Cara Cerdas Memulai Bisnis

Reporter: Arrifqi dan Fitri

cara-cerdas-memulai-bisnis

Bukan rahasia umum lagi, jika sebagian besar orang dihadapkan sejuta ketakutan saat ingin memulai berbisnis. Mulai dari persoalan pasar, target konsumen, permodalan, hingga diversifikasi produk yang kerap kali dianggap sebagai kunci utama sebuah kesuksesan dalam berbisnis. Padahal ketika kita merujuk pada riset, sebanyak lima puluh ribu brand baru lahir setiap tahunnya di Indonesia. Fenomena ini juga dapat diartikan bahwa terdapat tujuh brand baru muncul setiap jamnya.

Mindset Wirausahawan yang Harus Diubah

Bagaimana cara menemukan value produk saya? Pertanyaan ini sering muncul pada orang-orang yang ingin memulai bisnis. Terkadang mereka terlalu fokus pada permasalahan diversifikasi produk atau bagaimana caranya produk mereka berbeda dengan kompetitor bisnis lainnya. Mencari pembeda untuk suatu produk bukan menjadi permasalahan, namun yang menjadi bencana, sering kali jalan keluar yang mereka tempuh dengan cara mengotak-atik produknya. “Seakan-akan produk ini adalah mahakarya yang keren banget, ini sebuah sesuatu yang membuat customer beli karna produk ini. Kita mati-matian berfikir gimana caranya produk ini menjadi sesuatu yang berbeda, dan faktanya di luar sana jauh banyak produk-produk yang sejenis,” ungkap Doddy Zulkifly, CEO Neyma Brand Identity.

Doddy menganalogikannya dengan sebuah produk inovasi dari coklat. “Coklat rasa rendang” mungkin produk ini terdengar sangat inovatif, namun yang menjadi pertanyaaan, apakah konsumen akan membeli produk tersebut? Dari sini lah kita dapat tahu jawaban dari persoalan tersebut. Pada Pelatihan Digital Marketing yang diselenggarakan oleh Pegadaian Syariah dan Prodi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) pada Sabtu (25/03), dimana Doddy sebagai pembicara lebih menekankan pada bahasan “Membangun Brand Image Produk melalui Platform Digital”.

Membangun Brand Image Bukan Persoalan Mudah

Tidak hanya itu, Doddy juga memberikan contoh penerapan membangun brand image dengan menganalisa bisnis customer-nya yaitu brand Bunga Chicken yang omsetnya terus menurun bahkan merugi dibandingkan dengan brand fried chicken lainnya. Dengan pengalaman yang dimiliki ia mendapatkan beberapa hipotesis. Hipotesis yang pertama produk tersebut mungkin kurang enak, namun setelah di lakukan survei buta dengan uji sampel makanan tanpa melekatkan brand-nya terhadap beberapa orang, ternyata produk yang enak adalah produk dari Bunga Chicken. Kemudian dia melakukan uji terhadap hipotesis yang kedua yaitu target pasar, ia bertanya kepada owner-nya bagaimana ide usaha tersebut bermula.

“Saya membuat bisnis ini sebagai pemecahan masalah dari ibu-ibu komplek yang malas untuk memasak karena suaminya kerja dan anak-anaknya sekolah,” ungkap pemilik Bunga Chicken. Setelah di analisis Doddy mendapat hipotesis bahwa toko/outlet Bunga Chicken tidak efektif karena yang di butuhkan customer adalah makanannya bukan tempatnya. Jadi Doddy mencoba untuk mengubah posisi kasir yang tadinya ada di belakang, sekarang di pindah ke depan sehingga dekat dengan parkir dan terlihat dari jalan. Alhasil, setelah di terapkan di satu outlet tersebut ternyata hasilnya penjualan meningkat 20 hingga 30 persen. Seiring berjalannya waktu, strategi tersebut di terapkan di outlet lainnya dan hasilnya tujuh outlet Bunga Chicken sangat profitable.

Setelah melalui beberapa tahap analisis, ternyata permasalahannya adalah di tata letak dan desain dari outlet nya kaena costomer lebih suka yang drive thru. Sebelum seminar berakhir, Doddy Zulkifly menegaskan bahwa “Menciptakan sebuah brand dari memecahkan masalah yang ada di pasar memang bagus namun perlu juga mengetahui cara pemasaran dan cara branding yang tepat”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *