Perlunya Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh: Mila Sri Utami

Hampir memasuki satu tahun, virus Corona atau Covid-19 melanda ke berbagai negara di dunia salah satunya Indonesia. Adanya virus tersebut mengakibatkan seluruh aktivitas masyarakat mengalami dampak yang cukup besar akibat dari Covid-19. Selama pandemi Covid-19 terdapat sejumlah kebijakan yang perlu ditaati seperti karantina di rumah, Work From Home (WFH) dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sebagaimana kebijakan tersebut berakibat pada beberapa sektor, diantaranya seperti sektor pariwisata mengalami penurunan jumlah wisatawan yang cukup signifikan. Hal tersebut dikarenakan apabila melakukan kegiatan pariwisata dapat berpotensi dalam penularan Covid-19, sehingga masyarakat lebih memilih untuk menunda kegiatan tersebut. Selain itu, pada sektor ekonomi terdapat beberapa perusahaan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan merumahkan para pegawainya, karena perusahaan mengalami penurunan penjualan. Lalu, di sektor pendidikan para tenaga pendidik wajib melakukan metode pembelajaran jarak jauh secara online kepada para mahasiswa maupun para siswa. Adanya metode pembelajaran jarak jauh secara online menyebabkan para siswa mengeluh, karena jumlah tugas yang diberikan lebih banyak dibandingkan pembelajaran secara langsung di sekolah dan terdapat gangguan jaringan koneksi internet selama pembelajaran secara online. Beberapa hambatan tersebut menyebabkan beban pada diri kita sendiri yang berakibat depresi, kecemasan, dan rasa takut serta khawatir. Sehingga di saat seperti sekarang tidak hanya kesehatan fisik saja yang perlu diperhatikan, tetapi kesehatan mental juga perlu mendapat perhatian tersendiri.

Di kala pandemi seperti sekarang ini, perasaan cemas, kesepian, maupun rasa takut menjadi meningkat seiring dengan Covid-19 yang semakin ganas. Dikutip dari survei yang dilakukan oleh Tirto.id, dari 1.522 responden terdapat 64,3 persen yang mengalami masalah psikologis, masalah psikologis yang meningkat dari hasil survei tersebut adalah kecemasan. Kecemasan yang timbul selama pandemi Covid-19 diawali dengan gejala seperti merasakan akan terjadi sesuatu yang buruk, mudah marah dan jengkel, serta sulit untuk relaks. Selain itu, perasaan kesepian juga timbul selama melakukan karantina mandiri. Sedangkan perasaan takut, muncul diakibatkan ketakutan akan potensi kehilangan pekerjaan, takut akan infeksi, maupun takut kehilangan orang terdekat. Sehingga, dukungan secara psikologis di masa-masa pandemi ini sangat dibutuhkan.

Tekanan Emosional Selama Pandemi Covid-19

Covid-19 mengakibatkan tekanan terhadap mental seseorang semakin terpuruk. Contohnya, beberapa orang merasa cemas akibat dari dirumahkan-nya pegawai maupun PHK yang diakukan oleh beberapa perusahaan. Selain itu, kecemasan juga kerap dirasakan oleh beberapa individu karena semakin meningkatnya jumlah orang yang terpapar Covid-19 di Indonesia. Akibat dari kecemasan yang dirasakan oleh sebagian besar orang menyebabkan bertambahnya gangguan tekanan emosional. Bentuk-bentuk gangguan tekanan emosional tersebut seperti perubahan pada pola tidur dan makan, emosi yang tidak stabil, menderita stress dan bosan selama karantina, dan gangguan tekanan emosional berimbas juga pada kesehatan fisik seperti sakit kepala yang berkepanjangan karena beban tekanan emosional. Sehingga, tekanan emosional akibat dampak dari Covid-19 tidak dapat dipandang sebelah mata dan perlu mendapat perhatian.

Perlunya Menjaga Komunikasi

Komunikasi memiliki peran penting dalam memberi dukungan psikologis selama keadaan yang tidak menentu seperti sekarang. Dilansir dari Alodokter.com, meluangkan waktu untuk bercerita mengenai rasa khawatir dan takut yang dirasakan kepada orang tua, sahabat, teman, dan kerabat berdampak pada berkurangnya beban yang dirasakan. Dikala pandemi seperti sekarang sangat sulit untuk bertemu dengan kerabat dari luar kota bahkan, untuk bertemu teman yang masih ada di suatu kota terlihat sulit dikarenakan melonjaknya kasus Covid-19 di setiap daerah di Indonesia. Oleh karena itu, selama pandemi masih berlangsung, dukungan psikologis sangat diperlukan melalui komunikasi memberi dukungan satu sama lain. Meluangkan waktu untuk bercerita mengenai hal-hal yang menimbulkan rasa khawatir dan takut, sehingga tekanan emosional yang dipendam selama ini dapat berkurang. Maka dari itu, menjaga komunikasi dengan orang-orang terdekat sangat diperlukan.

Kiat-Kiat Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi

Di saat pandemi seperti sekarang, banyak masalah dari berbagai aspek mulai menghantui berbagai elemen masyarakat. Tidak jarang, banyak dari mereka mengalami tekanan mental dan kondisi yang tidak stabil. Perlunya menjaga kesehatan fisik memang sudah banyak orang ketahui, tetapi kesehatan mental juga perlu mendapat perhatian tersendiri karena kondisi mental seseorang juga dapat mempengaruhi kondisi fisik yang dialami setiap individu. Di kala keadaan yang semakin tidak menentu perasaan takut dan khawatir akan semakin meningkatnya seiring naiknya jumlah kasus per hari akibat Covid-19.

Perasaan takut dan khawatir akan kondisi pendemi seperti sekarang ini, mengharuskan setiap orang menjaga kesehatan pada diri sendiri, terlebih kesehatan mental yang masih dianggap remeh oleh sebagian besar orang Indonesia. Selain itu, berdasarkan sumber Tempo.co, kekebalan tubuh setiap orang dipengaruhi oleh seberapa besar kepedulian mereka terhadap kesehatan fisik maupun mental. Karena itu, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan setiap orang dalam menjaga kesehatan mental mereka dikala pandemic Covid-19 yang semakin menggegerkan. Seperti menjaga komunikasi dengan kerabat terdekat, melakukan olahraga yang dapat dilakukan di rumah maupun aktivitas fisik lainnya, serta lebih bijak dalam memilih informasi karena berita yang tidak diketahui kebenarannya dapat menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi para penikmatnya. Sehingga dengan menjaga kesehatan mental diharapkan kekebalan tubuh juga meningkat di kala situasi yang semakin tidak terkendali.

Hidup sebagai Penyintas Gangguan Kesehatan Mental di Indonesia

Oleh: Kurnia Wulandari

dok. pixabay

Dalam UU Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Dalam UU yang sama, terdapat definisi ODMK dan ODGJ. Apa itu? Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa. Sedangkan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODG) adalah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia.

Kesehatan mental atau jiwa di masa lalu masih dianggap tabu oleh masyarakat dan banyak stigma yang melekat pada para penyintas mental illness. Di Indonesia sendiri, beberapa penanganan terhadap penyintas mental illness masih belum matang. Beruntunglah, kini sedikit demi sedikit, masyarakat Indonesia mulai sadar akan pentingnya kesehatan mental bagi kehidupan mereka, terutama di kalangan kawula muda. Namun, bagi generasi yang lebih tua, mereka masih belum sepenuhnya paham mengenai pentingnya kesehatan mental ini.

Pemicu Timbulnya Gangguan Kesehatan Mental (Mentall Illness)

Gangguan kesehatan mental adalah kondisi individu yang memiliki gejala-gejala gangguan kejiwaan. Terdapat tiga kategori penyebab gangguan kesehatan mental, yaitu faktor somatogenik, psikogenik, dan sosiogenik.

Faktor somatogenik yang terdiri dari neroanatomi, nerofisiologi, nerokimia, tingkat kematangan dan perkembangan organik, dan faktor-faktor pre dan perinatal. Faktor psikogenik meliputi interaksi ibu-anak yang tidak abnormal seperti tidak adanya rasa percaya, peranan ayah, sibling rivaly, intelegensi, hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat, kehilangan yang menyebabkan kecemasan, depresi, rasa malu atau salah, pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya, dan tingkat perkembangan emosi. Faktor sosiogenik yang di dalamnya terdapat kestabilan keluarga, pola mengasuh anak, keluarga dengan ekspresi emosi tinggi atau rendah, tingkat pendapatan atau ekonomi, tempat tinggal, masalah kelompok minoritas yang berprasangka, fasilitas kesehatan, pendidikan, serta kesejahteraan yang tidak memadai, pengaruh rasial dan keagamaan, dan nilai-nilai yang dijadikan pedoman.

Stigma Masyarakat dan Pentingnya Edukasi Kesehatan Mental

Stigma dalam KBBI berarti ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Stigma berdampak buruk terhadap penyintas mental illness karena mereka sedang berjuang melawan dan berusaha sembuh dari penyakitnya, tetapi juga mendapatkan labelling negatif dari masyarakat. Mereka yang tak paham, sering kali menganggap sepele mental illness. Tak ayal, perkataan seperti, “kamu kurang ibadah” atau “kamu saja yang terlalu sensitif” justru membuat para penyintas takut untuk bersuara, takut untuk terbuka terhadap publik apa yang mereka rasakan. Padahal, mereka justru lebih membutuhkan perhatian dan perlu tempat untuk didengarkan keluh kesahnya, dan juga butuh dukungan agar ia lekas sembuh.

Salah satu cara untuk mengatasi stigma ini adalah dengan cara edukasi. Kini, telah banyak kampanye mengenai pentingnya kesehatan mental, terutama di media sosial. Menurut Hartini, dkk (2018), merekomendasikan sebuah pendekatan psikososial untuk menguragi stigma masyarakat terhadap pasien gangguan kesehatan mental, salah satunya dengan meningkatkan literasi mengenai kesehatan mental. Literasi kesehatan mental penting dilakukan karena kurang pengenalan terhadap gejala gangguan mental, adanya kesenjangan antara keyakinan publik dan profesional terhadap penanganan gangguan mental, stigma,dan rendahnya kemampuan dalam keterampilan merespon orang lain dengan gejala gangguan atau krisis mental dan kekeliruan dalam mencari bantuan untuk penanganan gangguan mental (Jorm et al., 2006).

Jorm (2000) memperkenalkan istilah “literasi kesehatan mental” dan mendefinisikannya sebagai pengetahuan dan keyakinan mengenai gangguan mental yang membantu pengenalan, manajemen, atau prevensi. Berdasarkan definisi sebelumnya dan pengembangan konstrak literasi kesehatan mental dalam berbagai penelitian, saat ini literasi kesehatan mental didefinisikan sebagai: (a) pemahaman cara memeroleh dan menjaga kesehatan mental positif; (b) pemahaman gangguan mental dan penanganannya; (c) pengurangan stigma terkait gangguan mental; dan (d) meningkatkan efikasi pencarian pertolongan (mengetahui kapan dan di mana mencari pertolongan dan mengembangkan kompetensi untuk meningkatkan perawatan kesehatan mental seseorang dan kemampuan manajemen diri) (Kutcher, Wei, & Coniglio, 2016).

Internet dan Bahaya Self-Diagnose

Meningkatnya literasi kesehatan mental baik untuk mengurangi stigma masyarakat, tetapi kemudian hal ini menimbulkan masalah baru. Informasi mengenai kesehatan mental kini mudah diakses di internet seperti gejala dan ciri-cirinya. Dengan menemukan informasi yang mereka inginkan di internet, mereka merasa tidak perlu mendatangi ke tenaga profesional untuk penanganan lebih lanjut. Belum lagi jika kredibilitas informasi yang didapat masih perlu dipertanyakan, ditakutkan pula dapat terjadi salah tafsir terhadap informasi tersebut. Kesalahan diagnosis dapat membahayakan jiwa seseorang, oleh karena itu diagnosa profesional lebih valid dibandingkan dengan informasi yang tersedia di internet.

Seorang juru bicara dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS memperingatkan, “Mencoba mendapatkan informasi dari internet seperti minum dari pemadam kebakaran, dan Anda bahkan tidak tahu apa sumber airnya.” Bagaimanapun, internet dapat terlibat dalam “validasi dari gangguan kejiwaan serius sebagai hal yang normal.’” Salah satu hal yang menarik perhatian adalah dalam mencari informasi dalam internet mungkin tidak memahami informasi yang disajikan kepada mereka itu benar atau tidak dan mencoba perawatan yang mungkin membahayakan mereka, daripada mengunjungi pemberi perawatan utama (Cline & Haynes, 2001).

Sumber Referensi:

Gass, M. A. (2016). Risks and Benefits of Self-Diagnosis Using the Internet.

Hebben, L. (2019). # mentalhealth: The effect of influencer messages on burnout self-diagnosis and the intention to act (Master’s thesis, University of Twente).

Novianty, A. (2017). Literasi Kesehatan Mental: Pengetahuan dan Persepsi Publik mengenai Gangguan Mental Literacy of Mental Health: Knowledge and Public Perception of Mental Disorders.

Putri, A. W., Wibhawa, B., & Gutama, A. S. (2015). Kesehatan mental masyarakat Indonesia (pengetahuan, dan keterbukaan masyarakat terhadap gangguan kesehatan mental). Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 2(2).

Republik Indonesia (2014). Undang–Undang No 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa. Jakarta: Kesekretariatan Negara.

Mahasiswa Undip Lakukan Konsolidasi untuk Aksi Tolak UU Cipta Kerja

Oleh: Fitri dan Rijal

Selasa (06/10/2020) — Telah dilaksanakan Konsolidasi Undip Raya:  Tolak RUU Cipta Kerja oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Diponegoro (BEM Undip). Konsolidasi yang awalnya dijadwalkan dimulai pukul 19.30 WIB, dimundurkan hingga satu jam dikarenakan kendala teknis yang dialami oleh panitia. Melalui aplikasi Zoom, acara ini dihadiri sekitar kurang lebih 500 partisipan dari berbagai fakultas yang ada di Undip. Selain di platform Zoom, acara ini ditayangkan secara live streaming pada channel YouTube BEM Undip dan sempat menyentuh angka 1.500 penonton. Selain itu, acara ini dihadiri langsung oleh ketua BEM Undip tahun 2020 yakni Razin Hilmy Baihaqi.

Konsolidasi dibuka oleh Alimullah dari Fakultas Teknik selaku moderator dengan pembacaan rules bagi para partisipan di zoom serta penjelasan mengenai gambaran saat ini mengenai RUU Cipta Kerja yang sudah disahkan menjadi UU Cipta Kerja oleh DPR pada 5 Oktober lalu. Dilanjutkan dengan penjelasan oleh Hilmy selaku ketua BEM Undip mengenai gambaran yang terjadi di lapangan. Pertama bahwa telah disahkannya UU Cipta Kerja yang mana terdapat 6 fraksi yang setuju, 1 fraksi yang setuju dengan syarat, dan 2 fraksi menyatakan tidak setuju. Lalu, yang kedua akan ada aksi mahasiswa bersama buruh atas nama aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (Geram) di Semarang. Aksi tersebut dimulai pukul 10.00 WIB yang diawali di Pelabuhan Tanjung Mas hingga titik akhirnya berada di Kantor Gubernur Jawa Tengah. Selanjutnya yang ketiga adalah sudah dilaksanakan konferensi pers aliansi Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak) melalui Zoom pada tanggal 4 Oktober yang berpusat di Jakarta. Inti bahasan dari konferensi pers Gebark tersebut adalah tanggal 6, 7, dan 8 Oktober akan ada pemogokan kerja yang dilakukan oleh semua buruh di Indonesia, serta tanggal 8 Oktober akan ada aksi nasional Gebrak di Istana/DPR yang masih dirumuskan.

Diskusi Terkait Teknis Pelaksanaan Aksi

Konsolidasi lalu dilanjutkan dengan diskusi mengenai tuntutan dan kajian yang akan disampaikan pada aksi mahasiswa dan Geram pada 7 Oktober nanti. Akan tetapi, banyak yang berpendapat bahwa lebih baik untuk langsung membahas mengenai teknis aksi yang akan dilakukan keesokan harinya karena konsolidasi ini bukan waktunya mengkaji lagi dan berbagai kajian UU Cipta Kerja sudah bertebaran di mana-mana. Hilmy juga menyampaikan bahwa selain aksi offline, juga terdapat aksi online yang dilakukan dengan mengangkat hashtag #BatalkanOmnibusLaw #JegalSampaiBatal #DiponegoroBergerak pada caption dan ditambahkan beberapa tuntutan seperti menolak omnibus law dan mendesak presiden membuat perpu untuk membatalkan omnibus law.

Diskusi mengenai teknis aksi offline cukup panjang mengingat banyaknya yang harus dipersiapkan mulai dari koordinator fakultas, titik kumpul, jam kumpul, dan lain-lain. Ditambah pula saat ini masih terjadi pandemi Covid-19 yang mana protokol kesehatan juga tetap harus dilaksanakan.

Penjelasan yang keempat oleh Hilmy adalah tanggal 5 Oktober sudah dilaksanakan secara bersamaan konsolidasi Geram dan konsolidasi BEM seluruh Indonesia. “Nah, tentu Undip sebagai salah satu Universitas terbesar di Jawa Tengah maupun di skala nasional perlu segera menurut saya pernyataan sikap poin-poin tuntutan, kemudian kejelasan apakah besok kita akan ikut aksinya. Tentu saya mengajak kawan-kawan untuk merumuskan itu secara saksama karena memang kawan-kawan buruh di Jawa Tengah dengan atas nama aliansi Geram sangat menunggu partisipasi dari kawan-kawan untuk ikut aksi turun ke jalan besok untuk terus merapatkan barisan,” ungkap Hilmy.

Hasil Konsolidasi

Aksi online disepakati bahwa akan ada konten yang diangkat pada tanggal 7 dan 8 Oktober pukul 18.00-22.00 WIB dengan beberapa tagar yang telah ditentukan, yang dikoordinasikan langsung oleh Sospol Undip dan fakultas masing-masing. Dalam konsolidasi tersebut disepakati bersama bahwa untuk aksi offline membersamai aliansi Geram akan dilaksanakan di Kantor Gubernur Jawa Tengah pada tanggal 7 Oktober pukul 09.00 WIB dengan titik kumpul mahasiswa ada di Student Center.

Melalui unggahan BEM Undip pada instagram, adapun beberapa protokol kesehatan yang harus dipatuhi saat melakukan aksi pada hari ini nanti, yakni diantaranya:

  1. Menggunakan baju lengan panjang dan almamater. Menimalisiskan bersentuhan.
  2. Memakai masker dengan benar (menutup hidung dan mulut) selama aksi berlangsung. Membawa masker pengganti, karena maksimal penggunaan masker kain hanya 4 jam.
  3. Memakai sepatu bertutup.
  4. Usahakan menggunakan sarung tangan.
  5. Wajib membawa handsanitizer.
  6. Menerapkan Physical Distancing minimal 2 meter dan saling mengingatkan.
  7. Setelah aksi, tidak mampir ke tempat lain. Langsung kembali ke tempat tinggal masing-masing, kemudian membersihkan baju dan mencuci pakaian yang digunakan saat aksi.
  8. Diusahakan mengisolasi diri setelah aksi.

We Are Kinetika 2020: Webinar dan Bedah Majalah Kinetika 56 Seputar Covid-19

Oleh: Khaira dan Indah

Telah berlangsung We Are Kinetika 2020 yang diselenggarakan secara online melalui media Zoom Meeting oleh LPM Kinetika Undip pada hari Minggu, 27 September 2020. Acara yang diselenggarakan setiap tahun tersebut mengusung webinar yang berjudul “The Importance of Mass Media for COVID-19 Pandemic” dan Bedah Majalah Kinetika Edisi ke-56. Dalam penyelenggaraan We Are Kinetika tahun ini, LPM Kinetika mengahadirkan tiga pembicara, di antaranya yaitu dr. Gamal Albinsaid, M.Biomed selaku guest star dalam We Are Kinetika 2020 yang juga merupakan CEO Indonesia Medika, Prof. Dr. Andri Cahyo Kumoro, S.T., M.T. yang merupakan dosen Teknik Kimia Universitas Diponegoro , dan Gregorius Rionugroho Harvianto, Ph.D seorang Senior Research Engineering dan lulusan jenjang doktoral dari Yeungnam University.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara, diikuti dengan sambutan ketua pelaksana We Are Kinetika 2020, Carolina Wida Pertiwi dan ketua LPM Kinetika, Sadam Arrois. Acara dilanjutkan dengan bedah Majalah Kinetika 56 yang disampaikan oleh Vincent Felix selaku Pemimpin Redaksi beserta Lauerentia Reina dan De Caluwe, Elice Zoraya selaku Pemimpin dan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Kinetika 56.

Majalah Kinetika 56 yang mengangkat tema “Medical World Around Covid 19” berfokus pada aplikasi dan penerapan ilmu dalam dunia medis. Majalah ini terdiri dari dua puluh sub topik yang dikupas dari berbagai sudut pandang seperti sudut pandang teknik kimia, industri, dan sudut pandang masyarakat yang bertujuan agar Majalah Kinetika lebih mudah dipahami oleh masyarakat umum.

Setelah Bedah Majalah Kinetika 56, acara dilanjutkan dengan talk show bersama ketiga pembicara, diawali dengan Prof. Dr. Andri Cahyo Kumoro, S.T., M.T. yang mengulas mengenai Superadsorbent Polymer (SAP) untuk makanan dan obat-obatan. Topik ini dipilih karena berhubungan dengan kondisi pandemi yang berlangsung saat ini yang mendorong masyarakat agar lebih peduli dan sadar akan kesehatan.

Talkshow kemudian dilanjutkan dengan pembicara kedua, yaitu Gregorius Rionugroho Harvianto, Ph.D. Pada saat talk show, Gregorius, yang menamatkan jenjang doktoralnya di Yeungnam University, berbagi pengalamannya dan tips dalam berjuang untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri . Pembicara yang berprofesi sebagai Senior Research Engineering di Benit M Co., Ltd. ini menyampaikan bahwa beasiswa yang ada janganlah asal diambil tanpa mengetahui tujuan sebenarnya mengambil beasiswa itu sendiri. Selain berbincang mengenai beasiswa, Gregorius juga berbagi mengenai perbandingan antara fenomena pandemi di Indonesia dan di Korea.

Setelah selesai dengan pembicara kedua, talk show dilanjutkan dengan pembicara ketiga bersama dr. Gamal Albinsaid, M.Biomed. Sesi talk show bersama dr. Gamal membahas mengenai bagaimana berinteraksi dengan pasien COVID-19 dan hal-hal yang harus dilakukan dalam menghadapinya. Selain itu sesi ini juga membahas mengenai meningkatnya pandemi COVID-19 di Jawa Timur yang merupakan domisili dr. Gamal.

Dalam setiap sesi talkshow diahiri dengan sesi tanya jawab. Sebelum acara ditutup, panitia mengadakan game menggunakan platform Kahoot.

Diponegoro Capital Market Days 2020 : Contribute to Society Through Invesment

Oleh: Novi dan Alam

Sabtu (26/09/2020) – Telah berlangsung Seminar Nasional Diponegoro Capital Market Days (DCMD) 2020 yang diselenggarakan oleh Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) FEB Undip. Seminar ini berlangsung selama 2 hari dengan enam pembicara yang luar biasa. Seminar berlangsung dengan menggunakan media Zoom Meeting. Event tahunan yang diselenggarakan oleh KSPM ini mengusung tema “Contribute to Society Through Invesment”.

Webinar di hari pertama menghadirkan tiga pembicara yang luar biasa yaitu Ellen May (Founder Ellen May Institute), Faisal Basri (INDEF Senior Economist), dan Fanny Rifqi El Fuad (Head of IDX Semarang). Acara ini dimoderatori oleh Prisa Sombo Datu (Host IDX).

Webinar ini diikuti oleh semua kalangan baik dari mahasiswa, dosen, perwakilan dari kementrian ekonomi, dan perusahaan. Jadi, bukan sebatas lingkup Undip saja melainkan dari berbagai elemen yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai investasi di pasar modal.

Ellen May pembicara pertama pada webinar ini menyampaikan materi mengenai bagaimana investasi di pasar modal. Pada akhir pemaparan materinya, beliau menyampaikan beberapa pesan diantaranya yaitu jangan terburu-buru, jangan ingin cepat kaya, jangan terjebak dalam noise, jangan over confident, jangan takut salah, jangan blaming, excuse, justify. Yang harus dilakukan adalah fokus belajar, sabar, embrace mistake, start small (again), dan kaizen.

Pemaparan materi kedua disampaikan oleh ekonom terkemuka di Indonesia yaitu Faisal Basri yang menyampaikan mengenai korelasi ekonomi, pertumbuhan ekonomi, Covid-19 terhadap pasar saham. Pesan yang dapat diambil dari ekonom ini adalah di tengah lumpur masih ada mutiara. Hal ini bisa dilihat bahwasannya pada masa pandemi ini tidak semua sektor ekonomi mengalami penurunan justru berkat pandemi ini ada beberapa sektor yang mengalami kenaikan diantaranya informasi dan komunikasi, jasa kesehatan dan kegiatan sosial, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan air, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, pemaparan materi oleh Fanny Rifqi El Fuad sebagai pembicara yang ketiga sekaligus pembawa materi penutup acara ini. Beliau menyampaikan materi mengenai topik menjaga optimisme dan kepercayaan pasar di tengah dinamika ekonomi sebagai dampak pandemi Covid-19. Dalam materi ini lebih menekan bagaimana investor merasa nyaman untuk berinvestasi di bursa efek Indonesia dan bagaimana meningkatkan serta mempertahankan optimisme investor. Kalimat penutup yang disampaikan Bapak Fanny pada akhir acara yaitu, “Tingkatkan kompetensi Anda sebelum memasuki pasar modal.”

Hari kedua seminar dihelat pada Minggu (27/9) melalui platform yang sama. Kali ini kembali menghadirkan tiga pembicara yaitu Felicia Putri Tjiasaka (Investor Storyteller) , Nicky Hogan (Director of IDX 2015-2018, Elder Member of ISP Community), Zunarsa Hafizh (Philip Sekuritas Indonesia).

Sesi pertama dibuka oleh Zunarsa Hafizh dari PT Philip Sekuritas Indonesia. Sesi ini membahas dua hal yaitu yang pertama mengenai gambaran singkat PT Philip Sekuritas Indonesia dan dilanjutkan dengan membahas sub tema “Maksimalisasi Peran Sekuritas dalam Membantu Investor”. Pada sesi ini, Zunarsa menyampaikan bahwa ada tiga hal yang perlu dilakukan saat akan memulai investasi yaitu yang pertama menentukan tujuan dalam berinvestasi, kedua menentukan instrumen investasi dan yang terakhir melakukan secara terus menerus.

Pembicara juga sempat menyinggung mengenai pandemi virus Corona yang saat ini tengah melanda Indonesia. Pandemi Corona menjadi tantangan bagi sektor pasar modal. Ada tiga hal yang disampaikan pembicara yaitu, Corona dan krisis lain yang tidak bisa dihindari, investor asing cukup mendominasi transaksi pasar modal di Indonesia, dan bagaimana pasar modal menjadi titik balik untuk pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Berlanjut ke sesi kedua, materi disampaikan oleh Nicky Hogan yang merupakan Director of IDX 2015-2018 yang membahas mengenai small cap. Small cap merupakan saham dengan kapitalisasi pasar yang kecil. Menurut pembicara meskipun small cap memiliki nilai pasar yang lebih kecil dibandingkan saham blue chip, belum tentu tidak bagus. Pembicara juga menyampaikan bahwa cara memilih saham untuk diinvestasikan baik itu blue chip atau small cap, yaitu dengan melihat saham-saham yang ada di LQ45. Lebih lanjut, pembicara juga menyebut bahwa saat yang paling tepat untuk berinvestasi adalah saat kita mempunyai uang.

Pada sesi ketiga, menghadirkan Felicia Putri Tjiasaka yang merupakan seorang Investor Storyteller. Dengan mengangkat sub tema “Investasi Sebagai Gaya Hidup Generasi Milenial”, sesi ketiga ini sedikit berbeda dengan sesi sebelumnya. Tidak hanya menyampaikan materi, Felicia juga mengajak peserta yang terpilih untuk mengikuti simulasi perencanaan keuangan yaitu menghitung dana beli rumah dan menghitung return yang dihasilkan dari investasi.

Menurut Felicia, dalam memulai investasi seseorang harus mengetahui tujuan dari investasi tersebut, return yang akan didapatkan serta mempertimbangkan risiko yang akan dihadapi. Felicia juga menyampaikan bahwa bagi investor pemula penting untuk mengetahui mengenai business model dari perusahaan dimana investor akan menginvestasikan uangnya serta legalitas dari perusahaan tersebut.

Selain itu Felicia juga mengatakan bahwa investasi keuangan memang penting, akan tetapi lebih penting investasi pada diri sendiri. Artinya bahwa sebelum berinvestasi, kita harus mengetahui potensi diri kita terlebih dahulu.

Acara DCMD 2020 ditutup setelah panitia mengumumkan pemenang The Fifth Diponegoro National Capital Market Competition (Dinamic) 2020 yang juga merupakan rangkaian acara dari DCMD 2020. Perlombaan ini diikuti para peserta dari berbagai universitas. Juara pertama disabet oleh Team Suggar Daddies, diikuti Team Burung Biru sebagai juara kedua dan Team Das Kapital sebagai juara ketiga. Sementara itu kategori Best Presentation Template diraih oleh Team Big Caps dan kategori Best Speaker diraih oleh Achmad Farhan Noor dari Team Sisinga.

Film Watchdoc Berjudul “Negara, Wabah, dan Krisis Pangan” sebagai Gambaran Krisis Pangan Indonesia Saat Ini

Oleh: Faya dan Rijal

Minggu (27/09/2020) – Telah dilaksanakan Nonton Bareng Si Opin 2020: Nobar Film Watchdoc “Negara, Wabah, dan Krisis Pangan” oleh LPM Opini Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro. Acara nonton bareng ini dimulai pada pukul 10.00 WIB melalui aplikasi Ms. Teams. Acara ini dihadiri oleh berbagai Lembaga Pers Mahasiswa fakultas di Undip, para mahasiswa, dan dua orang pembicara. Pembicara yang dihadirkan ada Maksum Syam yang merupakan Direktur Eksekutif Sajogyo Institute dan Ari Trismana yang merupakan sutradara dari film tersebut.

Di awal acara dibuka dengan sesi foto bersama secara virtual oleh semua peserta dan pembicara. Acara dilanjutkan dengan nonton bersama film dokumenter Watchdoc yang berjudul “Negara, Wabah, dan Krisis Pangan” selama setengah jam. Film ini menggambarkan kondisi negara kita saat ini yang terkena imbas dari adanya pandemi Covid-19. Dari film tersebut dapat diceritakan bahwa pandemi saat ini telah berdampak pada krisis pangan yang melanda Indonesia. Dampak terhadap krisis pangan ini dirasakan hampir semua orang, terutama yang paling merasakan dampaknya adalah kelompok petani. Lahan untuk tempat mereka bertani sehari-hari justru semakin menyempit padahal kebutuhan akan pangan semakin tinggi apalagi ditambah kondisi pandemi Covid-19 yang melanda. Penggusuran lahan pertanian terjadi di mana-mana untuk kepentingan infrastruktur dan proyek. Padahal sebagian besar kebutuhan hidup mereka bergantung pada lahan pertanian yang digusur itu.

Dimoderatori oleh Muhammad Salman Al Farisi yang merupakan lulusan Ilmu Pemerintahan Undip, acara ini juga mengajak peserta untuk berdiskusi mengenai isi dan masalah yang terdapat dalam film. Selama sesi diskusi, terdapat beberapa peserta yang bertanya akan film yang telah ditayangkan. Salah satunya adalah pertanyaan mengenai titik terang dari permasalahan petani dan pangan ini. Dijawab oleh Maksum bahwa menurutnya, ia sendiri mengaku pesimis mengenai masalah ini karena tentu harus melalui banyak hal yang dilakukan. Menurutnya, untuk keadaan yang seperti ini kita hanya perlu meningkatkan solidaritas antarkomunitas serta membangun jaringan untuk bisa melindungi komunitas yang sedang berkembang agar tidak bergantung pada pangan impor.

Diantara berbagai penanya, ada satu pertanyaan yang menurut Ari merupakan pertanyaan pamungkas. Pertanyaannya adalah mengenai bagaimana peran kita sebagai mahasiswa untuk bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah? “Ini seharusnya jadi pertanyaan pamungkas karena seperti call to action, karena kebijakannya sudah kuat mencengkram,” jelas Ari. Menurutnya, untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah, dirinya sendiri bisa melalui pembuatan film. Sementara untuk kalangan mahasiswa bisa dengan membangun jaringan dengan pers mahasiswa yang lain agar saling menyamakan perspektif, membuat gerakan, dan bisa untuk diperluas. Misalnya bisa dengan membuat liputan mengenai permasalahan pertanian yang terjadi di lingkungan sekitar.

Di penghujung acara, Maksum menyampaikan bahwa dirinya mengaku senang karena banyak mahasiswa yang sudah ingin tahu tentang permasalahan pertanian dan pangan yang dihadapi saat ini. Dan untuk statement-nya diharapkan bisa dengan memupuk rasa optimis juga membangun jaringan-jaringan sesuai dengan kapasitas, mulai dari jaringan lokal maupun nasional. Ia berharap semoga jaringan yang telah dibentuk bisa memperkuat kedaulatan pangan. Senada dengan Maksum, Ari juga turut merasa senang kalau ada kawan-kawan dari berbagai daerah bisa mendokumentasikan persoalan yang terjadi di sekitar. ”Maunya ada banyak yang mendokumentasikan. Kami selalu terbuka termasuk dengan kawan-kawan pers. Terima kasih kawan-kawan semua!” ungkap Ari seraya menutup acara Nobar Film Watchdoc “Negara, Wabah, dan Krisis Pangan” hari ini.

Jempol Sakti Millenial

Oleh: Prastio

Mana yang lebih powerful untuk menjaga perdamaian dunia? Apakah dengan menahan bom nuklir dan senjata api? Atau dengan menahan kekuatan ibu jari di media sosial? Nampaknya pertanyaan itu mulai sulit terjawab ketika kita bicara dalam era teknologi saat ini. Ketika kita mengacu pada perjalanan sejarah dunia, pada zaman Perang Dunia II yang berlangsung pada tahun 1939-1945, nuklir menjadi senjata yang sangat memporak-porandakan tatanan dunia. Kita ingat sekali bahwa dulu terjadi pengeboman nuklir di Hiroshima serta Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Pada saat itu nuklir menjadi salah satu titik tolak yang mengubah tatanan dunia, termasuk negara Indonesia yang ketika kita tarik ke belakang peristiwa tersebut menjadi momentum awal menuju kemerdekaan Indonesia. Begitu hebatnya nuklir jaman dahulu menentukan kedamaian negara bahkan dunia.

Akan tetapi, apakah hal itu masih relevan pada zaman sekarang? Jawabannya mungkin iya, tetapi masih ada senjata yang juga sangat powerful dan bisa menjangkau seluruh dunia dengan sangat cepat. Tidak hanya merusak secara fisik tetapi secara psikis jika dibandingkan dengan  nuklir yang jangkauan kerusakannya terbatas pada suatu wilayah tertentu dan dampak kerusakannya hanya secara fisik. Senjata itu yang kita kenal dengan media sosial.

Media sosial berkembang pertama kali sejak munculnya GeoCities pada tahun 1995. Pada saat itu website tersebut digunakan untuk menyimpan data berbasis internet yang kemudian orang lain bisa mengaksesnya. Lalu beranjak dari situ kita mulai mengenal Friendster pada era 2000-an. Yang pada akhirnya di Indonesia mulai booming media sosial ketika Facebook dan Twitter mulai memasuki kehidupan virtual masyarakat kita. Dengan media sosial kita bisa banyak hal, mulai mengobrol, membagikan momen kebahagiaan bahkan yang terparah yakni sampai digunakan untuk menyerang orang secara virtual. Pada saat ini kita sangat dirisaukan dengan kata “buzzer”. Mengacu pada pengertiannya, buzzer berarti lonceng. Dalam hal ini lonceng untuk mengumpulkan orang, hal ini juga lazim digunakan dalam dunia bisnis dalam hal pemasaran. Biasanya para pemasar menggunakan buzzer untuk men-viral-kan produk mereka.

Akan tetapi, dalam perkembangannya buzzer bertransformasi menjadi sesuatu hal yang berkonotasi negatif. Buzzer juga seringkali dipersepsikan sebagai serangan terhadap seseorang melalui media sosial. Hal ini sangat terlihat sekali ketika pada kontestasi politik, buzzer biasanya digunakan untuk menaikan citra salah satu paslon maupun dengan cara menyerang paslon lawan supaya meraih kemenangan dalam kontestasi politik. Buzzer menjadi cara yang mudah dan praktis tetapi memiliki dampak yang sangat luar biasa pada era saat ini. Dengan hanya bermodalkan jari tangan untuk mengetik sesuatu di media sosial, dalam hitungan detik akan bisa membuat gaduh negara. Seringkali juga serangan tersebut disertai hoax yang sumbernya pun tidak jelas.

Sudah banyak peristiwa yang terjadi akibat bermula dari media sosial. Tentu ada yang positif maupun negatif. Kita ingat betul ketika dahulu pada 2014 terjadi konflik Israel dan Palestina yang terjadi di Jalur Gaza, yang mana menimbulkan banyak korban pada saat itu tidak hanya orang dewasa tetapi anak-anak pun ikut menjadi korbannya. Kelaparan akibat tidak bisanya pasokan bahan makanan masuk ke daerah tersebut juga menambah penderitaan saat itu. Dunia sangat berduka atas kejadian tersebut saat itu. Kejadian yang dialami di Gaza memicu protes dari publik, tidak terkecuali dari publik media sosial. Mereka beramai-ramai mengunggah dukungan mereka kepada Gaza dengan hastag #prayforgaza. Nampaknya usaha tersebut membuahkan hasil, Israel mulai terdesak karena adanya protes yang keras dari publik. Disisi lain, dengan viralnya hal tersebut maka banyak orang yang mengetahui akan penderitaan masyarakat di Gaza serta mereka banyak memberi bantuan makanan ke sana.

Tidak hanya peristiwa postif, media sosial seringkali juga menimbulkan kekacauan ketika tidak menggunakannya secara bijak. Kita ingat betul akhir-akhir ini banyak sekali orang terutama publik figur yang mengalami depresi akibat di-bully di media sosial. Bahkan tidak jarang ada yang sampai bunuh diri. Hal ini yang sangat jelas kita lihat pada kehidupan artis K-Pop. Sudah banyak korban akibat perundungan di media sosial ini.

Sebagai generasi millenial, dengan jumlah yang memakan porsi paling banyak sebagai pengguna media sosial. Tentu kita harus lebih bijak lagi dalam hal menge-post, mengomentari apa yang ada di media sosial. Sejarah sudah banyak membuktikan bahwa dengan “jempol sakti”, kita bisa membantu orang serta menciptakan perdamaian dunia.

ICEPRO 2020: “Be a Productive and Inspiring Youth”

Oleh: Sheila Anya K. N

Sabtu (19/09/2020) – Telah dilaksanakan Webinar Nasional Islamic Economic Project (ICEPRO) 2020 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ekonomi Islam (HMEI) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip). Acara ini berlangsung sejak pukul 12.20 sampai pukul 15.15 WIB dengan menggunakan media Zoom Meeting. Event tahunan yang berupa seminar nasional yang diselenggarakan oleh HMEI FEB Universitas Diponegoro kali ini mengusung tema “Be a Productive and Inspiring Youth”. Acara ini diadakan dengan harapan pemuda bangsa dapat menjadi pribadi yang lebih produktif dan menginspirasi bagi orang banyak.

Webinar ini menghadirkan tiga pembicara yaitu Safhira Alfarisi (Founder Yayasan Beasiswa 1000, Mahasiswa Berprestasi 1 Nasional 2019), Muhammad Syaeful Mujab (Ketua BEM UI 2017, Abang Jakarta 2018), serta Muhammad Assad (Co-founder dan CEO Tamasia, Penulis Best Seller “Notes from Qatar”). Acara ini dibawakan oleh Amanda Naura Rasyda dan dimoderatori oleh Naufal Haidar Farras yang merupakan alumni Ekonomi Islam FEB Universitas Diponegoro yang juga sempat menjabat sebagai Ketua Umum HMEI FEB Universitas Diponegoro periode 2017/2018.

Peserta webinar nasional ini tidak hanya dari kalangan mahasiswa FEB Undip, tetapi juga dari daerah dan universitas lainnya, bahkan terdapat beberapa anak SMA yang turut hadir dan aktif dalam acara ini. Acara ini dibuka dengan pembukaan oleh pembawa acara dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang diteruskan dengan menyanyikan lagu Mars Undip. Kemudian, dilanjutkan oleh pembacaan ayat suci Quran serta sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Panitia ICEPRO 2020 yaitu M. Rizky Ramadhan dan dilanjutkan oleh sambutan dari Bapak Suharnomo selaku Dekan FEB Undip.

Pembicara pertama, Safhira Alfarisi.

Safhira Alfarisi selaku pembicara pertama, berbagi kisahnya tentang bagaimana ia dapat menjadi Mahasiswa Berprestasi 1 Nasional untuk bidang Diploma. Ia menjelaskan secara singkat tips dan trik dalam meraih titel tersebut. Perempuan lulusan IPB ini juga menceritakan proses pendirian Yayasan Beasiswa 10000 yang mulai ia rintis sejak ia masih menempuh semester tiga kuliah atau berusia 19 tahun. Safhira menekankan beberapa poin yaitu untuk mengetahui potensi diri, bermimpi setinggi mungkin, berikan kebermanfaatan untuk orang lain, dan jangan takut gagal.

Pembicara kedua, M. Syaeful Mujab.

Dilanjutkan oleh pembicara kedua yaitu M. Syaeful Mujab. Ia menyatakan bahwa organisasi dan akademik bukanlah dua hal yang saling bertentangan atau menjatuhkan. Dengan aktif berorganisasi bukan berarti akan membuat nilai akademik anjlok. Dengan manajemen waktu yang baik, organisasi dan akademik aakan berjalan seimbang. Softskill hanya didapatkan dari organisasi dan kegiatan sosial lainnya, sedangkan kuliah hanya memberikan hardskill semata. Mujab berpesan, “Kita bisa meraih IPK 4.0 di perkuliahan, tetapi kita bisa mendapatkan nilai 96 lainnya di luar kampus untuk dapat lulus dengan nilai 100.”

Pembicara ketiga, M. Assad.

Dilanjutkan dengan pembicara ketiga yaitu M. Assad. Ia menceritakan tentang pendidikannya di Malaysia dan Qatar, serta pengalaman awalnya dalam berwirausaha. Ia menceritakan awal perjalanan dan alasan pendirian Tamasia. Ia menekankan tiga poin penting dalam berwirausaha yaitu 3P (positive, persistence, dan pray). Ia mengatakan seseorang penting untuk berpikir positif, istiqomah, dan berdoa. Ia juga menyinggung tentang pentingnya integritas bagi wirausaha.

Dalam sesi tanya jawab, antusiasme peserta sangat nampak dengan banyaknya pertanyaan yang untuk tiap pembicara. Setelah sesi tanya jawab usai, acara ditutup oleh pembawa acara sekitar pukul 15.20 WIB.

Mengamati Perkembangan Industri Halal Indonesia bersama Webinar Nasional SEHATI

Oleh: Aditya Febriansyah dan Annisa Pratiwi

Sabtu (12/09/2020) – Telah berlangsung 11th SEHATI National Webinar yang diselenggarakan oleh Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) dengan mengangkat tema “Recontruction of The Halal Industry Towards Indonesia as the Center for Global Islamic Economy”. Acara ini dimulai pada pukul 09.30 melalui live Zoom dan live Youtube. Dalam webinar kali ini, 11th SEHATI menghadirkan empat pembicara yaitu Ni Putu Desinthya selaku kepala Divisi Direktorat Industri Produk Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Riyanto Sofyan selaku Ketua Umum Perkumpulan Pariwista Halal Indonesia (PPHI), Ateng Kusnadi selaku Founder SNW dan Marketing Plan Syariah, serta Wahyu Avianto selaku Direktur Operasi dan Keuangan PT. Bank BNI Syariah. Sebagai opening remarks, webinar 11th SEHATI menghadirkan Sandiaga Salahuddin Uno selaku Chairman of the Jakarta Sharia Economic Community (MES).

Acara ini dibagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama dimulai dengan materi pertama yaitu “Arah Pengembangan Industri Halal Indonesia” disampaikan oleh Ni Putu Desinthya. Dalam materi tersebut, Ni Putu sempat menyinggung tentang peringkat Industri Syariah Indonesia yang masih belum maksimal, padahal Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Selanjutnya, Ni Putu menjelaskan strategi Indonesia Menuju Global Hub Ekonomi Syariah Dunia. Dalam strategi tersebut, terdapat empat Key Points yang disusun pemerintah dimana Key Point pertama adalah pengembangan industri produk halal. Selain sebagai perwujudan sektor riil, pengembangan industri produk halal diharapkan mampu menjadi katalisator bagi Key Points lainnya.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Riyanto Sofyan Dalam materinya, beliau mengangkat tema “Pengembangan Industri Halal Melalui Sektor Pariwisata”. Pada awalnya, Riyanto menjelaskan mengenai industrI pariwisata secara umum, yang mana industrI pariwisata adalah salah satu sektor dengan dampak ekonomi yang cukup besar menurut World Trade Organization (WTO). Lebih jauh, beliau menjelaskan tentang Konsep Pariwisata Halal dan Portofolio Pariwisata Halal Indonesia. Dalam konsep pariwisata Halal atau wisata ramah muslim terdapat empat poin utama, salah satunya adalah tersedianya makanan dan minuman yang terjamin kehahalannya. Sedangkan mengenai Portofolio Pariwisata Halal Indonesia, Riyanto menjelaskan bahwa Pariwisata Halal Indonesia terdiri dari tiga komponen yakni, alam (35%), budaya (60%), dan buatan (5%).

Pada sesi kedua, terdapat dua pembicara yaitu Ateng Kusnadi dan Wahyu Avianto. Materi yang dibawakan oleh Ateng Kusnadi adalah mengenai “Pengembangan Industri Halal dan Peran Serta Generasi Milenial”. Dalam pemaparan materi tersebut, dijelaskan bahwa sasaran industri halal adalah bukan hanya menjadi produsen produk halal bagi diri sendiri sebagai seorang muslim, namun perlunya dalam mengekspor ke luar negeri. Sehingga, selain bertujuan memperbaiki ekonomi dalam negeri, tetapi juga dapat mencapai pasar ekonomi di luar negeri. Peranan umat muslim dalam ekonomi di Indonesia sebagai pengusaha hanya sekitar 14,4%. Sehingga, akan sulit dalam memasarkan produk halal. Maka dari itu, sangat perlu bagi masyarakat muslim Indonesia untuk memulai perdagangan untuk membangun ekonomi islam, dengan utamanya memproduksi produk halal.

Selanjutnya, materi terakhir dibawakan oleh Wahyu Avianto. Pada materi kali ini, pemateri membahas mengenai “Accelerating Innovation, Establishing Halal Ecosystem”. Salah satu yang mendukung perkembangan bank syariah di Indonesia adalah karena konversi beberapa bank menjadi bank syariah, seperti Bank Aceh dan Bank NTB. Namun, tantangan bagi Bank Syariah pun masih ada dalam membangun ekosistem halal, seperti perubahan yang tidak terduga (Turbulence), ketidakpastian (Uncertain), kebaruan (Novelty), dan banyaknya informasi yang tercampur (Ambigous).

Sejauh ini potensi ekosistem halal sangat besar sekitar tiga ribu milyar rupiah yang didapat dari beberapa sektor seperti makanan halal, media halal, kosmetik halal, haji dan umrah, dan berbagai produk halal lainnya. Sehingga, diperlukan peran besar terutama bagi muslim untuk tidak hanya menjadi konsumen, namun juga sebagai pelaku usaha dalam membangun ekosistem halal ini.

Mengenal Kesehatan Mental Melalui Gerakan Sehat Mental Goes to FEB

Oleh: Indah dan Seli

Jumat (11/09/2020) – Telah dilaksanakan Roadshow Online Gerakan Sehat Mental 2.0 to FEB oleh Fakultas Psikologi Undip. Acara ini menghadirkan empat orang psikoedukator untuk memberikan materi roadshow dengan tema “Ataraxia”. Ataraxia sendiri memiliki arti ketenangan jiwa. Acara yang memiliki jargon “Fight it. Take the pain. Ignite it” ini dimulai tepat pada pukul 15.00 WIB. Acara ini dibuka dengan doa yang dipandu oleh kedua MC yaitu Lingga Permata Ayu dan Nadia Akilah. Selanjutnya, Dinda Nabilah sebagai Ketua Pelaksana memberikan sambutan. Dinda menjelaskan jika acara ini bukan merupakan webinar dikarenakan akan ada interaksi dua arah dan materi yang akan dibawakan oleh psikoedukator dibawakan sebagai pemantik cerita yang ingin dibagikan oleh para peserta. Selanjutnya, Faizal Ihsan Wicaksana sebagai perwakilan dari para psikoedukator memberikan sambutan dan memperkenalkan keempat psikoedukator, yaitu dirinya sendiri, Novia Dewi Kusumastuti, Inez Fareeza Amalia, dan Julius Mitchel.

Di awal materi, Faizal menjelaskan bagaimana pengertian kesehatan mental menurut WHO. Faizal juga menjelaskan apa saja yang menjadi cakupan dari wawasan kesehatan mental, yaitu kesejahteraan emosi, psikologis, dan sosial; hal yang memengaruhi bagaimana kita berpikir, berperasaan, dan berperilaku; dan hal yang membantu menentukan bagaimana kita mengelola stress, berhubungan dengan orang lain, dan membuat keputusan.

Materi selanjutnya dibawakan oleh Novia Dewi Kusumastuti dengan menggunakan ilustrasi gambar. Ditampilkan sebuah gambar piring yang terisi lengkap dengan karbohidrat dan sayur mayurnya. Hal ini menggambarkan adanya faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan mental. Novia juga menjelaskan kaitan mengenai kesehatan mental dan kesehatan fisik. Bahwa sejatinya, kesehatan mental itu patut diperhatikan sama seperti kesehatan fisik. Jangan sampai mengabaikan kesehatan mental, karena emosi negatif akan bermunculan dan semakin menumpuk sehingga menyebabkan kondisi psikologis seseorang menurun.

Kegiatan berikutnya dilakukan permainan sederhana untuk melakukan perbincangan dua arah, yaitu Mitos atau Fakta. Hal-hal yang ditanyakan seperti jika memiliki penyakit mental apakah berarti gila, apakah orang yang memiliki penyakit mental berarti kejam dan berbahaya, serta apakah kelemahan kepribadian menyebabkan masalah penyakit mental. Akhirnya yang sering dipertanyakan oleh sebagian orang terjawab saat mengikuti kegiatan tersebut. Menjawab ketiganya, para psikoedukator mejelaskan jika semua itu mitos dengan didukung fakta yang ada.

Saat mengikuti acara tersebut, dijelakan pula mengenai stress, coping, dan katarsis. Stress merupakan keadaan individu menilai suatu keadaan dan peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, menantang, dan membahayakan sehingga individu akan merespon peristiwa tersebut secara fisiologis emosional, kognisi, dan/atau tingkah laku. Stress bisa disebabkan dari dalam maupun luar individu sendiri.

Selanjutnya ada coping stress, yaitu suatu cara atau metode yang dilakukan tiap individu untuk mengatasi dan mengendalikan situasi atau masalah yang dialami dan dipandang sebagai hambatan, tantangan yang bersifat menyakitkan, serta ancaman yang bersifat menyakitkan. Problem focused coping diantaranya planful problem solving, confrontative coping, dan seeking social support. Sedangkan emotional focus coping diantaranya positive reappraisal, self controlling, accepting responsibility, distancing, dan escape/avoidance.

Terakhir, menjelaskan mengenai katarsis yang berasal dari bahasa Yunani, Catharsis, yang berarti pemurnian atau pembersihan. Istilah katarsis kemudian digunakan untuk sebuah proses pelepasan perasaan yang kuat melalui sebuah kegiatan atau pengalaman tertentu. Katarsis sendiri merupakan salah satu bentuk coping stress. Namun, tanpa sadar sebagian orang lebih banyak melakukan katarsis yang bersifat negative daripada positif.

Acara GSM ini diakhiri dengan diskusi dua arah antara peserta dengan psikoedukator. Ada pula penjelasan mengenai media intervensi yang disediakan oleh pihak GSM, serta adanya pengenalan media Kita Teman Cerita.