Perangi Hoaks dengan Cek Fakta

Reporter : Dzikrina dan Azita

Maraknya berita palsu atau lebih dikenal dengan istilah “hoaks” tentu menimbulkan keresahan. Kerap kali muncul kebimbangan saat membaca sebuah berita, apakah itu fakta atau hoaks semata? Jurnalis pun turut terkena imbasnya, penyebaran hoaks di lini masa menjadi tantangan bagi kerja jurnalis. Terutama persoalan kesehatan, HAM, kelompok minoritas yang dapat memantik kesalahpahaman.


Menyikapi kondisi tersebut, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta bekerja sama dengan Prohealth.id serta didukung oleh Google News Initiative Network menyelenggarakan Pelatihan Daring Cek Fakta bagi jurnalis dan mahasiswa pada hari Sabtu (26/03). Pelatihan ini menghadirkan tiga pembicara sekaligus, diantaranya Hartatik sebagaiTrainer Google News Initiative Network dan Jurnalis Suara Merdeka. Kemudian, ada Irsyan Hasyim yang merupakan Trainer Google News Initiative Network dan AJI Jakarta dan Afwan Purwanto selaku Ketua AJI Jakarta. Dengan menghadirkan tiga pembicara ahli dalam bidangnya tersebut, diharapkan mampu mengedukasi para jurnalis dan mahasiswa mengenai teknik mendeteksi informasi palsu mengingat cepatnya penyebaran informasi di era digital.


Masing-masing pembicara pun memiliki fokus topik yang berbeda. Hartatik lebih menyoroti persoalan mengenai cara memproses informasi, tindakan respon terhadap sebuah informasi, perbedaan dari misinformasi dan disinformasi, dan bagaimana cara orang memanipulasi sebuah berita atau konten. Sedangkan, Irsyan Hasyim, menjelaskan secara rinci mengenai anatomi hoaks, hoaks momentum dan evergreen, alasan orang mudah percaya dengan hoaks, modus hoaks, kategori hoaks, alasan munculnya hoaks, serta lima pilar verifikasi untuk melacak konten.


Berbeda dengan dua pembicara sebelumnya, Afwan Purwanto lebih menekankan pentingnya menelusuri konten asli dan analisis sumber. Apabila tidak menelusuri konten asli semakin besar kemungkinan kita tertipu. Sangat perlu dilakukan identifikasi hoaks seperti mengecek alamat media, mengecek detail visual media, mewaspadai iklan yang serupa dengan berita, mengecek “about us” media, mewaspadai judul sensasional, membandingkan ciri-ciri pakem jurnalistik, mengecek situs media arus utama, dan mengecek foto atau video. Afwan Purwanto mempraktikkan cara memverifikasi informasi menggunakan berbagai macam tools seperti menelusuri foto dengan menggunakan google image, yandex image, atau tineye dan metode verifikasi lainnya. Afwan Purwanto menegaskan, “Pilihannya hanya ada dua, apakah ingin menjadi jurnalis yang kredibel atau tidak? kredibilitas akan dipertaruhkan jika tidak melakukan verifikasi informasi,dan yang dibutuhkan adalah valid atau tidaknya bukan faktor cepatnya informasi diterbitkan.”

Sebelum pelatihan berakhir, Afwan Purwanto memberikan kalimat penutupan, “Practice makes perfect, sehingga harus rajin menggunakan tools dalam melakukan verifikasi informasi dan sangat penting bagaimana kita menyikapi dan mengolah informasi yang didapatkan.” Pelatihan ini berlangsung sampai hari Minggu, 27 Maret 2022.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *