Tiga Kandidat FEB Undip Adu Gagasan dalam Uji Publik LKMM-TM 2025

Semarang, (29/09) – Uji Publik LKMM-TM FEB Undip 2025 merupakan kegiatan seleksi terbuka untuk menentukan perwakilan terbaik Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro yang akan menjadi delegasi dalam ajang Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM-TM) tingkat universitas. Kegiatan yang berlangsung di Dome FEB Undip ini melibatkan berbagai elemen penilaian untuk memastikan objektivitas dalam menilai kualitas kepemimpinan, pemikiran strategis, dan integritas calon delegasi.

Dalam acara terdapat 3 sesi yaitu: sesi pemaparan materi  selama 20 menit, sesi banding selama 10 menit, dan sesi Q&A selama 20 menit untuk setiap kandidat. Tahun ini, terdapat tiga kandidat yang maju mewakili FEB Undip, yaitu Entol Evan Surya Mahendra, Muhammad Fadhil Firmansyah, dan Muhammad Rafi Ilma.

Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua BEM FEB Undip, Rafi Ridho Tockary, yang bertindak sebagai panelis. Ia menekankan bahwa, “sering terjadi miskonsepsi seolah-olah LKMM hanya ditujukan bagi mereka yang menjadi ketua organisasi. Esensi kegiatan ini adalah manifestasi untuk menyelesaikan permasalahan sekaligus mencari penerobosan baru di organisasi mahasiswa,” ujarnya. Setelah sambutan tersebut, acara berlanjut ke sesi pemaparan materi yang diawali oleh kandidat pertama.

Entol Evan Surya Mahendra (Kandidat 1)

Entol Evan Surya Mahendra mengajukan gagasan penerapan prinsip ESG (Environment, Social, Governance) dalam organisasi mahasiswa untuk menciptakan keberdampakan yang lebih nyata, kolaboratif, dan berkelanjutan. Menurutnya organisasi mahasiswa di FEB Uv  ndip selama ini masih cenderung berfokus pada formalitas program, ketimbang hasil yang berkelanjutan. Padahal, mahasiswa seharusnya menjadi agent of change yang mampu melahirkan solusi bagi persoalan sosial, lingkungan, sekaligus memperbaiki tata kelola internal. 

Evan juga menekankan pentingnya tata kelola organisasi yang transparan, akuntabel, partisipatif, dan efektif, sejalan dengan prinsip good governance. Selain itu, ormawa diharapkan mampu menghadirkan program sosial dan lingkungan yang tidak hanya simbolis, tetapi memberikan dampak nyata serta melibatkan kolaborasi dengan banyak pihak, termasuk NGO. Dengan demikian, organisasi mahasiswa tidak hanya menjadi wadah kegiatan, tetapi juga laboratorium kepemimpinan yang mendorong perubahan sosial berkelanjutan.

Muhammad Fadhil Firmansyah (kandidat 2)

Muhammad Fadhil Firmansyah menyoroti kebijakan Inpres No. 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran pendidikan tinggi. Ia menilai kebijakan tersebut, meski ditujukan untuk optimalisasi belanja negara, berpotensi berdampak pada mahasiswa melalui kemungkinan kenaikan UKT, pengurangan beasiswa, serta kualitas layanan pendidikan. Dari hasil survei terhadap mahasiswa FEB Undip, mayoritas responden menyatakan khawatir bahwa efisiensi justru berujung pada komersialisasi pendidikan dan memperlebar jurang kesenjangan.

Fadhil menegaskan bahwa pendidikan tinggi adalah hak konstitusional yang dijamin UUD 1945. Ia juga mengkritisi narasi efisiensi pemerintah yang dianggap lebih sebagai jalan pintas untuk menutupi lemahnya tata kelola anggaran. “Organisasi mahasiswa harus hadir sebagai aktor sosial-politik yang kritis, bukan hanya menolak kebijakan yang diskriminatif tetapi juga menawarkan alternatif berbasis data dan solusi yang adil demi menjaga akses pendidikan tetap inklusif,” tegasnya

Muhammad Rafi Ilma (Kandidat 3)

Muhammad Rafi Ilma membawa gagasan reformasi student government di Universitas Diponegoro melalui pembentukan Mahkamah Mahasiswa sebagai lembaga independen berfungsi yudikatif. Menurutnya, kondisi saat ini masih timpang karena hanya terdapat eksekutif (BEM) dan legislatif (Senat Mahasiswa), sementara fungsi yudikatif belum terwadahi secara jelas. Hal ini menimbulkan potensi tumpang tindih kewenangan dan dominasi legislatif, sehingga mekanisme check and balance tidak berjalan optimal.

Menurut Rafi, penerapan prinsip trias politica dalam organisasi mahasiswa sangat penting demi menjaga keadilan dan akuntabilitas (check and balance). Meski menyadari adanya tantangan seperti legitimasi politik, netralitas, dan kesiapan SDM, ia meyakini keberadaan Mahkamah Mahasiswa dapat memperkuat demokrasi kampus dan menjaga keseimbangan kekuasaan antar lembaga kemahasiswaan.

Dalam wawancara singkat, ketiga kandidat juga memberikan pandangannya terkait persiapan mengikuti uji publik. Kandidat kedua LKMM-TM, Muhammad Fadhil Firman, menyatakan pentingnya penulisan makalah yang substansial sebagai dasar argumentasi yang disampaikan kepada mahasiswa FEB Undip maupun ke panelis.

“Baik, menurut saya persiapan yang paling penting dan perlu untuk ditekankan adalah dalam hal penulisan makalah. Karena itu merupakan suatu hal yang penting ketika kita berbicara mengenai LKM-TM. Karena kita harus memberikan substansi kepada mahasiswa FEB Undip maupun ke panelis yang akan kita ujikan nantinya, seperti itu. Selain itu, saya juga mempersiapkan diri dengan latihan presentasi agar gagasan dapat tersampaikan secara jelas kepada juri dan peserta,” ujar Muhammad Fadhil Firman Syah

Selain Muhammad Fadhil Firman ada juga Entol Evan Surya  menyatakan bahwa pentingnya memilih tema yang relevan dan krusial. “Oke, buat aku pribadi, hal pertama yang krusial adalah memilih tema yang relevan dengan diri kita dan yang paling urgen atau dibutuhkan di FEB, tapi tetap realistis sehingga memiliki peluang besar untuk direalisasikan,” ujarnya

Sementara itu persiapan yang dilakukan Muhammad Rafi Hilma dalam LKMM-TM ini  menyiapkan makalah yang paling harus dilengkapi. “Persiapan terkait uji publik yang pertama adalah menyiapkan mental terlebih dahulu ya. Karena pastinya gejolak politik, baik itu akun-akun buzzer atau yang lainnya, pastinya bakal muncul di sana. Selain itu, saya juga mempersiapkan makalah, video, dan berkas-berkas lain yang harus dilengkapi, seperti surat aktif organisasi dan kelakuan baik. Dan mungkin, terkait substansi ilmu yang akan kita tuangkan di dalam makalah jadi salah satu yang paling penting sih untuk mempersiapkan hari ini,” ujarnya

Selain para peserta, panitia juga memberikan pandangannya. Muhammad Satrya Daffa, Kepala Bidang PSDM BEM FEB Undip, menjelaskan bahwa LKMM-TM merupakan wadah menuju jenjang kaderisasi terakhir. Ia menegaskan bahwa meskipun tahun ini hanya ada tiga pendaftar, hal itu tidak otomatis menjamin ketiganya lolos. “Mungkin langkah yang kita ambil kan sebenarnya kuotanya empat, tapi pendaftar tahun ini cuma tiga. Jadi tentu kita nggak bisa bilang 100% semuanya pasti lolos. Karena in the end, hari ini kan uji publik, uji kelayakan, yang based on apa yang panelis nilai. Nanti juga bakal didiskusikan lagi bareng panelis, kira-kira dari apa yang sudah mereka persiapkan, apakah masuk tahap layak atau nggak. Dan taraf kelayakan itu juga ditentukan lewat diskusi panelis lagi. Jadi ya, apapun kondisinya, kita nggak bisa jamin semua pasti lolos. Hasil akhirnya tetap balik lagi ke diskusi panelis yang dibicarakan secara tertutup,” ujarnya.

Muhammad Satrya Daffa juga mengatakan kalau acara ini diselenggarakan masih dalam jauh dari kata sempurna, karena keterbatasan sumber daya membuat persiapan acara ini kurang maksimal, sehingga untuk tahun selanjutnya akan dibuatkan tim khusus acara LKMM-TM FEB.

Dengan adanya acara LKMM-TM FEB ini membuat teman teman FEB lain menjadi penasaran siapa yang menjadi pemenang atau yang mewakili LKMM-TM FEB 2025 ditingkat pusat.

Reporter: Alvaro

Penulis: Tsaniya, Alvaro

Pentas Produksi Teater Buih 2025: Penampilan Dengan Makna Mendalam

(Semarang, 25/09) Teater Buih FEB Undip kembali menggelar Pentas Produksi 2025 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang. Pada tahun ini Pentas Produksi menampilkan mahakarya dari Heru Kesawa Murti berjudul “Dhemit”, diwarnai dengan interpretasi baru khas Teater Buih. Pentas Produksi kali ini didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, Dinas Pariwisata Kota Semarang, OPPO, Super Skin, Pop Mie, Horison Inn, Orlin, ID Food, dan Undip Maju. 

Bapak Samsul Bahri Siregar, SH, MM., perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, dalam sambutannya menyatakan bahwa dukungan dari Disbudpar dalam pementasan ini adalah salah satu bukti mereka dalam melestarikan seni pertunjukkan. Beliau juga berharap bahwa seni dan budaya kita akan terus dilestarikan, “acara ini merupakan bukti bahwa budaya tidak pernah berhenti atau mati tapi bertransformasi, mudah-mudahan tahun depan akan berlanjut lagi.”

Bukan Sekadar Pentas Biasa

Pentas Produksi tahun ini lebih spesial dari tahun-tahun sebelumnya karena melalui penampilan ini penonton diajak untuk melihat “Dhemit” dengan nuansa yang berbeda, bukan sebatas hantu atau setan namun bermakna manusia yg bersifat rakus. Penampilan ini mengkritik manusia yang mengeksploitasi alam tanpa memikirkan dampaknya. Muthia Ayu Sheillawati, Koor Make-up dan Kostum, mengatakan bahwa sebelum pementasan panitia terlebih dahulu mempelajari isu-isu yang sedang ramai belakangan, mencari apa saja yang sedang naik daun, kemudian memadukannya dengan seni. Akhirnya terpilihlah isu lingkungan yang belakangan rasanya semakin parah, seperti penebangan liar, yang kemudian diangkat menjadi alur cerita “Dhemit”.

Mempersembahkan penampilan yang sangat memukau tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Nurul Izzah Salsabila, Pimpinan Produksi, mengaku bahwa keputusan yang paling sulit mereka ambil adalah keputusan untuk membuat semuanya sendiri, tidak menggunakan produk atau jasa orang lain. Dalam perjalanannya banyak dijumpai trial and error yang membuat frustasi namun memberikan banyak sekali pelajaran. “Naskah kolosal yang kami gunakan mengharuskan untuk memiliki banyak properti seperti pohon yang tingginya 4 meter yang harus kami kerjakan siang dan malam bekerja sama. Walau lelah tapi dari situ kami mendapatkan pengalaman, relasi, bahkan belajar saling berbagi,” ungkapnya.

Selain pementasan teater, Pentas Produksi tahun ini juga menampilkan stand up comedy, musikalisasi puisi, dan persembahan tari dari Kesenian Jawa Undip. Jessica Sihite, Staff Make-up dan Kostum, menyatakan bahwa tema stand up comedy dan musikalisasi disesuaikan dengan tema pementasan utama. “Dengan begitu, hiburan stand up comedy dan musikalisasi tidak berdiri sendiri dan menjadi gabungan keseluruhan dari pementasan utama. Hal ini juga bertujuan untuk menjaga suasana emosional penonton sehingga pementasan utama lebih berkesan,” ungkapnya.

Cerita Aktor Di Balik Peran Mereka

Core atau inti dari seni teater tentunya adalah para aktor dan cara mereka memerankan karakter di atas panggung. Nur Adila, berperan sebagai Madam (Jin Pohon Beringin), melatih karakternya dengan mencari sudut pandang yang sesuai, mendalami apa yang dialami karakter, melihat bagaimana sifat karakter, membuang semua pribadi dan menggantikan sesuai peran karakter, serta selalu membaca naskah yang tersedia. Pada saat latihan, Adila mengaku sempat berbeda interpretasi dengan sutradara, “saya berperan sebagai Jin Pohon Beringin yang digambarkan sebagai nenek yang memiliki postur bungkuk dan membawa tongkat. Namun karena ketika membungkuk suara saya tidak terlepas, maka sutradara mengganti postur tubuh saya dengan tegak menantang dan suara yang berwibawa,” ujarnya.

Selain itu Adila juga menceritakan hal yang paling menantang dalam memerankan tokoh Madam adalah ketika adegan meluapkan kemarahan di ending cerita, di mana ia harus berteriak lancang sebagai tanda kekalahan dan kefrustasian. Hal tersebut sangat menguras tenaga karena harus memahami apa yang dialami karakter dan harus menunjukkan kekuatan lebih daripada adegan yang lain. Selain itu ia juga merasa kesulitan saat menghafal banyak dialog sehingga sering terbolak-balik dan salah kalimat.

Melalui perannya sebagai Jin Pohon Beringin, Adila ingin menyampaikan pesan bahwa sebagai manusia kita tidak boleh serakah dengan kehidupan dan harus mengingat batasan-batasan yang ada. “Cerita ‘Dhemit’ ini sebenarnya ditujukan untuk mengkritik manusia yang selalu merusak alam, menebang pohon seenaknya tapi dengan dalih dunia dhemit,” ungkapnya.

Kesan Mendalam Bagi Audiece

Judul “Dhemit” sekilas memberikan kesan horror bagi audience, namun ternyata judul tersebut menyimpan makna. Hal ini dirasakan oleh Sekar, Mahasiswi jurusan Akuntansi, dari judul ia mengira akan ada banyak adegan horror, “ternyata meskipun dibalut dengan nuansa komedi, tapi justru unsur horror nya implisit di dalam makna ceritanya. Pementasan ini nunjukin bahwa keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam itu horror banget! Lebih “dhemit” daripada “dhemit” itu sendiri,” ujarnya.

Sekar juga membagikan adegan paling memorable menurutnya yaitu ketika si mandor proyek tidak memenuhi janjinya kepada Madam untuk menjaga alam. Menurutnya hal ini sangat relate dengan manusia yang suka lupa dengan janji setelah keinginannya terpenuhi, “jujur ini ngena banget baik di kehidupan sehari-hari kita maupun dengan isu politik akhir-akhir ini.”

Sejalan dengan pernyataan Sekar, Valiza, Mahasiswi jurusan Akuntansi, mengatakan bahwa representasi karakter para dhemit yang muncul sebagai ‘suara’ alam ketika alam menderita akibat ulah manusia, mudah dipahami, lucu, dan memberi pesan mendalam. Ia juga mengungkapkan dipadukannya teater dengan stand up comedy, musikalisasi puisi, dan kesenian jawa membuat suasana menjadi lebih santai. “Meskipun topik yang dibawa cukup serius, jadi tidak terlalu tegang. Musikalisasi puisinya sangat indah dan bikin merinding,” ungkapnya.

Baik Sekar dan Valiza, keduanya sepakat bahwa Pentas Produksi Teater Buih 2025 telah memberikan kesempatan bagi penonton untuk mengenal seni dan budaya sekaligus isu-isu yang dekat dengan kehidupan sekarang. Sekar menambahkan bahwa hal ini merupakan cara yang fresh untuk mengajak anak-anak muda berdiskusi soal isu sosial dan lingkungan, tidak hanya melalui diskusi formal saja.

Reporter: Sabrina, Cantika

Penulis: Cantika

Akademia Pilar Demokrasi

Oleh: Rayhan Riza

Kita sering mendengar bahwa empat pilar demokrasi yang terdiri dari Legislatif, Eksekutif, Yudikatif, dan Pers. Namun, ada satu elemen krusial masyarakat yang juga memainkan peran vital dalam menegakkan prinsip-prinsip demokrasi. Satu elemen itu adalah akademia.

Baru-baru ini, kita menyaksikan perseteruan sengit antara Universitas Harvard dengan Donald Trump di Amerika Serikat. Perseteruan ini merupakan akibat ketidakpatuhan Harvard terhadap beberapa kebijakan Trump yang bertentangan dengan prinsip demokrasi dan melanggar integritas akademia. Dalam kata lain, Harvard menolak untuk tunduk kepada Trump. Hal ini bukan tanpa konsekuensi, serangan sistematis yang dilakukan oleh Trump mengakibatkan Harvard kehilangan jutaan dolar dana federal, izin penerimaan mahasiswa asing, dan status lembaga bebas pajak.

Ini bukan hanya pertarungan hukum, tetapi juga pertarungan prinsip. Prinsip independensi yang dianut oleh setiap institut perguruan tinggi dan perannya sebagai kontrol sosial di kalangan warga negara. Dalam hal ini, Harvard tetap berpegang teguh pada prinsip independensinya dan menolak untuk tunduk pada intervensi pemerintahan Trump. Selain mencerminkan citra Amerika Serikat sebagai salah satu pusat pendidikan dan prinsip demokrasi, studi kasus ini merefleksikan gambaran yang lebih luas tentang akademia dan hubungannya dengan kekuasaan dan publik secara umum.

Kekuasaan pada hari ini memiliki satu tren yang senada di seluruh penjuru dunia: Autokratisasi. Demokrasi hari ini tengah mengalami kemunduran yang cukup signifikan, dan peran akademia guna menanggulangi hal ini lebih diperlukan dari sebelumnya. Selain menjalankan peran sebagai pengawal moral, ini adalah bentuk tanggung jawab akademia sebagai kontrol sosial supaya kekuasaan dan masyarakat berjalan sesuai dengan nilai-nilai demokrasi. Karena tanggung jawab akademia tidak hanya terbatas dalam mendidik civitasnya, tapi mendidik warga negaranya dan umat manusia secara keseluruhan. Tapi satu bisa bertanya, apa saja sebenarnya yang menjadi tanggung jawab akademia sebagai pilar demokrasi? 

Tanggung jawab fundamental bagi akademia adalah untuk mempertahankan kebenaran dan integritas dalam prinsip intelektual. Di tengah era Post Truth dan manipulasi informasi oleh aktor politik, akademia harus tetap mematuhi prinsip-prinsip kejujuran intelektual, ketekunan akademis, dan perilaku etis. Dengan mempertahankan integritas, akademia dan intelektual berkontribusi untuk membendung segala macam kekuatan yang secara sengaja mengancam demokrasi.

Di tengah kemunduran demokrasi, akademia dan intelektual harus bertindak sebagai pembela yang kuat dari prinsip-prinsip dan institusi demokrasi. Kita memiliki kewajiban untuk berbicara melawan upaya untuk merusak demokrasi, termasuk pembatasan kebebasan politik, serangan terhadap kemerdekaan pikiran, dan erosi integritas kelembagaan. Menyuarakan kedaulatan hukum, kebebasan berekspresi, dan hak untuk partisipasi politik.

Akademia juga memainkan peran penting dalam mempromosikan pendidikan sipil dan keterlibatan warga. Guna memperkokoh demokrasi, maka kita memiliki tanggung jawab untuk mendidik masyarakat tentang hak, tanggung jawab, dan pentingnya partisipasi demokratis sebagai landasan dasar demokrasi itu sendiri. Memasifkan kuliah publik, kampanye pendidikan, dan program promosi masyarakat, sudah menjadi tugas kita untuk memberdayakan warga negara untuk membuat keputusan yang berdasarkan pengetahuan, melaksanakan kewajiban sipil mereka, dan terlibat aktif dalam proses demokrasi.

Kewajiban untuk secara kritis mengoreksi kekuasaan dan ketidakadilan dalam masyarakat. Meningkatkan kesadaran akan ketidaksetaraan sistemik, korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan yang merusak pemerintahan demokratis dan keadilan sosial. Melalui Dharma Penelitian Perguruan Tinggi yang menurun pada penelitian, penerbitan analisis, dan mendorong reformasi kebijakan, mereka berkontribusi untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, adil, dan bertanggung jawab.

Akademia bertanggung jawab untuk mendukung perlindungan hak asasi manusia, martabat, dan keadilan sosial bagi semua warga negara. Kita mempunyai kewajiban moral untuk menyuarakan perlawanan terhadap pelanggaran hak asasi manusia, diskriminasi, dan pelecehan terhadap kebebasan sipil yang dilakukan oleh pemerintah atau aktor lain. Menyuarakan masyarakat yang termarginalisasi, mendorong reformasi kebijakan, dan mendukung prinsip hak asasi manusia, serta berkontribusi untuk memajukan hak dan martabat manusia.

Sebagai wujud nyata, kita harus aktif terlibat dalam dialog dan musyawarah demokratis untuk mempromosikan pemahaman, konsensus, dan pengambilan keputusan demokrasi. Secara aktif mempromosikan pertukaran ide-ide yang terbuka, menghormati perspektif yang beragam, dan mencari dasar bersama dalam mengatasi tantangan masyarakat. Dengan memfasilitasi dialog antara pemerintah, masyarakat sipil, dan warga negara, intelektual mempromosikan pluralisme demokratis dan berkontribusi pada pembangunan demokrasi yang lebih inklusif dan partisipatif.

Apa yang dilakukan oleh kalangan civitas academica akhir-akhir ini di belahan dunia manapun merupakan perwujudan dan pelaksanaan tanggung jawab kita kepada publik. Kelalaian terhadap prinsip-prinsip demokrasi saat ini yang dilakukan oleh kekuasaan menuntut peran penting kita  untuk mempertahankan nilai-nilai demokrasi, mempromosikan akuntabilitas, dan mendorong kemajuan masyarakat. Upaya kolektif akademia, intelektual dan warga negara untuk mengatasi tantangan saat ini menuju masa depan yang demokratis, berkeadilan, dan berkemakmuran adalah alasan mengapa akademia patut disebut sebagai pilar demokrasi.

Dibalik Redupnya Pers Mahasiswa

Oleh: Rayhan Riza

Pilar-pilar demokrasi dalam ruang lingkup akademia juga ditopang oleh hadirnya lembaga pers mahasiswa. Sebagai penyambung lidah mahasiswa, atau setidaknya itu yang dicita-citakan, LPM bertanggungjawab sebagai kontrol sosial dalam lingkup kampus maupun masyarakat luas. Melalui prinsip jurnalistiknya meliput, menulis, dan mempublikasi informasi-informasi yang relevan dan terkadang krusial bagi civitas setempat. Sehingga, layaknya lembaga jurnalistik pada dasarnya, hal itu tidak berjalan tanpa rintangan. 

Namun pada abad ke-21 sekarang, timbul faktor-faktor multidimensional yang berkontribusi secara signifikan dalam kemunduran pers. Apalagi pers mahasiswa yang notabenenya terletak di kehidupan akademia, dimana kutub-kutub arus perubahan sosial bermuara, maka tantangan konvensional dan non-konvensional berdatangan sehingga memicu tanda-tanda keredupan pers mahasiswa. Mulai dari relevansi, popularitas, sampai urgensi, segala aspek fundamental jurnalistik kemahasiswaan mulai dipertanyakan secara serius.

Narasi Konvensional

Sebagai kontrol sosial, pers mahasiswa secara otomatis akan menghadapi tantangan yang muncul dari pihak penguasa, layaknya semua lembaga jurnalistik, termasuk dalam ruang lingkup kampus. Pembatasan ruang gerak adalah satu hal yang sering dialami pers mahasiswa dari masa ke masa dalam menjalani hak kebebasan pers nya. Melalui alasan “kondusivitas” atau “stabilitas”, menciptakan gap antara ruang kritik pers mahasiswa dengan pihak birokrasi. Bahkan bentuk-bentuk tekanan khusus dari pihak kampus tak jarang ditemui. Beberapa kampus atau pemerintah tak segan-segan untuk membredel media pers mahasiswa, seringkali dengan tuduhan-tuduhan provokatif.

Benar bahwasanya ancaman terhadap demokrasi dan kebebasan pers sedang dalam situasi darurat, dan kita hidup di titik terendah dalam nadir hubungan media dan otoritas di era modern. Tetapi apakah narasi konvensional “Pers melawan Otoritas” akan terus menerus menjadi alasan dibalik redupnya pers mahasiswa? Apakah tidak ada faktor internal yang juga turut hadir? Atau apakah hanya narasi itu semata yang menjadi faktor eksternal?

Media Sosial dan Jurnalisme

Media sosial telah tumbuh menjadi alternatif, jika bukan, platform utama mahasiswa dalam menyerap berbagai informasi, berpendapat, dan berperan aktif dalam dinamika media yang memperluas jangkauan informasi media sosial lebih daripada pers mahasiswa. Ini tentunya secara langsung maupun tidak langsung menggeser urgensi pers mahasiswa yang tugasnya adalah meliput, menulis, dan mempublikasi informasi. Ditambah dengan fakta bahwa gaya belajar masyarakat dan mahasiswa Indonesia yang dominan dengan metode auditori (pendengaran), kebanyakan lebih mudah mengandalkan pendengaran sebagai cara utama untuk memahami informasi dan pengetahuan. Hal itu djawab lebih banyak oleh fitur sosial media daripada tulisan media konvensional yang mengharuskan membaca.

Tapi bukan hal itu yang menjadi masalah, yang menjadi pertanyaan terpenting adalah apakah peran media sosial bisa membantu, atau justru merusak ikhtiar jurnalisme? Media sosial memang tidak termasuk kedalam kategori jurnalisme, namun media sosial dapat mendorong secara signifikan praktik-praktik jurnalisme. Itu menjelaskan kenapa platform media sosial ramai digunakan oleh lembaga pers mahasiswa dimanapun saat ini. Melalui cara-cara inovatif, LPM berusaha untuk menarik pembaca via fitur-fitur media sosial yang relevan saat ini. Tapi apakah itu membantu?

Dukungan Lingkungan

Liberalisasi masif dalam dunia pendidikan Indonesia menghadirkan tuntutan pemerintah, dan industri yang lebih besar dari sebelumnya terhadap civitas akademia. Sehingga, sama seperti ormawa lainnya, lembaga pers mahasiswa mengalami penurunan popularitas dan relevansinya di kalangan kehidupan mahasiswa yang lebih fokus pada tuntutan karir dan pekerjaan mendatang. Argumen tersebut mungkin tidak relevan bagi mereka yang ingin menunjang karir di bidang jurnalistik atau media. Tapi beragamnya minat dan pilihan yang ada juga berkontribusi pada jatuhnya pers mahasiswa. 

Hal itu juga dirasakan lewat tingkat dukungan pihak kampus terhadap keberjalanan pers mahasiswa itu sendiri. Jika bukan dalam aspek finansial (pendanaan kelembagaan) maka pada fasilitas dan ruang gerak yang kian lama diabaikan mengingat relevansi dan urgensi pers mahasiswa yang terus tergerus. Bukan untuk mengatakan bahwa situasi ini pasti ditemui di setiap kampus, namun dukungan lingkungan akademia menjadi faktor penting dalam mempertahankan eksistensi lembaga pers mahasiswa itu sendiri.

Internal Pers Mahasiswa

Eksistensi sebuah institusi pada landasan fundamentalnya akan bergantung bagaimana kualitas institut tersebut dalam menjalankan fungsi-fungsi organisasinya. Maka dalam hal ini, kualitas dari lembaga pers mahasiswa juga menjadi faktor krusial. Pers mahasiswa diisi oleh anggota yang juga merupakan mahasiswa, dimana proses pembelajaran masih menjadi bagian dari keberjalanan sehingga organisasi rawan dengan berbagai kesalahan karena juga wadah dari “proses belajar”. Maka wajar saja jika kualitas pers mahasiswa masih belum sebanding dengan kualitas lembaga pers atau kantor berita konvensional. 

Tetapi itulah yang menjadi permasalahan ketika praktik jurnalisme diimplementasikan. Tuduhan yang menjadi justifikasi pihak otoritas terhadap pers mahasiswa salah satunya bisa masuk melalui lemahnya kualitas produk yang dihasilkan. Jika fungsionaris pers tidak dibekali dengan pemahaman jurnalistik yang matang, termasuk dalam kode etik jurnalistik, maka eksistensi lembaga pers mahasiswa itu sendiri bisa jadi sangat rawan.  

Menjadi Pers Mahasiswa di Abad 21

Banyak sekali yang bisa menjadi evaluasi bagi lembaga pers mahasiswa di abad ke-21. Perubahan zaman menuntut perubahan dalam cara menjalankan peran sebagai sumber informasi yang independen. Meningkatnya persaingan dan media alternatif tidak mengurangi urgensi dari lembaga pers mahasiswa itu sendiri. Karena pada akhirnya, pilar demokrasi yang akan terus hidup disaat tiga lainnya runtuh kedalam tirani adalah pers yang merdeka dan independen. Tidak ada yang bisa menggantikan pers dalam fungsi jurnalisme independennya, dan tidak ada kelompok generasi yang mendorong semangat perubahan sebesar mahasiswa, sehingga peran lembaga pers mahasiswa tidak boleh mati meski tengah redup.

Koruptor Cilik

Oleh: Rayhan Riza

Kita seringkali bersuara untuk mengekspos beragam praktik dan fenomena ketidakadilan di negeri ini yang kebanyakan berasal dari para pemangku kepentingan tertinggi. Entah itu dijalan, forum diskusi, atau tongkrongan, stigma mengenai sang koruptor seolah hanya terbatas pada mereka yang ada di dalam ruang lingkup kekuasaan saja. Apalagi bagi generasi lumbung aktivis seperti mahasiswa, gelar public enemy sudah sering kita sematkan pada pejabat korup. Ini sama sekali tidak salah: Praktik korupsi adalah sebuah kejahatan dan harus disuarakan terus seperti itu, tetapi kebanyakan dari kita luput dari gambaran yang lebih besar. 

Di sebuah republik konstitusional, para pemangku kepentingan tertinggi entah itu di lingkup pemerintahan atau bisnis bermuara dari kita sendiri, warga negara. Pejabat-pejabat kita adalah “Tetangga rumah kita yang ikut terjun ke politik”. Sehingga perilaku mereka secara alami sesuai dengan masyarakat pada umumnya. Bila praktik korupsi marak di kalangan petinggi-petinggi kita, bukankah lebih baik jika kita mulai mengamati muaranya?

Korupsi dan Koruptor

Kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu korupsi dan siapa itu koruptor. Menurut KBBI, korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara. Namun, korupsi juga bisa mengacu pada makna lain seperti penyimpangan dari yang aslinya atau dari apa yang murni/benar. Terlepas dari perbedaan tafsir, kedua makna yang tertera mengandung makna yang sama yaitu penyimpangan. Maka, orang yang melakukan praktik korupsi disebut sebagai koruptor. Tentu, koruptor yang dimaksud bukan hanya mereka yang menyalahgunakan kekuasaan, tapi juga mereka yang menyalahgunakan hak-hak nya.

Korupsi tidak terbatas dalam tindakan, tetapi korupsi adalah pola pikir. Itu adalah nilai yang tertanam di DNA masyarakat Indonesia dalam kesehariannya, bukan hanya di kalangan elit. Kita seharusnya semakin sadar bahwa pola pikir kitalah yang melahirkan koruptor-koruptor cilik sebelum pada akhirnya menjadi koruptor besar. Pendekatan top down pun semakin tidak efektif, diperkuat dengan maraknya praktik korupsi yang sudah menembus banyak zona-zona integritas, salah satunya pendidikan.

Koruptor Cilik

 Lihat di lingkungan kampus kita contohnya, banyak koruptor-koruptor cilik yang bermunculan. Mungkin kita memandang sebelah mata dan terus menganggap bahwa korupsi di kalangan mahasiswa tampak seperti masalah kecil. Namun, hal itu bisa menimbulkan dampak signifikan terhadap integritas akademik dan juga citra perguruan tinggi di negeri kita.

Sudah sering kita lihat misalnya, mereka yang menyalahgunakan beasiswa dan dana bantuan publik. Tidak dipakai sebagaimana mestinya tapi justru untuk penopang hasrat konsumtif mereka. Mereka telah melanggar hak fundamental mereka: Hak untuk mendapatkan pendidikan dan kesejahteraan ekonomi, yang mirisnya bukan dilakukan oleh pihak otoritas, tapi mereka yang seharusnya mendapat hak itu sendiri.

Kejahatan finansial tidak hanya sampai situ saja, mark up anggaran kemahasiswaan yang dilakukan oleh ormawa pun juga sering terjadi. Bahkan dalam beberapa kasus anggaran kegiatan dipakai oleh individu mahasiswa untuk kepentingan pribadi. Penggelapan dana kerap dilakukan melalui manipulasi proposal dan laporan pertanggungjawaban kegiatan. Satu bisa merasa bahwa usahanya dalam kegiatan tidak dibayar sepadan sehingga mendorong tindakan korupsi anggaran, atau justru berpikir bahwa semua juga melakukan hal yang sama. Ditambah dengan faktor tekanan seperti tekanan hidup, kebutuhan konsumtif, bahkan bisa saja mereka yang terjerumus ke dalam aktivitas illegal. Disitulah mereka melihat peluang yang lebar untuk memanfaatkan dana yang ada guna kepentingan pribadi.

Pola pikir koruptif juga marak utamanya diluar domain anggaran: Akademik. Digitalisasi yang semakin masif semakin membuka pintu lebar bagi kita untuk melakukan tindakan plagiarisme dalam menunaikan tugas-tugas akademiknya. Perkembangan Artificial Intelligence tidak dimanfaatkan untuk proses pembelajaran yang lebih mendalam namun justru disalahgunakan dengan perilaku yang tidak bijak. Jika bukan plagiarisme, maka joki tugas dan/atau skripsi menjadi opsi alternatif.

The Fraud Triangle

Mengacu pada teori Fraud Triangle, perilaku penyalahgunaan tersebut didorong oleh tiga hal: Rasionalisasi, Tekanan/Motivasi, dan Peluang. Tekanan akademik adalah suatu hal yang banyak dari kita rasakan, terlepas dari faktor pendorongnya. Saat tekanan yang dihadapi melebihi kapasitas kita, disitulah cara-cara pragmatis bermunculan. Orientasi pada hasil yang tidak mengedepankan proses membuat kita cenderung mengabaikan prinsip yang dibangun dari proses itu sendiri. Dorongan kita untuk berperilaku koruptif juga didukung oleh rasionalisasi yang menyatakan seolah semua orang juga melakukan hal yang sama, sehingga tidak ada alasan kuat untuk tidak mengikutinya. Dari sanalah, mereka melihat peluang terbuka lebar untuk menggapai hasil dengan cara instan yang kotor.

Perilaku-perilaku tersebut mungkin tampak sepele, tapi jika pola pikir koruptif yang sama dipegang oleh setidaknya mayoritas dari civitas akademika, maka institusi pendidikan tidak memiliki landasan yang kuat untuk menciptakan zona integritas. Ini juga akan mencerminkan cetakan alumni nantinya yang masuk ke dunia pekerjaan. Apapun tidak akan berubah, entah itu sistem, masyarakat, negara, dan peradaban secara keseluruhan, jika pola pikir tersebut terus membersamai kita selamanya. Terjebak di lingkaran penderitaan, dan dibelenggu oleh ketamakan.

Apakah kita sudah cukup suci jika disandingkan dengan mereka yang menyalahgunakan kekuasaan? Kalau bukan nominal, maka berapa banyak hak yang kita korupsi untuk diri kita sendiri? 

Menkeu Bicara Soal Kebijakan, BI Atur Suku Bunga. Tapi Siapa Sebenarnya yang Sedang Diuntungkan?

Semarang, (18/09) – Gelar Wicara Ekonomi Vol. 3 adalah sebuah forum diskusi politik dengan intervensinya dalam ranah ekonomi. Bertempat di Dome FEB Undip, Sospol BEM FEB Undip, memberi wadah untuk edukasi dan menyadarkan mahasiswa FEB mengenai berbagai situasi ekonomi saat ini yang menjadi ukuran pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Forum kali ini mengundang pemantik serta pemateri Syahrul Fajri Mahasiswa Ekonomi FEB Universitas Diponegoro. Isi dalam forum ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang tepat untuk mahasiswa memahami kondisi aktual di Indonesia.

Syahrul Fajri menjelaskan dalam forum mengenai pengaruh geopolitik pada ekonomi dunia, bahwa Indonesia telah masuk ke dalam BRICS dan membeberkan fakta dan data mengenai pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang menjadi isu hangat serta kebijakan – kebijakan politik yang kontroversi.  “Kita lihat jika memang BI rate kita nanti turun berarti ada campur tangan politik pada Bank Indonesia yang notabenenya institusi yang independen,” ungkap Syahrul Fajri dalam Forum Gelar Wicara Vol. 3.

Pernyataan tersebut diangkat ketika Syahrul Fajri diberikan pertanyaan mengenai bagaimana dampak dari kebijakan – kebijakan politik mampu mempengaruhi perekonomian. Kebutuhan masyarakat luas yang nanti akan menjadi ukuran pertumbuhan di Indonesia dihantam dengan kebijakan – kebijakan kontroversial yang dikeluarkan pemerintah. Hal ini dipertanyakan oleh Arkan, seorang mahasiswa FEB.

“Perkembangan ekonomi dunia juga merupakan andil dari organisasi BRICS yang sebanyak 29% PDB berputar di organisasi ini dan 20% perdagangan internasional berputar pula di BRICS dengan negara yang memiliki andil besar pada perdagangan Internasional, Iran dan Mesir,” ucap Syahrul 

Kebanyakan perputaran ekonomi dunia juga dipengaruhi oleh adanya organisasi BRICS menjadi tonggak perekonomian dunia, masalah utama yang timbul ketika Purchasing Power Parity Index (PPPI) meningkat, seperti pada perang yang timbul antara Iran dan Israel, ketika sekarang PPPI berada di kisaran 20% dapat meningkat 49,6% menyebabkan kemampuan membeli barang dan jasa di luar negeri pada suatu negara akan menurun karena kenaikan index perdagangan. Hal inilah yang menjadi pokok utama bagaimana geopolitik perlu dibahas secara serius karena sangat berpengaruh atas perekonomian dunia, serta masalah yang ada di Indonesia.

Di Indonesia kebanyakan masih membicarakan arah kebijakan yang diatur sebagaimana tidak konsisten dan se-linear dengan pemenuhan pertumbuhan Indonesia. Hal ini dicetus oleh Syahrul, bahwa Indonesia belum menemukan karakter bangsa dan seharusnya ukurannya sudah ditentukan oleh terwujudnya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang realisasinya masih minim di masyarakat luas. “Pertumbuhan Indonesia juga nantinya akan dipengaruhi oleh kebijakan BI menentukan suku bunga atau BI rate yang nantinya akan naik atau menurun seiring hasil rapat yang dijalankan pada hari Senin tanggal 22 September 2025,” tambah Syahrul.

Pada pernyataan Syahrul mendapati bahwa jika nantinya BI rate turun maka kemungkinan besar akan menjadi alat untuk melanggengkan kekuasaan dengan menaikkan tingkat kepercayaan masyarakat dengan adanya penurunan BI rate. Dari wawancara dengan Syahrul pula dijelaskan bahwa BI rate yang turun ini harus dijelaskan dengan alasan yang jelas sehingga tidak menjadi rancu dan dapat dijadikan sebagai alat politik, juga menjadi pertanyaan untuk status independensi dari Bank Indonesia sendiri.

Dari diskusi hangat di atas bisa menggambarkan Forum Gelar Wicara ini merupakan wadah penting untuk mahasiswa FEB tentunya memahami masalah yang fokus utamanya di ekonomi, mengenai stabilitas ekonomi di Indonesia dan intervensinya yang dapat menjadi masalah umum di Indonesia.

Rafi Ridho Tockary, Ketua BEM FEB Undip, Memberikan pendapatnya bahwa dari forum yang digelar diharap mampu menjadi wadah untuk pencerdasan mahasiswa. “Kita dari BEM pastinya akan terus konsisten mengadakan, menyuarakan, dan memberikan sebuah wadah-wadah diskusi supaya pencerdasan dan iklim dari mahasiswa yang mungkin kurang paham, kurang peduli menjadi peduli, tahu, dan mau bertindak,” ujarnya dalam wawancara eksklusif.

Forum ini tidak hanya memberikan edukasi formal namun kemudian dibumbui dengan konser yang mampu mencairkan suasana. Hal ini diperkuat dengan harapan dari beberapa panitia serta salah satu audiens dalam wawancara. Alfa, mahasiswa jurusan Ekonomi FEB Undip, menyatakan, “harapannya mungkin lebih ke mahasiswa FEB, sih, buat lebih bisa meramaikan acara seperti ini, karena disini juga kita sharing, terus juga belajar juga, gitu.” 

Diperkuat dengan pernyataan oleh Tiara dan Arkan masing – masing selaku Project Officer (PO) dan Vice Project Officer (VPO), menyatakan bahwa dengan diadakannya forum ini besar harapannya mampu mengedukasi mahasiswa FEB dan mampu menyalurkan pengetahuannya pada masyarakat luas nantinya.

Sospol BEM FEB Undip tahun ini akan menggelar forum gerakan 4 yang akan membahas dengan topik yang berbeda dengan harapan mampu memberikan edukasi yang sesuai dengan kondisi di negara dan menyadarkan sebagian masyarakatnya. “Keberlanjutan Gerakan 4 akan membahas tema yang berbeda. Di sini, saya bertujuan untuk membangun kesadaran mahasiswa FEB nantinya,” ujar Arkan Toto pada wawancara eksklusif.

Reporter: Aldo, Haqi

Penulis: Aldo

Capital Market Fair 2025: Puncak Literasi Pasar Modal di Undip

(Semarang, 13/09) – Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) FEB Undip menggelar Capital Market Fair 2025 di Gedung Prof Sudarto. Capital Market Fair atau CMF adalah acara yang bertujuan untuk mengedukasi dan menginspirasi mahasiswa serta masyarakat mengenai peran pasar modal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan mengangkat tema “Exploring Promising Sectors: Strategic Drivers of Economic Growth”, KSPM bertujuan menghadirkan pemahaman mendalam mengenai sektor-sektor potensial yang mampu menjadi penggerak ekonomi Indonesia di masa depan, sekaligus menumbuhkan minat generasi muda untuk berinvestasi secara cerdas. Acara terbesar KSPM ini didukung oleh OJK, SIM Invest, Sinarmas Sekuritas, Sidomuncul, Bursa Efek Indonesia, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia, dan masih banyak lagi.

Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Prof. Faisal, memberikan sambutan dengan menekankan arti penting CMF di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian. “Acara ini menjadi penting bagi kita semua ditengah krisis global dan krisis geo politik, diharapkan dari kegiatan ini kita dapat optimis sebagai mahasiswa, investor, dan akademisi di tengah kondisi yang tidak menentu”. Selanjutnya terdapat keynote speech dari Rudi Utomo selaku CEO PT Sinarmas Sekuritas yang menyebut bahwa literasi keuangan menjadi sarana penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang tangguh menghadapi tantangan di era saat ini. Ia menggambarkan journey investment sebagai proses panjang, “Investasi tidak terbentuk dengan cepat, melainkan dimulai dari modal yang sedikit lama-lama menjadi bukit” ujarnya. Sementara itu, Sandiaga Uno juga memberikan keynote speech dengan menekankan bahwa pasar modal memiliki peran vital sebagai alternatif pembiayaan pembangunan, khususnya infrastruktur. Menurutnya, peningkatan investasi di pasar modal dapat mencetak generasi investor yang cerdas, berkelanjutan, memiliki karir, sekaligus berkontribusi dalam transformasi ekonomi Indonesia. 

Agenda dilanjutkan dengan peresmian Galeri Investasi Universitas Diponegoro yang didukung oleh PT Sinarmas Sekuritas. Peresmian dilakukan secara simbolis dengan pemotongan pita, menandai resmi beroperasinya galeri yang akan menjadi pusat literasi keuangan baru yang terletak di gedung KWU FEB Undip. Sudah terdapat 971 galeri investasi di Indonesia yang menjadi bukti kuat komitmen literasi keuangan di Indonesia. 

CMF 2025 digelar dengan sangat megah, dengan menghadirkan tiga tokoh utama pasar modal yaitu Lo Kheng Hong yang dikenal sebagai investor hebat di Indonesia, lalu ada Budiyanto selaku CFO PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk., serta Isfhan Helmy selaku Head of Institutional Research PT Sinarmas Sekuritas. Diskusi dipandu oleh moderator Friska Devi Choirina, pendiri Ngerti Saham, yang membawakan sesi menjadi lebih interaktif dan relevan dengan kondisi ekonomi terkini. Dalam kesempatan ini, Lo Kheng Hong menekankan disiplin dalam analisis fundamental. “Kinerja masa lalu bisa mencerminkan kinerja masa depan. Sektor yang bertumbuh akan bertahan karena akan menghasilkan laba besar dan dibutuhkan masyarakat”. Sementara itu, Isfhan Helmy menyoroti konsistensi sektor perbankan. Menurutnya sektor perbankan adalah mesin pertumbuhan ekonomi kita. Beberapa bank bahkan mencatat return yang sangat konsisten. Tak hanya itu, Budiyanto juga berbagi perspektif manajemen korporasi serta strategi keberlanjutan guna menjaga perusahaan di tengah dinamika pasar. 

Antusiasme peserta begitu tinggi, karena selain mendatangkan pembicara yang expert pada bidangnya, sebagai bentuk apresiasi, panitia memberikan hadiah voucher shopee sidomuncul sebesar Rp 300.000 kepada lima penanya terbaik. Salah seorang penanya, Fachri Ashafi mahasiswa fakultas hukum mengaku terinspirasi dengan materi Lo Kheng Hong. “Materinya sangat insightful, beliau menjelaskan mengapa lebih memilih investasi jangka panjang daripada ikut IPO. Itu membuka sudut pandang baru bagi saya,” ujarnya. 

Menurut Nada selaku Project Officer CMF 2025, visi utama CMF adalah menjadikan acara ini sebagai platform edukasi nasional dipasar modal. “Kami ingin menghadirkan pemahaman mendalam tentang sektor-sektor potensial yang menjadi engine of growth Indonesia, sekaligus menumbuhkan minat generasi muda untuk berinvestasi secara cerdas,”jelasnya. 

Sebagai informasi, Capital Market Fair merupakan puncak acara dari Diponegoro Capital Market Days (DCMD). Jadi sebelum acara CMF terdapat serangkaian kegiatan, salah satunya yaitu DIponegoro International Capital Market Investment Challenge (DINAMIC), yang mempertemukan mahasiswa terbaik dari universitas di seluruh Indonesia. Kompetisi ini mendapat apresiasi tinggi dari peserta karena mendorong critical thinking serta keberanian dalam menyampaikan gagasan. Alfin, salah satu peserta dari UNAIR, menilai Dinamic berbeda dari lomba lain.“Mulai dari proses pre-elim hingga final, semua dikritisi dengan sangat detail oleh juri. Bahkan saat gala dinner, kami bisa berdiskusi langsung dengan para finalis dan pembicara,” ungkapnya. Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan DCMD secara keseluruhan. 

Capital Market Fair 2025 sukses membungkus rangkaian panjang Diponegoro Capital Market Days (DCMD), yang menjadi puncak dari seluruh agenda tahunan KSPM Undip. Acara ini menjadi penutup yang sempurna, sekaligus tonggak penting dalam meneguhkan peran generasi muda sebagai investor cerdas dan berkelanjutan bagi masa depan ekonomi Indonesia.

Reporter: Sabrina, Cantika

Scholarship Expo FEB Undip 2025: Jembatan Mahasiswa Meraih Peluang Beasiswa

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) kembali menghadirkan Scholarship Expo 2025 sebagai bagian dari rangkaian Job and Scholarship Day (JSD). Acara yang digelar pada Kamis, 11 September 2025 di bawah Masjid FEB Undip ini menjadi wadah interaktif yang mempertemukan mahasiswa dengan berbagai lembaga pemberi beasiswa nasional bergengsi, mulai dari LPDP, Djarum Beasiswa Plus, Tanoto Foundation, Pertamina Foundation, Karya Salemba Empat, Bakti BCA, hingga Paragon Scholarship.

Ketua panitia, Bintang, menjelaskan bahwa expo ini dirancang sebagai ruang bagi mahasiswa maupun fresh graduate FEB Undip untuk mendapatkan informasi langsung dari penyelenggara beasiswa. “Tenant beasiswa kami pilih melalui kolaborasi dengan berbagai institusi resmi agar informasi yang disampaikan benar-benar valid dan bermanfaat. Harapannya, peserta dapat memperoleh strategi yang tepat untuk meningkatkan potensi diri mereka,” ujarnya.

Suasana expo terasa hidup dengan mahasiswa yang silih berganti mendatangi booth, membawa daftar pertanyaan seputar syarat pendaftaran, tahapan seleksi, hingga tips agar dapat lolos. Beberapa datang memang dengan tujuan yang sudah jelas, sementara sebagian lainnya mampir karena penasaran setelah melihat keramaian. Hanin, salah satu mahasiswa FEB, mengaku hadir untuk memperluas wawasan. Ia sudah memiliki beasiswa incaran sehingga langsung menuju tenant yang sesuai. “Yang paling saya cari itu tips dan trik agar bisa lolos, sekaligus dokumen apa saja yang dibutuhkan. Setelah sharing dengan awardee, saya jadi lebih percaya diri untuk mencoba,” ungkapnya. Hal senada juga dialami Maida yang awalnya tidak tahu ada acara ini, namun langsung tertarik ketika mengetahui ada tenant beasiswa yang memang sejak lama ia incar. “Rasanya senang bisa tanya langsung ke awardee, jadi ada gambaran jelas untuk ke depannya,” ujarnya.

Dalam expo ini, salah satu tenant yang sempat diwawancarai lebih jauh adalah Beasiswa Bakti BCA. Program ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan PT Bank Central Asia yang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga menawarkan pengembangan diri yang komprehensif. Penerimanya disebut sebagai Bakti Champions, sebuah identitas yang menekankan bahwa awardee bukan sekadar penerima bantuan, melainkan individu yang disiapkan untuk membawa perubahan positif di lingkungannya. Ari Fitriani, mahasiswa FISIP Undip angkatan 2022 sekaligus penerima Beasiswa Bakti BCA tahun 2024, menjelaskan bahwa beasiswa ini memiliki tiga jalur seleksi, yaitu bantuan finansial, prestasi akademik, dan prestasi non-akademik. Sistem jalur tersebut membuat program ini lebih inklusif. “Kalau jalur akademik tentu memperhatikan IPK, tetapi untuk jalur non-akademik tidak ada syarat minimal IPK. Jadi mahasiswa yang menonjol di bidang olahraga, seni, atau organisasi tetap punya kesempatan sama besarnya,” tuturnya.

Lebih dari sekadar beasiswa, Bakti BCA juga menghadirkan berbagai program pengembangan seperti workshop keterampilan, pelatihan kepemimpinan, program community empowerment, company visit, hingga National Summit di Jakarta yang mempertemukan para Bakti Champion dari seluruh Indonesia. Menurut Ari, pengalaman tersebut memberinya kesempatan memperluas wawasan serta mengasah soft skill yang tidak selalu diperoleh di bangku kuliah. Ia juga membagikan tips sederhana bagi calon pendaftar: perbanyak riset, jangan ragu bertanya ke awardee, latihan menghadapi tes, dan yang terpenting jadilah diri sendiri. “Tagline Bakti BCA itu every champion is unique, the champion is you, jadi mereka memang mencari keunikan tiap peserta,” tambahnya.

Dengan konsep bazar interaktif yang mempertemukan mahasiswa, awardee, dan lembaga pemberi beasiswa dalam suasana santai namun informatif, Scholarship Expo 2025 berhasil menjadi jembatan yang memudahkan mahasiswa Undip untuk meraih informasi secara langsung. Panitia berharap acara ini tidak hanya menjadi ajang berburu beasiswa, tetapi juga momentum untuk membangun keyakinan diri. Seperti disampaikan Bintang, “Acara ini kami desain agar mahasiswa tidak hanya pulang dengan informasi, tetapi juga dengan keyakinan bahwa mereka mampu meraih beasiswa dan sukses di bidang yang mereka pilih.”

Reporter : Najwa dan Sabrina

Penulis : Najwa

SED x ECOCARE 2025: Acara Sosialisasi Konservasi Hutan Mangrove di Jawa Tengah

Semarang, (10/09) – BEM FEB bidang Somaliah memberikan wadah acara sosialisasi untuk peduli pada ekosistem pesisir, berlokasi di Selasar Gedung Prof Sudarto acara ini berhasil memberikan edukasi untuk mahasiswa umum menyadarkan akan pentingnya ekosistem pesisir agar tidak terancam lebih jauh serta memberikan gambaran umum pelestarian ekosistem. Tujuan utama acara ini adalah untuk menjadi pergerakan aksi di masyarakat luas melalui mahasiswa sebagai penggerak. 

Muhammad Qusyairy Abdulloh selaku Project Officer dari Social and Environmental Discussion X EcoCare memberikan beberapa pernyataan penjelas mengenai acara yang berlangsung, “SED membahas perkembangan pada masalah pesisir terutama tentang perairan, kenaikannya permukaan laut terus juga banjir terus kita juga membahas kenapa harus ada mangrove.” 

Pernyataan Abdulloh, konservasi alam dan rekonstruksi ekologi hutan mangrove, menjadi pokok utama pembahasan dalam acara. Sebagai bentuk edukasi yang nyata dipaparkan materi mengenai pentingnya hutan mangrove itu sendiri untuk kehidupan di pesisir serta implementasi langsung yang akan dijalankan di bulan september sebagai aksi nyata yang akan dijalankan sebagai salah satu hasil dari acara tersebut.

Dr. Mafut Munajat S. Hut,. M.IL. selaku bagian dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) menjelaskan bahwa acara yang dibawakan menjadi arah strategis yang memberikan kesadaran untuk mahasiswa. “Mahasiswa sebagai motor penggerak juga agent of change yang bisa memberikan harapan untuk menyadarkan dan mengedukasi masyarakat dengan keadaan pesisir di Indonesia,” ujar Mafut.

Output yang diharapkan dari acara tersebut adalah kesadaran dari mahasiswa bahkan hingga masyarakat luas supaya menjadi paham akan ilmu ekologi dan keadaan aktual pada ekosistem pesisir yang kian memprihatinkan. Abdulloh memberikan komentar bahwa ini merupakan langkah awal dalam menyadarkan masyarakat atas permasalahan yang ada di pesisir yang memerlukan pencegahan abrasi.

Adapun kebijakan yang akan diangkat oleh DLHK atas kebutuhan dari permasalahan yang ada di pesisir ini sebagai berikut:

  1. Mengembalikan ekosistem seperti sedia kala,
  2. Meminimalisir kerusakan kepada lingkungan,
  3. Mengedukasi masyarakat,
  4. Meningkatkan volume atau luas tutupan mangrove,
  5. Mencegah hal hal yang dapat merusak ekosistem.

Di satu sisi masyarakat sekitar masih perlu menyesuaikan skala prioritas yang diperlukan untuk keberlangsungan hidup antara aspek ekonomi dan aspek ekologi. Pernyataan ini dikutip pada wawancara eksklusif dengan Bapak Mafut, “perlu menyesuaikan antara aspek ekonomi dan ekologi jadi masyarakat itu apabila merasa diuntungkan dalam jangka pendek, bila kebutuhan jangka pendeknya terpenuhi maka masyarakat akan terlibat secara langsung.”

Upaya mitigasi yang dilakukan serta kebijakan yang perlu diperhatikan ini tidak semata hanya pada kondisi ekosistem pesisir namun juga kebutuhan ekonomi masyarakat yang perlu dipenuhi terlebih dahulu. Banyak success story dari desa – desa yang berhasil melaksanakan upaya penanaman mangrove di sekitar pesisir yang berada pada; Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Mangrove di Pasar Banggi Rembang, Pemalang di sekitar daerah Mojo, Brebes daerah Kaliwlingi, Kebumen di Muara Kali Ijo.

Tantangan utama yang dijalankan atas pelaksanaan acara SED x ECOCARE 2025 diantaranya masalah libur semester hingga masalah cuaca yang menyebabkan acara ini sedikit terhambat. “Sempat mengganti pembicara hingga mengganti tempat,” jelas Abdulloh, memberikan gambaran tentang kendala yang dihadapi selama persiapan dan pelaksanaan acara tersebut.

Acara ini menjadi titik awal kesadaran tentang pesisir lautan yang tadinya peserta kurang memahami mengenai permasalahan di pesisir, serta menyadari bahwa mangrove merupakan solusi efektif dalam mengatasi masalah-masalah laut. Acara ini sebenarnya menghadirkan dua pembicara yaitu bapak Mafut serta bapak Munhamir selaku warga terdampak yang akrab berinteraksi langsung dengan mangrove. 

Abdulloh berharap peserta dapat mengambil hikmah dan semakin memahami tentang pesisir serta pentingnya mangrove. Diskusi ini dirancang untuk memantik aksi nyata sebagai bentuk keberlanjutan dengan diadakannya penanaman mangrove pada tanggal 20 September 2025 di Mangunharjo bertempat di lahan milik bapak Munhamir. Kegiatan tersebut juga akan menjadi pembelajaran langsung mengenai cara menanam mangrove. 

Selain peserta dari FEB, hadir pula aktivis lingkungan dari berbagai fakultas lain, yang diajak untuk bersama-sama menuliskan harapan mereka sebagai simbol partisipasi dan komitmen terhadap pelestarian pesisir. Meski menghadapi kendala cuaca hujan selama pelaksanaan acara, antusiasme peserta tetap tinggi. Mereka terus aktif mengikuti sesi sosialisasi dan berdiskusi dengan semangat, menunjukkan komitmen kuat terhadap pelestarian ekosistem pesisir dan mangrove.

Dengan adanya sosialisasi dan aksi nyata ini, diharapkan kesadaran dan kepedulian terhadap ekosistem pesisir akan terus tumbuh dan membawa dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Reporter: Sabrina, Aldo

Launch Point: The Biggest Bazar at FEB Undip

Semarang (27/08) – Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip menggelar acara Launch Point yaitu acara bazar serta talk show kewirausahaan. Ratusan mahasiswa ikut memeriahkan acara ini. Program tersebut merupakan wujud aktualisasi dalam meningkatkan iklim wirausaha di lingkup FEB Undip. Launch Point mendapat sponsorship dari Astra Autoshop serta didukung oleh Ikatan Alumni FEB Undip (IKAFE) serta BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, panitia berkolaborasi dengan HIPMI PT dan HIPMI BPD dalam penyelenggaraan talk show. 

Rangkaian bazar dimulai pada 9.30 pagi di sepanjang jalan gedung kelas FEB. Mahasiswa FEB digratiskan dalam menyewa tenant, sedangkan UMKM dikenakan biaya sewa. Panitia menargetkan setengah peserta dari mahasiswa FEB dan sisanya berasal dari UMKM luar dengan target pengunjung mahasiswa FEB. Selaras dengan itu, Project officer dari Launch Point,  Farrel Azkiya, menyampaikan harapan agar program tersebut kedepannya dapat diselenggarakan kembali dengan biaya gratis bagi seluruh mahasiswa Undip. 

Panitia memberikan kebebasan yang luas kepada peserta tenant dalam berkreativitas menjalankan usahanya. Salah satunya adalah memberikan free sample kepada pembeli guna meningkatkan ketertarikan produk serta mendapatkan evaluasi mengenai produk yang mereka jual. 

Acara bazar ini mendapat respon yang baik dari berbagai kalangan. Salah satu mahasiswa yang menjual buket, Umi Salamah, merasakan manfaatnya. “Saya merasakan banyak sekali manfaatnya. Terutama untuk mempromosikan produk agar lebih dikenal, menambah teman baru dari stand bazaar lain, dan juga menambah pemasukan.” Begitu pula dengan Anida, dia mengungkapkan perasaan senang ketika mengalami keuntungan selama berjualan di bazar Launch Point. “Alhamdulillah, insya Allah ada keuntungan.”

Kemudian, Najwa Nazila, yang menjual aksesoris manik-manik yang dibuat melalui handicraft, menceritakan pengalaman yang tidak diperkirakan olehnya ketika mendapat peluang baru untuk mengembangakan usaha miliknya. “Manfaatnya, kemarin ada beberapa mahasiswa yang datang mewawancarai kami, sepertinya untuk tugas mata kuliah. Lalu, tadi pagi kami ditawari untuk ikut CBC atau Campus Business Circle. Sepertinya itu komunitas baru yang dibentuk Juni 2025, isinya seperti sesi berbagi antar pelaku usaha mahasiswa FEB.”

Pengunjung pun terlihat antusias. Salah satunya adalah Arin, yang terlihat antusias dalam menikmati keberjalanan acara. Terdapat banyak jajanan yang tersedia di sepanjang jalan dan menarik untuk dilihat, katanya. Tak hanya itu, pengunjung lainnya, seperti Alya menceritakan ketertarikannya saat melihat produk berbentuk unik yang belum ia temui sebelumnya, seperti scrunchy, jepit rambut, dan gelang. Mereka pun sepakat ingin agar program ini dapat diadakan kembali di kemudian hari.

Namun, menurut beberapa peserta tenant, program tersebut memiliki beberapa kendala. Kritik pertama berasal dari Anida yang menyampaikan harapan agar informasi terkait bazar dapat disebar lebih luas lagi. “Untuk evaluasi ke depannya, mungkin informasinya bisa disebar lebih luas lagi. Jujur, saya sendiri baru tahu ada bazar ini, H-beberapa hari sebelum acara. Jadi, informasinya belum menyebar secara luas.” Kemudian, terdapat pula kendala yang dialaminya terkait sarana prasarana. Ia menuturkan bahwa listrik sempat mati sehingga mengganggu proses memasak. “Penyelenggaraannya sudah cukup bagus. Hanya ada sedikit kritik, kemarin listriknya sempat beberapa kali mati. Ini jadi hambatan, karena kami pakai listrik untuk mengukus dimsum.”

Kritik selanjutnya datang dari Najwa Nazila, dia mengatakan terdapat koordinasi panitia yang kurang baik sehingga menimbulkan kendala saat loading barang dan juga tidak adanya penomoran tenda. “Mungkin terkait koordinasi panitia. Waktu saya loading barang hari Selasa pagi, tidak ada panitia di lokasi yang memberitahu kami nomor tenant-nya. Di tendanya juga tidak ada nomor, jadi kami sempat kebingungan. Mungkin kedepannya penomoran tenda bisa lebih jelas.”

Selain bazar, program talk show, yang dijelaskan juga oleh Project Officer Launch Point, diadakan pada 26-27 agustus 2025 yang bertempat di Hall Pertamina Gedung Dekanat. Rangkaian ini dijalankan untuk memotivasi mahasiswa agar mulai berbisnis. Topik yang dibicarakan adalah seputar ekonomi dengan mengupas berbagai masalah bisnis, solusi, serta tips untuk mengembangkan usaha kecil bersama para praktisi yang sudah lebih dahulu berpengalaman dalam dunia bisnis. Panitia mengundang dua pembicara, yang salah satunya adalah Tedi Agung Tirtayadi, Ketua Umum BPD HIPMI Jawa Tengah. 

Launch Point 2025 bukan sekadar program kewirausahaan biasa, terkandung niat baik di dalamnya serta terkandung peluang-peluang baru yang menunggu untuk dimanfaatkan. Sebuah tempat strategis untuk menciptakan wirausahawan baru di kampus kuning. 

Reporter: Royhan, Najwa

Penulis: Bima