Tambakrejo: Satu dari Sekian Benteng Terakhir Pesisir Utara Semarang

Satu dari sekian rumah tak berhuni yang hancur akibat banjir rob di Tambakrejo. (Musa/Edents)

(Semarang 4/6) – Tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Pers Mahasiswa Semarang yang berkumpul dalam Forum Komunikasi Persma Semarang melakukan liputan bersama di beberapa titik pesisir utara Semarang-Demak, pada pukul 09.00 WIB, Minggu (4/6/2023). Kurang lebih 10 LPM dari berbagai universitas dan fakultas di Kota Semarang dan Salatiga membersamai liputan tersebut. LPM Edents bersama LPM DinamikA dan LPM Misi mendapat daerah Tambakrejo sebagai titik liputan bersama.

Edentser berangkat bersama selepas briefing di sekretariat LPM Suprema Fakultas Hukum Universitas Sultan Agung (Unissula) sekitar pukul 9 pagi. Sesampai di Tambakrejo, Edentser disambut bau asin khas daerah pesisir pada umumnya. Bertemu tokoh masyarakat menjadi tujuan pertama. Terdapat 2 RT paling ujung wilayah Tambakrejo, yakni RT 5 dan RT 6.

Laut Sumber Penghidupan

Laut menjadi sumber penghasilan utama bagi masyarakat Kampung Nelayan Tambakrejo. Setiap harinya, para warga harus pergi ke laut untuk bertahan hidup. Mereka perlu berlomba-lomba menangkap ikan, sementara ikan di laut kian hari kian habis. Penghasilan yang diperoleh pun tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Penerimaan sekitar 150 ribu per hari tak cukup untuk kebutuhan ekonomi yang tinggi.

Dalam menghadapi keterbatasan penghasilan, masyarakat Kampung Nelayan Tambakrejo mengakali dengan berbagai cara, salah tiganya ialah wisata laut, pemancingan tengah laut, dan budidaya kerang hijau. Meski demikian, tetap ada warga yang beralih profesi. Contohnya ialah menjadi dosen, guru, bahkan membuka warung sendiri.

Prayitno, Ketua RT 5 RW 16 Tambakrejo saat kami wawancarai. (Hatfina/Edents)

Prayitno, Ketua RT 5 RW 16 Tambakrejo, mengungkapkan bahwa mayoritas warganya sekarang tidak lagi melaut akibat banjir rob. “Warga Tambakrejo mayoritas profesinya nelayan, sekarang sudah transisi. Tambak juga habis akibat abrasi,” ujarnya.

Fadillah, istri Ketua RT 6 RW 16 Tambakrejo, menjelaskan bahwa ia sudah bekerja selama 10 tahun menjadi petani kerang hijau. “Saya sudah 10 tahun kerja seperti ini. Setiap hari, rutin saya lakukan. Setelah kerangnya dipisah, saya jual ke pengepul di Tambaklorok”, ungkapnya.

Fadillah menambahkan, beberapa masyarakat mengembangkan budidaya kerang hijau di sepanjang wilayah pesisir RT 6 Tambakrejo. Luas tambak untuk budidaya itu mencapai lebih dari 100 hektare.

“Pada saat musim panen, produksi kerang minimal 5 ton per hari dengan harga jual Rp 5.000 per kilogram. Usaha sampingan ini, jika terus digeluti, akan mampu meningkatkan pendapatan warga di sini,” tuturnya.

Dani (45) salah satu warga RT 6 RW 16 Tambakrejo merupakan satu dari sekian warga yang masih mempertahankan profesinya sebagai nelayan. (Yasmien/Edents)

Dani (45), warga RT 6 RW 16 Tambakrejo, merupakan satu dari sekian warga yang masih mempertahankan profesinya sebagai nelayan. Edentser bertemu Dani yang sedang membersihkan alat tangkap udang di atas perahunya, selepas beliau pulang dari laut.

Laut Juga jadi Ancaman

Selain menjadi sumber penghasilan utama, laut juga menjadi ancaman utama bagi warga Tambakrejo. Banjir dan rob seringkali membuat warga khawatir terhadap tempat tinggalnya. Tidak hanya itu, tumpukan sampah yang dibawa air laut pun membuat warga kesulitan. “Waktu pasang itu sampah pada datang, tapi pas surut sampahnya ketinggalan. Kita juga sudah gak tahu gimana cara bersihinnya,” ujar bu Fadilah, pengusaha budidaya kerang hijau.

Selain menjadi sarang penyakit, tumpukan sampah juga menghambat pekerjaan para nelayan. Mesin kapal seringkali mati karena sampah. “Biasanya baru jalan beberapa meter sudah mati beberapa kali.” Keluh Bu Fadilah.

Fadillah istri Ketua RT 6 RW 16 Tambakrejo beserta keluarganya saat membersihkan kerang hijau yang baru diambil oleh penyelam dari tambak. (Qosim/Edents)

Beruntung, rob dan sampah tidak terlalu berpengaruh terhadap penghasilan pengusaha budidaya kerang hijau. Panen kerang hijau bisa mencapai 1 kwintal, bahkan saat panen raya bisa mencapai 4 kwintal. Kerang hijau setelah dipanen dan dipotong-potong akan dijual ke pengepul. Oleh pengepul, kerang dibeli dan dibawa ke pasar. Biasanya 1 kwintal kerang hijau bisa mencapai 500 ribu. Namun, nominal itu belum mencakup biaya pegawai, operasional, dan lain-lain. Sebagai pengusaha budidaya kerang, Bu Fadilah tetap mensyukuri apapun hasil yang ia dapat.

Tanggul Laut Proyek Pemkot

Banjir rob atau pasangnya air laut menuju ke daratan pesisir pantai sangatlah umum terjadi di Desa Tambakrejo. Sama seperti kota-kota pesisir lainnya, bencana ini ditengarai oleh   waktu ke waktu. 

Tentu, pemerintah tidak tinggal diam menyaksikan ancaman krisis iklim yang kian parah melanda pesisir pantai Utara Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang. Salah satu inisiasi pemerintah Kota adalah dibangunnya infrastruktur Jalan Tol Semarang-Demak sepanjang 26,95 km. Jalan tol ini tak hanya ditujukan untuk mobilitas masyarakat, tetapi juga sebagai tanggul laut. Proyek infrastruktur ini menjadi jawaban pemerintah atas perkiraan kenaikan permukaan laut yang akan terus meningkat di masa yang akan datang.

Melansir dari TribunBanyumas.com, pemerintah Kota Semarang memulai pembangunan tanggul laut pada akhir tahun 2022. Tanggul laut ini akan dijadikan solusi untuk banjir rob yang terjadi. Panjang tanggul laut yang akan dibangun mencapai lebih dari 1,2 KM.

Dari kanan Pak Marzuki dan Pak Safi adalah kakak-beradik yang terdampak relokasi. Mereka tinggal di Tambakrejo sejak tahun 2000. (Hatfina/Edents)

Dalam menanggulangi banjir di wilayah Tambakrejo, beberapa proyek dilakukan pemkot Kota Semarang. Sebagai dampaknya, proyek-proyek itu membuat beberapa warga terkena dampak relokasi. Pak Marzuki dan Pak Safi adalah kakak-beradik yang terdampak relokasi. Mereka tinggal di Tambakrejo sejak tahun 2000. Pada tahun 2019, mereka harus terkena dampak relokasi. Tahun 2021, mereka diberikan hunian sementara oleh pemerintah. Marzuki menyebutkan bahwa secara kewarganegaraan, mereka sudah resmi memiliki tempat tinggal. Namun, untuk surat legalitas rumah masih belum jelas. Mereka berharap agar urusan surat rumah ini cepat selesai. 

Artikel ini merupakan hasil liputan bersama LPM se-Semarang Raya dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *