Pendikar Berakhir, Dipo Muda Resmi menjadi Mahasiswa Baru

Oleh: Luvita dan Deva

Rangkaian acara pendidikan karakter (Pendikar) baik di tingkat fakultas maupun universitas tahun 2021 berakhir pada Sabtu, 21 Agustus. Di tingkat fakultas, sama seperti pendikar hari-hari sebelumnya, kegiatan diselenggarakan oleh masing-masing himpunan program studi pada pukul 08.00 WIB melalui platfrom Zoom Meeting. Pendikar dibuka oleh masing-masing moderator yang kemudian dilanjut dengan pemaparan materi dan diselingi kegiatan ice breaking.

Materi pendikar hari terakhir di tingkat fakultas disampaikan oleh masing-masing dosen dari tiap program studi dengan materi AKKU (Ambisi, Kemampuan, Kondisi, dan Usaha) serta SMART (Specific, Measurable, Action Oriented, Realistic, and Time Base). AKKU dan SMART merupakan lanjutan dari pembahasan materi Declaration of Excellence (DoE) yang sudah diterangkan pada pendikar hari sebelumnya. Materi AKKU dan SMART disampaikan oleh Andrian Budi Prasetyo pada program studi Akuntansi, An’im Kafabih pada program studi Ekonomi Islam, Imroatul Khasanah pada program studi Manajemen, dan Mayanggita Kirana pada program studi Ilmu Ekonomi.

Sebagai penutup dari pendikar tingkat fakultas, kepala masing-masing departemen menyampaikan ucapan selamat dan pesan-pesan kepada mahasiswa baru angkatan 2021. Para kepala departemen berharap bahwa keadaan dan kondisi saat ini tidak menghalangi semangat mahasiswa angkatan 2021 untuk belajar ilmu baru dan mengembangkan kiprah prestasinya bagi Undip. “Selamat untuk kalian semua telah memasuki dunia belajar dengan cara belajarnya orang dewasa dan saya sangat merindukan teman-teman semua melakukan interaksi secara akademiah di kampus kita tercinta,” ucap Akhmad Syakir Kurnia, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi dan Ekonomi Islam.

Setelah penutupan pendikar tingkat fakultas, para dipo muda pun langsung melanjutkan kegiatan dengan memasuki Zoom meeting yang telah disediakan panitia ODM Undip 2021. Pada meeting tersebut dibahas materi terakhir dari Pendikar 2021 dan penutupan rangkaian Pendikar tingkat universitas. Materi terakhir dalam rangkaian Pendikar membahas tentang mental gymnastic dengan narasumber Yohanis F. La Kahija, dosen dari fakultas Psikologi Universitas Diponegoro. Hans, sebutan akrabnya, menginginkan bahwa materi mental gymnastic dapat menjadikan dipo muda lebih rileks dan siap menghadapi masa perkuliahan.

Ketika pemaparan materi mental gymnastic, Hans sempat memberikan sebuah wejangan yang dapat dipegang oleh para dipo muda untuk menjalani kehidupan perkuliahan di Undip. “Awasi pikiranmu karena pikiran itu bakal jadi kata-kata. Awasi kata-katamu karena kata-kata itu bakal jadi tindakan. Awasi tindakanmu karena tindakan itu bakal jadi kebiasaan. Awasi kebiasaanmu karena kebiasaan itu bakal jadi watak. Awasi watakmu karena watak bisa menjadi nasib,” papar Hans.

Setelah pemaparan mental gymnastic selesai, kegiatan dijeda sementara waktu sebagai pembatas antara materi terakhir Pendikar dan penutupan Pendikar universitas tahun 2021. Saat penutupan Pendikar universitas dimulai, kegiatan diawali dengan pembukaan oleh MC, pembacaan kitab suci Al-Qur’an, dan pemutaran lagu Indonesia Raya serta Mars Universitas Diponegoro. Kemudian kegiatan disambung dengan kesan-pesan perwakilan peserta dan dosen pendidikan karakter. Terakhir, disampaikan juga kalimat penutup rektor Universitas Diponegoro yang diwakilkan oleh Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Kemahasiswaan, Budi Setiyono.

Budi menyampaikan kalimat-kalimat terima kasihnya kepada semua pihak yang telah terlibat untuk mensukseskan rangkaian pendidikan karakter tahun 2021. Beliau juga menyampaikan rasa bangga dan berpesan kepada seluruh mahasiswa baru Universitas Diponegoro tahun 2021 untuk terus memiliki rasa kepedulian yang tinggi. “Kalian adalah Diponegoro-Diponegoro Muda yang harus memiliki kepedulian. Tidak hanya kepada masa depan kalian tapi juga masa depan bangsa dan negara,” ucap Budi.

Mengulik Dunia Public Speaking Melalui Webinar

Oleh: Rahayu dan Shafina

(21/08) – “Kupas Tuntas : Tips dan Trik menjadi MC dan Moderator” menjadi tema yang diangkat pada Webinar Public Speaking Class Volume II. Webinar diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Demak Universitas Diponegoro (Imade Undip). Pelaksanaan webinar sendiri tepat waktu, sesuai dengan jadwal yang telah diarahkan oleh panitia yaitu pukul 09.00 WIB. Sambutan dari Agung Luthfi selaku ketua Imade Undip menjadi pembuka bagi acara ini. Dengan dipandu oleh moderator Wafa Muhammad Rikza, webinar mengundang pembicara berpengalaman yaitu Abrori Shorbanas, selaku jurnalis dan presenter berita TVRI Jawa Tengah.

Dalam sesi materi, Abrori Shorbanas menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menjadi seorang MC atau moderator. Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menjadi MC atau moderator yaitu:

  1. Intonasi
  2. Artikulasi
  3. Aksentuasi
  4. Pemenggalan kalimat
  5. Kecepatan
  6. Volume suara

Selain enam hal yang tersebut, dalam menjadi MC dan moderator terdapat beberapa hal yang menjadi basic public speaking, yaitu :

  • Smiling Face

Smiling face dapat mempengaruhi suasana acara yang sedang dilaksanakan. Dengan wajah tersenyum MC dan moderator dapat menumbuhkan aura positif dan memberikan kenyamanan bagi audience, karena sesungguhnya tugas seorang MC dan moderator adalah untuk menjadi magnet dalam acara yang diselenggarakan.

  • Body Language

Body Language merupakan 50% dari basic public speaking, selain suara, lisan, dan pakaian.

  • Eye-Contact

Dengan Eye-contact maka MC dan moderator dapat menarik audience karena tugas MC dan moderator adalah menjadi magnet pada acara yang dilaksanakan.

“Berusahalah untuk berkolaborasi dengan masalah. Jangan pernah berfikir untuk memusnahkannya,” jawab Abrori Shorbanas ketika ditanya mengenai cara mengendalikan rasa nervous ketika menjadi MC dan moderator. Lebih lanjut, beliau mengutip kata-kata dari Najwa Shihab bahwa, ketika seorang MC atau moderator sudah kehilangan rasa takutnya, maka mereka perlu untuk berpindah profesi. 

Tidak hanya itu, sebagai seseorang yang berkecimpung langsung dalam dunia public speaking, Abrori Shorbanas memberikan beberapa hal yang penting dimiliki oleh MC dan moderator. Perlu adanya pengomunikasian dalam menjalankan acara agar jalannya tidak terjadi miss-communication, apalagi jika seorang MC berpasangan. Persiapan yang matang sangat menjadi penentu keberhasilan acara yang dibawakan, sebagai MC dan moderator wajib mengetahui jumlah peserta, tema acara, durasi acara, dan dresscode acara.

Webinar ditutup dengan quotes oleh Abrori Shorbanas “Jika bisa public speaking, kamu bisa merubah hidup anda dan juga orang lain”. Melalui Public Speaking Class Vol. II, Imade Undip berharap bahwa seluruh peserta webinar dapat memahami materi sehingga dapat melatih kemampuan public speaking peserta. Public speaking sangat penting dalam kegiatan setiap orang, tidak hanya untuk menjadi MC dan moderator, namun juga dalam dunia kuliah.

Tax Seminar and Training (TST) Webinar: Retaining Economics Stability Through Taxation Policy in New Normal Era

Oleh: Muhammad Musa Aminullah

(UI 21/8) –Tax Seminar and Training (TST) merupakan acara perpajakan tahunan terbesar dan tertua yang diadakan oleh SPA FEB Universitas Indonesia. Satu dari rangkaian acaranya adalah seminar nasional yang mengangkat tema “Menjaga Stabilitas Perekonomian Melalui Kebijakan Perpajakan di Era New Normal”. Webinar tersebut dilaksanakan melalui platform Zoom Meetings dan Youtube.

Veronica selaku ketua panitia menyampaikan sambutan yang pertama. Dia menyampaikan bahwa acara ini telah berusia 22 tahun mengingat sudah sejak tahun 2000 acara ini terlaksana. Hal inilah yang membuat event ini menjadi event tahunan terbesar dan tertua. Muhammad Ilham selaku chief eksekutif melanjutkan pada sambutan setelahnya bahwa acara ini merupakan wadah belajar untuk mengenal kebijakan yang sedang dijalani pemerintah serta dampak pada stabilitas ekonomi di era new normal. Sambutan terakhir disampaikan oleh perwakilan departemen akuntansi FEB UI yakni Hermawan, beliau mengapresiasi seluruh komponen yang telah berusaha menyelenggarakan acara ini serta kepada seluruh hadirin yang hadir.

Acara yang dihadiri lebih dari 500 orang di zoom meetings tersebut dibuka oleh Yulianus Prastowo Staff Khusus Mentri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis. Beliau menyampaikan bahwa pajak menjadi pendukung utama dalam perekonomian, pembiayaan dalam utang, dan optimalnya penerimaan pajak, serta relaksasi pertumbuhan ekonomi. APBN didayagunakan dan didedikasikan sebagai alat perlindungan sosial, insentif terutama untuk pelaku usaha. Beliau mengutip pidato presiden bahwa pemerintah masih fokus dalam reformasi struktural dan fiskal, UU No. 11 Tahun 2020 ciptaker sedang disiapkan seluruh perangkat infrastruktur dalam rangka memudahkan perijinan, iklim investasi yang baik baik dari investor asing dan lokal. Produktif dan inovatif menjadi jalan keluar dari jebakan negara dengan pendapatan menengah. Satu hal yang sedang dikerjakan adalah reformasi sistem informasi perpajakan yang terintegritas, kemudian revisi UU KUP menciptakan pondasi yang kuat bagi sistem perpajakan. Semua itu untuk meningkatkan kesejahteraan dan pengangguran, membangun ekosistem yang lebih baik, dan penguatan hubungan internasional. Harapan pembangunan pondasi sebagai landasan yang holistic dan integritas.

Acara selanjutnya langsung dipandu oleh moderator yaitu Christine Tjen selaku Akademisi FEB UI. Beliau tidak lupa menekankan lagi bahwa acara ini merupakan tempat menambah wawasan terkait peran UU Ciptaker terutama dalam perpajakan dan menjadi sarana edukasi perpajakan fiskal terutama dalam hal pajak.

Masuk pada pembicara pertama yakni Inge Diana Rahmawanti Kepala Subdirektorat Penyuluhan Perpajakan Direktorat Jendral Pajak. Beliau memulai dengan memaparkan kondisi perekonomian saat ini. Pertumbuhan ekonomi mengalami perubahan, pemulihan ekonomi ditopang stimulus serta optimisme vaksin, penerimaan naik 2%. Daerah penyumbang penerimaan adalah daerah yang terdampak tinggi dalam pandemi, selanjutnya beliau masuk pada pembahasan kebijakan perpajakan, Perppu No. 1 Tahun 2020, UU No. 2 Tahun 2020 terkait tarif PPH turun 25% dan pajak penyelenggara perdagangan melalui sistem elektronik. Selain itu, pajak menurut beliau dalam situasi pandemi saat ini sangatlah penting sebagai penopang kebutuhan masyarakat seperti kebijakan insentif kepada masyarakat terdampak. Dilanjut dengan penjelasan latar belakang UU Ciptaker, yaitu dengan tujuan memperkuat perekonomian, meningkatkan investasi. Di dalam UU tersebut meliputi kebijakan-kebijakan seperti meningkatkan pendanaan investasi, kepatuhan wajib pajak, meningkatkan kepastian hukum.

Danny Septriadi, Center Partner of DDTC sebagai narasumber kedua memaparkan materi tentang pajak solidaritas. Beliau menjelaskan beberapa negara latin telah melaksanakan hal ini, begitu juga Indonesia pada tahun 1995 hingga 1996. Poin utama disebutkan adalah bagaimana merelaksasi indusri terdampak. Heru Supriyanto selaku Business Tax Leader A’doilitte Indonesia, beliau menyinggung terkait ombinus law yaitu omnibus law sebagai insentif bagi para wajib pajak; menarik investor asing dan lokal; penyesuaian perundangan KUP, PPB, PPN; perusahaan go public pendapatan berdasarkan penjulan, omnibus law meningkatkan kepatuhan.

ODM: Kita dan Undip untuk Indonesia

Oleh Michelle Jenifer

(Undip 20/08) – Pendidikan Karakter (Pendikar) Orientasi Diponegoro Muda (ODM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) kembali dimulai untuk hari kedua melalui zoom meetings. Mahasiswa baru langsung terbagi sesuai dengan program studi masing-masing. ODM hari kedua ini membawakan dua tema, yaitu Kita dan Undip serta Undip untuk Indonesia.

Pada program studi Akuntansi, materi sesi pertama mengenai Merdeka Belajar disampaikan oleh Mutiara Tresna selaku salah satu dosen di program studi Akuntansi. Mutiara menjelaskan program-program apa saja yang bisa dipilih mahasiswa dalam Program Merdeka Belajar seperti pertukaran mahasiswa baik dalam maupun luar negeri, magang/praktik kerja, studi independen, KKN tematik, wirausaha, riset atau penelitian, kampus mengajar, dan proyek kemanusiaan. Program Merdeka Belajar sendiri memiliki banyak manfaat diantaranya meningkatkan kompetensi diri mahasiswa, eksplorasi pengetahuan dan kemampuan lapangan, mendapat jaringan diluar program studi universitas sendiri, dan masih banyak lagi.

Setelah pemaparan Program Merdeka Belajar, Tiara menjelaskan mengenai Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Tiara juga menjelaskan jenis-jenis PKM seperti PKM Wirausaha, PKM Karya Cipta, dan sebagainya. Pelaksanaan PKM ini bertujuan menjadikan mahasiswa kreatif dan inovatif untuk menanggapi dan memecahkan isu-isu atau permasalahan disekitar mereka. Tiara juga memberikan beberapa contoh judul PKM yang telah masuk ke pendanaan PIMNAS. “Sayangi diri anda karena di luar sana ada banyak orang yang menyayangi anda,” pesan Tiara menutup pemaparan materinya. Setelah materi selesai, moderator memberi penugasan terkait PKM kepada mahasiswa baru. Lalu acara dilanjutkan dengan permainan kahoot bersama mahasiswa baru.

Setelah ice breaking, acara dilanjutkan ke sesi materi selanjutnya mengenai Prestatif dan Pencerah bersama Aditya Septiani. Prestasi dapat menginspirasi orang untuk meraih sesuatu yang lebih di dalam hidupnya. Lalu ada contoh sosok Pencerah yaitu karakter Muslimah, seorang guru sederhana dalam film Laskar Pelangi. Aditya juga menjelaskan bagaimana menjadi mahasiswa yang prestatif dan pencerah, yaitu dengan mawas diri terhadap kelebihan dan kekurangan, memunculkan keunikan diri yang positif, memiliki kebebasan bereksprei, memiliki sifat yang baik, keteladanan, dan lainnya. Mahasiswa perlu memiliki keyakinan dan kompetensi, integritas moral, serta motivasi tinggi untuk mendarma bakti ilmu. Mahasiswa yang prestatif merupakan mahasiswa yang memiliki sikap dan perilaku selalu ingin maju serta daya juang tinggi mencapai kesuksesan. Mahasiswa yang pencerah adalah yang mampu menjadi teladan dan cermin bagi orang lain.

Setelah pemaparan materi kedua, mahasiswa baru kembali dipecah ke dalam breakout room untuk berdiskusi mengenai simbol diri mereka. Setelah berdiskusi, mereka kembali ke main room untuk mempresentasikan kesimpulan simbol diri kelompok mereka serta kontribusi mereka untuk Undip. Mahasiswa baru sangat antusias untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka dilihat dengan banyaknya anak yang menggunakan fitur raise hand agar terpilih. Setelah beberapa kelompok mempresentasikan simbol kelompok mereka, materi sesi kedua ditutup dengan sedikit feedback dari Aditya. Ia juga memberi tips kepada mahasiswa baru untuk tetap aktif nantinya saat kuliah daring dimulai.

Terakhir, hari kedua ditutup dengan penginformasian mengenai tugas dan judul materi yang akan dibahas pada hari ketiga, Sabtu (21/08).

Menilik Pendidikan Karakter ODM FEB UNDIP 2021

Oleh: Michelle Jenifer

(Undip 19/8) – Rangkaian Orientasi Diponegoro Muda (ODM) 2021 sebagai acara tahunan penyambutan mahasiswa baru Universitas Diponegoro (Undip) telah dimulai. Pembukaan ODM telah dilakukan pada Senin (16/08) dan dilanjutkan dengan Pendidikan Karakter (Pendikar) di fakultas masing-masing (19/08). Di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), pendikar dibuka dengan penyambutan oleh Dekan FEB yaitu Suharnomo dan dilanjutkan dengan penyampaian materi bersama moderator di program jurusan masing-masing. Rangkaian acara ODM FEB 2021 dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meetings.

Sebelum sesi materi pertama, sempat terdapat kendala pada ruang zoom milik program studi Akuntansi dan Manajemen, sehingga jalannya pendikar mundur beberapa menit. Sesi pertama dimulai dengan tema “Siapa Saya?” dengan judul materi “Adaptif, Tangguh, Cerdas, dan Beretika” yang dibawakan oleh Siti Mutmainah, selaku dosen dan sekretaris departemen Akuntansi. Materi dimulai dengan pengenalan arti lambang Universitas Diponegoro. Siti juga menjelaskan pendikar tidak hanya mengenai moral saja, melainkan konsep pendidikan holistik yang semuanya menuju individu yang kritis dan empatis. Ia pun menjelaskan nantinya mahasiswa pasti memiliki masalah dan kendala, sehingga penting bagi mereka memiliki ketangguhan diri.

Di akhir materi, ditampilkan video kisah sebatang pensil yang memotivasi mahasiswa menjadi sosok yang tangguh dalam perkuliahan. Lalu ditampilkan juga video tugas personal branding terbaik mahasiswa baru sebagai salah satu aplikasi tema yang dibawakan pada sesi pertama. Sebagai penutup sesi pertama, Siti memberi pesan, berusaha atau berproses adalah kewajiban kita. Hasilnya adalah hak Tuhan, apapun hasilnya nanti, yang terpenting kita sudah melakukan yang terbaik. Jangan selalu membandingkan dengan orang lain, tapi mulai cintai diri sendiri.

Acara dilanjutkan dengan diskusi perkelompok mengenai dua tema yaitu “Bagaimana menjadi Generasi yang Adaptif dan Tangguh dalam Menjawab Tantangan Pendidikan dan Kehidupan di Masa Sekarang” dan “Bagaimana menjadi Generasi yang Cerdas Beretika di Era Digital”. Diskusi dilangsungkan sekitar 30 menit dalam breakout room masing-masing kelompok. Setelah diskusi, beberapa kelompok mempresentasikan hasil diskusi sesuai tema masing-masing. Diskusi ini sebagai respon mahasiswa dari materi pertama yang telah disampaikan.

Sesi kedua dimulai tema “Siapa Kita” dengan judul materi “Mengenal dan Memahami Generasiku” oleh Andri Prastiwi selaku dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis, khususnya pada program studi Akuntansi. Dalam materi kedua, Andri menjelaskan bahwa mahasiswa harus lebih mandiri dalam berkarya. Mahasiswa dalam generasi merdeka belajar di dunia daring sekarang perlu navigasi diri dalam menggunakan internet secara cerdas, proposional, bijak, adekuat, sesuai peruntukan idealnya, sehingga memberi dampak positif untuk diri sendiri dan lingkungan. Andri juga menjelaskan etika menggunakan internet dan nilai yang diharapkan ada dalam remaja pengakses internet. Andri menekankan, kita adalah pemegang kendali, internet hanya media, sarana, alat untuk mencapai tujuan. Kitalah yang mementukan awal, cara, proses, dan tujuan yang ingin kita capai. Oleh karena itu, kita perlu navigasi diri untuk menggunakan internet agar menjadi bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang disekitar kita.

Setelah sesi kedua, mahasiswa baru kembali dipecah dalam breakout room untuk membuat mozaik secara daring. Gambar mozaik yang digunakan adalah gambar gedung Dekanat FEB, tulisan ODM, Lawang Sewu, gambar Health Awareness, dan tulisan DIPO 2021. Setelah pembuatan mozaik, mahasiswa baru kembali ke ruang utama untuk penugasan dan penutupan acara pendikar hari pertama. Pendikar ini sendiri masih berlangsung sampai hari Sabtu (21/08).

Berbincang tentang Ideologi Indonesia

Oleh: Fortuna Tunggadewi dan Michelle Jenifer

(Undip 16/8) – Departemen Kajian dan Aksi Strategis INSANI Undip kembali hadir membawakan Insani Youth Talk VI: “Sosialisme, Liberalisme, dan Pancasila: Mana yang Paling Cocok untuk Indonesia?” Dalam Insani Youth Talk ini, Insani mengajak pendengar untuk mencari tahu mengapa para bapak pendiri bangsa memilih Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia dibanding dengan ideologi-ideologi terkenal lainnya. Dipandu oleh moderator Hilmy Azkal dan materi dibawakan oleh Muhammad Akmal Ashari selaku Pustakawan SMKN 4 Tangerang Selatan dan Kontributor Gen. Saladin.

Materi dibuka dengan penyampaian pengertian ideologi. Ideologi merupakan kumpulan gagasan, ide-ide dasar, keyakinan, dan kepercayaan yang bersifat dinamis dan membentuk karakter berpikir dalam mewujudkan keinginan dan cita-cita. Biasanya, ideologi dimanifestasikan dalam aksi politik dan ekonomi. Lalu dijelaskan beberapa ideologi besar di dunia seperti Liberalisme, Kapitalisme, Sosisalisme, Komunisme, dan Islamisme. Beberapa ideologi tersebut pernah eksis di Indonesia seperti Komunisme, Sosialisme, dan Islamisme. Ideologi lain yang pernah berkembang adalah Liberalisme dan Nasionalisme. Sekarang Indonesia memakai ideologi Pancasila sebagai ideologi bangsa. Ideologi Pancasila muncul sebagai konsensus bangsa setelah konflik ideologi era 50-60an.

Setelah pemaparan materi, diskusi dilanjutkan dengan tanya jawab. Penanya pertama Ilham menanyakan kontradiksi negara Perancis yang merupakan negara Liberal namun membatasi hak masyarakat muslim untuk menjalankan kewajibannya, contohnya dalam menggunakan hijab. Akmal Ashari menyatakan sebenarnya negara Liberal banyak melakukan tindakan rasisme dan diskriminasi terhadap umat Islam. Selanjutnya, penanya yang sama bertanya mengapa negara komunis memiliki nama yang terdengar demokratis seperti Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Republik Rakyat Demokratik Korea (RRDK). Pemateri sendiri belum bisa menjelaskan penyebab penamaan negara tersebut karena merupakan hak dari masing-masing negara.

Kemudian peserta bernama Fikri menyampaikan perspektif lain, ia menyampaikan Islamisme bukanlah ideologi, karena Islam merupakan agama dan bersumber dari Tuhan, Selanjutnya, Fikri menyatakan Pancasila bukanlah ideologi. Melihat catatan sejarah, tidak ada pernyataan Pancasila merupakan ideologi, melainkan Philosopische Grondslag atau pandangan hidup. Fikri melanjutkan dengan pertanyaan, sila pertama Pancasila menekankan nilai Ketuhanan, sedangkan sila kedua menekankan kemanusian, dan bisa saja terdapat nilai kemanusiaan yang bertentangan dengan nilai agama. Karenanya, terlihat ketidakteraturan Pancasila. Dalam menjawab pertanyaan, pemateri kembali menyatakan banyak tafsiran mengenai Pancasila.

Kemudian Fikri menanggapi dengan pernyataan “Pancasila sudah final” kurang tepat, karena jika demikian maka Pancasila bukan lagi proses berfikir. Di sisi lain, ia juga menyampaikan ideologi seperti liberalis, komunis hingga sosialis banyak diteliti sedangkan sangat jarang ditemui penelitian terkait Pancasila. Akmal Ashari membenarkan pernyataan tersebut dan memberikan alasan mengapa Pancasila jarang diteliti karena mungkin adanya rasa takut dan enggan karena apabila muncul hasil tidak sesuai akan dianggap melecehkan Pancasila. Pemateri juga menyampaikan, Pancasila dewasa ini telah menjadi barang politik yang sensitif.

Selanjutnya adalah dokumentasi dipandu oleh moderator dan dilanjutkan dengan closing statement oleh Akmal Ashari selaku pemateri. Dalam kesempatan ini pemateri menyatakan mahasiswa harus belajar dan memperkaya ilmu pengetahuan, serta memanfaatkan semua kesempatan diskusi, membaca buku terutama dengan hal-hal yang berhubungan dengan negara. Ia juga menegaskan besok negara kita akan memperingati kemerdekaan dan mahasiswa harus banyak belajar karena dalam beberapa tahun lagi, mahasiswa merupakan calon pemimpin legislatif, yudikatif, bahkan eksekutif.

Tim FEB Lolos Pendanaan, Adiksi Internet jadi Bahasan

Oleh: Luvita dan Tarisa

(Undip 15/08) – Kajian-kajian penelitian menarik sudah bermunculan pada ajang Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM). Salah satu kajian itu adalah adiksi atau candu internet di kalangan pelajar selama pandemi Covid-19 yang diusulkan sebuah tim dari FEB dengan ketua Daden Saepul Hambali dan beranggotakan Elvita Nurul Khumairoh, Ifania Kamilla Prameshella Putri, Immanuel Ari Nurpratama, dan Muhammad Naufal Rizqullah.

Dengan judul penelitian “Analisis Prevalensi Adiksi Internet pada Remaja Usia Sekolah selama Masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia”, Daden serta timnya berhasil lolos pada tahap pendanaan dan sekarang sedang menyelesaikan penelitian tahap akhir. Latar belakang dari penelitian yang dilakukannya merupakan buah pikir dari fenomena pandemi Covid-19. Menurut mereka, pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang kemungkinan besar memicu terjadinya konsumsi internet berlebihan menjadi kajian tepat yang hasilnya akan sangat bermanfaat apabila diteliti, baik untuk masyarakat maupun pemerintah.

Dalam proses pencarian data, fokus responden yang Daden dan timnya ambil adalah para pelajar SMP/sederajat, SMA/sederajat, dan perguruan tinggi. Keputusan tersebut dibuat karena usia remaja dinilai merupakan tahap paling mudah bagi seseorang melakukan adiksi. Daden dan tim menyebarkan kuesioner secara daring dan luring. Kuesioner daring disebarkan lewat media-media sosial para anggota tim. Target kuesioner daring ini adalah memperluas cakupan penelitian yang dilakukan. Sementara itu, kuesioner luring disebarkan pada sekolah-sekolah di sekitar Semarang, contohnya beberapa pondok pesantren yang memperbolehkan santri-santriwatinya menggunakan gawai pribadi. Target kuesioner luring adalah memperdalam kajian penelitian tentang adiksi internet ini.

Ada alasan unik dari diambilnya topik adiksi internet yang cenderung lebih dekat pada kajian psikologi. Seperti yang telah disebutkan, Daden dan beberapa anggota timnya merupakan mahasiswa FEB. Hanya Ifania yang merupakan mahasiswa jurusan psikologi. Kendati demikian, mereka tetap memilih topik tersebut dengan alasan bahwa fenomena mental health tengah gencar dibicarakan saat ini. Selain itu, topik adiksi internet juga sudah sangat terasa dalam kehidupan remaja zaman sekarang. Apalagi ditambah dengan kegiatan learning from home yang digaungkan pemerintah selama masa pandemi Covid-19.

Daden dan tim mengharapkan bahwa penelitian mereka dapat membawa manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. Daden menyebutkan setidaknya ada dua harapan yang ingin mereka capai. Secara teoritis, mereka berharap bahwa penelitian ini mampu menjawab fenomena yang sedang terjadi secara ilmiah dan menjadi salah satu penelitian yang akan berkembang atau berkelanjutan nantinya.

Secara praktis, Daden dan tim berharap bahwa penelitiannya dapat memberikan informasi bagi masyarakat mengenai adiksi internet, sehingga diharapkan akan ada langkah preventif untuk mencegah dampak yang tidak diinginkan. Selain itu, hasil penelitian ini juga ditargetkan untuk bisa membantu pemerintah dalam membuat kebijakan ke depannya. Dengan demikian, diharapkan dampak negatif adiksi internet di kalangan remaja pada masa sekolah secara daring dapat diminimalisir secara keseluruhan.

Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah dengan Pendekatan SLR Tutup Rangkaian Defest 2021

Oleh: Tsania dan Tarisa

Rangkaian Diponegoro Economic Festival (DEFEST) 2021 yang diselenggarakan oleh BEM FEB UNDIP dalam rangka merayakan Dies Natalis FEB ke- 61 resmi berakhir pada hari Sabtu, 7 Agustus 2021. Rangkaian kompetisi menulis mini riset ini diakhiri dengan pelaksanaan Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah dengan Pendekatan Systematic Literature Review (SLR) secara daring. Acara ini dilaksanakan melalui platform Zoom dengan mendatangkan pembicara Indri Dwi Apriliyanti, seorang dosen UGM Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Acara ini cukup diminati dengan jumlah partisipan terpantau mencapai lebih dari 200 orang.

Acara ini dibuka sekitar pukul 09.00 WIB oleh Vanessa, seorang mahasiswi FEB Undip selaku Master of Ceremony (MC). Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Undip serta sambutan-sambutan. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan CV dari pembicara serta moderator. Adapun moderator yang bertugas pada acara ini ialah Hastarini Dwi Atmanti yang merupakan seorang dosen FEB Undip.

Rangkaian acara pun dilanjutkan dengan pemaparan materi dari pembicara. Acara berlangsung dengan baik dan lancar tanpa gangguan teknis apa pun. Indri selaku pembicara memaparkan materi dengan tegas, lugas, dan bahasanya mudah dipahami oleh semua peserta. Tak sedikit beliau memberi penekanan pada setiap penyampaiannya. Dalam hal penulisan karya ilmiah dengan metode SLR ini tidak bisa asal menulis dan sembarangan, di sana banyak hal yang harus diperhatikan dan dicermati saat menulis. Dalam metode SLR sendiri terfokus pada bagaimana menyimpulkan, mengumpulkan, dan menganalisa secara kritis. Menurut penjelasan Indri, ada beberapa tujuan dari metode SLR, yaitu memberikan ringkasan dan tinjauan yang detail dari penelitian sebelumnya, meninjau penelitian secara sistematik, agenda mengembangkan penelitian di masa depan. Ada pula aspek-aspek pada artikel yang harus ditinjau/dianalisa, seperti metode penelitian, konteks, tempat penerbitan, area of discipline, influential articles and authros in the field, tren dari topik tersebut, funding agencies, theoretical framework, dan research clusters.

Setelah semua materi dipaparkan dan disampaikan oleh Indri, sesi tanya jawab dilakukan. Banyak beragam pertanyaan yang dilontarkan kepada Indri dan beliau manjawabnya dengan baik sehingga para penanya dapat benar-benar memahami. Setelah selesai sesi tanya jawab, maka tibalah saat yang ditunggu-tunggu yaitu pengumuman para pemenang dari lomba DEFEST 2021 yang telah diadakan sebelumnya. Semua panitia, hadirin, peserta, dan para juri memberikan selamat kepada para pemenang dan berharap bisa memberikan manfaat serta nilai lebih untuk masa depan.

Diskusi Terbuka dalam Rangka Seratus Hari Kerja: Cara BEM FEB Undip 2021 Memberikan Transparansi Kerja Instansi

Oleh: Musa dan Danny

FEB Undip (1/7) – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro memperingati seratus hari kerjanya dengan menggelar acara yang bertajuk “Dialog Terbuka 100 Hari Kerja BEM FEB Undip 2021”. Acara Dialog Terbuka ini disaksikan langsung oleh mahasiswa FEB Undip melalui platform Ms. Teams dan siaran langsung dari sosial media Instagram BEM FEB Undip pada Senin, 28 Juni 2021 pukul 13.15 WIB. Dialog ini merupakan upaya BEM FEB Undip 2021 untuk memberikan transparansi kerja instansi kepada publik dan menampung aspirasi, kritik, dan saran dari peserta yang hadir pada acara tersebut. Acara dimulai dengan sesi pemaparan dari setiap bidang BEM FEB Undip dan berakhir dengan sesi foto bersama peserta dialog. Tak lupa, sesi tanya jawab hadir untuk memberikan kesempatan peserta untuk memberikan kritik dan saran terhadap kinerja BEM FEB Undip 2021 dalam seratus hari kepengurusannya.

Sesi awal yang dipandu oleh Rifda Almalia Zahra selaku Master of Ceremony (MC) membuka Dialog Terbuka dan dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua BEM FEB Undip 2021, Mochamad Sochib Maulana. Dalam sambutannya, Sochib berharap bahwa dengan kritik dan saran dari peserta dialog dapat meningkatkan kinerja BEM FEB Undip ke depannya. “Semoga, kritik dan saran dari teman-teman audiens FEB Undip maupun di luar FEB Undip dapat terus kita gunakan dan terapkan untuk meningkatkan kinerja BEM FEB Undip ke depannya,” ujar Sochib.

Kemudian, acara berlanjut dengan sesi pemaparan kinerja dalam seratus hari kepengurusan BEM FEB Undip 2021. Pada sesi ini, seluruh ketua bidang, biro, dan unit diberikan waktu sepuluh menit untuk menyampaikan hasil kinerjanya. Dari paparan tersebut dapat dilihat pencapaian dan kinerja terkini dari BEM FEB Undip kepengurusan tahun ini. Sesi ini berjalan baik dan peserta menyimak dengan saksama pemaparan tersebut.

Pada sesi tanya jawab dengan peserta dialog, dinamika diskusi mulai hangat. Diskusi dimulai dengan pertanyaan dari Bahrul Ma’arif, mahasiswa Prodi Ilmu Ekonomi. Ia menanyakan indikator apa yang membuat kinerja BEM FEB Undip 2021 dapat dikatakan baik. Menurutnya, yang diberikan oleh BEM FEB Undip melalui publikasinya hanya sebatas pencapaian yang telah dicapai dalam kepengurusan tahun ini. Selanjutnya, kritikan datang dari M. Subkhi Abdul Hakim, mahasiswa Prodi Ekonomi Islam. Ia menyoroti kajian-kajian yang dikeluarkan oleh BEM masih berkutat pada isu politik dam belum adanya kajian terkait ekonomi. Padahal, sebagai ormawa di Fakultas Ekonomi, BEM perlu memfokuskan diri ke kajian yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Diskusi terus berjalan dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta. Dialog bersama peserta ini berlangsung hangat dan dinamika yang terjadi sangat membangun keberjalanan BEM FEB Undip 2021 ke depannya.

Pasca berakhirnya sesi tanya jawab dengan peserta, acara berlanjut dengan closing statement dari Ketua BEM FEB Undip 2021. Sochib mengucapkan terima kasih kepada peserta dan tamu undangan yang hadir. Selain itu, ia mengatakan bahwa BEM FEB perlu inisiasi dan inovasi yang tidak dapat didapat oleh BEM sendiri tanpa didiskusikan bersama oleh mahasiswa FEB umumnya. “BEM FEB perlu banyak sekali improvisasi, inisiasi, dan inovasi lainnya yang tentunya tidak bisa kami dapatkan sendiri,” ucap Sochib. Dialog Terbuka 100 Hari Kerja BEM FEB Undip 2021 berakhir dengan sesi dokumentasi dan sesi penutup yang dipandu oleh MC.

ALIANSI UNDIP PEDULI KPK: NONTON BARENG, DISKUSI PUBLIK, DAN PANGGUNG BEBAS

Oleh : Muhammad Arif Pratama

Tembalang (19/06) – Seperti kita ketahui akhir-akhir ini banyak pemberitaan tentang isu-isu pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia. Aliansi Undip Peduli KPK menginisiasi kegiatan nonton bareng film “KPK The EndGame: Ronde Terakhir Melawan Korupsi” disertai diskusi publik dan panggung bebas, yang bertempat di Burjo Vokasi Juara (VJ) dan berlangsung pada hari Sabtu, 19 Juni 2021 dari pukul 18.30 WIB – selesai. Film “KPK The EndGame: Ronde Terakhir Melawan Korupsi” merupakan sebuah film karya Watchdog Documentary dan disutradarai oleh Dandy Laksono. Film ini pada intinya menceritakan tentang berbagai upaya pelemahan KPK. Pada film tersebut diperlihatkan berbagai kesaksian dari sebagian pegawai KPK yang tidak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), bahwa banyak soal TWK yang substansinya tidak sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan dan tidak rasional.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, yaitu Romario dan Anggie. Kemudian dilanjutkan panggung bebas berupa penampilan live music oleh Raja Syafadan pembacaan puisi oleh Salama dan Tatiya. Setelah selesai, kemudian dilanjut pembacaan puisi kedua oleh Raja Syafa sebelum memasuki acara inti, yaitu nobar. Memasuki acara inti, para peserta nobar sangat antusias menyimak isi film dengan serius. Setelah film selesai, dilanjutkan dengan diskusi publik tentang film tersebut dan membahas berbagai upaya pelemahan KPK yang sedang terjadi. Diskusi publik tersebut dipandu oleh dua orang pemantik dari Aliansi Undip Peduli KPK, yaitu Angela Agusta Laksana dan Muhammad Fajar Sodik.

Pantikan diskusi publik pertama yaitu menjelaskan beberapa kontroversi yang dilakukan oleh ketua KPK, Firli Bahuri, saat sebelum menjabat menjadi ketua KPK hingga saat menjabat menjadi ketua KPK. Pantikan selanjutnya terkait akar permasalahan KPK ditandai dengan pengesahan UU 19/2019 yang dianggap cacat formil. Juga membahas tentang polemik peralihan status pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Diskusi berlangsung dengan adanya berbagai pendapat dari peserta acara. Pendapat tentang permasalahan KPK dari aspek yuridis hingga aspek politik.

Pada akhir acara, ditutup dengan penampilan Raja Syafa yang membawakan dua buah lagu karya Fajar Merah yang berjudul “Bunga dan Tembok” dan “Kebenaran akan Terus Hidup”. Kemudian dilanjutkan menyanyikan lagu berjudul “Totalitas Perjuangan” yang dinyanyikan oleh seluruh peserta acara dengan semangat. Dengan dinyanyikannya lagu-lagu tersebut, menandai berakhirnya rangkaian acara nobar film “KPK The EndGame: Ronde Terakhir Melawan Korupsi” disertai diskusi publik dan panggung bebas.

Diadakan Sebagai Wadah Pengawalan Isu-Isu Pelemahan KPK

Acara yang diinisiasi oleh Aliansi Undip Peduli KPK ini sukses digelar dengan lancar. Acara ini bertujuan untuk membumikan isu-isu pelemahan KPK ke teman-teman Undip agar kita semua dapat mengawal isu-isu tersebut dengan baik. “Tau kan ada isu-isu pelemahan KPK, apalagi TWK. Nah kita (Aliansi Undip Peduli KPK) berupaya membumikan isu KPK ini ke temen-temen Undip dengan cara bikin diskusi sama nobar,” papar Gusti selaku ketua pelaksana acara nobar.

Acara ini pun juga bertujuan untuk membuka mata masyarakat pada umumnya, dan mahasiswa Undip pada khususnya, bahwa KPK saat ini sedang tidak baik-baik saja. Diharapkan setelah adanya acara ini, masyarakat dan mahasiswa Undip bisa lebih mengerti tentang isu-isu KPK yang sedang terjadi saat ini. Andika, Ketua bidang Sosial dan Politik BEM SV Undip sempat menjelaskan, “Output yang saya harapkan satu sih menurut aku, yaitu banyak orang yang resah terhadap isu KPK ini, ya. Karena seperti kita tau KPK sudah dikeropsi oleh banyak pihak. Jadi, menurut aku ini merupakan satu hal yang perlu kita tanggapi bersama.”