
Semarang, (29/09) – Uji Publik LKMM-TM FEB Undip 2025 merupakan kegiatan seleksi terbuka untuk menentukan perwakilan terbaik Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro yang akan menjadi delegasi dalam ajang Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM-TM) tingkat universitas. Kegiatan yang berlangsung di Dome FEB Undip ini melibatkan berbagai elemen penilaian untuk memastikan objektivitas dalam menilai kualitas kepemimpinan, pemikiran strategis, dan integritas calon delegasi.
Dalam acara terdapat 3 sesi yaitu: sesi pemaparan materi selama 20 menit, sesi banding selama 10 menit, dan sesi Q&A selama 20 menit untuk setiap kandidat. Tahun ini, terdapat tiga kandidat yang maju mewakili FEB Undip, yaitu Entol Evan Surya Mahendra, Muhammad Fadhil Firmansyah, dan Muhammad Rafi Ilma.
Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua BEM FEB Undip, Rafi Ridho Tockary, yang bertindak sebagai panelis. Ia menekankan bahwa, “sering terjadi miskonsepsi seolah-olah LKMM hanya ditujukan bagi mereka yang menjadi ketua organisasi. Esensi kegiatan ini adalah manifestasi untuk menyelesaikan permasalahan sekaligus mencari penerobosan baru di organisasi mahasiswa,” ujarnya. Setelah sambutan tersebut, acara berlanjut ke sesi pemaparan materi yang diawali oleh kandidat pertama.
Entol Evan Surya Mahendra (Kandidat 1)
Entol Evan Surya Mahendra mengajukan gagasan penerapan prinsip ESG (Environment, Social, Governance) dalam organisasi mahasiswa untuk menciptakan keberdampakan yang lebih nyata, kolaboratif, dan berkelanjutan. Menurutnya organisasi mahasiswa di FEB Uv ndip selama ini masih cenderung berfokus pada formalitas program, ketimbang hasil yang berkelanjutan. Padahal, mahasiswa seharusnya menjadi agent of change yang mampu melahirkan solusi bagi persoalan sosial, lingkungan, sekaligus memperbaiki tata kelola internal.
Evan juga menekankan pentingnya tata kelola organisasi yang transparan, akuntabel, partisipatif, dan efektif, sejalan dengan prinsip good governance. Selain itu, ormawa diharapkan mampu menghadirkan program sosial dan lingkungan yang tidak hanya simbolis, tetapi memberikan dampak nyata serta melibatkan kolaborasi dengan banyak pihak, termasuk NGO. Dengan demikian, organisasi mahasiswa tidak hanya menjadi wadah kegiatan, tetapi juga laboratorium kepemimpinan yang mendorong perubahan sosial berkelanjutan.
Muhammad Fadhil Firmansyah (kandidat 2)
Muhammad Fadhil Firmansyah menyoroti kebijakan Inpres No. 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran pendidikan tinggi. Ia menilai kebijakan tersebut, meski ditujukan untuk optimalisasi belanja negara, berpotensi berdampak pada mahasiswa melalui kemungkinan kenaikan UKT, pengurangan beasiswa, serta kualitas layanan pendidikan. Dari hasil survei terhadap mahasiswa FEB Undip, mayoritas responden menyatakan khawatir bahwa efisiensi justru berujung pada komersialisasi pendidikan dan memperlebar jurang kesenjangan.
Fadhil menegaskan bahwa pendidikan tinggi adalah hak konstitusional yang dijamin UUD 1945. Ia juga mengkritisi narasi efisiensi pemerintah yang dianggap lebih sebagai jalan pintas untuk menutupi lemahnya tata kelola anggaran. “Organisasi mahasiswa harus hadir sebagai aktor sosial-politik yang kritis, bukan hanya menolak kebijakan yang diskriminatif tetapi juga menawarkan alternatif berbasis data dan solusi yang adil demi menjaga akses pendidikan tetap inklusif,” tegasnya
Muhammad Rafi Ilma (Kandidat 3)
Muhammad Rafi Ilma membawa gagasan reformasi student government di Universitas Diponegoro melalui pembentukan Mahkamah Mahasiswa sebagai lembaga independen berfungsi yudikatif. Menurutnya, kondisi saat ini masih timpang karena hanya terdapat eksekutif (BEM) dan legislatif (Senat Mahasiswa), sementara fungsi yudikatif belum terwadahi secara jelas. Hal ini menimbulkan potensi tumpang tindih kewenangan dan dominasi legislatif, sehingga mekanisme check and balance tidak berjalan optimal.
Menurut Rafi, penerapan prinsip trias politica dalam organisasi mahasiswa sangat penting demi menjaga keadilan dan akuntabilitas (check and balance). Meski menyadari adanya tantangan seperti legitimasi politik, netralitas, dan kesiapan SDM, ia meyakini keberadaan Mahkamah Mahasiswa dapat memperkuat demokrasi kampus dan menjaga keseimbangan kekuasaan antar lembaga kemahasiswaan.
Dalam wawancara singkat, ketiga kandidat juga memberikan pandangannya terkait persiapan mengikuti uji publik. Kandidat kedua LKMM-TM, Muhammad Fadhil Firman, menyatakan pentingnya penulisan makalah yang substansial sebagai dasar argumentasi yang disampaikan kepada mahasiswa FEB Undip maupun ke panelis.
“Baik, menurut saya persiapan yang paling penting dan perlu untuk ditekankan adalah dalam hal penulisan makalah. Karena itu merupakan suatu hal yang penting ketika kita berbicara mengenai LKM-TM. Karena kita harus memberikan substansi kepada mahasiswa FEB Undip maupun ke panelis yang akan kita ujikan nantinya, seperti itu. Selain itu, saya juga mempersiapkan diri dengan latihan presentasi agar gagasan dapat tersampaikan secara jelas kepada juri dan peserta,” ujar Muhammad Fadhil Firman Syah
Selain Muhammad Fadhil Firman ada juga Entol Evan Surya menyatakan bahwa pentingnya memilih tema yang relevan dan krusial. “Oke, buat aku pribadi, hal pertama yang krusial adalah memilih tema yang relevan dengan diri kita dan yang paling urgen atau dibutuhkan di FEB, tapi tetap realistis sehingga memiliki peluang besar untuk direalisasikan,” ujarnya
Sementara itu persiapan yang dilakukan Muhammad Rafi Hilma dalam LKMM-TM ini menyiapkan makalah yang paling harus dilengkapi. “Persiapan terkait uji publik yang pertama adalah menyiapkan mental terlebih dahulu ya. Karena pastinya gejolak politik, baik itu akun-akun buzzer atau yang lainnya, pastinya bakal muncul di sana. Selain itu, saya juga mempersiapkan makalah, video, dan berkas-berkas lain yang harus dilengkapi, seperti surat aktif organisasi dan kelakuan baik. Dan mungkin, terkait substansi ilmu yang akan kita tuangkan di dalam makalah jadi salah satu yang paling penting sih untuk mempersiapkan hari ini,” ujarnya
Selain para peserta, panitia juga memberikan pandangannya. Muhammad Satrya Daffa, Kepala Bidang PSDM BEM FEB Undip, menjelaskan bahwa LKMM-TM merupakan wadah menuju jenjang kaderisasi terakhir. Ia menegaskan bahwa meskipun tahun ini hanya ada tiga pendaftar, hal itu tidak otomatis menjamin ketiganya lolos. “Mungkin langkah yang kita ambil kan sebenarnya kuotanya empat, tapi pendaftar tahun ini cuma tiga. Jadi tentu kita nggak bisa bilang 100% semuanya pasti lolos. Karena in the end, hari ini kan uji publik, uji kelayakan, yang based on apa yang panelis nilai. Nanti juga bakal didiskusikan lagi bareng panelis, kira-kira dari apa yang sudah mereka persiapkan, apakah masuk tahap layak atau nggak. Dan taraf kelayakan itu juga ditentukan lewat diskusi panelis lagi. Jadi ya, apapun kondisinya, kita nggak bisa jamin semua pasti lolos. Hasil akhirnya tetap balik lagi ke diskusi panelis yang dibicarakan secara tertutup,” ujarnya.
Muhammad Satrya Daffa juga mengatakan kalau acara ini diselenggarakan masih dalam jauh dari kata sempurna, karena keterbatasan sumber daya membuat persiapan acara ini kurang maksimal, sehingga untuk tahun selanjutnya akan dibuatkan tim khusus acara LKMM-TM FEB.
Dengan adanya acara LKMM-TM FEB ini membuat teman teman FEB lain menjadi penasaran siapa yang menjadi pemenang atau yang mewakili LKMM-TM FEB 2025 ditingkat pusat.
Reporter: Alvaro
Penulis: Tsaniya, Alvaro

