DESC Adakan “Senomi” Sebagai Acara Awarding Perlombaan Olahraga

Sabtu, 09/05/2026, Diponegoro Economics Student Community (DESC) mengadakan acara awarding bertajuk “Senomi” atau Senandung Ekonomi di Dome FEB Undip mulai pukul 09.30 WIB. Acara tersebut merupakan bagian penutup dari perlombaan olahraga yang telah dilaksanakan pada minggu sebelumnya.

Project Officer acara, Nur Baiti, menyampaikan bahwa Senomi terbuka untuk umum dan tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa prodi ekonomi.

Acara diawali dengan sambutan dari panitia dan dilanjutkan dengan beberapa penampilan hiburan seperti seni tari dan band.

Dalam acara tersebut, Economusic turut tampil sebagai pengisi acara. Economusic sendiri merupakan komunitas musik FEB yang telah berdiri sejak tahun 2017. Setelah tampil, pihak Economusic mengaku senang dapat menjadi bagian dari acara Senomi dan merasa lega karena penampilan mereka berjalan dengan lancar.

Di akhir acara, Nur Baiti berharap agar Senomi dapat semakin dikenal oleh warga FEB pada pelaksanaan berikutnya.

Muswa 2026 Hari Keempat: Finalisasi GBHK dan Konsolidasi Strategis Program Kerja Ormawa

Ruang Sidang Utama Dekanat, Selasa (21/4) — Rangkaian panjang Musyawarah Mahasiswa (Muswa) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro mencapai titik puncaknya pada persidangan hari keempat. Setelah melalui perdebatan filosofis pada hari-hari sebelumnya, forum kali ini berfokus pada upaya konkret untuk mengamankan legalitas organisasi. Akibat belum tercapainya konsensus menyeluruh mengenai proyeksi jangka panjang, forum secara resmi menunda pembahasan Rencana Strategis (Renstra) dan beralih sepenuhnya pada finalisasi Garis-Garis Besar Haluan Kerja (GBHK) 2026. Langkah ini diambil sebagai jalan keluar taktis guna memastikan kepengurusan mendatang memiliki panduan operasional yang tetap progresif namun realistis.

Sinkronisasi Nomenklatur

Persidangan dibuka dengan peninjauan ulang terhadap aspek redaksional draf untuk menjamin kepastian hukum. Fokus utama pada sesi ini adalah sinkronisasi nomenklatur organisasi dengan perubahan struktur pemerintahan nasional. Forum menyepakati pembaruan nama kementerian di tingkat mahasiswa menjadi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Penyesuaian ini dipandang krusial agar koordinasi dan arah gerak mahasiswa tetap selaras dengan birokrasi pendidikan terbaru. Selain itu, pembersihan diksi pada poin-poin konsideran dilakukan secara menyeluruh untuk menghilangkan kerancuan makna, terutama terkait batasan antara fungsi struktural dan non-struktural dalam organisasi.

Implementasi Target PKM

Berangkat dari kesepakatan mengenai target Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang telah dikunci pada hari ketiga, agenda hari keempat berlanjut pada fase operasionalisasi. Forum tidak lagi memperdebatkan urgensi target tersebut, melainkan fokus pada bagaimana setiap Organisasi Mahasiswa (Ormawa) merasionalkan program mereka agar sejalan dengan mandat fakultas.

Diskusi diwarnai dengan pengumpulan data riil dari berbagai himpunan. Delegasi DBS, MSA, hingga DESC melakukan pemetaan ulang terhadap jumlah proposal yang mampu dikonversi secara konkret menjadi luaran riset. Meskipun terdapat tantangan berupa penurunan angka antusiasme secara umum, Senat Mahasiswa (SM) dan BEM tetap memegang kendali untuk memastikan bahwa komitmen peningkatan yang disepakati pada Muswa Hari ke-3 tetap terjaga. Fase ini menjadi momen krusial bagi lembaga seperti KSEI untuk mengonsolidasikan fokus antara target PKM nasional dengan ambisi lomba independen, sehingga kedua jalur prestasi tersebut tetap dapat berjalan beriringan tanpa mengabaikan mandat birokrasi kampus.

Restrukturisasi Program Kerja: Efisiensi dan Penajaman Output

Memasuki babak pembedahan program, forum melakukan audit mendalam terhadap rencana kerja tahunan setiap lembaga. Berdasarkan evaluasi historis yang diajukan oleh delegasi MSA, disepakati bahwa setiap program kerja tidak boleh lagi hanya bersifat formalitas, melainkan harus memiliki indikator keberhasilan yang terukur. Beberapa transformasi signifikan yang berhasil dikonsolidasikan meliputi:

  • BEM FEB: Melakukan reposisi strategis melalui program “FEB Peduli” (sebelumnya Ekonomi Berbagi) serta penguatan ekosistem kewirausahaan lewat “Yellowpreneur” yang kini difokuskan pada pengumpulan ide bisnis konkret siap eksekusi.
  • Mizan: Mengambil langkah efisiensi massa dengan melebur berbagai agenda kerohanian yang terfragmentasi ke dalam satu festival terpadu bernama “HI-FEST”.
  • KSPM: Mempertegas spesifikasi peserta dalam program pelatihan keahlian (seperti Equity Research Training) guna menjamin kualitas output anggota yang lebih kompetitif di level universitas maupun nasional.

Resolusi Konstitusional: Kepastian Masa Berlaku GBHK

Perdebatan pendapat terakhir muncul saat menentukan durasi keberlakuan GBHK. Senat Mahasiswa sempat melontarkan wacana agar aturan ini bersifat kontinu lintas periode demi stabilitas kebijakan. Namun, argumen tersebut disanggah oleh BEM dan KMA yang menekankan pentingnya akuntabilitas tahunan. Forum berpandangan bahwa dinamika mahasiswa yang sangat cair menuntut adanya ruang evaluasi di setiap kepengurusan baru. Melalui diskusi yang intens, forum akhirnya mengetuk kesepakatan final bahwa GBHK ini hanya berlaku mengikat selama satu tahun periode kepengurusan, memberikan mandat kepada pengurus mendatang untuk terus melakukan pembaruan sesuai tantangan zaman.

Penandatanganan dan Penutupan Muswa 2026

Sebagai bentuk pengesahan terhadap seluruh dinamika yang telah dilalui, persidangan ditutup dengan prosesi khidmat penandatanganan draf GBHK oleh 25 pimpinan Ormawa di lingkungan FEB Undip. Penandatanganan kolektif ini bukan sekadar tanda tangan di atas kertas, melainkan janji setia seluruh pimpinan lembaga terhadap arah gerak organisasi yang telah disusun bersama.

Dengan ditandatanganinya draf tersebut, Presidium secara resmi mengetuk palu tanda berakhirnya sidang Muswa 2026. Penutupan ini menandai kesiapan seluruh elemen organisasi mahasiswa FEB untuk melangkah ke periode baru dengan landasan hukum yang lebih tajam, terintegrasi, dan memiliki dasar evaluasi yang kuat untuk menjawab ekspektasi fakultas maupun konstituen mahasiswa.

Penulis : Royhan

Teater Buih Tutup Pementasan dengan Ending di Luar Dugaan

Pada Rabu malam, 6 Mei 2026, Gedung Prof. Soedarto dipenuhi mahasiswa yang antusias menyaksikan pementasan Teater Buih. Pementasan tersebut tidak hanya menarik perhatian mahasiswa FEB Undip, tetapi juga mahasiswa dari fakultas lain hingga kampus luar, salah satunya dari Universitas Negeri Semarang.

Beberapa penonton mengaku kagum dengan jalannya pertunjukan, terutama pada akhir cerita yang dinilai tidak terduga. “Aku gak expect kalau ending-nya bakal seperti itu,” ujar salah satu penonton dari UNNES.

Selama pementasan berlangsung, penonton dibuat terpukau oleh kemampuan para pemain dalam membangun suasana melalui artikulasi dialog dan ekspresi wajah. Alur cerita yang emosional dipadukan dengan penampilan para aktor berhasil menghadirkan tepuk tangan panjang dari para penonton di akhir pertunjukan.

Salah satu pemain Teater Buih, Areng—nama panggung yang digunakan selama pementasan—mengungkapkan bahwa persiapan pertunjukan telah dilakukan selama setengah tahun. Namun, Jiro selaku asisten sutradara meluruskan bahwa meski persiapan dimulai sejak enam bulan lalu, proses latihan yang benar-benar intens berlangsung selama kurang lebih tiga bulan.

Sebelum wawancara berakhir, Areng juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa FEB Undip agar tetap percaya diri terhadap bakat yang dimiliki. Menurutnya, setiap mahasiswa memiliki potensi yang dapat berkembang apabila terus diasah dan diberi ruang untuk tampil.

Penulis: Juw

AIA 2026 Kembali Panaskan Persaingan Mahasiswa Akuntansi Undip

Semarang, 5 Mei 2026 — Bukan hanya soal angka dan laporan keuangan, mahasiswa akuntansi Universitas Diponegoro justru memanaskan persaingan di lapangan dan layar gim lewat Accounting In Action (AIA) 2026.

Diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Akuntansi (KMA), acara tahunan ini kembali hadir sebagai wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan bakat di bidang olahraga dan e-sport. 

Project Officer AIA, Nabil, mengungkapkan bahwa banyak mahasiswa akuntansi ikut serta untuk menunjukkan kemampuan mereka di luar dunia akademik. 

Berbagai cabang lomba pun disiapkan untuk memeriahkan acara, mulai dari Mobile Legends, FIFA PS5, hingga olahraga seperti futsal, basket, voli, badminton, dan billiard.

Meski merangkul banyak minat, AIA tetap memiliki batasan peserta. “Acara ini memang khusus untuk mahasiswa akuntansi saja,” tambah Nabil.

Dengan konsep kompetitif sekaligus penuh hiburan, AIA 2026 diharapkan mampu mempererat solidaritas sekaligus menghadirkan pengalaman berbeda bagi mahasiswa akuntansi Undip.

May Day di Monas: Perayaan atau Pelemahan Perlawanan?

Sejarah Hari Buruh berakar pada 1 Mei 1886, saat lebih dari 300.000 pekerja di Amerika Serikat melakukan mogok massal demi tuntutan delapan jam kerja. Puncaknya, Tragedi Haymarket di Chicago pada 4 Mei 1886 mencatat ledakan bom dan tindakan represif yang menewaskan sejumlah buruh serta polisi. Peristiwa ini bukan sekadar catatan kelam, melainkan penegasan atas hak dasar manusia untuk beristirahat dan tidak melulu dianggap sebagai mesin produksi.

​Namun, di Indonesia hari ini, esensi perlawanan tersebut seolah dikaburkan oleh pemandangan di Monas. Kehadiran Prabowo Subianto yang berjoget, melempar baju safari, hingga bagi-bagi sembako di atas panggung May Day 2026 menciptakan pola yang mengkhawatirkan. Fenomena ini terasa seperti repetisi dari gimmick politik pada masa pilpres lalu— yang terbukti efektif meningkatkan elektoral, namun di sisi lain berisiko melumpuhkan daya kritis masyarakat. Adapun, dalam penyampaian pidato Prabowo berjanji akan membentuk Satgas PHK, di mana disebutkan bahwa negara akan “mengambil alih” jika pengusaha menyerah. Kata-kata yang lantang dan penuh keyakinan, tindakan yang sama seperti tahun lalu serta di atas panggung yang sama pula. 

Padahal, kembali perlu digaris bawahi bahwa esensi daripada Hari Buruh terletak pada penegasan yang terus bertumbuh sebagai bentuk tuntutan atas hak-hak buruh yang masih kerap terselewengkan.  Hak-hak tersebut tidak bersifat statis, tetapi harus terus diperjuangkan dan dikobarkan, terlebih dewasa ini ekonomi kapitalistik cenderung menempatkan pekerja dalam posisi rentan. Oleh karena itu, peringatan May Day seyogyanya tidak menjadi ruang seremonial lalu redam, tetapi menjadi ruang artikulasi tuntutan yang menjamin keberlangsungan hidup buruh dalam jangka panjang. 

Dalam aksi May Day 2026, berbagai perserikatan buruh mengusung sejumlah tuntutan strategi dengan satu benang merah, yakni kondisi dan posisi buruh di Indonesia yang saat ini masih rentan. Kerentanan ini mendorong desakan kepada pemerintah untuk lebih serius dalam menjamin kepastian kerja serta kesejahteraan para pekerja. Adapun tuntutan-tuntutan tersebut antara lain sebagai berikut. 

  1. Memberikan Jaminan Kepastian Kerja 

Di tengah ketidakpastian global, dimulai dari perlambatan ekonomi, konflik geopolitik, hingga tekanan impor, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) semakin meningkat. Data dari BPS menunjukkan bahwa fluktuasi kondisi ekonomi masih berdampak pada stabilitas tenaga kerja, terutama di sektor manufaktur dan padat karya. Dalam hal ini, negara dituntut untuk hadir memberikan perlindungan nyata terhadap pekerja dari ancaman kehilangan pekerjaan. 

  1. Menghapus Sistem Outsourcing dan Penolakan Upah Murah (Hostum)

Tuntutan ini mencerminkan keresahan buruh terhadap fleksibilitas tenaga kerja yang cenderung merugikan posisi pekerja, baik dari sisi kepastian kerja maupun kesejahteraan. Sistem outsourcing dinilai mengaburkan kepastian kerja serta menekan standar upah, sehingga pekerja berada dalam posisi tawar yang lemah. Dengan demikian, penghapusan sistem ini menjadi salah satu agenda utama gerakan buruh. 

  1. Mendesak Pengesahan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang Baru

Pasca dinamika regulasi ketenagakerjaan dalam beberapa tahun terakhir, banyak kalangan buruh menilai bahwa payung hukum yang ada belum sepenuhnya melindungi kepentingan pekerja. Oleh karena itu, pengesahan regulasi baru dianggap penting sebagai langkah korektif untuk memperkuat posisi buruh dalam hubungan industrial.

  1. Reformasi Sistem Perpajakan yang Berkeadilan

Buruh juga menyoroti sistem perpajakan yang dinilai masih membebani pekerja, terutama terkait pajak atas tunjangan seperti THR, bonus, jaminan hari tua (JHT), dan pensiun. Reformasi fiskal diperlukan agar kebijakan perpajakan lebih berpihak pada kelompok pekerja dan tidak semakin menggerus pendapatan riil mereka.

  1. Ratifikasi Konvensi International Labour Organization No. 190

Konvensi ini mengatur penghapusan kekerasan dan pelecehan di dunia kerja. Ratifikasi menjadi penting sebagai bentuk komitmen negara dalam menjamin keamanan dan martabat pekerja. Dengan demikian, buruh tidak lagi diposisikan sebagai mesin produksi, tetapi manusia yang memiliki hak atas lingkungan kerja yang aman dan bermartabat. 

  1. Penyediaan Fasilitas Day Care

Isu keseimbangan antara kerja dan kehidupan keluarga juga menjadi sorotan. Aliansi buruh seperti Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) menekankan pentingnya fasilitas penitipan anak di kawasan industri. Kebijakan ini dinilai mampu mengurangi beban pekerja, khususnya buruh perempuan dan keluarga muda.

  1. Pengesahan RUU Perampasan Aset

Dalam hal ini buruh memberikan dukungan penuh terhadap aturan penyitaan aset hasil tindak pidana yang merugikan masyarakat banyak. Harapnya, dengan disahkan RUU ini dapat memperkuat keadilan ekonomi serta mengurangi ketimpangan yan terjadi. 

  1. Turunkan Potongan Tarif Ojek Online (Ojol) Menjadi 10 Persen

Pengemudi ojek online mengajukan tuntutan terhadap potongan aplikasi yang terlalu besar dan menggerus pendapatan mereka secara signifikan. Dengan potongan aplikasi yang dikurangi menjadi 10 persen pengemudi ojek online bisa mendapatkan upah yang layak bagi pekerja sektor informasi digital. 

Kesimpulan

Dapat dipahami bersama bahwa peringatan Hari Buruh bukan sekadar ritual atau seremonial tahunan, melainkan sebuah gugatan terhadap mereka yang masih terlelap nyaman di atas kerja keras para pekerja, di mana kerja keras yang ditorehkan kerap melahirkan jeritan, keterhimpitan, serta ketidakpastian atas kehidupan yang layak. Suara-suara tersebut telah sampai di ruang publik, bahkan menggema hingga Monumen Nasional. Namun, pertanyaannya bukan lagi apakah suara itu terdengar, melainkan sejauh mana ia benar-benar ditindaklanjuti.

Peran ideal pemerintah tidak hanya berhenti pada kehadiran simbolik, pidato menebar janji, atau sekadar pencatatan aspirasi. Lebih dari itu, negara dituntut untuk menghadirkan kebijakan konkrit yang berorientasi jangka panjang dan berpihak pada buruh, menegakkan hukum ketenagakerjaan secara konsisten, serta memberikan perlindungan terhadap dinamika baru dunia kerja, termasuk sektor informal dan ekonomi digital.

Dengan demikian, esensi peringatan May Day tidak akan tereduksi menjadi sekadar gema sesaat, yang lantang diucapkan namun cepat menghilang, melainkan menjadi gerakan yang terus dikawal hingga hak-hak buruh benar-benar terjamin dan terealisasi secara nyata.

Referensi: 

Tempo.co. (2026, Mei 1). Tuntutan aliansi gerakan buruh bersama rakyat di May Day 2026. Diakses dari: https://www.tempo.co/politik/tuntutan-aliansi-gerakan-buruh-bersama-rakyat-di-may-day-2026-2132902

Tirto.id. (2026, Mei 1). Info demo buruh 1 Mei 2026 di Jakarta, Bandung, dan Jogja. Diakses dari: https://tirto.id/info-demo-buruh-1-mei-2026-di-jakarta-bandung-dan-jogja-hu5B

Penulis : Dea

Asap Dilema di Kampus Kuning: Mahasiswa Undip Membongkar Paradoks Rokok

(Kamis, 30 April 2026) — Di tengah kepulan isu kesehatan dan derasnya arus penerimaan negara, mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro berkumpul dalam satu ruang yang sama: mencari jawaban atas dilema yang tak pernah benar-benar selesai—rokok.

Bertempat di DOME FEB Undip, Badan Eksekutif Mahasiswa melalui bidang Sosial Politik menggelar Gelar Wicara Ekonomi Vol. 2 x Laskar Diponegoro. Forum ini menjadi ruang terbuka bagi mahasiswa untuk menyampaikan opini dan perspektif mereka terkait trilema industri rokok yang mencakup aspek kesehatan, ekonomi, dan kebijakan publik. 

Karya, selaku penanggung jawab acara, menjelaskan bahwa gelar wicara ini merupakan forum diskusi antar mahasiswa yang bertujuan membuka pandangan baru mengenai rokok. “Kami ingin mahasiswa bisa melihat isu ini dari berbagai sudut pandang dan belajar satu sama lain,” ujarnya. 

Namun, penyelenggaraan forum ini tidak lepas dari tantangan. Panitia mengaku kesulitan dalam mencari pemantik diskusi yang mampu menghidupkan suasana. Keberadaan pemantik dinilai penting untuk mendorong jalannya diskusi agar lebih kritis dan dinamis.

Dalam forum tersebut, mahasiswa membahas dilema rokok dari berbagai sisi. Dari sudut pandang ekonomi, rokok memberikan kontribusi besar terhadap APBN melalui cukai yang tinggi dan menjadi salah satu penyumbang utama penerimaan negara. Selain itu, industri rokok juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Di sisi lain, rokok merupakan ancaman serius bagi kesehatan. Penyakit seperti kanker kerap dikaitkan dengan konsumsi rokok, bahkan banyak kasus terjadi pada perokok pasif. Hal ini menunjukkan adanya pertentangan antara manfaat ekonomi dan dampak kesehatan yang ditimbulkan.

Melalui gelar wicara ini, mahasiswa diajak untuk memahami kompleksitas isu rokok tanpa terburu-buru menarik kesimpulan. Forum ini menjadi wadah untuk mengasah pemikiran kritis serta memperkaya perspektif dalam melihat kebijakan publik yang penuh dilema.

Penulis: Juw

Parade Wisudawan FEB Undip 2026, Lautan Dukungan Iringi Langkah Lulusan

Suasana Dome Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro pada Selasa (28/4/2026) sore dipenuhi euforia. Puluhan mahasiswa mengenakan pakaian hitam berkumpul dalam kegiatan Parade Wisudawan FEB Undip 2026 atau yang dikenal sebagai ECONGRAD, sebuah perayaan untuk melepas para wisudawan yang telah menyelesaikan masa studinya.

Kegiatan yang dimulai pukul 16.15 WIB ini menjadi ajang apresiasi sekaligus simbol kebanggaan bagi para wisudawan. Dengan arak-arakan, sorakan, dan chant dari berbagai jurusan, suasana terasa meriah dan penuh semangat.

Suasana ECONGRAD di dome FEB

Salah satu perwakilan organisasi mahasiswa, DESC, Rangga dan Syafa, mengungkapkan kesan positif mereka terhadap acara tersebut. Menurut mereka, kegiatan ini berlangsung sangat seru dan memiliki potensi menjadi tradisi baru di lingkungan FEB.

“Seru banget acaranya. Harapannya ini bisa jadi tradisi untuk mengapresiasi kakak tingkat yang sudah berhasil wisuda,” ujar Rangga.

Senada dengan itu, Syafa menilai acara ini mampu menjadi bentuk penghargaan atas perjuangan para wisudawan. “Acaranya sangat bagus dan bisa menghargai apa yang sudah mereka lakukan selama kuliah,” katanya.

Ketua Bidang Harkam BEM FEB, Gaza, menjelaskan bahwa secara konsep tidak terdapat perubahan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, terdapat beberapa inovasi kecil, seperti penambahan chant per jurusan sebagai representasi identitas himpunan masing-masing.

“Tujuan utamanya tetap sama, yaitu merayakan wisudawan yang telah lulus. Tahun ini ada tambahan chant per jurusan sebagai bentuk penggambaran identitas masing-masing,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa acara berjalan dengan lancar dan tertib. Panitia turut memastikan penggunaan flare tetap terkendali agar tidak berlebihan.

Lebih lanjut, Gaza berharap kegiatan ini dapat terus berkembang di tahun-tahun berikutnya. “Semoga ke depan acara ini bisa lebih besar lagi. Ini juga jadi cara untuk menjaga keterikatan antara mahasiswa aktif dan alumni,” ujarnya.

Persiapan kegiatan ini sendiri memakan waktu sekitar satu bulan sejak tanggal yudisium FEB ditetapkan oleh universitas.

Dari sisi wisudawan, apresiasi juga disampaikan oleh Alvi, salah satu lulusan yang mengikuti parade tersebut. Ia mengaku acara ini meninggalkan kesan mendalam.

“Acara ini sangat berkesan dan berjalan lancar. Terima kasih kepada himpunan dan teman-teman mahasiswa yang sudah memeriahkan,” ungkapnya.

Parade wisudawan ini tidak hanya menjadi bentuk selebrasi, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan dan kebanggaan di lingkungan FEB Undip, menandai akhir perjalanan akademik sekaligus awal langkah baru bagi para lulusan.

Penulis : Juw

Membuka Ruang, Menyuarakan Pandangan: Diskusi Mahasiswa atas Dampak Konflik Iran-Israel

BEM FEB bidang Sosial Politik pada hari Kamis siang lalu (23/04/2026) melaksanakan Gelar Wicara Vol. 1 di Dome FEB. Forum disksusi ini mengambil topik mengenai “Efek Konflik Iran-Israel Yang Mana Membuat Harga Energi Naik”. Konflik Iran-Israel tidak hanya menjadi permasalahan di kawasan Timur Tengah saja, tetapi malah masalahnya melebar seperti terjadi efek domino bagi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Dilaksanakannya diskusi ini memang sebagai ruang untuk mahasiswa agar mahasiswa bisa menyampaikan opini maupun perspektif mengenai topik yang sedang panas dibicarakan dan diharapkan makin banyak mahasiswa yang “melek” ataupun sadar atas permasalahan dunia yang sedang terjadi saat ini.

Kami sempat mewawancarai Ketua Pelaksana kegiatan gelar wicara tersebut yaitu Sharen Regina Septiani Situmorang. Menurut pendapat Sharon sendiri mengenai sejauh mana masyarakat Indonesia dapat memahami dampak kenaikan harga energi terhadap lingkungan sehari-hari yaitu pemahaman masyarakat Indonesia saat ini sudah mulai terbuka, hal ini juga dikarenakan terdapat kenaikan-kenaikan harga energi yang mana berdampak langsung terhadap masyarakat itu sendiri contohnya seperti kenaikan harga BBM-Non Subsidi yang kenaikan harga nya lebih dari 50% dari harga normal. Topik ini dipilih karena Sharon sendiri menginginkan mahasiswa ataupun masyarakat untuk berani berpendapat atas hal yang memang membebani kita, seperti kenaikan-kenaikan harga-harga energi tersebut dan juga beliau menginginkan mahasiswa untuk meningkatkan pemahaman mereka.

Sesi diskusi “Gelar Wicara Vol. 1”

Gelar Wicara Vol. 1 ini terbuka untuk umum, sehingga tidak hanya mahasiswa dari FEB saja, melainkan juga dari luar FEB. Selama berlangsung nya diskusi, mahasiswa aktif dalam bertanya maupun memberikan pendapat. Jadi, bisa dikatakan diskusi nya berhasil karena ada diskusi dua arah antara penantik dan juga mahasiswa yang mengikuti diskusi. Di awal dikatakan acara dimulai pukul 13.00, tetapi saat acara berlangsung gelat baru dimulai saat pukul 14.00. Saat dikonfimasi kembali dengan Sharon, ternyata pukul 13.00 itu hanya open gate saja dan acara memang baru dimulai pukul 14.00 dikarenakan masih menunggu mahasiswa-mahasiswa untuk ikut hadir ke dalam disksusi tersebut. Selama berjalannya acara, penulis merasa senang dengan terbukanya pandangan baru mengenai konflik Iran-Israel tersebut, diharapkan untuk kedepannya diskusi bisa dihadiri oleh lehih banyak lagi mahasiswa.

Penulis : Azwa

Ihsan dalam Aksi: Mizan Bagi Nasi Kotak, Mahasiswa Antre Baca Al-Kahfi

Pada Jumat, 24 April 2026, organisasi kerohanian Islam Mizan FEB Universitas Diponegoro menggelar kegiatan bertajuk Mizan for FEB. Kegiatan ini berlangsung di area bawah Maseko dan diikuti dengan antusias oleh mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis.

Mengusung tema “Ihsan dalam aksi, bersama memberi arti,” Mizan menghadirkan program berbagi makanan dan minuman secara gratis. Sejak awal kegiatan, suasana di lokasi tampak ramai. Mahasiswa terlihat memadati area tersebut, terutama di bagian antrean untuk mengikuti rangkaian syarat yang telah ditentukan panitia.

Sebelum mendapatkan nasi kotak, peserta diwajibkan membaca Surah Al-Kahfi ayat 1–10, bergabung ke grup WhatsApp, serta mengikuti akun Instagram Mizan. Antusiasme mahasiswa terlihat dari antrean untuk membaca Al-Kahfi, yang membuat suasana semakin hidup dan penuh interaksi.

Suasana kegiatan Mizan for FEB.

Di sekitar lokasi, sebuah banner turut menjadi daya tarik tersendiri. Selain menampilkan slogan kegiatan, banner tersebut dipenuhi berbagai post-it yang ditempel oleh mahasiswa, dengan beragam pesan seperti “Free Palestine”, “I Love Mizan”, dan tulisan lainnya. Banyak mahasiswa memanfaatkan momen ini untuk berfoto maupun menambahkan pesan mereka sendiri.

Safa dan Ifah selaku panitia menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk berbagi, tetapi juga sebagai upaya memperkenalkan Mizan kepada lebih banyak mahasiswa FEB. Mereka menambahkan bahwa Mizan for FEB direncanakan akan dilaksanakan sebanyak tiga kali dalam satu periode kepengurusan.

Melalui kegiatan ini, Mizan berharap dapat menghadirkan nilai kepedulian sekaligus mempererat hubungan dengan mahasiswa, sehingga keberadaannya semakin dikenal dan dirasakan manfaatnya di lingkungan FEB Undip.

Peringati Hari Kartini, BEM Harkam FEB Undip Angkat Suara Perempuan

Semarang, 21 April 2026 — Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Bidang Harmonisasi Kampus (Harkam) BEM FEB Undip menggelar kegiatan campaign yang berlangsung meriah di area bawah Maseko pada Selasa (21/4).

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana untuk menyuarakan pentingnya kesetaraan gender, khususnya bagi perempuan. Berbagai aktivitas menarik turut memeriahkan acara, seperti permainan interaktif, photobooth, hingga melukis.

Salah satu panitia, Annafi dari BEM Harkam, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya kesetaraan perempuan.

“Selain menghadirkan keseruan, kami juga ingin menyuarakan pentingnya kesetaraan bagi perempuan. Harapannya, perempuan di Indonesia semakin percaya diri, berani menyuarakan pendapat, serta saling mendukung satu sama lain,” ujarnya.

Annafi juga menyoroti bahwa perempuan masa kini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti stigma sosial, keterbatasan kesempatan, serta isu keamanan yang belum sepenuhnya teratasi.

Suasana acara berlangsung ramai dan penuh antusiasme. Mahasiswi hadir mengenakan kebaya, menghadirkan nuansa khas Hari Kartini. Di tengah keramaian itu, semangat Kartini terasa hidup dalam kebersamaan dan partisipasi mereka.

Melalui kegiatan ini, BEM Harkam FEB Undip berharap semangat Kartini bisa terus hidup, tidak hanya diperingati.

Penulis : Juw