#UangKitaTalk: Luruskan Pandangan Mengenai APBN Negeri Ini

Talkshow bertajuk #UangKitaTalk Universitas Diponegoro di Gedung KWU FEB Undip pada Jumat, 1703/2023 WIB (Sukma/Edents)

FEB (17/3) – Mendukung inisiasi Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro menyelenggarakan sebuah Talkshow bertajuk #UangKitaTalk Universitas Diponegoro. Acara berlangsung dari pukul 14:00 – 16:00 WIB yang bertempat di Aula Auditorium Utama Lantai 4 Gedung Kewirausahaan FEB Undip. Semarak acara juga dihiasi oleh bagi-bagi doorprize di beberapa stand, seperti dari Bea Cukai Jawa Tengah DIY, LPDP RI, Kemenkeu Learning Center (KLC), dan lain sebagainya. 

Acara ini memperkenalkan Komunitas Uang Kita (Komunita), yaitu sebuah platform yang menyasar generasi muda sebagai penggerak utama Indonesia Maju 2024 untuk menambah pengetahuan, mengembangkan diri, memperluas jaringan dan memahami pengelolaan #UangKita atau APBN.

Dengan menghadirkan beberapa pembicara hebat dalam lingkup APBN, Talkshow ini bertujuan untuk mengedukasi civitas akademika tentang tugas beberapa unsur Kementerian Keuangan, mengingat peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu ditambah dengan tersebarluasnya berbagai macam informasi di media yang berimbas pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap integritas instansi tersebut. Hal ini disampaikan oleh Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si dalam sambutan beliau di awal acara. Beliau menekankan realita saat ini dimana orang-orang lebih cepat percaya pada yang viral. “Kami terbiasa mengundang karena saya sangat percaya kampus ini adalah tempat yang ideal untuk tesa dan antitesa, untuk sebuah pemahaman pemikiran yang sangat bebas, untuk orang berpikir untuk mencerdaskan. Jadi hoax pasti tidak diterima di kampus.” tambah beliau. Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Kepala Kanwil DJPb Jateng Muhdi, S.E., S.Ip., MIS, Ph.D yang ditutup dengan slogan “Tingkatkan Sinergi, Junjung Kolaborasi”. 

Ahmad Heryawan, S.E., M.Si, selaku pembicara pertama pada Talkshow ini yang juga merupakan Kepala Bidang PPA II Kanwil DJPb Jateng memaparkan tentang #UangKita atau APBN di Provinsi Jawa Tengah. Dimulai dari profil kesejahteraan, kinerja APBN, hingga penyaluran dana alokasi fisik dan non fisik. Dimana terdapat pagu 103.743,51 Miliar dengan realisasi 17,41% atau 18.063,42 Miliar di sisi pendapatan, dan pagu 103.114,92 Miliar dengan realisasi 12,64% atau 13.036,03 Miliar di sisi pengeluaran sampai dengan 28 Februari 2023. Tak luput juga dirincikan mengenai realisasi belanja Kementerian Lembaga, salah satunya Kementerian PUPR pada pembangunan jalan tol Semarang-Demak. 

Tak hanya dari sisi APBN Provinsi, Talkshow #UangKita juga menghadirkan pembicara kedua yaitu Siti Siwi Wulandari, S.Pd., selaku perwakilan Mata Garuda Jateng dan merupakan awardee beasiswa LPDP yang membagikan informasi mengenai salah satu belanja APBN untuk fungsi pendidikan yaitu program beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan. Tak hanya memaparkan keunggulan, kinerja, dan komponen dari beasiswa ini, beliau juga menjelaskan tahapan seleksi dan berbagi tips dan trik untuk lolos beasiswa LPDP, seperti keaslian dan keabsahan dokumen, teliti membaca booklet, memperbanyak latihan soal untuk TBS, upgrade kemampuan berbahasa Inggris, rajin update informasi, dan masih banyak lagi. 

Isti, salah satu peserta Talkshow dari program studi Manajemen mengungkapkan, “Sejujurnya aku sudah tau LPDP itu apa, tapi nggak tau sejauh itu seperti yang dipaparkan mbak (pembicara) nya ya. Jadi, informasi yang aku dapat tentang LPDP ini banyak banget di kegiatan hari ini.” Pemaparan mengenai beasiswa juga dinilai sangat informatif dan mudah dipahami bagi mereka yang tertarik dengan beasiswa ini. “Sejujurnya 10 sih, beneran kayak wow, aku baru tau sistemnya begini, pembagiannya begini, bener-bener baru tau, mungkin karena kurang explore kali ya, tapi ini beneran ngebantu banget buat nambah informasi aku sih.” tambah Isti.  (Sukma/Edents)

Mencari Bapak Baru, Mahasiswa Duduki Widya Puraya

Mahasiswa berorasi di tengah lingkaran yang di bentuk oleh massa aksi pukul 14.30 WIB tanggal 06/03/23 di Widya Puraya, Kampus Undip, Semarang (Qosim/Edents)

(UNDIP 6/3) – Massa, mencakup fungsionaris BEM-U, fungsionaris BEM-F, dan mahasiswa umum, melancarkan aksi yang bertajuk “Senja di Widya Puraya (SDWP) Vol. 5: Mencari Bapak Baru” pada Senin, 6 Maret 2023. Aksi beragendakan tuntutan untuk bertemu langsung dengan empat bakal calon rektor (BCR), menyampaikan permasalahan yang ada di lapangan, dan mengharapkan penandatanganan pakta integritas menjelang periode kepemimpinan selanjutnya. 

Sebelum aksi dimulai, terlihat banyak pagar pembatas yang disiapkan oleh pihak keamanan di seluruh jalan menuju Widya Puraya. Alih-alih mengamankan jalan, pembatas tersebut nyatanya malah digunakan untuk menghadang massa aksi. Meski sempat terjadi bentrok dengan pihak keamanan, massa berhasil melanjutkan perjalanan ke area Widya Puraya. 

Di Widya Puraya, massa mulai melancarkan berbagai propaganda agar pihak rektorat memberikan respon. Nahas, hingga aksi berakhir, batang hidung para BCR tidak muncul. Hanya tampak foto keempat calon yang terlihat di banner calon rektor dengan menyunggingkan senyum ke arah massa aksi.

Mahasiswa dihadang pihak keamanan ketika mencoba memasuki pelataran di depan Gedung Rektorat. Pukul 15.54 WIB (Musa/Edents)

MWA unsur Mahasiswa Hasna Widyaningrum memberikan pendapatnya terhadap aksi SDWP Vol. 5. Dia menyebut bahwa dirinya mengapresiasi awareness mahasiswa terhadap momen Pemilihan Rektor Undip 2024. “Aku ngelihat aksi hari ini juga temen-temen berarti udah semakin aware dan ini menunjukkan kalau hari ini juga kita merasa pemilihan rektor ini menjadi salah satu momentum yang penting dikawal sama-sama,” ungkap Hasna.

Hasna pun menambahkan keterangan terkait alasan tidak hadirnya keempat BCR secara fisik pada sore di hari Senin itu. “Mungkin kalau tanggapan aku sebagai “yang mengundang”, ya. Jadi di awal memang aku mengundang para bakal calon rektor ini tapi memang dari para bakal calon rektor ini mengatakan bahwa mereka belum bisa untuk hadir. Dua dari di antaranya menjawab bahwa mereka ada agenda, terus absen, segala macam. Duanya lagi ngga menjawab. Jadi memang udah dikoordinasikan dengan baik, sih, sebenarnya.”

Sebagai tanggapan karena hingga akhir aksi keempat BCR tidak kunjung muncul, koordinator lapangan (Korlap) Razan Siregar mewakili massa menyampaikan sebuah pernyataan sikap. Pernyataan tersebut melingkupi 4 poin yang secara garis besar menyinggung 4 bakal calon rektor tidak mau turun dan duduk bersama mahasiswa, kebebasan berpendapat di lingkungan kampus dibatasi, kejanggalan penundaan pemilihan rektor, dan pernyataan bahwa bakal calon rektor takut menemui mahasiswa.

2 mahasiswa menaiki patung Diponegoro sedang memasang banner bertuliskan “Undip bukan hanya Tembalang saja.” (Musa/Edents)

“Adapun tuntutan yang ingin kami berikan kepada keempat bakal calon rektor, yaitu kami ingin bertemu dengan keempat bakal calon rektor dan menyampaikan serta mengharapkan penandatanganan atas pakta integritas untuk kepemimpinannya di tahun 2024 – 2029,” seru Razan sebagai penutup pernyataan sikap massa aksi.

Tidak berhenti sampai pernyataan sikap, massa aksi juga melilitkan beberapa banner sebagai bentuk simbolik kekecewaan atas ketidakhadiran para BCR. “Kawan-kawan semuanya, berikut adalah bentuk simbolik yang menjadi bentuk kekecewaan kita terhadap aksi hari ini atas ketidakberpihakan mereka (para BCR, red) kepada mahasiswa pada sore hari ini. Bahwasanya dari keempat calon rektor tersebut tidak ada yang pantas untuk jadi rektor,” jelas Razan di sela orasinya.

Penulis: Haykal, Qosim

Reporter: Sukma, Marhawa, Haykal, Qosim

Editor: Musa, Luvita

Ikrar Sudah Diucapkan, Para Pimpinan dan Senator Ormawa FEB Siap Jalani Kepengurusan

Para pemimpin ormawa dan senator sedang berbaris. Yusuf Fikri (kiri membelakangi kamera) sedang menyerahkan jabatan dari pengurus 2022 kepada 2023 secara simbolik. Sumber: Dokumentasi Panitia

(FEB 5/3) – Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) Prof. Dr. Suharnomo., S.E., M.Si. resmi melantik para pimpinan dan senator organisasi mahasiswa (ormawa) FEB Undip periode 2023 pada Minggu, 5 Maret 2023. Pelantikan dilaksanakan secara langsung di Hall Kewirausahaan (KWU) Lantai 4 FEB Undip dengan dihadiri oleh para pimpinan, senator, dan perwakilan 24 ormawa tingkat fakultas.

Untuk membuka kegiatan, Suharnomo memberikan sambutan bahwa manusia yang berguna adalah mereka yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Sebagai orang yang pernah merasakan kehidupan menjadi aktivis kampus, Suharnomo mengingatkan para peserta pelantikan harus mampu manage diri, manage kawan, dan manage hasil.

“Jangan pusing. Sudah dipercaya teman-temannya (malah) lari, ga aktif, tiba-tiba hilang, tiba-tiba dihubungi ngga bisa. Kalau itu kita lakukan, selamanya kita akan jadi pecundang karena tidak berani hadapi kenyataan,” tambah Suharnomo.

Selain Suharnomo, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB Undip Muhammad Adib Rabbani dan Ketua Senat Mahasiswa (SM) FEB Undip Deva Zhalza Amalia juga menyampaikan sambutan formal pertama mereka sebagai pemimpin resmi ormawa masing-masing.

Adib menyampaikan bahwa di tahun 2023, ormawa FEB Undip perlu melakukan sinergitas dan kolaborasi yang lebih intens demi mewujudkan FEB Undip yang lebih baik. Berbeda dengan Adib, Deva menekankan bahwa dengan dilantiknya para pimpinan ormawa FEB melalui ikrar yang telah diucapkan, para pimpinan ormawa secara tidak langsung telah menerima amanah dan tanggung jawab selama 2023 untuk memimpin organisasinya ke arah yang lebih baik. (LD/MJ)

Memburu Keadilan: Sebuah Pergerakan, Bukti Kasih Sayang, dan Bentuk Perjuangan

Reporter: Luvita dan Sukma

Sumber: Publikasi @orangtua.bergerak
Sumber: Live instagram @orangtua.bergerak

(Yogyakarta, 11/01) Istilah klitih sudah tidak asing didengar bagi masyarakat Indonesia, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bermoduskan “iseng-iseng”, klitih telah memakan banyak korban secara semena-mena. Dilansir dari Kumparan News, istilah klitih ini pula yang diakui Ketua Majelis Hakim Suparman pada persidangan tanggal 9 November 2022 atas 5 terdakwa klitih Gedongkuning. Beliau meyakini bahwa klitih adalah, “Perbuatan yang mencoreng nama baik Kota Yogyakarta sebagai kota wisata yang aman dan tertib,”. Namun, keputusan persidangan tersebut tampaknya bukan kasus klitih biasa karena muncul dugaan salah tangkap yang dilakukan polisi kepada 5 terdakwa.

Melalui akun Instagram-nya, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta menyatakan terdapat 3 poin penting pembelaan terdakwa kasus salah tangkap polisi dalam peristiwa klitih Gedongkuning. Ketiga poin tersebut ialah pernyataan hampir sebagian besar saksi bahwa para terdakwa tidak berada di Gedongkuning, terungkapnya fakta manipulasi proses penyidikan, dan penggunaan kekerasan terhadap terdakwa serta saksi oleh pihak kepolisian. Keluarga para terdakwa akhirnya menempuh berbagai cara untuk menyatakan bahwa para terdakwa adalah korban salah tangkap. Satu dari banyaknya cara tersebut ialah ditulisnya buku “Memburu Keadilan: Anakku Korban Rekayasa Kasus Aparat” oleh Andayani, ibu terdakwa Andi Muhammad Husein Mazhahiri.

Dalam kegiatan diskusi serta bedah buku oleh gerakan kolektif Warga Bergerak, Andayani menyatakan bahwa buku “Memburu Keadilan” merupakan bagian dari usahanya memperjuangkan hak kelima korban salah tangkap. Lebih lanjut, buku tersebut juga menjadi wujud perlawanan dalam menghadapi sandiwara aparat dan persekongkolannya. “Karena kalau tidak ditulis, tidak direkam, apa yang kami perjuangkan akan hilang,” tegas Andayani. Kegiatan diskusi dan bedah buku “Memburu Keadilan” dilaksanakan pada Rabu, 11 Januari 2023 di Bjong Ngopi Janti, Yogyakarta, serta live via Instagram @orangtua.bergerak. 

Selain menjadi bentuk perjuangan seorang ibu untuk melawan “Pengadilan Sesat”, buku “Memburu Keadilan” secara lengkap mengisahkan perjalanan panjang menguras emosi yang dituangkan oleh Andayani. Beliau bahkan tak kuasa menahan air mata ketika menceritakan kronologi peristiwa, mulai dari penangkapan anaknya serta anak-anak lain yang dituduh sebagai tersangka, perjuangan para orang tua untuk mencari alibi dan bukti, hingga ketika mereka telah didakwa dan mengajukan kasasi. Tak ayal, rumitnya perjuangan melawan permainan aparat penegak hukum oleh Andayani dan orang tua terdakwa lain diwarnai dengan masalah kesehatan mental yang sempat dirasakan.

Secara gamblang, buku “Memburu Keadilan” mengungkapkan kesewenangan sikap aparat yang seolah membuat terdakwa dan orang tua mereka tidak berdaya dengan dalih kasus bersangkutan telah mengundang perhatian nasional. Berkaitan dengan hal itu, Ketua Ruang Arsip Sejarah Perempuan Ita Fatia Nadia mengatakan, “Fungsi polisi sudah menggantikan fungsi militer. Dia (polisi) melakukan kekerasan,”. Ita menyebut bahwa apa yang ditulis oleh Andayani dalam buku “Memburu Keadilan” menjadi gerakan yang bisa membangun kesadaran politik dan kesadaran sosial melalui perempuan, terutama para ibu.

“Gerakan politik ibu-ibu harus jadi lebih luas dan harus bisa melakukan dialog-dialog. Polisi bukan lagi pengayom masyarakat. Polisi sudah menjadi kawan penguasa. Kita harus melawan.” tegas Bu Ita. “Ada banyak cara kita melawan. Cara-cara itu bisa kita sepakati.” sambungnya. Beliau juga mengungkapkan bagaimana perempuan dan ibu-ibu telah menjadi tonggak berbagai perlawanan yang pernah terjadi di Indonesia, salah satunya pada Gerakan Mahasiswa Indonesia tahun 1998. Beliau mengatakan bahwa tanpa peran ibu-ibu yang mendorong para mahasiswa untuk menuntut aspirasi dengan menduduki Gedung MPR/DPR, Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998 tidak akan terjadi.

“Peristiwa 98 bukan hanya tentang mahasiswa tapi juga karena ibu-ibu dan para aktivis wanita. Kalau buku Bu Andayani bisa diakui dan dijadikan alat politik untuk mengangkat kebenaran atas isu yang dibahas, pergerakan ini akan berdampak besar dan akan mencegah hal serupa yang tidak diinginkan di masa depan.” papar Ita. Sebagai penutup sesinya, Andayani berharap bahwa dia dapat melanjutkan perjuangannya melalui buku-buku yang akan ia tulis selanjutnya. “Kita percaya semesta pasti mendukung kita.” ungkap Bu Andayani dengan penuh keyakinan. 

Bersama Mengabdi Pada Bumi dan Negeri melalui Pendekar Klambi

Reporter: Luvita dan Shela

(Semarang, 27/11) – Satu setengah bulan lamanya kelompok non-governmental organization (NGO) Gombal Project mengabdikan diri pada negeri melalui Proyek Sosial Pendekar Klambi. Selama pelaksanaan, proyek yang didanai oleh Pertamina Foundation ini bekerja sama dengan Panti Sosial Mardi Utomo di Kota Semarang, Jawa Tengah. Proyek Sosial Pendekar Klambi menitikberatkan pada pengelolaan pakaian bekas dengan cara menjahit pakaian-pakaian tersebut menjadi sebuah totebag.

Project Leader Proyek Sosial Pendekar Klambi sekaligus Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Diponegoro (HI Fisip Undip) Anjani Tri Fatharini, disapa Anjani, mengatakan bahwa Pendekar Klambi telah dilaksanakan sejak bulan Oktober hingga 26 November 2022. Dalam kurun waktu tersebut, warga binaan di Panti Mardi Utomo telah mendapat berbagai pelatihan.  Pelatihan-pelatihan itu mencakup cara memilah pakaian bekas yang dapat di-recycle, pengadaan mesin jahit baru dan perbaikan mesin jahit lama oleh tim Gombal Project, hingga pelaksanaan kelas menjahit. Kegiatan puncak proyek ini dinamakan Klambi Fest. Klambi Fest bertujuan sebagai wadah presentasi produk hasil belajar warga binaan selama keberjalanan Pendekar Klambi.

Anjani menyatakan bahwa setelah Klambi Fest, Pendekar Klambi akan sampai pada titik akhirnya. Karena itu, ia berharap adanya Pendekar Klambi dapat membantu  pembangunan warga binaan Panti Mardi Utomo, khususnya dari aspek organisasi. “Jadi, mereka kan sudah dikasih cara menjahit. Sudah tahu kalau pakaian bisa dijadiin tas, gitu. Selanjutnya, perlu untuk membangun siapa kemudian yang akan melanjutkan kegiatan ini. Bagaimana kemudian kita mencarikan atau menjadi fasilitator terkait dengan membuat produk apa, dijual ke mana. Kemudian bicara juga pemasarannya seperti apa,” ungkap Anjani.

Selain berfokus pada pemberdayaan masyarakat, Pendekar Klambi juga telah melakukan pemberdayaan dalam hal mahasiswa, khususnya mahasiswa HI. Anjani mengacungkan jempol pada para mahasiswa yang terlibat sebagai fasilitator warga binaan dalam kegiatan ini. Walaupun durasi proyek tidak sebentar, mereka tetap memiliki rasa kontribusi tinggi untuk mengabdi dan menyelesaikan Pendekar Klambi.

Bagi para mahasiswa, Anjani mengatakan, “Saya berharap ini (Pendekar Kelambi) menjadi starting point yang bagus terutama untuk anak-anak muda di Semarang bahwa we can do something for the society through small actions kayak gini (Pendekar Klambi).” (SF/LD)

O-Academy LPM Opini: Mempersiapkan Karir melalui Pengembangan Diri

Reporter: Ghea dan Danny

FISIP Undip (21/5) – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Opini menyelenggarakan pelatihan jurnalistik dan pengembangan diri bertajuk “Pelatihan O-Academy: Dare to Plan Your Career to Improve Your Quality“ pada Sabtu, 21 Mei 2022. Pelatihan ini menghadirkan Utami Diah Kusumawati, dosen Universitas Multimedia Nusantara, dan Apri Rokhyadi, content creator. Acara dimulai dengan pembukaan oleh MC dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indoesia Raya dan Mars Undip.


Pada sambutannya, Ketua Pelaksana O-Academy, Nadhilah Ishmah, berharap agar peserta dapat mempersiapkan diri terhadap dunia kerja dan pengembangan diri melalui pelatihan ini. “Dengan pelatihan ini, kami harapkan teman-teman dapat mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja melalui peningkatan kemampuan diri, khsusunya bagi teman-teman jurnalis,” ucap Nadhilah. Selain itu, Pimpinan Umum LPM Opini, Anisa Azriana, berpesan agar pelatihan ini dapat menjadi wadah pengembangan diri bagi para peserta. “Besar harapan saya, pelatihan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai wadah pengembangan diri peserta,” terang Anisa.


Jurnalisme Data: Menjadikan Liputan Lebih Akurat


Jurnalisme data merupakan cabang ilmu jurnalistik yang berfokus untuk menghasilkan reportase dan peliputan berbasis data menggunakan komputer serta alat pembantu lainnya. Menurut Kak Utami, sapaan dari Utami Diah Kusumawati, perlu dipahami oleh setiap jurnalis agar menghasilkan produk jurnalistik yang lebih akurat dengan berbasis data. “Kita ga belajar hanya untuk mengambil talking news aja, ya. Tapi kalau kita punya datanya, jika ada narasumber yang ngomong, adik-adik bisa membuktikannya, ‘Apakah betul klaim yang disampaikan oleh narasumber?’,” ujar kak Utami. “Jadi, bukan hanya bicara kata-kata, tetapi juga menyuguhkan fakta yang berupa data kepada pembaca. Jadi, lebih bertanggung jawab sebagai jurnalis dan liputannya menjadi lebih akurat,” lanjut Kak Utami.

Jurnalisme data dapat disajikan dalam berbagai bentuk, seperti contoh ilustrasi maupun grafik. Hal ini digunakan agar pembaca tidak merasa bosan dan letih ketika membaca liputan yang tersajikan. Selain itu, pembaca juga dapat lebih mudah memahami maksud yang hendak reporter atau penulis sampaikan. “Dengan didukung dengan grafik dan data, pembaca bisa langsung mengambil intisari (tulisan)-nya,” terang kak Utami.

Mempersiapkan Karier dan Membangun Personal Branding Bagi Mahasiswa

Tahapan mempersiapkan karier adalah tahapan yang krusial untuk bisa mendapatkan pekerjaan atau profesi impian. Kak Apri, sapaan dari Apri Rokhyadi, membagikan kiat-kiatnya untuk mempersiapkan karier kepada para peserta Pelatihan O-Academy. Menurutnya, ada empat kiat yang perlu dipahami dan diterapkan: Ask Yourself, Research, Take Action, dan Find Your Support System. Empat kiat ini akan memberikan mahasiswa pemahaman terkait passion dan skill yang mereka miliki, kualifikasi dari pekerjaan atau profesi yang diinginkan, juga kesadaran untuk melakukan pengembangan diri Kak Apri juga memberikan informasi mengenai jalur atau tahapan apa saja yang biasanya dilewati para calon pegawai di masa rekrutmen, salah satunya yaitu CV Screening. Kak Apri mendorong para mahasiswa untuk memperbanyak pengalaman dan mengasah soft maupun hard skills. “Yang dilihat dari CV itu bukan template atau seberapa bagus tampilannya, tapi konten,” tutur Kak Apri. Dalam Pelatihan O-Academy, Kak Apri menggarisbawahi tiga basic skills atau keterampilan dan kemampuan yang harus dimiliki di abad ke-21. Learning skills, literacy skills, serta life skills adalah tiga skills tersebut. Ketiga skills itu juga menjadi salah satu perhatian utama perusahaan-perusahaan ketika merekrut pegawai baru. “Intinya, kita perlu mempersiapkan diri (serta) mengetahui posisi yang kita lamar kualifikasinya itu seperti apa. Kemudian,
(selanjutnya) merefleksi diri apakah kita punya kualifikasi itu atau belum,” ujar Kak Apri.


Alumni Sekolah Bisnis Manajemen ITB ini turut berbagi informasi mengenai pembangunan citra diri melalui LinkedIn, sebuah situs web jaringan sosial yang berorientasi bisnis, terutama digunakan untuk jaringan profesional. Membangun citra diri melalui situs web tersebut yaitu dengan memilih kelebihan kita, tidak menonjolkan atau memperlihatkan kelemahan dengan berlebihan, serta mengomunikasikan competitive value yang kita miliki. IONS: Identify your brand, Optimize your profile, Network, dan Share adalah rumus membangun Personal Branding melalui Linkedin sehingga situs web itu dapat menjadi wadah kita untuk memberikan citra diri yang berkualitas dan membangun jejaring yang kuat.

FEB Undip Gelar Forum Diseminasi Hasil Sebelas Doktor Baru

Penulis: Shela Nur Fajriya

feb-undip-gelar-forum-diseminasi-hasil-sebelas-doktor-baru

Forum Diseminasi Hasil Doktor Dosen digelar oleh Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip pada 30 Maret 2022 dengan sistem blended, yaitu luring dan daring. Acara yang termasuk dalam rangkaian Dies Natalis ke-62 FEB Undip ini, memaparkan 11 hasil disertasi yang dilakukan oleh dosen FEB. Pemaparan hasil penelitian dibagi menjadi 2 (dua) sesi dengan dipandu oleh Onny Dwi Sawastri, S.E sebagai MC serta dimoderatori oleh Sri Rahayu Tri A., S.E., M.M. dan Puji Harto, S.E., M.Si., AKT., PH.D.


Dekan FEB Undip, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., dalam sambutannya berharap para doktor baru dapat menghidupkan kembali kelompok studi serta dapat menyampaikan pendapatnya mengenai fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat sebagai bentuk pendewasaan diri. “Jangan sampai ranah sosial media dipenuhi pendapat-pendapat yang bukan pakarnya. Sibuklah berkontribusi bagi banyak orang,” ujarnya.


Salah satu doktor baru, Dr. Nur Cahyonowati, S.E., M.Si., Akt, dalam kesempatan ini memaparkan hasil risetnya yang bertajuk Faktor Penentu dan Kualitas Kepatuhan Pajak: Pengujian Teori Lereng Licin. Beberapa hal mendasari penelitiannya ini, seperti tingkat kepatuhan pajak Indonesia yang rendah, riset empiris kepatuhan pajak belum meraih konsensus, ketidakkonsistenan pengujian empiris teori lereng licin, hingga isu metodologi: real income/earned income vs endowment income.


Nur menyampaikan bahwa proporsi pajak didominasi oleh Wajib Pajak Pribadi, sehingga tidak boleh disepelekan untuk mengejar penerimaan pajak. Selain itu, ia mengungkapkan bahwa dalam hal kepatuhan pajak, alat yang dapat efektif membuat individu membayar pajak bukan hanya faktor penjera melainkan terdapat juga faktor psikologis berupa trust yang memberikan individu sebuah motivasi untuk membayar pajak secara spontan.


Dalam paparan lainnya, Dr. Daljono, S.E., M.Si., Akt. membagikan hasil penelitiannya dengan judul yang menarik yaitu Manajemen Reaksioner “Sak Dek Sak Nyet” Konstruksi SPM dalam Kontek Perubahan Organisasi”. Istilah sak dek sak nyet ini tidak lain merupakan alternatif dari kata cepat yang ia dapatkan saat wawancara untuk pengambilan data. Pada penelitian ini, Daljono mengangkat bahasan mengenai studi perubahan status PTN “X” (nama dirahasiakan) menjadi PTNBH.


Selain dua dosen tersebut masih ada 9 (sembilan) dosen lain yang turut menyampaikan hasil penelitiannya, yakni Dr.rer.pol Alfa Farah, S.E., M.SC., Dr. Hastarini Dwi Atmanti, S.E., M.Si., Dr. I Made Bayu Dirgantara, S.E., M.M., Dr. Andriyani, S.E., M.M., Dr. Ismi Darmastuti, S.E., M.Si., Dr. Eisha Lataruva, S,E., M.M., Dr. Siti Mutmainah, S.E., M.Si., Akt., Dr. Andri Prastiwi, S.E., M.Si., Akt., dan Dr. Shiddiq Nur Rahardjo, S.E., M.Si., Akt.

Menyambut LKMM-D FEB UNDIP 2022

Reporter: Dewanti dan Munna

Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa tingkat Dasar (LKMMD) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) merupakan salah kaderisasi setelah LKMMP-D yang sesuai dengan buku biru. Pada Minggu, 27 Maret 2022, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB Undip mengadakan sosialisasi LKMM-D pada platform Zoom Meeting dengan membawa tema ‘‘Empowering Leaders, Enabling Others’’ dengan tagline “Creating Leaders Who Lead Others to Lead Better”. LKMM-D ini merupakan kelanjutan kaderisasi LKMMP-D dimana membawa tujuan untuk mengembangkan kepemimpinan, management skill, problem solving, kemampuan beranalisis, dan juga sebagai wadah bagi mahasiswa untuk ikut serta dalam organisasi. Filosofi yang dibawa pada tahun ini adalah ombak yang menggambarkan kekuatan dan dinamisme, matahari yang menggambarkan kehangatan dan sumber harapan, dan sinar matahari yang menggambarkan bukti nyata semangat dan energi.


Sosialisasi pada 27 Maret 2022 tersebut dihadiri oleh Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) yang berada di FEB serta mahasiswa/i yang berasal dari luar FEB. Kegiatan sosialisasi dibuka pada pukul 12.15 WIB dengan rangkaian kegiatan awal adalah menyanyikan Indonesia Raya dilanjut Himne Undip dan Mars Mahasiswa Totalitas Perjuangan. Selanjutnya, kegiatan dibuka dengan pembacaan materi oleh 2 pembicara, yaitu Elisabeth Maretta Kristianti Ginting yang berasal dari Program Studi (Prodi) Gizi, Fakultas Kedokteran Undip dan Dita Indah Maharani yang berasal dari Prodi Ekonomi Islam FEB Undip.

LKMM-D sendiri akan dibuka dengan tahap seleksi berkas, Focus Group Discussion (FGD), hingga interview. Rangkaian proses penyeleksian tersebut bertujuan untuk mengambil mahasiswa/i berkompeten yang berhak ikut tahap LKMM-D selanjutnya. Setalah melewati tahap penyeleksian, akan ada rangkaian acara dari LKMM-D yang terdiri dari technical meeting pada 13 Mei 2022 dilanjutkan dengan Pre-Phase 1, Pre-Phase 2, Day 1, Day 2, Day 3, Day 4, Social Project, dan yang terakhir adalah LPJ Social Project dilaksanakan pada 10 Juli 2022 dimana peserta mempresentasikan laporan penanggungjawaban project yang telah dilakukan.

Untuk peserta LKMM-D sendiri tidak hanya dari delegasi ormawa FEB melainkan dapat dikuti oleh delegasi ormawa manapun dari Universitas Diponegoro. Untuk jumlah kuota peserta tahun ini 80 peserta namun bisa lebih dengan melihat antusias para peserta. Presentase kuota sama antara ormawa FEB maupun ormawa dari luar FEB.

Rangkaian kegiatan yang nantinya diberikan seperti Sekolah Bidang, Pendidikan, Sekolah Bisnis, Sekolah Ekonomi dan Politik akan dibawakan materi yang berbeda dengan pembicara yang berkompeten sesuai dengan tema materi yang ditentukan. Namun berbeda dengan tahun lalu sekarang Sekolah Bidang tahun ini lebih ke general dan singkat jadi para peserta dapat memilih beberapa bidang yang diminati dan tidak fokus ke satu bidang saja.

Perangi Hoaks dengan Cek Fakta

Reporter : Dzikrina dan Azita

Maraknya berita palsu atau lebih dikenal dengan istilah “hoaks” tentu menimbulkan keresahan. Kerap kali muncul kebimbangan saat membaca sebuah berita, apakah itu fakta atau hoaks semata? Jurnalis pun turut terkena imbasnya, penyebaran hoaks di lini masa menjadi tantangan bagi kerja jurnalis. Terutama persoalan kesehatan, HAM, kelompok minoritas yang dapat memantik kesalahpahaman.


Menyikapi kondisi tersebut, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta bekerja sama dengan Prohealth.id serta didukung oleh Google News Initiative Network menyelenggarakan Pelatihan Daring Cek Fakta bagi jurnalis dan mahasiswa pada hari Sabtu (26/03). Pelatihan ini menghadirkan tiga pembicara sekaligus, diantaranya Hartatik sebagaiTrainer Google News Initiative Network dan Jurnalis Suara Merdeka. Kemudian, ada Irsyan Hasyim yang merupakan Trainer Google News Initiative Network dan AJI Jakarta dan Afwan Purwanto selaku Ketua AJI Jakarta. Dengan menghadirkan tiga pembicara ahli dalam bidangnya tersebut, diharapkan mampu mengedukasi para jurnalis dan mahasiswa mengenai teknik mendeteksi informasi palsu mengingat cepatnya penyebaran informasi di era digital.


Masing-masing pembicara pun memiliki fokus topik yang berbeda. Hartatik lebih menyoroti persoalan mengenai cara memproses informasi, tindakan respon terhadap sebuah informasi, perbedaan dari misinformasi dan disinformasi, dan bagaimana cara orang memanipulasi sebuah berita atau konten. Sedangkan, Irsyan Hasyim, menjelaskan secara rinci mengenai anatomi hoaks, hoaks momentum dan evergreen, alasan orang mudah percaya dengan hoaks, modus hoaks, kategori hoaks, alasan munculnya hoaks, serta lima pilar verifikasi untuk melacak konten.


Berbeda dengan dua pembicara sebelumnya, Afwan Purwanto lebih menekankan pentingnya menelusuri konten asli dan analisis sumber. Apabila tidak menelusuri konten asli semakin besar kemungkinan kita tertipu. Sangat perlu dilakukan identifikasi hoaks seperti mengecek alamat media, mengecek detail visual media, mewaspadai iklan yang serupa dengan berita, mengecek “about us” media, mewaspadai judul sensasional, membandingkan ciri-ciri pakem jurnalistik, mengecek situs media arus utama, dan mengecek foto atau video. Afwan Purwanto mempraktikkan cara memverifikasi informasi menggunakan berbagai macam tools seperti menelusuri foto dengan menggunakan google image, yandex image, atau tineye dan metode verifikasi lainnya. Afwan Purwanto menegaskan, “Pilihannya hanya ada dua, apakah ingin menjadi jurnalis yang kredibel atau tidak? kredibilitas akan dipertaruhkan jika tidak melakukan verifikasi informasi,dan yang dibutuhkan adalah valid atau tidaknya bukan faktor cepatnya informasi diterbitkan.”

Sebelum pelatihan berakhir, Afwan Purwanto memberikan kalimat penutupan, “Practice makes perfect, sehingga harus rajin menggunakan tools dalam melakukan verifikasi informasi dan sangat penting bagaimana kita menyikapi dan mengolah informasi yang didapatkan.” Pelatihan ini berlangsung sampai hari Minggu, 27 Maret 2022.

Bedah Buku Nicotine War: Menyingkap Perang Perebutan Nikotin

Reporter: M. Musa Aminullah

bedah-buku-nicotin-war-menyingkap-perang-perebutan-nikotin

(UNDIP 19/3) – Acara bertajuk Nicotine War terinspirasi dari sebuah buku karya Wanda Hamilton berjudul Nicotin War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat. Acara ini merupakan kegiatan bedah buku sekaligus diskusi tentang perang nikotin yang terjadi di Amerika dan di Indonesia. Acara Nicotine War dilaksanakan secara hybrid, yakni di Undip Inn lantai 8 dan platform YouTube. Tiga narasumber diundang pada acara ini, yaitu Abisham Demosa (Koordinator Nasional Komunitas Kretek (2010-2016)), Khotibul Umam (Dosen Sastra Indonesia UNDIP Semarang), dan Irfan Afifi (Budayawan). Tidak lupa, acara juga dimeriahkan oleh Band SAKUTALA.

Acara Nicotine War diselenggarakan oleh LPM Manunggal, Komunitas Kretek, dan Organisasi Daerah (Orda) Tembus (Kudus). Acara dimulai pada pukul 13.30. Sebelum kegiatan berlangsung, terlebih dahulu peserta dicek suhu tubuh, mengisi absensi di resepsionis, dan mendapatkan buku secara gratis. Pembawa acara lalu membuka acara, mempersilahkan Band SAKUTALA menghibur hadirin, dan melimpahkan keberlangsungan acara pada moderator.

Abhi sebagai perwakilan Komunitas Kretek yang concern dalam isu nicotine war. Komunitas Kretek merupakan pengawal isu peperangan perebutan keretek antara industri rokok multinasonal yang menginvasi industri rokok dalam negeri. Abhi membeberkan fakta terkait adanya perang perebutan nikotin di Amerika, antara industri rokok dan industri farmasi. Fakta yang dimaksud menyiratkan bahwa di balik agenda kampanye anti rokok, terdapat agenda untuk menguntungkan industri farmasi atas produk terapi bagi para pecandu rokok. Tidak hanya itu, Abhi juga menjelaskan tentang perang nikotin yang terjadi di Indonesia, perang antara industri rokok nasional dan industri rokok multinasional atas tembakau, dan kampanye anti rokok yang mulai menghilangkan industri rokok lokal.

Berbeda halnya dengan Kholtibul Umam yang menyampaikan dari sudut pandang karya-karya sastra di Indonesia, baik puisi dan lagu. Cukup banyak sastrawan Indonesia yang suka rokok, banyak juga yang tidak. Satu hal yang pasti, kesukaan atau ketidaksukaan itu bukanlah sebuah masalah. Sempat menyinggung juga kalau semakin ke sini, banyak visual yang memperlihatkan orang merokok mulai dihilangkan. Contohnya adalah buku berjudul Roro Mendut yang menghilangkan sosok wanita merokok dan buku karya Chairul Anwar berjudul Bagimu Negeri Menyediakan Api versi terbaru yang menghilangkan rokok pada bibir Chairil, tanpa menghiraukan korek yang menyala.

Sudut pandang berbeda juga disampaikan oleh Irfan Afifi melalui kacamata budaya. Irfan meyatakan bahwa rokok asli Indonesia bermula dari kota Kudus. Ia berargumen bahwa keretek seharusnya menjadi sebuah nama, ciri khas, hingga sebuah potensi rakyat yang harus terus ada tanpa perlu diatur pihak luar. Kalaupun rokok harus musnah, hal itu wajib sesuai dengan hasil kedaulatan rakyat. Penekanan kedaulatan yang dimaksud Kak Irfan bukan hanya persoalan ekonomi atau kesehatan. Bukan juga sesederhana rokok boleh atau tidak, haram atau halal. Kedaulatan yang dimaksud berbicara tentang bagaimana Indonesia mampu berdikari tanpa harus di intervensi pihak luar atau bahkan hanya sebagai konsumen kebudayaan.

“Isu perang nikotin ini menjadi lubang kunci untuk mengintip isu lainnya yang kurang lebih sama. Pada intinya, kita bisa melihat bahwa betapa kompleksnya permasalahan bangsa ini. Tentu dengan tidak hanya sebatas perkara rokok boleh atau tidak, halal atau haram,” pungkas Abhi pada akhir acara.