinar matahari langsung, serta jaga kecukupan cairan tubuh
  2. Waspadai hujan lebat disertai petir dan angin kencang, hindari berteduh di bawah pohon atau bangunan yang rentan saat cuaca buruk
  3. Siapkan langkah evakuasi dan pahami jalur evakuasi jika terjadi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor
  4. Pantau informasi cuaca terbaru melalui kanal resmi BMKG dan tetap tenang serta siaga menghadapi perubahan cuaca ekstrem. 

Cuaca yang cepat berubah dan potensi hujan lebat di masa peralihan ini menjadi pengingat penting bagi seluruh masyarakat untuk selalu waspada dan mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. 

Sumber: https://www.bmkg.go.id/

Penulis: Dyah Risma Ristanti

KSPM Reshuffle, Ketua Mengundurkan Diri Karena Masalah Pribadi? 

(18/05) Press Release Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM), pada tanggal 26 April 2025 telah dilaksanakan musyawarah besar dan menyatakan bahwa pengurus inti dari organisasi KSPM melakukan reshuffle dikarenakan ada alasan tersendiri untuk president director terpilih sebelumnya Angga Rizky Setiawan mengundurkan diri beserta Wakil Organisasi KSPM Ghina Aurellia yang diberhentikan dengan terhormat.

President Director KSPM digantikan oleh Ariq Widitama Fachrudy, kemudian Angga menjadi Vice President of Organization menggantikan Ghina. 

Alasan utama bahwa Angga mengundurkan diri dikarenakan masalah kesehatan sehingga ia tidak sanggup untuk melanjutkan tanggung jawabnya sebagai President Director. Sedangkan Ghina sendiri memang terdapat pembahasan yang privasi dari KSPM. 

Ibnu Athaillah, salah satu dewan komisaris KSPM memberikan statement bahwa Angga mengundurkan diri bukan dikarenakan masalah yang sepele sedangkan masalah kesehatan yang yang kian memburuk. 

“Karena ketua organisasi memiliki masalah kesehatan sehingga ia memilih untuk mengundurkan diri” ucap Ibnu.

Ibnu Athaillah menambahkan bahwa ada beberapa kasus sehingga perlu diadakan musyawarah besar untuk didiskusikan mengenai masalah reshuffle dan lain hal.

Patrialis Zulfa, salah satu bagian dewan komisaris KSPM memberikan pendapatnya 

“KSPM sekarang itu dibentuk dewan baru yaitu commisioner atau dewan komisaris yang nantinya berfungsi sebagai dewan penasihat untuk KSPM”

Meninjau dari permasalahan yang ada pembentukan commisioner memungkinkan untuk memberikan bantuan atas organisasi KSPM.

Reporter: Aldo

Sedia Kecewa Sebelum Hujan

Oleh: Royhan

Tadinya kupikir hidup itu neraka

Lalu aku terbangun, ternyata aku di surga

Namun, tak berlangsung lama

kembali ku dirundung nestapa

Setelahnya, aku diangkat ke nirwana

Lalu dijatuhkan kembali ke samsara

Aduhai, begitu terus seterusnya

Ternyata hidup ini dusta

Tapi tak mengapa punya asa

Seperti gemuruh hujan tak berperasaan

Petirnya, kilat menjilat di angkasa

Manusia berprasangka akan siksa

Tapi, ternyata pelangi terbentuk di angkasa

Namun, ingat ia pun hanya sementara

Tak ada yang selamanya

Jadi, selayaknya pepatah lama

Sedia kecewa sebelum hujan

Manis yang Menyesatkan

Oleh: Ana

Salsa duduk sendirian di pojok kamar kosnya yang sempit. Segelas teh tarik instan mengepul di meja kecil, ditemani dua bungkus biskuit krim cokelat yang sudah hampir habis. Di lantai, ada bungkus kue bolu keju murah dari warung belakang kos. Dia baru saja menyelesaikan tugas kelompok yang membuat kepalanya pusing seharian. Gula adalah penolong setianya.

Sejak merantau untuk kuliah dua tahun lalu, makanan manis adalah pelarian paling mudah. Murah, praktis, dan rasanya membuat hati terasa lebih ringan, seolah semua masalah hilang meski hanya sementara. Dari pagi yang berat, sore yang lesu, hingga malam yang sunyi, Salsa selalu punya alasan untuk mengunyah sesuatu yang manis.

Namun, akhir-akhir ini tubuhnya mulai memberontak. Ia sering merasa haus berlebihan, bahkan setelah minum sebotol penuh air mineral. Malam-malamnya terganggu karena harus bolak-balik ke kamar mandi. Kadang, matanya kabur saat membaca buku atau layar laptop. Yang paling membuatnya panik adalah berat badannya turun, tapi ia tidak merasa lebih sehat. Justru, Salsa sering merasa lemas dan cepat capek, padahal ia tidak melakukan aktivitas berat.

Awalnya, ia menyangkal semuanya, “mungkin karena kecapekan,” katanya. Tapi setelah pingsan di kelas saat presentasi, ia tidak bisa menunda lagi. Ia memeriksakan diri ke klinik kampus, dan hasilnya membuat jantungnya hampir copot: Salsa terkena diabetes tipe 2.

“Kamu masih muda, tapi pola makan kamu sangat buruk. Terutama konsumsi gulanya,” kata dokter waktu itu, “kalau tidak diubah, kondisimu bisa makin parah.”

Salsa menunduk saat mendengarnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa manis bukan lagi teman, tapi musuh yang perlahan membunuhnya.

Teman sekelasnya, Nayla, adalah orang pertama yang tahu tentang kondisinya. Nayla memang berbeda sejak awal. Ia tinggal bersama orang tuanya di Jogja,\ dan keluarganya sangat peduli soal makanan. Nayla selalu membawa bekal sendiri, jarang jajan sembarangan, dan sering mengingatkan Salsa secara halus.

“Gula itu kayak racun pelan-pelan loh, Sal,” kata Nayla suatu siang, setahun lalu. Saat itu Salsa hanya tertawa, lalu menyeduh kopi instan sachetnya yang manis.

Kini, Nayla tidak menghakimi. Ia hanya berkata, “Pelan-pelan, kita bisa ubah kebiasaan kamu bareng-bareng.”

Kalimat itu lebih dari cukup. Dalam sepi dan rasa bersalah, Nayla menjadi cahaya kecil yang menuntun Salsa kembali.

Perjalanan memperbaiki pola hidup bukan hal mudah. Hari-hari pertama, tubuh Salsa seperti berontak. Ia gelisah tanpa camilan manis. Lidahnya kehilangan rasa saat mencicipi teh tawar. Ia nyaris menyerah.

Tapi Nayla hadir dengan solusi-solusi sederhana. Ia mengajak Salsa masak sendiri. Mulai dari oatmeal tanpa gula, infused water, hingga camilan berbahan dasar pisang dan gandum. Nayla juga mengenalkan Salsa pada aplikasi yang bisa melacak kadar gula dan kalori makanan.

Mereka berolahraga ringan bersama setiap pagi seperti jalan kaki keliling kompleks kos atau naik-turun tangga kampus. Kadang, mereka ikut kelas yoga online bersama. Dukungan itu membuat Salsa bertahan.

“Kenapa kamu peduli banget sama aku?” tanya Salsa suatu malam.

“Karena aku nggak mau kehilangan teman yang baik cuma karena teh tarik,” jawab Nayla sambil tersenyum.

Setelah enam bulan, hasil cek kesehatan menunjukkan perbaikan. Gula darah Salsa mulai stabil. Tubuhnya lebih bugar, pikirannya lebih jernih. Tapi yang paling penting, ia belajar bahwa kesehatan adalah tanggung jawab yang tidak bisa digantikan siapa pun.

Salsa mulai berbagi kisahnya lewat blog dan media sosial. Ia tahu banyak mahasiswa lain seperti dirinya—yang menjadikan gula sebagai pelarian dari stres. Ia ingin mereka sadar sebelum terlambat.

“Aku dulu merasa manis itu kebahagiaan,” tulisnya dalam salah satu unggahan. “Tapi ternyata, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah saat tubuhmu sehat dan kamu bisa menikmatinya tanpa rasa takut.”

Kini, tiap pagi Salsa menyeduh teh tanpa gula sambil menikmati udara segar. Kadang, ia masih merindukan rasa manis berlebih itu. Tapi ia tahu, ia telah memilih sesuatu yang jauh lebih manis: hidup yang sehat dan penuh makna.

“Tubuh kita adalah rumah pertama dan terakhir. Jagalah ia, sebelum manis yang kamu nikmati hari ini menjadi pahit yang kamu sesali esok hari.”

Main Event Research School 2 : Menguatkan Generasi Muda dalam Riset dan Inovasi Berkelanjutan

Dok: Pribadi

Semarang — Pada Sabtu, 17 Mei 2025, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) telah menyelenggarakan Main Event Research School 2, sebuah program pelatihan lanjutan dalam kaderisasi riset mahasiswa. Program ini diusung oleh Badan Eksekutif Mahasiswa bidang Riset dan Keilmuan. Kegiatan ini berlangsung di Hall Gedung C FEB Undip dan diikuti oleh sekitar 40 peserta dari berbagai fakultas, baik dari FEB maupun luar FEB.

Research School merupakan program pengkaderan riset yang dirancang oleh lembaga kemahasiswaan untuk mencetak generasi muda yang unggul dan kompetitif dalam dunia keilmuan. Program ini terbagi menjadi beberapa tahap dengan Research School 2 sebagai kelanjutan dari Research School 1. Pada tahap ini, peserta diberikan bimbingan dan pelatihan secara lebih mendalam mengenai empat pilar riset utama, yaitu karya tulis ilmiah, kajian kebijakan, simulasi konferensi Model United Nations (MUN), dan pengembangan ide inovatif. Tujuan utamanya adalah membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis, analitis, serta keterampilan teknis yang diperlukan untuk menghadapi dan berprestasi dalam kompetisi riset, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Tahun ini, Research School 2 mengangkat tema “Empowering Young Achievers: Building Research and Sustainable Innovation.” Tema ini diusung untuk mendorong semangat generasi muda dalam menciptakan karya riset yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak secara sosial dan berkelanjutan.

Menurut Lilis selaku Wakil Ketua Pelaksana, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kesiapan peserta dalam menghasilkan karya yang relevan dan bernilai. “Tujuannya itu untuk pembekalan agar ketika peserta yang akan mengikuti lomba dapat memberikan impact yang lebih,” ujarnya.

Main event ini menghadirkan pembicara inspiratif, Bryant Andhika Prayoga selaku Mahasiswa Berprestasi Nasional peringkat 3 tahun 2023. Dalam sesi bertajuk “How to Be a Champion in Mahasiswa Berprestasi Nasional and Gain a Research School Scholarship Abroad,” Bryant membagikan kisah perjuangannya dalam meraih prestasi, mulai dari penolakan 21 kali saat mendaftar perguruan tinggi, hingga akhirnya diterima di Program Studi IUP Kimia, Fakultas Sains dan Matematika Undip. Ia juga membagikan pengalamannya mengikuti Pilmapres saat masih duduk di semester 4, lengkap dengan kesibukan mengurus berbagai dokumen sertifikat.

Saat ini, Bryant tengah menyusun skripsi dan secara terbuka meminta doa dari para peserta agar diberikan kelancaran dalam prosesnya. Permintaan tersebut disambut hangat dan penuh semangat oleh peserta yang hadir.

Dalam pemaparannya, Bryant juga membagikan tips penting terkait penulisan essay beasiswa. Ia menekankan bahwa banyak pelamar yang keliru dengan menuliskan daftar prestasi dan pengalaman organisasi di essay, padahal itu sudah tercantum di CV. Menurut Bryant, esai seharusnya menjadi ruang personal yang mencerminkan identitas dan motivasi secara mendalam.

Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya niat baik dan konsistensi dalam meniti proses. Ia menceritakan hampir gagal mengikuti lomba di Istanbul, Turki karena kendala biaya. Namun, ketika ia meniatkan partisipasinya sebagai bentuk ibadah, jalan pun terbuka dengan datangnya bantuan tak terduga dari perusahaan yang bersedia mendanai perjalanannya.

Salah satu kutipan inspiratif yang juga disampaikannya:
“Hidup terlalu singkat untuk menangis dan tertawa, sementara orang-orang hidup berdampingan dan tidak memperhatikanmu. Namun, jaga dirimu agar tetap bermanfaat, hingga kamu sungguhan menyadari bahwa hal yang tersingkat dari semua itu ialah kesabaran.”

Antusiasme peserta sangat terasa sepanjang acara. Agung Kurniawan menyampaikan rasa senangnya bisa bertemu langsung dengan Bryant. “Guest star-nya Mas Bryant, karena saya sering melihat namun belum pernah ngobrol. Jadi ini kesempatan besar bagi saya,” ujarnya.

Sementara itu, Nizar, salah satu peserta lainnya, juga mengungkapkan kesan positifnya. “Kesannya seru banget acara Research School 2, dan saya merasa dapat mengimplementasikan apa yang sudah disampaikan oleh Kak Bryant.”

Dengan semangat dan inspirasi yang dibawa oleh para pembicara dan peserta, Research School 2 diharapkan menjadi pijakan kuat bagi mahasiswa Undip dari berbagai latar belakang untuk terus berkembang dalam dunia riset dan menciptakan inovasi yang berkelanjutan.

Reporter : Sabrina, Shafa

Penulis   : Sabrina

ECOART 2025: Ruang Ekspresi dan Apresiasi Seni Mahasiswa FEB UNDIP

Dok: Pribadi

Tembalang, Semarang – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro kembali menggelar acara ECOART atau Economics Art Week 2025 sebagai ajang tahunan khusus bagi mahasiswa FEB. Acara ini berlangsung selama dua hari, yaitu pada Selasa, 14 Mei 2025 pukul 12.30 hingga selesai, dan dilanjutkan pada Kamis, 15 Mei 2025 mulai pukul 10.00 di Hall KWU FEB UNDIP. ECOART 2025 mengusung slogan “Lestari Budayaku, Bewarna Duniaku” yang bertujuan menumbuhkan semangat mahasiswa dalam melestarikan nilai budaya melalui ekspresi seni. Acara ini menjadi wadah untuk menyalurkan potensi seni mahasiswa di tengah padatnya rutinitas akademik.

Tahun ini, sebanyak 90 peserta ambil bagian dalam berbagai lomba seni seperti solo vokal, baca puisi, cerpen, lukis, fotografi, poster, dan band, dengan total hadiah senilai dua juta rupiah. ECOART tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya seni, tetapi juga mendorong terciptanya semangat kolaborasi, solidaritas, dan kreativitas antarmahasiswa. Para pemenang nantinya akan mewakili FEB dalam kompetisi seni bergengsi Diponegoro Art Competition. ECOART 2025 menjadi batu loncatan bagi mahasiswa berprestasi di bidang seni untuk melangkah ke tingkat universitas.

ECOART 2025 mengangkat tema “Where Timeless Tales Meet Modern Imagination” dengan tujuan menghadirkan nilai-nilai luhur budaya secara lebih menarik dan segar bagi generasi muda. Menurut VPO ECOART 2025, Sheva Putri Wardani, tema ini terinspirasi dari cerita dongeng Nusantara sebagai warisan budaya Indonesia yang diangkat kembali dengan peningkatan modern dan imajinatif. PO ECOART 2025, Jeslyn Viarna Listy, menjelaskan bahwa tema ini dipilih karena lebih rasional dan melekat dalam kehidupan sehari-hari. Tema tersebut berkontribusi positif terhadap peningkatan jumlah peserta pada tahun ini.

ECOART 2025 berhasil menarik lebih dari 85 mahasiswa FEB untuk unjuk bakat dalam 7 bidang seni. Keberhasilan ini merupakan hasil dari strategi pemasaran aktif dengan memasarkan acara dari kelas ke kelas dan memasang poster di beberapa gedung. VPO ECOART 2025 berharap acara ini dapat menjadi kebanggaan mahasiswa FEB dan memberikan dampak positif bagi kampus. Harapannya ECOART dapat berkembang secara kualitas, jaringan, dan inovasi setiap tahunnya.

Salah satu audiens lomba fotografi mengungkapkan ketertarikannya terhadap tema lomba karena memberikan ruang untuk mengekspresikan kecintaannya pada warisan budaya Indonesia. Ia telah memiliki minat mendalam terhadap dunia fotografi sejak SMP dan melihat ECOART sebagai kesempatan menggabungkan passionnya dengan pelestarian budaya. Dalam persiapan lomba, ia melakukan observasi langsung ke lokasi bersejarah untuk mencari komposisi foto yang tepat. Ia juga mempelajari sejarah dan filosofi objek yang difoto agar karyanya memiliki makna mendalam. Menjelang ECOART tahun depan, peserta fotografi berharap ajang tersebut dapat menghadirkan inovasi dalam bentuk lomba yang lebih beragam dan menarik. Ia berharap tema yang diangkat semakin relevan dengan isu-isu budaya dan lingkungan saat ini.

Nayla Clarissa, mahasiswa Akuntansi angkatan 2024, menjadi peserta lomba dalam cabang solo vokal. Nayla tertarik mengikuti ECOART karena terpacu oleh tantangan ingin membandingkan kemampuannya dengan peserta berbakat lainnya. Nayla memiliki latar belakang di bidang musik, khususnya tarik suara, karena aktif dalam kegiatan paduan suara semasa sekolah. Dalam persiapan, Nayla mengaku tidak melakukan latihan intensif, hanya mencari instrumen pendukung dan berlatih sekali sebelum tampil. Sebagai peserta, Nayla berharap agar semakin banyak mahasiswa yang ikut serta dalam ECOART ke depannya. Ia juga tertarik kembali mengikuti ECOART tahun depan, terutama jika ada cabang lomba dangdut.

Semangat dan kreativitas yang ditampilkan oleh para mahasiswa FEB UNDIP menjadi bukti nyata bahwa seni dapat menjadi media efektif dalam melestarikan budaya. Melalui berbagai karya yang dihasilkan, acara ini tidak hanya memperkaya pengalaman artistik para peserta, tetapi juga mempererat ikatan antar mahasiswa FEB. Diharapkan semangat ini terus berlanjut dan berkembang dalam kegiatan-kegiatan seni di masa mendatang. ECOART 2025 tidak hanya menjadi ajang kompetisi seni semata, tetapi juga menjadi pendorong bagi mahasiswa untuk lebih mengenal dan mencintai budaya bangsa.

Reporter: Florence, Musa, Zaki

Pergantian Pelatih Timnas Indonesia

Sumber: Merdeka.com

Pergantian pelatih Timnas Indonesia yang dilakukan pada awal tahun ini menjadi perhatian besar di kalangan pecinta sepak bola nasional. Tidak sedikit yang menilai keputusan ini cukup mengejutkan, mengingat pelatih sebelumnya, Shin Tae-yong, dinilai telah membawa banyak kemajuan bagi Timnas sejak mulai menangani skuad Merah Putih pada 2020.

Di bawah asuhan Shin Tae-yong, Timnas Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Ia dikenal disiplin, berani memberi peluang pada pemain muda, dan mampu meningkatkan daya saing Timnas di level Asia Tenggara hingga Asia. Bahkan, dalam beberapa turnamen dan pertandingan uji coba, performa Timnas terlihat lebih terstruktur dan modern dibanding sebelumnya, serta chemistry antara Shin Tae-yong dengan para pemain timnas sudah terbentuk.

Namun, di sisi lain, PSSI selaku federasi tentu memiliki pertimbangan tersendiri. Keputusan mengganti pelatih bukanlah hal yang dilakukan tanpa alasan. PSSI tampaknya ingin mengambil langkah baru demi target yang lebih tinggi, yakni lolos ke Piala Dunia 2026. Untuk itu, mereka menunjuk pelatih baru asal Belanda yang bernama Patrick Kluivert membawa filosofi berbeda, serta dibantu oleh dua asistennya yaitu Alex Pastoor dan Denny Landzaat.

PSSI menyebut bahwa alasan mengganti Shin Tae-yong dengan pelatih baru adalah  adanya dinamika tim, tetapi isu yang beredar mengatakan bahwa masalah komunikasi dan perbedaan budaya menjadi salah satu pertimbangan penting. Masalah tersebut menjadi kendala dalam penyampaian strategi di lapangan. 

Pergantian pelatih ini membuat banyak orang bertanya tanya, pasalnya Timnas masih memiliki empat pertandingan penting dalam lanjutan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia dan dua di antaranya akan berlangsung dalam waktu dekat. Situasi ini menuntut pelatih baru untuk cepat beradaptasi, mengenal karakter pemain, memahami kekuatan dan kelemahan skuad, serta membangun chemistry dengan seluruh elemen tim.

Sementara itu, publik terbelah dalam menyikapi keputusan ini. Sebagian mendukung, melihat pergantian ini sebagai bentuk ambisi dan langkah maju. Namun sebagian lagi ragu, karena proses adaptasi butuh waktu dan tidak bisa instan, apalagi dengan tantangan komunikasi, perbedaan budaya, dan tekanan ekspektasi yang besar dari publik.

Yang jelas ini adalah momen penting bagi sepak bola Indonesia. Di satu sisi, kita melihat bahwa ada keberanian dari PSSI untuk mengambil risiko. Di sisi lain, publik juga punya hak untuk mempertanyakan dan memberikan kritik. Tapi yang perlu diingat, kritik sebaiknya tetap disampaikan secara konstruktif, bukan sekadar emosi sesaat.

Timnas Indonesia adalah milik semua. Apa pun keputusan yang diambil federasi, pada akhirnya akan diuji di lapangan. Kita berharap pelatih baru bisa cepat menyatu dengan tim dan para pemain juga mampu beradaptasi dengan sistem yang diterapkan. Begitu juga PSSI, perlu terbuka dalam berkomunikasi agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Proses pembangunan sepak bola nasional memang tidak mudah. Kadang perlu perubahan, kadang juga butuh konsistensi. Tidak ada jaminan satu pelatih pasti membawa sukses, sama halnya tidak semua pergantian selalu berakhir buruk.

Mari kita lihat hasilnya secara objektif. Waktu akan menjawab apakah keputusan ini tepat atau tidak. Sementara itu, sebagai pendukung, sudah sepatutnya kita terus memberikan dukungan dengan cara yang sehat. Karena sepak bola bukan hanya soal hasil akhir, tapi juga tentang perjalanan, kerja keras, dan semangat untuk terus menjadi lebih baik. Selain itu juga kita berharap pergantian pelatih ini bisa membuat timnas Indonesia menuju ke piala dunia 2026 dan mencetak sejarah baru untuk Indonesia.

Penulis: Tsaniya Zakiyatun Nufus

Gelar Aksi Bisu untuk Palestina, Mahasiswa Bagikan Semangka sebagai Simbol Solidaritas

Tembalang, 4 Mei 2025 – Sejumlah mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) menggelar aksi bisu sebagai bentuk solidaritas terhadap krisis kemanusiaan di Palestina. Aksi ini diinisiasi oleh kelompok Undip Student Justice for Palestine dan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap situasi yang dinilai telah mencapai tahap genosida.

Aksi dilaksanakan di lokasi yang berbeda, yakni di lampu merah Ngesrep dan depan Masjid Kampus Undip. kegiatan dilakukan membagikan potongan semangka—yang menjadi simbol perlawanan Palestina akibat pelarangan penggunaan bendera negara tersebut—oleh peserta aksi serta mengangkat poster dan plakat berisi pesan dukungan. Meski tanpa orasi, aksi ini mendapat respon positif dari masyarakat, beberapa pengendara bahkan meneriakkan dukungan mereka.

Diam sebagai Simbol Perlawanan

Fahri, mahasiswa Sekolah Vokasi sekaligus penanggung jawab aksi Undip SJP, menjelaskan bahwasannya aksi bisu dipilih untuk menganalisis dan mengukur empati masyarakat terhadap isu Palestina. “Kami ingin melihat seberapa besar kepedulian mahasiswa dan warga terhadap isu Palestina. Ini langkah awal menuju aksi yang lebih besar seperti long march,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa isu Palestina adalah persoalan kemanusiaan, bukan sekadar topik berlandaskan keagamaan. “Siapa pun yang memiliki hati nurani dan akal sehat minimal tidak hanya diam melihat penderitaan mereka,” tegasnya.

Senada dengan Fahri, Muhammad Junaidi, Ketua UKM Insani FISIP 2025 dan perwakilan Undip Student Justice for Palestine, menyatakan bahwa keheningan dalam aksi ini mencerminkan sikap pasif dunia terhadap penderitaan Palestina. “Diam adalah bentuk perlawanan, karena dunia terlalu lama membisu,” ujarnya.

Persiapan Singkat, Antusiasme Tinggi

Meskipun persiapan dilakukan secara mendadak dengan waktu yang cukup singkat, aksi berjalan lancar berkat kerja sama solid para peserta. Mereka bekerja sama berkumpul di Masjid Kampus untuk menyiapkan poster, plakat, dan semangka yang dibagikan kepada masyarakat.

Junaidi menegaskan bahwa aksi ini baru permulaan. “Kami akan lanjutkan dengan aksi yang lebih besar dalam satu hingga dua minggu ke depan. Kami juga mendorong aksi nyata, seperti boikot produk yang mendukung Israel,” katanya.

Dukungan Masyarakat Menguatkan Semangat

Aksi berjalan kondusif dan disambut antusias oleh warga. Hal itu terlihat dari banyaknya pengendara yang menerima potongan semangka dengan terbuka serta beberapa yang menyuarakan dukungan mereka secara lantang. 

Dengan aksi ini, mahasiswa Undip berharap semangat solidaritas terus menyebar hingga dunia mendengar jeritan rakyat Palestina. “Kami tidak akan berhenti sampai keadilan ditegakkan,” tutup Fahri.

Reporter: Nares, Sholekah, Anisa Zahi

Penulis: Sholekah, Anisa Zahi