Reporter: M. Musa Aminullah

(UNDIP 19/3) – Acara bertajuk Nicotine War terinspirasi dari sebuah buku karya Wanda Hamilton berjudul Nicotin War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat. Acara ini merupakan kegiatan bedah buku sekaligus diskusi tentang perang nikotin yang terjadi di Amerika dan di Indonesia. Acara Nicotine War dilaksanakan secara hybrid, yakni di Undip Inn lantai 8 dan platform YouTube. Tiga narasumber diundang pada acara ini, yaitu Abisham Demosa (Koordinator Nasional Komunitas Kretek (2010-2016)), Khotibul Umam (Dosen Sastra Indonesia UNDIP Semarang), dan Irfan Afifi (Budayawan). Tidak lupa, acara juga dimeriahkan oleh Band SAKUTALA.
Acara Nicotine War diselenggarakan oleh LPM Manunggal, Komunitas Kretek, dan Organisasi Daerah (Orda) Tembus (Kudus). Acara dimulai pada pukul 13.30. Sebelum kegiatan berlangsung, terlebih dahulu peserta dicek suhu tubuh, mengisi absensi di resepsionis, dan mendapatkan buku secara gratis. Pembawa acara lalu membuka acara, mempersilahkan Band SAKUTALA menghibur hadirin, dan melimpahkan keberlangsungan acara pada moderator.
Abhi sebagai perwakilan Komunitas Kretek yang concern dalam isu nicotine war. Komunitas Kretek merupakan pengawal isu peperangan perebutan keretek antara industri rokok multinasonal yang menginvasi industri rokok dalam negeri. Abhi membeberkan fakta terkait adanya perang perebutan nikotin di Amerika, antara industri rokok dan industri farmasi. Fakta yang dimaksud menyiratkan bahwa di balik agenda kampanye anti rokok, terdapat agenda untuk menguntungkan industri farmasi atas produk terapi bagi para pecandu rokok. Tidak hanya itu, Abhi juga menjelaskan tentang perang nikotin yang terjadi di Indonesia, perang antara industri rokok nasional dan industri rokok multinasional atas tembakau, dan kampanye anti rokok yang mulai menghilangkan industri rokok lokal.
Berbeda halnya dengan Kholtibul Umam yang menyampaikan dari sudut pandang karya-karya sastra di Indonesia, baik puisi dan lagu. Cukup banyak sastrawan Indonesia yang suka rokok, banyak juga yang tidak. Satu hal yang pasti, kesukaan atau ketidaksukaan itu bukanlah sebuah masalah. Sempat menyinggung juga kalau semakin ke sini, banyak visual yang memperlihatkan orang merokok mulai dihilangkan. Contohnya adalah buku berjudul Roro Mendut yang menghilangkan sosok wanita merokok dan buku karya Chairul Anwar berjudul Bagimu Negeri Menyediakan Api versi terbaru yang menghilangkan rokok pada bibir Chairil, tanpa menghiraukan korek yang menyala.
Sudut pandang berbeda juga disampaikan oleh Irfan Afifi melalui kacamata budaya. Irfan meyatakan bahwa rokok asli Indonesia bermula dari kota Kudus. Ia berargumen bahwa keretek seharusnya menjadi sebuah nama, ciri khas, hingga sebuah potensi rakyat yang harus terus ada tanpa perlu diatur pihak luar. Kalaupun rokok harus musnah, hal itu wajib sesuai dengan hasil kedaulatan rakyat. Penekanan kedaulatan yang dimaksud Kak Irfan bukan hanya persoalan ekonomi atau kesehatan. Bukan juga sesederhana rokok boleh atau tidak, haram atau halal. Kedaulatan yang dimaksud berbicara tentang bagaimana Indonesia mampu berdikari tanpa harus di intervensi pihak luar atau bahkan hanya sebagai konsumen kebudayaan.
“Isu perang nikotin ini menjadi lubang kunci untuk mengintip isu lainnya yang kurang lebih sama. Pada intinya, kita bisa melihat bahwa betapa kompleksnya permasalahan bangsa ini. Tentu dengan tidak hanya sebatas perkara rokok boleh atau tidak, halal atau haram,” pungkas Abhi pada akhir acara.

