Pelatihan Jurnalistik 2025: Upaya Nyalakan Api Pers Mahasiswa di Tengah Redupnya Jurnalistik
Redupnya pers menjadi sinyal buruk dalam dunia jurnalistik, kepenulisan terasa kian tenggelam dalam hingar-bingar birokrasi. Selaku bagian pers mahasiswa, LPM Edents mengadakan Pelatihan Jurnalistik (PJ) sebagai upaya nyata untuk menghidupkan kembali semangat menulis dan berpikir kritis di kalangan mahasiswa. “Di tengah menurunnya minat mahasiswa terhadap jurnalistik, kami harus bisa membuktikan bahwa dunia pers kampus bermakna dan bermanfaat,” ujar Tsaniya, Project Officer PJ 2025. Pernyataan ini menjadi landasan Edents dalam mengembalikan makna sejati jurnalistik kampus sebagai wadah intelektual yang independen dan berintegritas.
Mengangkat tema “Tulisan untuk Perubahan : Dari Layar ke Realita”, kegiatan ini berlangsung mulai pukul 09.15 hingga 12.00 WIB dengan pembicara hari pertama yaitu presenter TVRI sekaligus Dosen prodi Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro, Choirul Ulil Albab. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa dunia jurnalistik adalah medan yang tidak pernah lepas dari konflik dan dinamika sosial. “Karena Jurnalistik adalah profesi yang selalu berkutat dengan konflik, maka kita harus bisa mengkaji, mengatur terkait dengan bagaimana produk–produk informasi ataupun berita yang kita buat bisa lebih relevan,” ujarnya.
Dalam pelatihan ini, Kak Ulil sapaan akrabnya, membagikan berbagai wawasan mengenai sikap jurnalis di lapangan, etika profesi, serta realitas yang dihadapi jurnalis dalam praktiknya. Kak Ulil juga membagikan tips and trick tentang bagaimana Pers dapat tetap terlihat idealisme dan berpihak pada kebenaran. Menurutnya, jurnalis harus memiliki wawasan yang luas, sehingga dapat menyampaikan informasi sejujurnya, dan dapat bijaksana dengan selalu berpihak pada kebenaran. Beliau juga menyebutkan bahwa fitrah seorang jurnalis adalah membela warga, karena itulah fungsi pers sebagai kontrol sosial.
Pada sesi ini, Kak Ulil ditemani oleh Moderator yaitu Rizki Fahrizal Aziz. Rizki menambahkan bahwa tantangan terbesar bagi pers mahasiswa adalah dalam hal independensi, sebab tidak seperti jurnalisme profesional, jurnalis kampus tidak memiliki back-up yang seharusnya. Hal inilah yang menjadikan keberanian dan idealisme menjadi modal utama bagi pers mahasiswa untuk menjalankan fungsi kontrol sosial dan menyuarakan kebenaran di lingkungan kampus.
Tak dapat dipungkiri, keterpurukan minat terhadap jurnalistik di kalangan mahasiswa semakin parah dari tahun ke tahun. Hal ini tentu saja menjadi tantangan besar bagi LPM Edents untuk memastikan pelatihan jurnalistik ini benar-benar berdampak tidak hanya sekedar kegiatan seremonial. “Kami berupaya menghadirkan pelatihan yang tidak hanya memberi teori, tetapi juga pengalaman yang membangkitkan kesadaran bahwa menulis dan berpikir kritis adalah bentuk keberanian untuk peduli pada lingkungan kampus,” tambah Tsaniya.
Zainal, salah satu peserta, mengungkapkan bahwa terdapat insight baru yang didapat terkait mitigasi peliputan saat aksi demonstrasi. Pemateri menyebutkan bahwa agar jurnalis dapat merasa aman saat meliput, salah satu cara efektif adalah berada di belakang barisan polisi sambil berdialog dan membangun komunikasi yang baik. Zainal juga menyampaikan bahwa secara keseluruhan, pelaksanaan PJ sudah sangat baik, meski masih ada beberapa substansi yang bisa ditingkatkan ke depannya.
Pelatihan Jurnalistik ni berlanjut pada hari kedua, Sabtu, 18 Oktober 2025, dengan menghadirkan narasumber Titis Anis Fauziyah, selaku junalis kontributor Kompas.com Semarang yang membawakan materi “Jurnalisme Kreatif: Memanfaatkan Ruang Digital sebagai Pemberdayaan Akal.” Dalam pemaparannya, Kak Titis menegaskan bahwa semangat pers mahasiswa sesungguhnya telah terbangun, namun perlu digugah kembali melalui ruang diskusi dan praktik lapangan. “Perlu sesekali mengundang jurnalis profesional untuk berbagi pengalaman, karena dari situ teman-teman persma bisa melihat bagaimana kerja jurnalistik mampu mendorong perubahan kebijakan atau sosial. Itu nantinya dapat membangkitkan kembali semangat pers mahasiswa,”ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya tindak lanjut dari kegiatan seperti pelatihan jurnalistik ini. Menurutnya, peserta yang telah menggali isu dan ide liputan dapat diajak untuk mengulas dan membuat berita tersebut secara bersama. “Kalau isunya sama, ayo dikerjakan bareng-bareng, dibagi tugas, tapi tetap saling koordinasi. Dari situ bisa muncul semangat dan kekompakan baru,”jelasnya. Kak Titis menambahkan bahwa keberlanjutan pelatihan jurnalistik dapat dijaga dengan rutin melakukan brainstorming isu di setiap bulan, sehingga pelatihan tidak berhenti pada ruang teori saja, tetapi berlanjut dalam kerja jurnalistik yang nyata.
Kak Titis juga menekankan relevansi pers kampus harus terus dijaga dengan cara memperkuat kolaborasi dan jejaring antar LPM maupun dengan dosen pendukung.”Kalau liputan dirasa sensitif, ajak LPM lain untuk kolaborasi. Sekarang bukan zamannya siapa yang tercepat, tapi bagaimana liputan kita bisa mendorong perubahan sosial. Kolaborasi itu penting,” tegasnya. Menurut Kak Titis, tulisan mahasiswa masih sangat mungkin menjadi kekuatan perubahan, asalkan diikuti oleh komitmen untuk mengawal isu hingga tuntas. “Kebenaran itu dibangun dari fakta yang disampaikan setiap hari. Walau hasilnya tidak selalu seperti yang kita inginkan, yang penting kita menulis dengan tujuan berpihak pada publik,”pungkasnya.
Salah satu peserta, Vani Fajria, mahasiswa Prodi Biologi Fakultas Sains dan Matematika (FSM) 2025, menyampaikan bahwa dirinya mengetahui informasi pelatihan ini melalui Instagram. Ia mengaku mendapat banyak wawasan baru setelah mengikuti kegiatan ini. “Sangat menambah wawasan, karena saya sendiri berminat di bidang jurnalistik dan ingin melanjutkan menjadi jurnalis muda di FSM. Ini benar-benar menjadi bekal untuk saya karena saya jadi mengetahui cara-cara menjadi jurnalis, bagaimana observasi, dan menulis berita,” ungkapnya. Ia juga menambahkan kesannya, “Sangat menyenangkan, sangat seru, pengalaman yang excited.”
Melalui rangkaian Pelatihan Jurnalistik ini, Edents berupaya meneguhkan kembali eksistensi pers mahasiswa sebagai garda terdepan penyampai kebenaran dan pembawa perubahan. Bahwa di tengah derasnya arus informasi dan menurunnya minat menulis, masih ada ruang untuk membangun idealisme dan keberanian bersuara melalui tulisan.
Reporter: Sabrina, Najwa, Royhan, Widya, Zaki
Penulis: Sabrina, Najwa

