Dari Hama Jadi Cuan: PPK Ormawa Memberdayakan Ibu-Ibu Desa Asinan Jualan Kerupuk & Nugget “Red Devil” via Medsos

Desa Asinan di Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, merupakan desa wisata yang mengandalkan Rawa Pening sebagai sumber mata pencaharian. Namun, ekosistem rawa dan populasi ikan mujair terancam oleh ikan predator invasif ‘Red Devil’. Ikan ini dianggap hama karena tidak bernilai jual dan tidak enak untuk dimakan langsung serta mengganggu tangkapan nelayan. Tingkat invasinya yang masif dapat digambarkan bahwa dari sepuluh hasil tangkapan, delapan di antaranya adalah Red Devil. Ikan Red Devil sejatinya adalah ikan hias endemik Amerika yang menjadi invasif setelah dilepasliarkan tanpa pengawasan.

Melihat masalah ini, tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) dari FEB Undip menawarkan solusi dengan mengolah ikan Red Devil menjadi produk bernilai ekonomis seperti kerupuk dan nugget yang mengingat populasi dari Red Devil yang melimpah. Sejak Juli, tim menginisiasi pelatihan produksi bagi ibu-ibu Desa Asinan. Aliya Zakira, mahasiswa Akuntansi 2023 Undip selaku ketua, menjelaskan program ini berfokus pada kemandirian usaha untuk menjadikan produk olahan ini sebagai oleh-oleh khas baru. Keberhasilan awal terbukti saat percobaan penjualan pertama pada bulan September di Car Free Day Simpang Lima, dimana produk berhasil terjual 12 pouch kerupuk Raja Merah dan 8 pack nugget Tresno Abang, yang mendapat keuntungan sekitar Rp420.000. 

Tidak berhenti di sana, tim PPK Ormawa melanjutkan program untuk memastikan keberlanjutan usaha. Pada Sabtu (4/10), mereka kembali menggelar pelatihan lanjutan dengan fokus pada kemandirian produksi dan pemasaran digital. Menurut Aliya materi ini relevan karena banyak UMKM di Desa Asinan yang belum melek digital. Materi pemanfaatan media sosial sebagai alat promosi dibawakan oleh Stella, mahasiswa Manajemen Undip 2022 yang juga seorang praktisi. Stella menyatakan, “karena audiens yang akan datang merupakan ibu-ibu, jadi materi yang akan aku bawakan tentang pemanfaatan Instagram, Facebook dan TikTok jadi alat promosi bukan hanya hiburan.”

Pada kunjungan ini, Rafi Ridha Tockary selaku ketua BEM FEB Undip, juga hadir menyampaikan sambutan. Tockary berharap program ini dapat membuka keran-keran usaha baru dan meningkatkan kesejahteraan warga Desa. 

Warga desa yang hadir, Ibu Ani selaku ketua produksi nugget Tresno Abang dan ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) SI ABANG, merasa terbantu dengan program pemberdayaan ini. Menurutnya, ikan Red Devil yang sebelumnya hanya dibuang atau menjadi pakan hewan, kini telah menjadi produk olahan bernilai jual lebih tinggi. Ibu Ani juga menyambut positif materi tentang media sosial dari Stella, yang memungkinkan warga desa memasarkan produk secara lebih luas dan mandiri tanpa bergantung pada tim PPK Ormawa. Sebagai tindak lanjut, dalam pertemuan ini diinisiasi pembuatan akun e-commerce untuk KUB SI ABANG.

Namun, dalam program ini Ibu Rusmiyah selaku ketua produksi kerupuk Raja Merah, mengeluhkan kurangnya tenaga kerja sehingga produksi tidak maksimal. Ia kesulitan membuat kerupuk dengan hanya empat orang, padahal perencanaan awal membutuhkan sepuluh orang per produksi. Masalah ini terjadi karena tidak adanya kontrak yang profesional sehingga banyak yang mengundurkan diri. Sebagai solusi, PPK Ormawa menawarkan pembuatan kontrak kerja yang lebih profesional dan mengikat. Hingga saat ini, masalah tersebut masih berusaha dipecahkan dan dievaluasi.

Aliya selaku ketua mengharapkan program ini dapat berkelanjutan meskipun program PPK Ormawa di masa baktinya akan berakhir pada bulan November. Ia berharap program pemberdayaan ini dapat terus dimonitor dan dievaluasi melalui regenerasi ke masa bakti berikutnya. Harapannya, Desa Asinan tidak hanya menjadi desa pariwisata tetapi juga dapat berkembang menjadi desa wirausaha yang berdampak nyata bagi kesejahteraan warga setempat.

Reporter: Royhan, Aurellia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *