DEMAK (21/7) – Edukasi lingkungan dikemas melalui berbagai kegiatan kreatif oleh mahasiswa KKN Tematik IDBU 32 Universitas Diponegoro di Dukuh Gojoyo, Desa Wedung, Kabupaten Demak. Mulai 10 Juli hingga 21 Juli 2026, program tersebut mengajak anak-anak dan masyarakat memanfaatkan sumber daya alam serta barang bekas menjadi karya yang bernilai sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan pesisir.
Program ini berada di bawah bimbingan Dr. Restiana Wisnu Ariyati, S.Pi., M.Si., Dr. Lestari Lakhsmi W., S.Pi., M.Pi., dan Dr.-Ing. Wisnu Pradoto, S.T., M.T. Kegiatan dirancang untuk menguatkan tiga aspek utama, yaitu kesadaran lingkungan, pembentukan karakter dan keterampilan hidup, serta pengembangan potensi ekonomi masyarakat.
Dzaky Abdul Rafi selaku Ketua kelompok 1 KKN-T IDBU 32 menjelaskan bahwa Dukuh Gojoyo memiliki potensi sumber daya alam, hasil laut, UMKM, dan generasi muda yang besar.Namun, sebagian potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan pengetahuan pengelolaan lingkungan, pengolahan produk, dan pemasaran usaha.
Salah satu kegiatan bertema “Dari Sampah Jadi Cuan” yang dipandu oleh Dewi Nurul Fa’idah mendapat antusias yang tinggi dari para siswa/i. Dimana kegiatan ini mengajak anak-anak SMP 03 Wedung mengubah barang bekas seperti plastik kemasan diubah menjadi gantungan kunci yang siap dipakai maupun dijual.
Gambar 1. Gantungan kunci
Program ini tidak hanya melatih kreativitas dan keterampilan tangan siswa, tetapi juga menanamkan pemahaman bahwa sampah rumah tangga memiliki potensi nilai ekonomis apabila dikelola dengan tepat, sekaligus menjadi langkah awal mengurangi volume limbah plastik di lingkungan sekitar mereka.
“Saya kira sampah plastik sudah tidak bisa dipakai lagi, ternyata bisa dibuat gantungan kunci yang lucu seperti ini,” ujar salah satu siswi kelas 7 SMP 03 Wedung.
Dewi Nurul Fa’idah menambahkan bahwa barang bekas yang sering dianggap tidak bernilai sebenarnya masih dapat dimanfaatkan kembali. Menurutnya, dengan kreativitas sederhana, sampah dapat diubah menjadi produk yang menarik sekaligus mengurangi jumlah limbah yang dibuang ke lingkungan. Ia berharap keterampilan yang diperoleh siswa dapat terus dikembangkan secara mandiri, bahkan berpotensi menjadi peluang usaha kecil di tingkat rumah tangga maupun sekolah.
Gambar 2. Demonstrasi pembuatan gantungan kunci
Kegiatan lainnya yang menjadi perhatian siswa/i adalah pelatihan ecoprint pada media tote bag yang dipandu oleh Akbar Nur Kholis. Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diajak memanfaatkan berbagai jenis daun yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar sebagai bahan pembentuk motif alami pada tote bag berbahan kain. Anak-anak terlebih dahulu dikenalkan pada konsep ecoprint, kemudian mempraktikkan langsung proses penyusunan daun, pemukulan, hingga terbentuknya pola dan warna alami pada media kain.

Gambar 3. Proses pembuatan ecoprint
“Wah, daunnya ternyata bisa mewarnai tote bag yang tadinya putih. Saya baru tahu kalau daun bisa dipakai untuk membuat karya seperti ini,” ujar Tama, siswa kelas VII.
Akbar Nur Kholis mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan pemanfaatan sumber daya alam secara kreatif dan ramah lingkungan. Menurutnya, ecoprint tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga membuka wawasan anak-anak mengenai potensi bahan alami yang ada di sekitar mereka


Gambar 4. Foto bersama hasil ecoprint
Selain kedua program tersebut, mahasiswa KKN-T IDBU 32 menghadirkan sejumlah program pendukung. Di bidang lingkungan, digelar kegiatan “Jelajah Mangrove” serta edukasi mengenai ikan invasif untuk membangun kepedulian anak terhadap kelestarian ekosistem perairan. Program “Aksi Jaga Air, Jaga Kehidupan” turut mengajarkan siswa
praktik pembuatan filter air sederhana sebagai bekal keterampilan pengelolaan sumber daya air bersih di lingkungan rumah masing-masing. Pada aspek pengelolaan sampah, anak-anak juga diajak berkreasi melalui teknik eco mozaic berbahan limbah plastik dalam program “Sampahku, Karyaku”, yang menekankan pentingnya kesadaran memilah dan memanfaatkan sampah sejak usia dini.


Gambar 5. Foto bersama
Sementara itu, untuk mendukung sektor ekonomi lokal, Mahasiswa juga mendampingi UMKM Kerupuk Udang milik Ibu Khotijah melalui produksi video promosi digital. Pendampingan tersebut dilakukan untuk membantu pelaku usaha memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran yang lebih luas sekaligus memperkuat identitas produk lokal Gojoyo.


Gambar 6. Proses pembuatan video promosi
“Saat ini media sosial menjadi salah satu sarana promosi yang efektif. Karena itu, kami mendampingi UMKM dalam pembuatan video promosi agar produk kerupuk udang dapat dipasarkan dengan lebih optimal melalui platform digital,” kata Faris Abyan Nugroho dan Boblie Yoas Eurano, pelaksana program Penguatan Branding UMKM Kerupuk Udang.
Selain kreativitas berbasis lingkungan, mahasiswa juga memperkenalkan berbagai pengetahuan mengenai literasi keuangan, penguatan nilai-nilai Pancasila, pengembangan minat dan cita-cita anak, pengenalan biota laut, serta pencegahan perilaku merokok pada remaja.
Mahasiswa berharap edukasi lingkungan yang telah diberikan dapat terus dipraktikkan oleh anak-anak dan masyarakat Dukuh Gojoyo dalam kehidupan sehari-hari. Keberlanjutan program diharapkan dapat mendorong warga setempat mengoptimalkan potensi alam dan sampah di sekitar mereka menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis, sekaligus memperkuat kesadaran menjaga kelestarian lingkungan pesisir.

