Oleh: Faya dan Rijal

Minggu (27/09/2020) – Telah dilaksanakan Nonton Bareng Si Opin 2020: Nobar Film Watchdoc “Negara, Wabah, dan Krisis Pangan” oleh LPM Opini Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro. Acara nonton bareng ini dimulai pada pukul 10.00 WIB melalui aplikasi Ms. Teams. Acara ini dihadiri oleh berbagai Lembaga Pers Mahasiswa fakultas di Undip, para mahasiswa, dan dua orang pembicara. Pembicara yang dihadirkan ada Maksum Syam yang merupakan Direktur Eksekutif Sajogyo Institute dan Ari Trismana yang merupakan sutradara dari film tersebut.
Di awal acara dibuka dengan sesi foto bersama secara virtual oleh semua peserta dan pembicara. Acara dilanjutkan dengan nonton bersama film dokumenter Watchdoc yang berjudul “Negara, Wabah, dan Krisis Pangan” selama setengah jam. Film ini menggambarkan kondisi negara kita saat ini yang terkena imbas dari adanya pandemi Covid-19. Dari film tersebut dapat diceritakan bahwa pandemi saat ini telah berdampak pada krisis pangan yang melanda Indonesia. Dampak terhadap krisis pangan ini dirasakan hampir semua orang, terutama yang paling merasakan dampaknya adalah kelompok petani. Lahan untuk tempat mereka bertani sehari-hari justru semakin menyempit padahal kebutuhan akan pangan semakin tinggi apalagi ditambah kondisi pandemi Covid-19 yang melanda. Penggusuran lahan pertanian terjadi di mana-mana untuk kepentingan infrastruktur dan proyek. Padahal sebagian besar kebutuhan hidup mereka bergantung pada lahan pertanian yang digusur itu.
Dimoderatori oleh Muhammad Salman Al Farisi yang merupakan lulusan Ilmu Pemerintahan Undip, acara ini juga mengajak peserta untuk berdiskusi mengenai isi dan masalah yang terdapat dalam film. Selama sesi diskusi, terdapat beberapa peserta yang bertanya akan film yang telah ditayangkan. Salah satunya adalah pertanyaan mengenai titik terang dari permasalahan petani dan pangan ini. Dijawab oleh Maksum bahwa menurutnya, ia sendiri mengaku pesimis mengenai masalah ini karena tentu harus melalui banyak hal yang dilakukan. Menurutnya, untuk keadaan yang seperti ini kita hanya perlu meningkatkan solidaritas antarkomunitas serta membangun jaringan untuk bisa melindungi komunitas yang sedang berkembang agar tidak bergantung pada pangan impor.
Diantara berbagai penanya, ada satu pertanyaan yang menurut Ari merupakan pertanyaan pamungkas. Pertanyaannya adalah mengenai bagaimana peran kita sebagai mahasiswa untuk bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah? “Ini seharusnya jadi pertanyaan pamungkas karena seperti call to action, karena kebijakannya sudah kuat mencengkram,” jelas Ari. Menurutnya, untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah, dirinya sendiri bisa melalui pembuatan film. Sementara untuk kalangan mahasiswa bisa dengan membangun jaringan dengan pers mahasiswa yang lain agar saling menyamakan perspektif, membuat gerakan, dan bisa untuk diperluas. Misalnya bisa dengan membuat liputan mengenai permasalahan pertanian yang terjadi di lingkungan sekitar.
Di penghujung acara, Maksum menyampaikan bahwa dirinya mengaku senang karena banyak mahasiswa yang sudah ingin tahu tentang permasalahan pertanian dan pangan yang dihadapi saat ini. Dan untuk statement-nya diharapkan bisa dengan memupuk rasa optimis juga membangun jaringan-jaringan sesuai dengan kapasitas, mulai dari jaringan lokal maupun nasional. Ia berharap semoga jaringan yang telah dibentuk bisa memperkuat kedaulatan pangan. Senada dengan Maksum, Ari juga turut merasa senang kalau ada kawan-kawan dari berbagai daerah bisa mendokumentasikan persoalan yang terjadi di sekitar. ”Maunya ada banyak yang mendokumentasikan. Kami selalu terbuka termasuk dengan kawan-kawan pers. Terima kasih kawan-kawan semua!” ungkap Ari seraya menutup acara Nobar Film Watchdoc “Negara, Wabah, dan Krisis Pangan” hari ini.

