Mengusung Kabinet Solvata, Rayhan Sayyid Husain Maju sebagai Calon Ketua BEM FEB Undip 2025 dalam Musyawarah Mahasiswa

(29/11) FEB – Sidang Pleno 3 dalam rangkaian Musyawarah Mahasiswa berhasil menetapkan satu nama calon Ketua BEM FEB Undip periode 2025. Rayhan Sayyid Husain, mahasiswa akuntansi angkatan 2022, secara sah dapat mencalonkan diri setelah mendapatkan surat rekomendasi dari Keluarga Mahasiswa Akuntansi (KMA), Diponegoro Economics Students Community (DESC), dan Kelompok Studi Masalah Ekonomi dan Sosial (Kesmes).

Mengusung kabinet Solvata, Rayhan berkomitmen membangun BEM FEB Undip 2025 sebagai ruang berbenah untuk berkarya dan bersinergi untuk mewujudkan rekontruksi berkelanjutan dan bermakna untuk FEB Undip, Undip, dan Indonesia. Ia menyoroti dua isu utama, yaitu mengenai minimnya wadah untuk mengembangkan wirausaha FEB Undip dan terputusnya alur aspirasi dan juga advokasi sehingga belum tampak dampak konkrit bagi mahasiswa.

Keputusannya mencalonkan diri didukung oleh dorongan dari keluarga dan juga teman-teman di BEM FEB Undip. Rayhan pun mengungkapkan motivasinya untuk belajar dan mendapatkan ilmu lebih banyak lagi melalui pencalonan ini, “Aku rasa, menjadi seorang ketua BEM pastinya mendapatkan feedback yang tidak didapatkan oleh mahasiswa-mahasiswa lainnya.”

Rayhan pun mengakui sudah banyak dorongan yang ia terima untuk mencalonkan diri saat Pemira namun belum ada kesiapan dan kesanggupan dalam dirinya. Kini, melihat potensi dalam dirinya membuat Rayhan yakin untuk maju dalam kontestasi ini, “mungkin alasan lebih khususnya didorong lagi, dan mungkin hal lainnya, mungkin aku melihat potensi dariku yang kemudian sekiranya bisa untuk diimplementasikan jadi ketua BEM dan mendapatkan ilmu di sana.”

Meski telah mantap mencalonkan diri, Rayhan mengaku belum menyiapkan wakil jika nantinya disepakati menjadi Ketua BEM FEB Undip 2025, “per sejauh ini aku belum menyiapkan untuk siapa yang menjadi wakilku.”

Penulis: Teby
Reporter: Teby, Qosim

Kampus Rumah Pencerahan: Kenapa Masih Rawan Kekerasan?

Sumber: Tempo.co

Oleh: Rayhan Riza

         Kekerasan seksual masih menjadi permasalahan yang rumit di Indonesia. Hingga hari ini tidak ada tanda-tanda perbaikan mengenai hal itu, bahkan kasusnya meningkat selama sepuluh tahun terakhir menurut data Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan. CATAHU 2023 mencatat jumlah kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2023 sebanyak 289.111 kasus. Sedangkan per Agustus tahun ini saja sudah mencapai 34.682 kasus.

         Hal ini bisa terjadi di mana saja. Bahkan di perguruan tinggi, tempat yang seharusnya menjadi rumah pencerahan dan pendidikan, masih kerap ditemui banyak tindakan kekerasan seksual yang dilakukan oleh mahasiswa maupun tenaga didik. Komnas Perempuan juga mencatat selama jenjang tahun 2015-2021, perguruan tinggi menempati urutan pertama dalam hal terjadinya kasus kekerasan seksual terbanyak (35%). Hal ini tentu menjadi paradoks dengan sendirinya: Kampus sebagai lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat tercetaknya insan-insan yang tercerahkan pikiran dan moralnya justru menjadi sarang kasus pelecehan terhadap hak asasi perempuan.

         Kita sering mendengar bahwa faktor sosial-budaya masyarakat Indonesia menjadi penyebab utama yang membentuk persoalan ini. Budaya patriarki yang masih melekat misalnya, menjelaskan kenapa ruang kebebasan dan kesetaraan bagi perempuan belum sepenuhnya tercapai. Hal ini mendorong pola pikir di kalangan laki-laki bahwa mereka lebih unggul terhadap perempuan di dalam struktur sosial dalam berbagai domain termasuk pendidikan, sehingga tidak sedikit dari mereka yang menganggap perempuan sebagai alat kepuasan semata. Bentuk diskriminasi ini di perkeruh dengan pola pikir feodal yang juga kental di kalangan masyarakat, terutama golongan tua. Tidak jarang juga kita mendengar aksi pelecehan seksual yang dilakukan oleh tenaga didik kepada mahasiswinya. Akhirnya, mereka yang mendapatkan perlakuan tidak pantas oleh yang lebih senior terbelenggu dengan ilusi hierarki sosial disaat ingin melaporkan kejadian itu.

         Namun yang menjadi pertanyaan sebenarnya: Di tengah keterbelakangan moral masyarakat yang sedemikian masifnya dalam hal ini, bukankah seharusnya perguruan tinggi menjadi contoh pola pikir yang terdidik bagi masyarakat? Apakah kurikulum kita kurang mumpuni? Dan bagaimana selama ini upaya kampus dalam menangani hal itu?

         Kampus memang bisa menjadi wadah yang mumpuni bagi masyarakat untuk mendapatkan pencerahan tentang fenomena tersebut melalui berbagai platform mulai dari ruang diskusi sampai seminar yang membahas edukasi seksual yang lebih mendalam dari yang kita dapatkan di pendidikan dasar. Idealnya, mahasiswa apalagi tenaga didik yang lebih sadar akan pemahaman seksual bisa menanam pola pikir yang tercerahkan yang kemudian mengakar menjadi kebajikan moral. Namun sayangnya, kurikulum yang ada kurang mampu menjawab tantangan kekerasan seksual yang seringkali dipengaruhi oleh miskonsepsi pola pikir yang kental dalam struktur sosial, bahkan terkadang misinterpretasi agama. Hal ini disebabkan oleh budaya yang sudah mengakar kental di dalam masyarakat kita, sehingga tidak semudah itu untuk menggeser pola pikir kita hanya dengan kurikulum semata.

         Sedangkan dari sudut represif, pihak penegak hukum belum dirasakan kehadirannya oleh masyarakat kampus. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang tidak tahu harus melapor ke siapa jika sewaktu saat mereka harus melakukan itu, pun dengan mekanisme yang ada. Kurangnya sosialisasi dan keterbatasan informasi menjadi penghambat akses antara mereka yang membutuhkan dan mereka yang dibutuhkan.

Satgas yang ditugaskan di tiap perguruan tinggi di Indonesia misalnya, masih menemui banyak disrupsi dan problematika dalam keberjalanan operasionalnya. Di Undip misalnya, pembentukan satgas PPKS saja terdapat keterlambatan dari tenggat waktu yang ditetapkan selama kurang lebih satu bulan. “Kelalaian” ini akhirnya menimbulkan kritik keras serta persepsi yang negatif terhadap perguruan tinggi itu sendiri.

Kekerasan seksual adalah masalah yang serius bukan hanya bagi Indonesia, tetapi bagi tiap manusia yang hidup. Perilaku kekerasan dan pelecehan seksual merupakan pelecehan terhadap kemerdekaan dan hak asasi manusia. Jika faktor sosial-budaya masyarakat menjadi faktor utama, maka sudah seharusnya perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan melakukan hal serius untuk merestorasi moral berdasarkan tri dharma perguruan tinggi.

Perguruan tinggi juga harus mengembalikan kepercayaan masyarakat kampus untuk menjadi benteng kemerdekaan hak asasi manusia dengan membenahi kekurangannya dalam menjalankan fungsinya sebagai wadah pencerdasan untuk menangkal segala tindakan tercela. Karena dalam hal ini, kedua integritas pendidikan dan moral masyarakat sama-sama dipertaruhkan.

Gelar Wicara Ekonomi Vol III: Kupas Program Kerja Calon Pemimpin Kota Semarang

Gelar Wicara Ekonomi Vol III berlangsung di Gedung KWU Lantai 4

FEB (16/11) – BEM FEB Undip menyelenggarakan acara Gelar Wicara Ekonomi Vol III Colosseum Democrate pada Sabtu, 16 November 2024. Acara ini diselenggarakan dengan tujuan untuk menjadi forum diskusi interaktif antara mahasiswa dan para calon pemimpin Kota Semarang. Seminar bertujuan untuk mempertemukan pandangan mahasiswa yang kritis dengan visi, misi, serta program kerja nyata dari calon walikota dan wakil walikota Semarang. 

Seminar dilangsungkan di Hall Kewirausahaan, Gedung Laboratorium KWU Lantai 4. Acara dibuka oleh kata sambutan dari beberapa pihak salah satunya dari Ketua BEM FEB Undip Sena Habibi. Sena berkata bahwa acara dilaksanakan untuk kepentingan mahasiswa dan masyarakat bukan karena ada titipan tetapi karena keinginan mahasiswa untuk mendengar dan mengkritisi visi misi sekaligus program kerja para pemimpin. 

Saat pemaparan visi-misi, pasangan calon nomor urut 1, Agustina Wilujeng dan Iswar Aminuddin, mengusung visi “Semarang Bersatu dan Hebat” dengan fokus pada pembangunan berkelanjutan. Untuk mengatasi stagnasi ekonomi, mereka mengusulkan dana Rp 25 juta per RT per tahun dan stimulus usaha. Mereka juga menawarkan koreksi kenaikan PBB serta meningkatkan pajak kendaraan bermotor untuk mendukung APBD. Dalam isu korupsi, pasangan ini mengedepankan transparansi melalui sistem rekening RT dan pendampingan berbasis teknologi. Komitmen lingkungan diwujudkan melalui transportasi publik yang efisien, pembangunan Semarang Outer Ring Road, dan pengelolaan limbah terpadu.

Sementara itu pasangan calon nomor urut 2, Yoyok Sukawi dan Joko Santoso, mengusung visi “Semarang Maju dan Bermartabat” dengan fokus pada pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur melalui program “Hasta Karya.” Mereka berencana menciptakan tiga Central Business District (CBD) untuk meningkatkan investasi dan lapangan kerja, serta menawarkan beasiswa “1 Rumah 1 Sarjana” bagi keluarga kurang mampu untuk menekan angka putus sekolah. Dalam isu lingkungan, pasangan ini menyoroti pengelolaan banjir rob dan reklamasi pantai dengan kajian ahli, serta berkomitmen memperbaiki layanan transportasi publik yang dinilai masih buruk. Mereka juga mengusulkan sistem pembayaran kinerja berbasis keterampilan untuk meningkatkan efektivitas tenaga kerja.

Setelah sesi tanya jawab selesai, kedua pasangan calon walikota dan wakil walikota Semarang, menandatangani pakta integritas yang berisi komitmen untuk memenuhi aspirasi mahasiswa dan masyarakat serta menjalankan program kerja nyata dengan jujur dan melawan segala bentuk praktek korupsi, kolusi, nepotisme apabila terpilih sebagai Walikota dan Wakil Walikota. Peserta yang hadir dalam seminar turut menjadi saksi yang akan terus menuntut komitmen kedua pasangan calon walikota dan wakil walikota Semarang. 

Reporter: Alvaro, Messal

Kotak Kosong “Menang”: Bagaimana Kelanjutannya?

Real count pemira FEB 2024

Tidak sedikit masyarakat FEB yang bingung akan kelanjutan dari PEMIRA 2024. Seperti yang diketahui pada pemilihan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, pasangan calon nomor urut 1 Tockary-Gibran harus mengakui keunggulan kotak kosong dengan selisih 251 suara. Kotak kosong “memenangkan” pemilihan dengan 1,091 suara (56,50%) terhadap Tockary-Gibran dengan 840 suara (43,50%) dalam pencoblosan yang dilakukan tanggal 5 November 2024. Hal ini membuat banyak masyarakat FEB bertanya-tanya mengenai keberlanjutan kepemimpinan pemerintahan mahasiswa. Dengan stagnasi politik seperti yang kita saksikan sekarang, estafet kepemimpinan seakan terlihat tidak pasti.

Menurut pasal 42 ayat 5 poin C Peraturan Mahasiswa No. 3 tentang Pemilihan Umum Raya Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip 2024, Musyawarah Mahasiswa FEB Undip dilakukan apabila jumlah suara kotak kosong sama atau lebih banyak daripada suara pasangan calon Ketua dan Wakil Ketua BEM FEB Undip. Maka dalam waktu mendatang kita akan menyaksikan Musyawarah Mahasiswa (Muswa) Fakultas Ekonomika dan Bisnis guna menentukan Ketua dan Wakil Ketua BEM FEB Undip 2025.

Namun untuk jadwal dan mekanisme dari Muswa itu sendiri sampai sekarang belum dapat disimpulkan dengan pasti kapan dan akan seperti apa. “Untuk mekanisme dari muswa sendiri belum dapat dipastikan karena kembali lagi ke wewenang senat,” ucap salah satu KPPR inti. “… pun, untuk waktunya karena masih masa tenang jadi belum dapat dilaksanakan”. Ia pun menambahkan bahwa segala progres akan terus dikonfirmasi melalui akun instagram PEMIRA FEB.

Sementara Ketua KPPR Arif Wahid Hidayat mengatakan bahwa untuk Muswa sendiri masih dalam proses perancangan draft teknisnya, dan belum termasuk tanggal pasti pelaksanaannya. Namun, Arif mengatakan bahwasanya penetapan Senator FEB 2025 akan tetap di tanggal 19 November 2024, sesuai dengan rundown PEMIRA. “Untuk muswa sendiri kita masih membuat draft teknisnya, namun untuk tanggal pastinya belum ada,” ujarnya. “… yang bisa dipastikan terlebih dahulu adalah untuk penetapan senator feb 2024 tetap di tanggal 19 November”.

Penulis: Rayhan Riza

Pahlawan Digital: Mengobarkan Semangat Kepahlawanan di Dunia Maya

Sumber: Modalku.co.id

Oleh: Alvaro Siahaan

10 November, hari dimana setiap warga Indonesia merefleksikan secara mendalam tentang keberanian, pengorbanan, dan ketulusan yang diwariskan oleh para Pahlawan Bangsa. Namun lebih dari itu, Hari Pahlawan mengingatkan kita akan esensi dari seorang pahlawan itu sendiri seperti tanggung jawab moral yang tercermin dalam keberanian, kejujuran, dan ketulusan untuk diperjuangkan di masa kini. Di era yang semakin kompleks, esensi kepahlawanan tidak lagi terbatas pada situasi perang, melainkan meluas ke ranah pendidikan, sosial, dan ekonomi, di mana kontribusi tulus untuk bangsa adalah bentuk perjuangan yang baru. Media perjuangan di masa kini pun telah berubah salah satunya dalam bentuk dunia maya, dengan jejaring sosialnya, menyuguhkan ladang baru bagi kepahlawanan. Kini, “pahlawan” tidak lagi harus memegang senjata, namun dapat hadir melalui layar, dalam wujud suara dan tindakan yang menginspirasi serta menggerakkan perubahan.

Mungkin kita pernah bertanya, apakah mungkin ada “pahlawan” di ruang digital, di mana segala sesuatu dapat direkayasa dan kebenaran sering kabur dalam kabut informasi?

Menabur Kebenaran di Tanah Subur Hoaks.

Di era post-truth, kebohongan tampak lebih kuat dari kebenaran. Informasi palsu atau hoaks di media sosial seolah tak bertepi. Menurut survei Katadata pada tahun 2021, lebih dari 60% masyarakat Indonesia mengaku pernah menerima informasi yang keliru atau hoaks melalui media sosial, khususnya tentang politik dan kesehatan. Dampak dari penyebaran hoaks ini begitu nyata; masyarakat terbagi, saling mencurigai, bahkan mudah terpancing oleh provokasi.

Namun, di tengah lautan hoaks yang mengombang-ambingkan logika publik, muncullah “pahlawan-pahlawan digital” yang tanpa pamrih menyuarakan kebenaran. Di balik layar, mereka bekerja secara sukarela sebagai pengecek fakta (fact-checkers), mendedikasikan waktu dan tenaga untuk meluruskan informasi yang salah. Beberapa platform seperti Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) menyediakan akses kepada publik untuk mengklarifikasi berita atau klaim yang beredar. Para pengecek fakta ini sering menghadapi intimidasi atau bahkan ancaman dari pihak-pihak yang merasa dirugikan, namun mereka tetap berdiri tegak.

Apa yang mereka lakukan lebih dari sekadar memperbaiki informasi yang salah; mereka adalah pengoreksi nilai kebenaran di era digital. Mereka tidak dikenal, mungkin tidak disebut dalam sejarah, namun mereka telah menghidupkan semangat pahlawan: berani, jujur, dan tanpa pamrih dalam mempertahankan nilai kebenaran.

Ketulusan di Balik Kepopuleran

Para influencer sering kali dilihat hanya sebagai cloud chaser atau pengikut trend, namun tidak sedikit dari mereka yang melampaui batas permukaan dan menggunakan pengaruh mereka untuk membawa perubahan positif. Mereka memanfaatkan platform digital untuk mendidik bibit-bibit muda Indonesia dengan berbagai macam pembelajaran. Misalnya, beberapa influencer menggunakan media sosial untuk membuat konten edukasi yang dapat menumbuhkan niat belajar siswa-siswi Indonesia.

Salah satu contohnya adalah kanal YouTube Kok Bisa, yang telah menginspirasi banyak anak muda Indonesia untuk lebih kritis dan haus pengetahuan. Kanal ini secara konsisten menyajikan konten edukasi dengan cara yang mudah dipahami dan menarik, membahas berbagai topik mulai dari sains, sejarah, hingga isu-isu sosial. Dalam setiap videonya, Kok Bisa merangkum topik-topik yang kompleks menjadi informasi yang ringan namun bermakna. Dengan konten yang sarat edukasi, mereka berhasil menumbuhkan minat belajar dan mempromosikan literasi sains, bahkan bagi mereka yang mungkin belum akrab dengan bidang tersebut.

Relawan Digital: Menghadirkan Kepedulian di Ruang Maya

Kepahlawanan di era digital juga tampak dalam bentuk relawan yang menggunakan internet untuk menggalang dukungan dan bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan. Pada saat pandemi Covid-19, misalnya, inisiatif seperti Kitabisa.com menjadi platform bagi banyak orang untuk membantu sesama. Platform ini memungkinkan siapa saja untuk menggalang dana bagi mereka yang terkena dampak bencana, mengalami kesulitan ekonomi, atau membutuhkan bantuan kesehatan. Melalui gerakan-gerakan digital ini, masyarakat luas dapat menyaksikan langsung efek positif dari kepedulian kolektif.

Di balik layar, para penggerak di Kitabisa atau inisiatif digital lainnya bekerja tanpa lelah untuk memastikan bahwa setiap donasi yang diberikan digunakan secara transparan dan tepat sasaran. Mereka mungkin tidak berada di garis depan, namun kehadiran mereka memberikan solusi konkret di masa sulit. Para relawan ini adalah pahlawan yang menggunakan pengetahuan dan keterampilan teknologi untuk memupuk semangat gotong-royong dan kebersamaan dalam menghadapi tantangan.

Pemberontakan terhadap Kebisingan Komersial, Menginspirasi Kemandirian dan Kreativitas

Di balik dominasi konten komersial yang memenuhi media sosial, ada para kreator independen yang berani menyuarakan aspirasi dan menginspirasi kreativitas generasi muda. Mereka adalah seniman, penulis, musisi, dan pemikir yang memanfaatkan media sosial untuk berbagi karya yang sarat nilai edukatif dan artistik, bebas dari kepentingan komersial.

Misalnya, dalam ranah musik, penyanyi-penulis seperti Kunto Aji dan Hindia menggunakan platform digital untuk berbagi karya yang membahas kesehatan mental dan pemahaman diri. Dengan lirik-lirik yang menyentuh, ia merangkul pendengarnya dan menciptakan ruang aman di dunia digital, di mana anak muda dapat merasa dipahami dan tidak sendirian. Konten semacam ini menjadi oase di tengah kebisingan digital yang penuh konten promosi, iklan, dan hedonisme yang kadang menekan kreativitas generasi muda.

Para kreator independen ini bukan sekedar penghibur; mereka adalah inspirator yang menunjukkan bahwa media sosial bisa menjadi alat untuk menyuarakan pesan mendalam, mengembangkan potensi diri, dan menguatkan identitas bangsa. Mereka menunjukkan bahwa “pahlawan digital” tidak hanya berasal dari tindakan yang heroik, tetapi juga dari keberanian untuk menjadi diri sendiri dan berbagi nilai-nilai positif.

Kepahlawanan di era digital hadir dalam beragam wajah: pengecek fakta yang tak dikenal, influencer yang membawa pesan sosial, relawan yang membantu sesama, dan kreator yang memperkaya budaya. Mereka semua menghadapi tantangan yang berbeda, mulai dari ancaman cyberbullying hingga tekanan komersial yang mengikis idealisme, namun semangat mereka tetap kuat. Dalam ruang digital yang sering kali dianggap dangkal, mereka menabur benih kepahlawanan, menumbuhkan harapan, dan membangkitkan empati.

Ketika kita memperingati Hari Pahlawan, alangkah baiknya jika kita tidak hanya sekedar mengenang para pejuang masa lalu, tetapi juga menyadari bahwa kepahlawanan masih tumbuh subur di zaman modern. Dunia maya mungkin penuh ilusi, namun di dalamnya tetap ada tempat untuk orang-orang yang memilih untuk menjadi pahlawan bagi sesama, menyemai perubahan di balik layar, dan mempertahankan nilai-nilai luhur di tengah arus deras globalisasi.

Sarang Penuh Menteri, Tenggelam dalam Ambisi

Sumber: Jakarta Islamic Center

Oleh: Messal Bakti Purnama

“Rapatkan barisan! Tinggal selangkah lagi kita menumbangkan kerajaan Semut Merah! Tabrak-Tabrak Masuk!”, seru Panglima Perang Semut Hitam membakar jiwa pertempuran. Perang Dahsyat  memperebutkan daerah koloni Semut Merah yang kaya akan bahan makanan akan mencapai akhirnya. Perang selesai di tangan Semut Hitam. Nyanyian dan dansa khas Semut Hitam menggelora di seantero koloni. “Semut Hitam Ayo Gas!”.

            Sang Panglima akhirnya memperoleh takhta Raja Semut Hitam. Citra yang kuat menjadikan Sang Raja dihormati oleh kaum serangga lainnya. Dengan koloni yang besar, ia membagi kursi kekuasaan kepada kawan-kawan seperjuangannya, bahkan mengajak lawannya untuk bekerja sama. Menteri-menteri dipilih oleh Sang Raja, “Uril, urusi hak semut di koloni ini! Selesaikan apa yang perlu diselesaikan!”. Pemerintahan koloni ‘Ayo Gas’ terbentuk untuk membantu Sang Raja. Tetapi, pemerintahan Semut Hitam diduduki oleh Para Penebar Citra, entah apa yang dipikirkan Raja, membahayakan kaum semutnya.

BUPS (Badan Urusan Pangan Semut) menasehatkan Raja, “Yang Mulia, cukuplah sudah menambah Menteri, kapasitas pangan kita tidak cukup untuk memberi ‘makan’ mereka. Semut Jelata yang lain akan terus berada di garis kelaparan! Kita juga tidak bisa memberi makan gratis untuk mereka!”. Namun, Raja menolak mentah-mentah nasehat itu, “Kita koloni yang besar! Sudah sepatutnya pemerintahan diisi semut-semut yang banyak, saya percaya semua berakhir bahagia, saya punya jawabannya.”. Rakyat semut hanya bisa berdoa apa yang Raja titahkan terwujud.

Waktu terus berlalu, kejadian demi kejadian terjadi. Di provinsi dapur, gejolak kekuasaan dipicu oleh perebutan gula di antara Kementerian. Menteri Gula dan Menteri Pencari Pangan saling berebut hasil gula yang diperolehnya. “Wahai Raja, ini urusan kami, kami yang mengatur gula, sudah sepatutnya kami yang memperoleh manfaat lebih dari gula yang kita dapat. Benarkan wahai Raja?”, kata Menteri Gula. “Anda serakah! Kami para pencari pangan yang menemukan gula, kami yang seharusnya menerima lebih banyak!”, balas Menteri Pencari Pangan. Menanggapi peristiwa ini, Raja bertitah, “Sudah cukup! Biar saya yang urus ini! Masing-masing dari kalian akan mendapat bagian!”.

Berputarnya matahari kemudian, “Cabut tangkai dari pohonnya! Gigit kuat-kuat daun lalu petiklah! Gunakan alam ini untuk membantu kita bekerja!”, semangat Raja berpidato kepada rakyat untuk meningkatkan penggunaan alat tumbuhan dalam bekerja. Beranjak dari bebatuan, Menteri Tumbuhan berteriak, “Yang Mulia! Ini tidak benar! Tumbuhan akan habis, rakyat tidak akan menyukainya, bisa-bisa banjir mengguyur kita!”. Menteri Pekerjaan marah, “Hei, Menhan (Menteri Tumbuhan)! Anda tidak sopan! Ini pandangan (visi) raja, untuk apa kamu melawan!” Raja menengahi, “Berhenti kalian! Ikuti saja apa kata saya, sisanya saya yang akan urus.” Tumbuhan tetap dicabut, curah hujan yang tinggi menyebabkan genangan air melebar.

Di penghujung bulan berikutnya, pembangunan sarang yang besar di berbagai penjuru koloni menggiurkan semut-semut culas. Menteri Pembangunan Semut melihat potensi negatif yang mujur. Ia memerintahkan kepada para bawahan setianya, “Hei semuanya, tidakkah kalian melihat Raja sibuk dengan urusannya. Yang Mulia sangat percaya pada kita. Bagaimana jika pasir, tanah, dan tumbuhan yang kita angkut kita tukar dengan makanan ke koloni lainnya, lalu kita adakan pesta? Haha!”. Para pengikutnya ikut tertawa, “Haha! Kami setuju! Sudah lama kita tak berpesta makanan. Toh, sumber daya pembangunan juga masih cukup, Haha!”. Namun, hal ini diketahui oleh KPC (Komite Pelaporan Culas)–bukan KPK–dan langsung dilaporkan kepada Raja. Raja membalas, “Perbuatan dungu, uhuk. Saya akan tangani ini.”.

Malam harinya, Menteri Urusan Makan dan BUPS berlari menghadap Raja. “Wahai Raja-ku! Gawat Raja-ku! Stok makanan kita makin lama makin menipis. Minggu depan, diperkirakan kita tidak bisa memberi makan 10 Kementerian. Rakyat sudah mulai demonstrasi dimana-mana. Bagaimana ini Raja-ku!”. Raja bangkit, “Sudah saya sabdakan, uhuk, kalau saya akan selesaikan ini, uhuk, potong saja anggaran makan saya untuk rakyat, uhuk-uhuk.”, lalu jatuh di depan singgasana-nya. “Yang Mulia!”. Raja jatuh sakit, ia bukan panglima kekar seperti dulu.

Seantero koloni panik. Beberapa terangkat senyum di wajahnya. Kelompok semut keturunan Semut Merah dari suku ‘Fififofo’ berencana mengkudeta sang Raja. “Mari kembalikan kejayaan Semut Merah! Kerajaan sudah retak, kumpulkan semua pembelot kita serang istana!”.

Di pelataran, “Wahai Raja, sepertinya kau harus turun takhta! Kau sudah tidak pantas lagi memimpin koloni ini! Kekacauan sudah terjadi di segala penjuru, tidak ada yang bisa kau perbuat!”. “Apa kamu bilang? Mas Buruh Mas Buruh, uhuk-uhuk. Semua semut mendukung saya, ini hanya masalah kecil bisa saya selesaikan, uhuk-uhuk!”, balas Raja menahan rasa sakitnya. Semut dari suku Fififofo menyahut, “Sudahlah mantan panglima, perjalananmu cukup sampai disini.”. “Kau juga, ******?!”, amuk Raja. “Angkat senjata kalian, Maju!”. Kedua belah pihak mulai menyerang. Tak disangka …

Kilat menyambar menggetarkan seluruh koloni. Badai datang. “Apa-apaan ini!”. Semut-semut berlarian ke segala penjuru. Kelompok semut yang kehilangan kawanannya berputar-putar mencari dan kebingungan (Ant Death Spiral). Badai yang deras membuat air masuk ke sarang, sarang semut tidak kuat menahan tekanan air tersebut. “Ini salahmu!”, “Kaulah yang salah!”. Raja dan rakyatnya tenggelam oleh badai. Koloni semut hitam hancur, hanya tersisa teriakan makian saling menyalahkan dan doa pengampunan dari penyesalan yang perlahan sirna.

Jangan Diam! Pilih!

Sumber : https://thediversitymovement.com

Oleh : Rayhan Riza

“Don’t Boo! Vote!”

Begitu yang dikatakan Barack Obama kepada pendukungnya dalam pemilihan presiden AS 2016. Kalimat itu ia lontarkan untuk mengajak pendukungnya untuk memilih Hillary Clinton guna mencegah kemenangan Trump yang kerap dikeluhkan oleh para pendukung liberal. Namun, ia mengajak para pendukungnya untuk benar-benar melakukan sesuatu yang nyata alih-alih terus mengeluh dan protes akan dinamika politik yang terjadi.

Menjelang Pemilihan Umum Raya (PEMIRA) FEB Undip, berbagai isu kampus dan kemahasiswaan yang kerap dikeluhkan kembali berterbangan menghidupi ruang pembicaraan di kampus kita. Platform pun sudah disediakan untuk mengenal dan memilih berbagai macam kandidat dalam tiap ranah pemerintahan mahasiswa yang memiliki visi misi untuk menjawab isu dan tantangan yang ada. Mulai dari ketua dan wakil ketua BEM, ketua himpunan mahasiswa masing-masing program studi, serta senator independen di ranah legislatif.

Semua kandidat tersebut saat terpilih nanti, akan membawa aspirasi yang berbentuk keluhan, saran, dan kritik kepada pihak yang dirasa bertanggung jawab akan hal tersebut. Maka penting bagi kita untuk kemudian mulai memahami apa yang dipertaruhkan dalam ajang pesta demokrasi kampus kita: Isu-isu kemahasiswaan substansial yang, tergantung kembali kepada pemilih, akan tersampaikan atau tidak kepada stakeholder guna menyikapi persoalan tersebut. Bukan hanya ajang dalam memilih kandidat, tetapi memilih visi dan misi yang bisa menyikapi berbagai permasalahan kemahasiswaan yang kerap dikeluhkan.

Sayangnya, satu hal yang masih menjadi tantangan dalam tiap pemilihan umum raya terletak pada masyarakat FEB itu sendiri. Tingkat partisipasi pemilih yang belum pernah mencapai DPT, serta keapatisan masyarakat FEB itu sendiri terhadap kandidat atau bahkan substansi PEMIRA yang ada, menyebabkan kurangnya partisipasi yang diberikan oleh kelompok yang justru menjadi pemeran utama dalam pemilihan ini: Mahasiswa FEB Undip. Kalau kita amati lebih jelas, taraf kekritisan terhadap substansi yang dibawa dalam Pemilihan Umum Raya tidak ditemukan merata secara menyeluruh dalam masyarakat FEB: Hanya sebagian dari mereka yang benar-benar memahami apa yang dipertaruhkan dalam ajang pesta demokrasi ini.

Itulah yang menjadi kontradiksi berjalan dalam hal ini: Mereka kerap mengeluhkan apa yang menurut mereka esensial bagi kehidupan kemahasiswaan mereka, namun hampir tidak melakukan tindakan yang nyata dan langsung untuk menyikapi permasalahan tersebut, salah satunya ialah menggunakan hak suaranya dalam pemilihan umum raya. Terkadang, keapatisan mereka terhadap platform ini atau tingkat kepercayaan mereka kepada kemampuan pemerintahan mahasiswa dalam menjawab persoalan mereka secara tidak langsung memberi sugesti dalam diri mereka bahwa ini semua tidak ada maknanya. Atau, dinamika politik yang dirasa tidak sehat juga membuat mereka menghindar dari kontestasi yang menurut mereka lebih dominan pada aspek politik dibandingkan aspek substansialnya.

Padahal sedikit mereka tahu, bahwa dengan tidak melakukan apa-apa juga tidak pernah menjadi jawaban untuk permasalahan yang dikeluhkan. Dengan tetap berdiam dan apatis tidak mengubah apapun, jangankan untuk kemaslahatan bersama, tetapi justru memperkeruh situasi yang ada. Dengan bersikap pesimis justru mengurangi harapan akan FEB yang lebih baik dan dengan tetap bersikap masa bodo terhadap apapun maka dambaan dan impian akan keadaan yang lebih baik akan pudar menjadi khayalan semata.

Marilah, kita sebagai pemeran utama dalam lingkungan kita, mulai melakukan sesuatu yang nyata, berasaskan keluhan dan impian kita, guna menjadikan Fakultas Ekonomika dan Bisnis yang mampu menjawab persoalan yang kita keluhkan. Gunakan hak suara teman-teman dan lakukan hal yang nyata untuk membenahi apa yang menjadi keluhan kita bersama. Berhenti bersikap apatis terhadap masalah dan mulai lakukan sesuatu dengan mengimplementasikan hak yang diberikan kepada kita dalam menjalankan peran kita.

Jangan Diam! Pilih!

Akuntansi Satu Suara Pilih Kotak Kosong, Tockary: “Mahasiswa Memiliki Idealisme Masing-Masing.”

FEB (31/10) – Kamis, 31 Oktober 2024, tersebar statement yang menyatakan bahwa Akuntansi akan satu suara dalam memilih kotak kosong pada Pemilihan Umum Raya 2024. Pernyataan ini diberikan dalam menyikapi hasil Mimbar Bebas Calon Ketua BEM dan Calon Wakil Ketua BEM FEB Undip 2025 nomor urut 1. Pada sebaran siaran yang dibagikan, mereka menganggap Grand Design Organization (GDO) pasangan kandidat tidak memiliki relevansi dengan isu di FEB khususnya pada Program Studi Akuntansi. Selain itu, Akuntansi juga menganggap keterbutuhan dan keresahan masing-masing program studi khususnya Akuntansi tidak terjawab. Hal ini dikarenakan belum terkumpulnya data dari masing-masing program studi yang terbukti dengan tidak tertuangnya di dalam GDO per tanggal 29 Oktober 2024.

Salah satu Mahasiswa Akuntansi mengiyakan adanya gerakan tersebut, yang bersangkutan mengatakan bahwasanya hal ini merupakan kesepakatan Mahasiswa Akuntansi. Ia pun tidak berharap apa-apa lagi dengan kandidat calon ketua BEM yang maju pada kontestasi Pemira saat ini karena akuntansi akan memilih kotak kosong. 

Menanggapi hal ini, Rafi Ridho Tockary selaku Calon Ketua BEM FEB Undip 2025 berpendapat bahwa setiap mahasiswa memiliki idealismenya masing-masing. Tockary juga menambahkan bagaimana mahasiswa bisa berpikir secara idealis dan mandiri serta tidak dipengaruhi orang.

“Semua mahasiswa punya idealisme masing-masing, tapi tentang bagaimana kemudian kita bisa berpikir idealis, kita tidak dipengaruhi orang, kita bisa berpikir secara mandiri sehingga kemudian apa draft langkah yang kita lakukan atas dasar pemikiran secara pribadi, atas dasar keobjektivitas kita, bukan atas dasar sebuah pengaruh,” ungkap Tockary.

Arif Wahid selaku ketua KPPR 2024 beranggapan bahwa hal seperti ini adalah sebuah dinamika berdemokrasi. “Itu merupakan sebuah dinamika dalam kontestasi demokrasi, kita tidak bisa menghindari ataupun menyalahkan adanya hal seperti itu,” ujar Arif.

“Namun yang menjadi persoalan adalah ketika adanya ketidakpercayaan publik terhadap Calon Ketua BEM maupun Wakil Ketua BEM. Maka, yang harus dipertanyakan adalah gagasan dan juga ide dari Ketua dan Wakil Ketua BEM tersebut,” tambahnya.

Penulis: Qosim

Reporter: Qosim, Teby, Rifqy

Tuntas Hadapi Mimbar Bebas, Tockary-Gibran Terima Seluruh Kritik dan Masukan

Tockary-Gibran sedang memaparkan GDO (sumber: pribadi)

FEB (29/10) – Pasangan kandidat nomor urut satu BEM FEB Undip, Tockary-Gibran, telah menuntaskan Mimbar Bebas dalam Pemilihan Umum Raya (Pemira). Dalam Mimbar Bebas, GDO yang mereka paparkan diuji oleh para panelis yang terdiri dari Ketua BEM, Ketua Senat, Ketua Himpunan Ekonomi Islam, Ketua Himpunan Ekonomi, Ketua Himpunan Manajemen, dan ketua Himpunan Akuntansi. Tak hanya para panelis, mahasiswa FEB  yang hadir juga berkesempatan untuk mengkritisi program yang dibawakan Tockary dan Gibran.

Gibran, kandidat wakil ketua BEM FEB Undip 2025, berharap GDO yang disampaikan dapat memberikan gambaran jelas mengenai poin-poin yang akan dibawa dalam kabinet Bahtera Asa. “Harapannya dari penyampaian GDO tadi sih sebenarnya tergambar seenggaknya apa poin-poin yang emang mau kita bawakan dalam kabinet Bahtera Asa. Dan memang mungkin masih banyak pertanyaan di benak-benak masyarakat FEB terkait sebenarnya apa sih yang mau jadi fokus pembahasannya, apa yang mau jadi isu-isu utama yang bakal dibawa sama BEM tahun depan. Tapi, ya,  selama keberjalanannya juga kami membuka begitu banyak kesempatan untuk bertanya bagi Tockary dan juga Gibran,” jelasnya. 

Ia juga menyampaikan terima kasih atas partisipasi masyarakat FEB yang aktif mengajukan pertanyaan dan masukan, “Aku harap bisa jadi sebuah sarana pembangunan bagi aku dan juga Tockary, dan, ya, kritik, segala bentuk kritik dan juga masukan InsyaAllah tercatat dengan baik yang semoga kedepannya bisa terus berlanjut kritik-kritik dan masukan seperti itu kepada aku dan Tockary.”

“Ya, apapun hasilnya nanti InsyaAllah kami sudah menerima dengan lapang dada dan juga dengan hati yang ikhlas,” tutup Gibran.

Penulis: Teby.
Reporter: Teby, Qosim, Rifqy.

Menjadi Wadah bagi Berbagai UKM Seni FEB, Cosmic Festival 2024 Berlangsung Meriah

BIntang tamu Arash Buana sedang membawakan lagu (sumber; pribadi)

FEB (27/10) – Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (UNDIP) baru saja dimeriahkan oleh acara yang bertajuk Cosmic 2024, sebuah acara kreatif dari BEM FEB Seniora. Acara ini sukses menyatukan penampilan artistik dan kegiatan bazar meriah.  Cosmic 2024 tidak hanya menarik minat mahasiswa UNDIP, tetapi juga dihadiri pengunjung dari berbagai fakultas hingga masyarakat luar kampus, menjadikan acara ini semakin semarak.

Beragam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di FEB UNDIP turut tampil memeriahkan panggung Cosmic, seperti UKM Tari, Teater Buih, Modern Dance, Economic Voice, Economusic, hingga pemenang Ecoart. Kehadiran mereka menambah daya tarik acara dan setiap penampilan mereka berhasil menghidupkan suasana acara. Salma, salah satu penonton dari prodi Akuntansi Perpajakan, memberikan penilaian sempurna, yaitu penilaian 10/10 untuk penampilan UKM di Cosmic 2024.saat diwawancarai oleh pembawa acara.

“Meski baru sebagian pertunjukannya tapi bagus banget dan keren-keren!” ujarnya dengan antusias.

Namun, acara ini tidak sepenuhnya tanpa kekurangan. Dalam wawancara terpisah, Nur, seorang penonton lainnya, mengungkapkan beberapa catatan. Ia menyebut minimnya tempat sampah atau trash bag membuat sampah berserakan di beberapa titik area acara. Selain itu, Nur juga menyoroti adanya penonton yang membawa rokok ke dalam venue, mengindikasikan bahwa panitia kecolongan dalam menegakkan aturan. Namun, Nur tetap merasa puas dengan keseluruhan acara tersebut. Menurutnya acaranya sangat seru dan Performance-nya sungguh asik.

Puncak acara semakin spesial dengan penampilan sang bintang tamuArash Buana yang pada acara kali ini sukses menghibur dan menambah keseruan malam hari itu dengan lagu-lagunya. Dengan suasana yang meriah, pertunjukan yang sangat berkesan, dan partisipasi yang antusias dari semua pihak, Cosmic 2024 berhasil menjadi ajang kreativitas  bagi mahasiswa FEB UNDIP.

Reporter: Intan Amalina

Penulis: Intan Amalina