Mengenal Potensi Diri melalui Webinar Explosion 2020

Oleh: Erva

Sabtu (24/10/2020) – Telah berlangsung Webinar Nasional Explosion yang diselenggarakan secara online melalui platform Zoom Meeting oleh Himpunan Mahasiswa Departemen Akuntansi (HMDA) atau yang biasa disebut Keluarga Mahasiswa Akuntansi (KMA) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip). Acara ini berlangsung selama dua hari yakni pada hari Sabtu 24 Oktober 2020 dan Minggu 25 Oktober 2020. Explosion 2020 mengusung tema “Heat up Your Passion Make it Into Motion”. Dalam seminar kali ini menghadirkan empat pembicara yaitu Iyas Lawrence (Founder & Host @maknatalks), Nadhifa Allya Tsana (Writer, Digital Creator, RINTIK SENDU), Sayed Muhammad (Founder & CEO of USS NETWORKS), dan Fitra Eri (Journalist, Car Review, Race Car Driver, OTODRIVER).

Acara ini diawali dengan pembukaan oleh MC, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Sakadewa Senajati selaku ketua pelaksana Explosion 2020, dilanjutkan oleh Hizkia Efraldo Saragih sebagai Ketua Umum HMDA FEB Undip, dan yang terakhir sambutan dari Kepala Departemen Akuntansi FEB Undip yakni Agung Juliarto. Selanjutnya adalah sesi pemaparan materi yang dipimpin oleh moderator untuk keempat pembicara. Explosion 2020 ini tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa Undip saja, melainkan dari berbagai kalangan di luar Undip yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai passion.

Pada sesi pertama dan kedua dilaksanakan pada Sabtu 24 Oktober 2020. Dalam sesi pertama ini dimoderatori oleh Anggi Rin yang merupakan founder @hersphere_ dan pembicara untuk sesi pertama yaitu Iyas Lawrence, founder & host dari @maknatalks. Pada sesi pertama ini memiliki kategori “Inspiring Talks in Personal” dan mengangkat tema “Life is’nt About Finding Yourself but Creating Yourself”. Iyas Lawrence memberikan tanggapan mengenai pentingnya jiwa kepemimpinan bagi setiap individu dan menjelaskan apresiasi bagi diri sendiri dalam menghadapi setiap fase kehidupan yang dijalani.

Kemudian pada sesi kedua dimoderatori oleh Herfin Angelina, penerima Beswan Djarum Plus 2020, dan pembicara dalam sesi kedua yaitu Nadhifa Allya Tsana, seorang penulis dan digital creator. Pada sesi kedua berkategori “Visualizing Passion in The Middle of Disruption Era” dan bertema “Passion as an Intense, Powerful Devotion and Interest in Something”, Nadhifa Allya Tsana atau yang biasa disapa Tsana ini memberikan cerita atas upaya bagaimana dirinya tetap dapat berkarya di tengah kondisi new normal dan bagaimana cara untuk menemukan peluang atau kegiatan baru pada saat terkendala pandemi ini dan memberikan gambaran secara luas mengenai kekurangan dan kelebihan bekerja sesuai passion diri serta memberikan arahan dalam memanfaatkan segala bentuk opportunity untuk proses meningkatkan kualitas diri (self-improvements) untuk mendukung pengembangan passion yang dimiliki para generasi muda.

Pada sesi ketiga dan keempat dilaksanakan pada Minggu 25 Oktober 2020. Dalam sesi ketiga, pembicaranya adalah Sayed Muhammad, founder & CEO dari USS Networks, dan dimoderatori oleh M. Irham Abdurahman, co founder dari Kost Clink. Sesi ketiga mengangkat tema “What is the most powerful ability for facing this era ?” dan berkategori “Entrepreneur”. Dalam sesi tersebut Sayed menjelaskan pengalamannya dalam memulai bisnis dan membangun USS Networks. Sayed juga berbagi kiat-kiat dalam berbisnis seperti bagaimana cara memilih partner, perlunya passion dalam berbisnis, dan jangan takut untuk gagal. Sayed juga berpesan selagi masih muda cobalah segala hal yang untuk menghabiskan kegagalan di saat muda.

Kemudian sesi terakhir diisi oleh Fitra Eri, yang seorang jurnalis, car review, dan pembalap. Sesi ini dimoderatori oleh Rivaldo Gere Gurky, partner at share & global representative for Indonesia. Pada sesi terakhir ini mengangkat tema “Finding your true life passion to reach self-actualization” dalam kategori “Live Your Passion”. Dalam kesempatan tersebut, Fitra Eri memaparkan bagaimana ketertarikannya dalam dunia otomotif. Kemudian Fitra juga menceritakan awal mula pengalamannya masuk ke dalam dunia racing hingga memenangkan kompetisi di Malaysia. Selain itu, Fitra juga menjelaskan awal mulanya terjun dalam dunia jurnalis yang menulis seputar otomotif.

Sebelum pemaparan materi di setiap sesinya, moderator akan mengadakan sesi interaktif yang berjudul fakta atau bukan. Jadi, setiap pembicara harus memilih fakta atau bukan dari pernyataan yang diajukan oleh moderator. Setelah pemaparan materi dilanjutkan sesi tanya jawab oleh peserta seminar kemudian dilanjutkan mini quiz di setiap sesinya.

Mengenal Potensi Industri Halal Indonesia melalui Seminar Internasional SEHATI 11

Oleh: Salma Vaza

Sabtu (24/10/2020) – Telah berlangsung International Webinar Sharia Economic Activity (SEHATI) 11 yang diselenggarakan secara online melalui platform Zoom Meeting dan live Youtube oleh Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip). Acara tersebut mengusung tema “Reconstruction of The Halal Industry Towards Indonesia as The Center for Global Islamic Economics”. Dalam penyelenggaraannya, seminar ini menghadirkan tiga pembicara Dr. Irfan Syauqi Beik (Director of Distribution and Empowerment, BAZNAS), Dato’ Prof. Dr. Sudin Haron (President & Chief Executive Officer of Kuala Lumpur Business School), dan Dr. Sutan Emir Hidayat (Director of Islamic Economy Supporting Ecosystem, KNEKS).

Acara ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Rizka Aulia selaku ketua panitia SEHATI 11, dilanjutkan oleh Syarieful Khuluq sebagai ketua KSEI FEB Undip, kemudian disambung oleh Firmansyah selaku Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan FEB Undip. Selanjutnya, terdapat sesi pemaparan materi yang dipimpin oleh moderator untuk tiga pembicara. Seminar internasional ini dihadiri oleh berbagai kalangan baik mahasiswa hingga umum. Jadi, peserta tidak sebatas lingkup Undip saja, melainkan dari berbagai kalangan yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai industri halal di Indonesia.

Acara inti dimulai oleh moderator yaitu Prof. Dra. Indah Susilowati M.Sc., Ph.D. selaku dosen Universitas Diponegoro. Sebagai pembawa materi pertama, Dr. Irfan Syauqi Beik menyampaikan mengenai “Optimalisasi Zakat dalam Pengembangan Industri Halal”. Indonesia berpotensi sebagai pusat ekonomi syariah dunia karena Indonesia memiliki pangsa pasar makanan halal sebesar 13% pada tahun 2018. Pada 2020 Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memiliki target zakat sebesar 12,48 triliun. Adapun peran BAZNAS dalam industri halal diantaranya mendorong sertifikasi halal, melaksanakan industri halal secara berkelanjutan dan mengembangkan pasarhalal.com.

Pemateri kedua yakni Dr. Sutan Emir Hidayat, yang membahas mengenai potensi Indonesia sebagai pusat industri halal terutama saat pandemi. Dalam pemaparan materi, Dr. Sutan Emir Hidayat menyebutkan beberapa sector yang mengalami peningkatan seperti penggunaan aplikasi digital berbasis “halal lifestyle”,online learning, serta peningkatan zakat, infaq, shadaqah (ZISWAF). Peran pemerintah dalam revitalisasi industri halal saat new normal dibutuhkan untuk mengantisipasi adanya goncangan perekonomian saat pandemi.

Pemateri terakhir adalah Dato’ Prof. Dr. Sudin Haron. Pada materi ini, pembahasan mengenai industri halal di Indonesia sangat ditekankan, seperti regulasi peraturan halal, jenis-jenis industri halal, hingga pengembangan sumber daya manusia agar industri halal semakin berkembang di Indonesia.

Setiap sesi pemaparan materi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh peserta seminar dan dijawab oleh pembicara. Diakhir acara diumumkan tiga pemenang Twibbon Challenge. Nantinya akan diadakan Awarding Night pada Sabtu (24/10/2020) malam hari sebagai penutup dari rangkaian acara SEHATI 11. Dalam Awarding Night juga diumumkan pemenang lomba Islamic Economic Olympiad (IEO) dan Sharia Paper Competition (SPACE).

DESIGN 2020 : Strategi Rekonstruksi Ekonomi-Sosial Indonesia Pasca Pandemi Covid-19

Oleh: Susan dan Indah

Sabtu (17/10/2020) – Telah berlangsung Seminar Nasional DESIGN (Diponegoro Economics Social General Discussion) 2020 yang diselenggarakan secara online melalui platform Zoom Meeting oleh Kelompok Studi Masalah Ekonomi dan Sosial (KESMES) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip). Acara tersebut mengusung judul “Strategi Rekonstruksi Ekonomi-Sosial Indonesia Pasca Pandemi Covid-19”. Dalam penyelenggaraannya , menghadirkan tiga pembicara, diantaranya yaitu Drs. Pitoyo Tri Susanto, M. Si. (Kepala Bidang Perencanaan Perekonomian Kota Semarang), Esther Sri Astuti Soeryaningrum Agustin, S. E., M.S.E., Ph.D (Program Director INDEF), dan Sherly Annavita Rahmi (Motivator and Millenial Influencer).

Acara ini dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh peserta yang hadir, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Firmansyah selaku Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan FEB Undip, dilanjutkan oleh Fa’iq Fari sebagai Ketua KESMES 2020, kemudian disambung oleh Okki Alfianto sebagai Ketua DESIGN 2020. Lalu, masuk sesi pemaparan yang dipimpin oleh modetor untuk tiga pembicara. Diakhiri dengan sesi tanya jawab, pengumuman pemenang lomba (esai, presentasi, dan diskusi), dan penutup.
Seminar nasional ini diikuti oleh berbagai kalangan baik dari mahasiswa maupun non mahasiwa. Jadi, peserta tidak hanya sebatas lingkup Undip saja, melainkan dari berbagi bidang yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai keadaan ekonomi pasca pandemi.

Saat memasuki acara inti, dimulai oleh moderator yang memimpin acara, yaitu Yunita Sekarningtyas selaku mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Sebelas Maret. Esther Sri Astuti Soeryaningrum Agustin, S. E., M.S.E., Ph.D (Program Director INDEF) perwakilan dari akademisi, menyampaikan mengenai Strategi Pasca Pandemi. Beliau membiacarakan bagaimana adanya peningkatan kemiskinan akibat Covid-19, kemudian UMKM yang banyak mengalami masalah, serta upaya dalam mengatasi berbagai permasalahan tersebut.

Kemudian, dilanjutkan oleh pembicara kedua yaitu Drs. Pitoyo Tri Susanto, M. Si. (Kepala Bidang Perencanaan Perekonomian Kota Semarang). Beliau membicarakan mengenai strategi pasca pandemi dari sisi pemerintahan. Menurut beliau, kondisi saat ini masih berada di masa yang sulit, sebagaimana pada sisi kesehatan masih bagian dari pemerintah dan disisi lain ada bidang ekonomi yang juga bagian pemerintah. Pemerintah Semarang sendiri mulai meluncurkan Kredit Wibawa, merupakan bantuan bergulir dari dana APBD.

Setelah selesai oleh pembicara kedua, dilanjutkan oleh pembicara ketiga bersama Sherly Annavita Rahmi (Motivator and Millennial Influencer). Pada sesi ini akan membahas secara lebih kekinian dari pandangan millennial. Beliau membicarakan bahwa dari setiap kondisi sulit pasti akan memunculkan sosok baru yakni pemenang dari peristiwa tersebut. Bagimana peran pemuda ke depannya, terutama saat Indonesia memasuki usia satu abad pada 2045. Dalam sesi ketiga ini, pembicara melakukannya lebih santai, sehingga menarik bagi mahasiswa untuk lebih paham bagaimana peran mereka bagi Indonesia terutama saat Covid-19 seperti ini.

Ditegaskan pula oleh Sherly bahwa kaum milenial memegang peranan penting baik di masa krisis pandemi Covid-19 ini maupun di masa yang akan datang. Sangat perlu bagi generasi bangsa Indonesia untuk terus berproses untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan semakin baik ke depannya. Baik pun belum tentu cukup, perlu usaha untuk menuju tahap excellent yang mana di tahap itu setiap generasi bisa menjadi insan yang bermanfaat bagi orang lain di sekitarnya.

Dari setiap sesi akan dilanjutkan secara langsung dengan sesi tanya jawab oleh para peserta seminar. Dan pada sesi terakhir akan diumumkan pemenang lomba Kenesian, yang diperoleh oleh perwakilan dari Universitas Negeri Yogyakarta sebagai juara pertama, Institut Teknologi Bandung sebagai juara kedua, dan Universitas Negeri Surabaya selaku juara tiga, serta sesi penutup.

We Are Kinetika 2020: Webinar dan Bedah Majalah Kinetika 56 Seputar Covid-19

Oleh: Khaira dan Indah

Telah berlangsung We Are Kinetika 2020 yang diselenggarakan secara online melalui media Zoom Meeting oleh LPM Kinetika Undip pada hari Minggu, 27 September 2020. Acara yang diselenggarakan setiap tahun tersebut mengusung webinar yang berjudul “The Importance of Mass Media for COVID-19 Pandemic” dan Bedah Majalah Kinetika Edisi ke-56. Dalam penyelenggaraan We Are Kinetika tahun ini, LPM Kinetika mengahadirkan tiga pembicara, di antaranya yaitu dr. Gamal Albinsaid, M.Biomed selaku guest star dalam We Are Kinetika 2020 yang juga merupakan CEO Indonesia Medika, Prof. Dr. Andri Cahyo Kumoro, S.T., M.T. yang merupakan dosen Teknik Kimia Universitas Diponegoro , dan Gregorius Rionugroho Harvianto, Ph.D seorang Senior Research Engineering dan lulusan jenjang doktoral dari Yeungnam University.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara, diikuti dengan sambutan ketua pelaksana We Are Kinetika 2020, Carolina Wida Pertiwi dan ketua LPM Kinetika, Sadam Arrois. Acara dilanjutkan dengan bedah Majalah Kinetika 56 yang disampaikan oleh Vincent Felix selaku Pemimpin Redaksi beserta Lauerentia Reina dan De Caluwe, Elice Zoraya selaku Pemimpin dan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Kinetika 56.

Majalah Kinetika 56 yang mengangkat tema “Medical World Around Covid 19” berfokus pada aplikasi dan penerapan ilmu dalam dunia medis. Majalah ini terdiri dari dua puluh sub topik yang dikupas dari berbagai sudut pandang seperti sudut pandang teknik kimia, industri, dan sudut pandang masyarakat yang bertujuan agar Majalah Kinetika lebih mudah dipahami oleh masyarakat umum.

Setelah Bedah Majalah Kinetika 56, acara dilanjutkan dengan talk show bersama ketiga pembicara, diawali dengan Prof. Dr. Andri Cahyo Kumoro, S.T., M.T. yang mengulas mengenai Superadsorbent Polymer (SAP) untuk makanan dan obat-obatan. Topik ini dipilih karena berhubungan dengan kondisi pandemi yang berlangsung saat ini yang mendorong masyarakat agar lebih peduli dan sadar akan kesehatan.

Talkshow kemudian dilanjutkan dengan pembicara kedua, yaitu Gregorius Rionugroho Harvianto, Ph.D. Pada saat talk show, Gregorius, yang menamatkan jenjang doktoralnya di Yeungnam University, berbagi pengalamannya dan tips dalam berjuang untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri . Pembicara yang berprofesi sebagai Senior Research Engineering di Benit M Co., Ltd. ini menyampaikan bahwa beasiswa yang ada janganlah asal diambil tanpa mengetahui tujuan sebenarnya mengambil beasiswa itu sendiri. Selain berbincang mengenai beasiswa, Gregorius juga berbagi mengenai perbandingan antara fenomena pandemi di Indonesia dan di Korea.

Setelah selesai dengan pembicara kedua, talk show dilanjutkan dengan pembicara ketiga bersama dr. Gamal Albinsaid, M.Biomed. Sesi talk show bersama dr. Gamal membahas mengenai bagaimana berinteraksi dengan pasien COVID-19 dan hal-hal yang harus dilakukan dalam menghadapinya. Selain itu sesi ini juga membahas mengenai meningkatnya pandemi COVID-19 di Jawa Timur yang merupakan domisili dr. Gamal.

Dalam setiap sesi talkshow diahiri dengan sesi tanya jawab. Sebelum acara ditutup, panitia mengadakan game menggunakan platform Kahoot.

Diponegoro Capital Market Days 2020 : Contribute to Society Through Invesment

Oleh: Novi dan Alam

Sabtu (26/09/2020) – Telah berlangsung Seminar Nasional Diponegoro Capital Market Days (DCMD) 2020 yang diselenggarakan oleh Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) FEB Undip. Seminar ini berlangsung selama 2 hari dengan enam pembicara yang luar biasa. Seminar berlangsung dengan menggunakan media Zoom Meeting. Event tahunan yang diselenggarakan oleh KSPM ini mengusung tema “Contribute to Society Through Invesment”.

Webinar di hari pertama menghadirkan tiga pembicara yang luar biasa yaitu Ellen May (Founder Ellen May Institute), Faisal Basri (INDEF Senior Economist), dan Fanny Rifqi El Fuad (Head of IDX Semarang). Acara ini dimoderatori oleh Prisa Sombo Datu (Host IDX).

Webinar ini diikuti oleh semua kalangan baik dari mahasiswa, dosen, perwakilan dari kementrian ekonomi, dan perusahaan. Jadi, bukan sebatas lingkup Undip saja melainkan dari berbagai elemen yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai investasi di pasar modal.

Ellen May pembicara pertama pada webinar ini menyampaikan materi mengenai bagaimana investasi di pasar modal. Pada akhir pemaparan materinya, beliau menyampaikan beberapa pesan diantaranya yaitu jangan terburu-buru, jangan ingin cepat kaya, jangan terjebak dalam noise, jangan over confident, jangan takut salah, jangan blaming, excuse, justify. Yang harus dilakukan adalah fokus belajar, sabar, embrace mistake, start small (again), dan kaizen.

Pemaparan materi kedua disampaikan oleh ekonom terkemuka di Indonesia yaitu Faisal Basri yang menyampaikan mengenai korelasi ekonomi, pertumbuhan ekonomi, Covid-19 terhadap pasar saham. Pesan yang dapat diambil dari ekonom ini adalah di tengah lumpur masih ada mutiara. Hal ini bisa dilihat bahwasannya pada masa pandemi ini tidak semua sektor ekonomi mengalami penurunan justru berkat pandemi ini ada beberapa sektor yang mengalami kenaikan diantaranya informasi dan komunikasi, jasa kesehatan dan kegiatan sosial, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan air, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, pemaparan materi oleh Fanny Rifqi El Fuad sebagai pembicara yang ketiga sekaligus pembawa materi penutup acara ini. Beliau menyampaikan materi mengenai topik menjaga optimisme dan kepercayaan pasar di tengah dinamika ekonomi sebagai dampak pandemi Covid-19. Dalam materi ini lebih menekan bagaimana investor merasa nyaman untuk berinvestasi di bursa efek Indonesia dan bagaimana meningkatkan serta mempertahankan optimisme investor. Kalimat penutup yang disampaikan Bapak Fanny pada akhir acara yaitu, “Tingkatkan kompetensi Anda sebelum memasuki pasar modal.”

Hari kedua seminar dihelat pada Minggu (27/9) melalui platform yang sama. Kali ini kembali menghadirkan tiga pembicara yaitu Felicia Putri Tjiasaka (Investor Storyteller) , Nicky Hogan (Director of IDX 2015-2018, Elder Member of ISP Community), Zunarsa Hafizh (Philip Sekuritas Indonesia).

Sesi pertama dibuka oleh Zunarsa Hafizh dari PT Philip Sekuritas Indonesia. Sesi ini membahas dua hal yaitu yang pertama mengenai gambaran singkat PT Philip Sekuritas Indonesia dan dilanjutkan dengan membahas sub tema “Maksimalisasi Peran Sekuritas dalam Membantu Investor”. Pada sesi ini, Zunarsa menyampaikan bahwa ada tiga hal yang perlu dilakukan saat akan memulai investasi yaitu yang pertama menentukan tujuan dalam berinvestasi, kedua menentukan instrumen investasi dan yang terakhir melakukan secara terus menerus.

Pembicara juga sempat menyinggung mengenai pandemi virus Corona yang saat ini tengah melanda Indonesia. Pandemi Corona menjadi tantangan bagi sektor pasar modal. Ada tiga hal yang disampaikan pembicara yaitu, Corona dan krisis lain yang tidak bisa dihindari, investor asing cukup mendominasi transaksi pasar modal di Indonesia, dan bagaimana pasar modal menjadi titik balik untuk pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Berlanjut ke sesi kedua, materi disampaikan oleh Nicky Hogan yang merupakan Director of IDX 2015-2018 yang membahas mengenai small cap. Small cap merupakan saham dengan kapitalisasi pasar yang kecil. Menurut pembicara meskipun small cap memiliki nilai pasar yang lebih kecil dibandingkan saham blue chip, belum tentu tidak bagus. Pembicara juga menyampaikan bahwa cara memilih saham untuk diinvestasikan baik itu blue chip atau small cap, yaitu dengan melihat saham-saham yang ada di LQ45. Lebih lanjut, pembicara juga menyebut bahwa saat yang paling tepat untuk berinvestasi adalah saat kita mempunyai uang.

Pada sesi ketiga, menghadirkan Felicia Putri Tjiasaka yang merupakan seorang Investor Storyteller. Dengan mengangkat sub tema “Investasi Sebagai Gaya Hidup Generasi Milenial”, sesi ketiga ini sedikit berbeda dengan sesi sebelumnya. Tidak hanya menyampaikan materi, Felicia juga mengajak peserta yang terpilih untuk mengikuti simulasi perencanaan keuangan yaitu menghitung dana beli rumah dan menghitung return yang dihasilkan dari investasi.

Menurut Felicia, dalam memulai investasi seseorang harus mengetahui tujuan dari investasi tersebut, return yang akan didapatkan serta mempertimbangkan risiko yang akan dihadapi. Felicia juga menyampaikan bahwa bagi investor pemula penting untuk mengetahui mengenai business model dari perusahaan dimana investor akan menginvestasikan uangnya serta legalitas dari perusahaan tersebut.

Selain itu Felicia juga mengatakan bahwa investasi keuangan memang penting, akan tetapi lebih penting investasi pada diri sendiri. Artinya bahwa sebelum berinvestasi, kita harus mengetahui potensi diri kita terlebih dahulu.

Acara DCMD 2020 ditutup setelah panitia mengumumkan pemenang The Fifth Diponegoro National Capital Market Competition (Dinamic) 2020 yang juga merupakan rangkaian acara dari DCMD 2020. Perlombaan ini diikuti para peserta dari berbagai universitas. Juara pertama disabet oleh Team Suggar Daddies, diikuti Team Burung Biru sebagai juara kedua dan Team Das Kapital sebagai juara ketiga. Sementara itu kategori Best Presentation Template diraih oleh Team Big Caps dan kategori Best Speaker diraih oleh Achmad Farhan Noor dari Team Sisinga.

Film Watchdoc Berjudul “Negara, Wabah, dan Krisis Pangan” sebagai Gambaran Krisis Pangan Indonesia Saat Ini

Oleh: Faya dan Rijal

Minggu (27/09/2020) – Telah dilaksanakan Nonton Bareng Si Opin 2020: Nobar Film Watchdoc “Negara, Wabah, dan Krisis Pangan” oleh LPM Opini Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro. Acara nonton bareng ini dimulai pada pukul 10.00 WIB melalui aplikasi Ms. Teams. Acara ini dihadiri oleh berbagai Lembaga Pers Mahasiswa fakultas di Undip, para mahasiswa, dan dua orang pembicara. Pembicara yang dihadirkan ada Maksum Syam yang merupakan Direktur Eksekutif Sajogyo Institute dan Ari Trismana yang merupakan sutradara dari film tersebut.

Di awal acara dibuka dengan sesi foto bersama secara virtual oleh semua peserta dan pembicara. Acara dilanjutkan dengan nonton bersama film dokumenter Watchdoc yang berjudul “Negara, Wabah, dan Krisis Pangan” selama setengah jam. Film ini menggambarkan kondisi negara kita saat ini yang terkena imbas dari adanya pandemi Covid-19. Dari film tersebut dapat diceritakan bahwa pandemi saat ini telah berdampak pada krisis pangan yang melanda Indonesia. Dampak terhadap krisis pangan ini dirasakan hampir semua orang, terutama yang paling merasakan dampaknya adalah kelompok petani. Lahan untuk tempat mereka bertani sehari-hari justru semakin menyempit padahal kebutuhan akan pangan semakin tinggi apalagi ditambah kondisi pandemi Covid-19 yang melanda. Penggusuran lahan pertanian terjadi di mana-mana untuk kepentingan infrastruktur dan proyek. Padahal sebagian besar kebutuhan hidup mereka bergantung pada lahan pertanian yang digusur itu.

Dimoderatori oleh Muhammad Salman Al Farisi yang merupakan lulusan Ilmu Pemerintahan Undip, acara ini juga mengajak peserta untuk berdiskusi mengenai isi dan masalah yang terdapat dalam film. Selama sesi diskusi, terdapat beberapa peserta yang bertanya akan film yang telah ditayangkan. Salah satunya adalah pertanyaan mengenai titik terang dari permasalahan petani dan pangan ini. Dijawab oleh Maksum bahwa menurutnya, ia sendiri mengaku pesimis mengenai masalah ini karena tentu harus melalui banyak hal yang dilakukan. Menurutnya, untuk keadaan yang seperti ini kita hanya perlu meningkatkan solidaritas antarkomunitas serta membangun jaringan untuk bisa melindungi komunitas yang sedang berkembang agar tidak bergantung pada pangan impor.

Diantara berbagai penanya, ada satu pertanyaan yang menurut Ari merupakan pertanyaan pamungkas. Pertanyaannya adalah mengenai bagaimana peran kita sebagai mahasiswa untuk bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah? “Ini seharusnya jadi pertanyaan pamungkas karena seperti call to action, karena kebijakannya sudah kuat mencengkram,” jelas Ari. Menurutnya, untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah, dirinya sendiri bisa melalui pembuatan film. Sementara untuk kalangan mahasiswa bisa dengan membangun jaringan dengan pers mahasiswa yang lain agar saling menyamakan perspektif, membuat gerakan, dan bisa untuk diperluas. Misalnya bisa dengan membuat liputan mengenai permasalahan pertanian yang terjadi di lingkungan sekitar.

Di penghujung acara, Maksum menyampaikan bahwa dirinya mengaku senang karena banyak mahasiswa yang sudah ingin tahu tentang permasalahan pertanian dan pangan yang dihadapi saat ini. Dan untuk statement-nya diharapkan bisa dengan memupuk rasa optimis juga membangun jaringan-jaringan sesuai dengan kapasitas, mulai dari jaringan lokal maupun nasional. Ia berharap semoga jaringan yang telah dibentuk bisa memperkuat kedaulatan pangan. Senada dengan Maksum, Ari juga turut merasa senang kalau ada kawan-kawan dari berbagai daerah bisa mendokumentasikan persoalan yang terjadi di sekitar. ”Maunya ada banyak yang mendokumentasikan. Kami selalu terbuka termasuk dengan kawan-kawan pers. Terima kasih kawan-kawan semua!” ungkap Ari seraya menutup acara Nobar Film Watchdoc “Negara, Wabah, dan Krisis Pangan” hari ini.

ICEPRO 2020: “Be a Productive and Inspiring Youth”

Oleh: Sheila Anya K. N

Sabtu (19/09/2020) – Telah dilaksanakan Webinar Nasional Islamic Economic Project (ICEPRO) 2020 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ekonomi Islam (HMEI) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip). Acara ini berlangsung sejak pukul 12.20 sampai pukul 15.15 WIB dengan menggunakan media Zoom Meeting. Event tahunan yang berupa seminar nasional yang diselenggarakan oleh HMEI FEB Universitas Diponegoro kali ini mengusung tema “Be a Productive and Inspiring Youth”. Acara ini diadakan dengan harapan pemuda bangsa dapat menjadi pribadi yang lebih produktif dan menginspirasi bagi orang banyak.

Webinar ini menghadirkan tiga pembicara yaitu Safhira Alfarisi (Founder Yayasan Beasiswa 1000, Mahasiswa Berprestasi 1 Nasional 2019), Muhammad Syaeful Mujab (Ketua BEM UI 2017, Abang Jakarta 2018), serta Muhammad Assad (Co-founder dan CEO Tamasia, Penulis Best Seller “Notes from Qatar”). Acara ini dibawakan oleh Amanda Naura Rasyda dan dimoderatori oleh Naufal Haidar Farras yang merupakan alumni Ekonomi Islam FEB Universitas Diponegoro yang juga sempat menjabat sebagai Ketua Umum HMEI FEB Universitas Diponegoro periode 2017/2018.

Peserta webinar nasional ini tidak hanya dari kalangan mahasiswa FEB Undip, tetapi juga dari daerah dan universitas lainnya, bahkan terdapat beberapa anak SMA yang turut hadir dan aktif dalam acara ini. Acara ini dibuka dengan pembukaan oleh pembawa acara dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang diteruskan dengan menyanyikan lagu Mars Undip. Kemudian, dilanjutkan oleh pembacaan ayat suci Quran serta sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Panitia ICEPRO 2020 yaitu M. Rizky Ramadhan dan dilanjutkan oleh sambutan dari Bapak Suharnomo selaku Dekan FEB Undip.

Pembicara pertama, Safhira Alfarisi.

Safhira Alfarisi selaku pembicara pertama, berbagi kisahnya tentang bagaimana ia dapat menjadi Mahasiswa Berprestasi 1 Nasional untuk bidang Diploma. Ia menjelaskan secara singkat tips dan trik dalam meraih titel tersebut. Perempuan lulusan IPB ini juga menceritakan proses pendirian Yayasan Beasiswa 10000 yang mulai ia rintis sejak ia masih menempuh semester tiga kuliah atau berusia 19 tahun. Safhira menekankan beberapa poin yaitu untuk mengetahui potensi diri, bermimpi setinggi mungkin, berikan kebermanfaatan untuk orang lain, dan jangan takut gagal.

Pembicara kedua, M. Syaeful Mujab.

Dilanjutkan oleh pembicara kedua yaitu M. Syaeful Mujab. Ia menyatakan bahwa organisasi dan akademik bukanlah dua hal yang saling bertentangan atau menjatuhkan. Dengan aktif berorganisasi bukan berarti akan membuat nilai akademik anjlok. Dengan manajemen waktu yang baik, organisasi dan akademik aakan berjalan seimbang. Softskill hanya didapatkan dari organisasi dan kegiatan sosial lainnya, sedangkan kuliah hanya memberikan hardskill semata. Mujab berpesan, “Kita bisa meraih IPK 4.0 di perkuliahan, tetapi kita bisa mendapatkan nilai 96 lainnya di luar kampus untuk dapat lulus dengan nilai 100.”

Pembicara ketiga, M. Assad.

Dilanjutkan dengan pembicara ketiga yaitu M. Assad. Ia menceritakan tentang pendidikannya di Malaysia dan Qatar, serta pengalaman awalnya dalam berwirausaha. Ia menceritakan awal perjalanan dan alasan pendirian Tamasia. Ia menekankan tiga poin penting dalam berwirausaha yaitu 3P (positive, persistence, dan pray). Ia mengatakan seseorang penting untuk berpikir positif, istiqomah, dan berdoa. Ia juga menyinggung tentang pentingnya integritas bagi wirausaha.

Dalam sesi tanya jawab, antusiasme peserta sangat nampak dengan banyaknya pertanyaan yang untuk tiap pembicara. Setelah sesi tanya jawab usai, acara ditutup oleh pembawa acara sekitar pukul 15.20 WIB.

Mengamati Perkembangan Industri Halal Indonesia bersama Webinar Nasional SEHATI

Oleh: Aditya Febriansyah dan Annisa Pratiwi

Sabtu (12/09/2020) – Telah berlangsung 11th SEHATI National Webinar yang diselenggarakan oleh Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) dengan mengangkat tema “Recontruction of The Halal Industry Towards Indonesia as the Center for Global Islamic Economy”. Acara ini dimulai pada pukul 09.30 melalui live Zoom dan live Youtube. Dalam webinar kali ini, 11th SEHATI menghadirkan empat pembicara yaitu Ni Putu Desinthya selaku kepala Divisi Direktorat Industri Produk Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Riyanto Sofyan selaku Ketua Umum Perkumpulan Pariwista Halal Indonesia (PPHI), Ateng Kusnadi selaku Founder SNW dan Marketing Plan Syariah, serta Wahyu Avianto selaku Direktur Operasi dan Keuangan PT. Bank BNI Syariah. Sebagai opening remarks, webinar 11th SEHATI menghadirkan Sandiaga Salahuddin Uno selaku Chairman of the Jakarta Sharia Economic Community (MES).

Acara ini dibagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama dimulai dengan materi pertama yaitu “Arah Pengembangan Industri Halal Indonesia” disampaikan oleh Ni Putu Desinthya. Dalam materi tersebut, Ni Putu sempat menyinggung tentang peringkat Industri Syariah Indonesia yang masih belum maksimal, padahal Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Selanjutnya, Ni Putu menjelaskan strategi Indonesia Menuju Global Hub Ekonomi Syariah Dunia. Dalam strategi tersebut, terdapat empat Key Points yang disusun pemerintah dimana Key Point pertama adalah pengembangan industri produk halal. Selain sebagai perwujudan sektor riil, pengembangan industri produk halal diharapkan mampu menjadi katalisator bagi Key Points lainnya.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Riyanto Sofyan Dalam materinya, beliau mengangkat tema “Pengembangan Industri Halal Melalui Sektor Pariwisata”. Pada awalnya, Riyanto menjelaskan mengenai industrI pariwisata secara umum, yang mana industrI pariwisata adalah salah satu sektor dengan dampak ekonomi yang cukup besar menurut World Trade Organization (WTO). Lebih jauh, beliau menjelaskan tentang Konsep Pariwisata Halal dan Portofolio Pariwisata Halal Indonesia. Dalam konsep pariwisata Halal atau wisata ramah muslim terdapat empat poin utama, salah satunya adalah tersedianya makanan dan minuman yang terjamin kehahalannya. Sedangkan mengenai Portofolio Pariwisata Halal Indonesia, Riyanto menjelaskan bahwa Pariwisata Halal Indonesia terdiri dari tiga komponen yakni, alam (35%), budaya (60%), dan buatan (5%).

Pada sesi kedua, terdapat dua pembicara yaitu Ateng Kusnadi dan Wahyu Avianto. Materi yang dibawakan oleh Ateng Kusnadi adalah mengenai “Pengembangan Industri Halal dan Peran Serta Generasi Milenial”. Dalam pemaparan materi tersebut, dijelaskan bahwa sasaran industri halal adalah bukan hanya menjadi produsen produk halal bagi diri sendiri sebagai seorang muslim, namun perlunya dalam mengekspor ke luar negeri. Sehingga, selain bertujuan memperbaiki ekonomi dalam negeri, tetapi juga dapat mencapai pasar ekonomi di luar negeri. Peranan umat muslim dalam ekonomi di Indonesia sebagai pengusaha hanya sekitar 14,4%. Sehingga, akan sulit dalam memasarkan produk halal. Maka dari itu, sangat perlu bagi masyarakat muslim Indonesia untuk memulai perdagangan untuk membangun ekonomi islam, dengan utamanya memproduksi produk halal.

Selanjutnya, materi terakhir dibawakan oleh Wahyu Avianto. Pada materi kali ini, pemateri membahas mengenai “Accelerating Innovation, Establishing Halal Ecosystem”. Salah satu yang mendukung perkembangan bank syariah di Indonesia adalah karena konversi beberapa bank menjadi bank syariah, seperti Bank Aceh dan Bank NTB. Namun, tantangan bagi Bank Syariah pun masih ada dalam membangun ekosistem halal, seperti perubahan yang tidak terduga (Turbulence), ketidakpastian (Uncertain), kebaruan (Novelty), dan banyaknya informasi yang tercampur (Ambigous).

Sejauh ini potensi ekosistem halal sangat besar sekitar tiga ribu milyar rupiah yang didapat dari beberapa sektor seperti makanan halal, media halal, kosmetik halal, haji dan umrah, dan berbagai produk halal lainnya. Sehingga, diperlukan peran besar terutama bagi muslim untuk tidak hanya menjadi konsumen, namun juga sebagai pelaku usaha dalam membangun ekosistem halal ini.

Mengenal Kesehatan Mental Melalui Gerakan Sehat Mental Goes to FEB

Oleh: Indah dan Seli

Jumat (11/09/2020) – Telah dilaksanakan Roadshow Online Gerakan Sehat Mental 2.0 to FEB oleh Fakultas Psikologi Undip. Acara ini menghadirkan empat orang psikoedukator untuk memberikan materi roadshow dengan tema “Ataraxia”. Ataraxia sendiri memiliki arti ketenangan jiwa. Acara yang memiliki jargon “Fight it. Take the pain. Ignite it” ini dimulai tepat pada pukul 15.00 WIB. Acara ini dibuka dengan doa yang dipandu oleh kedua MC yaitu Lingga Permata Ayu dan Nadia Akilah. Selanjutnya, Dinda Nabilah sebagai Ketua Pelaksana memberikan sambutan. Dinda menjelaskan jika acara ini bukan merupakan webinar dikarenakan akan ada interaksi dua arah dan materi yang akan dibawakan oleh psikoedukator dibawakan sebagai pemantik cerita yang ingin dibagikan oleh para peserta. Selanjutnya, Faizal Ihsan Wicaksana sebagai perwakilan dari para psikoedukator memberikan sambutan dan memperkenalkan keempat psikoedukator, yaitu dirinya sendiri, Novia Dewi Kusumastuti, Inez Fareeza Amalia, dan Julius Mitchel.

Di awal materi, Faizal menjelaskan bagaimana pengertian kesehatan mental menurut WHO. Faizal juga menjelaskan apa saja yang menjadi cakupan dari wawasan kesehatan mental, yaitu kesejahteraan emosi, psikologis, dan sosial; hal yang memengaruhi bagaimana kita berpikir, berperasaan, dan berperilaku; dan hal yang membantu menentukan bagaimana kita mengelola stress, berhubungan dengan orang lain, dan membuat keputusan.

Materi selanjutnya dibawakan oleh Novia Dewi Kusumastuti dengan menggunakan ilustrasi gambar. Ditampilkan sebuah gambar piring yang terisi lengkap dengan karbohidrat dan sayur mayurnya. Hal ini menggambarkan adanya faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan mental. Novia juga menjelaskan kaitan mengenai kesehatan mental dan kesehatan fisik. Bahwa sejatinya, kesehatan mental itu patut diperhatikan sama seperti kesehatan fisik. Jangan sampai mengabaikan kesehatan mental, karena emosi negatif akan bermunculan dan semakin menumpuk sehingga menyebabkan kondisi psikologis seseorang menurun.

Kegiatan berikutnya dilakukan permainan sederhana untuk melakukan perbincangan dua arah, yaitu Mitos atau Fakta. Hal-hal yang ditanyakan seperti jika memiliki penyakit mental apakah berarti gila, apakah orang yang memiliki penyakit mental berarti kejam dan berbahaya, serta apakah kelemahan kepribadian menyebabkan masalah penyakit mental. Akhirnya yang sering dipertanyakan oleh sebagian orang terjawab saat mengikuti kegiatan tersebut. Menjawab ketiganya, para psikoedukator mejelaskan jika semua itu mitos dengan didukung fakta yang ada.

Saat mengikuti acara tersebut, dijelakan pula mengenai stress, coping, dan katarsis. Stress merupakan keadaan individu menilai suatu keadaan dan peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, menantang, dan membahayakan sehingga individu akan merespon peristiwa tersebut secara fisiologis emosional, kognisi, dan/atau tingkah laku. Stress bisa disebabkan dari dalam maupun luar individu sendiri.

Selanjutnya ada coping stress, yaitu suatu cara atau metode yang dilakukan tiap individu untuk mengatasi dan mengendalikan situasi atau masalah yang dialami dan dipandang sebagai hambatan, tantangan yang bersifat menyakitkan, serta ancaman yang bersifat menyakitkan. Problem focused coping diantaranya planful problem solving, confrontative coping, dan seeking social support. Sedangkan emotional focus coping diantaranya positive reappraisal, self controlling, accepting responsibility, distancing, dan escape/avoidance.

Terakhir, menjelaskan mengenai katarsis yang berasal dari bahasa Yunani, Catharsis, yang berarti pemurnian atau pembersihan. Istilah katarsis kemudian digunakan untuk sebuah proses pelepasan perasaan yang kuat melalui sebuah kegiatan atau pengalaman tertentu. Katarsis sendiri merupakan salah satu bentuk coping stress. Namun, tanpa sadar sebagian orang lebih banyak melakukan katarsis yang bersifat negative daripada positif.

Acara GSM ini diakhiri dengan diskusi dua arah antara peserta dengan psikoedukator. Ada pula penjelasan mengenai media intervensi yang disediakan oleh pihak GSM, serta adanya pengenalan media Kita Teman Cerita.

Ruang Publik KESMES 2020: “Strategi Membangun Perekonomian di Era New Normal Melalui Pemberdayaan UMKM”

Oleh: Diah

Sabtu (05/09/2020) telah dilaksanakan webinar Ruang Publik KESMES 2020 yang diselenggarakan oleh organisasi Kelompok Studi Masalah Ekonomi dan Sosial (KESMES) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro pada pukul 09.30 WIB melalui platform Zoom. Webinar ini mengangkat tema “Strategi Membangun Perekonomian di Era New Normal melalui Pemberdayaan UMKM”. Acara ini menghadirkan dua pembicara yaitu Shoimatul Fitria, S.E, M.M yang merupakan dosen FEB Universitas Diponegoro dan Agung Pambudi yang merupakan Praktisi Digital Marketing Founder Komunitas UKM Jateng, serta dimoderatori oleh Okki Alfianto yang merupakan mahasiswa Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan dan juga merupakan Staff Muda Kesmes.

Peserta yang hadir dalam webinar tersebut tercatat pada platform Zoom terdapat sekitar 122 partisipan yang berasal dari berbagai daerah dan juga berasal dari luar universitas, salah satunya dari Telkom University. Dengan diadakannya acara ini, diharapkan para partisipan dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat dalam membangun perekonomian di era new normal ini.

Acara demi acara telah terlaksana pada webinar kali ini. Pada awal acara dipandu oleh Rifda Naufalin selaku pembawa acara. Setelah itu, partisipan menyanyikan lagu Indonesia Raya di tempat masing-masing. Kemudian, ada pula sambutan dari Ketua Kesmes yaitu Faiq Rafi dan dilanjut sambutan dari ketua panitia yaitu Arya Husain Habibie. Setelahnya, berlanjut pada inti acara yang dipaparkan oleh para pembicara yang sudah hadir.

Pembicara pertama dipaparkan oleh Shoimatul Fitria, S.E, M.M. Beliau memaparkan bagaimana kondisi UMKM selama pandemi di Indonesia mulai dari dampak-dampak yang dialami UMKM dari adanya pandemi ini, potensi digitalisasi UMKM pada perekonomian Indonesia, kegiatan-kegiatan orang selama work from home (WFH) yang mempunyai potensi untuk membangun UMKM, beberapa menyinggung halal lifestyle dan dampak revolusi industri 5.0 pada UMKM, serta solusi dalam menyelesaikan permasalahan UMKM selama pandemi.

Kemudian pembicara kedua dilanjutkan oleh Agung Pambudi. Beliau menyampaikan cara untuk tetap berinovatif dalam berwirausaha di era pandemi ini. Mulai dari manfaat go online untuk UMKM dari sisi pelanggan dan dari sisi penjual, cara memulai untuk melakukan bisnis yang go online seperti memikirkan produk yang akan dijual hingga memberi branding dari produk yang akan dijual, dan cara menarik pembeli untuk membeli produk yang dijual. Beliau juga memberi contoh beberapa market yang berhasil menarik pembeli untuk membeli produk yang dijual, persaingan dalam bisnis go online, dan memanfaatkan sosial media untuk mempromosikan bisnis yang dibuat.

Di akhir acara terdapat sesi tanya jawab yang mana peserta sangat antusias dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh peserta. Setelah pertanyaan demi pertanyaan terjawab dan rangkaian acara tersebut selesai, pembawa acara menutup acara tersebut sekitar pukul 11.53 WIB.