Sambil Liburan, Yuk Simak Film “Kota Saranjana” Yang Akan Tayang di Tahun 2023 Ini

Reporter: Dewanti

Genre : Horror

Rilis : Akan Tayang

Produksi : DHF Entertainment

Produser : Johansyah Jumberan

Sutradara : Johansyah Jumberan

Alur Petualangan Kota Saranjana

Film ini menceritakan petualangan beberapa anak muda di Kalimantan Selatan yang menjelajah daerah koneksi dengan Kawasan Saranjana. Di tengah perjalanan, mereka menyaksikan adanya ritual pemakaman dimana jasad ditenggelamkan ke bawah air. Dengan tekad menjelajah Kota Saranjana, muncullah kisah mistis yang satu per satu membuat mereka diculik.

Fakta Unik

“Kota Saranjana” merupakan hal yang menjadi perbincangan banyak orang. Konon, Kota Saranjana diduga terletak di bagian Kalimantan Selatan, Pulau Laut dan dianggap sebagai kota yang hilang dari peta Indonesia. Bermula dari keberadaannya yang diketahui hanya beberapa orang saja, hingga fakta bahwa masyarakat di dalamnya bukanlah spesies manusia. Keadaan di Saranjana pun berbanding terbalik dengan di Bumi. Mereka memiliki kemajuan yang jauh lebih canggih dan modern. Mistis Kota Saranjana inilah yang membuat orang-orang menantikan perilisan film “Kota Saranjana”. 

Tidak hanya melibatkan artis dalam pameran filmya, film “Kota Saranjana” turut menghadirkan pemeran asli yang berasal dari Kalimantan, yaitu Gusti Gina sebagai Hamidah, Mourys Sam sebagai Anwar, Putri Intan Kasel sebagai Rusmiyati, dan Fauzi Rahman sebagai Abah Hadran. 

“Kota Saranjana” dijamin bikin merem melek

Kisah petualangan anak muda menjelajahi salah satu kota yang hilang dalam peta dijamin akan membuatmu mengetahui urban legendaris kota Saranjana. Percaya, tidak percaya, film “Kota Saranjana” akan menghibur tanda tanyamu akan keberadaan pasti kota Saranjana. 

“Ayahku Pulang”: Fenomena Fatherless dan Anak-Anak yang Perlu Kasih Sayang

Peresensi: Luvita Dyaningsih

Kelompok Pementas : Teater Buih Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Bentuk Pementasan : TeaterWaktu Pementasan : pukul 20.30 – selesai

Tempat Pementasan : Kantor Kelurahan Srondol Wetan

Pementas : Anggota Teater Buih

Gunarto : diperankan oleh Safrudin Ilhami

Pak Saleh : diperankan oleh Irvandika Rheza Dhevanda

Ibu Tina : diperankan oleh Khaula Hasna Fadiya

Maimun : diperankan oleh Reisya Alayda Ma’ruf Mintarsih : diperankan oleh Marbun, Valentina

Sekilas Cerita

Kondisi ekonomi keluarga Bu Tina tidak baik-baik saja. Setelah 20 tahun ditinggal suami, Pa Saleh, Bu Tina serta anak-anaknya terpaksa harus hidup serba berkecukupan. Bu Tina memiliki 3 orang anak, Gunarto, Maimun, dan Mintarsih. Gunarto, disebut juga Narto, mencintai ibu dan adik-adiknya. Sebagai anak tertua, Narto harus menjadi tulang punggung keluarga ketika sang ayah meninggalkan mereka. Segala perkerjaan dilakoni Narto agar adik-adiknya bisa mendapat kesempatan hidup lebih baik.

Maimun anak yang cemerlang. Sebagai anak kedua, ia berusaha semaksimal mungkin membantu Narto memperbaiki perekonomian keluarga. Atas kerja kerasnya dan bantuan dari sang kakak, Maimun berhasil mengenyam pendidikan tinggi dan banyak menorehkan berbagai prestasi. Mintarsih tumbuh dengan kasih sayang dari ibu dan kedua kakaknya. Oleh karena itu, demi memperbaiki ekonomi keluarga pula, ia rela membantu ibunya mengantarkan jahitan di sela-sela kegiatan mengenyam pendidikan.

Bagi Narto, Pa Saleh bagaikan pahlawan yang image-nya sudah rusak. Berada pada usia 8 tahun ketika ditinggal Pa Saleh cukup menjadikan tindak-tanduk ayahnya itu masih menempel di kepala Narto. Bagi Maimun dan Mintarsih, Pa Saleh merupakan seorang karakter yang sering diceritakan ibunya. Tidak sekalipun Mintarsih pernah melihat rupa Pa Saleh. Maimun sendiri hanya dapat mengimajinasikan rupa sang ayah dalam gambaran kabur dari memori-memorinya kala balita.

Dua puluh tahun berlalu, Bu Tina masih sering bercerita terkait Pa Saleh. Tentang bagaimana sosok yang asalnya terpandang harus jatuh ke dalam lembah kemiskinan karena perilakunya, lalu pergi meninggalkan keluarga. Begitu pula di malam sebelum lebaran tahun itu. Ketika takbir raya Idul Fitri terus diucapkan, Bu Tina merapal kembali cerita Pa Saleh sambil berbincang dengan Narto. Narto terus bersabar mendengarkan cerita ibunya itu.

Maimun pulang agak telat. Begitu pula dengan Mintarsih. Ketika pulang, Maimun menceritakan semua informasi yang diterimanya dari dunia di luar sepengetahuan ibu dan kakaknya. Ia bercerita tentang kabar tetangga rumah, kejadian-kejadian di kantor, hingga pernyataan kenalan di pasar yang melihat seseorang menyerupai sosok ayah Maimun, Pa Saleh. Walaupun melewati kegiatan yang berbeda dengan Maimun, Mintarsih merasakan momen serupa tetapi lebih nyata. Ia melihat seorang laki-laki tua di pertigaan jalan dekat kediaman mereka. Laki-laki itu tampak memandangi rumah Bu Tina sedari tadi. Sontak seisi rumah kaget dan berusaha mendekat ke jendela rumah. Namun, orang tersebut menghilang di tengah gelapnya malam.

Bu Tina, Narto, Maimun, dan Mintarsih kemudian melanjutkan percakapan mereka kembali. Tidak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu. Saat dibuka, terlihat seorang laki-laki tua sedang menunggu. Bajunya lusuh dan mukanya kusam. Itulah Pa Saleh. Ayah yang baru kembali setelah 20 tahun menghilang dari kehidupan Bu Tina dan anak-anaknya. Karena masih ada rasa sayang dan iba, Bu Tina mempersilahkan Pa Saleh masuk dan duduk di sofa. Dengan penuh keraguan, Pa Saleh mengikuti arahan istrinya itu. Maimun dan Mintarsih menyambut ayahnya dengan bahagia. Seorang ayah yang belum pernah mereka temui secara langsung, setidaknya belum ada memori tentang Pa Saleh dalam ingatan mereka. Namun, Narto tak seperti kedua adiknya. Ia marah. Kekesalan yang ia pendam dalam-dalam selama 20 tahun mulai muncul ke permukaan. 

Pa Saleh menceritakan semua hal yang ia lalui ketika Bu Tina bertanya padanya. Tentang bisnisnya di Singapura yang bangkrut, kehidupan yang luntang-lantung, serta utang yang melilitnya. Ketika selesai bercerita, Pa Saleh terbatuk. Ia meminta Narto mengambilkan air jika berkenan. Karena tidak merespon, Maimun akhirnya melakukan permintaan sang ayah. Namun, belum juga air itu sampai ke tangan Pa Saleh, Narto meledak. Amarahnya tak sanggup ia bendung lagi. Kebobrokan sang ayah dan kasih sayang yang tidak pernah diterimanya lebih mendominasi daripada rasa iba melihat seorang lelaki tua yang lusuh. Pa Saleh beringsut ketakutan. Rasa salah juga menyelimuti hatinya. Maimun tak setuju dengan kakaknya. Bagaimana pun juga, Pa Saleh tetap orang tua mereka. Pa Saleh tetap harus dihormati dan dijaga kala masa tuanya. Narto dan Maimun berdebat panjang setelah itu. Berbagai seruan kecang serta otot leher yang menegang menjadikan suasana rumah di malam hari raya kala itu semakin panas.

Pa Saleh paham posisinya. Ia lalu memutuskan untuk pergi. Maimun tak bisa menahan kepergian Pa Saleh. Sambil diiringi hujan, Bu Tina berseru, “Malam hari raya, ia pergi lalu datang untuk pergi kembali!”. Maimun bertengkar dengan Narto. Seakan mempertegas keputusannya, Narto berkata, “Jika memang kita punya seorang ayah, lantas mengapa kita banting tulang selama ini?”, “Kita besar dalam rasa sengsara. Rasa gembira di dalam hati sekalipun tidak ada!”, “Aku sanggup jadi orang yang berharga meskipun tanpa kasih sayang seorang ayah!”, dan, “Gunarto yang sekarang adalah Gunarto yang dibentuk dari dirinya sendiri. Aku merdeka semerdeka-merdekanya, Bu!”.

Sadar tak bisa mengalahkan kakaknya, Maimun pergi berlari mengejar sang ayah. Ketika ia kembali, hanya kopiah dan kemeja lusuh yang mampu ia bawa. Kedua barang itu ditemukannya di bawah kolong jembatan dekat sungai. Seketika Narto sadar. Di malam hari raya, ayahnya, ayah Maimun, dan ayah Mintarsih kembali pergi. Namun, kali ini, kepergian sang ayah adalah untuk selamanya.

Aspek Bentuk

Pementasan “Ayahku Pulang” melibatkan pemain sejumlah 5 orang. Jumlah tersebut proporsional dengan kondisi cerita. Alhasil, kesan awal yang diberikan pementasan “Ayahku Pulang” adalah sederhana dan intens. Selain itu, latar tempat pementasan ini hanya berada di rumah Bu Tina. Keberadaan satu latar tersebut menambah citra sederhana atas cerita yang dipentaskan.

Aspek Isi

Isi pementasan “Ayahku Pulang” sangat sesuai dengan fenomena fatherless country saat ini. Masyarakat Indonesia seharusnya aware dengan fenomena fatherless karena Indonesia sendiri menempati posisi ketiga sebagai negara fatherless di dunia . Karena itu, pementasan ini telah membantu penyebaran awareness tersebut. Selain memberikan pesan terkait awareness terhadap fenomena fatherless, pementasan ini juga memberikan pesan bahwa hal yang akan terjadi di masa depan merupakan buah dari perbuatan yang dilakukan di masa sekarang. Bagaimana pada awalnya Pa Saleh berfoya-foya seenak hatinya lalu harus jatuh dan melara hingga akhir hayatnya serta bagaimana kekesalan Narto yang sangat masif berujung pada kehilangan sang ayah untuk selama-lamanya merupakan contoh dari pesan tersebut.

Kelebihan

Para pemain pementasan “Ayahku Pulang” patut diberikan apresiasi tinggi. Mereka mampu membangun emosi penonton, sehingga tidak jarang ditemui para penonton yang terharu ketika pementasan berakhir. Emosi para pemain terlihat natural dan tidak dipaksa-paksakan walaupun hanya berlatih selama 1 bulan. Dengan tambahan manajemen lighting/pecahayaan yang baik, pementasan ini terasa sangat relevan dengan kehidupan. Meskipun di awal hingga pertengahan pementasan dialog antarpemeran terkesan mengulang-ulang, dialog tersebut rupanya penting dalam membangun dasar-dasar cerita yang harus diketahui penonton.

Kekurangan

Dalam pementasan “Ayahku Pulang”, kekurangan yang muncul murni karena risiko dari diterapkannya teknik-teknik pementasan. Kekurangan pertama yang dimaksud ialah suara para pemain belum terdengar jelas apabila diperhatikan dari belakang. Hal tersebut wajar mengingat pementasan menerapkan teknik suara langsung, bukan seperti kabaret yang menggunakan dubbing. Kekurangan kedua ialah ruang pementasan yang langsung diatur gelap ketika penonton memasuki ruangan. Saat pementasan berlangsung, ruangan memang cocok untuk diatur gelap total. Namun, ketika persembahan-persembahan di awal, ada baiknya ruangan diatur redup agar memudahkan penonton menikmati acara secara keseluruhan karena belum perlu fokus ke satu titik panggung yang sama.

Kesatuan

Kesatuan pementasan “Ayahku Pulang” tidak perlu diragu. Pencahayaan dan tata panggung menjadikan pementasan ini tergambar dengan baik. Kedua hal tersebut juga saling melengkapi kekurangan yang ada. Contohnya, walaupun hanya menggunakan 1 latar, cahaya sorot dengan warna berbeda menjadikan panggung memberi banyak makna.

Keseluruhan

Ekspresi pemain yang tidak neko-neko dan tetap terukur menjadikan pesan pementasan tersampaikan secara maksimal. Oleh karena itu, keseluruhan pementasan “Ayahku Pulang” dapat dikatakan baik.

Keragaman

Walaupun mendiami rumah yang sama, karakter Bu Tina, Narto, Maimun, dan Mintarsih memiliki keunikannya masing-masing. Ibu selalu terlihat anggun tetapi memendam rasa kecewa atas perilaku suaminya juga keadaan keluarga saat ini. Narto harus terlihat kuat karena menjadi kakak tertua dalam keluarga yang belum sepenuhnya mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Maimun memiliki semangat tinggi atas keinginan dan keyakinannya. Mintarsih menjadi anak yang penyayang karena mendapat perhatian dari ibu dan kedua kakaknya. Maimun dan Mintarsih tumbuh menjadi anak yang lebih terbuka karena walaupun belum pernah bertemu Pa Saleh, peranan ayah sudah mampu diemban oleh sang kakak, Narto. Tak luput pula, karakter Pa Saleh sebagai ayah yang tiba-tiba hadir kembali setelah 20 tahun pergi meninggalkan keluarga. Semua keunikan karakter itu berkolaborasi dan akhirnya mampu membawakan warna beragam dalam pementasan “Ayahku Pulang”.

Intensitas

Topik yang diangkat dalam pementasan “Ayahku Pulang” sangat relevan dengan permasalahan di masyarakat saat ini. Pesan tersirat dari cerita pun, yaitu penyebaran awareness atas fenomena fatherless dan peningkatan pemahaman “bagaimana ditanam, begitulah dituai”, sudah tergambar dari tiap-tiap adegan yang dipentaskan.

Kesimpulan

Walaupun “Ayahku Pulang” menjadi pementasan pertama bagi Teater Buih setelah dikembalikannya metode perkuliahan secara luar jaringan, pementasan ini sudah mampu menjadi karya yang baik jika dilihat dari aspek bentuk, isi, kesatuan, keseluruhan, keragaman, dan insensitas. Itulah salah satu faktor yang menjadikan banyaknya penonton pementasan “Ayahku Pulang”. Karena hal tersebut, pementasan ini dapat dikatakan sudah bagus dan sangat menghibur.

Tumbuhkan Rasa Bangga dan Nilai Gotong Royong sebagai Langkah Lestarikan Bahasa Daerah

Oleh: Imam Panji

Di masa kini, globalisasi sangat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sangat pesat setiap harinya. Globalisasi pastinya membawa pengaruh signifikan terhadap kehidupan masyarakat tak terkecuali kalangan remaja. Salah satu yang menjadi perhatian dan urgensi adalah penggunaan bahasa daerah di kalangan remaja. Berdasarkan buku Gambaran Kondisi Vitalitas Bahasa Daerah di Indonesia yang diterbitkan oleh Kemendikbud, bahasa daerah di Indonesia yang teruji validitasnya sampai tahun 2019 berjumlah 801 bahasa. Tentunya dengan jumlah tersebut, bahasa daerah dapat menjadi salah satu potensi keunikan dan ciri khas bangsa Indonesia. Bahasa daerah juga berperan sebagai identitas bangsa Indonesia yang seharusnya digunakan sebagai pendamping bahasa utama, yaitu bahasa Indonesia. Namun, bahasa daerah kerap dicap sebagai bahasa yang ketinggalan zaman dan disampingkan oleh masyarakat terutama kalangan remaja.

Semakin berkembangnya zaman, penggunaan bahasa daerah perlahan terkikis dan ditinggalkan oleh generasi muda. Banyak anak muda yang malu dan tidak nyaman untuk menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa sehari-hari. Sebab ada asumsi bahwa bahasa daerah adalah bahasa yang tidak mengikuti tren yang semakin hari berkembang sangat cepat dan pesat. Globalisasi juga memiliki peran yang sangat besar terhadap kemunduran penggunaan bahasa daerah, sebab kemajuan teknologi informasi yang pesat dengan bahasa pengantar internasional yaitu Bahasa Inggris, memaksa banyak orang untuk menguasai Bahasa Inggris supaya sejalan dengan perkembangan zaman, dan kondisi seperti ini secara perlahan dapat mempengaruhi jumlah penutur bahasa daerah.

Selain itu, memudarnya penggunaan bahasa daerah juga dipengaruhi oleh berkembangnya bahasa gaul dalam kehidupan sehari-hari generasi muda. Banyak anak muda yang memakai bahasa gaul sebagai bahasa komunikasi mereka, hal ini disebabkan remaja memiliki bahasa tersendiri untuk mengekspresikan diri mereka. Sudah pasti, penggunaan bahasa gaul ini dapat mempengaruhi penggunaan bahasa daerah, bahkan bahasa utama, yaitu bahasa Indonesia. Hal ini juga semakin didukung dengan adanya situs
sosial media yang memudahkan orang untuk mengetahui perkembangan yang ada, termasuk perkembangan bahasa. Perkembangan bahasa dalam sosial media ini dapat memunculkan berbagai macam bahasa baru, sebab penggunaan sosial media tidak hanya terbatas pada pengguna dalam negeri saja, namun juga luar negeri. Faktor inilah yang dapat menyebabkan bahasa daerah semakin tersingkir dan gaya bahasa indonesia semakin variatif. Kemudian, penggunaan internet di Indonesia yang besar juga semakin menambah pesatnya informasi yang ada di kalangan masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2021 terdapat 7,23% penduduk usia 13-15 tahun yang mengakses internet, 8,12% pada rentang 16-18 tahun, dan 15,26% di kelompok usia 19- 24 tahun. Data ini menunjukkan bahwa benar, generasi muda sangat mudah untuk menerima perkembangan zaman dan mengikuti tren yang salah satunya adalah Bahasa Gaul.

Kondisi ini juga menyebabkan banyak bahasa daerah di Indonesia yang terancam punah, diakses dari jurnal yang ditulis Azis pada tahun 2020, menyebutkan bahwa lebih dari 50 bahasa daerah di Kalimantan dan 1 di antaranya telah terancam punah. Di Sumatera, dari 13 bahasa daerah yang ada, 2 di antaranya telah terancam punah dan 1 sudah dinyatakan punah. Adapun di Sulaewsi dari 110 bahasa daerah yang ada, terdapat 36 bahasa daerah yang terancam punah dan 1 sudah punah. Di Maluku dari 80 bahasa daerah. Terdapat 22 yang terancam punah dan 11 sudah punah. Di daerah Timor, Flores, Bima, dan Sumbawa, dari 50 bahasa daerah yang ada, terdapat 8 bahasa daerah yang terancam punah. Terakhir, di Papua dan Halmahera, dari 271 bahasa daerah, terdapat 56 bahasa daerah yang terancam punah. Tentu ini bukanlah jumlah yang sedikit, dan miris sekali melihat data tersebut, sebab bahasa daerah jika dimanfaatkan dengan maksimal, tentunya dapat menjadi salah satu potensi wisata, ilmu, dan budaya yang dapat menjadi aset Indonesia. Berdasarkan latar belakang inilah, saya membuat sebuah gagasan opini yang dapat menjadi langkah preventif dan antisipatif kepunahan bahasa daerah di Indonesia, yaitu gerakan 3B (Bangga, dan Budayakan Bersama-sama) sebagai wujud peduli saya terhadap kekayaan negeri ini.

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh generasi muda adalah merasa bangga. Hal ini penting sekali untuk dilakukan, sebab kebanggan terhadap suatu hal termasuk bahasa daerah dapat menjadi pondasi kunci bagi lestarinya bahasa daerah. Jika seseorang sudah merasa bangga terhadap apa yang dipakai, tentunya anggapan ketinggalan zaman, dan rasa malu tidak akan hadir lagi. Rasa bangga terhadap bahasa juga dapat diamati dari sikap berbahasa pemakainya. Sikap berbahasa pada generasi muda perlu ditanamkan sejak dini. Namun, hal ini sejatinya membutuhkan proses yang cukup lama dan tidak instan, diperlukan peran orang tua, masyarakat, dan guru sebagai pendukung dan tokoh penting dibaliknya. Kemudian, dengan jumlah bahasa daerah Indonesia yang sangat beragam seharusnya juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi generasi muda, sebab tidak semua negara memiliki bahasa daerah yang jumlahnya sampai ratusan bahasa.

Kemudian, langkah kedua dan langkah ketiga harus dilaksanakan secara beriringan, yaitu budayakan bersama-sama. Setelah merasa bangga dengan bahasa daerah, tentunya langkah yang harus dilakukan adalah membudayakan bahasa tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan sudah pasti dengan menggunakannya sebagai alat komunikasi. Memang, tidak dapat dipungkiri penggunaan bahasa daerah memiliki keterbatasan jika bertemu dengan pengguna bahasa daerah lainnya. Namun, hal ini justru dapat dimanfaatkan untuk bertukar ilmu sehingga satu orang bisa menguasai banyak bahasa daerah di Indonesia, tentu hal itu sangat keren jika dilakukan. Yang harus diperhatikan juga dalam langkah ini adalah kuantitas penggunaan bahasa daerah, walaupun membudayakan, tapi jangan lupakan juga bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. Sehingga penggunaannya hanya sebagai pendamping bahasa utama di kehidupan sehari-hari. Kemudian, langkah yang selanjutnya adalah melakukannya bersama-sama, sebab seperti filosofi sapu lidi, bahwa sapu lidi tidak akan berguna jika hanya terdapat 1 batang lidi, namun jika diikat dalam jumlah yang banyak, sapu lidi akan menjadi sangat berguna untuk berbagai hal. Perlunya gotong royong dari berbagai lapisan masyarakat juga sangat penting dalam pelestarian bahasa daerah, karena jika hanya kelompok kecil yang melakukan, tentunya tidak akan berdampak besar, justru ada potensi bahasa daerah tetap terancam punah. Sebab gotong royong juga menjadi salah satu identitas nasional bangsa Indonesia. Sehingga jika melakukannya secara bersama-sama, terdapat dua hal yang sudah dilestarikan, yang pertama bahasa daerah, yang kedua nilai gotong royong.

Memang, pada saat ini globalisasi dan perkembangan dunia bukanlah hal yang dapat dibendung kembali. Semakin hari, terdapat hal-hal baru yang dapat diakses oleh orang seluruh dunia, termasuk penduduk Indonesia. Globalisasi yang terjadi sangat berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan, tak terkecuali budaya Indonesia, yang
salah satunya Bahasa Daerah. Penggunaan internet yang masif di Indonesia juga menjadi salah satu faktor tergerusnya bahasa daerah oleh bahasa-bahasa dan istilah baru yang muncul di sosial media. Mengingat bahasa daerah adalah salah satu aset bangsa Indonesia, tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia, terkhusus generasi muda untuk tetap melestarikan bahasa daerah. Maka dari itu, sebagai salah satu bagian dari generasi muda saya memiliki gagasan opini yaitu 3B (Bangga, dan Budayakan Bersama-sama) sebagai bentuk pelestarian bahasa daerah di Indonesia. Harapannya, gerakan ini dapat digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia sebagai upaya mempertahankan dan melestarikan bahasa daerah. Kemudian, tulisan ini akan saya tutup dengan slogan dari kementerian pendidikan dan kebudayaan sebagai pesan untuk kita semua. Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing

Mereka yang Paling Percaya Diri: Refleksi “Kawasan FEB Undip Bebas Asap Rokok”

Oleh: Deva Zhalzha

Semua mahasiswa FEB tidak asing dengan banner bertuliskan “Kawasan FEB Undip Bebas Asap Rokok”. Bagaimana tidak, banner ini terpampang jelas pada dua tempat yang ramai dilalui mahasiswa. Tempat pertama ialah sebelah pos satpam di dekat gedung A, sedangkan tempat kedua ialah kawasan “di bawah pohon rindang” atau DPR dekat gedung B.

Himbauan mengenai larangan merokok di lingkungan kampus, khususnya FEB, bukan baru-baru ini digaungkan. Sejak lama, peraturan semi-resmi berwujud persyaratan ketika mahasiswa mendaftarkan diri menjadi bagian dari organisasi mahasiswa saja telah menyinggung hal ini. Nahas, beberapa pihak memilih apatis. Lantas, apa esensi adanya banner “Kawasan FEB Undip Bebas Asap Rokok”?

Hadirku Tak Kau Gugu

Banner “Kawasan FEB Undip Bebas Asap Rokok” mulai naik ke permukaan sekitar tanggal 19 September 2022. Awalnya, fenomena pemasangan banner bebas asap rokok ini bermula di kawasan FIB Undip. Dua minggu berselang, FEB pun meniru langkah serupa. Ukuran banner kawasan bebas asap rokok di FEB cukup besar. Tulisan yang tercantum di permukaannya mudah terbaca, bahkan dari jarak 10 meter. Sayang, banner kawasan bebas asap rokok tampak tak dianggap oleh para oknum perokok.

Setiap ada waktu senggang untuk menunggu kelas, sebagian oknum perokok selalu saja terlihat di kawasan FEB. Terkadang, tak jarang mereka dengan gamblangnya merokok di depan banner “Kawasan FEB Undip Bebas Asap Rokok”. Katanya bagian dari mahasiswa tapi, kok, pahami tulisan sederhana saja tak bisa? Memang, kegiatan merokok tidak bisa dicap salah. Merokok adalah kegiatan dari, untuk, dan oleh si perokok, walaupun asap rokok tetap saja terhirup orang yang bukan perokok. Namun, karena sudah dipampang banner “Kawasan FEB Undip Bebas Asap Rokok”, kegiatan merokok di kawasan FEB secara jelas tidak mencerminkan para oknum sebagai insan-insan muda dengan intelektual mumpuni.

Para oknum seharusnya paham apa yang tidak boleh mereka lakukan, bahkan hanya dalam sekali membaca tulisan pada banner tersebut. Kendati demikian, mereka seakan acuh tak acuh dan tidak memperdulikannya. Toh, mereka juga tidak akan mendapatkan sanksi apapun atas tindakan merokok yang dilakukan. Para oknum itulah si paling percaya diri nomor urut satu.

Semoga Bukan Tong Kosong Nyaring Bunyinya  

Mahasiswa yang merokok di lingkungan kampus hampir tidak pernah mendapatkan teguran dari pihak civitas kampus. Pengalaman nyata dirasakan oleh salah satu mahasiswa perokok aktif yang sedang merokok di area dekat pos satpam. Jangankan ditegur, satpam yang melihatnya saja tidak memberikan reaksi apapun. Mereka seakan lepas tanggung jawab atas tulisan yang telah dihimbau dalam banner “Kawasan FEB Undip Bebas Asap Rokok”. Pada kondisi lainnya, bisa saja sang satpam, dan mungkin civitas kampus lain, tidak menegur karena sebetulnya mereka juga merokok di kawasan FEB Undip. Sebagai bukti, seorang penjaga kampus pernah terlihat sedang merokok santai di depan ruang studio Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM). 

Belum ditegaskannya peraturan mengenai larangan merokok dan kawasan bebas asap rokok di FEB Undip menjadi salah satu root cause dari fenomena yang ada. Kata “rokok” belum terdefinisikan secara baik dan modern. Karena itulah, penggunaan vape (rokok elektronik) dinilai tidak termasuk kategori “rokok” pada banner “Kawasan FEB Undip Bebas Asap Rokok”.

Di beberapa bagian kampus FEB, terpampang jelas banner-banner dan spanduk-spanduk corporate social responsibility (CSR) dari sebuah perusahaan rokok terkenal di Indonesia. Selain itu, CSR sang perusahaan rokok juga menyediakan 2 tempat khusus dan tertutup di dekat pintu keluar food court FEB arah dome. Kedua tempat itu nampaknya ditujukan sebagai “ruangan merokok” walaupun di saat ini seperti tidak menjalankan tugasnya. Dari kenyataan tersebut, bagaimana bisa para pemegang kekuasaan dengan percaya dirinya menyatakan “Kawasan FEB Undip Bebas Asap Rokok”? Para pemegang kekuasaan, merekalah si paling percaya diri nomor urut dua.

Adakah yang Salah?

Bukan solusi tepat mencopot banner “Kawasan FEB Undip Bebas Asap Rokok” karena banner tersebut merupakan mitigasi awal untuk mengurangi aktivitas merokok di kawasan FEB Undip. Namun, membuat peraturan agar tidak ada kegiatan merokok di lingkungan kampus kuning pun tak mudah dilakukan. Terjadi ketidaksinkronan antara kebijakan para pemegang kekuasaan dengan realitas di lapangan menjadikan banner “Kawasan FEB Undip Bebas Asap Rokok” terlihat seperti formalitas dan lawakan belaka. Timbul sebuah dilema mengenai status mahasiswa sebagai ‘orang dewasa’ yang diasumsikan sudah memiliki hak penuh atas dirinya. Pemantauan dari civitas kampus mengenai pemberian sanksi juga harus memiliki alur yang jelas dan tegas, agar kalimat yang digaungkan tidak menjadi “tong kosong, nyaring bunyinya”.

Perlu ada peninjauan kembali dan penyelarasan mengenai kebijakan merokok serta kebijakan kawasan bebas asap rokok di FEB Undip. Banyak faktor harus menjadi pertimbangan atas hal tersebut. Beberapa di antaranya adalah hak individu dan kepentingan publik, regulasi pengawasan dan sanksi yang diterapkan jika oknum perokok dilarang merokok di lingkungan kampus, eksternalitas yang akan terjadi, dan sekecil hal mengenai penempatan atas himbauan “Kawasan FEB Undip Bebas Asap Rokok” maupun sejenisnya.

Kim Ji-Young: Born 1982 : Post-Partum dalam Bingkai Patriarki

Penulis: Shafina Wijanarko

Judul Film : Kim Ji-Young: Born 1982
Durasi : 118 menit
Pemain : Jung Yu-Mi, Gong Yoo, kim Mi-Kyung 
Sutradara : Kim Do-Young 
Produser : Park Ji-Young, Mo II-Young, Kwak Hee-Jin
Penulis : Young Ah Yoo, Jo Nam-Joo (Novel), Kim Do-Young (Adaptasi) 
Perusahaan produksi : Spring Wind Film Company

Jarang sekali kita melihat film-film yang mengangkat tema depresi postpartum. Film-film tentang kehidupan menjadi seorang ibu dan seorang wanita di dunia misoginis. Karena itulah, menonton Kim Ji-young: Born 1982 rasanya seperti diingatkan kembali bahwa walaupun sudah tahun 2022, kita masih hidup dalam kungkungan budaya patriarki. 

Kim Ji-Young: Born 1982 merupakan sebuah film saduran dari novel karya Cho Nam-Ju berjudul “82 Nyeonsaeng Gim Jiyeong”. Film ini dibintangi oleh berbagai actress papan atas Korea Selatan, seperti Jung Yu-Mi sebagai Ji-Young dan Gong Yoo sebagai Dae Hyun, suami Ji-Young. 

Film Kim Ji-Young: Born 1982 memiliki alur campuran atau maju-mundur. Secara garis besar, film ini menceritakan kehidupan Ji-Young dari masa ke masa serta setiap lika-liku yang harus ia hadapi di berbagai transisi kehidupan. Penggambaran momen-momen kehidupan Ji-Young tersebut secara sempurna mewakilkan apa yang dirasakan sebagian besar wanita di abad ke-21. 

Fenomena utama film Kim Ji-Young: Born 1982 adalah depresi postpartum yang dialami Ji-Young setelah melahirkan anak pertamanya. Untuk menggambarkan fenomena itu, muncul berbagai adegan praktik misoginis dalam kehidupan sehari-hari. Contoh praktik misoginis tercermin dalam adegan ketika Ji-Young mengalami pelecehan seksual tetapi justru disalahkan oleh ayahnya karena tidak berpakaian sopan. Selain itu, ada pula adegan tidak terpuji rekan kerja laki-laki Ji-Young yang menyembunyikan kamera di dalam kamar kecil wanita tempat ia sempat bekerja. 

Film Kim Ji-Young: Born 1982 secara tidak langsung ingin menggambarkan bahwa kondisi kesehatan mental itu tidak terlihat, berbeda dengan kondisi kesehatan fisik. Melalui narasi cerita yang menghipnotis, penonton diajak mengkaji bagaimana Kim Ji-Young merasakan tekanan dari mata masyarakat untuk menjadi ibu yang penyayang, menantu yang selalu melayani, dan istri yang sempurna walaupun harus menorbankan mimpi-mimpinya.

Meski secara dominan menyinggung banyak isu diskriminasi berbasis gender, Kim Ji-Young: Born 1982 berhasil menjadikan alur cerita yang rumit seolah-olah sederhana. Film ini pun berhasil menyampaikan pesan utamanya, yaitu masyarakat harus lebih sadar akan dampak budaya patriarki terhadap kesehatan mental yang dialami sebagian besar wanita. Selain itu, sudah saatnya anggota masyarakat menjadi lebih baik dan lebih suportif terhadap sesama, baik wanita maupun pria. 

Selamat hari kesehatan jiwa international!

Jangan Lapar, Berat! Food Court aja Belum Tentu Mampu!

Oleh: Erva dan Faizah

dok.pribadi

Setelah dua tahun tidak menyajikan santapan bagi mahasiswa, food court Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) beroperasi kembali. Pengoperasian ini sejalan dengan dimulainya kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di Universitas Diponegoro (Undip) pada tahun 2022. Food court FEB terdiri dari beberapa tenant. Tenant–tenant tersebut menjajakan berbagai makanan yang disukai mahasiswa. Lokasi food court ini terletak di lantai dasar gedung C FEB Undip. Nyatanya, food court FEB tidak hanya melayani mahasiswa kampus kuning saja tetapi juga terbuka bagi seluruh mahasiswa Undip. Namun, apakah food court FEB mampu mencukupi kebutuhan mahasiswa FEB, atau bahkan Undip?

Hebatnya Food Court FEB

Dari segi harga, terdapat sejumlah makanan yang masuk kriteria “ramah di kantong”. Untuk variasi pilihan, beberapa menu menjadi favorit, salah duanya adalah soto dan nasi katsu. Food court FEB bisa menjadi penolong mahasiswa di kala lapar dan malas. Tidak heran, food court ini selalu ramai dipenuhi mahasiswa, apalagi pada jam-jam tertentu. Letak food court yang strategis pun menjadi faktor pendukung karena memudahkan mahasiswa berkunjung ke sana. Tidak hanya sekadar makan, mahasiswa juga memanfaatkan food court sebagai tempat menunggu jam pergantian kelas, berdiskusi, bahkan bersantai sambil belajar.

Tolong Dengarkan!

Sayang, masih ada beberapa kekurangan yang seharusnya sudah dapat ditanggulangi oleh para pengelola food court FEB ketika vakum 2 tahun kemarin. Beberapa kekurangan tersebut antara lain ialah tempat yang kurang luas, kurangnya meja dan kursi, masalah jaringan wifi Undip Connect serta sulitnya sinyal, tata ruang food court kurang teratur, dan banyaknya komputer tidak terpakai memenuhi sudut-sudut food court.

Terkait keterbatasan tempat, tidak ada hal yang dapat diperdebatkan karena memang kurang luas. Namun, setelah menyadari hal itu, pengelola seharusnya sadar untuk mulai menata food court serta menyingkirkan hal-hal tidak terpakai. Beberapa hal itu salah satunya adalah komputer-komputer bekas. Tak heran, banyak mahasiswa yang mengurungkan niatnya untuk makan di food court FEB. Hal ini tentu berdampak pada kesejahteraan para pemilik tenant. 

Masih berhubungan dengan tempat, fasilitas kursi serta meja di food court juga belum seimbang dengan jumlah mahasiswa FEB. Meja dan kursi itu terlalu sedikit untuk bisa mencukupi bahkan setidaknya seperempat dari jumlah mahasiswa FEB. Mungkin dari hal inilah para mahasiswa mulai makan di sekitar area Dome. Nahas, kebiasaan baru itu menimbulkan dampak negatif lainnya, yaitu sampah. Belum adanya kesadaran dari seluruh mahasiswa FEB untuk membuang sampah pada tempatnya menjadikan Dome terlihat kumuh. Keranjang yang disediakan pengelola food court malah dijadikan tempat sampah. Padahal, di atas keranjang tersebut jelas-jelas tertulis, “Mahasiswa Ganteng & Cantik, kalau habis makan + minum piring & gelas kotor masukan sini dong,”. Jelas-jelas tidak tertulis satupun kata yang berhubungan dengan sampah bukan?

Karena lokasinya di lantai dasar (basement), food court FEB memiliki kondisi jaringan buruk. Kondisi ini bahkan belum bisa ditanggulangi oleh wifi Undip Connect yang digadang-gandang mampu menjangkau seluruh wilayah Undip. Situasi tersebut menyebabkan para pemilik tenant tidak dapat menggunakan metode pembayaran berbasis Quick Response code Indonesian Standard (QRIS). Hal ini tentu bertentangan dengan branding image FEB sebagai salah satu bagian dari World Class University (WCU) yang seharusnya sudah tidak asing dengan penerapan transformasi digital di lingkungan kampus.Melihat kelebihan dan kekurangan tersebut, sudah seharusnya pihak pengelola food court FEB tidak lagi tutup mata. Adanya food court yang layak bisa menjadi salah satu faktor dalam mendorong terjadinya peningkatan kualitas diri tiap-tiap mahasiswa FEB. Jika mahasiswa tercukupi dan para pemilik tenant terpenuhi kebutuhannya, iklim perekonomian mikro dan kecil di lingkup FEB Undip pun akan terpuaskan. Maka dari itu, pembenahan kembali seharusnya menjadi prioritas pengelola food court FEB saat ini.

TIM PKM-PM UNDIP DAMPINGI KBSI SEMARANG ANGKAT DIGITALSASI EDUKASI KEBUDAYAAN JAWA TENGAH BERBASIS BOARD GAME “MERTAMU BUDAYA”

Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) Universitas iponegoro (UNDIP) memberikan pendampingan kepada para pengajar Komunitas Belajar Sejahterakan Indonesa (KBSI) untuk melakukan digitalisasi edukasi kebudayaan dengan menggunakan board game terintegritas platform online. Tim PKM-PM ini beranggotakan empat mahasiswa yaitu Khanuun Maulida Puspita H. dari Fakultas Teknik (FT), Addien Safriya R. dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), Felisiana Ardelia A. dari FT, dan Ahmad Reihan A. dari Fakultas Sains dan Matematika (FSM).

Kegiatan ini digelar dalam rangka mengikuti PKM-PK yang diadakan oleh Kenterian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdkti) dengan program pengajuan bernama “Mertamu Budaya”.

Program ini dilakukan oleh Tim PKM-PM UNDIP yang muncul atas keresahan para pengurus KBSI Semarang yang mencari berbagai cara yang menyenangkan untuk mengajar kebudayaan para anak-anak di sana agar tidak merasa jenuh akan pembelajaran. Adanya keresahan tersebut membuat Tim PKM-PM UNDIP datang ke KBSI Semarang dan membimbng para pengajarnya untuk membantu menemukan solusi bersama terkait dengan sistem pembelajaran budaya yang menyenangkan.

Mertamu Budaya hadir sebagai solusi tersebut dengan memanfaatkan permainan kartu system board game yang terintegrasi dengan aplikasi mobile. Bersama dengan KBSI Semarang diimplementasikan-lah permainan ini bersama pengajar maupun murid di sana. TIM PKM-PM dan pengajar KBSI Semarang berfokus untuk mengajarkan tentang kebudayaan dari Jawa Tengah. Selain itu, Mertamu Budaya memiliki sub program yang dilakukan untuk dapat memaksimalkan output edukasi kebudayaan tersebut. Dimulai dari “Siapa Kita?”, yang merupakan sesi perkenalan program Mertamu Budaya kepada siswa, dengan menampilkan video edukasi kebudayaan Jawa Tengah, agar siswa mengerti gambaran yang akan dipelajari bersama

Program selanjutnya adalah “Mari Mengenal Jawa Tengah”, di sini TIM PKM-PM bersama pengajar melakukan tes pengetahuan kebudayaan Jawa Tengah kepada siswa di KBSI Semarang.

Kemudian, dilanjutkan dengan “Mari Bermain Board Game Mertamu Budaya!”, program ini secara langsung kami praktikan pembelajaran kebudayaan Jawa Tengah dengan menggunakan board game Mertamu Budaya. Siswa-siswi di KBSI Semarang membentuk kelompok yang terdiri dari 4 hingga 5 anak yang nantinya membutuhkan kartu “Mertamu Budaya” dan mempersiapkan 1 gawai dari pengajar untuk bermain.

Mereka bermain dengan bersemangat, karena bisa bermain sambil beljar kebudayaan seperti tagline milik Mertamu Budaya yakni Mertamu Budaya, Bermain Sambil Belajar Budaya.

Setelah program bermain tersebut selesai, KBSI Semarang dan TIM PKM-PM melanjutkan program lain yaitu “Menari dan Menyanyi Bersama!”, merupakan program belajar menari dan menyanyi. Pengajar bersama TIM PKM-PM mengajarkan tarian tradisional dan menari bersama. Setelah itu, diilanjutkan dengan menyanyi lagu daerah bersama. Untuk tes pemahaman akan pembelajaran, ada beberapa anak yang maju sebagai pewakilan untuk bernyanyi dan menari di depan.

Selanjutnya, TIM PKM-PM dan pengajar melaksanakan kembali program “Mari Bermain Board Game Mertamu Budaya Lagi!”, dimana berfokus untuk belajar kebudayaan Jawa Tengah kembali untuk nantinya memaksmalkan output pemahaman kebudayaan yang didapatkan siswa KBSI Semarang.

Program terakhir adalah “Sayonara TIM PKM-PM UNDIP” yakni program evaluasi, mulai dari evaluasi pengetahuan siswa KBSI Semarang dengan melakukan Post-Test Kebudayaan Jawa Tengah, dilajutkan dengan evaluasi program bersana dengan pengurus dan pengajar KBSI Semarang. Rangkaian program PKM-PM UNDIP di tutup dengan kesan dan pesan dari para siswa, pengajar, pengurus, pengelola, dan orang tua dari siswa di KBSI Semarang.

Harapannya dari program Mertamu Budaya ini terus berlanjut dan berkembang di KBSI Semarang untuk dapat menghasilkan anak muda yang berjiwa cinta budaya Indonesia. Tidak hanya di KBSI Semarang namun di komunitas belajar yang lainnya juga dapat diterapkan dan mampu menjadi solusi atas permasalahan edukasi budaya di Indonesia.

Kreatif! Lima Mahasiswa Undip Ciptakan Buku Cerita Pop-Up sebagai Media Pembentukan Karakter bagi Anak

Semarang (15/08/2022) – Untuk memudahkan proses pembelajaran karakter bagi anak, sekelompok mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Skema Kewirausahaan (PKM-K) tahun 2022 menciptakan sebuah inovasi berupa buku dengan berbagai fitur. Kelompok mahasiswa tersebut diketuai oleh Febiyanti Azis dengan anggota terdiri dari Ayu Diah Safitri, Muhammad Ilham, Chairullatif Aji Sadewa, dan Silvia Puspa Kumaeroh.

Produk bernama ‘Edukit’ merupakan sebuah paket berisi buku cerita dengan fitur pop-up dan augmented reality, aplikasi android, dan permainan edukatif. Produk tersebut diciptakan dengan sasaran konsumen ditujukan kepada anak usia 3 – 9 tahun. Febiyanti dan kawan-kawannya membutuhkan waktu enam bulan untuk membuat produk tersebut hingga akhirnya selesai.

Ide terciptanya produk Edukit berawal dari keprihatinan Febiyanti dan kawan-kawan atas fenomena krisis karakter pada anak yang dapat dilihat secara nyata. Contoh fenomena ini misalnya kasus pemukulan siswa, bullying, dan sebagainya. Kemerosotan karakter pada anak menjadi momok yang mengancam kualitas suatu bangsa. Maka dari itu, diperlukan adanya pembentukan karakter yang dapat ditanamkan sejak usia dini, salah satunya melalui media pembelajaran yang menarik dan interaktif.

Produk Edukit dari mahasiswa Undip ini memiliki keistimewaan tersendiri jika dibandingkan dengan produk lain yang serupa. Keistimewaan tersebut antara lain sebagai berikut.

  1. Alur cerita yang sederhana dan mudah dipahami.
  2. Desain berwarna dan menarik.
  3. Fitur pop-up untuk menarik minat pembaca.
  4. Fitur aplikasi yang meliputi menu scan augmented reality, artikel parenting, kuis interaktif, dan video edukatif.
  5. Fitur augmented reality yang memberikan kesan nyata.
  6. Dilengkapi dengan permainan edukatif yang memberikan pengalaman langsung untuk belajar karakter yang baik pada anak.

Adanya berbagai fitur tersebut memungkinkan terjadinya peran aktif baik dari anak maupun orang tua ketika menggunakan produk Edukit. “Edukit merupakan produk PKM Kewirausahaan kami sebagai media pembelajaran karakter anak pada rentang usia 3-9 tahun. Produk kami menggunakan konsep belajar sambil bermain, sehingga akan memberikan pemahaman yang lebih, terutama melalui gaya belajar audio, visual, dan kinestetik,” ujar Febiyanti Azis selaku ketua tim. “Kedepannya, tidak menutup kemungkinan bahwa produk kami akan dikembangkan lagi dengan berbagai fitur yang lebih lengkap dan dapat merangkap media pembelajaran di sektor dan tingkatan lainnya,” tambah Febiyanti. Febiyanti dan kawan-kawannya berharap inovasi Edukit bisa menjadi pilihan orang tua dan tenaga pendidik dalam pembelajaran karakter yang baik kepada anak-anak.

Informasi lebih lanjut mengenai Edukit dapat diakses melalui media sosial berikut.

Selepas Hoax Terbitlah Utang

Pengarang: Finecia Shinta

Suatu siang, di SMA Cendekiawan, terdapat 3 sekawan yang sedang menikmati jam istirahat. Tiga sekawan itu menamai diri mereka “Remaja”. Remaja yang dimaksud ialah singkatan nama-nama mereka, yaitu Rere, Malika, dan Jamila. Mereka sudah bersama sejak taman kanak-kanak (TK), sehingga dapat dikatakan bagai 3 saudara.

Entah dari mana datangnya, Rere tiba-tiba melontarkan pernyataan yang berbalut pertanyaan. “Guys, denger-denger Indonesia itu punya utang yang bisa bikin bangkrut negara ya!?” ujar Rere. Dengan sigap, Malika menanggapi ucapan Rere tersebut.

“Hus, Rere! Kamu tau ga? Nyebar hoax itu bisa kena pasal, loh!” ujar Malika.

Malika melanjutkan pidatonya sambil mencari laman di internet tentang hukuman penyebar hoax.

“Dalam Hukum Positif Indonesia, menyebarluaskan berita hoax melalui media sosial termasuk melanggar Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, sedangkan bagi penyebar hoax dapat diancam pidana yang berdasarkan Pasal 45A ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2009!” jelasnya bagai petugas pembaca pembukaan undang-undang dasar 1945.

Tidak tinggal diam, Rere membalas, “Bentar-bentar, deh. Tadi kamu bilang nyebarin di media sosial aja, kan? Kalo kayak mulut ke mulut sama aja, ga, pasalnya?”.

Malika pun bingung ingin menjawab apa. Walau begitu, daripada Rere ngomong terus soal utang Indonesia yang membuatnya pusing, ia berkata, “Sama aja! Kenapa coba? Aku kan bisa rekam suara kamu buat jadi bukti. Terus aku viralin ke media sosial kalo kamu nyebar hoax. Wehehe!”.

Rere tak mau kalah. Dia membalas, “Lah! Berarti kamu yang nyebar, dong? Kan kamu yang bawa rekamannya, terus kamu juga yang share!”.

Malika yang tadinya ingin membuat Rere diam malah kena batunya. “Udah, lah, Re! Ga usah nambah-nambahin bebanku dengan beban negara, deh! Tugas-tugas sekolah aja udah bikin aku pusing! Terus jug…,” balas Malika yang tiba-tiba rencana curhatnya dipotong oleh Jamila.

“Udah deh, Kalian! Bisa diem, ga?! Daritadi bahas utang negara! Janji yang kemarin aja lupa! Bisa-bisa kalian kena pasal juga karena cuma nyebarin janji manis doang!” ucap Jamila yang langsung meninggalkan Malika dan Rere untuk kembali ke kelas.

“Sama aja! Kenapa coba? Aku kan bisa rekam suara kamu buat jadi bukti. Terus aku viralin ke media sosial kalo kamu nyebar hoax. Wehehe!”. Rere tak mau kalah.

Dia membalas, “Lah! Berarti kamu yang nyebar, dong? Kan kamu yang bawa rekamannya, terus kamu juga yang share!”.

Malika yang tadinya ingin membuat Rere diam malah kena batunya.

“Udah, lah, Re! Ga usah nambah-nambahin bebanku dengan beban negara, deh! Tugas-tugas sekolah aja udah bikin aku pusing! Terus jug…,” balas Malika yang tiba-tiba rencana curhatnya dipotong oleh Jamila.

“Udah deh, Kalian! Bisa diem, ga?! Daritadi bahas utang negara! Janji yang kemarin aja lupa! Bisa-bisa kalian kena pasal juga karena cuma nyebarin janji manis doang!” ucap Jamila yang langsung meninggalkan Malika dan Rere untuk kembali ke kelas.

Malika dan Rere pun terdiam dan saling bertatapan. Mereka bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

Malika bertanya pada Rere, “Lah, Re. Dia kenapa dah? Kok tiba-tiba sensi gitu?”.

Rere menjawab, “Ga tau. Kamu kali ada janji sama dia kemarin. Tapi-tapi, emang ada, ya, pasal tentang nyebarin janji manis?”.

Dengan raut muka kesal, Malika berkata, “Mulai lagi kekepoan ni anak satu. Nambah-nambahin beban pikiranku aja! Udah, yuk, balik kelas. Bentar lagi pelajaran Bu Maemunah, nih!”.

Rere pun menjawab, “Oh, iya! Ayo, yo, ayo!”. Pada akhirnya, mereka berdua kembali ke kelas, menyusul Jamila.

Sesampainya di kelas, mereka bertiga duduk di tempat masing-masing. Mereka mulai mempersiapkan buku paket dan buku tulis untuk pelajaran Bu Maemunah. Akhirnya 2 jam berlalu dan bel pulang berbunyi. Sambil merapikan tas dan bersiap untuk pulang, Rere menyanyikan sesuatu, “Mana janji manismu..,”. Malika langsung cepat-cepat menyenggol Rere dengan sikutnya. Rere terdiam. Ia memandang Malika yang sedang melihat raut muka tidak enak dari Jamila. Mata Rere pun mengikuti pandangan mata yang mengarah ke Jamila dan seketika ia merasa takut. Dia tidak menyangka bahwa leluconnya ditanggapi serius oleh Jamila. Ia kira nyanyiannya akan membuat Jamila dan Malika tertawa. Akhirnya Rere pun meminta maaf pada Jamila yang duduk tepat di belakang Malika.

“Mil, maafkan aku! Aku ada salah, ya? Beneran, deh. Aku lupa janji kemarin itu yang mana! Eh, Malika. Bantuin napa? Tadi siang, kan, Jamila bilang kita berdua yang punya janji! Ga cuma aku aja!”.

Jamila pun tidak bisa menahan tawanya. Raut mukanya yang tegang akhirnya berubah seketika. Mulutnya bergetar dan mulai tertawa terbahak-bahak.

“Ahahahaha! Aneh banget, deh, mukanya! Lagian dari tadi ngoceh mulu! Aku tuh cuma bercanda doang tapi masa, sih, kalian lupa? Jadi, kan, kalian kemarin lusa beli gorengan sama mi di warung Mbak Siti. Terus, kalian minta aku buat bayarin dulu. Kalian janji bakal bayar secepatnya. Sial banget! Sampai hari ini, tuh, perkataan kalian cuma janji manis doang!”.

Malika dan Rere pun menghela nafas lega. Ternyata Jamila tidak marah.

“Aduh. Lega banget. Aku kira kamu marah beneran, Mil. Kamu kan jarang marah. Malah kayaknya kamu itu ga pernah marah, apalagi ke kita,” ucap Rere.

Malika pun menimpali, “Iya! Bener banget! Yak! Tul! Sip! Jos!”.

Lalu mereka tertawa karena kata-kata Malika yang menirukan Bu Maemunah saat muridnya menjawab jawaban dengan benar. Setelah itu, Rere mulai berbicara lagi.

“Jamila cantiek! Utangnya dianggap lunas aja, ya? Kamu ga marah, kan?” rayu Rere.

Malika seketika ikut menimpali. “Heem, nih. Jamila yang cantiek, perhatian, sholehah, pinter menab.,” puji Malika yang tiba-tiba dipotong Jamila.

“Ga boleh! Utang is utang! Tanggung jawab! Kalian mau aku marah beneran?” tegas Jamila.

Malika dan Rere langsung sigap membalas dan menyerahkan uang yang ada di kantong mereka.

“Iya-iya. Ini uangnya,” ucap Rere terbata.

Jamila akhirnya lega dan menjawab sambil tersenyum,

“Nah! Gitu dong! Makasih, Guys!”.

Mereka akhirnya bergegas pulang ke kontrakan sambil bercanda ria.

Perayaan Hari Anak Nasional Tahun 2022 dan Fokus Pendidikan Anak sebagai Investasi Masa Depan Bangsa

Penulis: Erva Hamidah

Setiap tahunnya rakyat Indonesia memperingati Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh setiap tanggal 23 Juli. Hal ini sebagai bentuk kepedulian dan perhatian bangsa kepada anak Indonesia agar bisa tumbuh serta berkembang secara optimal. Hingga saat ini peringatan Hari Anak Nasional dirayakan dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan yang tentunya menyenangkan. Bahkan, Kemenpppa RI (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) membuat pedoman penyelenggaraan perayaan Hari Anak Nasional yang didukung penuh oleh pemerintah.

Merujuk pada laman resmi Kemenpppa RI telah dirilis tema dari Hari Anak Nasional 2022 yaitu ‘Anak Terlindungi, Indonesia Maju’. Latar belakang dari dipilihnya tema ini yaitu sebagai motivasi bahwa pandemi tidak menjadi penghalang dalam pelaksanaan HAN. Di samping itu, tema ini juga ditujukan untuk mendorong langsung berbagai pihak untuk memberikan kepeduliannya secara langsung dalam hal memastikan anak-anak Indonesia tetap tangguh menghadapi berbagai tantangan dalam pemenuhan hak anak dan perlindungan khusus pada anak pasca pandemi Covid-19.

Selain tema utama, juga terdapat tiga subtema dalam peringatan Hari Anak Nasional tahun ini yaitu :

  1. Peduli Pasca Pandemi Covid-19
  2. Anak Tangguh Pasca Pandemi Covid-19
  3. Anak Tangguh, Indonesia Lestari

Tidak lupa juga terdapat beberapa tagline yang digunakan untuk memeriahkan Hari Anak Nasional 2022 yaitu diantaranya ada #PeduliPascaPandemiCOVID-19, #AnakTangguhPascaPandemiCOVID-19, #AnakTangguhIndonesiaLestari. Tidak hanya tagar untuk menyambut kemeriahan HAN, Kemenpppa RI juga telah membuatkan logo untuk memperingati Hari Anak Nasional 2022.

perayaan_hari_anak_nasional_tahun-2022_dan_fokus_pendidikan_anak_sebagai_investasi_masa_depan_bangsa

Adapun makna dari logo tersebut adalah :

  • 3 anak yang memegang bendera merah putih

Setiap anak termasuk anak disabilitas memiliki impian (cita-cita) yang dapat diraih dengan doa, semangat, dan dukungan keluarga. Anak sebagai generasi penerus bangsa, perlu didukung dan dilindungi, agar tumbuh sebagai manusia dewasa yang berjiwa Pancasila di bawah naungan sangsaka merah putih.

  • Warna Merah dan Putih

Menjadi kebersamaan dan nasionalisme anak-anak Indonesia untuk tetap kreatif dan bersemangat tetap saling mendukung dalam melewati masa sulit.

  • Garis berwarna abu

Situasi pasca pandemic COVID-19, yang berdampak pada dunia anak dengan perubahan pola hidup, tetap harus diupayakan terpenuhi haknya, bergembira dan penuh kreativitas, dalam perlindungan keluarga.

Pada peringatan Hari Anak Nasional tahun ini difokuskan sebagai bentuk penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak anak sebagai generasi penerus bangsa. Dari hal tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa anak merupakan investasi bagi masa depan suatu bangsa. Untuk itu pendidikan pada anak pun mau tidak mau menjadi hal yang utama pula. Guna melahirkan manusia Indonesia yang unggul, diperlukan kebijakan pembangunan yang memprioritaskan pendidikan pada anak sebagai investasi masa depan. Oleh karena itu pendidikan pada anak harus dimulai dari pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi. Dalam rangka penyuksesan program tersebut, dibutuhkan berbagai perbaikan terutama dalam hal kebijakan pendidikan untuk semua anak bangsa, peningkatan kualitas pendidik, dan program pendidikan di Indonesia. Terlebih sebagaimana yang telah diprogramkan UNESCO, pendidikan anak usia dini haruslah menjadi prioritas dan perhatian pemerintah dan negara apabila negara tersebut menginginkan warganya memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dalam percaturan global. Maka dari itu, untuk manajemen, anggaran, sumberdaya manusia, dan sarana pendidikan anak usia dini harus menjadi tanggungjawab negara dan pemerintah untuk memenuhinya, sebagai realisasi dari pelaksanaan amanat konstitusi.

Selain permasalahan mengenai pendidikan, terdapat beberapa isu mengenai anak yang masih menjadi permasalahan bagi Indonesia. Diantaranya yang pertama yaitu kekerasan pada anak. Di setiap harinya masih banyak kita temui berita di televisi maupun internet yang mengabarkan mengenai kekerasan pada anak. Berdasarkan data Global Report 2017 : Ending Violence in Chilhood sebanyak 73,7 persen anak Indonesia berumur 1 hingga 14 tahun mengalami kekerasan dalam keluraga akibat pemaksaan pendisiplinan. Sedangkan data KPAI menunjukkan, setidaknya sekitar tiga juta kasus angka kekerasan fisik pada anak laki-laki dan kekerasan emosional sebanyak 1,4 juta. Selain itu, setidaknya 1 dari 9 anak perempuan mengalami kekerasan secara emosional.

Isu kedua yaitu mengenai perkawinan anak usia dini. Indonesia menetapkan perkawinan yang dianjurkan minimal usia 19 tahun sesuai dengan revisi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Akan tetapi hingga kini masih banyak anak-anak berusia di bawah 19 tahun yang melakukan perkawinan. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (2018), Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan kasus perkawinan anak yang tinggi. Perkawinan anak selain melanggar hak-hak milik anak, hal ini juga membuat mereka terpaksa berhenti sekolah, dan mengakibatkan kemiskinan antargenerasi, merusak pendidikan jangka panjang, dan kemampuan mencari nafkah.

Kemudian isu ketiga yakni pekerja anak. ILO (International Labour Organization) memperkirakan setidaknya terdapat 1,5 juta anak Indonesia usia 10 hingga 17 tahun yang bekerja di sektor pertanian. Selain itu banyak juga dijumpai anak-anak yang menjadi pengamen atau pengemis untuk sekadar membantu perekonomian keluarganya. Disamping itu disaat awal pandemi tahun lalu, juga banyak anak-anak yang lebih memilih bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya dibanding mengikuti sekolah online.

Dari beberapa isu yang menjadi permasalahan pemerintah mengenai anak, hal tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk lebih serius lagi dalam menyejahterahkan anak-anak di Indonesia. Bila anak-anak memang dipandang serius sebagai investasi masa depan bangsa, pemerintah bisa mulai untuk lebih berfokus pada pendidikan anak-anak dimulai Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD.