IMOT 2020: Mempersiapkan Generasi Dambaan dan Manfaat Mengikuti Mentoring

Reporter: Dwi Novi

Minggu (15/11/2020) – Telah berlangsung acara Islamic Motivation Training (IMOT) 2020 yang diselenggarakan oleh UKM-F Mizan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip). IMOT merupakan acara kaderisasi kerohanian yang digelar oleh Mizan FEB Undip. Acara ini berlangsung pada pukul 10.00 WIB-16.25 WIB melalui platform Ms. Teams dan Youtube Live Streaming. Kegiatan ini rutin digelar setiap tahun dan wajib diikuti oleh mahasiswa baru (maba) muslim dan muslimah FEB Undip. Tahun ini IMOT mengangkat tema “Get the Bright Future with Mentoring”.

Acara diawali dengan pembukaan, kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Undip lalu dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Muhammad Fakhri Fadhillah. Selanjutnya pada saat sesi sambutan, Muhammad Taqi Farisi selaku perwakilan Badan Pengelola Mentoring Agama Islam (BPMAI) Mizan FEB Undip mengatakan bahwa mentoring merupakan salah satu upaya dalam membina mahasiswa agar kelak setelah lulus nanti bisa menjadi mahasiswa yang unggul sesuai dengan visi dan misi yang diharapkan oleh Universitas Diponegoro.

Pada acara ini juga dilakukan pembacaan Ikrar Toleransi dari delegasi UKM Kerohanian FEB Undip diantaranya Mizan FEB Undip, Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) FEB Undip, Pelayanan Rohani Mahasiswa Katolik (PRMK) FEB Undip, Keluarga Mahasiswa Buddhis (KMBD) Undip dan Keluarga Mahasiswa Hindu (KMHD) Undip serta Universitas Indonesia.

Sesi pertama dimulai pada pukul 12.30 WIB dengan pembicara Ustadz Nur Fauzan Ahmad, S.S.,M.A yang menyampaikan materi mengenai bagaimana mempersiapkan generasi dambaan. Menurutnya generasi saat ini atau yang biasa disebut dengan istilah generasi milenial (Gen Y) memiliki ciri-ciri seperti lahir diatas 1980-an hingga 2000-an ditandai dengan kemampuannya memanfaatkan teknologi, memiliki kepedulian sosial yang rendah, tidak bisa jauh dari gadget, tidak adanya rasa persaingan antar individu dan lebih mudah menerima perubahan.

Ia menuturkan bahwa generasi sekarang perlu meningkatkan kesejahteraan diri yaitu dengan memiliki sikap professional, mandiri serta membekali diri dengan keimanan. Sikap profesional bisa dicapai dengan bersusah payah, rajin dan menggunakan mata untuk melihat, membaca, memperhatikan, dan meningkatkan ilmu pengetahuan serta menggunakan lidah dan bibir untuk berkomunikasi, berorganisasi dan berdiskusi.

Kemudian sikap yang mandiri merupakan sikap yang tidak bergantung ataupun menggantungkan diri. Kemandirian ini dapat dicapai ketika seseorang itu memiliki sikap professional sehingga tidak mudah menggantungkan diri kepada orang lain. Selain kedua sikap d iatas, hal tak kalah penting yaitu membekali diri dengan keimanan agar tidak hanya mencapai kesuksesan di dunia namun juga di akhirat.

Terakhir, ia juga menyampaikan bahwa generasi muda sekarang harus bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, mengisi dengan kegiatan-kegiatan yang positif karena kelak apa yang dilakukan saat ini akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Sesi pertama diakhiri dengan tanya jawab dan games.

Sesi kedua diisi oleh Ustadz H. Muhammad Shoffar Mawardi yang menyampaikan materi mengenai mulia sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Pada awal penyampaian materi beliau mengatakan bahwa kita manusia ditakdirkan oleh Allah SWT lahir dengan kemualian, yang pertama yaitu kemulian sebagai anak Adam dengan diberikan ilmu lebih dari makhluk lainnya dan yang kedua kita diberikan kemampuan untuk berbicara sehingga dalam hal ini kita semua terlebih lagi mahasiswa selain harus berilmu juga harus bisa menyampaikan ilmu tersebut karena ilmu dan kata adalah bagian dari kemuliaan kita sebagai manusia selain sucinya jasad kita meski sudah meninggal.

Kemudian, kita sebagai manusia juga dimuliakan oleh Allah SWT yaitu sebagai umatnya Nabi Muhammad SAW. Sebagai umatnya Nabi Muhammad, kita diberikan kemuliaan misalnya dalam surah Ali Imron : 110 “Kamu semua adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, memerintah kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar dan beriman kepada Allah.”

Dalam Tafsir Ibnu Abbas – Q.S.3. Ali Imron : 110 artinya bahwa umatnya Nabi Muhammad SAW adalah yang umat terbaik dalam arti manusia yang terbaik. Ketika manusia-manusia yang terbaik dihimpun, maka tetap yang terbaik adalah umatnya Nabi Muhammad SAW. Kalau kita ingin menjaga kemuliaan sebagai umat Nabi Muhammad maka kita harus meningkatkan kesanggupan dalam ber-amar ma’ruf & nahyi munkar. Kemuliaan yang seperti ini adalah buah dari pembinaan, sehingga kalau manusia tidak mendapatkan pembinaan maka tidak bisa menjaga kemuliaan ini.

Selanjutnya, ia juga menyampaikan bahwa Allah SWT mempunyai sunnatullah atau memberlakukan sunnatullah yaitu bahwa Allah menjamin pertumbuhan jasad manusia namun tidak menjamin pertumbuhan rohani manusia. Pertumbuhan rohani manusia sesuai dengan usaha dan pembinaannya (mentoring).

Mahasiswa merupakan orang yang mulia bila rohnya terbimbing dan ikut aktif dalam kegiatan mentoring. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa terdapat beberapa manfaat dalam mengikuti kegiatan mentoring yaitu supaya dipertemukan dengan teman-teman terbaik, agar menjadi anak muda yang membuat Allah takjub, dapat mengangkat derajat orang tua dan keluarga di surga dan yang terakhir mahasiswa yang aktif dalam kegiatan mentoring islam insyaallah akan menjadi calon ahli surga. Sesi tanya jawab baru dilaksanakan usai jeda sholat ashar.

Setelah penyampaian materi, dilanjutkan dengan sesi pelantikan pementor baru FEB Undip 2021 yang dipimpin oleh Ahmad Zein Abdurrahman selaku perwakilan dari BPMAI Undip dan ditutup dengan doa.

Kuliah Umum: Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme di Kalangan Mahasiswa Undip

Reporter: Amadea

Undip (10/11) – Melalui platform Zoom, telah dilaksanakan kuliah umum dengan tema Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme di Kalangan Mahasiswa Universitas Diponegoro. Kuliah umum ini diselenggarakan oleh Universitas Diponegoro (Undip) dalam rangka mencegah masuknya paham radikalisme di lingkungan Undip. Selain itu, kuliah ini ditujukan sebagai edukasi guna membentuk kesadaran kebangsaan dan kesadaran anti radikalisme. Kuliah umum yang dimoderatori oleh Fahmi Arifan ini dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan menghadirkan dua pembicara yaitu Joko Triharmanto dan Renni Yuniati.

Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Undip. Selanjutnya, acara dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Diponegoro, Yos Johan Utama. Dalam sambutannya, Yos menyampaikan bahwa radikalisme jelas jauh dari bhinneka tunggal ika. Radikalisme hanya membuat sesuatu menjadi tercerai berai. “Mari kita berjuang bersama-sama. Berjuang untuk tetap dalam NKRI. Oleh karena itu, mari kita tentang segala bentuk radikalisme! Siapapun yang melakukannya, siapapun yang menjalankannya, siapapun yang memerintahkannya, mari kita lawan segala bentuk radikalisme dalam bentuk apapun,” pesan Yos kepada seluruh peserta kuliah umum.

Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi

Setelah dibuka secara resmi oleh Rektor Undip, kuliah umum dilanjutkan dengan pemaparan materi pertama oleh Joko Triharmanto. Materi yang disampaikan berjudul “Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi”. Di awal pemaparan materi, Joko menceritakan bahwa dahulu ia sempat bergabung ke dalam kelompok terorisme. Terjerumusnya Joko ke dalam kelompok tersebut dikarenakan ia diberi doktrin oleh kakak kelasnya. Joko kemudian bercerita mengenai keterlibatannya dalam aksi terorisme Bom Bali 1. Setelah aksi teror tersebut, Joko sempat melakukan pelarian selama 2 tahun sebelum akhirnya ditangkap dan dipenjara selama 6 tahun.

Setelah menceritakan mengenai kehidupan lamanya, Joko lalu menjelaskan bagaimana ia kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Selepas keluar dari penjara, Joko bekerja di sebuah rumah makan dan merintis bisnis mulai dari komputer, konveksi, hingga kuliner. Joko saat ini juga menjadi ketua dari Yayasan Gema Salam, yaitu yayasan yang menjadi wadah bagi mantan narapidana terorisme dalam melakukan kegiatan positif yang mendukung NKRI. Joko menjelaskan mengenai berbagai kegiatan yang dilakukan yayasan tersebut, visi, hingga misi yang melandasi berdirinya yayasan tersebut. Salah satu misi dari yayasan tersebut yaitu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya ekstrimisme dan radikalisme.

Protokol Anti Radikalisme di Musim Pandemi

Materi kedua dibawakan oleh Renni Yuniati yang merupakan pengajar Fakultas Kedokteran Undip. Materi yang dibawakan berjudul “Protokol Anti Radikalisme di Musim Pandemi”. Di awal pemaparan materi, Renni menjelaskan bahwa radikalisme merupakan sikap yang mendambakan perubahan total dan bersifat revolusioner, dengan menjungkir balikkan nilai-nilai secara drastis melalui kekerasan dan tindakan ekstrim. “Beberapa ciri radikalisme adalah intoleran, fanatik, eksklusif, dalam arti tadi untuk mengancam negara ini,” jelas Renni. Selanjutnya, Renni juga menjelaskan mengenai terorisme dan ekstrimisme.

Terkait pencegahan radikalisme, Renni menjelaskan lima poin yang dapat digunakan, antara lain bhinneka tunggal ika, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan satu tekad melawan radikalisme dan intoleransi. Dijelaskan pula mengenai deradikalisasi sebagai upaya mencegah radikalisme. “Apa deradikalisasi itu? Menetralkan pemikiran-pemikiran bagi mereka yang sudah terpapar dengan radikalisme,” jelas Renni.

Dalam pemaparan materinya, Renni menyampaikan perlunya mengetahui Pancasila lebih dalam dan fokus dengan bidang keilmuan agar tidak terseret radikalisme. Mahasiswa juga diimbau untuk pandai bergaul dan bekerja sama dengan teman di sekitar agar tidak mudah terpapar oleh radikalisme. Tidak hanya menjelaskan mengenai radikalisme dan cara mencegahnya, Renni juga menjelaskan materi mengenai protokol kesehatan dan adaptasi kebiasaan baru di tengah pandemi.

Setelah kedua pembicara memaparkan materi, kuliah umum dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator. Peserta kuliah umum terlihat aktif bertanya kepada dua pembicara. Kuliah umum kemudian ditutup dengan pembacaan kesimpulan oleh moderator dan sesi foto bersama.

Aku Jika Mengingat Pahlawan

Oleh: Karima Suci Ariani

Pahlawan secara bahasa diartikan sebagai orang yang pemberani dan rela berkorban untuk membela kebenaran. Pahlawan juga digambarkan sebagai sosok gagah, perkasa, serta berjiwa kesatria. Sosok pahlawan begitu lekat dengan perjuangan, pengorbanan, peperangan, dan penjajahan. Dari berbagi sumber, cerita, dongeng, sejarah pahlawan selalu digambarkan memiliki budi pekerti, senang menolong, tangkas, dan selalu berbuat baik. Seringnya, pahlawan selalu membela kebenaran. Dapatkah dikatakan setiap sosok yang memebela kebenaran adalah pahlawan? Seberapa besar ukuran perbuatan yang dilakukan sesorang sehingga dia dianugerahi gelar pahlawan? Apakah setiap pahlawan yang terpilih juga pahlawan bagi orang lain? Yang terpenting apakah kebenaran tersebut bersifat mutlak bagi semua orang? Siapakah yang berhak menjadi pahlawan

Kebenaran: Pada Sesuatu yang Paling Biasa

Tidak dapat dipungkiri sosok pertama yang terlintas di kepala ketika mengucapkan kata pahlawan adalah pejuang bangsa yang telah gugur. Soekarno, Hatta, Ahmad Yani, Soedirman, dan nama-nama pejuang lainnya menjadi representase pahlawan. Para pejuang dengan gagah berani membela kebenaran untuk memutus mata rantai penjajahan di bumi pertiwi. Perbudakan, penyiksaan, serta penindasan diperangi oleh pahlawan bangsa, sosok baik yang telah gugur dengan harum. Mereka dikenang dalam lembaran buku sejarah, dalam bait sajak, dalam melodi lagu, dan dalam ingatan. Semoga begitu. Pahlawan bangsa, berjuang mempertaruhkan hidup dan mati untuk merdeka. Dengan ikhlas pahlawan kala itu meninggalkan dunianya. Orang tua kehilangan anak, istri menjadi janda, dan anak menjadi yatim. Sepertinya kala itu pahlawan bangsa tidak kenal takut, pantang mundur walau gugur.

Apakah pahlawan melulu soal pejuang bangsa? Jika demikian berakhirnya masa penjajahan membuat kata pahlawan menjadi mandul. Eksistensi pahlawan berhenti sebab perjuangan zaman dulu tidak lagi ditemukan pada masa sekarang. Lantas saat ini masih adakah pahlawan? Apakah orde kepahlawanan telah berakhir?

Kebenaran: Pada Sesuatu yang Biasa

Jika berpedoman dengan pahlawan versi dulu tentu tidak lagi dijumpai pahlawan-pahlawan baru di masa sekarang. Tidak akan ada lagi sosok yang akan dikenang oleh anak cucu selain pejuang kemerdekaan. Karena memang jasa mereka seharusnya tidak terlupa dan tidak terganti. Atau memang kata pahlawan berpasangan dengan zaman penjajahan? Ketika zaman penuh derita tersebut usai maka gelar pahlawan ikut usai?

Tapi tidak elok jika dengan mudah kita memutuskan garis keturunan pahlawan. Karena sejatinya pahlawan tidak hanya untuk mereka yang berjuang atas nama merdeka. Kembali ke makna dasar pahlawan, adalah sosok berani dan rela berkorban untuk kebenaran. Jika demikian, manusia berani dan rela berkorban atas nama kebenaran layak dinobatkan sebagai pahlawan. Siapapun yang membela kebenaran adalah pahlawan begitu yang diyakini banyak orang. Sekali lagi, apakah kebenaran tersebut mutlak?

Seorang ibu yang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan buah hati tentu berhak disebut sebagai pahlawan, setidaknya bagi anaknya. Pemadam kebakaran, dokter, guru, dan pekerjaan mulia lainnya sangat berhak dinobatkan sebagai pahlawan modern. Banyak dijumpai pemuda-pemuda bangsa atas nama pengabdian membela hak bangsa. Memperjuangkan apa yang dirampas oleh penguasa, katanya. Bersatu padu demi mempertahanan kemuliaan demokrasi, suara rakyat. Sungguh mereka berhak dipanggil pahlawan-pahlawan masa kini. Tidak jarang dijumpai sosok yang rela meninggalkan kenikmatan duniawai demi berbakti kepada ibu pertiwi. Tanpa gaji dengan sadar diri menjelajahi negeri, menebar ilmu, dan memberi cahaya pada kegelapan aksara di persada negeri. Lain hal dengan intelek bangsa, mengharumkan nama Indonesia di semua kancah. Prestasi, relasi, dan capaian lainnya. Tidak lupa pemimpin bangsa yang berkutat dengan problematika negeri. Serba susah dalam mengambil keputusan sebab polemik bangsa yang begitu rumit. Setidaknya pemimpin bangsa menebar kebaikan dengan bantuan, dengan aturan, dengan capaian angka dalam laporan.

Ya mereka, pahlawan masa kini mencerminkan kebenaran. Berkorban dan berjuang atas hal-hal yang benar. Lantas, apakah kebenaran bersifat mutlak?

Kebenaran: Pada Sesuatu yang Tidak Biasa

Apakah kebenaran bersifat mutlak? Dapatkah sesuatu yang benar disematkan kepada semua orang? Bagaimana suatu hal dikatakan benar? Jika seorang anak mencuri sepotong kue untuk mengisi lambung adiknya yang sedang sekarat. Jika seorang ibu menjual diri demi menyambung hidup. Jika seorang kakak membunuh adiknya demi mempertahankan hidup, jika pemimpin geng memenangkan duel dengan musuh dan berhasil menyelamatkan nasib kelompoknya, dapatkah mereka disebut pahlawan? Serta pada sesuatu yang tidak biasa lainnya, yang tabu bagi masyarakat namun berarti bagi seseorang. Dapatkah mereka menjadi pahlawan?

Pahlawan Itu Kita

Oleh: Bayu Teguh

Per 3 November 2020 total kasus positif Covid-19 mencapai 422 ribu orang dengan total kasus positif aktif adalah 61 ribu orang dan kenaikan mencapai 2.973 orang. Angka ini masih tinggi jika dibandingkan dengan negara tetangga yaitu Thailand dan Singapura dengan kenaikan total kasus positif per tanggal yang sama kurang dari 10 orang. Namun, kehidupan bukan hanya tentang saling membandingkan mana yang baik dan yang buruk karena dunia kala ini memang sedang tidak baik-baik saja. Semua orang tanpa terkecuali berlomba-lomba saling mengeluh dan saling klaim kalau dirinya lah yang paling menderita. Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh bumi membuat masyarakat seakan-akan dikurung dan diberi pelajaran oleh alam bahwa seharusnya sesama makhluk ciptaan Tuhan harus saling menghargai. Pada dasarnya manusia sedang ditegur oleh Sang Pencipta bahwa kita memang bukanlah segalanya. Terlepas dari banyak yang percaya bahwa ini konspirasi atau bukan, manusia memang harus melihat sisi lain dari kejadian ini. Semua sektor kehidupan tanpa terkecuali mendapatkan dampak yang buruk dari pandemi Covid-19. Dari sektor ekonomi, dilansir dari www.kompas.com, sangat jelas bahwa defisit anggaran pada kuartal III adalah Rp 500,5 triliun dan pada kuartal sebelumnya pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai minus 5,07%. Tidak ada yang tidak menderita dari sisi ekonomi, mulai dari individu, UMKM, dan perusahaan besar pasti terdampak dari kejadian ini. Di sektor sosial dan budaya, pekerja seni seakan mati suri. Contoh nyatanya adalah wisatawan Bali yang anjlok hingga 81% pada bulan September lalu. Di sektor pendidikan, menteri pendidikan dan kebudayaan RI, Nadiem Makariem, menerbitkan Permendikbud no 719/P/2020 mengenai pelaksanaan kurikulum pada kondisi khusus yaitu pelaksanaan pendidikan jarak jauh dan penyesuaian pelaksanaan pembelajaran pada masa adaptasi kebiasaan baru.

Fakta-fakta lainnya juga menggambarkan bahwa tidak ada manusia yang tidak mengalami dampak dari pandemi Covid-19. Dikutip dari laman tirto.id bahwa studi yang dilakukan Jill Newby dari South Wales University mengungkapkan bahwa krisis mental karena pandemi meningkat sebesar 22%. Bekerja dan belajar dari rumah membuat kita tersadar bahwa terkadang rumah bukan tempat yang harus selalu disinggahi. Banyak kasus seperti stres, depresi, dan quarter life crisis dialami pada kalangan milenial. Anak-anak kecil merasakan cultural lag ketika mereka melakukan pembelajaran online dan juga orang tua khususnya ibu juga harus berusaha ekstra untuk mengajar dan mendidik anak-anaknya untuk belajar dari rumah. Padahal tidak semua ibu menjadi ibu rumah tangga, ada yang bertani, ada yang mengajar, ada yang berkarir, dan bahkan ada yang menjadi orang tua tunggal. Kemudian, media yang berlomba-lomba memberitakan Covid-19 justru memberikan ketakutan pada masyarakat. Pengangguran akibat PHK massal dengan alasan dipekerjakan dari rumah membuat para pekerja semakin khawatir akan nasibnya. Warung-warung makan pinggir jalan yang dirazia dan disemprot dengan water cannon membuat para pedagang cilik ini takut dan malu karena seakan-akan tidak mempunyai harga diri walaupun dengan alasan kebaikan bersama.

Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang kuat, homo homoni lupus seperti yang diisyaratkan oleh Thomas Hobbes bahwa nafsu yang paling kuat dari manusia adalah mempertahankan diri. Namun, manusia juga makhluk yang lembut, mempunyai empati, dan penuh kasih sayang. Pandemi Covid-19 membuat setiap manusia menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri dan untuk sesamanya. Berjuang untuk melawan mental breakdown, insecurity, stres,danrasa takut. Manusia merupakan mahkluk yang kuat, buktinya kita selalu bisa melewati setiap masalah yang ada. Bukan hanya dokter saja yang dicap sebagai pahlawan kemanusiaan tetapi kita sebagai manusia itu sendiri yang merupakan pahlawan sesungguhnya. Setiap tindakan mempunyai alasan sendiri, kita tidak bisa menilai buruk orang yang keluar dari rumah karena dengan itu ekonomi akan tumbuh. Kita juga harus berjuang bersama dengan para front liner agar musibah ini dapat diatasi secara cepat. Yang hanya kita bisa lakukan adalah berjuang untuk diri kita sendiri dan membantu orang lain agar bersama-sama menghadapi situasi ini. Hari Pahlawan tidak hanya pada sepuluh November saja, tetapi pada apa-apa saja yang kita perjuangkan setiap hari untuk kebaikan. Oleh karena itu, semangat Hari Pahlawan membuat kita sadar bahwa sejatinya kita adalah pahlawan diri kita sendiri.

Mengenal Langkah Membangun Bisnis melalui Webinar Nasional YEP

Oleh: Fitri Widyaningrum

Minggu (08/11/2020) – Telah dilaksanakan Webinar Nasional Young Enterpreneur Project (YEP) oleh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) pada pukul 13.00 WIB melalui platform Zoom. Webinar kali ini mengusung tema “Set Your Mind be Creative, Collaborative, and Create Your Own Business”. Sejalan dengan tema, webinar yang diselenggarakan HIPMI tersebut memiliki tujuan mengajak dan membangkitkan kembali semangat para generasi millenial untuk terjun langsung ke ranah dunia bisnis. Selain itu, acara ini juga menghadirkan dua pembicara yang cukup menarik yakni Indrayana Girindra Putra selaku founder Monolouge Caffe, KARSA Consultant, Kala Creative Agency dan Wulan Rudy Prasetyo S.E sebagai owner dariRudy Farm, PT Sinar Pahala Utama RPA Pabrik Ayam Frozen, sekaligus sebagai Bendahara HIPMI.

Webinar dibuka oleh Muhammad Khairunna’im selaku moderator, dengan membacakan beberapa peraturan bagi partisipan selama mengikuti acara. Beberapa peraturan tersebut diantaranya terkait absensi, ketentuan pakaian bagi peserta yang mengaktifkan video, mekanisme pengajuan pertanyaan saat sesi tanya jawab, larangan untuk spam chat serta tidak diperkenankan mengirimkan pesan yang berbau SARA dan diluar topik webinar. Selanjutnya, peserta diberikan waktu beberapa menit untuk absensi terlebih dahulu sebagai salah satu persyaratan guna mendapatkan e-sertifikat. Kemudian masuk ke sesi inti yaitu pemaparan materi yang akan disampaikan oleh kedua pembicara yang telah hadir.

Tujuh Langkah Membangun Bisnis

Setiap orang memiliki alasan berbeda dalam menjalanankan setiap bisnis yang mereka lakukan. Ada orang yang berbisnis karena keperluan, sebuah tren, belajar, dan lain sebagainya. Namun, apapun alasannya tidak ada alasan terbaik, terburuk, salah, ataupun paling benar sebagaimana harus diikuti seseorang sebelum menjalakan sebuah bisnis. Girindra sendiri mengungkapkan bahwa ia memposisikan bisnis untuk belajar, belajar menghargai orang lain, manajemen waktu, menentukan prioritas bahkan dituntut untuk belajar keuangan, operasional, diplomasi, dan sebagainya. Selanjutnya, Girindra menjelaskan bagaimana perbedaan antara dagang dan bisnis, yang mungkin selama ini sebagian orang masih menganggap sama padahal sebenarnya kedua kegiatan itu sangat berbeda. Kemudian, yang tidak kalah penting dalam membangun bisnis ialah perlunya memperhatikan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan untuk memulai bisnis.

Terdapat tujuh langkah membangun bisnis yang telah Girindra paparkan, diantaranya adalah start with “why”, find your team, research & knowledge, plan your idea, capital, drive your business, evaluate. Pada pembahasan ini, Girindra menekankan mengapa evaluasi itu penting. “Ada pepatah yang mengatakan jangan menganggap emas karena orang itu lebih tinggi, jangan menganggap kotoran ketika orang itu lebih rendah. Artinya apa? Artinya ketika temen-temen lagi ngobrol sama orang yang bisnisnya gede dia bilang A, belum pasti itu bener,” ujarnya. Terakhir, Girindra pun memberikan beberapa kunci sukses dan penjelasan seberapa pentingnya kita memiliki pola pikir yang baik ketika ingin, hendak, bahkan sedang menjalankan sebuah bisnis.

Peliknya Merintis Bisnis dari Nol

Berbeda dengan topik pembahasan yang disampaikan oleh pembicara pertama mengenai teori dalam berbisnis, Rudy sebagai pembicara kedua lebih banyak menyampaikan perihal pengalaman ia berbisnis selama ini. Dimulai semenjak ia duduk di Sekolah Dasar (SD), dulu ia memiliki cita-cita ingin memiliki truk besar sampai akhirnya saat ini ia memiliki perusahaan dan keinginannya dapat terwujud. Kemudian pengalaman ia menjual permen di sekolah. Rudy mengakui bahwa rintangan pasti ada, ketika masih SD yang pada saat itu teman-temannya masih belum paham apa itu namanya untung ataupun laba hasil berjualan. Mereka menganggap bahwa Rudy telah berbuat curang karena menaikan harga bahkan dituduh mencuri karena mereka tau setelah Rudy berjualan pasti akan mendapatkan keuntungan berupa uang. Setelah itu, ia menceritakan secara singkat perjalanannya merintis beberapa bisnis yang sedang digeluti sekarang ini. Ada satu pesan dari seseorang yang selalu Rudy ingat. “Petuahnya ini sangat unik dan buat saya selalu teringat, waktu itu beliau bilang ke saya. Rud, kalau kamu besok besar dapat uang sepuluh ribu, berapa uang yang kamu buat jajan? Anak kecil kelas dua SD diomongin kayak gitu, terus saya tanya balik. Lha mbah baiknya berapa? Cukup dua ribu saja buat jajannya. Lha terus sisanya buat apa kok pelit-pelit amat? Yang delapan ribu untuk modal kerja berikutnya,” ungkapnya. Menurut Rudy kata-kata itu sangat luar biasa dan dijadikan pedoman saat ia berbisnis.

Di penghujung acara terdapat sesi tanya jawab yang dipimpin oleh moderator. Antusiasme begitu terlihat dari banyaknya peserta yang bertanya. Mulai dari meminta saran atau solusi terkait kendala yang sedang mereka hadapi ketika menjalankan bisnis, bertanya seputar bisnis yang sedang tren saat ini, dan lain-lain. Bahkan karena keterbatasan waktu, masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab.

Kajian Kampung Hati Spesial “Pemuda Tangguh Tetap Kuat Walau Pandemi Menyerang”

Oleh: Diah dan Sulis

Rabu (28/10/2020) – Telah dilaksanakan webinar Mizan Activity 2020 Kajian Kampung Hati Spesial yang diselenggarakan oleh organisasi Mizan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro pada pukul 12.30 WIB melalui platform Zoom. Kajian online ini mengangkat tema “Pemuda Tangguh tetap Kuat Walau Pandemi Menyerang”. Acara ini dihadiri oleh Wakil Dekan yaitu Warsito Kawedar dan juga Ahmad Syakir Kurnia selaku pembina Mizan FEB Undip. Peserta yang hadir dalam platform Zoom ini tercatat 103 partisipan yang berasal dari berbagai daerah dan juga berasal dari luar Universitas Diponegoro salah satunya Universitas Negeri Yogyakarta. Dalam sambutan ketua Mizan FEB Undip, diharapkan para peserta kajian online ini dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat.

Acara ini dimulai dan dipandu oleh pembawa acara yaitu Sulhan Efendi dengan rangkaian yang pertama menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dilanjutkan tilawah oleh saudara Fakhri. Setelah itu, sambutan dari ketua panitia yaitu Disa I Tjokrowardjoyo, kemudian dilanjut oleh ketua Mizan yaitu Firdaus Azhardi. Tak lupa sambutan dari Ahmad Syakir Kurnia selaku pembina Mizan dan Warsito Kawedar selaku wakil dekan FEB juga membuka webinar kajian online ini. Setelah sambutan demi sambutan berlalu, beralih ke acara inti dengan pembicara Ustad Adi Darmawan yang merupakan dosen di Departemen Kimia Fakultas Sains dan Matematika serta dimoderatori oleh Yana sopiana Nurfarizat, mahasiswa Fakultas Sains dan Matematika.

Dalam acara inti, ustad Adi Darmawan menjelaskan pemuda yang beriman. Ustad Adi juga menjelaskan sifat yang terdapat pada pemuda yaitu dinamis, kuat dan idealis. Penjelasan tentang pemuda tersebut didasari pada surah Al Kahfi yang sering disebut ashabul kahfi. Ashabul kahfi ini adalah 7 pemuda beriman yang melarikan diri demi menjaga keimanannya kemudian tertidur di dalam goa selama 309 tahun. Pemuda yang memiliki motivasi akhirat dapat dikategorikan sebagai pemuda yang beriman. Motivasi akhirat itu adalah mementingkan akhirat daripada duniawi. “Sesungguhnya akhirat itu lebih kekal dan lebih abadi, ” kata Ustad Adi Darmawan. Ustad Adi juga menjelaskan surah an Nur yang mana yang beriman akan diberi petunjuk akan kebenaran.

Iman tergantung pada keteguhan masing-masing manusia. Diibaratkan, kita manusia seperti gelas yang terisi air. Ada gelas yang terisi hanya satu atau dua tetes, ada yang terisi air seperempat gelas, ada yang terisi air setengah gelas dan juga ada yang terisi air penuh satu gelas. Dari perumpamaan tersebut, iman terdapat pada setiap manusia hanya saja berbeda volume antara manusia satu dengan yang lain. Di akhir penjelasannya, beliau berpesan untuk memanfaatkan usia muda ini dengan amalan-amalan yang baik dan berkontribusi yang baik untuk negeri ini.

Sebelum acara berakhir, terdapat sesi tanya jawab yang mana peserta sangat antusias mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Ustad Adi Darmawan. Rangkaian acara demi acara telah selesai, kemudian pembawa acara menutup acara tersebut sekitar pukul 15.00 WIB.

Memaknai Sumpah Pemuda bagi Pelajar di Era Milenial

Oleh: Marsha

sumber: unsplash.com/@hobiindustri

Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan hari kedua dilaksanakannya kongres pemuda, sebagaimana menghasilkan beberapa keputusan yang menegaskan cita-cita akan “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”. Tiga janji tersebut merupakan salah satu tonggak sejarah bangsa Indonesia dalam mengawali kesadaran kebangsaan. Kemudian pada tahun-tahun berikutnya, setiap tanggal 28 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Tujuannya ialah untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah menyatukan bangsa dan menjadi pengingat bahwa sejatinya penduduk bangsa Indonesia adalah satu kesatuan, yaitu Indonesia.

Hari Sumpah Pemuda seharusnya dimaknai dengan khidmat oleh seluruh kalangan masyarakat Indonesia. Utamanya adalah para pelajar, yang merupakan wajah bangsa di masa depan. Namun, di era digitalisasi ini yang mana internet menjadi konsumsi sehari-hari bagi pelajar merupakan salah satu faktor yang menjadikan kurangnya pelajar dalam memaknai Sumpah Pemuda. Hal ini bisa saja terjadi karena ketidaktahuan mengenai bagaimana cara mereka dapat memaknai sumpah pemuda di zaman yang modern seperti ini. Tentu saja, dalam memaknai Sumpah Pemuda tidak hanya direnungkan, melainkan perlu adanya tindakan yang positif agar apa yang diperjuangkan dahulu dapat terus dipetahankan sampai nanti. Untuk itu, ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh pemuda atau pelajar milenial untuk memaknai Sumpah Pemuda, yaitu:

  1. Saling menghormati dan menghargai sesama
    Saat ini, isu toleransi menjadi topik hangat yang sering diperbincangkan baik di media sosial maupun dunia nyata. Banyak sekali kasus intoleransi yang masih terjadi di Indonesia. Namun juga banyak pasang mata yang peduli dan aktif menyuarakan toleransi. Sebagai pelajar yang cerdas, tentunya harus dapat menghormati dan menghargai orang lain. Hal ini bisa dimulai dari menghormati orang disekitar, orang yang berbeda jenis kelamin, orang yang berbeda agama, orang yang berbeda pemikiran, dan perbedaan-perbedaan lain yang sebenarnya merupakan sebuah kesatuan. Dengan menumbuhkan rasa saling menghormati, diharapkan dapat memupuk kembali rasa persatuan bangsa dan meminimalisir berbagai kejadian yang berpotensi memecah belah bangsa.
  2. Menggunakan produk dalam negeri
    Para pelajar yang tentunya lebih paham dan update mengenai produk-produk tertentu seperti fashion, elektronik, dan lainnya, seringkali lebih tertarik dan lebih sering menggunakan produk luar negeri. Mungkin masih banyak yang menganggap remeh produk buatan dalam negeri. Bisa jadi juga, karena produk dalam negeri dianggap memiliki kualitas yang kurang bagus dibanding produk luar negeri, ataupun karena faktor gengsi. Untuk itu, dalam memaknai Sumpah Pemuda, pelajar harus lebih menghargai dan lebih sering memakai produk dalam negeri guna meningkatkan rasa cinta terhadap tanah air. Selain meningkatkan rasa cinta tanah air, para pelajar juga dapat meningkatkan apresiasi terhadap UMKM sebagai penopang perekonomian masyarakat.
  3. Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar
    Di era sekarang, banyak dijumpai pelajar Indonesia yang lebih sering menggunakan bahasa-bahasa gaul ataupun bahasa asing untuk berkomunikasi sehari-hari. Sering juga ditemukan kesalahan-kesalahan dalam penulisan atau pengucapan kata dan kebingungan mengenai cara menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal ini merupakan keprihatinan yang mendalam mengingat bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi negara. Bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu yang harus dibanggakan dan jangan sampai disepelekan.
  4. Menyebarkan pesan positif
    Penggunaan media sosial merupakan hal yang sangat umum di era sekarang. Banyak pelajar dari sekolah dasar sampai mahasiswa yang sudah menggunakan media sosial. Tentunya media sosial diharapkan menjadi salah satu media bagi pelajar untuk menyebarkan pesan yang positif di mana saja dan kapan saja. Dengan menyebarkan pesan positif, akan menimbulkan dampak yang cukup besar bagi masyarakat. Hal ini sangat cocok untuk menyebarkan kembali semangat Sumpah Pemuda, yakni bertanah air satu, Indonesia.
  5. Mempelajari budaya yang ada di Indonesia
    Masa remaja merupakan masa dengan rasa keingintahuan sangat tinggi dan tahap untuk mencoba beberapa hal yang baru. Untuk itu, masa ini merupakan tahap yang tepat bagi pelajar untuk mempelajari budaya bangsa dan mengenal lebih jauh mengenai kebudayaan Indonesia. Terlebih dengan bermacam-macamnya kebudayaan yang dimiliki bangsa, menjadikan proses belajar budaya tidak membosankan dan lebih bervariasi.
  6. Menanamkan rasa bangga terhadap tanah air
    Cara lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan menanamkan dan menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap tanah air kepada para pelajar. Dengan banyaknya keberagaman budaya, kekayaan alam, keramahan masyarakatnya, dan prestasi para penduduknya, merupakan beberapa alasan kenapa pelajar harus cinta kepada Indonesia. Penanaman rasa bangga dan cinta kepada tanah air kepada pelajar merupakan hal yang vital, mengingat pelajar adalah harta negara yang harus dididik dengan benar agar selalu bisa memperjuangkan bangsanya.

Mengenal Potensi Diri melalui Webinar Explosion 2020

Oleh: Erva

Sabtu (24/10/2020) – Telah berlangsung Webinar Nasional Explosion yang diselenggarakan secara online melalui platform Zoom Meeting oleh Himpunan Mahasiswa Departemen Akuntansi (HMDA) atau yang biasa disebut Keluarga Mahasiswa Akuntansi (KMA) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip). Acara ini berlangsung selama dua hari yakni pada hari Sabtu 24 Oktober 2020 dan Minggu 25 Oktober 2020. Explosion 2020 mengusung tema “Heat up Your Passion Make it Into Motion”. Dalam seminar kali ini menghadirkan empat pembicara yaitu Iyas Lawrence (Founder & Host @maknatalks), Nadhifa Allya Tsana (Writer, Digital Creator, RINTIK SENDU), Sayed Muhammad (Founder & CEO of USS NETWORKS), dan Fitra Eri (Journalist, Car Review, Race Car Driver, OTODRIVER).

Acara ini diawali dengan pembukaan oleh MC, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Sakadewa Senajati selaku ketua pelaksana Explosion 2020, dilanjutkan oleh Hizkia Efraldo Saragih sebagai Ketua Umum HMDA FEB Undip, dan yang terakhir sambutan dari Kepala Departemen Akuntansi FEB Undip yakni Agung Juliarto. Selanjutnya adalah sesi pemaparan materi yang dipimpin oleh moderator untuk keempat pembicara. Explosion 2020 ini tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa Undip saja, melainkan dari berbagai kalangan di luar Undip yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai passion.

Pada sesi pertama dan kedua dilaksanakan pada Sabtu 24 Oktober 2020. Dalam sesi pertama ini dimoderatori oleh Anggi Rin yang merupakan founder @hersphere_ dan pembicara untuk sesi pertama yaitu Iyas Lawrence, founder & host dari @maknatalks. Pada sesi pertama ini memiliki kategori “Inspiring Talks in Personal” dan mengangkat tema “Life is’nt About Finding Yourself but Creating Yourself”. Iyas Lawrence memberikan tanggapan mengenai pentingnya jiwa kepemimpinan bagi setiap individu dan menjelaskan apresiasi bagi diri sendiri dalam menghadapi setiap fase kehidupan yang dijalani.

Kemudian pada sesi kedua dimoderatori oleh Herfin Angelina, penerima Beswan Djarum Plus 2020, dan pembicara dalam sesi kedua yaitu Nadhifa Allya Tsana, seorang penulis dan digital creator. Pada sesi kedua berkategori “Visualizing Passion in The Middle of Disruption Era” dan bertema “Passion as an Intense, Powerful Devotion and Interest in Something”, Nadhifa Allya Tsana atau yang biasa disapa Tsana ini memberikan cerita atas upaya bagaimana dirinya tetap dapat berkarya di tengah kondisi new normal dan bagaimana cara untuk menemukan peluang atau kegiatan baru pada saat terkendala pandemi ini dan memberikan gambaran secara luas mengenai kekurangan dan kelebihan bekerja sesuai passion diri serta memberikan arahan dalam memanfaatkan segala bentuk opportunity untuk proses meningkatkan kualitas diri (self-improvements) untuk mendukung pengembangan passion yang dimiliki para generasi muda.

Pada sesi ketiga dan keempat dilaksanakan pada Minggu 25 Oktober 2020. Dalam sesi ketiga, pembicaranya adalah Sayed Muhammad, founder & CEO dari USS Networks, dan dimoderatori oleh M. Irham Abdurahman, co founder dari Kost Clink. Sesi ketiga mengangkat tema “What is the most powerful ability for facing this era ?” dan berkategori “Entrepreneur”. Dalam sesi tersebut Sayed menjelaskan pengalamannya dalam memulai bisnis dan membangun USS Networks. Sayed juga berbagi kiat-kiat dalam berbisnis seperti bagaimana cara memilih partner, perlunya passion dalam berbisnis, dan jangan takut untuk gagal. Sayed juga berpesan selagi masih muda cobalah segala hal yang untuk menghabiskan kegagalan di saat muda.

Kemudian sesi terakhir diisi oleh Fitra Eri, yang seorang jurnalis, car review, dan pembalap. Sesi ini dimoderatori oleh Rivaldo Gere Gurky, partner at share & global representative for Indonesia. Pada sesi terakhir ini mengangkat tema “Finding your true life passion to reach self-actualization” dalam kategori “Live Your Passion”. Dalam kesempatan tersebut, Fitra Eri memaparkan bagaimana ketertarikannya dalam dunia otomotif. Kemudian Fitra juga menceritakan awal mula pengalamannya masuk ke dalam dunia racing hingga memenangkan kompetisi di Malaysia. Selain itu, Fitra juga menjelaskan awal mulanya terjun dalam dunia jurnalis yang menulis seputar otomotif.

Sebelum pemaparan materi di setiap sesinya, moderator akan mengadakan sesi interaktif yang berjudul fakta atau bukan. Jadi, setiap pembicara harus memilih fakta atau bukan dari pernyataan yang diajukan oleh moderator. Setelah pemaparan materi dilanjutkan sesi tanya jawab oleh peserta seminar kemudian dilanjutkan mini quiz di setiap sesinya.

Mengenal Potensi Industri Halal Indonesia melalui Seminar Internasional SEHATI 11

Oleh: Salma Vaza

Sabtu (24/10/2020) – Telah berlangsung International Webinar Sharia Economic Activity (SEHATI) 11 yang diselenggarakan secara online melalui platform Zoom Meeting dan live Youtube oleh Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip). Acara tersebut mengusung tema “Reconstruction of The Halal Industry Towards Indonesia as The Center for Global Islamic Economics”. Dalam penyelenggaraannya, seminar ini menghadirkan tiga pembicara Dr. Irfan Syauqi Beik (Director of Distribution and Empowerment, BAZNAS), Dato’ Prof. Dr. Sudin Haron (President & Chief Executive Officer of Kuala Lumpur Business School), dan Dr. Sutan Emir Hidayat (Director of Islamic Economy Supporting Ecosystem, KNEKS).

Acara ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Rizka Aulia selaku ketua panitia SEHATI 11, dilanjutkan oleh Syarieful Khuluq sebagai ketua KSEI FEB Undip, kemudian disambung oleh Firmansyah selaku Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan FEB Undip. Selanjutnya, terdapat sesi pemaparan materi yang dipimpin oleh moderator untuk tiga pembicara. Seminar internasional ini dihadiri oleh berbagai kalangan baik mahasiswa hingga umum. Jadi, peserta tidak sebatas lingkup Undip saja, melainkan dari berbagai kalangan yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai industri halal di Indonesia.

Acara inti dimulai oleh moderator yaitu Prof. Dra. Indah Susilowati M.Sc., Ph.D. selaku dosen Universitas Diponegoro. Sebagai pembawa materi pertama, Dr. Irfan Syauqi Beik menyampaikan mengenai “Optimalisasi Zakat dalam Pengembangan Industri Halal”. Indonesia berpotensi sebagai pusat ekonomi syariah dunia karena Indonesia memiliki pangsa pasar makanan halal sebesar 13% pada tahun 2018. Pada 2020 Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memiliki target zakat sebesar 12,48 triliun. Adapun peran BAZNAS dalam industri halal diantaranya mendorong sertifikasi halal, melaksanakan industri halal secara berkelanjutan dan mengembangkan pasarhalal.com.

Pemateri kedua yakni Dr. Sutan Emir Hidayat, yang membahas mengenai potensi Indonesia sebagai pusat industri halal terutama saat pandemi. Dalam pemaparan materi, Dr. Sutan Emir Hidayat menyebutkan beberapa sector yang mengalami peningkatan seperti penggunaan aplikasi digital berbasis “halal lifestyle”,online learning, serta peningkatan zakat, infaq, shadaqah (ZISWAF). Peran pemerintah dalam revitalisasi industri halal saat new normal dibutuhkan untuk mengantisipasi adanya goncangan perekonomian saat pandemi.

Pemateri terakhir adalah Dato’ Prof. Dr. Sudin Haron. Pada materi ini, pembahasan mengenai industri halal di Indonesia sangat ditekankan, seperti regulasi peraturan halal, jenis-jenis industri halal, hingga pengembangan sumber daya manusia agar industri halal semakin berkembang di Indonesia.

Setiap sesi pemaparan materi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh peserta seminar dan dijawab oleh pembicara. Diakhir acara diumumkan tiga pemenang Twibbon Challenge. Nantinya akan diadakan Awarding Night pada Sabtu (24/10/2020) malam hari sebagai penutup dari rangkaian acara SEHATI 11. Dalam Awarding Night juga diumumkan pemenang lomba Islamic Economic Olympiad (IEO) dan Sharia Paper Competition (SPACE).

DESIGN 2020 : Strategi Rekonstruksi Ekonomi-Sosial Indonesia Pasca Pandemi Covid-19

Oleh: Susan dan Indah

Sabtu (17/10/2020) – Telah berlangsung Seminar Nasional DESIGN (Diponegoro Economics Social General Discussion) 2020 yang diselenggarakan secara online melalui platform Zoom Meeting oleh Kelompok Studi Masalah Ekonomi dan Sosial (KESMES) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip). Acara tersebut mengusung judul “Strategi Rekonstruksi Ekonomi-Sosial Indonesia Pasca Pandemi Covid-19”. Dalam penyelenggaraannya , menghadirkan tiga pembicara, diantaranya yaitu Drs. Pitoyo Tri Susanto, M. Si. (Kepala Bidang Perencanaan Perekonomian Kota Semarang), Esther Sri Astuti Soeryaningrum Agustin, S. E., M.S.E., Ph.D (Program Director INDEF), dan Sherly Annavita Rahmi (Motivator and Millenial Influencer).

Acara ini dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh peserta yang hadir, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Firmansyah selaku Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan FEB Undip, dilanjutkan oleh Fa’iq Fari sebagai Ketua KESMES 2020, kemudian disambung oleh Okki Alfianto sebagai Ketua DESIGN 2020. Lalu, masuk sesi pemaparan yang dipimpin oleh modetor untuk tiga pembicara. Diakhiri dengan sesi tanya jawab, pengumuman pemenang lomba (esai, presentasi, dan diskusi), dan penutup.
Seminar nasional ini diikuti oleh berbagai kalangan baik dari mahasiswa maupun non mahasiwa. Jadi, peserta tidak hanya sebatas lingkup Undip saja, melainkan dari berbagi bidang yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai keadaan ekonomi pasca pandemi.

Saat memasuki acara inti, dimulai oleh moderator yang memimpin acara, yaitu Yunita Sekarningtyas selaku mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Sebelas Maret. Esther Sri Astuti Soeryaningrum Agustin, S. E., M.S.E., Ph.D (Program Director INDEF) perwakilan dari akademisi, menyampaikan mengenai Strategi Pasca Pandemi. Beliau membiacarakan bagaimana adanya peningkatan kemiskinan akibat Covid-19, kemudian UMKM yang banyak mengalami masalah, serta upaya dalam mengatasi berbagai permasalahan tersebut.

Kemudian, dilanjutkan oleh pembicara kedua yaitu Drs. Pitoyo Tri Susanto, M. Si. (Kepala Bidang Perencanaan Perekonomian Kota Semarang). Beliau membicarakan mengenai strategi pasca pandemi dari sisi pemerintahan. Menurut beliau, kondisi saat ini masih berada di masa yang sulit, sebagaimana pada sisi kesehatan masih bagian dari pemerintah dan disisi lain ada bidang ekonomi yang juga bagian pemerintah. Pemerintah Semarang sendiri mulai meluncurkan Kredit Wibawa, merupakan bantuan bergulir dari dana APBD.

Setelah selesai oleh pembicara kedua, dilanjutkan oleh pembicara ketiga bersama Sherly Annavita Rahmi (Motivator and Millennial Influencer). Pada sesi ini akan membahas secara lebih kekinian dari pandangan millennial. Beliau membicarakan bahwa dari setiap kondisi sulit pasti akan memunculkan sosok baru yakni pemenang dari peristiwa tersebut. Bagimana peran pemuda ke depannya, terutama saat Indonesia memasuki usia satu abad pada 2045. Dalam sesi ketiga ini, pembicara melakukannya lebih santai, sehingga menarik bagi mahasiswa untuk lebih paham bagaimana peran mereka bagi Indonesia terutama saat Covid-19 seperti ini.

Ditegaskan pula oleh Sherly bahwa kaum milenial memegang peranan penting baik di masa krisis pandemi Covid-19 ini maupun di masa yang akan datang. Sangat perlu bagi generasi bangsa Indonesia untuk terus berproses untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan semakin baik ke depannya. Baik pun belum tentu cukup, perlu usaha untuk menuju tahap excellent yang mana di tahap itu setiap generasi bisa menjadi insan yang bermanfaat bagi orang lain di sekitarnya.

Dari setiap sesi akan dilanjutkan secara langsung dengan sesi tanya jawab oleh para peserta seminar. Dan pada sesi terakhir akan diumumkan pemenang lomba Kenesian, yang diperoleh oleh perwakilan dari Universitas Negeri Yogyakarta sebagai juara pertama, Institut Teknologi Bandung sebagai juara kedua, dan Universitas Negeri Surabaya selaku juara tiga, serta sesi penutup.